Disclaimer: Kocchi Muite,Miiko! ©Ono Eriko

Warning: Terlalu banyak peringatan,silahkan tekan tombol 'back' pada browser anda jika tidak tertarik '3')


I'm Miiko!


"ng?" Tappei perlahan membuka matanya,menampakkan Irisnya yang masih mengantuk. Diliriknya jam yang menggantung di dinding. Ia lalu menguap singkat,merenggangkan otot otot lengannya,lalu kembali membanting kepalanya ke bantalnya yang empuk. Tappei kembali tertidur,ditambah dengkurannya yang keras. Sungguh,kau akan tertawa berguling guling di atap rumah jika mendengar hal ini. Tappei yang sudah tertidur pulas,merasa teganggu. Badannya di goncang-goncangkan,lalu ada suara yang tak jelas menggema di telinganya. Tappei menggumam tak jelas,lalu kembali mendengkur. Sosok yang sepertinya berusaha membangunkan Tappei itu masih tidak menyerah. Ia lalu naik keatas kasur,naik ke atas meja di sebelah kasur,dan berakhir dengan memanjat lemari yang ada di sisi kasur. Lalu ledakan itu terjadi.

"UAAAGGGHHHHH!" Tappei menjerit seriosa. Perutnya serasa dihantam dengan benda berat,seakan akan dapat membuat seluruh isinya keluar lewat mulut. Ia lalu terbangun sambil merintih memegangi perutnya. Sosok laknat itu menyeringai,lalu tersenyum manis.

"Nii-san! Ayo kita bermain! ini hari minggu!" Suara itu terdengar familiar, mungkin?. Oh,Tappei kembali teringat. Itu suara si bocah sialan yang ditendang masuk kedalam kehidupannya oleh sang kekasih tercinta. Tappei tepuk jidat. Ia lalu menghela nafas.

"banguninnya biasa aja,napa! terus kamu bilang apa tadi,main? tidak,tidak! jangan ganggu hari mingguku,Aiko. Kau bermain apa saja terserah. Tapi kalau keluar dari kamar Apartemenku ini,aku tak mengijinkan dan aku tak mau menemani. Terima Kasih" Tappei berpidato singkat,lalu kembali membanting dirinya ke kasur,menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebal,lalu tidur dengan posisi meringkuk. Dengkurannya kembali terdengar,dan itu membuat Aiko muak. Hari minggu seharusnya ia bisa bermain keluar dan jajan sepuasnya. Tapi sayang sekali,nona muda. Pria yang sempat menganggap dirinya tua ini berbeda dari orang lain. Kau takkan betah bersamanya. Salahkan Kakakmu itu,nak. Kenapa menitipkanmu pada orang yang sudah jelas Anti Bocah.

"Nii-san jahat! aku kan mau main! aku pergi sendirian saja! Nii-san tidur saja dikamar,aku tak peduli!" Aiko menghentakkan kakinya berkali kali ke lantai,pertanda bahwa ia kesal. Tappei yang sebetulnya belum benar-benar tertidur,mendecih dibalik selimut. Tappei menyepelekan omongan bocah itu. Mana mungkin ia berani keluar sendirian?

Tapi Tappei salah. Terdengar langkah kaki menjauh dari kamarnya,lalu terdengar suara kunci berputar dalam kenop pintu. Lalu terdengar suara pintu tertarik dan dibuka,dan berakhir dengan suara debuman pintu yang ditutup terlalu keras. Tappei berkeringat dingin.

"sialan bocah itu.. dia serius.." Tappei lalu cepat cepat beranjak dari kasurnya,memakai jaket dan mengikat tali sepatunya. Ia lalu mengunci pintu,dan membuntuti Aiko keluar rumah. Beruntungnya Tappei karena Aiko belum jauh dari Apartemen. Seperti yang Tappei duga,Aiko menuju taman bermain yang agak jauh dari Apartemen. Tampak Aiko sedang berjalan lesu menuju taman bermain,ditemani Tappei yang bersembunyi dibalik pohon didekatnya. Oke,Tappei mungkin terlihat seperti penculik anak-anak saat ini,yang menargetkan Aiko. Tapi naitnya bukan seperti itu,kau tahu itu. Tappei hanya memastikan bahwa Aiko baik-baik saja,dan tidak terjadi penculikan. Tapi jujur,ia malas menemani Aiko bermain,jadilah Tappei mengawasinya seperti penculik disini.

Tappei menghela nafas. Ia hanya menyaksikan Aiko bermain ayunan sendirian,dengan kepala tertunduk. Sedikit terlihat di raut wajahnya bahwa ia sedang sedih. Tappei merasa sedikit bersalah,tapi ia masih mengurungkan niat untuk menemani Aiko. Kejam? Terserah. Silahkan kau nilai Tappei itu pemuda kejam,tapi inilah yang ingin Tappei lakukan. Ia menunggu untuk saat yang tepat,barulah ia menampakkan diri. Persis seperti hantu,mungkin..

Ah,ada seorang anak yang memperhatikan Aiko terus terusan. Bocah laki-laki,matanya tak henti-hentinya menatap wajah Aiko. Tappei mengangkat alis,ia menduga duga,kira-kira hal apa yang akan terjadi?

Bocah itu mengusir Aiko. Ia ingin menempati ayunan yang sedang dimainkan Aiko,seperti yang Tappei duga,hal itu akan terjadi. Wajah Aiko tampak makin sedih,lalu segera turun dari ayunan. Aiko berjalan lunglai menuju tempat duduk di taman bermain. Aiko mendaratkan bokongnya di kursi itu lalu menundukkan kepala. Tappei menghela nafas. Ia masih menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aiko memperhatikan bocah tadi yang merebut ayunan darinya. Aiko menghela nafas. Ia benar-benar ingin memainkan ayunan,tapi semuanya terpakai. Mata bulat Aiko tak henti-hentinya memperhatikan bocah tadi. Tappei yang bosan dengan posisinya,lalu bersandar di batang pohon sambil menyilangkan tangan. Raut wajahnya benar benar menampakkan rasa bosannya. Tappei terus memperhatikan Aiko,lalu maniknya mendapati kejadian itu.

Bocah itu terjatuh dari ayunannya. Tappei tersenyum tipis.

"Karma, eh?" Tappei membatin lalu kembali mengarahkan irisnya menuju Aiko. Aiko tak ada di tempat duduknya. Tappei lalu mencari-cari Aiko,yang sebenarnya sedang mendekati bocah itu. Aiko mengulurkan tangannya pada bocah itu,lalu terseyum manis.

"Kamu nggak apa-apa?" suara riang Aiko dapat didengar Tappei walau kurang jelas. Bocah itu menyambut tangan Aiko,Aiko kembali tersenyum. Tappei mengangkat alis. Bocah ini benar benar diluar dugaannya,ternyata.

Aiko lalu membersihkan pakaian anak itu dari debu dengan menepuk-nepuk pakaiannya,lalu Aiko menatap bocah itu sambil tersenyum.

"Aku Aiko,kamu?" Bocah itu tertegun. Ia lalu menatap Aiko,dan bocah itu menampakkan cengiran lebarnya.

"Yuuta" Aiko membalas cengiran bocah itu. Aiko menunjukkan gestur kepada Yuuta untuk mengikutinya. Tappei yang menyadari hal itu lalu mengikuti Ako perlahan-lahan. Aiko membawa anak itu ke Stan Es Krim,dan membelikan anak itu es krim dengan uang yang ia bawa. Tappei sedikit tertegun,tak menyangka Aiko se-mulia itu.

Aiko dan Yuuta lalu tertawa bersama. Tappei tersenyum tipis melihat adegan yang baru saja ia lihat. Benar-benar manis. Ah,Tappei jadi ingat kebersamaannya dengan Miiko. Sungguh,ia menjadi rindu pada Miiko sekarang. Tapi entah kenapa,ada yang janggal di hatinya.

Lalu sesosok perempuan itu datang,menjemput Yuuta. Bocah itu lalu melambaikan tangannya pada Aiko sambil terus memegangi es krim pemberian Aiko. Aiko membalas lambaian itu sambil tersenyum,lalu kembali duduk di bangku taman. Kepalanya tertunduk lagi.

Ah, raut sedih itu lagi..

Tappei menghela nafas. Sudah cukup,ia bosan terus terusan berdiri di sini,dengan matanya yang dari tadi menajam fokus,seperti elang yang mengincar mangsa. Tappei lalu mendekati Aiko. Aiko cukup terkejut melihat kedatangan Tappei yang tiba-tiba. Tappei tersenyum tipis melihat reaksi Aiko.

"oi,hentikan muka surammu itu. Kau anak yang baik, eh? akan kubelikan kau es krim. Tadi itu uang terakhirmu dari Neechan,kan? Setelah beli es krim,kita pulang" Tappei mengulurkan tangannya pada Aiko. Aiko tersenyum lebar,lalu mengangguk antusias. Ia menyambut uluran Tappei,lalu menyeret Tappei menuju stan es krim yang tadi ia kunjungi. Dan sudah dapat Tappei tebak,rasa yang dipilihnya adalah rasa Strawberry.

"yah,ayo pulang" Tappei menatap Aiko. Gadis kecil itu dengan mata berbinar membalas tatapan Tappei,disusul anggukan. Tappei mendengus sambil tersenyum tipis,lalu menggandeng Aiko menuju Apartemen mereka. Genggaman itu terasa hangat,ditambah dengan wajah polos yang sibuk menjilati es krim yang baru dibelikan Tappei. Tappei menyukai wajahnya yang seperti itu. Apalagi,dengan kebiasaannya yang mirip d-"Ugh!"

Tappei memegangi kepalanya. Ia merasa sangat pusing,badannya terasa lunglai. Kakinya lemas,tak mampu menahan bobot tubuhnya,yang akhirnya terjatuh ke tanah. Terdengar samar-samar jeritan familiar yang memanggil namanya dengan nada panik,tapi Tappei tak mampu menenangkan sosok yang baru saja meneriaki namanya itu. Ia tak sanggup..

Lalu penglihatannya pudar. Hitam,hanya hitam..


Bayangan itu muncul..

Gadis bersurai cokelat,Wajah riangnya..

Sifatnya.. lalu..

Itu mirip 'dia' kan? sebenarnya apa ini?

apa yang terjadi..

"Tappei..!"

Terdengar jeritan samar. Hitam itu perlahan lahan berubah,menjadi sinar putih yang menyilaukan irisnya. Ia mencoba membiasakan cahaya itu untuk masuk ke matanya,lalu Manik itu bertemu dengan wajah seseorang yang terlalu..

Familiar tetapi sulit diingat..

Bisikan itu lagi. Tappei memegangi kepalanya yang sakit,tetapi rasa sakit itu hanya sementara. Lalu muncul sosok wajah yang tampak khawatir,dengan surai emasnya yang bergoyang seirama dengan gerakan tubuhnya. Itu dia..

Atau bukan? Itu benar benar dia?

Seseorang,tolong hentikan bisikan itu! siapapun..

"Tappei,kau sudah sadar?" Sosok itu tersenyum lega. Tappei terdiam.

Kau yakin itu dia?

Tappei menundukkan kepala. Ia menggeleng gelengkan kepala,membuat gadis didepannya kebingungan. Tappei mengangkat kepalanya,dan menatap manik gadis yang setia menunggunya sadar itu.

"hei,kau itu..."

Jeda,Tappei menghela nafas.

"Miiko,kan?"

"eh?"

.

.

TBC~


A/N:

Yoo! Chap 2 Apdet .w.)/

maaf terlalu sedikit ./\.

Jadi biar saya jelaskan sedikit,Aiko itu semacam OC saya,tapi bukan benar benar OC. Susah menjelaskannya sekarang,ikuti saja fic ini terus kalau mau .w.)/
Yuuta itu murni OC,cuma nongol di chap ini. Tapi entah,mungkin dia bisa saya gunakan lagi,tapi entah kapan.
Yah.. cerita gaje ini memang membingungkan.. ._.)/

Makasih,Review please?