Sesosok makhluk muncul dihadapan Kris, seringai mengerikan Nampak dari sang makhluk kegelapan. Sementara bayangan kegelapan semakin melingkupi tubuh jangkung sang namja blonde.

Sosok itu menyeringai kearah Tao, melayangkan tatapan penuh kebencian, dendam, dan hasrat membunuh yang kental.

'Mengerikan… terlalu mengerikan'

Tao menahan nafas saat jemari kelam sang makhluk mendekati tubuh Kris, Tao terperanjat saat jemari kelam tersebut mencengkeram leher Kris.

"KRIS-GE!"

_READING CLUB_

.

Author by:

Mrs. Evil aka Avery Cho

.

Cast :

Wu Yi Fan (Kris)

Huang Zi Tao

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Haruko Mizuki as ghost

(mian Evil nyempil xD #lol tapi gpp cumin jadi hantu kok :p)

And other cast nyusul

Pair : KrisTao

Disclaimer : semua cast disini milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Except Kyuhyunnnie is MINE! And always belong to me!

Genre : Horror, Mystery, Romance

Warning : YAOI! Boy x Boy/ BL (Boys Love) /Shonen Ai, gaje, dan pastinya TYPO menjadi bumbu penyedap rasa dalam ff diluar nalar ini.

Summary : Wu Yi Fan dan Huang Zi Tao menemukan sebuah buku aneh di perpustakaan sekolahnya yang sudah tidak dipakai selama sepuluh tahun. Ternyata buku itu adalah buku yang sudah dikutuk. Siapa saja yang membacanya akan mati, termasuk salah satu guru disekolah mereka. Polisi mengira kejadian ini murni bunuh diri, tapi ternyata bukan… setelah kejadian itu Yi Fan akhirnya menceritakan kejadian buruk yang menimpa keluarganya ketika dia masih kecil pada Tao.

A/N : Fanfic ini merupakan REMAKE dari sebuah Manhwa dengan judul sama bergenre Horror karya Jo Joo-Hee dan Seo Yun-Young. Bagi yang penasaran silahkan mencari di toko buku terdekat -_- Bye! #pulang Ah! Dan mianhae buat kesalahan di chapter lalu, Evil salah ngetiknya EXO K, padahal Tao-ie kan EXO M -_-

Note : Yang di BOLD adalah flashback, sengaja Evil gak make kata 'flashback' sebagai keterangan soalnya noona Evil si Qhia503 megang remote sebagai pentungan kalo Evil make kata flashback -_- katanya sih ngerusak feel ceritanya, YESUNGdahlah mari kita melangkah(?)

And then, please just call me Evil-san, Mizu-chan, or ONIK! (Soalnya kata Kkamjjongin oppa dan Hyunseung B2ST nama Onik itu unik dan terdengar lucu waktu di fansign mereka *^_^*) .

IF YOU DON'T LIKE MY PAIR JUST CLICK [X] TO CLOSE. PLEASE, DON'T BASH MY PAIR!

NO COPAS NO PLAGIAT!

NGE-FLAME SIH BOLEH BOLEH AJA ^_^

Me-review itu hak kalian masing-masing J

DON'T LIKE DON'T READ

So,.

HAPPY READING *^_^*

.

.

_Haruko Mizukiyoshie Present_

.

.

Chapter 2

,

,

"KRIS-GEGE!"

"Apa?"

'Eh?'

Tao termangu saat sosok kegelapan yang tadi tertangkap retinanya lenyap tak berbekas, menyisakan wajah Kris yang tampak kebingungan oleh teriakannya.

"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba berteriak seperi itu?"

Dihiraukannya lontaran kalimat yang terucap dari bibir Kris, iris panda Tao menatap tajam buku yang baru saja terkatup oleh jemari tirus sang namja blonde. Tao merampas benda mati tersebut sebelum Kris sempat menyembunyikannya lagi.

"BUKU APA INI?!"

Tao terkesiap kala menyadari buku itu berbeda dengan penglihatannya, hanya ilusinasi nya sajakah? Tapi entah.. Bayangan tubuh Kris dalam kegelapan beberapa saat lalu terus terngiang dibenaknya, memenuhi sesak jiwa Tao yang berada pada titik terendah.

"Aku hanya melihat-lihat buku di perpustakaan ini"

Kris tersenyum lembut. Iris emerald sang namja menatap Tao yang masih terpekur dengan buku dalam cengkeramannya. Kening yang mengkerut membuat si blonde mencoba memahami situasi keduanya.

"Kau baik-baik saja?"

"Tidak apa-apa, sepertinya hanya bayanganku" Tao tersenyum lega, berusaha mengabaikan jeritan hatinya yang membenarkan penglihatan yang tertangkap retinanya beberapa saat lalu.

"Tempat ini memang sudah menakutkan sejak awal, atau mungkin kau berhalusinasi karena terlalu lelah membersihkan tempat ini"

Emerald Kris dengan awas menyusuri tumpukan buku disisinya. Jemari tirus sang namja meraih sebuah buku tebal, menatap iris panda rekan kerjanya.

"Kau mau tiduran sebentar? Pakai buku sejarah Roma ini jadi bantal, kadang-kadang buku tebal juga ada gunanya kan?" tawarnya ramah seraya menyerahkan buku tersebut pada Tao.

"Ah, gomawo…"

Hening

Lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Keduanya terlalu larut memikirkan hal yang sulit diartikan, hingga Tao mulai membuka suara.

"Sepertinya akhir-akhir ini aku jadi aneh"

Kris yang tengah menelusuri untaian kalimat yang tersusun apik dalam bacaannya menoleh sesaat. Ekor matanya menangkap kegundahan yang terpatri jelas pada iris namja yang tengah berbaring disampingnya.

"Istirahatlah sebentar, nanti juga baikan"

Tao tersenyum sembari mengangguk pelan.

"Kris-ge, bisakah kau ceritakan lagi tentang perpustakaan yang waktu itu? Aku ingin tahu bagaimana tempat itu bisa hancur"

Mata pandanya menatap paras rupawan Kris yang tengah larut dalam bacaannya. Merasa ditatap, sang namja blonde mulai mengalihkan pandangannya.

"Tapi ceritanya sedikit menyeramkan, apa kau sanggup?"

"Nan gwaenchana, aku ingin mendengarnya"

Kris memejamkan matanya sesaat, suara bass sang namja bergetar saat memulai ceritanya.

"Para penduduk Alexandria yang beragama katolik mengejar para penduduk yang beragama lain sampai ke dalam perpustakaan, tapi para penjaga disana melarang mereka masuk karena menganggap perpustakaan adalah tempat yang suci dan harus dilindungi. Kau tahu apa akibatnya?"

"Pembunuhan?"

"Kau benar, para pengejar menganggap semua orang yang ada di perpustakaan adalah orang-orang kafir, jadi mereka membunuh semuanya, baik para pelajar maupun para pejabat"

Tao menyimak dengan seksama untaian kisah yang menarik minatnya dari belahan bibir Kris, entah hanya perasaannya saja atau atmosfire disekitar mereka memang tiba-tiba terasa menurun drastis saat cerita Kris telah sampai pada tragedy pembunuhan massal di perpustakaan tersebut.

"Buku-buku yang dikumpulkan selama ratusan tahun dibanjiri darah, perpustakaan itu masih bisa diselamatkan. Tapi…"

"Tapi apa?"

"Tapi pada akhirnya perpustakaan itu dihancurkan"

Tubuh sang namja reflek terduduk. Kalimat yang diucapkan rekannya membuat sang namja tertegun.

"Mereka membakar semuanya. Buku-buku, perpustakaan, bahkan para pelajar yang menjaga tempat itu"

"Apa gege sedang menceritakan kisah yang terukir dalam buku usang itu?"

Tao menarik napasnya pelan, mungkin memang ini saatnya. Ia harus memastikannya sendiri, jika sang namja blonde mengetahui kisah dibalik buku usang yang masih menghantui jiwanya.

Iris Tao menatap lurus emerald Kris tanpa keraguan, menuntut penjelasan atas kalimat tabu yang terlontar dari bibirnya.

"Perpustakaan Alexandria?"

Ekspresi Kris berubah 180 derajat.

"Kau… Apa kau pernah membaca buku itu?" tatapannya kian menajam, menunggu jawaban dari namja panda dihadapannya. Nada itu penuh dengan tekanan, memancarkan ketakutan dari sang pelafal.

BRAKK

"Siapa disana?"

Hening

Seonsaeng bertubuh mungil yang baru saja membanting keras pintu perpustakaan berucap ragu. Saat melintasi ruangan ini indera pendengarnya menangkap suara percakapan dua orang namja, mengira-ngira mungkin saja itu murid-murid yang membolos.

Nyatanya ssaem ber-nametag Lee Sun Kyu itu hanya mendapati kekosongan. Menetralkan detak jantungnya, ia kembali menutup pintu perpustakaan dengan pelan.

"Aku pasti salah dengar. Tapi ngomong-ngomong, kenapa perpustakaannya jadi lebih berantakan ya?"

KLAP

Tao terpaku menatap tubuh Kris diatasnya. Tubuh atletis sang namja bertumpu pada kedua lengan yang memerangkap tubuhnya yang terbaring pasrah dilantai.

Kris menatap Tao tanpa berkedip. Beradu pandang dalam jarak yang nyaris tak Nampak. Tao merasakan wajahnya memanas sekarang, paras porselen dihadapannya dapat ia telusuri dengan jelas.

"Se-Sepertinya Sunny ssaem tidak m-menyadari kehadiran k-kita.. I-Ia hanya melihat tumpukan bukunya.." Cicit sang namja panda nyaris berbaur dengan angin.

Kris tersenyum lembut, kedua emeraldnya mengatup mempesona. "Hampir saja kita ketahuan, bukankah sudah kukatakan buku juga bisa berguna?"

"E-Eung.. Itu ge.. Sekarang bi-bisakah kau menyingkir dari tubuhku?"

"Eh? OH MAAF!"

Set

Mata Kris menyiratkan kebingungan atas sikap Tao. Saat tubuh namja yang lebih besar hendak menyingkir, jemari lentik sang namja manis malah menangkup wajahnya. Memaksa pandangan sang namja kembali beradu dengan orbs-nya.

"Kenapa harus meminta maaf?"

Chupp

Kejadian itu begitu cepat. Saat jemari lentik yang menangkup wajah sang namja blonde menariknya, mempertemukan kedua benda kenyal yang saling bersentuhan lembut.

Sentuhan lembut tersebut kini telah berubah menjadi lumatan-lumatan manis yang memabukkan. Hingga sang namja blonde memutuskan untuk memutuskan tautan keduanya.

Keduanya saling menatap lembut, dengan ekspresi yang sama. Tersipu, wajah keduanya dihiasi semburat merah yang kontras dengan senyuman kikuk yang tercipta.

"A-Apa buku itu berbahaya?" Namja panda yang masih berbaring –terperangkap tubuh besar diatasnya menyuarakan isi hatinya, suara yang bergetar menyalurkan ketakutan tersendiri yang mengusik jiwa Tao.

"Itu.."

"Lebih berbahaya dari situasi kita saat ini?!" Sambungnya tak sabar, hati dan pikirannya keruh tiap kali mengingat takdir yang mungkin akan mengikat mereka berdua.

Wajah Kris memerah, tersipu. Seiring dengan tubuhnya yang bangkit, ia berdehem pelan.

"Pabbo… Perpustakaan itu adalah tempat yang suci.." Ucap sang namja ambigu seraya menatap dalam iris Tao.

Tao tersenyum sumringah dengan wajah memerahnya.

.

Saat itu, kami berjanji

Semua dimulai dari ketegangan

Dimulai dari buku itu, aku Huang Zi Tao berjanji akan menjagamu

.

Keduanya bersandar pada tumpukan buku diruangan tersebut, saling berbagi cerita dan tertawa bersama. Dilingkupi suasana hangat, untuk pertama kalinya mereka dapat tertawa lepas seperti saat ini..

Tanpa Tao sadari, tepat di pergelangan tangan kirinya terdapat bekas cengkeraman. Bekas cengkeraman yang menghitam seolah melepuh, tampak kontras dengan kulitnya yang putih.

.

Masa laluku sudah terlupakan

seperti dedaunan yang gugur di musim gugur.

Aku dikuasai oleh keraguanku,

ketakutanku.

Dengan langkahku ini,

aku melanjutkan hidupku

ke dalam dunia ini yang penuh dengan darah.

.

Cahaya temaram yang dihasilkan dari obor diruangan tersebut bertiup pelan, mengikuti hembusan hawa dingin yang mengusik permukaan kulit.

Seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian kebangsawanan Mesir menatap tajam sosok pria tua berjubah dihadapannya.

"Saya harap anda sudah mengetahui peraturan yang kami terapkan di Alexandria.." Sahutnya tegas tanpa keraguan sedikitpun. Tidak pernah memandang kedudukan, bahkan meski sosok pria tua berjubah itu adalah seorang pendeta yang datang dari negeri jauh.

Sang pendeta hanya tersenyum dengan wajah orientalnya.

"Kukira ini sudah saatnya buku ini untuk disimpan baik-baik"

Sang penjaga menatap aneh buku usang dalam genggaman sang pendeta. 'Apa itu buku mantra-mantra kuno?' batinnya keheranan.

"Kami akan memberikan salinan buku ini pada saat yang tepat" Ujar sang penjaga, tegas.

"Mustahil… Itu tidak mungkin. Khu Khu Khu"

Penjaga perpustakaan Alexandria tersebut berjengit saat menyaksikan perubahan ekspresi wajah dan aura yang melingkupi sang pendeta.

Wajah bijak nan tenangnya beberapa saat yang lalu telah berubah, menampilkan seringaian menyeramkan penuh ambisi seolah dirinya telah terobsesi oleh sesuatu.

Seorang gadis yang berada dalam ruangan yang sama menatap risih sang pendeta. Dengan suara lirih yang memancarkan kekhawatiran, ia menyampaikan risaunya pada seorang pria yang berdiri disisinya. "Dia seperti orang yang terkena sihir.."

"Sssh.." Pria yang ditanya hanya berdesis pelan, namun pandangannya tak sinchipun beralih dari sosok yang masih terkekeh pelan.

"Ngomong-ngomong.." Suara sang pendeta kembali menarik perhatian setiap pasang mata yang berada dalam lingkup yang sama.

"Aku belum menyelesaikan bagian akhir buku ini…" Sambungnya, ia membuka lembaran demi lembaran buku usang tersebut. "Izinkan aku membaca bagian akhir buku ini.."

Untuk beberapa saat, sang pendeta terus menatap halaman akhir buku itu. Tatapan kepastian akan sebuah keyakinan yang menyimpan sebuah obsesi, seolah takkan ada hari esok untuk membacanya lagi.

"Khu Khu Khu… Ternyata kau memang iblis.."

Tes

Tes

Orang-orang yang menghuni perpustakaan terlonjak saat setetes demi tetes cairan merah pekat mengalir dari hidung sang pendeta. Sementara kekehan dan tawa dengan suara yang menggelegar masih melantun dari bibirnya.

"BAIKLAH. JIKA KAU MEMANG MENGINGINKANNYA! BAWA AKU KE NERAKA BERSAMAMU! HA HA HA HA HA…."

Dan usai teriakan dengan suara yang mencekam sang pendeta, buku usang itu dihempaskannya begitu saja.

Sang pendeta meraih wadah berisi api yang berkobar sebagai sumber pencahayaan. Beberapa penghuni perpustakaan terlonjak saat melihat aksi sang pendeta.

Peringatan dan seruan yang terlontar tak diindahkannya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?! ITU BERBAHAYA!"

Tanpa bisa dicegah tangan dewa sekalipun. Satu tarikan dari sang pendeta membuat wadah berisi minyak dengan api berkobar menimpa dirinya.

"AARGHHH…"

Dalam kobaran api yang bersahutan sang pendeta masih tertawa meneriakkan kesakitannya. "Aku… Hidup kekal abadi selamanya…"

BURRSHHH

Tak ada yang bergeming, tak ada yang berusaha menolong. Setiap nyawa dalam ruangan itu seolah terpaku ditempatnya.

Menyaksikan bagaimana tubuh malang sang pendeta tercabik dalam balutan kobaran api yang meneriakkan penderitaan. Hingga sang penjaga menatap lurus buku usang sang pendeta.

Tangan itu terjulur, hendak meraih benda mati itu saat sebuah suara menggema dalam kesunyian yang mematikan.

"JANGAN SENTUH BUKU ITU!"

Seorang pria tua dengan janggut panjang yang memutih dan pakaian kebesarannya berjalan dengan angkuh. Sedikit menyingkap pakaian kebangsawanan Mesir-nya, sang tetua menegaskan gurat kebijaksanaan yang terlukis diwajahnya.

"Buku itu pasti sudah disegel oleh kutukan sehingga tak akan ada yang bisa mendekatinya". Ia menghela nafas perlahan, berdehem demi menampilkan wibawanya diujung garis usia renta. "Semua yang ada disini hari ini tidak boleh membicarakan buku ini lagi". Ucapnya final tanpa sinar keraguan.

"Kita harus membawa rahasia ini sampai mati"

.

Sampai bagian itu aku membaca untaian kalimat yang terpatri dalam kisah yang berada dalam buku terkutuk itu.

Tao membuka kelopak matanya perlahan. Ia terlonjak saat mendapati kedua telapak tangannya terbakar oleh kobaran api yang membara.

"AAARGGH!"

BRUKK

Tao terduduk takut. Tubuhnya gemetar menahan gejolak yang bergemuruh dalam dirinya saat menyadari hal itu hanya ilusi belaka.

Ia mendesah lega. Sedikit menggigil saat hembusan angin sore seolah menyapa tengkuknya hingga ke lapisan kulit terdalamnya.

'Kris-gege sudah membacanya sampai mana, ya?'

.

.

Seorang pemuda berambut blonde berbaring seorang diri dalam balutan semilir lembut angin musim semi. Tubuhnya terbaring lembut diatas kursi taman, dengan tangan kanan yang menumpu kepalanya sebagai bantalan, tangan kirinya dengan kokoh menggenggam sebuah buku.

Ia terus menyusuri untaian kalimatnya, larut dalam kegiatan yang selalu bisa membawa jiwanya larut ke dalam dunia lain yang ia ciptakan seorang diri.

"Gege sedang membaca apa?"

Kris menyingkap buku dalam genggamannya. Paras imut seorang namja menyapa emerald si blonde. Raut penasarannya ia jawab dengan seulas senyum lembut yang menenangkan.

"In Cold Blood karya Truman Capote". Ia bangkit, member tempat disisinya bagi namja panda yang belakangan ini selalu berada disisinya.

"Ceritanya tentang apa Ge?"

"Ini cerita dokumentasi nonfiksi tentang keluarga pembunuh di tahun 1950-an di Amerika, penulisnya benar-benar menggambarkan karakter sang pembunuh dengan jelas. Seolah-olah sang penulis mengenal dengan baik sosok pembunuh ini.."

"Apa karena itu buku ini diberi judul 'In Cold Blood'?"

Raut Kris menjadi sedikit serius saat hendak berucap lagi. "Tapi sebenarnya yang berdarah dingin itu, adalah Capote sendiri.." Tao sedikit terkejut, alisnya bertaut menyuarakan kebingungan.

"Maksud Gege?". Kris menghela nafas.

"Dia memakai pengaruhnya sendiri sebagai penulis dan berjanji pada para terpidana kalau dia akan diberi grasi dari hukuman mati. Hanya dari buku ini dia memberikan kesimpulannya. Tentu saja itu hanya suatu kebohongan belaka.."

"T-Tapi kenapa? Untuk apa..?"

"..Bahkan siapapun yang membaca bukunya pasti merasakan jiwa para terpidana yang telah mati hidup kembali.." Tao mengernyit saat Kris malah melanjutkan kisahnya tanpa menjawab lontaran pertanyaannya.

"Ge.."

"..Mereka seperti tetap hidup kekal melalui buku tersebut.."

Tao bergidig saat menyadari perubahan suhu yang melingkupi keduanya. Berusaha menggapai Kris, namun suaranya terpotong oleh kalimat dari si blonde.

"..Buku ya..? Jadi.. apa Capote telah menepati janjinya pada mereka ya?"

Lagi-lagi dia memandang dengan tatapan aneh, sorot matanya memancarkan sebuah perasaan yang tak dapat kubaca.

Kris Gege tak ubahnya seperti buku usang itu, terlihat namun susah tebaca..

'Aku..'

'Hidup kekal abadi selamanya..'

Tao merasa sesak yang amat sangat mendera dadanya. Potongan kalimat yang terukir dalam kisah yang terdapat di buku usang itu mengalir begitu saja dalam memori nya.

Seolah ia dapat melihat bagaimana tubuh malang sang pendeta menjadi pilar bagi kobaran api yang membahana.

"Cukup Ge.. Sekarang saatnya Gege memberitahuku… Sebenarnya apa yang akan Gege rencanakan dengan buku yang ada hubungannya dengan perpustakaan Alexandria itu?"

Pandangan Kris menjadi sayu. Tersirat sebuah keputusasaan dalam gurat wajahnya, Tao tahu Kris ketakutan. "Sampai sekarang aku juga masih tidak tahu, tapi aku yakin akan mengetahui semuanya dalam waktu dekat".

"Tapi… Bukankah buku dengan unsur jahat seperti itu harus segera dimusnahkan?"

"Tidak.." Tao menatap Kris. Menuntut penjelasan, iris pandanya tak beralih sedikitpun dari sang partner. "Belum saatnya Tao… Masa depanku berhubungan dengan buku itu… Sudah sejak lama hal ini..".

.

Aku bisa merasakannya… Hati Kris Gege yang diliputi kebingungan, ketakutan dan keputusasaan.. Dan segalanya kini terasa dekat…

Kami bisa merasakan datangnya kegelapan disekitar kami… Akupun mulai meragukan diriku sendiri, apakah aku masih sanggup berjanji untuk melindungi Kris Gege?

.

.

Dalam ruangan perpustakaan yang sunyi. Deru nafas penuh obsesi dan kecemasan menjadi melodi pengiring pesan pembawa kematian.

Terik mentari yang terbias lembut dari jendela ruangan tak mengurangi aura mencekam yang menggerogoti jiwa.

Dengan nafas yang tersengal, jemari mungil itu membuka lembar demi lembaran buku usang yang mengikat jiwanya.

Tes

Tes

Cairan pekat merembes dari hidungnya, menetes secara statis hingga menodai lembaran buku usang tersebut.

Ia terlonjak, jemarinya terangkat mengusap darah yang mengalir semakin banyak dari celah pernafasannya.

Ia mendongak saat merasakan jiwanya seolah tertarik kedepan, menatap sosok kegelapan yang berdiri angkuh dihadapannya.

"S-Siapa kau..?"

Suaranya lirih, bergetar penuh ketakutan. Sosok gadis remaja berambut panjang sehitam arang dengan seragam sekolah dan seluruh tubuh yang berlumuran darah menatap kosong tubuh ringkih dihadapannya.

Darah mengucur deras dari hidung sang gadis, semakin deras, semakin deras hingga pupilnya memutih menatap lurus iris manusia dihadapannya.

Tatapannya mengancam dengan sisipan pesan kematian yang segera menjemput. Kepalanya bergerak turun, lehernya memanjang seolah terbuat dari karet.

Kepala dengan leher yang memanjang tersebut mendekat, berjarak sepersekian centi dari tubuh ringkih yang menggigil dengan getaran ketakutan dan penyesalan yang teramat.

Aura mencekam menekan segala inderanya, tepat saat sang gadis membuka lebar mulutnya, mulut lebar tanpa lidah yang tertarik hingga wajahnya mengkerut seolah terbuat dari karet dan ditarik paksa. Raambutnya memanjang membentuk ribuan jarum yang memanjang keseluruh ruangan, siap mencabik apapun yang terjangkau olehnya.

Menyisakan rintihan ketakutan akan ancaman besar yang menyiksa jiwanya dalam ketakutan tak berdasar yang siap menjemputnya ke neraka.

PRAANGGG

.

.

TBC

.

.

GOMAWOOO… ATAS REPIU NYAA…. Semua review Evil baca, tapi mohon maaf belom bisa bales dikarenakan waktu yang mendesak!

Big Thanks To :

KimJajang, ressijewell

Qhia503, youngwoonrici

Huang Mir, 1603

.

Gomawo buat yang udah menyempatkan diri meluangkan waktu untuk merivew karya Evil ini, review kalian benar2 berharga buat Evil karena setidaknya Evil bisa tau bagaimana tanggapan kalian terhadap karya karya Evil…

Akhir kata..

YunJae's Aegya

'

'

Kyuhyun's wife 3

'

'

Evil aka Avery Cho

'

'

Mind to Review please?

And thanks to all of my silent reader! ^_^

Follow me ONIK_BloodDevil (jika berminat ^_^)