Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Locked out of Heaven song by Bruno Mars (recommended song)
My story by mine
Warning : AU. Alur lambat (I've warned you). Kata-kata yang terlalu bertele-tele. Typo(s?) dimana-mana.
Enjoy
Bagian tiga : Sedari Dulu
Dari awal, aku mencintaimu.
"Hei, jangan nangis lagi dong."
"Liat mereka uda pergi. Jangan nangis lagi ya?"
"Kata mama kalo orang lagi nangis emang harus dipeluk. Sini dipeluk lagi."
"Oh yah, namaku Namikaze Naruto. Namamu?"
Menggunung, membukit. Banyak alasan buatku untuk menyukaimu.
"Aku janji kita bakal main sama-sama lagi kalo aku uda balik ke Jepang. Kamu tungguin aku ya?"
"Hinata-chan? Kok nangis sih? Aduh, jangan nangis lagi dong, kita kan uda gede!"
"Oke, janji seumur hidup Namikaze Naruto ; kita bakal main sama-sama lagi kalo uda gede. Artinya, aku pasti pulang, Hinata-chan. Jadi, Hinata-chan maukan nungguin Naruto sampe pulang nanti?"
Menunggu, meradang, merana. Cinta ini utuh. Cinta ini satu. Tapi, akhirnya kusadar. Tak pernah kata cinta mengoles ingatanmu tentang diriku.
" Oh, jadi kamu yang bakal jadi istriku."
" Aku bosan Hinata. Bisakah, walau sedetik, kamu menghilang dari pandanganku? Aku bosan dengan cerocosanmu yang membicarakan, dulu kita begini loh Naruto-kun. Oh, dan aku mual dengan kegagapan buat-buatanmu itu."
" Saya, Namikaze Naruto, menerima Hyuuga Hinata sebagai pasangan hidup saya, dalam suka dan duka, dalam kekurangan dan berkelebihan, sampai maut memisahkan raga kami."
"Walau sudah sah menjadi suami istri, kuharap kita tidak saling mengganggu privasi serta kenyamanan masing-masing."
Kau berubah. Beribu alasan berkurang untuk menyukaimu.
Tapi, aku tetap mencinta. Karena tak ada alasan bagiku untuk mencintaimu. Mencintaimu, sedari dulu, seakan menjadi nafas bagiku untuk terus hidup.
" Hinata, cukup. Aku muak dengan segala tingkah laku sok pedulimu. Urus kehidupanmu sendiri."
"Jangan pernah sediakan lagi makanan buatku. Bukankah sudah aku katakan kalau aku MALAS makan di rumah. Kamu lupa atau sengaja ingin menghambur-hamburkan makanan? Masih banyak yang butuh di luar sana!"
" Kalau kamu sakit lagi, aku gak akan bisa ngurus kamu. Ketiduran di luar sedangkan ada kamar sehangat ini di rumah, memangnya apa sih yang ada di otakmu itu. Eh, jangan nunduk. Kalo kamu sekali lagi nungguin aku sampai sakit kayak kemaren, aku.. Aku bakal hubungin kamu kalo pulang telat."
" Aku pulang. Em, ano.. makan malam sudah siap?"
"Enak! Eh, maksudku.. Etoo.."
Cinta. Cinta. Aku cinta kamu. Apakah terlampau bosan kata ini terucap hingga kamu kembali menyakitiku?
" Besok kamu mau pergi? Apa? Ke rumah utama Hyuuga? Jangan! Seharian besok kamu harus sama aku! Karena, er.. itu hari spesialmu kan?"
"Halo? Malam ini aku menginap di rumah teman. Mmh, besok pagi langsung aja berangkat ke vila yang dulu pernah kutunjukkan. Iya, yang di kaki bukit itu. Oke, pokoknya kamu harus uda di sana sebelum sore ya? Bisa sendiri kan? Soalnya aku ada kerjaan dulu."
" Mmh.. Hinata? HINATA!? Tunggu! Hinata biar kujelaskan dulu! Hinata!"
Harusnya, sedari awal aku sadar. Bibit cinta tak akan bisa tumbuh di hatimu. Aku yang salah. Aku terlalu egois untuk melepaskan ikatan ini. Berharap suatu saat cinta berbunga di hatimu. Dan ternyata aku salah. Sakit ini nyata. Sakit ini meremukkanku.
Tanpaku, mungkin kau bahagia.
Tanpaku, senyum tersungging di bibirmu.
Tanpamu, mungkin aku kaku kehilangan nafas.
Tanpamu, tak pernah ada aku.
.
.
.
Malam itu hujan salju turun. Begitu deras membutakan arah sepasang manusia berbeda gender yang mengendarai mobil sedan berwarna metalik. Mobil tersebut tersendat jalannya, terhalang salju yang menggunung menutup jalan. Kemudian perlahan mobil tersebut melambat kemudian berhenti di tempat tujuan. Di hadapan mobil tersebut berdiri megah satu jajar gerbang besi tinggi dengan ukiran melingkar artistik pada setiap teralis hitamnya. Terlihat angkuh dengan ukiran yang menyerupai tombak di bagian atasnya, seakan menhalangi setiap orang yang ingin melangkah lebih jauh ke dalam. Walau terlihat megah, tak dapat dipungkiri bahwa gerbang itu sudah kehilangan umurnya. Lihat saja noda karat membayangi sudut-sudut bawah lempengan besi gerbang tersebut. Begitu juga tanaman rambat yang melingkar erat teralis hitam. Dan jangan lupakan tumpukan salju yang menumpuk tepat di depan gerbang tersebut. Sangat tidak terawat, adalah kalimat yang dapat menggambarkan keadaan tempat itu.
Pria yang memegang setir mobil hanya menghela napas pasrah menatap keadaan yang tak menguntungkan didepannya. Melirik pada sosok wanita yang duduk manis di sebelahnya, Naruto seakan beruntung mengajak sahabat karibnya itu menemaninya menjalankan misi kejutan bagi kekasih tercintanya.
" Sepertinya dari sini kita harus jalan." Mengambil keputusan sesaat setelah tediam berpikir, Naruto mengajak wanita bemarga Haruno itu untuk berjalan keluar dari kehangatan yang disediakan penghangat mobil. Sesaat setelah membuka pintu, angin kencang mencium kulit Sakura yang tak tertutupi kain.
Salahkan otak udang Naruto yang tiba-tiba menculik Sakura dari apartemennya yang hangat tanpa menyebutkan satupun alasan yang masuk akal baginya untuk pergi keluar menantang hujan salju di luar sana. Walau sempat terjadi tarik-menarik antara Sakura yang keukeuh ingin di apartemennya dan Naruto yang juga keukeuh untuk mengajaknya bunuh diri dengan menerjang hujan salju (yang mau tak mau harus berakhir dengan konyolnya, karena mereka akhirnya menjadi tontonan seluruh penghuni lantai tersebut. Oh, terima kasih banyak, Naruto), akhirnya Sakura harus rela berakhir terduduk bersebelahan bersama Naruto, dalam mobilnya yang hangat, tanpa memakai satupun pelindung badan untuk menghadapi cuaca seekstrim ini. Kesalahan kedua dengan membiarkan Naruto menarik lengan Sakura sesaat setelah menekan bel apartemennya, tanpa melihat kondisi bahwa sang korban yang ditarik hanya memakai blouse merah muda dipadu rok hitam selutut dan hanya sempat mengambil mantel abu yang tergantung dekat pintu. Sakura bahkan tidak ingat apakah dia sempat mengunci pintu apartemennya. Oh, apakah Naruto tidak melihat bahwa aku baru saja pulang kerja? Dengus Sakura dalam hati. Dan sekarang hanya pakaian kerja ini yang membungkus badanku dalam cuaca seekstrim ini? Jangan bercanda!
Barulah saat di perjalanan sang Namikaze muda itu menjelaskan maksud dari penculikan ini. Mulanya, dia terlihat malu-malu, terbukti dari pipinya yang terus saja merona dan kata-kata yang terlontar terlampau cepat. Dia juga terlihat menghindari tatapan penuh tanya dari zamrud sahabatnya. Hingga terbitlah selengkung senyum penuh arti milik Sakura yang menebak dengan jelas gelagat mencurigakan pria pirang di depannya ini. Walau sebenarnya Sakura cukup repot untuk memahami kata demi kata yang meluncur cepat melewati bibir Naruto, namun sekali lagi, terima kasih pada pekerjaannya sebagai dokter yang membuatnya cepat tanggap dalam situasi apapun. Yah, seperti saat ini. Saat dia mengerti bahwa Namikaze Naruto menculiknya malam ini hanya untuk menemaninya mempersiapkan kejutan bagi ulang tahun Namikaze Hinata, istrinya.
"Oh, aku baru tahu bahwa dalam otak udangmu itu tersimpan keromantisan ala pujangga-pujangga cinta." Terkikik kecil saat melihat kembali bias merah muda tercipta di kedua pipi coklat Naruto, Sakura tak tahan untuk kembali menggoda.
"Wow, seorang pecinta yang sedang dimabuk romansa. Apakah aku harus mengabadikan momen ini? Sekedar hadiah kecil bagi Hi-na-ta-chan~"
"Oh, diamlah, Sakura-chan. Aku sedang fokus ke depan nih." nyata-nyatanya, Naruto tak mampu menahan senyum kecilnya saat Sakura mulai mengeluarkan segala jurus ejekannya tentang betapa konyolnya Naruto yang sedang dimabuk asmara, atau tentang Naruto yang kebodohannya meningkat 1000 persen karena terlalu terfokus pada istri tercintanya.
"Dan kemudian, Hinatapun kehilangan rasa cintanya padamu akibat tingkat kebodohanmu yang meningkat drastis. Atau mungkin dia akhirnya meninggalkanmu karena takut anak-anaknya menuruni gen darimu? Hahaha.." Sakura tertawa keras mendengar leluconnya sendiri. Seorang Hyuuga Hinata tidak mencintai Namikaze Naruto? Oh, hanya dalam mimpi terdepresi para pembenci pasangan Naruto dan Hinata sepertinya. Mengusap cairan bening yang menggumpal di sudut matanya, Sakura semakin bernafsu saat melihat Naruto yang hanya terdiam mematung. Ow, termakan bualanku ternyata, cengir Sakura dalam hati, "Lalu.."
"Dia mencintaiku." Potong Naruto sambil tetap fokus menatap jalan beraspal yang tertutupi salju putih.
"Dia mencintaiku." Ulang Naruto. Pengangannya pada setir mobil semakin mengerat. Mempertegas apa yang sedang dia ucapkan. Matanya datar, tanpa emosi, menatap putih di jalan.
Entah kepada Sakura kah? Tapi itu terlihat seperti Naruto berkata pada dirinya sendiri. Padahal Sakura yakin bahwa Naruto tahu apa yang diucapkannya tadi hanyalah ejekan dan tidak ada maksud menyinggung sama sekali. Melihat perubahan sorot mata sahabat jingganya, mau tak mau Sakura kembali teringat curahan hati sang sahabat akhir-akhir ini. Tentang dia yang menyesal menyakiti Hinata. Tentang dia takut karma yang akan mendatanginya.
Tentang, Namikaze Naruto yang menyadari bahwa dirinya mulai menyimpan cinta pada istrinya.
"Ya, dia mencintaimu, Naruto." Menggenggam erat tangan Naruto yang terkepal di lingkaran coklat setir mobil, Sakura menambahkan, " Dulu, sekarang dan selamanya."
Kemudian, mereka tersenyum. 2 pasang mata mereka saling bertatap dalam keterbatasan cahaya yang disediakan mobil. Memberi kehangatan pada hati Naruto yang meragu. Betapa beruntungnya Naruto memiliki sahabat seperti Sakura.
.
.
.
"Sial, d-dingin sekal-li.." gemeletuk gigi yang saling beradu menggema dalam ruang bercat gading tersebut. Tetesan air yang berjatuhan dari rambut pirangnya tak dihiraukannya ketika dia melirik sahabat merah jambunya yang sedari tadi terdiam. Sesaat tadi mereka, lebih tepatnya hanya Naruto, berjuang membuka pintu gerbang berkarat dan dibutuhkan energi yang tidak sedikit untuk membukanya. Setelah itu Naruto dan Sakura harus berjalan kaki sekitar 9 meter lagi. Melewati taman bunga milik Uzumaki Kushina, kolam ikan milik Jiraiya- jiisan, dan lapang mini golf milik Namikaze Minato. Well, selamat datang di vila keluarga besar Namikaze. Dan jangan lupakan butiran salju yang begitu setia membayangi langkah menggigil mereka. Membuat Naruto bersumpah akan merenovasi pagar berkarat itu dan memindahkannya tepat di depan pintu masuk vila tersebut. Secepatnya, geram Naruto dalam hati.
Setelah mereka memasuki vila tersebut, Sakura dengan sigap segera menyalakan tungku perapian di ruang tengah. Naruto tanpa pikir panjang segera masuk dalam kamar yang biasa di tempatinya, mencari baju ganti bagi dirinya dan Sakura. Untung saja Hinata meninggalkan baju ganti pada saat bulan madu mereka kemarin. Keh, bulan madu, ejek Naruto dalam hati. Menggeram sesaat begitu ingat betapa kurang ajarnya dia setelah malam penyatuan mereka di kamar itu. Pagi hari yang harusnya romantis malah dirusak dengan kepergian Naruto yang berdalih ada urusan pekerjaan, meninggalkan Hinatanya terbaring sepi disana. Diranjang bernoda merah.
Memasuki ruang tamu, Naruto melihat Sakura menatap kosong ke dalam api perapian yang menguarkan hawa hangat. Mantelnya telah kuyub, sama halnya dengan blouse serta rok span di baliknya. Dalam genggamannya terdapat perangkat elektronik seluler yang berkedip-kedip dan tas tangan kecil yang sudah terbuka. Tas tangannya pun sudah basah, walau begitu Sakura sepertinya masih sempat menyelamatkan telepon genggamnya dari bahaya kebasahan, pikir Naruto dalam hati.
"Hanya ada terusan ini dalam lemari. Ini milik Hinata-chan. Sepertinya pas denganmu." Suara serak Naruto mengagetkan alam bawah sadar Sakura yang sedang melanglangbuana. Secara canggung Sakura membalikkan badannya menghadap Naruto. Wajahnya mengulas senyum terpaksa yang ditujukan untuk Naruto.
"Y-ya, sepertinya akan muat. Terima kasih, Naruto." Zamrud Sakura menatap sayu pada Naruto yang terdiam, mencerna keanehan yang terjadi pada sahabat wanitanya itu. Serasa ada yang mengganjal dalam setiap ekspresi yang dibuat si wanita berambut merah pudar ini. Tanpa sadar Naruto menarik erat lengan kanan Sakura yang melangkah melewatinya. Menatap seksama setiap garis wajah feminim yang tersirat dihadapannya. Oh, salahkan ketidak pekaannya dalam mengobservasi hal-hal kecil, bahkan Naruto masih dibuat bingung dengan keadaan Sakura yang menggigil pelan dihadapannya.
"N-naruto, ada apa? " napas Sakura memberat, seiring dengan memucatnya wajah Sakura yang biasanya merona. Melepas lebih dahulu sarung tangan basah di tangan kirinya yang berwarna ungu,dengan sigap Naruto menyentuh kening lebar Sakura dengan punggung tangannya dan terlonjak begitu menyadari panas merambati punggung tangannya.
"Kau sakit."
Sakura memucat. Tak dapat berpikir jernih dalam kondisi terburuknya. Salahkah? Salahkah dia bila harus berakhir seperti itu?
Api yang mendesis kecil dalam perapian di tengah ruangan menguraikan hangat ketika Sakura menganggukan kepalanya. Berkata 'iya' pada setiap takdir yang menghampirinya nanti.
.
.
.
Pagi itu Gaara-kun datang ke rumahku. Maksudku, rumahku dan Naruto. Rumah milik keluarga Namikaze Naruto dan istrinya Namikaze Hinata. Dan aku selalu tesenyum bila mengingatnya. Bahwa penantianku tidak sia-sia. Bahwa kami akhirnya bersama. Walau, aku tersenyum pahit, dia belum mencintaiku.
Tapi, tidak apa-apa. Bukan berarti dia tidak mencintaiku kan? Bahkan kami masih mempunyai waktu seumur hidup kami untuk belajar saling mencintai. Karena kami sudah dipersatukan. Dalam ikatan suci yang sederhana. Mempersatukan 2 jiwa dalam 1 ikatan selama sisa hidup kami. Dan tugasku hanya membuat dia mencintaiku, tanpa batas waktu. Karena waktu akan menjadi saksi ketika akhirnya dia akan menatapku dengan rasa cinta. Mungkin nanti.
Aku terkejut saat mendapat kunjungan pagi dari Gaara-kun. Bukannya aku masih takut dengan dia, walau memang firasatku selalu buruk bila bersama dengannya, tapi penampilanku sebagai seorang tuan rumah yang menyambut tamu suaminya sangat kurang pantas. Dengan kaos biru muda polos kebesaran milik Naruto-kun, dan celana pendek bahan berwarna putih yang panjangnya hanya sampai pertengahan pahaku. Dan jangan lupakan rambutku yang disanggul asal. Lebih memalukannya lagi, AKU BELUM MANDI!
Aku hanya berharap dia tidak menyinggung sesuatu tentang bau tidak sedap di pagi hari. Demi Tuhan! Ini masih pukul 7 pagi dan mengapa si rambut merah ini sudah ada di hadapanku? Salahkan kecerobohanku yang asal membuka pintu tanpa mengintip siapa yang ada di baliknya. Keyakinan idiot yang menyatakan bahwa orang yang baru saja memencet bel adalah pengantar koran langganan Naruto-kun.
Nasi sudah menjadi bubur. Aku hanya dapat melengkungkan senyum canggung di hadapan Gaara-kun yang berpenampilan kasual di hadapanku. Dengan kaos v-neck hijau lumut dan celana jeans biru yang membalut kakinya, dia sangat jauh dari kata seorang eksekutif muda yang selalu menggunakan jas kemana-mana. Dia kelihatan lebih muda dari biasanya, walau ekspresi sangarnya masih betah tercetak di wajah tampannya. Mungkin kapan-kapan, saat ada kesempatan, aku akan menceramahinya lagi tentang akibat tidak pernah tersenyum terhadap penuaan dini dan kerutan penuaan di wajah. Tapi tidak sekarang. Saat penampilanku yang seharusnya diceramahi ketimbang dirinya.
Dia masih menatapku dengan ekspresi ganjil. Mungkin merasa terlalu tidak sopan untuk langsung menertawakanku saat ini juga, pikirku kesal. Masih terbayang di ingatanku betapa menyebalkannya sahabat suamiku ini. Dialah orang yang selalu mencelaku dengan sindiran tajamnya di setiap kesempatan. Seperti saat pesta pernikahanku waktu itu, saat aku mencengkram erat lengannya dan dengan berani menatap langsung ke-2 zamrud itu. Niat awalku yang ingin minta maaf berubah saat dengan santainya dia melepas cengkraman tanganku. "Nona, kau merusak lengan jasku," adalah kata yang diucapkannya kemudian. Dan aku hanya terpaku. Terlalu syok untuk menyadari kekurang ajaran pria di hadapanku. Menyebalkan? Lebih dari itu. Sabaku Gaara adalah satu-satunya pemuda yang aku ketahui tidak akan segan-segan mengeluarkan semua kata yang ada di kepalanya. Walau itu menyakitkan sekalipun.
Tapi, kami berteman sekarang. Em, maksudku aku sudah menganggap dia adalah temanku(entahlah dia mengganggapku apa). Kami sering berbincang bersama di beberapa kesempatan. Atau minum teh bertiga di sore hari. Bahkan saat Naruto-kun tidak ada, dia sering menemaniku. Entah itu belanja atau hanya sekedar mengobrol di beranda rumah. Walau selalu ditanggapi dengan dingin tapi aku tahu, selalu ada ketulusan dalam binar mata yang menatapku itu. Bahkan aku selalu merasa aneh, kenapa aku bisa dengan mudah menjalin pertemanan dengan pemuda dingin ini. Mungkin, karena dia adalah sahabat Naruto-kun. Menyambangi kediaman Namikaze tiap sorenya, padahal aku tahu dia adalah orang sibuk. Dan bahkan dari pembicaraan kedua sahabat itu yang tidak sengaja kudengar, Gaara-kun berniat menetap kembali di Jepang. Entahlah, mungkin karena dia rindu dengan negara kelahirannya ini sehingga dengan mudah meninggalkan pekerjaan prestigious-nya di New York. Tak ada yang tahu isi kepala si rambut merah.
Well, tidak buruk juga berteman dengan Gaara-kun. Walau ada saat-saat tertentu aku kadang merasa ngeri dengan tatapan intens yang di arahkannya padaku. Entahlah, aku merasa tidak nyaman saja ditatap sedemikian tajam oleh zamrud miliknya. Kilatan tajam yang selalu berhasil membuat bulu tengkukku meremang. Seperti saat ini.
Masih di depan pintu coklat kekuningan rumahku, dia berdiri kaku disana. Matanya tak pernah lepas dari tubuhku yang menggeliat tak nyaman sembari menari-narik ujung celanaku yang kependekan. Tapi tampaknya sia-sia. Bahkan celana pendek itu hanya bergeser sekian mili, tertutupi kaos besar yang hampir menutupi pertengahan pahaku. Ini gila! Bahkan aku merasa tidak memakai apapun dibalik kaos yang kupakai. Salahkan tatapan tajam Gaara-kun yang seakan menelanjangiku di tempat.
Berdehem sedikit, "Ehem," dan berhasil!
Kulihat dia sedikit menunduk. Mungkin merasa malu akan ketidaksopanannya yang memandangi orang lain sedemikian intens.
"Apakah kita akan mengobrol sepanjang hari disini? Di depan pintu masuk?" suara beratnya menyadarkan ketololanku sebagai tuan rumah. Menengadahkan kembali kepalanya dengan angkuh, dia menaikan alis menunggu reaksiku yang canggung.
Lupakan. Tak ada kata malu dalam kamus seorang Gaara-kun.
" O-oh, si-silakan masuk Ga-Gaara-kun.." membukakan pintu coklat itu lebih lebar aku mempersilakan tubuh tegap beraroma vanilla musk yang lembut memasuki kediaman Namikaze. Aku memaki dalam hati. Semoga parfum di ruang tamu dapat menghambat bau tak sedap yang ditimbulkan oleh badanku.
"Emm, ka-kalau begitu aku akan siapkan minum dulu, Gaara-kun." Melihat Gaara-kun yang sudah duduk dengan nyaman di atas sofa hitam, aku membalikkan badan hendak memasuki ruangan lain setelah mengucapkan kalimat tersebut pada Gaara-kun. Tujuan utama; kamar tidur. Pertama; ganti baju. Semprot parfum. Lalu..
"Hinata, bersiaplah dalam 30 menit. Mandi, pakai baju terbaikmu. Kita akan berangkat sebelum pukul 8." Ucapan datar dengan isi yang terkesan diktaktor menghentikan langkahku meninggalkan ruang tamu.
"Eh?"
"Naruto yang menyuruhku." Jelasnya setelah melihat ekspresi tololku yang penuh tanya. "dia minta untuk mengantarmu kesana."
"Hah? Kemana?" sepertinya efek bangun kesiangan dan kejutan di pagi hari membutakan memori sesaat. Pergi kemana maksudnya? Apa hubungannya dengan Naruto-kun?
Ah, iya.
"Vila milik keluarga Namikaze."
Tempat bulan maduku dahulu. Tempat yang dijanjikan Naruto-kun untuk menghabiskan hari kami berdua di hari spesial ini. Tentu saja.
Hari ini kan ulang tahunku, aku tersenyum dalam hati.
.
.
.
Hari ini cerah. Saat aku membuka tirai kamar hari ini, begitu banyak cahaya berlomba memasuki kamarku. Membutakan mataku sejenak, kemudian putih.
Aku terpaku. Mengaggumi cakrawala putih dengan gradasi kebiruan. Begitu indah. Birunya seakan mereflesikan iris seseorang yang selalu bersinar. Lembut. Menatapku dalam diam. Hangatnya pagi seperti cengiran polosnya yang selalu mengalahkan terang mentari. Memberi energi baru kepada orang di sekitarnya. Oleh karena itu, dia selalu tersenyum. Walau dia jarang tersenyum padaku, tak mengapa. Aku telah lama mematri senyuman itu dalam ingatanku. Matanya yang menyipit saat tersenyum. Kemudian segaris, 2 garis, bahkan garis-garis senyum lain yang membayangi cengiran polosnya masih terekam jelas di benakku. Sejelas aku melihat mataku yang basah dalam pantulan kaca bening ini.
Dan mataku mengabur, diiringi isakan yang lolos dari bibir ranumku. Aku tersimpuh di depan kaca yang membatasiku dengan panorama cakrawala. Menutup mata, hanya untuk menangkap gelap di setiap pandangku. Karena dalam keyakinan absurdku, kegelapanlah yang mungkin dapat menghapus memori tentangnya. Tapi, tak bisa. Bibirku kemudian mendesis seakan membacakan mantra; kenapa? Kenapa?
Kenapa langit biru selalu mengingatkanku padamu, Naruto-kun?
Kenapa hanya gelap yang selalu kau berikan kepadaku, Naruto-kun?
Kenapa aku tetap mencintaimu, Naruto-kun?
Kenapa?
Dan pagi itu, kembali isak tangis yang terdengar dari apartemen pribadi milik Sabaku Gaara.
.
.
.
Lumayan lebih panjangkah? Saya bukan tipe penulis yang bisa bermain dengan banyak kata nih, jadi maklumi jika wordnya selalu minus, hehe.
Oh ya, saya sengaja bikin past sama present nya absurd. Biar lebih menantang, Kawan. Well, silakan para reader-san semua menebak-nebak alur yang terjadi. Saya pengen kalian dapat feelnya semua, tanpa dibatasi kata.
Thanks buat Hilda (account namenya saya lupa, malas liat box review lagi, mehehe)yang ngasih tau betapa tidak menggigitnya chapter kemarin. Big hug for ya ;)
hatakrj
