Ok, Karna di Chapter sebelunya ada yang tanya gini :
- kenapa mereka (Kagami & Kise) masih berwujud anak kecil berumur 10 tahun? Dan mengapa Aomine-nya sudah dewasa? Apa sebaiknya tidak dijelaskan saja agar reader lebih paham jalan cerita disini? Atau memang ini fanfic bergenre Adult x Shota?
Dan berikut adalah jawaban dari Yumi-chan *Gampar Author*
Jadi gini,
Kenapa Kagami & Kise masih umur 10 tahun dan kenapa Aomine udah dewasa itu semua karna Yumi sendiri juga ngga tau | Hahaha.. LOL | *Gampar Author lagi* | Maaf,Oke sekarang kita serius.. (_ _*) |
Kagami dan Kise sengaja Author bikin masih umur 10 tahun (Sebelumnya malah mau Author buat masih umur 7 tahun) untuk alasan khususnya karna Author suka versi anak-anaknya Kagamicchi sama Kisecchi.. :3
Untuk Aominenya Author buat sebagai sosok seorang polisi yang gagah dan dewasa karena menurut beberapa sumber yang Yumi dapet di Internet pekerjaan yang mungkin bagi Aomine adalah Seorang Polisi. Jadi itulah mengapa Yumi buat Aomine sebagai Polisi. Untuk Kuroko sebagai anak Kuliahan yang suka pada anak-anak (Suka bukan dalam artian ada perasaan khusus).
Dan mungkin genre-nya mungkin memang Adult x Shota :D
Oke mungkin itu sedikit informasi aja, jadi cukup sekian dulu penjelasannya..
Selamat membaca chapter berikutnya yaaaa... ~ :3
"Chuu~ ! Mr. Police, Daisuki desu!"
Aomine x KagamiAomine x Kise
Disclaimer : Kuroko no Basuke (黒子のバスケ), Tadatoshi Fujimaki
Genre : Romance, BL, Dan tentukan sendiri genre lainnya :D | Author malas | *Tabok Author*
Warning! Typo everywhere, Alur berantakan, EYD kacau..
Mengandung unsur BL, jadi buat yang ngga suka BL (Boys Love) Kick out aja deh!
Kagami sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Saat ia akan membuka pintu,
BRUUUAAK!
Aomine terjatuh dan kepalanya terbentur.
"A.. Aomine Nii-chan?" Kagami terkejut mendapati Aomine berada didepan pintunya dan dia masih menggunakan seragam yang sama.
"Aaauu.." Aomine berusaha bangun, ia menyentuh kepalanya yang terbentur lantai rumah Kagami.
"Ke.. kenapa kau masih ada disini? Apa kau tak pulang?" Kagami membantu Aomine berdiri.
"Eh? Maaf, semalam aku ketiduran disini.. Kurasa aku akan pulang sekarang.." Aomine berusaha untuk berjalan namun sempoyongan.
"Ah!" Kagami menahan tubuh Aomine, Aomine hampir saja terjatuh.
"Lihatlah kau tak kuat untuk berdiri! Gees! Apa yang kau lakukan semalamanan didepan rumahku!" Kagami ngomel-ngomel nggak jelas.
"Aku tak apa.." Aomine berusaha untuk tersenyum, ia tak ingin membuat Kagami khawatir padanya.
Kagami menempelkan dahinya di dahi Aomine.
"Baik-baik saja apanya! Kau panas sekali! Kau demam!" Kagami kini tampak sangat khawatir.
"Baiklah masuk kealam, Aku akan merawatmu!" Kagami menarik tangan Aomine, namun Aomine menolak.
"Bagaimana dengan sekolahmu, bodoh!" Aomine memukul kepala Kagami.
"Kau sendiri sedang demam, kan! Makanya.." Belum selesai Kagami berbicara seseorang menghampiri mereka.
"Kagamicchi! Aominecchii!" Terdengar suara Kise dari depan gerbang rumah Kagami.
Kise sedang bersama Kuroko. Kise melambaikan tangannya pada Kagami dan Aomine. Kuroko dan Kise mendekati Kagami dan Aomine.
"Kagami-kun.. Aomine-kun.. Apa yang terjadi?" Kuroko mendekati Aomine.
"Kuroko Nii-chan, Aomine Nii-chan dia... dia demam.." Kagami tak bisa menyembunyikan wajah khawatirnya.
"Ah Kebetulan Tetsu, maukah kau mengantarku pulang.." Aomine merangkul pundak Kuroko.
"Tapi bagaimana dengan Kise-kun dan Kagami-kun?" Kuroko sebenarnya ingin mengantar Aomine tapi ia tak tega meninggalkan Kagami dan Kise.
"Kami bisa berangkat sendiri kok, Onii-chan.." Kise merangkul lengan Kagami lalu menariknya.
Sebenarnya Kagami enggan, tapi Kise memaksanya untuk berangkat bersamanya.
Kuroko membopong Aomine menuju rumahnya. Aomine tampak pucat pokoknya tampak sangat tidak sehat.
"Aomine-kun.. Kenapa kau bisa tidur didepan rumah Kagami?" Kuroko melirik Aomine.
"Ah, itu. Sebenarnya aku mau pulang tapi aku banyak pikiran dan tertidur disana." Aomine menunduk.
"Apa yang kau pikirkan? Apa soal Kagami?" Aomine terkejut saat mendengarnama Kagami disebut.
"Kurasa tak ada salahnya aku memberi tahumu, Tetsu." Aomine menceritakan semua apa yang terjadi kemarin malam pada Kuroko.
Sepanjang perjalanan Kuroko hanya diam dan mendengarkan. Dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia tak mau memberi tahu Aomine tentang apa yang ia tahu. Karena ia tak ingin merusak hubungan antara Kise, Kagami dan Aomine.
"Gommen nee, Aomine-kun. Aku tak ingin merusak hubungan kalian bertiga. Walau sebenarnya kau harus tau..." Pikir Kuroko.
Ia tahu kalau Kagami dan Kise sama-sama menyukai Aomine, karena mereka berdua sering bercerita padanya saat salah satu dari mereka hanya berdua saja dengannya.
Matahari kini terasa semakin terik, pagi telah berganti siang. Kagami hanya menatap kosong ke luar jendela sambil terus memikirkan kondisi Aomine.
"Hei, Kagamicchi!" Kise merangkul Kagami dari belakang.
"Ah! Kise! kau mengejutkanku!" Kagami menjitak kepala Kise.
Kagami sedari tadi memikirkan Aomine yang tampak kurang sehat. Ia sangat khawatir padanya. Melihat wajah khawatir Kagami, Kise menjadi sangat kesal.
"Hmmm... Aku rasa kau butuh sedikit pelajaran.." pikir Kise lalu ia tersenyum licik.
"Kagamicchi, kemarin malam aku lihat looo?" Kise mengeratkan pelukannya.
"A.. Apa.. yang kau.. lihat?" Kagami membalikkan badannya
"Semalam... kau mencium Aomine Onii-chan kan?" Kise kembali merangkul Kagami lalu berbisik pelan ditelinga Kagami.
Kagami membatu, kedua bola matanya terbelalak, wajahnya tampak semakin memerah bahkan telingannyapun tampak semerah tomat matang. Tubuh Kagami bergetar, jantungnya berdetak tak karuan.
"aa.. a..a.." bibir Kagami membuka-tutup seakan ia ingin mengatakan sesuatu.
"Harusnya kau tak melakukan itu, Bakagami..." Kise tersenyum licik setelah ia kembali berbisik ditelinga Kagami.
"Karena ..." Kise mulai membisikkan sesuatu pada Kagami.
Kagami tampak lebih shock daripada sebelumnya. Selama Kise berbisik ditelinganya, kedua bola mata Kagami mulai berair. Hingga akhirnya ia tak tahan lagi mendengar apa yang dikatakan oleh Kise. Kagami mendorong Kise sampai ia terjatuh, setelah itu ia berdiri sambil menatap Kise.
"Itu semua... ti.. tidak mungkin.." Suara Kagami terdengar sangat lirih.
Tiba-tiba, air mata Kagami mengalir begitu saja. Semua anak dalam kelas mereka menatap mereka heran, beberapa dari mereka bahkan berbisik-bisik satu sama lain. Setelah menatap Kise cukup lama Kagami membawa tasnya dan ia berlari keluar dari kelas.
BRUUUUK! buku-buku berhamburan. Kagami menabrak seorang guru yang akan mengajar dikelasnya.
"KAGAMI!" Guru berambut pirang bernama Alexandra Gracia memanggil Kagami.
Namun, Kagami tak menghiraukannya dan ia langsung pergi begitu saja.
"Gees.. Apa sih yang dia pikirkan!" Alex membereskan buku-bukunya.
"Daijoubu desu, Sensei?" Kise mendekati Alex dan membantunya membereskan barangnya yang berserakan.
"Hah,, Daijoubu. Say, Kise. Kau tau apa yang terjadi pada Kagami?" sekilas Alex melirik Kise.
"Who know.." Kise hanya hanya mengangkat bahu sambil tersenyum puas.
Angin berhembus perlahan, ikan-ikan disungai berlompatan seakan ikut menikmati sejuknya hembusan angin saat itu. Jalanan belum begitu ramai. Ya, tempat ini sangatlah cocok bagi Kagami untuk menangis.
"Hiks.. hiks.. hiks.. Kise.. kau pasti bohong.." Kagami memeluk lututnya.
Ia mengangis ditepi sungai. Ia tak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Semua yang ia rasakan hanyalah perasaan sedih dan sakit.
Disaat yang bersamaan, Kuroko baru saja pulang dari rumah Aomine. Ia mengeluarkan handphone untuk menghubungi Midorima agar memintakan izin pada dosennya.
"Aku harap Midorima membaca pesanku ini.." Kuroko mengetik dengan sangat cepat.
"Hiks.. hiks.. hiks.. " Kuroko mendengar suara tangisan dari arah tepi sungai.
Kuroko menoleh ke arah suara itu. Ia terkejut mendapati sosok yang mungkin dikenalnya.
"Ka.. Kagami?" Kuroko tak yakin dengan apa yang dilihatnya.
Kuroko memutuskan untuk menghampiri sosok bocah berambut merah ditepi sungai itu.
"Kagami?" Kuroko menyentuh pundak Kagami.
"Hiks.. hiks.. hiks.. Ku.. Kuroko Onii.. chan.." Kagami menoleh,
Kedua mata kagami tampak sebam, air mata masih saja mengalir dari kedua bola mata Kagami. Sontak Kuroko memeluk Kagami. Kuroko sangat benci melihat anak kecil menangis.
"Kau kenapa, Kagami?" Kagami tidak mengatakan apapun, ia hanya membalas pelukan Kuroko.
"Hiks.. hiks.. hiks.. Kuroko Onii-chan..." Kagami memanggil nama Kuroko, tangisan Kagami semakin kencang.
"Apa yang terjadi?" pikir Kuroko.
Bahkan Kuroko belum pernah melihat Kagami menangis seperti ini. Saat Kagami jatuh hingga ia terlukapun, Kagami belum pernah menagis dihadapannya. Kuroko terdiam, dia diam dan membiarkan Kagami menangis dalam pelukkannya.
To be Continue..
Hah.. Yumi pikir ini bakalan selesai di Chapter 2..
Ternyata sampe sini ide Yumi mendadak HILANG! Dx
|Tidak! Tidak! Tidak!| *Gampar Author*
Oke, oke..
Pastinya pada penasaran kan sama
"Apa sih yang dibisikan Kise pada Kagami sampai Kagami nangis kaya gitu?"
|Sama Yumi juga Penasaran! xD | *Timpuk Bola Basket*
Intinya Yumi mau bilang
|Jangan Lupa Review yaaa! dan Yumi usahain bakalan Yumi terusin kog..|
Arigatou Gozaimas!
