Not The Heirs, Just Prince Jongin
Jongin X Sehun
Romance
PG-17
Two Shoot
Curhat: Laptop saya kena virus dan diinstal ulang... foto Yoona yang sudah saya kumpulkan selama lima tahun hilang semua... *BakarSoalUN! *Slap
...
...
...
Ada hari diamana sebuah penantian akan berujung pada kebahagiaan, dan kebahagian akan tiba pada akhirnya. Sebuah pepatah lama yang kini membuat Jongin terus terusik. Musim semi datang pada ujungnya, sinar matahari mulai berkoar, suhu udara naik dan liburan panjang musim panas tiba. Semua orang menikmati liburan mereka, meski ada beberapa yang tetap harus berkutat dengan pekerjaan mereka. Namun setidaknya seseorang sesibuk Kim Jongin, masih bisa menikmati liburan sempitnya dengan sangat memuaskan. Menghabiskan satu hari minggu pendek dengan menulis banyak momen baru yang tidak pernah dialaminya sebelumnya.
"Kau pernah jatuh cinta?"Sehun tiba-tiba bertanya. Keduanya kini duduk berhadapap-hadapan di salah satu pojok kafe Minseok. Hari minggu musim panas, dan semua orang menghabiskan waktu mereka untuk sarapan di luar.
"Tentu saja, memangnya untuk apa aku hidup selama dua puluh tujuh tahun?"canda Jongin kemudian menyeruput lattenya yang mulai dingin. Mulai menggunakan bahasa non-formal adalah langkah yang bagus. Dan Jongin tidak tahu mengapa, dia bisa menjadi sedekat ini dengan Sehun. Berita bagusnya Jongin tidak melihat Sehun dengan pria-pria yang berbeda lagi satu minggu ini.
"Untuk menguasai saham Korea mungkin, atau untuk memonopolinya? Yeah... menimbun kekayaan, suatu tujuan klasik yang datang dari seorang pengusaha. Ah, maaf jika aku menyinggungmu,"kata Sehun kemudian tersenyum manis. Dan cukup dengan senyuman itu, maka meski semua perkataan Sehun benar adanya dan menyakiti harkatnya sebagai seorang pebisnis, maka itu tidak masalah bagi Jongin.
"Tidak masalah. Kau benar juga, semua pebisnis memang seperti itu,"jawab Jongin tenang. Sehun kembali tersenyum. Jongin kembali terpukau. Meski dia sudah melihat senyuman itu hampir setiap hari sejak dua minggu yang lalu, entah mengapa sensasi yang didapat olehnya masih tetap sama. Seperti ada ribuan kupu-kupu melayang dalam perut Jongin.
"Kau sendiri, apa sudah pernah jatuh cinta?"tanya Jongin kembali kepada jalur. Sehun tersenyum lagi kemudian menggeleng pelan.
"Sayangnya Tuhan belum mempercayaiku untuk mencintai seseorang. Mungkin karena Dia tahu bahwa aku belum bisa memahami konsep percintaan dengan benar,"jawab Sehun manis. Jongin sedikit ragu dalam mencerna kalimat panjang yang telah diucapkan oleh Sehun.
"Sayang sekali, padahal jatuh cinta itu menyenangkan,"kata Jongin kemudian tertawa. Sehun tertawa hambar kemudian menyuapkan potongan pancake ke mulut kecilnya.
"Kalau begitu cobalah buat aku jatuh cinta,"kata Sehun serius.
Jongin berani bersumpah bahwa itu adalah tender terbesar dalam hidupnya.
...
...
...
Musim panas tiba pada puncaknya. Suhu udara mulai menggila. Menyebar, menelusup kedalam setiap celah bagai peredaran air pada sistem fotosintetis tumbuhan. Panas membakar kulit, membuat peluh menetes bahkan ketika berada di dalam ruangan ber-AC sekalipun. Dan Jongin yang pintar menggunakan alasan alam itu untuk mengajak Sehun pergi liburan bersamanya. Menikmati indahnya pulau Jeju dan lautnya di musim panas hanya berdua saja.
"Ini penginapan yang bagus,"komentar Sehun kemudian menjatuhkan tubuhnya pada sebuah bed besar bercover putih dengan banyak bunga di atasnya.
"Aku selalu memesannya jika pergi ke sini,"kata Jongin kemudian menyibak korden jendela lebih jauh agar pemandangan laut bisa dipandangnya lebih jelas.
"Apa bunga-bunga ini bonus?"tanya Sehun menggoda.
"Tidak. Mungkin mereka salah paham dengan kita, mereka kira kita datang untuk berbulan madu mungkin,"kata Jongin kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sehun. Kaki jenjangnya mulai melangkah dan mendekat pada ranjang.
"Kalau begitu, ayo buat tebakan mereka menjadi benar,"dan dengan itu Sehun menarik tubuh tegap Jongin untuk menindihnya. Mulai membuka kancing kemeja yang dipakai oleh Jongin dan memagut bibirnya dengan sensual. Apa posisi Jongin untuk bisa menolak?
...
...
...
Pergulatan panas yang dua orang itu lakukan berhenti ketika jam telah menunjukan pukul sembilan belas. Itu berarti tiga jam sejak mereka tiba di Jeju. Kini keduanya berbaring dengan nyaman dan berhadapan. Sehun menidurkan kepalanya di atas lengan kekar Jongin dan menyatukan jari-jari tangannya dengan milik Jongin. Kakinya terjebak oleh perangkap kaki berotot milih Jongin di bawah sana. Dan bibirnya menyatu dengan pebisnis kaya-raya itu.
"Apa sudah mulai merasakannya?"tanya Jongin tiba-tiba. Muka Sehun memerah.
"Yeah..."gumamnya pelan. Jongin tersenyum dan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Sehun yang tipis dan sangat menggoda itu.
"Itu bagus,"kata Jongin. Dia kemudian menegakkan badannya dan membawa tubuh Sehun dalam gendongannya. Melangkah menuju kamar mandi dan meletakan tubuh polos Sehun di atas closet yang tertutup.
"Wangi apa yang kau sukai?"tanya Jongin.
"Aku suka lavender,"dan dengan itu Jongin mencampurkan sabun lavender dengan air di bath up. Dia kembali membawa Sehun ke dalam gendongannya dan meletakan tubuh dengan lekuk luar biasa itu ke dalam bath up perlahan-lahan.
"Ah... ini menyenangkan ,"kata Sehun yang kini memejamkan matanya.
"Benar,"tambah Jongin. Jongin ikut masuk ke dalam dan memposisikan tubuhnya di belakang tubuh Sehun. Memeluk pria albino itu dan menciumi pipinya terus menerus.
"Berapa lama kita sudah seperti ini?"tanya Sehun tiba-tiba. Jongin membuka matanya dan berpikir sejenak.
"Satu bulan."
Dan Sehun menyadari kelalaiannya.
...
...
...
Malam hari di musim panas, tidak ada bedanya dengan siang hari. Meski matahari kini berkuasa atas belahan bumi bagian barat, namun udara panas masih saja menyelimuti sekitar. Dan berlibur adalah hal yang bagus untuk membuat musim panas yang penuh dengan peluh menjadi hal yang menyenangkan. Pantai, cekungan dalam yang menjadi primadona dalam setiap musim panas. Menjadi tempat pelarian bak surga yang sempurna untuk musim panas.
"Menyenangkan sekali bisa pergi berlibur seperti ini,"kata Sehun. Jongin, yang sedari tadi duduk di sebelahnya tersenyum kemudian merapatkan tubuhnya ke tubuh Sehun yang lebih kecil.
"Heum... aku rasa juga begitu,"Jongin menambahkan. Sehun memiringkan kepalanya ke arah kanan dan mencuri sebuah ciuman singkat dari bibir Jongin. Hal sederhana itu membuat Jongin tersadar dengan fakta yang mengikat Sehun. Apa Sehun selalu melakukan hal ini dengan orang-orang itu?
"Apa baru pertama berlibur seperti ini?"tanya Sehun yang membuat Jongin kembali tersadar.
"Yeah,"jawabnya singkat kemudian tersenyum.
"Aku kira kau selalu melakukannya dengan kekasih-kekasihmu sebelumnya,"kata Sehun. Jongin terdiam, matanya kini menatap lurus pada hamparan ombak di laut surut.
"Aku tidak pernah berhubungan sampai lebih dari ini,"jawab Jongin jujur. Sehun tertegun mendengarnya.
"Benarkah?"tanya Sehun ragu-ragu.
"Ya, aku... memiliki commitment issue,"Sehun nampak tersentak saat mendengarnya.
"Kau? Ah... pantas saja sampai saat ini kau masih melajang,"goda Sehun kemudian tertawa. Jongin hanya diam mendengarnya, namun kemudian mulutnya kembali terbuka.
"Tapi, sebentar lagi aku akan mengakhirinya,"kata Jongin.
"Caranya?"Sehun menaikkan sebelah alisnya.
"Dengan menikahimu."
Kini Sehun merasa terjebak dalam permainannya sendiri.
...
...
...
Malam semakin larut. Kegelapan menjadi penguasa. Dan pada saat-saat seperti ini Sehun baru merasakan kegelapan itu dengan sepenuh hati. Ditiliknya wajah tampan yang kini terbaring dengan napas terarur di sebelahnya. Jantungnya selalu berpacu berkali lipat lebih cepat saat memandangnya. Tanpa sadar tangannya mengikuti nada hatinya untuk meraba wajah tampan yang diterangi oleh samar bulan dengan perlahan. Jongin memang sempurna. Dan Jongin memang berbeda dengan yang lainnya. Jadi, tidak salah jika dia akhirnya menyerah dalam labirin yang dibuatnya sendiri.
Kali ini Sehun memejamkan matanya. Dia benar-benar pasrah jika seandainya kenyataan itu benar adanya. Perlahan kedua tangan kanannya menangkup di depan dadanya. Bibir kecilnya mulai menggumamkan doa. Semoga saja Tuhan memberkatinya, membiarkannya tidur dengan nyenyak untuk malam ini. Tidak ingin berpikir dulu untuk kemungkinan di hari esok saat semuanya terungkap.
"Aku mencintaimu."
...
...
...
Jongin dan Sehun kini sedang duduk di teras kamar penginapan yang menghadap ke arah pantai secara langsung. Kedua kaki telanjang mereka dimanjakan dengan deburan ombak-ombak kecil yang terus mengalun tanpa henti. Sinar matahari tidak terlalu terik, membuat mereka bisa menikmati aroma laut lebih baik. Sehun menggoyang-goyangkan kakinya dengan perlahan, kemudian tertawa saat ada ikan-ikan kecil yang berenang-renang di antara kakinya. Melihatnya, Jongin mau tidak mau ikut tersenyum.
"Apa kau senang?"Jongin bertanya. Sehun menatap Jongin kemudian mengangguk dan tersenyum simpul.
"Aku rasa ini waktu yang tepat untuk bicara,"nada suara Jongin mendadak menjadi serius.
"Tentang?"Sehun memincingkan matanya saat sinar matahari menusuk retinanya.
"Hubungan kita. Eum... maaf jika aku lancang,"kata Jongin.
"Justru akan menjadi lancang saat kau tak membicarakannya,"sanggah Sehun. Jongin tertawa kemudian melanjutkan. "Meski kita baru mengenal beberapa bulan, aku bisa merasakan bahwa kau berbeda dari orang lain,"kata Jongin. Dia menatap Sehun dengan tulus.
"Kau dalam diammu mampu membuatku melupakan commitent issue ku. Mendobrak dindingnya dan membuatnya menjadi sebuah perlawanan untuk bisa mengikatmu,"Jongin tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya kepada wajah Sehun kemudian menyatukan dahi mereka.
"Aku mencintaimu, dan aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya,"Sehun memejamkan matanya saat aroma maskulin merebak dari napas Jongin. Dia tersenyum kemudian menangguk pelan.
"Tapi aku ingin menanyakan suatu hal terlebih dahulu,"Jongin menjauhkan wajahnya kemudian menangkup kedua pipi Sehun dengan kedua tangan besarnya. Mengelus pipi halus itu dengan sayang kemudian mengecup bibir Sehun dengan penuh cinta.
"Siapa orang-orang itu? Orang-orang yang bersamamu di kafe Minseok itu?"tanya Jongin yang membuat Sehun tertegun.
"Mereka..."Sehun menundukan kepalnya. "Mereka adalah targetku,"jawab Sehun ambigu. Perlahan kepalanya mulai tegak kembali dan matanya menatap mata Jongin intens.
"Sebenarnya, kau juga targetku, itulah jawaban mengapa aku mulai mendekatimu,"kata Sehun jujur. Jongin menarik kedua tangannya.
"Kau ini apa Oh Sehun?"Jongin menatapnya bingung.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Meski aku terlihat seperti seorang prostitusi tapi aku adalah pekerja sosial,"kata Sehun kemudian tersenyum.
"Maksudmu?"Jongin memincingkan matanya.
"Oh Sehun... adalah seorang anak yatim-piatu yang tinggal di panti asuhan tua di pinggir Kota Seoul,"mulutnya terbuka untuk bercerita. Jongin mendengarkannya dengan seksama.
"Saat matanya berpetualang dan menemukan bahwa kehidupan terkadang tidak adil bagi sebagian orang dia dan pikiran polosnya bercita-cita untuk mengubahnya. Belajar dengan giat, dan berdoa kepada Tuhan setiap hari. Dan di usianya yang ke dua puluh satu dia mendapat gelar sarjana dari bidang sosial."
"Kenapa pekerjaan sosialmu selalu menyangkut pria-pria kaya?"tanya Jongin menyela.
"Karena setiap orang mempunyai cara mereka sendiri Kim Jongin. Dan cara terbaikku untuk bisa bekerja di UNICEF tanpa menunggu sepuluh tahun pengalaman adalah dengan menarik donatur yang besar agar bisa masuk dalam kawasan itu,"kata Sehun cepat. Jongin membelalakan matanya.
"Apa... kau selalu melakukan ini pada mereka sebelum kau memeras uang mereka?"bisik Jongin pelan.
"Tidak. Sama sepertimu, aku tidak pernah melangkah sejauh ini, ini pertama kalinya. Mungkin karena aku terperangkap olehmu,"kata Sehun. Jongin tersenyum begitu mendengarnya.
"Kalau begitu, jadikan aku targetmu untuk selamanya karena aku akan dengan senang hati melakukannya,"kata Jongin kemudian mengecup bibir manis Sehun.
"Itu adalah rencana selajutnya,"kata Sehun kemudian membalas lumatan yang diawali oleh Jongin.
'Akhirnya Tuhan memberikan jalan yang lebih baik untukku.'
END.
Ada yang heran kenapa saya sering bawa-bawa UNICEF? Karena itu cita-cita saya mamen! Kerja di UNICEF! *Doain saya biar lulus SNMPTN dan masuk PTN Fakultas Fispol jurusan *Piiiip*
Ohhohoho... kemarin-kemarin pada PM saya semua meminta update. Saya males sebenernya... Menikmati malas-malasan di rumah sampai bingung mau ngapain selain main ulang Harvest Moon nitendo.*plak
Ok terimakasih banyak untuk yang sudah review yah! Yang tidak review tidak terimakasih! *SLAP
Fic lain update menyusul yah! Hohoho... PM aja kalau mau request mumpung saya nganggur! Hehehehe...
