Ternyata satu chapter saja tidak cukup untuk mengakhiri fanfiction ini. Dengan terpaksa saya membuat dua chapter sebagai akhir dari fanfiksi ini. Maaf sudah membuat minna-san lama menunggu.
Terima kasih saya ucapkan bagi para readers, baik silent readers maupun reviewers yang sudah mau membaca dan mereview fanfiksi ini.
Please enjoy!
Akina Takahashi
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Hurt / Comfort / Angst
Rated: M
Pairing: SasuSakuNaru
Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.
Naruto © Masashi Kishimoto
Love Always Comes Late
Story by: Akina Takahashi
Chapter 13: The End
Ne, Naruto
Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengan Sakura?
Apakah kau akan meninggalkan Hinata begitu saja?
Hinata yang telah berkorban begitu banyak untukmu.
Hinata yang selalu mengagumimu sejak dulu.
Hinata yang selalu sabar menunggu berharap agar kau membalas cintanya yang ia jaga selama bertahun-tahun.
Tapi bagaimana dengan Sakura?
Cinta abadiku…
Apa yang akan kau lakukan Naruto?
Naruto mengacak rambut pirangnya gusar. Matanya menatap perapian yang terlihat mulai meredup. Langit berbintang malam ini terlihat begitu indah namun ia sama sekali tidak bisa menikmati itu. Saat ini pikirannya telah tercampur aduk.
Oh, astaga ini bahkan jauh lebih sulit daripada soal ujian Chuunin yang diberikan Hibiki-sensei saat mereka mengikuti ujian kenaikan tingkat.
Hatinya gusar, gelisah.
Padahal harusnya ia senang saat ini. Jejak Sakura telah berhasil ditemukan berkat ketajaman indera penciuman Akamaru. Bagaimana bisa Sakura berada di Ame-gakure yang jaraknya ratusan kilometer dari Konoha? Belum lagi ada bau misterius yang berada di dekat jejak gadis itu. Kiba mengatakan jika baunya sama dengan Hitai-ate milik Sasuke yang tertinggal di Konoha dulu.
Sasuke…
Apa yang Sasuke lakukan di Ame bersama dengan Sakura?
"Argh! Sial!" Naruto menggerutu kesal. Mata cerulean-nya memburam. Oh astaga, kepalanya benar-benar sakit saat ini. Ia bahkan tidak yakin bahwa ia dapat tidur malam ini. Padahal dini hari esok mereka akan kembali memulai perjalanannya menuju ke Ame.
Ia menatap kosong tenda hijau yang ada di depannya. Disana terlihat Shikamaru, Kiba, Sai dan Neji yang tengah tertidur di dalamnya sementara Hinata terlihat masih terjaga di tenda yang terletak di sebelahnya. Hinata yang secara tidak sengaja bertatapan mata dengan Naruto, segera berjalan menuju ke pemuda blonde itu. Mendudukkan diri di sampingnya. Gadis itu sempat mengamati Akamaru yang tertidur di depan tenda tuannya.
"Hari ini langitnya indah sekali ya Naruto-kun. Bintang-bintang terlihat sangat berkilauan disana." Mata gadis itu menatap langit yang ada diatasnya.
"Hinata…" entah kenapa kali ini suara Naruto terdengar sendu. Seolah meminta pertolongan pada gadis yang ada di sampingnya.
Hinata hanya tersenyum lembut menatap suaminya. Wajahnya tidak lagi memerah ketika Naruto memanggilnya seperti itu. Ia sudah bisa mengontrol emosinya di hadapan pemuda blonde ini.
"Hinata…" tanpa sadar lengan kokoh Naruto bergerak perlahan. Menarik Hinata ke dalam pelukannya. Hangat. Entah kenapa ia merasakan hatinya menghangat. "Apa yang harus kulakukan?" tanyanya sambil berbisik di telinga Hinata.
Sang heiress Hyuuga hanya terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk dalam hatinya. Ia mengerti. Ia sangat mengerti bahwa suaminya ini masih sangat mencintai Sakura-channya. Dan hal itu adalah hal yang tidak bisa ia ubah. Sekeras apapun ia berusaha, sekeras apapun ia berdoa…
Ya, ia tahu akan hal itu. Sangat tahu. Oleh sebab itulah ia dengan egoisnya menerima lamaran pemuda pirang itu. Ya ia tahu saat itu, si blonde ini sedang mengalami masa tersulitnya.
Menyedihkan.
Ia bahkan rela menjadi pelarian Naruto.
Hinata menutup matanya perlahan. Mungkin saja setelah hari ini ia harus kembali melepaskan suaminya ini untuk kembali bersama Haruno Sakura.
"Ne, Naruto-kun…" suara Hinata bergetar hebat. Ia masih berada di dalam pelukan pemuda itu. Dengan menahan berbagai emosinya saat ini, ia memberanikan diri mendongakkan kepalanya menatap mata cerulean pemuda itu.
Hinata tersenyum lembut dan memberikan sebuah jimat berwarna merah dengan tulisan kanji berwarna emas diatasnya. "Ini adalah jimat keberuntungan milik klan Hyuuga yang telah diturunkan selama tujuh generasi." Ia membuka telapak tangan Naruto kemudian meletakkan jimat itu diatasnya sebelum menutupnya kembali. "Genggam ini dan berdoalah. Kami-sama pasti akan mendengar doamu."
"Tapi, Hinata… aku…"
"I-itu untukmu Naruto-kun, ka-kau tidak boleh menolaknya." Hinata memalingkan wajahnya menghindari tatapan Naruto. Sedikit kesal karena penyakit gagapnya mulai muncul kembali.
"Terima kasih, Hinata." Senyum mengembang dari bibir pemuda itu. Ia kini malah semakin bimbang. Demi Tuhan! Gadis sebaik dan selembut ini berhak bahagia. Naruto hanya kembali terdiam dalam lamunannya. Ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti bagaimana perasaannya sendiri.
Haruskah ia meninggalkan Hinata untuk kembali bersama Sakura?
Kami-sama…
Tolong aku…
.
.
.
.
Sakura dengan gusar berusaha mengeluarkan chakra hijau penyembuhnya untuk mengobati jarinya yang terluka karena terkena pisau dapur. Namun usahanya sia-sia belaka. Tak ada lagi cahaya kehijauan yang berpendar seperti biasanya.
Menyedihkan.
Ia tidak terima kenyataan ini.
Kenyataan bahwa ia telah kehilangan kekuatan ninjanya untuk selamanya.
Masih dengan panik ia kembali mencoba mengeluarkannya, namun entah yang keberapa kalinya ia telah kembali gagal. Darah masih saja terus mengalir dari jari telunjuk kirinya yang terluka.
"Sial." Ia menggigit bibirnya kesal. Tanpa sadar ia menangis. Air mata meluncur di kedua belah pipinya yang seputih salju.
Apalagi yang ia miliki selain kemampuan penyembuhnya? Bukankah selama ini ia dikenal sebagai ninja medis jenius yang dimiliki oleh Konoha? Jika kemampuannya ini menghilang, apa yang akan terjadi?
Ia kembali menyalahkan dirinya. Seandainya ia tidak bertemu Madara hari itu, seandainya ia tidak menghabiskan seluruh chakranya untuk dapat bertahan hidup setelah ledakan besar itu terjadi… mungkin, mungkin saja ia masih bertugas sebagai ninja medis di medan perang
TES TES TES
Air mata menetes ke lukanya yang masih terbuka.
Perih. Namun tak seperih hatinya.
Ia telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mempelajari kemampuan penyembuh ini. Jika ia kehilangan kemampuannya untuk selamanya ini sama saja dengan ia telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk sesuatu yang sia-sia.
"Sakura." Sasuke berjalan mendekati punggung Sakura yang masih duduk terdiam di halaman belakang rumah mereka. Seketika saja ia melihat bahu istrinya itu menegang.
Sakura yang merasakan keberadaan Sasuke di belakangnya segera mengelap sisa-sisa air mata yang masih menempel di wajahnya. Baru saja Sasuke hendak menepuk bahunya, Sakura segera bangkit dari duduknya dan membalikkan wajahnya menghadap Sasuke. Ia memaksakan dirinya tersenyum. Saat ini ia tak ingin Sasuke mengetahui bahwa dirinya kembali lagi menjadi tidak berguna seperti saat mereka genin dulu.
"Ada apa Sasuke-kun?" Sakura berjalan mendekati Sasuke.
"Sakura, aku…" belum sempat Sasuke menyelesaikan perkataannya. Sakura sudah keburu menyelanya kembali. "Oh, kau mau makan ya? Akan segera kusiapkan. Tunggulah." Ujarnya. Ia berjalan melewati pemuda tampan beryukata hitam itu dengan segera. Namun belum beberapa langkah ia pergi, Sasuke telah menarik tangan kirinya.
"Ah!" rintih Sakura ketika ia merasakan lukanya sakit akibat tertarik oleh tangan Sasuke.
"Kau terluka?" Sasuke sedikit mengernyit ketika melihat jari kiri Sakura yang berdarah.
"Ah, ini hanya luka kecil. Aku akan mengambil plester di dalam." Sakura kembali tersenyum. Namun senyumannya seketika menghilang ketika Sasuke memasukkan jari telunjuknya yang terluka ke dalam mulutnya. Wajahnya memerah ketika ia melihat Sasuke menghisap dan menjilat jarinya.
"Sasuke-kun, hentikan."
Sasuke dengan segera menghentikan tindakannya. Ia menatap Sakura dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Mata hitamnya menatap dalam mata emerald Sakura. "Daijoubu. Tak apa." Ujarnya pelan seolah ia mengerti apa yang tengah terjadi pada gadis ini.
Sakura hanya terdiam.
"Tak apa Sakura…"
Dan kini Sakura kembali menangis dalam diam. "Tak apa." Gumam Sasuke sambil menarik Sakura ke dalam pelukannya.
"Aku tidak akan berguna lagi bagimu Sasuke-kun…" isaknya. "Bahkan luka sekecil ini pun aku tidak bisa menyembuhkannya."
"Hn…" Sasuke hanya bergumam pelan ia masih memeluk Sakura, berusaha menenangkan gadis itu tanpa kata-kata.
"Aku tak bisa menyembuhkanmu jika kau terluka."
"Tak apa."
"Aku tak bisa melindungimu lagi."
"Hn…"
"Apa maksudmu?" Sakura melepaskan pelukan Sasuke. Menatap pria itu dengan tatapan heran. "Kau menganggap ini bukan masalah besar?"
"Kau tidak perlu lagi melakukan apapun untukku Sakura." Sasuke menatap lembut Sakura. "Kau sudah berkorban terlalu banyak ini gantian aku yang akan melindungimu."
Sakura menatap mata hitam Sasuke dengan penuh rasa kaget sekaligus haru. "Tapi aku tidak bisa berguna lagi bagimu Sasuke-kun." Sakura berkata pelan. "Bukankah kau bilang kalau kau membenci orang yang tidak berguna?"
"Siapa bilang jika kau tidak berguna bagiku?" Sasuke tersenyum tipis. Senyuman yang sangat jarang terlihat. "Hanya dengan berada di sisiku saja itu sudah sangat berguna bagiku."
"Sasuke-" belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya Sasuke segera membungkamnya. "Karena saat ini…" Sasuke memegang dagu gadis itu dengan ibu jari dan telunjuknya. Memaksa Sakura menatap matanya lebih dekat. "Kaulah yang menjadi alasanku untuk tetap hidup."
Sakura hanya terdiam membeku. Wajahnya memerah. Ia tak pernah ingat jika Sasuke pernah seromantis ini sebelumnya. "…"
Melihat Sakura yang terdiam, Sasuke merasa canggung. Ia dengan segera bergegas mengambil plester dari kotak P3K yang terletak di ruang keluarga. Dengan awkward dia memasang plester tersebut pada jari telunjuk kiri Sakura yang terluka.
"Ayo kita pergi." Pemuda raven itu menggenggam tangan Sakura dan menariknya menuju ke pintu keluar.
"Eh?" Sakura yang sempat terpana akibat perlakuan romantis Sasuke yang sangat berada diluar dugaannya segera tersadar. "Pergi kemana?"
"Mizu-kage ingin bertemu dengan kita." Jawab Sasuke singkat. "Ayo." Ia membimbing Sakura berjalan keluar.
Seketika saja Sakura mengernyitkan dahinya berusaha mengingat bagaimana tampang Mizu-kage. Ia sudah pernah melihatnya dalam pertemuan antar kage sebelumnya. Saat itu ia menemani Tsunade sebagai perwakilan Konoha.
Seorang wanita cantik berambut pirang yang berpakaian seksi muncul dalam benaknya. Dalam hatinya mulai muncul kecemburuan pada sang Mizu-kage. Bagaimanapun juga ia sangat mengetahui sifat sang Kage yang hobi menggoda lelaki terutama lelaki tampan seperti suaminya ini.
"Sasuke-kun."
"Hn?"
"Apapun yang terjadi kau tidak boleh terperdaya oleh kecantikan Mizu-kage."
Sasuke mengernyitkan alisnya ketika mendengar perkataan Sakura yang terdengar seperti ancaman. Namun seketika saja ia tertawa kecil. "Kau kira aku pria yang mudah diperdaya wanita?"
Sakura salah tingkah. "Bukan. Maksudku…"
Sasuke segera memotong perkataan Sakura. "Hmm… kau butuh berapa tahun untuk memenangkan hatiku Sakura?"
"Ah, apa?" Sakura sedikit terkejut namun akhirnya ia menjawab. "Mungkin kurang lebih sekitar dua puluh tahun jika aku menghitungnya sejak aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu dulu."
"Nah, berarti Mizu-kage itu harus mau menunggu selama dua puluh tahun jika ia ingin memperdayaku." Kini gantian Sakura yang tertawa ketika mendengar perkataan Sasuke. "Kupikir ia tidak akan sanggup jika harus bertahan menunggu selama itu."
"Tapi aku sanggup." Sakura melanjutkan.
"Ya, wanita yang sanggup untuk mendapatkan hatiku hanya kau. Uchiha Sakura."
Dan untuk yang kedua kalinya Sakura terpesona pada pria yang ada di sampingnya saat ini. Sungguh ia tidak bisa beradu mulut dengan pria ini. Karena pada akhirnya dirinyalah yang akan kalah telak. Sakura bingung, darimana Sasuke mempelajari kata-kata seromantis ini? Bukankah selama ini pria ini hanya terobsesi pada dendam?
.
.
"Nah, kita sudah sampai." Sakura akhirnya tersadar dari lamunannya ketika suara Sasuke menyadarkannya. Ia menatap pintu kayu yang terdapat di hadapannya. Saat ini mereka telah berada di depan kantor Mizu-kage.
TOK TOK TOK
Sasuke mengetuk pintu yang ada di hadapannya dengan sopan.
"Masuk." Perintah singkat dari dalam ruangan memberi isyarat pada keduanya untuk segera masuk ke dalam ruangan itu.
KRIET
Sasuke membuka pintu yang di depannya perlahan. Seketika saja Sakura mengamati ruangan itu. Hanya sebuah ruang kantor biasa. Meja yang dipenuhi berkas-berkas dokumen, sebuah sofa dan sebuah rak buku menghiasi ruangan itu. Mata emeraldnya tanpa sadar bertatapan dengan mata hijau seorang wanita cantik berambut coklat yang kini sedang duduk di balik meja kantornya. Wanita itu memandangi mereka berdua dengan tatapan ingin tahu.
"Ara, ternyata inilah Uchiha Sasuke yang digosipkan orang-orang." Wanita itu memandangi Sasuke dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jelas ia memiliki ketertarikan pada pemuda ini. Sakura hanya memandang kesal. Ia berdeham untuk menghentikan kegiatan pandang memandang ini.
"EHEM"
"Ah, kau Haruno Sakura kan? Kita sudah pernah bertemu sewaktu pertemuan antar kage dulu." Mizu-kage segera mengalihkan pandangannya pada Sakura.
"Maaf Mizukage-sama. Marga saya telah berganti menjadi Uchiha." Sakura menekankan suffiks –sama pada Mizukage agar wanita itu mengetahui tempatnya sendiri. "Ada perlu apa dengan saya dan suami saya?" kini ia kembali menekankan kata suami dalam kata-katanya. Dan ternyata hal itu sukses membuat raut wajah Mizu-kage berubah menjadi kesal.
Sasuke hanya menghela napas pelan. Sepertinya percuma saja ia bermanis-manis pada Sakura tadi. Buktinya kini Sakura sudah terbakar api cemburu padahal Mizu-kage tidak, –setidaknya belum melakukan apa-apa pada mereka.
"Langsung saja pada intinya." Mizu-kage segera melanjutkan pembicaraan ini.
"Uchiha Sasuke, aku ingin kau membantu pasukan pertahanan kami. Aku ingin kau menjadi pemimpin tim Anbu Ame-gakure" Ia menatap Sasuke serius.
"…" Sasuke tak menjawab, ia hanya terdiam. Sementara Sakura sedikit merasa shock.
"Aku tidak peduli dengan statusmu sebagai missing nin Konoha atau apapun itu." Jelas sang Mizu-kage. "Yang aku tahu kau adalah Uchiha terakhir yang masih hidup. Mengingat klan-mu telah berjasa besar pada negeri ini. Kupikir tak ada salahnya bagiku untuk memberikan jabatan penting ini bagimu."
"Tapi bagaimana dengan Konoha? Bagaimanapun negara kami masih menganggap Sasuke-kun sebagai seorang kriminal." Sakura tanpa sadar menyela perkataan Mizu-kage. Wanita cantik itu kini memandangi Sakura dengan tatapan penuh arti. "Tentu saja kami akan memberikan perlindungan penuh pada kalian berdua. Konoha takkan bisa melakukan apapun pada kalian. Jadi, apakah kau mau menerima tawaranku ini Uchiha Sasuke?"
Mizu-kage bangkit dari duduknya. Kimono furisode berwarna ungu semakin mempercantik penampilannya. Ia maju mendekati Sakura dan Sasuke. Sedikit banyak Sakura iri pada tubuh sintal wanita yang ada di hadapannya. Tubuh dengan lekuk sempurna yang dapat membuat semua lelaki terpesona. Dengan terburu ia menatap wajah Sasuke yang ada di hadapannya. Namun sepertinya pemuda itu tidak terpengaruh. Mata onyxnya hanya menatap tajam sang Mizu-kage.
"Wah ternyata kau lebih tampan jika dilihat dari dekat."
Sakura kembali berdeham. "EHEM"
Sasuke tersenyum geli ketika melihat perang dingin antara kedua wanita itu. Dengan segera ia berkata. "Tentu saja aku akan menerimanya jika istriku mengizinkannya."
Mizu-kage kembali menatap Sakura tajam seolah memaksanya. "Jadi apakah kau mengizinkannya Sakura?"
Sakura menunduk sebentar untuk berpikir. Ia tidak suka jika Sasuke harus bekerja bersama dengan perempuan genit ini. Tapi ia tak mungkin juga membiarkan Sasuke menjadi pengangguran selamanya kan? Sudah cukup ia menderita selama bertahun-tahun menjadi missing nin. Lagipula negara mana yang mau menerima Sasuke dan dirinya ketika status kenegaraannya saja saat ini masih tidak jelas. Belum lagi nama Sasuke yang masih terdaftar dalam bingo book alias daftar pencarian kriminal Konoha. Jelas inilah satu-satunya kesempatan yang dimilikinya.
Setelah menghela napas panjang akhirnya ia mengangguk. "Tentu saja saya mengizinkannya."
Senyuman mengembang di wajah cantik Mizu-kage. "Bagus sekali kalau begitu!"
"Ah satu lagi."
"Ya?"
"Aku mendengar kemampuan medismu sangat hebat." Tubuh Sakura bergetar ketika mendengar ini. "Apakah kau mau membantu tenaga medis kami?"
"Maaf." Nada kekecewaan terdengar dari suara Sakura. "Tapi saat ini saya tidak lagi mempunyai kemampuan penyembuh. Seluruh chakra saya hilang akibat kecelakaan sewaktu bertugas di medan perang."
"Ah.." Mizu-kage hanya tersenyum tipis. Sesaat Sakura berpikir bahwa sebenarnya Mizu-kage ini adalah wanita yang sangat baik. Mungkin ia harus meminta maaf padanya karena sudah berburuk sangka tadi. "Aku tidak berkata kalau kau harus turun ke medan perang. Aku hanya ingin kau membagi ilmu pengetahuanmu dengan para kunoichi negeri Ame di akademi ninja."
"Maksud Anda…"
"Ya, aku ingin kau menjadi pengajar di akademi ninja." Mizu-kage menambahkan. "Mungkin kau bisa mengajarkan ilmu dan teknik pengobatan yang kau miliki. Jujur saja saat ini kami kekurangan tenaga medis."
"Bagaimana?"
"Tentu saja saya akan menerimanya. Terima kasih Mizukage-sama" Sakura tersenyum senang. Ia menatap Sasuke sebentar sebelum berojigi memberi hormat pada sang kage.
"Baiklah. Selesai untuk hari ini." Mizukage kembali menambahkan. "Maaf, Sakura saat ini aku ingin merundingkan strategi pertahanan dengan suamimu. Bisakah kau keluar sebentar?"
Sakura terlihat kesal. Namun pada akhirnya ia angkat kaki juga. Sebelum ia membuka pintu keluar ia melihat Sasuke berbisik dari sudut mulutnya. "Tenanglah, dia masih harus menunggu dua puluh tahun lagi."
Sakura tertawa kecil sebelum akhirnya ia menghilang dari balik pintu.
"Eh? Apa yang kau katakan padanya?" tanya Mizu-kage penasaran. "Kenapa ia tertawa?"
"Tidak ada." Ujar Sasuke singkat. "Sekarang bisakah kau menjelaskan bagaimana kondisi keamanan di negara ini?"
"Baiklah." Mizu-kage mengambil sebuah peta berukuran besar dari atas meja kerjanya dan mulai menjelaskan bagaimana strategi keamanan yang ada saat ini.
.
.
.
Sakura berjalan sendirian menyusuri jalanan di tengah kota Ame. Cuaca saat ini berbeda dari biasanya. Cerah tanpa tanda-tanda akan hujan sedikitpun. Padahal biasanya hujan turun hampir setiap hari di negeri hujan ini. Ia bersenandung kecil ketika ia mulai berbelok menuju ke mansion Uchiha yang terletak di pinggir kota. Suasana hari ini sangat sepi walaupun cuaca yang sangat cerah ini sangat menggoda untuk melakukan aktivitas diluar rumah. Entah kenapa sepertinya orang-orang lebih suka bermain di tengah kota daripada di pinggiran kota seperti ini.
Baru saja Sakura hendak membuka pintu gerbang mansion yang kini telah menjadi miliknya dan Sasuke, ia telah dikagetkan oleh suara yang telah lama dikenalnya.
"SAKURA-CHAN!"
Sakura segera mendongakkan kepalanya berusaha mencari sumber suara. Betapa kagetnya ia ketika ia melihat si pemuda blonde sahabat terbaiknya yang dulu pernah sangat dicintainya berlari dengan kecepatan penuh menuju dirinya yang hanya diam terpaku.
BRUKK
Hampir saja Sakura terjatuh karena ditabrak tiba-tiba oleh Naruto jika saja pemuda itu tidak menahan tubuhnya.
"Naruto?!" pekik Sakura yang sama kagetnya dengan pemuda itu. "Oh astaga ini bukan mimpi kan?" gumamnya saat ia teringat mimpinya yang sangat mengerikan waktu itu.
"Sakura-chan! Sakura-chan!" Naruto mengeratkan pelukannya seolah ia tak mau melepaskan Sakura lagi. "Aku mencarimu kemana-mana! Kupikir, kupikir aku tidak dapat bertemu denganmu lagi!"
"Naruto…"
Naruto yang masih mengalami euphoria yang luar biasa karena berhasil menemukan Sakura kembali tanpa sadar segera menarik wajah gadis itu lebih dekat. Menciumnya dengan penuh nafsu.
Sakura berusaha berontak namun kekuatan Naruto yang jauh lebih besar darinya membuat semua usahanya menjadi sia-sia. "UUMPH HMMPH" Sakura panik. Sungguh panik. Apalagi ketika lidah Naruto berhasil memasuki dirinya. Mendominasi semua pergerakan lidahnya. Ia tahu ia harus mengakhiri semua ini. Demi Tuhan! Ia tidak mau mengkhianati Sasuke.
Naruto bukannya menghentikan kegiatannya ia malah semakin memperdalam ciumannya. Ia seolah kerasukan sesuatu yang membuatnya menjadi seperti ini. Sepertinya semua perasaannya meledak keluar. Mendominasi raganya dan mematikan otaknya sehingga ia tak bisa berpikir jernih saat ini.
"HMMPH UMMPHH" saat ini Sakura hampir kehabisan napas. Yang benar saja, Naruto sepertinya tak berniat untuk menghentikan ciuman panas yang telah berlangsung selama hampir dua menit ini.
"CTARR"
Seketika saja Sakura melihat Naruto jatuh terjengkang tak berdaya. Di hadapannya ia dapat melihat yukata hitam berlambang Uchiha di punggung Sasuke. Pemuda itu tampak luar biasa marah. Sharingannya berputar liar. Tangan kanannya yang ia pakai untuk meninju Naruto masih mengeluarkan listrik. Ternyata ia menggunakan chidori tadi. Pantas saja Sakura mendengar suara ledakan besar tadi.
"Sasuke-kun…" Sakura tak tahu harus berkata apa. Ia merasa telah mengkhianati pemuda yan ada di hadapannya ini. Bagaimanapun ia telah sangat kurang ajar karena membiarkan Naruto menciumnya tanpa izin.
-TSUZUKU-
Chapter selanjutnya adalah antiklimaks dari kisah ini. Pertemuan kembali tim tujuh dan penyelesaian konflik yang ada.
Terima kasih sudah mau membaca!
Saran dan kritik saya terima dengan senang hati.
