Tokutsubaki Fantasy – Zwei Date

.

First Year of Battle

.

.

.

.

.

Terra e Cielo II – L'improvviso Incontro

[Daichi to Sora II – Totsuzen na Kaigi]

~Bumi dan Langit II – Pertemuan yang Mendadak~

.

.

.

.

.

Soko ni nagareru kumo, yoku miteta?

Are, maru de kokoro no you da...

Itsu ka, kanashiku; itsu ka, yasashiku; itsu ka, omoshiroku...

.

Na no ni, soko no tsumi wo keshite suru no wa, dou yatta?

.

.

Ketika cahaya itu menghilang, kami terjatuh dari langit dan terjerembab di atas sebuah pohon. Beruntung seragam kami tidak tersangkut di ranting pohon. Namun, rasanya sakit bila terjatuh dari ketinggian sekitar seratus kaki. Untunglah, kami tidak mati.

"Ugh..." erangku sambil berusaha bangkit dan duduk di atas cabang pohon yang besar; tempat di mana aku 'mendarat'. "Shiori, kau tak apa?"

"Tak apa gimana?" keluh Shiori, yang terjatuh di cabang lain yang tidak jauh dari tempatku. "Sudahlah, ayo turun." Ia pun melompat turun dari pohon dan mendarat dengan kedua kakinya sambil berjongkok. Aku melakukan hal yang sama dan mendarat dengan bertumpu pada lutut kananku.

"Jadi, ini di mana?" tanyaku. "Ini benar dunia Hetalia, kan?"

"Harusnya. Tapi tunggu." Shiori menatap heran ke langit. "Kenapa di sini masih malam?"

Aku melihat sekeliling. Benar, di sini sudah malam. Sekitar kami sudah sepi, tidak ada orang yang terlihat di sini. Lagipula, lampu-lampu di rumah-rumah sudah mati. Satu petunjuk lagi, ada jam bertiang yang berada di dekat pohon tempat kami terjatuh dan menunjukkan pukul dua belas kurang enam menit. Artinya, di sini masih malam.

"Entah," kataku. "Mungkin perbedaan waktu antara dunia kita dengan dunia sini. Yang penting, kita gak boleh berisik."

"Memang," kata Shiori. "Tapi jarak sini ke kompleks perumahan kan jauh. Gimana mau ke sana?"

Kalau dugaanku tepat, maka sesungguhnya tidak hanya dunia Kitayume dan Hetalia yang ada di portal ini. Mungkin, dunia itu juga. Aku pun menggumam, "Theta."

Si salib pun berucap, "Force Aviator."

Tiba-tiba, dari kedua kakiku, muncullah masing-masing dua sayap bercahaya; di kaki bagian dalam tidak ada sayap sama sekali. Sayap tersebut berbentuk seperti sayap burung dan berwarna perak tua. Sayap di bagian atas lebih besar daripada bagian bawah.

"Bagaimana?" kataku. "Shiori, kau juga."

Shiori terlihat bingung, namun ia berkata dengan pelan, "Delta?"

Si kartu besi itu pun berucap, "Assault Flier." Lalu, dari kedua kaki Shiori pun muncul sayap yang sama denganku, namun berwarna perak muda.

"Wah," gumam Shiori. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Haha, aku hanya menalar," jawabku enteng. "Ayo, kita coba terbang."

Aku dan Shiori pun menghentakkan kaki kami dengan pelan, dan tiba-tiba saja tubuh kami terangkat. Anehnya, kami merasa ringan. Kami pun terbang melintasi langit malam nan luas, menuju kompleks perumahan yang dimaksud Shiori tadi.

"Tapi, Sonota, kalau ada yang tahu, bagaimana?" tanya Shiori.

"Kau betul juga. Sebaiknya, kita mendarat saja. Lagi juga, sudah sampai."

Kami pun mendarat di sebuah trotoar; tidak ada satu pun orang yang melintasi trotoar itu. Sayap di kaki kami pun menghilang perlahan.

"Tapi, gila, ya," ucap Shiori. "Di sini kok sepi amat."

Aku pun melihat sekeliling lagi. Di sebelah kiri kami, ada sebuah rumah berukuran kecil bercat hijau muda dengan pagar hitam. Di gapura sebelah kanan tempat pagar tersebut dibangun, terdapat papan keramik dengan tulisan 'B2 K1I 008'.

"Tunggu. B2, K1I, 008?" gumamku, setelah berpikir cukup lama. Aku pun berjalan maju. Kini, aku melihat rumah lain yang berukuran kecil dengan cat hijau muda; pagarnya juga hitam. Di gapura kanan pagarnya, terdapat papan keramik bertuliskan 'B2 K3G 010'.

Aku tersenyum licik. "Shiori, memang benar," gumamku.

"Kenapa?" tanyanya sambil mendekatiku.

"Kau tahu," aku menunjuk rumah di depanku, "ini rumahnya Gunma."

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Shiori.

Aku pun menariknya ke seberang jalan, kemudian berbelok ke kanan. Aku pun membawa Shiori ke rumah kecil yang berada di pojok kanan di kompleks tersebut. Rumah tersebut bercat merah dengan pagar hitam. Di gapura kanan pagar tersebut, terdapat tulisan 'B1 H1H 001'.

"Ini rumah Hokkaido." Aku pun menunjukkan rumah di seberangnya. Rumah tersebut dicat kuning dengan pagar hitam. Di gapura kanan pagar itu, terdapat tulisan 'B2 T1A 002'. "Yang di situ rumahnya Aomori."

"Sonota, kau gila," ucap Shiori. "Gimana kamu bisa tahu?"

"Lihat nomor berapa rumah itu. Contohnya, rumah di seberang kita itu bernomor B2 T1A 002. Kamu abaikan saja dua huruf dan angka pertama di nomor itu. Sekarang kamu lihat kode kedua dan ketiga. Huruf T mewakili Tohoku, angka satu mewakili nomor keberapa orang tersebut di daerahnya, dan huruf A...kau sudah tahu: mewakili nama orang itu sendiri," jelasku.

"Bagaimana dengan kode ketiga?"

"Nomor keberapa dari prefektur tersebut secara keseluruhan, bila kau menghitung ketiga puluh enam prefektur di sini dari hitungan satu sampai terakhir."

"Oooh..." gumam Shiori paham. "Polanya zig-zag, ya?"

Aku mengangguk. "Makanya, rumah di sebelah rumahnya Aomori itu bukan rumahnya Iwate." Aku melihat gapura di rumah sebelah rumah Aomori. Warna cat rumah dan pagarnya persis seperti milik rumah Aomori. "B2 T3M 004; itu rumahnya Miyagi."

"Sonota," kata Shiori. "Kalau kita bertemu dengan mereka..."

Otakku berpikir cepat. "Bersikap saja seperti kita tidak pernah mengenal mereka. Namun, hati kita tetap mengatakan hal yang lain."

Shiori mengangguk setuju. Kami pun kembali ke posisi kami semula: di depan rumah Ibaraki. Kami pun berjalan sampai di depan rumah milik Gunma, dan kemudian melihat ke sekeliling.

"Jadi, kita harus konsultasi sama siapa? Kalau kita itu manu—"

"Pengguna sihir, bukan penyihir," potongku. "Mereka menyebutnya demikian. Pasti."

"Begitu. Jadi, kayak Nanoha, gitu?" tanya Shiori.

Aku mengangguk. "Kembali ke topik awal. Pilihan kita adalah antara Tokyo dan Gunma. Bagaimana menurutmu?"

Shiori berpikir. "Ng...ini dia susahnya...mereka sama-sama bisa dipercaya...tapi kan Tokyo lebih sibuk, kasihan..."

"Kalau begitu, kita ke rumahnya Gunma."

Kami pun mengangguk bersamaan, dan segera memencet tombol bel di bawah papan keramik yang menempel di gapura pagar. Namun, tidak ada respon.

Shiori pun mendesah. "Percuma. Kita terbang saja lagi."

Kami pun mengaktifkan sayap milik kami masing-masing, dan terbang mengitari rumah milik si gadis personifikasi Prefektur Gunma itu. Sampai akhirnya kami menemukan kamar milik orang itu, yang berlokasi di pojok belakang kanan rumah. Masalahnya, jendela kamar tersebut ditutupi dengan tirai berwarna merah muda.

Kalau ini memang device... "Theta!" seruku.

"No problem. Rod Form, activate."

Tiba-tiba, Theta pun berubah menjadi sebuah tongkat besi ringan sepanjang satu meter lebih enam puluh senti meter. Setiap bagian sepanjang dua puluh lima sentimeter di setiap ujung tongkat berwarna hitam, dan sisanya berwarna merah. Di perbatasan antara warna hitam dan merah di tongkat bagian atas, terdapat sebuah bola perak yang dibungkus dengan kaca transparan sepanjang sepuluh sentimeter—yang sepertinya merupakan inti dari Theta, seperti permata pada Theta saat berwujud salib. Bentuk dan warna tongkat tersebut mengingatkanku pada tongkat pramuka di negara Indonesia.

"Shiori, kau tunggu di sana, tapi jangan melepaskan sayapnya. Biar aku yang memberi bukti pada Gunma," perintahku. Shiori hanya mengangguk, dan kemudian mundur sekitar setengah meter.

Aku pun merogoh saku kemejaku dan mengambil kertas surat kiriman yang kuambil dari wastafel beberapa waktu lalu. Aku pun membuka lipatannya dan kemudian memegang kertas itu di tangan kananku. Sebagai gantinya, aku memegang Theta dengan tangan kiriku dan menggunakannya untuk mengetuk jendela.

Namun, sebelum aku benar-benar melakukannya...

"Kashiwagi-san? Umeda-san?"

Kami menoleh. Kami melihat seorang pemuda berambut hitam rapi dengan mata buramnya yang berwarna coklat. Ia terlihat mengenakan seragam militer putih. Aku tidak bisa melihatnya dengan begitu jelas, namun...bukannya dia...

"K-k-kau...Ki-Kiku!" seru Shiori ketakutan. "Kau Nihon—ya, kau Honda Kiku, kan? Benar, kan?!" serunya lagi; seluruh tubuhnya bergetar.

Aku pun ikut bergidik ngeri. Ada tiga hal. Pertama, dia datang ke sini larut malam dan melihat kita. Dua, dia melihat kita yang sedang terbang dan khususnya aku, yang terlihat siap menghancurkan jendela rumahnya Gunma—padahal sebetulnya tidak. Tiga, DIA MENGENALIKU DAN SHIORI.

"Ka-kamu..." ujarku kaget. "Kenapa bisa mengenali kami...?"

"Kalian sering datang ke sini, bukan? Kalian selalu datang bila kami ada shooting untuk 'drama sinetron' dan semacamnya. Kalian bahkan sering menjadi tokoh utama dalam cerita yang atasan kami bawakan," jawab Kiku sambil tersenyum tipis. "Oh ya; Kashiwagi-san, bagaimana dengan bukti yang aku dan Estonia-san kirimkan kepadamu lewat mimpi? Mereka serasi, bukan?"

Mereka? Aku mulai berpikir-pikir. Sepertinya, aku pernah bermimpi tentang mendapat suatu kiriman...apakah surel? Benar; lalu, siapa 'mereka'? Begitu aku mengingat mimpi apa yang dimaksud oleh personifikasi negara tempat kami lahir itu, aku hanya meringis. "Yah, seperti apa yang saya inginkan." Setelah menjawab pertanyaannya, aku menarik lengan Shiori yang masih terkejut dan mengajaknya turun ke dekat Kiku. Aku dan Shiori pun menonaktifkan sayap di kaki masing-masing. "Saya tidak pernah bertemu Anda dengan langsung; yang pernah saya temui hanyalah Poland, Lithuania, Latvia, Belarus, Ukraina, dan Russia. Mungkin saya bisa menghitung salah satu personifikasi negara Indonesia yang bernama Kirana Wicaksono. Namun, saya sering mendengar cerita dari Shiori, bahwa ia bermimpi bila saya dan dia menjadi murid di sekolah asrama yang sama dengan Anda dan kawan-kawan Anda. Mungkin itu yang Anda maksud dengan 'drama sinetron', bukankah begitu?" ucapku panjang lebar.

Kiku masih tetap tersenyum penuh arti. "Tepat sekali; kau sangat pintar." Ia pun melirik ke Shiori. "Umeda-san, kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menangkapmu di tempat seperti ini," katanya.

Badan Shiori pun berangsur rileks, dan ia menghela nafas sambil berkata, "Aku hanya terkejut, bukan takut. Lalu, kenapa kau datang malam-malam begini?"

Kiku menghela nafas pelan, lalu melihat sekelilingnya. Sejak tidak ada tanda-tanda personifikasi prefektur yang terbangun di malam hari ini, ia pun berkata kepada kami, "Kalian harus bertemu dengan sekutu kalian. Selain itu, kalian akan mendapatkan penyuluhan dariku dan temanku."

"Sekutu siapa? Temanmu siapa?" gumam Shiori. Ia terlihat ketakutan lagi. Mungkin, ia takut untuk bertemu dengan salah satu dari teman Kiku yang telah mengutuknya sampai hampir membuat nyawanya dicabut di alam mimpi. Syukurlah, atas saranku, Shiori mampu selamat dari kutukan itu, dengan satu resiko yang berurusan dengan perasaannya sendiri.

Namun, Kiku malah membuka penutup ruang saluran air yang berada di trotoar di dekatnya, yang ternyata isinya adalah sebuah tangga menuju ruang bawah tanah. Tangga itu diterangi dengan obor; lagipula, sepertinya ruang bawah tanah itu cukup dalam. "Sebetulnya, ini adalah ruang bawah tanah yang biasanya digunakan para personifikasi prefektur apabila diadakan Pertemuan Personifikasi Jepang, atau apabila ada bahaya yang berasal dari sekitar sini, termasuk monster. Namun, karena belum pernah ada monster yang diberitakan, maka mereka hanya menganggap tempat ini sebagai ruang pertemuan dan ruang privat," jelasnya. "Mari, masuk; mereka pasti sudah menunggu."

Aku pun menarik Shiori untuk ikut masuk ke dalam ruang bawah tanah; dia sepertinya terlalu ketakutan untuk memasukinya. Kuakui, walau ia adalah pecinta alam dan memiliki semacam indra keenam, jiwa petualangnya masih lebih kecil daripada aku. Aku sangat suka dengan tempat yang mengundang rasa penasaran, seperti labirin atau gedung tua. Namun, anehnya, aku sedikit takut terhadap hal gaib dan takut tersesat di tempat umum. Sungguh, dunia sudah jungkir balik di hadapanku dan Shiori.

Sesudah aku dan Shiori masuk dan menuruni tangga, Kiku pun masuk dan menutup 'saluran air' yang kami masuki ini dari dalam. Setelah itu, kami pun berjalan terus menuju suatu lorong yang berkelok-kelok. Setelah sepuluh menit, kami pun sampai di depan pintu suatu ruangan; ruangan ini berada di pojok kanan lorong. Kiku pun membuka pintunya dan memperlihatkan tiga orang yang sudah duduk di sebuah kasur putih dan besar. Ada dua gadis dan seorang pria. Gadis pertama berambut coklat pendek seleher dengan gaya bob dan poni yang agak pendek; matanya berwarna coklat. Ia mengenakan kemeja putih berlengan pendek dan rok coklat, juga kaos kaki putih dan sepatu hitam. Sepertinya, aku kenal dengan gadis ini.

Gadis kedua berambut coklat sepinggang, dengan sebagian kecil rambut kirinya dikuncir tinggi dan diberi hiasan bunga besar berwarna magenta. Ia mengenakan seragam pelaut terusan berwarna merah dengan kain kerahnya yang hitam dengan garis-garis merah. Dan terakhir, ada seorang pria dengan rambut pirang rapi dan mata biru langit yang tajam. Ia mengenakan seragam militer hijau dengan lambang salib hitam aneh sebagai hiasan kancing kerahnya.

Aku yakin dengan sangat; mereka adalah Kotohira Youko, Tsugaru Rinko, dan Ludwig Beilschmidt.

"Sekarang Ludwig?!" seru Shiori. "Aduh...aku tidak tahan..." Ia memegang kepalanya, seakan ingin pingsan; untung saja hal itu tidak terjadi. "Apakah ini hanya mimpi? Bangunkan aku."

Aku hanya terdiam, namun ada satu yang pasti: ini bukan mimpi. Kami benar-benar terbawa ke dunia ini, bertemu dengan Kiku, Youko, Rinko, dan Ludwig. Ini mengerikan dan mengejutkan, namun juga menakjubkan dan menyenangkan.

"Doitsu-san, Youko, Rinko, kedua sekutu baru kita sudah datang," ucap Kiku. "Kashiwagi Sonota dan Umeda Shiori, nama mereka."

Ludwig pun berdiri dan menyentuh pundakku dan pundak Shiori. Katanya, "Baik, semua sudah berkumpul. Karena kalian sudah tahu banyak tentang kami, sepertinya kita tidak perlu berbasa-basi lagi. Duduklah di tempat yang kalian inginkan dan kita akan mulai pertemuan kecil ini."

Kiku dan Ludwig pun duduk di kasur yang sama dengan yang diduduki Youko dan Rinko. Karena Shiori masih terlihat lelah, aku membopongnya ke tempat kosong di antara Youko dan Rinko. Aku sendiri duduk di salah satu kursi yang ada di dekat meja belajar. Ketika aku melihat buku-buku yang ada di raknya, aku merasa bila ini adalah kamar bawah tanah milik salah satu personifikasi prefektur. Ketika aku mengambil salah satunya dan membuka-bukanya, ternyata buku itu adalah buku harian. Kalian tahu siapa pemiliknya?

Kanagawa, personifikasi prefektur paling ikemen sekaligus personifikasi prefektur berkelamin laki-laki yang paling populer nomor dua setelah Osaka.

"Honda, apa kau tidak sedang bercanda?" gumamku sedikit keras. "Ini kan kamarnya Kanagawa?"

Kiku menoleh, dan sedikit terkejut ketika melihat tanganku yang menunjukkan buku harian milik Kanagawa. "A-apa yang terjadi?"

Aku hanya menggerakkan kepalaku ke samping sambil mengernyitkan alis. Ada apa dengan reaksinya yang seperti itu?

"Kau tahu, Socchan," ucap Youko, "sebetulnya setiap kamar bawah tanah ini dilengkapi dengan sistem pengaman yang sangat canggih. Mereka tidak pernah tidur."

"Karena itu, walau kau tidak bisa melihatnya dengan mata telanjang, sebetulnya sistem pengaman itu ada dan sangat sensitif terhadap sesuatu yang menembusnya. Bila kau menembusnya dengan tanganmu atau bagian tubuhmu yang lain, otomatis sistem itu akan berbunyi dan segera mengirimkan peringatan, baik kepada kau atau ke pemilik sistem itu," sela Rinko. "Di kasus ini, pemilik sistemnya adalah dua orang: Kiku-san dan Kanagawa."

Kiku pun mengeluarkan telepon genggamnya: sebuah android hitam. Ia mengutak-atiknya dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. "Apa?! Bagaimana bisa sistem pengamanannya rusak parah?"

Aku sedikit kaget dengan seruan Kiku. Aku baru tahu, bila telepon milik Kiku tersambung dengan sistem pengamanan dan juga alat komunikasi milik setiap prefektur, baik bila itu adalah telepon rumah, telepon genggam, atau yang lain. Tebakanku, bila misalkan Kagawa menelepon Hokkaido dan terekam di telepon milik Kiku, maka bentuknya mungkin tulisan, seperti dialog pada skenario drama. Masalahnya kali ini adalah: aku hanya mengambil buku harian Kanagawa tanpa menyadari bila ada sistem pengaman di raknya dan ternyata sistem itu rusak begitu aku melakukannya; apa yang sedang terjadi?

Kiku pun menghela nafas pelan, lalu berkata, "Baiklah, kita akan uji kemampuan Sonota dan Shiori sebelum mereka menjadi pengguna sihir; kita akan melakukannya setelah ini, namun pertama..." Kiku memberikanku sebuah buku tanpa judul berwarna coklat kehijauan dengan bordir emas bernuansa klasik di keempat sudut buku tersebut. Buku tersebut sangat tebal; mungkin mencapai lima ratus halaman. Di sampul depan buku tersebut, terdapat bentuk salib, namun keempat 'batang'nya sama panjang; salib tersebut memiliki sebuah permata bundar berwarna biru. Sampulnya sangatlah keras dan kelilingnya melebihi lembar halaman buku itu sendiri. Perbedaannya mencapai lima senti meter. "Baca buku itu terlebih dahulu."

Aku pun membuka dan membaca buku tersebut. Walau dengan huruf alfabet dan ditulis dalam bahasa Inggris, aku masih bisa membacanya dengan jelas. Halaman pertama dari isi buku tersebut berisi:

Sesungguhnya, alam semesta ini tidak hanya memiliki satu dunia. Di Bumi yang kalian tempati ini, memiliki tiga dunia: dunia di mana kalian hidup, dunia para manusia; dunia di mana para makhluk mitos maupun legendaris tinggal, dunia gaib; dan dunia yang manusia buat sendiri, yang sulit diterjemahkan namanya.

Di antara ketiga dunia ini, dunia yang manusia buat sendiri adalah dunia yang paling menyenangkan, namun juga paling mengerikan. Dunia ini dibuat berdasarkan pikiran manusia berbakat, yang membuat sebuah karya secara matang, dan kemudian menuangkannya dalam bentuk ilustrasi, tulisan, maupun rekaman adegan. Mungkin kalian mengenalnya dengan sebutan komik atau manga; novel atau buku cerita; dan kartun, anime, atau film.

Di dunia tersebut, para tokoh yang manusia ciptakan hidup dan beraktivitas seperti kalian, namun mereka tidak bisa bertambah usia. Ini dikarenakan para manusia yang menciptakan mereka agar tidak menua, ataupun meninggal. Namun, mereka bisa saja meninggal bila mereka diserang oleh musuh mereka, seperti monster, makhluk lain, atau tokoh lain yang menginginkan mereka musnah. Namun, kemudian mereka hidup kembali, dengan kondisi yang sama seperti sebelum mereka meninggal.

Aku pun terdiam, dan membuka halaman berikutnya. Halaman tersebut berisi seperti ini:

Dunia yang manusia ciptakan sendiri itu berjalan dengan sangat cepat. Bila kalian bandingkan dengan dunia manusia, satu hari di dunia tersebut sama saja dengan dua belas menit di dunia kalian. Tidak ada teori maupun pernyataan yang bisa membuktikan alasan perbedaan waktu yang sangat mengerikan ini.

Dunia tersebut adalah tempat di mana potongan-potongan berisi tujuh dosa mematikan dan tujuh kebajikan suci tersebar. Potongan-potongan itu tersebar dan tertidur di dalam hati makhluk hidup, dan tidak akan terbangun sampai makhluk tersebut melakukan hal yang berkaitan dengan hal apa yang potongan tersebut bawa. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengambil dan kemudian menyegelnya.

Namun, tidak ada yang bisa menemukan potongan tersebut. Tidak hanya manusia, bahkan para 'manusia' di dunia ciptaan manusia pun tidak bisa menemukan potongan tersebut. Hal ini karena potongan tersebut tidak terlihat oleh siapapun, bahkan bila dilihat dengan menggunakan kekuatan supranatural terkuat sekalipun.

Halaman ketiga berisi:

Karena itu, para tokoh dunia ciptaan manusia memutuskan untuk membuka portal antara dimensi mereka dan dimensi manusia dan membuat sinyal untuk memanggil manusia yang nantinya akan mengumpulkan potongan-potongan itu kembali. Hanya dua orang terpilih yang nantinya akan dipanggil untuk menyegel potongan-potongan tersebut. Dan mereka disebut: "Sins Seal" atau juga "Virtues Seal". Panggilan tersebut bergantung pada siapa dan potongan apa yang mereka segel.

Para penyegel akan mencari potongan-potongan tersebut di dunia ciptaan manusia, dan membawa mereka kembali ke dunia manusia untuk kemudian disegel oleh orang-orang yang telah membina mereka selama mereka masih mendapat pendidikan di dunia mereka. Hanya dua tempat yang bisa menyegel potongan-potongan tersebut: Kawatsubaki dan Tokuyama.

Syarat untuk menjadi penyegel adalah sangat ketat. Mereka harus memiliki keyakinan kuat tentang bahwa dunia ketiga itu adalah nyata; mereka juga harus percaya bila 'tokoh' di dunia tersebut nyata. Antar penyegel pun harus memiliki paling tidak tiga kemiripan. Mereka pun harus lulus dari Tokuyama dan Kawatsubaki. Selain itu, bila mereka berasal dari Kawatsubaki, mereka harus memiliki paradox berbentuk wajik.

Syarat terakhir merupakan syarat tersulit sekaligus paling mustahil; hal itu karena hanya mereka: murid yang sangat mendedikasikan pendidikan mereka terhadap Kawatsubaki—orang yang bisa memiliki paradox tersebut. Paradox pun hanya terlihat oleh para guru dari Kawatsubaki.

Aku terdiam. Berarti, dunia ketiga memang ada; dan aku sedang berada di sini, bersama Shiori, pikirku. Ini pun berhubungan dengan aura dosa dan kebajikan yang aku dan Shiori rasakan waktu itu. Namun, ini aneh. Sehari di sini hanya menghabiskan dua belas menit di sana? Dan mengapa hanya Kawatsubaki dan Tokuyama yang bisa menyegel potongan itu? Apa wujud dari potongan itu? Bagaimana cara menyegelnya? Dan...apa itu paradox?

"Kau pasti bertanya-tanya tentang semua ini, bukan begitu?" kata Kiku. "Kau pasti akan paham dengan semua itu."

"Tapi, bagaimana dengan Shiori?"

"Youko dan Rinko sudah menjelaskannya," jawab Kiku, "lewat telepati. Kau pun akan bisa melakukannya."

Aku pun hanya mengangguk-angguk paham. "Apa bentuk potongannya?"

"Bentuknya seperti kaca, namun bentuknya seperti kristal yang tidak teratur; biasanya, bentuknya memanjang dan lancip," jelas Ludwig. "Potongan itu ada di dalam hati manusia, namun potongan dosa lebih aktif bergerak dan berubah. Bila manusia melakukan sesuatu yang termasuk Avaritia dan semacamnya itu, otomatis mereka akan keluar dan merasuki sesuatu, antara barang mati, binatang, atau tumbuhan; karena hal itu mereka sulit disegel. Kalau potongan kebajikan lebih pasif dan hanya bersembunyi di sekitar kita, karena itu mudah disegel." Ludwig menghela nafas sejenak. "Namun, potongan kebajikan itu pun juga ada di dalam hati kita; mereka hanya akan aktif bila kita mau mengakui dan menyegel dosa kita dengan...kebajikan itu sendiri."

"Lalu...mengapa hanya Kawatsubaki dan Tokuyama yang bisa?" tanya Shiori, setelah terdiam cukup lama.

"Kalian tahu bukan, kalau Kawatsubaki dan Tokuyama adalah sekolah bagi para penganut agama, terutama yang beragama Kristen dan Katholik?" ucap Youko. "Karena itu, hanya mereka yang bisa melakukan hal itu. Sebetulnya ada satu sekolah lagi, namanya Hatsubayashi; namun, itu tidak ada hubungannya dengan topik yang kita bicarakan di sini, karena legenda Hatsubayashi lain lagi."

"Lalu, paradox?" tanyaku.

Kiku terdiam beberapa saat, sepertinya ia terlihat kebingungan. Setelah itu, ia pun menghela nafas panjang. "Kalau hal itu, sebaiknya kalian tanyakan kepada guru kalian saja. Hanya mereka yang tahu," jawabnya.

"Kalau begitu, kita bisa pulang sekarang?" sahut Shiori.

"Setelah kalian menjalani tes dadakan untuk menguji kemampuan imun kalian terhadap sistem keamanan," ucap Ludwig dengan tegas.

Shiori pun terkulai lemas. Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri atas kejadian ini. Aduh, seandainya aku tidak mengambil buku harian anak ikemen sialan ini...apa dia tidak punya tempat lain untuk menyimpan buku harian, selain kamar bawah tanah?

.

.

.

Tes yang disajikan Kiku dan Ludwig cukup mudah. Kita hanya diharuskan untuk memasuki ruang bawah tanah milik salah satu personifikasi prefektur dan mengambil buku harian mereka, yang semuanya berada di rak buku masing-masing. Mendengar fakta ini, aku hanya bisa menghela nafas. Mereka ini, sepertinya MKKBTPKP—Masa Kecil Kurang Belajar Tentang Privasi, Kemungkinan, dan Prasangka.

Pertama, Shiori yang masuk. Ia memilih kamarnya Tokyo, karena ia ingin tahu: topik apa yang disembunyikan Tokyo di dalam buku hariannya. Tes berjalan mulus pada awalnya, namun ketika Shiori menembus sistem keamanan pada rak buku milik Tokyo, sistem pengamannya bereaksi dan sempat membuat kami kelabakan. Untung saja Kiku sempat mematikan sistem pengaman itu sebelum sinyalnya sampai di telepon genggam milik Tokyo; lantaran telepon genggam para prefektur pun dipasangi aplikasi yang bisa memantau sistem pengaman yang mereka pasang, walau mereka berada di tempat yang sangat jauh.

Setelah itu, giliranku. Aku sengaja memilih kamarnya Miyagi, lantaran aku ingin tahu apa topik yang ada di buku hariannya. Bukannya dia favoritku; aku hanya senang bila dia dipasangkan dengan Iwate. Sedikit memaksa? Mungkin iya. Namun, aku harus tahu, agar aku bisa membuktikan ke publik bila hal itu nyata atau tidak. Kalau tidak, maka tak mengapa, selama...akan kulanjutkan topik ini di lain waktu.

Aku pun memasuki kamar milik kapten Tohoku yang terkenal ini. Kamarnya bercat putih polos, sama seperti kamarnya Kanagawa dan Tokyo—sepertinya mereka tidak diperbolehkan untuk mengecat kamar masing-masing, entah karena apa. Aku pun mengambil buku hariannya, dan segera keluar dari kamar itu.

Kiku pun membuka teleponnya, untuk melihat aplikasi 'System Spy'—aplikasi pemantau sistem—miliknya. "Sistemnya rusak lagi, bahkan lebih parah."

Ups.

"Berarti sudah diputuskan," ucap Ludwig. "Pada Rinko dan Shiori, mereka bisa merusak sistem pemantau—seperti CCTV, namun tidak bisa merusak sistem sensor. Pada Youko, dia bisa merusak sistem sensor, namun tidak bisa menghancurkan sistem pemantau. Namun, Sonota..." Ia menghela nafasnya. "Kau adalah pengguna sihir paling berbahaya untuk sistem pengaman."

Aku sedikit kaget. Kalau ia berkata seperti itu, bisa jadi kamera pengawas yang dipasang di kamar Kanagawa maupun Miyagi rusak karena aku. Namun, bagaimana caranya sistem pengaman bisa rusak?

"Kalian tahu, ini karena pengaruh sihir kalian," ucap Kiku. "Sihir kalian memiliki beragam sifat, namun bila sihir itu tidak digunakan untuk menyegel potongan-potongan dosa dan kebajikan, lalu digabungkan dengan aura kalian, maka sifatnya merusak; kalian harus menggunakan Barrier Jacket atau mengaktifkan device kalian untuk mencegah hal itu terjadi. Sihir itu bisa merusak teknologi yang bersifat memantau, merusak, ataupun membantu yang jahat. Tingkat dan radius kerusakan itu tergantung dari sihir, aura, dan kekuatan psikis kalian. Di kasus ini, Sonota adalah yang terkuat."

Aku hanya tersenyum kecil, kaget sekaligus malu dengan pernyataan bila aku memiliki kekuatan yang paling besar untuk menghancurkan sistem keamanan yang ada di setiap sudut ruangan manapun. Seharusnya, hal ini menjadi sangat berguna bila aku harus memata-matai seseorang. Dan, aku turut lega karena Theta yang bentuknya bisa menipu orang; lantaran Theta Enforce itu sebetulnya bukan hanya tongkat pramuka semata.

"Kekuatan psikis?" gumam Shiori heran.

"Ya, kekuatan yang menggunakan kekuatan pikiran kalian," jelas Ludwig, "Youko memiliki berbagai jenis penglihatan—seperti penglihatan sinar X, penglihatan tembus pandang, dan seterusnya—dan prediksi masa depan jangka pendek. Rinko memiliki kekuatan memanipulasi pikiran seseorang dan memindahkan kekuatan dari satu tempat ke tempat lain, termasuk dari orang ke orang. Shiori memiliki kemampuan memanipulasi alam dan memindahkan beberapa objek sekaligus dari satu tempat ke tempat lain—termasuk dirinya sendiri. Terakhir namun bukan yang terburuk, Sonota bisa melakukan telekinesis dan teleportasi."

Ini paling gila. Aku bisa melakukan telekinesis dan teleportasi. Sungguh keren. Namun, aku menyadari sesuatu. "Tunggu, kalau begitu, Rinko dan Youko juga pengguna sihir?"

Rinko dan Youko tersenyum, "Tentu saja." Mereka pun mengeluarkan device mereka masing-masing. Youko memiliki sebuah kunci perak dengan berlian merak kecil sebagai hiasannya, sedangkan Rinko memiliki miniatur palu dengan gagang biru panjang. Device yang simpel, namun sepertinya menyimpan kekuatan yang sangat dahsyat.

"Namanya?" tanya Shiori.

"Punyaku Eta Imaginer," ucap Youko.

"Kalau punyaku, namanya Zeta Whirlwind," kata Rinko.

"Oh, dan satu lagi." Kiku memberikan dua buah kompas berwarna emas dengan hiasan berlian berukuran sedang dan berjumlah delapan biji yang melingkari tepi penutup kompas tersebut. Masing-masing berlian berwarna merah, kuning, hijau, biru muda, biru tua kenilaan, ungu, abu-abu, dan bening—sesuai arah jam dari atas. Di tengah-tengah delapan berlian tersebut, ada sebuah mutiara putih yang sedikit lebih besar daripada berlian-berlian tersebut. Kedua kompas tersebut masing-masing memiliki rantai berwarna emas. Namun, rantai itu tidak membentuk rantai untuk kalung; lalu, di ujung rantai tersebut, terdapat sebuah benda kecil emas yang bentuknya menyerupai pemompa berbentuk balon.

Aku pun mengambil dan membuka penutup salah satu kompas itu—satunya lagi kuberikan ke Shiori, dan aku melihat enam berlian yang mengelilingi satu berlian lain di atas dasar berwarna putih kekuningan. Melihat sesuai arah jam dari atas, masing-masing berlian berwarna biru, jingga, hijau, kuning, biru, dan merah. Berlian di tengah-tengahnya berwarna ungu, dan ada cermin di bagian bawah penutup kompas itu. Di tempat berlian-berlian itu, ada motif-motif emas yang mirip dengan ukiran klasik zaman Eropa Kuno.

"Ini apa?" tanya Shiori.

"Itu adalah Prominence Compass," ucap Kiku. "Itu akan sangat berguna untuk menyimpan potongan hasil segelan kalian dan juga Append System."

"Append System?"

"Sistem untuk menggabungkan kekuatan kalian dengan kekuatan personifikasi prefektur. Kalian akan tahu suatu saat nanti."

Setelah itu, Kiku mengatakan kalau buku hijau dan kedua kompas itu adalah milik kami; ia juga mengatakan kalau misalkan aku dan Shiori kembali lagi ke sini, kami harus bertemu lagi dengan Kiku, Youko, dan Rinko di ruang bawah tanah. Kiku pun memberikan instruksi tentang cara teleportasi kembali ke dunia pertama, yang ternyata sama caranya dengan cara yang aku dan Shiori lakukan ketika akan pergi ke dunia ini. Kami pun melakukannya sesuatu instruksi, kemudian kembali ke dunia asal kami.

.

.

.

Sesampainya di dunia asal kami—tepatnya di toilet putri SMP Kawatsubaki, Shiori berkata padaku, "Masa' misi seperti ini kita anggap bercanda? Kan kasihan."

"Makanya, kita minta klarifikasi ke guru-guru aja," jelasku. "Apalagi, kita masih harus mencari tahu paradox itu apa, persiapannya gimana, misi kita selain dosa-kebajikan itu apa; yah, pokoknya gitu deh."

Shiori mengangguk. "Tapi, apa mereka tahu?"

"Yakin sebiliun persen," kataku. "Mereka pasti tahu."

"Tapi," potong Shiori, "kita harus mulai dari siapa?"

Aku mulai berpikir lagi. Di SMP Kawatsubaki ini, kami memiliki sebanyak empat belas guru dan tujuh orang karyawan. Dalam kasus ini, yang mengetahui hanyalah guru-guru Kawatsubaki dan Tokuyama. Maka, kita tidak mungkin menanyakan hal ini pada para karyawan, karena aku berani bersumpah demi nama Tuhan Yang Maha Esa bila mereka tidak tahu apa-apa. Lalu, di antara keempat belas orang tersebut, ada setidaknya enam orang guru yang membuatku curiga.

Yang paling pertama adalah Tachibana Kana-sensei, guru Matematika untuk kelas 1, 2, dan 3; yang sekaligus merupakan wali kelas 1-2. Karena ia adalah yang paling tegas di antara guru lain—namun juga paling menyenangkan di antara guru lain, sedikit wajar bila aku menaruh rasa curiga terhadapnya. Lalu, ada Oda Mizuki-sensei, kepala SMP Kawatsubaki sekaligus guru Fisika kelas 1, 2, dan 3—aku curiga karena biasanya kepala sekolah paling tahu masalah serius semacam ini. Lalu, guru Geografi kami, Naoe Yuuto-sensei—yang sifat kalemnya membuat aku heran. Nomor empat adalah Tokugawa Akihiro-sensei, guru Matematika untuk kelas 2 dan 3—lantaran tahun lalu ia sempat menjabat sebagai kepala sekolah sebelum bergeser menjadi wakil pada tahun ini. Selanjutnya adalah Maeda Amane-sensei, satu-satunya guru Biologi sekolah, yang membuatku curiga tanpa alasan yang jelas. Dan orang terakhir yang membuatku curiga adalah Mori Kyouhei-sensei, guru paling senior di sekolah yang mengajarkan Bahasa Inggris untuk seluruh kelas.

Enam orang ini sudah membuatku curiga, apalagi guru lainnya!

Kami pun bubar dan kembali ke kelas masing-masing, karena masih banyak periode pelajaran yang menunggu. Sebelum kami meninggalkan toilet, Theta mengucapkan sesuatu:

"First stage of teleportation is complete. Two stages are remaining."

Di saat yang sama, Delta mengucapkan:

"First phase of teleportation is complete. Two phases are remaining."

...masih dua tahap lagi.

.

.

.

Sepulang sekolah, aku mendatangi dan duduk di sebelah Shiori yang juga sedang duduk di sebuah sofa panjang dekat laboratorium komputer. Kami terdiam lama, sebelum Shiori bertanya, "Jadi, kita mau apa?"

"Langsung straight to the target saja," ucapku, setelah berpikir lama. "Tachibana-sensei."

"HEH?! Serius?!" seru Shiori. "Ta-Tachibana-sensei kan—"

"Gak apa. Karena kalau ditunda-tunda, masalah ini gak akan selesai." Setelah melepaskan tas dari pundakku, aku langsung menarik lengan Shiori dan menuju ruang kelas 1-2, tempat Tachibana-sensei berada.

Selama Shiori kutarik, ia berkata, "Kamu pikir Tachibana-sensei tahu ini?"

"Kuharap."

Benar saja, kami menemukan Tachibana-sensei yang sedang memeriksa tugas milik murid-murid kelas 1-2 di meja guru kelasnya. Ia adalah orang dewasa berusia sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun yang berambut coklat tua sebahu dan bermata biru pucat. Ia mengenakan blus kotak-kotak berwarna coklat dan rok hitam, tidak lupa dengan kaos kaki putih pucat dan sepatu hitamnya.

Kami berjalan mendekati Tachibana-sensei dan menyapanya. "Ano...Sensei?"

"Oh," gumamnya terkejut. "Ah, kalian berdua. Ada apa?" tanyanya ramah.

Aku menunjukkan buku hijau yang tadi diberikan Kiku di depan dadaku dan memberikannya pada Tachibana-sensei, "Buku ini...berkaitan dengan kami berdua...sekolah ini dan Tokuyama...juga..."

"Dunia ketiga, Tokuyama, dan paradox," lanjut Shiori.

Tachibana-sensei mengambil dan membuka-buka buku tersebut, kemudian mengernyitkan alisnya. "Ini...kalian punya apa selain ini?" tanyanya sambil melirik kami.

Shiori menunjukkan kartu besinya yang bernama Delta Assault, juga kompas emas miliknya. Aku pun menunjukkan Theta Enforce dan menaruhnya di meja guru Matematika kami, lalu memberikan Prominence Compass pada guru Matematika kami. "Semua ini," gumamku.

Tachibana-sensei mulai 'merazia' isi barang-barang tersebut dengan serius. Ia membuka-buka isi buku hijau pemberian Kiku, melihat dan meneliti Theta dan Delta dengan seksama—membuat kami harus menaruhnya di meja guru, dan membuka isi setiap kompas tersebut. Akhirnya, setelah ia menaruh kompas yang kedua, ia berkata, "Kompas ini untuk satu orang per unitnya. Satu untuk Sonota, satu untuk Shiori. Buku hijau ini mengenai sejarah dosa dan kebajikan, beserta Append System dan device kalian..." gumamnya dengan sedikit kencang, kemudian melirik kami sekali lagi. "Di mana kalian menemukannya?"

"Hampir semua barang ini saya yang temukan. Theta dan Delta ditemukan di toilet putri, di toilet nomor dua dari wastafel. Buku dan kompas itu diberikan Honda Kiku, ketika kami tidak sengaja berkunjung ke dunia ketiga."

Tachibana-sensei menatap kami dengan serius. "Berarti memang benar kalian orangnya."

Aku terpaku di tempat, sedangkan Shiori menggumam, "Kami orangnya?"

"Ikuti saya," kata sang guru sambil berdiri dan keluar dari kelas 1-2. Tanpa banyak bicara, kami pun mengikutinya—setelah aku dan Shiori membereskan alat-alat yang dirazia Tachibana-sensei tadi.

Ternyata, Tachibana-sensei membawa kami ke ruang guru, dan menyuruh kami untuk duduk di sofa yang telah disediakan di tengah-tengah meja-meja guru yang membentuk huruf U. Tachibana-sensei mengaktifkan mikrofon yang ada di samping pintu ruang guru, dan mengucapkan pengumuman yang cukup untuk membuat kami kaget. "Perhatian untuk seluruh guru yang berada di luar, mohon masuk ke kantor guru sekarang. Sekali lagi, perhatian untuk seluruh guru yang berada di luar, mohon masuk ke kantor guru sekarang. Terima kasih." Ia pun mematikan mikrofon dan berkata pada kami, "Waktu kalian hanya hari ini. Kita harus sigap, sebelum semua terlambat."

"Tapi, Sensei," sergahku, "kami baru menyelesaikan satu tahap!"

"Tenang," kata Tachibana-sensei, "tahap kedua nanti, kalian akan segera bertemu dengan mereka."

"Sensei," sahut Shiori, "bagaimana Anda bisa tahu soal ini?"

Tachibana-sensei tersenyum. "Itu adalah legenda yang setiap guru harus tahu, Nak. Guru dari Tokuyama pun pasti tahu soal ini."

.

.

.

Hanya dari dua device ini saja, kami sudah mendapat perhatian dari seluruh guru SMP Kawatsubaki.

Semua guru SMP Kawatsubaki—totalnya empat belas orang—telah duduk di belakang meja guru masing-masing, kecuali Tachibana-sensei dan Oda-sensei yang sedang berbicara di luar kantor. Aku dan Shiori sendiri tetap duduk di tempat, dengan perasaan campur aduk—antara gugup, takut, heran, dan lainnya. Kami siap diinterogasi setiap guru mengenai persoalan ini, walau Tachibana-sensei sudah memberitahu bila seluruh guru sudah tahu persoalan ini.

Tachibana-sensei dan Oda-sensei pun masuk ke dalam ruangan guru, kemudian menutup pintu kantor. Oda-sensei duduk di tempatnya, sedangkan Tachibana-sensei berjalan ke dekat kami, lalu ia berkata, "Hari ini, ramalan telah terbukti. Kedua murid kita ini sudah mulai membuka portal dunia kita dan dunia ketiga."

Satu...

Dua...

Tiga...

"NEE, NAN DESU TTE?!"

Salah satu guru kami—Akechi Youji-sensei, pria berambut pirang pucat cepak dan bermata ungu tua yang merupakan guru Bahasa Inggris untuk kelas 2 dan 3—terjatuh dari kursinya. Ia pun memegang pinggangnya sambil meringis kesakitan. "Aduh...apa barusan? Portalnya sudah dibuka? Kapan? Di mana?"

Oke, ini sungguh out of character untuk Akechi-sensei. Tapi, sudahlah.

"Di toilet, setelah kami menemukan device ini, tiba-tiba mereka aktif sendiri," sahut Shiori, sebelum Tachibana-sensei sempat menanyakan apa-apa. "Dan portalnya kebuka...untuk tahap pertama."

"Berarti, masih dua tahap lagi, kan?" sahut Tokugawa-sensei.

Tachibana-sensei mengangguk. "Waktunya tinggal hari ini, karena itu kita langsung mulai saja ke bagian yang belum dibahas. Shiori dan Sonota, buku hijau itu...kalian sudah baca tiga halaman pertama itu?"

Aku dan Shiori mengangguk. "Sudah."

"Berarti, kita hanya perlu menjelaskannya. Hanya mengenai paradox." Tachibana-sensei duduk di kursinya dan berkata, "Apa ada beberapa dari kita yang telah melihat paradox anak-anak ini?"

"Saya," kata Naoe-sensei sambil mengangkat tangannya. "Waktu sekolah kita mempromosikan SMP Kawatsubaki ke SD Tokuyama dan saya melihat murid-muridnya, di mata mereka terlihat paradox wajik. Itu sangat langka dan sulit ditemukan."

"Langka?" sahut Shiori.

"Paradox adalah kekuatan belajar para murid SMP Kawatsubaki," ucap Maeda-sensei. "Paradox muncul ketika para murid bersedia belajar dan merasakan aura dari Kawatsubaki yang tidak diketahui sensasinya."

"Paradox memiliki bentuk yang berbeda-beda, tergantung seberapa besar dedikasi murid tersebut pada sekolah ini," lanjut Oda-sensei. "Betuk tersebut ada tujuh, yaitu lingkaran, belah ketupat, segitiga bertumpuk dua, segi lima, segi enam, bintang bersudut lima, dan wajik. Urutan itu dilihat berdasarkan tingkat kelangkaannya. Wajik adalah yang paling langka."

"Tunggu, memang paradox itu di mana?" umbarku heran.

"Di mata kalian," jawab Mori-sensei dengan singkat.

Aku dan Shiori hanya bisa mengangakan mulut. Di mata kami, ada paradox. Seperti A***048. Bedanya, yang ini bentuknya macam-macam. Dan kami mendapat yang paling langka. Wajik.

Oh, my God.

"Sebaiknya, kalian segera pulang, lalu mempersiapkan semuanya. Kalian akan tinggal di sana selama tiga tahun, karena itu persiapkan semua dengan baik. Pukul setengah sebelas malam, berkumpullah di sini; kalian akan berangkat ke sana," jelas Tachibana-sensei.

Siiing...

"Tte, heee?! Tiga tahun?!" seru Shiori. "Tiga tahun bagaimana?!"

"Sabar, sabar...maksud saya tiga tahun di dunia sana," jelas Tachibana-sensei menenangkan. "Sekarang begini, tiga tahun di sana sama dengan berapa hari di sini?"

Aku pun mulai berpikir sambil menggumamkannya, "Kalau satu hari di sana sama dengan dua belas menit di sini, maka satu jam sama dengan lima hari...kalau dikali dua puluh empat jam...sekitar seratus dua puluh hari di sana, atau sama dengan sekitar empat bulan. Kalau dikali tiga menjadi tiga ratus enam puluh hari..." Aku pun berpikir lagi. "...sekitar sembilan atau sepuluh hari."

"Tepat. Sembilan hari lebih tiga jam, tepatnya," ucap Tachibana-sensei.

"Lalu, kami harus bicara apa ke orang tua?" ucap Shiori.

"Katakan kalau kalian ada tugas menjaga pameran di Hokkaido."

Kebohongan yang masuk akal, dengan perhitungan yang rasional.

Namun, dengan jangka tiga tahun di dunia ketiga?

Mengerikan.

.

.

.

Pukul setengah sebelas malam, aku dan Shiori berkumpul di aula SMP Kawatsubaki. Sesuai dengan apa yang disarankan Tachibana-sensei, aku berkata kepada keluargaku bila aku menjaga pameran di Hokkaido. Mereka kaget dengan hal itu, karena terlihat mendadak. Namun, setelah aku berkata bila tidak ada biaya yang dikeluarkan pihak murid, mereka pun menyerah dan membantuku mempersiapkan semua barang yang kuperlukan. Dan aku diantarkan ayahku ke sekolah ini. Shiori datang di saat yang hampir bersamaan denganku.

Namun, ada satu hal yang membuat kami terkejut: tidak hanya guru-guru Yayasan Kawatsubaki dan Toddler-SD Tokuyama yang datang ke sini.

Semua murid SMP dan SMA Kawatsubaki dan Tokuyama, juga murid kelas 5 dan 6 SD Kawatsubaki dan Tokuyama berkumpul di aula bersama para guru. Mereka terlihat terpana dengan kedatanganku dan Shiori. Aku dan Shiori mulai merasa canggung, kaget, sekaligus heran: mengapa mereka datang ke sini?

"Akhirnya kalian datang juga," ucap Oda-sensei. "Saya sudah menjelaskan semuanya kepada teman-teman kalian, dan mereka akan membantu kalian mencari potongan-potongan yang ada di seluruh Prefektur Hyogo ini. Karena itu, kalian harus berusaha keras di dunia ketiga sana."

Walau kaget dan heran, aku dan Shiori sedikit terharu dengan semua yang telah mereka lakukan. Ketika mendengar tentang kami menjadi pengguna sihir, ternyata mereka sudah langsung memberitahu teman-teman—baik dari Kawatsubaki maupun Tokuyama—tentang hal itu, dan berpesan agar berkumpul di sini setengah jam sebelum kami datang, untuk menyaksikan kami untuk terakhir kalinya, sebelum sembilan hari meninggalkan dunia pertama.

Oda-sensei pun memandangi teman-teman, lalu berkata di depan mikrofonnya, "Anak-anak dari Kawatsubaki maupun Tokuyama, sembilan hari ini, kalian akan diberi nama 'Aliansi Tokutsubaki'. Ini untuk membantu kedua teman kita yang sedang dalam misi di dunia fantasi; mereka adalah Umeda Shiori dan Kashiwagi Sonota. Walau sembilan hari adalah waktu yang singkat, kalian harus berusaha keras. Kalian harus mencari potongan dosa ataupun kebajikan yang ada di Hyogo yang luas ini. Kalian harus bisa bekerja sama dengan baik, agar bisa memberikan hasil yang memuaskan!" Oda-sensei pun menoleh kepadaku. "Apa kalian ada sedikit 'promosi' tentang dunia fantasi?"

Sebelum kami sempat berkata apapun, tiba-tiba Maeda-sensei memberikan kami sebuah kotak besar berwarna coklat. "Itu surat-surat dari semua anak di sini untuk para karakter di dimensi ketiga." Ia pun memberikan satu kotak yang sama lagi. "Dan ini pesan dari teman-teman untuk kalian; ini bisa disebut sebagai 'misi tambahan'." Guru Biologi dan Kimia satu SMP Kawatsubaki ini memberikan dua kotak yang sama lagi, namun yang satu diberi tali merah, yang satunya lagi diberi tali biru. "Ini surat dari teman-teman dari kelas masing-masing untuk kalian; warna merah untuk Shiori, dan warna biru untuk Sonota." Maeda-sensei memberikan satu barang lagi, yaitu secarik surat yang dibungkus amplop putih. "Ini tugas dari kami untuk kalian selama tiga tahun di sana. Tidak adil bila kalian tidak memiliki tugas sekolah di sana. Kami pun tidak yakin bila kalian akan bersekolah di sana atau tidak. Dan satu lagi: jaga diri baik-baik."

"Baik!" jawabku dan Shiori bersamaan.

"Dan, sebelum kita melihat kedua teman kita pergi dari dunia ini untuk sembilan hari, mari kita beri tepuk tangan untuk teman kita ini!" ucap Oda-sensei di depan mikrofonnya. Suara tepuk tangan kawan-kawan pun terdengar, membuat kami semakin malu, terharu, namun juga bangga. Setelah tepukan tangan mereka berhenti dengan pelan, Oda-sensei berkata kepada kami, "Sekarang saatnya."

Sebelum kami betul-betul melakukan ritual itu, aku meminjam mikrofon yang digunakan Oda-sensei, lalu berkata di depan benda berbatang hitam itu, "Teman-teman! Berjuang, ya! Kami tidak akan melupakan kalian!"

Shiori pun merebut mikrofon dari tanganku, lalu berseru, "Kalau kalian yang melupakan kami, akan kami bantai—ups, kami hukum, deh! Iya kan, Sonota?"

Sumpah Shiori itu pun mengundang gelak tawa dari para teman kami, khususnya teman-teman sekelas kami. Tanpa bicara, aku mengambil mikrofon itu, lalu berkata, "Kami pasti balas suratnya! Kami juga akan menjalankan tantangan dari kalian!"

Dalam satu sinkronisitas, aku dan Shiori berucap:

"Kami akan berjuang untuk Tokutsubaki!"

Kami pun mengangkat Theta dan Delta setinggi kemampuan tangan kanan kami, lalu berseru bersamaan, "Bawalah kami ke tempat ketika pertama kali takdir kami dimulai!"

Lingkaran sihir pun muncul dari bawah kami, kemudian Theta dan Delta berucap:

"Inter-dimensional Teleportation."

Sebelum cahaya putih menghisap kami, aku melihat teman-teman sekelasku untuk terakhir kalinya, sebelum aku dan Shiori dikarantina untuk tiga tahun. Ada yang terlihat sedih, ada yang menangis, ada yang terlihat biasa saja, ada yang kelelahan—lantaran ritual ini dilakukan malam-malam, ada pula yang terlihat serius—seperti ingin mendukungku untuk terus berjuang. Bahkan, ada yang melambaikan tangan kepadaku dan Shiori. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman penuh arti. Aku akhirnya mengirimkan telepati kepada mereka; walau aku tidak yakin bila mereka akan menangkap telepatiku, aku tetap berbatin kepada mereka,

Aku akan berjuang; kalian pun pasti bisa.

Dan, cahaya putih itu menghisap kami, mengirimkan kami menuju ke dunia fantasi: dunia di mana segala yang diharapkan manusia ada di sana. Kami merasa senang bisa kemabli bertemu dengan mereka. Namun...hanya satu yang kami sesalkan.

Rasa duka mereka ketika mengetahui bila kami harus melewati tantangan tiga tahun ini.

.

.

.

To the Next Time...

.

.

.

.

.


Akhirnya, setelah empat bulan, Yuka pun bisa merilis cerita terbaru dari TF-ZD.

Untuk yang masih bingung mengapa judulnya diberi nama seperti ini, biar Yuka jelaskan. 'Tokutsubaki' adalah gabungan dari nama Tokuyama dan Kawatsubaki, sekolah di mana Sonota dan Shiori menuntut ilmu (Tokuyama ketika SD dan Kawatsubaki ketika SMP). 'Fantasy' maksudnya: misi Sonota dan Shiori mengharuskan mereka untuk pergi ke dunia ketiga, di mana orang dunia pertama menyebutnya sebagai dunia fantasi. Sedangkan, untuk 'Zwei Date', lihat kata-kata berikut:

a. Zeta Whirlwind (device milik Rinko Tsugaru, pengguna sihir yang debut di urutan keempat)
b. Eta Imaginer (device milik Youko Kotohira, pengguna sihir yang debut di urutan ketiga)
c. Delta Assault (device milik Shiori Umeda, pengguna sihir yang debut di urutan kedua)
d. Theta Enforce (device milik Sonota Kashiwagi, pengguna sihir yang debut di urutan pertama)

Apa kalian paham dengan maksudnya?

Karena harus menyeimbangkan antara dunia prefektur dengan dunia Kitayume dan dunia Hetalia, maka Yuka memunculkan karakter lama di seri ini. Honda Kiku (Japan) dan Ludwig Belschmidt (Germany) dari Hetalia, juga Youko Kotohira dan Rinko Tsugaru dari Kitayume. Apakah kalian sudah sedikit puas? Karena di sini menggunakan sudut pandang Sonota, kebanyakan ceritanya pun berhubungan kuat dengan prefektur dan Kitayume. Namun, bila kalian pindah ke sudut pandang Shiori, kalian akan senang sendiri! Namun, di seri ini menggunakan sudut pandang Sonota dan personifikasi prefektur, karena itu...maafkan Yuka. Namun, Yuka janji akan sebisa mungkin memunculkan sudut pandang Shiori dan personifikasi negara!

Terima kasih untuk Hanny/Velyura yang mau mengomentari fan-fiksi milik Yuka. Balasan untuk kalian adalah: Sebetulnya, nama teman Sonota adalah Shiori Umeda, dan dia juga memegang peran yang penting, lho! Akan Yuka beritahu lain waktu. Entah review kalian bermutu atau tidak, Yuka sangat berterima kasih!

Oh, juga maafkan typography yang Yuka buat! Yuka benar-benar bingung pada saat membuatnya!

Yukari Wada, pamit!