Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa mengupdate cerita galau ini juga! banzaaaaii!

Terima kasih yang sangat banyak saya berikan untuk semua readers! baik readers yang sudah mau mereview ataupun silent readers.. terima kasih atas dukungan kalian semua.

Chapter selanjutnya adalah chapter terakhir bagi Love Always Comes Late. Saya akan usahakan sebisa mungkin untuk segera mengakhiri cerita ini. Baik itu happy ending maupun sad ending.

Peringatan:

Ada sedikit lime di akhir cerita, untuk readers yang tidak suka lime harap segera diskip saja dibagian tersebut. Saya tidak menerima komplain mengenai pairing di cerita ini ataupun mengenai jalan cerita yang mungkin sangat fluffy seperti cerita serial cantik di shoujo manga.

Arigatou gozaimashita!

Selamat membaca!


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: M

Pairing: SasuSaku & NaruHina

Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, Lime dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Love Always Comes Late

Story by: Akina Takahashi

Chapter 12: Eternality

Sakura memejamkan matanya perlahan. Ia menyamankan posisi duduknya berusaha menikmati suasana malam hari ini. Ketika ia membuka matanya kembali, Ia menangkap sosok Sasuke yang sedang berjalan menuju ke arahnya. "Selamat malam Sasuke-kun." Sapanya seraya tersenyum lembut. "Hn..." Sasuke segera mendudukkan dirinya disamping Sakura. Mata hitamnya mengamati langit berbintang diatas mereka. Suara bambu yang saling beradu akibat aliran air yang ada di kolam ikan yang terletak di hadapan mereka menambah rasa nyaman yang terbentuk pada malam hari ini.

Sakura menatap mata hitam Sasuke sesaat sebelum tersenyum lembut pada pemuda itu. Sudah beberapa jam berlalu sejak hari pernikahan mereka. Pernikahan mereka hanyalah sebuah pernikahan kecil tanpa ada pesta mewah yang diimpi-impikan semua gadis kecil yang menyukai dongeng-dongeng kerajaan. Pernikahan mereka hanyalah sebuah pernikahan yang diselenggarakan dengan secara tradisional di kuil shinto yang terletak di tengah kota Ame. Hanya empat orang pendeta shinto yang menjadi saksi sumpah seumur hidup yang telah mereka laksanakan saat itu. Mungkin jika Sakura masih merupakan gadis kecil penggila serial dongeng romantis seperti dulu, pastilah ia akan memprotesnya. Namun saat ini Sakura malah merasakan pernikahan kecilnya ini adalah acara terindah yang pernah ada dalam hidupnya. Masih terbayang jelas dalam ingatannya bagaimana wajah Sasuke yang memerah saat ia melihat dirinya mengenakan furisode yang sempat digunakan oleh almarhum Mikoto Uchiha saat menikah dengan Fugaku dulu.

"Sakura..." Suara bariton milik Sasuke memecahkan keheningan malam yang sempat melanda mereka.

"Ya, ada apa Sasuke-kun?" Sakura mengalihkan pandangannya menatap Sasuke dengan penuh tanda tanya.

"Apakah kau menyesal?"

Pertanyaan yang diutarakan Sasuke tadi sukses membuat mood Sakura menjadi buruk. Mata emeraldnya melebar. Jujur saja ia tidak suka pada pertanyaan seperti ini. Apalagi jika Sasuke yang menanyakannya.

"Apa maksudmu Sasuke-kun?" Sakura berusaha mengontrol emosinya. Bagaimanapun ia sangat tidak ingin minggu pertama pernikahan mereka diwarnai dengan pertengkaran. "Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga aku sangat mencintaimu sejak genin dulu. Bahkan sejak awal pertemuan kita dulu kau sudah tahu bahwa menjadi istri dari seorang Uchiha Sasuke adalah impianku."

Sakura menatap Sasuke dengan serius. "Kau masih meragukan cintaku?" suaranya terdengar sedih.

"Tidak."

"Lalu?"

"Maksudku..." Sasuke menghela napas. Terlihat bahwa ia kesulitan menyusun kata-kata yang akan ia utarakan. Terkadang ia kesal dengan kelemahannya yang satu ini. Ia iri dengan Naruto yang bisa dengan mudahnya mengatakan apapun yang ada di pikirannya pada siapapun.

"Hmm... pelan-pelan saja Sasuke-kun. Jangan memaksakan dirimu." Sakura memang satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya. Sasuke mengacak rambut hitamnya gusar sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya. "Saat ini aku bukan lagi si jenius Uchiha Sasuke yang kau kagumi sewaktu kita masih genin dulu... Aku bukan lagi pemuda populer yang digilai gadis-gadis seperti dulu. Saat ini aku hanyalah seorang missing nin yang bahkan tidak mempunyai tempat untuk kembali."

Sakura akhirnya mengetahui bagaimana jalan pembicaraan Sasuke saat ini. Ia hanya terdiam berusaha mendengarkan dengan baik perkataan suaminya ini.

"Saat ini aku bukanlah Uchiha Sasuke yang kau impikan. Aku bukanlah seorang pangeran berkuda putih yang menjadi impianmu dulu."

"Tidak ada lagi hal yang bisa kau banggakan dariku." Kali ini Sasuke memalingkan matanya dari Sakura. Ia memandang langit berbintang diatasnya. "Mungkin saat ini Naruto jauh lebih baik dariku."

Seketika tubuh Sakura membeku ketika nama Naruto terucap. Ia merasakan dadanya sesak ketika mendengar nama itu. Bagaimanapun juga pria itu sangat spesial baginya. Ia sudah terlalu banyak berkorban untuknya.

"Mungkin akan lebih baik jika kau menikah dengan Naruto. Bukan denganku."

"Hentikan!" Sasuke tersentak ketika tiba-tiba saja Sakura berteriak. Ia hanya memandang gadis itu dalam diam.

"Sudah cukup." Sakura bangkit dari duduknya kemudian menggerakkan kedua tangannya mengangkat wajah Sasuke untuk menatapnya. "Jangan pernah sebut nama Naruto lagi di hadapanku." Mata emeraldnya berkaca-kaca. "Kumohon Sasuke-kun... Lupakan semuanya..."

Sasuke hanya terdiam dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak.

"Saat ini Naruto telah memilih Hinata untuk menjadi pendampingnya. Mengungkit perasaanku yang sempat menggila dulu hanya akan melukaiku, tidak bukan hanya aku saja, tetapi kita. Kau juga akan terluka..."

Sakura menggerakkan tangannya turun dari wajah Sasuke, menyentuh kerah yukata biru yang dikenakan pria itu sebelum memeluknya erat. "Kita mulai semuanya dari awal..." bisiknya di telinga Sasuke. Sasuke hanya terdiam, menantikan apa yang akan gadis itu lakukan selanjutnya.

Sakura menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sasuke yang terbuka karena yukata yang dikenakannya sedikit terbuka di bagian dadanya. Sakura mencengkram ujung yukata biru Sasuke, tangannya bergetar hebat. Kini Sasuke tahu, bahwa gadis ini sedang menangis ketika ia merasakan dadanya basah karena air mata.

"Kumohon... jangan ragukan aku Sasuke..." isaknya. "Aku mencintaimu baik dulu maupun sekarang... Tidak peduli apakah kau adalah Sasuke yang digilai para gadis ataupun kau hanya seorang missing nin. Aku mencintaimu apa adanya."

Sasuke merasa sedikit bersalah karena saat ini Sakura mungkin saja terluka akibat perkataannya tadi. Ia menggerakkan lengannya perlahan menuju punggung gadis itu yang terbalut kimono berwarna merah pucat. Ia membalas pelukan gadis itu. Memeluknya erat seolah tak akan melepasnya lagi.

"Gomenna..." bisiknya pelan di telinga gadis itu. "Jangan menangis..."

Sakura mengusap kedua matanya dengan tangannya kemudian menatap mata onyx Sasuke sambil tersenyum. "Daijoubu."

"Sakura..."

Sakura mendongak menatap mata hitam Sasuke yang perlahan berubah menjadi berwarna merah dengan tiga tomoe yang berputar di korneanya.

"Sasuke-kun..." Saat ini Sakura sadar bahwa ia terjebak dalam dunia genjutsu yang sengaja dibuat oleh Sasuke.

.

.

Dalam seketika pemandangan malam di hadapannya berubah menjadi suasana siang dengan banyak anak-anak berlarian di sekeliling mereka. Saat ini Sakura tahu bahwa ini adalah suasana akademi ninja Konoha dulu. Sewaktu ia masih berumur tujuh tahun. Tsunade masih belum menjadi hokage, wajahnya masih belum terukir di gunung yang menjadi lambang Konoha itu. Ia melihat Sasuke kecil yang masih berumur sekitar tujuh tahun yang sedang duduk di kursi taman yang ada di pinggir gedung akademi.

"Hahh..." Sasuke menarik napas panjang. Tangannya memegang hasil ujian ninja yang baru saja diterimanya tadi siang. "Kalau begini terus aku tidak akan bisa mengalahkan Itachi..." Ia melipat kertas ujian yang bernilai 98 itu menjadi sebuah pesawat kertas kemudian melemparkannya ke langit. "Padahal Ibu bilang, ayah akan bangga padaku jika aku berhasil mendapat nilai sempurna." Ia mengacak rambut hitamnya kesal. "Cih. Menyebaalkaaan!"

Sakura tertawa kecil melihat pemandangan yang ada di hadapannya ini. Ingin rasanya ia menghampiri sosok Sasuke kecil itu dan mencubit pipi tembemnya yang kemerahan, tapi ia tahu hal itu akan sia-sia karena saat ini ia hanya berupa bayangan transparan yang tidak terlihat jadi ia memilih untuk diam dan mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sakura tersenyum kecil, memikirkan bahwa inilah cara unik Sasuke untuk menceritakan apa yang ada di pikirannya. Ia tahu Sasuke sangat tidak ahli merangkai kata-kata jadi mungkin akan lebih efektif dan efisien jika menceritakannya melalui genjutsu. Sharingan ternyata memang sangat berguna untuk keadaan apapun.

"Kembalikan!" Seketika suara seorang gadis kecil mengalihkan perhatian mereka. Sakura tersentak ketika melihat dirinya yang masih kecil terlihat sedang berusaha mengambil pita milik Ino dari anak-anak nakal yang sedang mengganggunya.

"Itu milik Ino-chan! Kau tidak boleh mengambilnya!" Sakura kecil terlihat desperate.

"Tidak akan!" Sesosok gadis kecil bertubuh gemuk mengangkat pita itu tinggi-tinggi sehingga Sakura kecil tidak dapat meraihnya. Ketiga temannya yang lain menarik kedua lengan Sakura sehingga gadis itu tidak dapat bergerak lagi. "Lepaskaan!"

"Jangan kau pikir hanya dengan menjadi teman Yamanaka kau bisa bertingkah semaunya Haruno!" Gadis gemuk itu menjambak rambut pink Sakura. "Aagh!" Sakura menjerit tertahan. "Ino mau berteman denganmu hanya karena dia kasihan padamu."

"Tidak. Ino-chan tidak seperti itu..."

"Ya itu benar, ia mengatakan itu di kelas tadi." Sosok gadis lain yang sedang memegangi lengannya angkat bicara. "Lagipula rambut apa ini? Pink? Kau itu manusia bukan sih? Mana ada gadis normal yang berambut pink? Jangan-jangan kau jinchuriki juga seperti Uzumaki Naruto."

Mata emerald Sakura melebar. "Jangan menghina warna rambutku!" teriaknya kesal. Ia berusaha melepaskan diri namun usahanya gagal. Baru saja ia hendak mengangkat kakinya untuk menendang gadis gemuk yang ada di hadapannya namun rencananya gagal ketika gadis itu telah terhempas lebih dulu ke pepohonan yang terletak dua meter darinya.

"BRAKK"

"Berisik. Jangan membuat moodku menjadi lebih buruk." Sasuke menutup sebelah telinganya. Sementara matanya menatap malas kepada ketiga gadis yang merupakan anak buah dari gadis gemuk yang baru saja dilemparnya tadi. Bukannya ketakutan, ketiga gadis itu malah senang melihat kedatangan Sasuke. Hal itu terlihat dari mata gadis-gadis itu yang berbinar-binar. Mungkin jika ini adalah sebuah anime maka mata ketiga gadis itu sudah berubah menjadi bentuk hati.

"Sasuke-kun~~ kyaaa!"

"Lepaskan dia atau kalian juga akan kulempar seperti gadis tadi." Sasuke menatap tajam ketiga gadis yang ada di samping Sakura.

"Baik!" mereka bertiga segera berlari meninggalkan Sasuke dan Sakura disana.

"Kurasa ini milikmu." Sasuke menyerahkan sebuah pita rambut berwarna merah pada gadis pink yang ada di hadapannya.

"A-Arigatou" Sakura menerima pita yang diserahkan Sasuke dengan malu-malu. Wajah putihnya memerah.

"Kau harus lebih memperhatikan pelajaran Taijutsu." Mata hitam Sasuke menatap mata hijau Sakura serius. "Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Tidak ada orang yang bisa terus-terusan melindungimu." Sang Uchiha prodigy segera melangkahkan kakinya meninggalkan Sakura.

Sakura menundukkan kepalanya sebelum akhirnya mengangkatnya kembali. Menatap lambang Uchiha yang ada di baju Sasuke. "Aku akan berusaha lebih keras lagi! Terima kasih Sasuke-kun!" seketika nada bicaranya yang awalnya terkesan lemah kini menjadi lebih tegas dan bersemangat.

Sakura dewasa yang terlihat transparan kini bisa melihat ada senyuman tipis yang tersungging di bibir Sasuke saat itu. Senyuman yang dulu tak dapat dilihatnya.

Seketika Sasuke menghentikan langkahnya. Tanpa membalikkan punggungnya ia berkata. "Yamanaka berteman denganmu tanpa ada maksud apapun. Aku yakin dia benar-benar tulus." Sakura membelalakkan matanya. Sedikit kaget ketika mendengar perkataan Sasuke. Sedikit demi sedikit hatinya menghangat. Ia tersenyum menatap punggung anak laki-laki yang ada di hadapannya itu. "Um... warna rambutmu tidak aneh kok." Sekilas Sakura dewasa yang sejak tadi mengamati mereka dapat melihat rona wajah Sasuke memerah. "Aku suka..." bisiknya pelan sampai-sampai Sakura kecil yang ada di belakangnya tidak dapat mendengarnya.

"Jaa!" Sasuke melangkah cepat meninggalkan Sakura kecil yang termanggu di belakangnya.

Sakura menutup mulutnya. Sedikit kaget dengan pemandangan yang ia lihat saat ini. Ia tak pernah mengetahui bahwa ternyata Sasuke tidak benar-benar mengacuhkannya di awal pertemuan mereka. Bahkan ia tidak mengetahui bahwa Sasuke sempat blushing saat itu.

Sedikit demi sedikit Sakura tahu. Bahwa sejak awal Sasuke tidak pernah mengacuhkannya sedikitpun.

.

.

Pemandangan yang ada di hadapan Sakura kembali berubah. Tak ada lagi anak-anak kecil yang berlarian. Hanya ada Sasuke dan langit berbintang diatasnya. Sakura sadar saat ini ia sudah kembali ke kenyataan. Genjutsu tadi telah berakhir. Ia tersenyum hangat ketika menatap wajah tampan suaminya yang terlihat sangat berkilauan malam ini. "Caramu tadi bagus juga."

Sasuke sempat memalingkan wajahnya sesaat sebelum ia menatap Sakura kembali. Kali ini matanya telah kembali menjadi mata hitam obsidiannya yang biasa. "Aku…" Ia menghela napas sesaat seolah berpikir keras untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan perasaannya. "Sejak awal kita bertemu… Aku sudah merasakan ada hal yang berbeda pada dirimu. Entah kenapa aku merasa sedikit penasaran padamu…" wajah Sasuke maupun Sakura memerah saat ini.

"Sasuke-kun…" Sakura tertawa kecil ketika ia melihat wajah Sasuke yang memerah seperti buah tomat kesukaan si pemuda onyx itu.

"Agh menyebalkan!" Sasuke mengacak rambut hitamnya gusar. Ia merasa telah mengatakan hal yang paling memalukan seumur hidupnya. Ia dengan cepat bangkit dari duduknya kemudian berjalan masuk menuju ke dalam mansion. "Aku tidur duluan." Ujarnya singkat tanpa berbalik.

"Ah, eh… tunggu aku Sasuke-kun!" Sakura sepintas merasa bingung dengan kelakuan suaminya itu. Ia segera bangkit berdiri kemudian berusaha mengejar pemuda yang telah lebih dulu memasuki mansionnya.

Langkah Sakura terhenti ketika ia mencapai pintu kamar mereka. Perasaan gugupnya bertambah berkali kali lipat ketika menyadari bahwa seharusnya malam ini adalah malam pertama mereka setelah mereka menikah. Wajah cantiknya memerah. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk membuka pintu geser kamar pengantin mereka. Ia berjalan perlahan menuju kearah Sasuke yang sudah lebih dulu berbaring diatas futon mereka.

Berbagai pikiran muncul di kepala gadis itu.

Bagaimana kalau tiba-tiba Sasuke menolaknya? Bagaimana kalau tiba-tiba saja Sasuke pergi darinya. Bagaimana kalau…

Dengan tangan gemetar ia mengangkat selimut dan membaringkan dirinya tepat di samping Sasuke yang berbaring membelakanginya. Sakura menghela napas panjang. "Sasuke-kun…" panggilnya lembut.

Hening. Tak ada tanggapan.

"Kau sudah tidur?"

Kembali hening.

Sakura bangkit dari posisinya kemudian menatap wajah Sasuke yang sepertinya telah benar-benar tertidur saat ini. Seketika ia merasa sedikit kesal dan kecewa. Suami macam apa yang tidur lebih dulu tanpa melakukan apapun di malam pertama mereka?

Dengan kesal ia meringkuk membelakangi Sasuke. Menutup matanya berusaha untuk tidur dan melupakan kekesalannya saat ini.

.

.

.

"Kaa-san… Tou-san…"

Sakura terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar suara yang tiba-tiba saja muncul.

"Kaa-san… Tou-san… Itachi-nii…"

Ia membuka mata hijaunya lebar-lebar berusaha mencari sumber suara yang ternyata berasal dari Sasuke yang tertidur di sebelahnya. Melihat keringat dingin di dahi dan wajah Sasuke, Sakura yakin saat ini suaminya itu sedang bermimpi buruk.

"Sasuke-kun, bangunlah kau bermimpi buruk." Sakura menggoyangkan tubuh Sasuke dengan pelan. Ia agak khawatir juga dengan keadaan pemuda itu. Bagaimanapun Sakura tidak pernah melihat keadaan Sasuke yang selemah ini. Selama ini di matanya Sasuke adalah seorang pemuda arogan yang tidak mau memperlihatkan kelemahannya pada siapapun.

"HENTIKAN! Itachi-nii!" Tou-san…! Kaa-san jangan tinggalkan aku!" Kini tubuh Uchiha prodigy itu bergeriak liar tak tentu arah, mengakibatkan selimut yang dikenakannya terlempar ke sembarang arah. Keringat di wajahnya bertambah banyak. Matanya terpejam namun raut wajahnya semakin mengeras. Sakura yang semakin khawatir dengan segera bangkit dari posisinya. Ia menepuk pipi Sasuke berusaha membangunkan pria itu dari mimpi buruknya.

"SASUKE-KUN! BANGUN!" Ia mulai berteriak panik ketika Sasuke tak kunjung bangun dari tidurnya. Usahanya itu nampaknya tidak sia-sia. Sasuke pada akhirnya membuka matanya. Namun bukan mata hitam onyx teduhnya yang dilihat Sakura. Sharingan, dengan tiga tomoe yang berputar dengan liar disana.

"Sasuke-kun! Sadarlah!"

Sakura dengan segera memeluk suaminya itu berusaha mengembalikan sensenya kembali ke dunia nyata. Sasuke yang awalnya terlihat seperti kehilangan akal akhirnya kembali tenang.

"Hah Hah Hah" Napas pemuda itu tersengal-sengal seolah ia baru saja berlari maraton melintasi Ame-gakure. "Sakura?"

"Ya, Sasuke. Ini aku." Sakura memegang pipi pujaan hatinya dengan lembut. Mengusap keringat yang ada disana dengan menggunakan handuk kecil yang baru saja diambilnya. "Kau baik-baik saja?" ia terlihat khawatir. "Tunggu sebentar aku ambilkan minum untukmu." Sakura berniat bangkit dari duduknya namun usahanya gagal ketika Sasuke menarik lengannya dengan tiba-tiba. Mengakibatkan tubuh gadis itu terjatuh tepat diatas tubuhnya. Wajah Sakura memerah ketika menyadari posisi mereka saat ini. "Sasuke-kun…"

"Jangan pergi…" Sasuke mengeratkan pelukannya pada Sakura menenggelamkan wajahnya pada leher gadis itu. "Sakura…" suara baritonnya terdengar memelas.

Sakura hanya tersenyum kecil. Ia membiarkan pemuda itu memeluknya erat. Tangannya perlahan naik untuk mengelus rambut hitam Sasuke dengan lembut. "Aku ada disini. Daijoubu." Ujarnya pelan. Berusaha menenangkan sang Uchiha prodigy,

.

.

Setelah beberapa saat berlalu. Sasuke tampaknya sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Posisi mereka masih sama. Tak ada yang berubah. Hanya kini Sasuke tidak lagi menenggelamkan wajahnya di leher Sakura. Ia menatap wajah cantik istrinya itu dengan tatapan yang tak dapat diartikan. "Sasuke-kun…" Sakura yang merasakan sesaat lagi dirinya akan tenggelam dalam tatapan Sasuke hanya mampu berkata pelan. "Syukurlah kalau kau sudah baikan." Dengan sedikit awkward ia berusaha melepaskan pelukan Sasuke namun bukannya melepaskan, Sasuke malah semakin mempererat pelukannya. "Jangan pergi dariku." Ujarnya pelan namun terdengar sebagai perintah di telinga Sakura.

"A… Aku…" Sakura tak dapat berkata-kata. Suara berat Sasuke benar-benar menghipnotisnya. "Berjanjilah padaku, Sakura…" Sakura hanya terdiam sesaat sebelum menjawab. "… tentu saja aku akan selalu ada disisimu. Aku adalah istrimu."

"Hn…" Sasuke dengan segera membalikkan posisi mereka hingga akhirnya saat ini Sakura menjadi berada di bawah tubuhnya. Ia mengangkat jari kelingking kanannya ke depan wajah Sakura. Mengajak gadis itu untuk berjanji padanya. Sakura tertawa kecil ketika melihat tingkah suaminya yang terlihat sangat kekanakan untuk ukuran Uchiha prodigy sempurna. Ia tersenyum sebelum mengangkat jari kelingkingnya dan mengaitkannya dengan kelingking Sasuke. "Aku berjanji." Ujarnya.

Sasuke menatap mata emerald Sakura, sebelum akhirnya ia berkata "Aku tak pernah memperlihatkan kelemahanku pada siapapun sebelumnya. Kau adalah orang pertama bagiku." dengan sedikit terkejut Sakura akhirnya angkat bertanya "Benarkah?"

"Hn… ya."

Sasuke mengalihkan pandangannya kearah lain seolah tak mampu menatap gadis itu lagi. "Setiap malam aku selalu bermimpi buruk. Entah kenapa kejadian saat itu selalu terbayang dalam benakku. Setiap malam aku melihat bayangan ayah dan ibuku yang dibantai secara sadis oleh kakakku sendiri." Kejujuran tidak terkendali dari Sasuke membuat Sakura terenyuh dan tak tahu harus bicara apa.

"Mulai saat ini. Takkan ada lagi mimpi buruk yang akan mengganggu tidurmu." Sakura tersenyum. "Percayalah padaku. Ayo kita buat kenangan yang indah setiap hari." Sasuke sedikit tersentak sebelum akhirnya tertawa kecil. "Kau pandai sekali bicara." Sakura tersenyum lebar. "Tentu saja."

"Sakura…"

"Ng?"

Sasuke mencium bibir indah Sakura dengan lembut. Sakura yang pada awalnya terkejut tampaknya mulai menikmati ciuman Sasuke yang masih berada diatasnya. Ciuman-ciuman lembut akhirnya berubah menjadi lumatan kecil. Ia menyesap bibir bawah Sakura pelan membuat gadis itu membuka mulutnya membiarkan lidah Sasuke menjelajahi rongga mulutnya. Mereka saling melumat, menyesap, bertukar saliva, dan mencium hingga beberapa saat Sakura menghentikannya karena ia kehabisan oksigen. Wajahnya memerah ketika matanya kembali bertatapan dengan Sasuke.

Sasuke hanya terdiam sebelum akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Sakura yang tadi berada di bawahnya. "Sasuke-kun…" Sakura mengusap pelan pipi pemuda itu sebelum akhirnya mencium bibir tipis Sasuke dengan penuh perasaan. Mengulum, menyesap, menjilat bibir pemuda itu sebelum akhirnya Sasuke membuka mulutnya seolah mempersilakan Sakura untuk masuk. Kali ini ia membiarkan Sakura yang menjadi dominan. Sakura mengabsen gigi-gigi atas Sasuke dengan lidahnya. Membiarkan terbentuknya rantai saliva diantara mereka. Ia menggigit pelan bibir bawah Sasuke sebelum akhirnya melepaskan ciumannya setelah lima menit berlalu. "Kau agresif juga." Sasuke tertawa kecil melihat wajah Sakura yang memerah malu. "Sebaiknya kita tidur, Sasuke-kun!" Sakura menarik selimut hingga sebatas lehernya saat ini ia sungguh sangat ingin berada sejauh mungkin dari Sasuke. Wajahnya benar-benar panas. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa seagresif itu tadi. Sasuke hanya terdiam. Tak menanggapi perkataan Sakura. Sebelum akhirnya ia berkata "Aku tidak bisa tidur." Pada akhirnya Sakura dengan kesal menarik Sasuke kearahnya dan memeluk pria itu dengan kedua tangannya. "Baiklah baiklah aku mengerti. Aku akan bernyanyi untukmu hingga kau tertidur."

Uta wo utaou

Daiji na uta wo

Kaze wo idakou

Hikari abite

Hoshi wa matataki

Fuwa fuwa fururin

Negai komete

"Sasuke-kun…" tak ada tanggapan dari Sasuke. Sepertinya Sasuke benar-benar sudah tertidur. Tapi posisinya saat ini benar-benar membuat Sakura merasa awkward. Sasuke memeluknya seolah ia adalah bantal guling kesayangannya. Yang paling membuat Sakura merasa tidak nyaman adalah pemuda itu menenggelamkan kepalanya di dadanya. Yukata yang ia kenakan malam ini memiliki kerah yang lebih rendah dari biasanya itulah sebabnya Sakura merasa semakin tidak nyaman.

"Sasuke-kun…" Ia berusaha menyingkirkan wajah Sasuke yang terbenam di dadanya. Namun usahanya gagal karena Sasuke malah mengeratkan pelukannya. Seketika Sakura berkata "Sasuke-kun! Ternyata kau belum tidur!" Sasuke hanya tertawa kecil tanpa mengubah posisinya sedikitpun. Ia malah semakin menenggelamkan wajahnya pada dada empuk istrinya yang masih tertutup yukata. "Cepat singkirkan wajahmu dari situ!" Sakura terlihat kesal. "Tidak mau. Disini bahkan lebih empuk daripada bantal guling milikmu"

Wajah Sakura semakin memerah tidak karuan ketika ia mendengar perkataan Sasuke. Ya benar, inilah satu lagi sisi lain Sasuke yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Lepaskan aku! dasar Sasuke-kun mesuuum!"

-TSUZUKU-


Terima kasih telah membaca sampai akhir chapter ini!

Untuk kalian yang penasaran pada progress fic-fic saya yang lain berikut ini saya lampirkan hasilnya:

1. The Lost Soul Chapter 5 (Last update on 10/28/2013 6:18 PM)

Remaining chapters: UNKNOWN

Estimated word count for this chapter: 3000 word, Now progressing 1700 word.

2. The Melody of Loneliness Chapter 4 (Last update on Ms. Word 10/25/2013 7:35 PM)

Remaining chapters: estimated around 5 chapters remaining

3. Wonderful Life Chapter 4 (Last update on 8/13/2013 6:28 PM)

Remaining chapters: estimated around 6 chapters remaining

4. New fanfic "True Love" unpublished yet. But, it will soon. :D

5. Kimi No Sei (I got stucked on this fic! Somebody help mee!)

Special thanks for:

All dedicated readers who willing to read and review this fanfiction.