'Dan seminggu berlalu, satu di antara kita akan MATI.'

'… Dan itu akan terjadi… JIKA saja ada sang pelaku.'

.

.

.

The Basketball Which Kuroko Plays ~ The Bookmark of Demise

© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃

Chapter : 1 — Kodoku no Kakurenbo (1)

Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki, Shuuen no Shiori Project © Suzumu dan 150P

Warnings : OOC, AU, Chara Death, dan sebagainya.

A/N (Mun) : Setelah berjam-jam mengurusi internet dan Ms Word yang teganya menyiksa tubuhku, akhirnya aku berhasil update chapter 1! Akan ada sedikit note di bawah untuk kalian~!

(!) NOTE (!) : Di fanfik ini aku akan memakai penamaan yang sama seperti Shuuen no Shiori. Kita akan lihat karakter yang menjadi pemain dalam drama horor yang indah ini~ /ditabok

.

.

.

-xXx-

[Sehari sebelum insiden itu]

TIK TOK TIK TOK.

"… Membosankan."

Tick. Tick.

Seorang pemuda bersurai biru cerah menguap dengan pelan, seraya melirik jam bekernya yang berbunyi dengan tenangnya dair kejauhan. Merasakan hawa dingin yang menusuk dan menyelungsup masuk ke punggungnya, ia lalu berganti posisi; ia kali ini duduk dari tidur panjangnya, di atas ranjangnya. Ia lantas menghela napas pasrah, dan berkata dengan malas—oh, tolonglah, dia memang malas sekali, "… Lagi-lagi…?"

Orang tuaku sudah meninggalkan rumahku terlebih dulu untuk pergi ke kantor—ya iyalah, ke mana lagi kalau bukan ke kantor tempat mereka bekerja? Jadi, tidak ada siapapun kecuali diriku sendiri di dalam rumah ini, bahkan ketika aku pergi ke sekolah. Ya, tidak ada siapapun di dalam rumah ini. Akan tetapi… Aku perlahan menyadari kalau ada seseorang yang menatap aku; menyelidiki aku dari kejauhan dan dari kegelapan yang tidak kasat mata.

Akibat dari perasaan ini, aku menjadi sedikit lelah.

"… Saat aku melihat ke belakangku… Tidak ada seseorang di sana, ya kan…?" gumamku lelah.

"… Fufufufu. Aku tak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya." ujarku selanjutnya sambil duduk di depan pintu dengan wajah muram dan benar-benar sebal.

Ini menjadi stimulan yang sangat menyenangkan, dan juga menakutkan. Perasaan yang seperti ini jelas memperkaya kehidupan sehari-hariku. Kurasa perasaan yang seperti ini bisa mengajari seseorang sepertiku sebuah kesenangan akan yang namanya 'ketakutan'… Kelihatannya ini seperti sebuah jawaban bernilai penuh terhadap sebuah analisis diri, tetapi sebuah jawaban untuk analisis diri bagiku adalah… pesimistis.

"… Aku pergi."

Kata-kata tersebut yang aku bisikkan tidaklah berarti bagi semuanya.

Kata-kata tersebut adalah untuk mempersiapkan diriku untuk melalui hari membosankanku yang lain; sebuah dunia yang terlampau biasa. Kata-kata tersebut adalah benda keberuntungan kecilku.

Hari ini sangatlah membosankan.

Di dalam dunia ini, seluruh kehidupanku benar-benar dan sangat membosankan. Di saat hujan, cerah, atau bersalju, bahkan panas, tidak terkecuali. Siapapun, aku tidak peduli, tolong musnahkan kebosanan ini… Ku menatap gumpalan air hujan yang menggenangi jalan menuju sekolahku—ya tentu saja hari itu hujan—dengan ekspresi bosan. Tidak bisakah aku memintah seseorang—entah siapalah itu—menghancurkan itu…

Shaaaa…

"Yo, A-ya!"

Seorang cowok berambut pirang cerah dan berwajah sumringah menyapa pemuda yang dipanggil A-ya ini. Cowok yang sebaya ini lalu tersenyum meneruskannya, "Selamat pagi, A-ya."

"…" Tidak ada reaksi dari pemuda yang super suram itu.

"Kamu sedang badmood lagi hari ini, begitu, A-ya."

"Itu bukan urusanmu, R-ya."

Cowok berpiercing yang biasa dipanggil R-ya ini lalu tertawa ironi, dan menepuk pelan kedua pundak A-ya seraya berkata dengan wajah prihatin, "Bahkan jawabanmu juga tidak berperikemanusiaan. Hahahaha, jadi bingung deh."

Serius, aku benci cowok ini—yang bahkan tidak mau kuingat namanya walau aku ingin sekali, kutuk A-ya di dalam hati.

"Eeettoooo… By the way, kamu kan familiar dengan semua rumor, ya kan?"

DEG.

Ini dia. Tetap berhati-hati, tetap tenang…

Di samping insiden mengerikan yang sekarang ini, di sana sebenarnya ada sesuatu lagi yang membuatku merasa tertarik. Ya, itulah 'rumor'. Dikatakan, aku sedikit berbeda dari mereka yang hanya senang mendengarkan gosipnya. Aku pun mengulum senyuman penuh misteri.

"Apa terjadi sesuatu?" tanyaku penasaran.

"Tidak… Yah, dengarkan. Kau kan teman baiknya B-ko dari kelas di depan pintu kelas kita, ya kan?"

B-ko?

Aaaahhh… Gadis itu. B-ko adalah seorang gadis yang super populer di sekolahku. Dia dikatakan sebagai gadis tercantik di sekolahku, dan bahkan tidak ada yang tidak mengenalnya selama bersekolah di sana—bahkan seorang hikikomori pun tahu benar siapa dia, walau tidak terlalu akrab. Rambut merah terang yang memiliki style bob, memiliki pita di sisi kanan rambutnya, pintar, dan baik hati—coret, tidak terlalu baik hati sih—semua itu melukiskan diri B-ko. Bahkan aku yang anti-sosial ini punya alasan khusus untuk berteman baik dengan B-ko.

Aku pun menjawabnya dengan pura-pura ramah, "Yahh… Aku nggak akan mengatakan kalau kita seakrab itu, tetapi… Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"A-Ah, nggak, kau tahu…"

"… Aku penasaran, andai saja dia punya pacar… Kurasa dia punya… eh, nggak? Aduh, aku penasaran dengan ada tidaknya rumor itu!" lanjut R-ya menutup mukanya yang merah padam karena malu.

Menyebalkan. Ini lagi. Tipikal yang itu lagi, huh.

Serius, kenapa semua orang menyukai B-ko, huh? Apanya yang bagus dari dia…? Ah, tetapi… Situasi ini sebenarnya sangat menyenangkan bagiku…

"Aku belum pernah mendengar yang begituan… Aku tidak berpikir dia akan melakukan hal yang seperti itu. Jika memang benar dia punya pacar atau apalah itu, pastinya hal itu bakal menjadi rumor yang sangat besar di sekolah kita, ya kan?" jelasku mencoba menyakinkan R-ya yang annoying ini.

"Be-benar juga…" sahut R-ya menggangguk pelan dan gugup.

SPLASH!

"Ah… Tetapi…" Tiba-tiba aku menyunggingkan senyuman misterius dan penuh rasa penasaran yang konyol—kalau boleh, agak abnormal.

"Eh? A-Apa yang terjadi?"

Aku lalu menjelaskannya dengan ekspresi yang oh-sangat-menyakinkan, "Hmm… Ini bukan soal cinta dia atau apalah, tetapi aku pernah mendengar sebuah rumor aneh…"

Cowok itu lalu memekik kaget, "Eh…? Eeeehhhh…? !"

Aku lalu melanjutkannya, "Yeah! Cerita ini agaknya menarik… Dikatakan, peniru B-ko sudah muncul! A-Ah, tidak, aku tidak boleh melanjutkannya… Agak bodoh sih ceritanya. Jangan bilang siapa-si—."

GRASP!

"Tunggu… A-ya! Ini terlalu penting, ceritakan ke aku! Kan kamu sudah memulainya…!" sergah R-ya menghentikan pembicaraanku ini.

Lihat, dia memakan umpanku…!

"Ja-Jangan bilang siapa-siapa ya?" pintaku memelas.

"Y-Yeah!" sahutnya mencoba menyakinkanku.

Kau lihat, 'Jangan bilang siapa-siapa ya?' adalah kata kunci untuk menyebarkan rumornya. Semua orang di sini memiliki seseorang yang mereka pikir pasti akan menepati janji mereka. Tipe sosialis adalah tipe yang paling mudah melakukan hal tersebut; mereka pasti akan menceritakan rumornya, cepat atau lambat. 'Jangan bilang siapa-siapa, ya?'. Bahkan tanpa mengetahui asal-usul rumor tidak jelas juntrungannya ini, rumor ini akan menyebar sebagai sesuatu yang 'sebenarnya sangat benar'.

TAP. TAP.

"Sepertinya beberapa orang menyaksikan hal tersebut. Saat teman sekelas B-ko pulang larut malam seusai aktivitas klubnya, dia melihat B-ko dari dalam bisnya. Dia pikir hal itu aneh, karena arah rumah B-ko itu di arah yang berlawanan, jadi dia merasa tidak enak, dan akhirnya ia malah mengirim e-mail menanyakan apa yang B-ko lakukan. Nah apa yang didapatnya adalah…

Apa, kau bertanya? Aku kan sedang belajar di rumah sekarang, lho..?

… itulah jawabannya." lanjutku dengan nada lirih; pertanda aku ketakutan.

DEG. "Maksudnya… B-ko sudah berbohong?"

Aku menyanggahnya, "Tapi teman tetangganya yang sedang bersama dia, menyakinkan bahwa B-ko memang sudah ada di rumah. Yah, rumor ini sudah lama berkeliaran, jadi di sana ada rumor bahwa peniru B-ko itu sedang berkeliaran entah di mana—."

R-ya langsung menjerit sambil menggoyang-goyangkan tubuh A-ya, "JA-JADI, ORANG ITU BISA JADI ADALAH MONSTER ATAU SEJENISNYA? ! ATAU SESUATU? ! OH AKU SANGAT SYOK DAN NGERI!"

Aku lalu memutar kedua mataku, dan mengedikkan bahunya, "Entahlah. Tapi sejak di sana sudah banyak saksinya, maka rumor itu bukanlah kebohongan semata. Aku masih tidak terlalu mengerti sesuatu tentang occult atau entahlah tersebut. Di situ juga ada banyak cerita yang kelihatannya tidak mungkin dan tidak dapat dipercaya sih."

"Benar juga ya."

Di dalam lubuk hatiku, aku tidak bisa berhenti tertawa. Aku bahkan melihat gerbang sekolah yang biasanya suram tersebut dengan sebuah senyuman. Aku punya perasaan bahwa rumor yang kukarang dengan seenak jidat ini akan menjadi hari yang bagus—paling tidak untukku… Tetapi untuk yang lain, itu mungkin akan menjadi perbincangan yang sangat absurd dan… Terkesan rumor sekali.

-xXx-

"Nah, sekarang buka buku—."

Pluk.

Seorang anak laki-laki—kali ini bukan R-ya—yang menepuk pelan punggung A-ya. Cowok itu berbisik pelan, dan A-ya dengan malas mengambil sebuah kertas kecil yang sudah disobek. Ia lalu memberikannya ke anak yang duduk di depannya dengan malas. Begitulah apa yang terjadi andaikata sebuah gosip yang perlahan menyebar bagaikan virus yang siap menjangkiti setiap orang—tidak peduli siapapun orangnya.

Haaahhh… Rumor ini menyebar sangat cepat; melebihi dugaanku… Dengan ini aku sudah enam kali mengantarkan catatan kecil ini sekarang…

"Ini, oper ke depan."

"O-Oh."

Apa yang bisa kulakukan sekarang adalah… Tahan napasku, lalu tidak untuk tampil tanpa disadari oleh semua orang.

"Kau tahu apa—."

"Ah, itu! ? AKu tahu!"

"Kupikir kalau itu benar…"

Semuanya akan penasaran dan tertarik dengan ceritaku… tanpa menyadari bahwa semua cerita itu hanyalah cerita bualan semata buatanku. Ya, hobiku adalah membuat semua cerita palsu. Forum sekolah online, chain mail, tulisan, kertas yang ditulis gadis-gadis tersebut… Semua cerita yang aku buat akan berdampak kepada public dalam bentuk yang berbeda sama-sekali. Aaaahhh… Aku benar-benar menikmati saat semua itu bergerak sesuai dengan apa yang sudah kuperkirakan.

Menggunakan tragedi seseorang, aku menunjukkannya sebagai komedi di depan para penonton. Inilah apa yang sangat kucintai untuk dilakukan. Di dunia ini, semua itu dibagi menjadi dua; yang mana adalah 'yang kelihatannya merupakan kebenaran', dan satu lagi, 'yang kelihatannya merupakan sebuah rumor'.

Inilah alasanku mencintai dan menyukai rumor, sama seperti orang lain.

"Hei, tentang B-ko—."

"Bahkan dia kelihatannya seperti murid teladan, ya kan?"

"Aku melihatnya juga."

"… Aku bingung, yang mana yang adalah si peniru…"

Reaksi ini cukup bagus, seperti halnya B-ko.

Dengan berharap akan jalan kehidupanku yang membosankan akan menjadi sedikit berkurang walau sedikit saja, aku berani bertaruh… B-ko bahkan mungkin sudah menyadarinya.

-xXx-

[ Di gedung lama, ruang musik ]

Crek. Crek.

Aku pun menghampiri gedung lama ini. Walau aku bukan orang yang senang beraktivitas di dalam klub manapun, aku tetap berpendirian teguh untuk mendatangi gedung tersebut. Bukan karena klub manapun—bahkan aku bersumpah demi semua ceritaku, aku ogah sekali kalau harus ikut klub macam itu—tetapi satu hal. Aku menjadikan tempat ini sebagai markas atas berbagai pertimbangan—salah satunya, tempat itu juga menjadi tempat berkumpul beberapa siswa yang lain.

SREK.

Aku pun menghampiri ruang musik, di mana pertemuan tersebut biasa diadakan—walau informal. Aku lalu masuk, dan membiarkan pintu itu terbuka begitu saja. Aku lalu menaruh tasku di salah satu meja terdekat yang sudah tidak pernah dipakai, dan melihat ada sesosok gadis lain. Aku lalu menyapanya dengan wajah super malas, "… Hei."

"Tidak. Itu tidak cuma sapaan 'hei', oi. Aku tidak peduli dengan selera burukmu, tetapi bisakah tidak memakai orang untuk dijadikan topikmu?" Tiba-tiba seorang gadis yang berambut merah terang dengan sebuah pita yang melekat pada salah satu sisi rambutnya, menghadap pemuda suram dan tanpa masa depan itu dengan nada jengkel.

Aku pun memasang wajah senyum malaikat—oh, aku sungguh malas sekali memakai ekspresi yang satu ini, "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"

"JANGAN BERCANDA! JANGAN PURA-PURA NGGAK TAHU!" bentak sang gadis tersebut bertambah jengkel.

Sudah kuduga sih, B-ko bakal marah… Diam-diam aku menghela napas kesal, dan sama-sama jengkel dengan gadis tersebut. Kalian pasti tahu, sekarang di depanku adalah anak yang kali ini kujadikan sebagai topik—garisbawahi, topik pembicaraan hangat hari ini.

"Aku hanya bermaksud membuatnya menjadi gurauan kecil." kilahku menghela napas sedikit kesal dan pasrah.

"Ka-Kau berniat mengaku?!" sergahnya syok.

"Lihat, jika kau sedikit saja ceroboh, maka saat orang-orang melihat sisi elegan dan sederhanamu yang ini setiap hari, mereka akan berpikir bahwa kamu adalah si peniru." sahutku masih acuh tidak acuh dengan sikap B-ko yang berubah seratus delapan puluh derajat begini.

"A-Apa…?! A-AKu serius! Kalau kamu nggak menghentikannya, aku akan—!"

Seorang gadis—lain lagi—perlahan masuk ke ruang musik tersebut dengan tatapan keibuan, dan menyela pembicaraan tidak masuk akal dan tanpa arah mereka berdua, "Tapi… Kupikir B-ko-chan akan lebih manis dan cantik lagi kalau memiliki dua kepribadian ganda, hehehehe…"

B-ko dan A-ya berhenti bertengkar, dan menatap gadis yang berambut panjang dan berwarna biru secerah langit, berdiri persis di belakang pintu ruang musik itu. B-ko yang melihatnya, menghela napas dengan sedikit semburat merah di kedua pipinya seraya membantah perkataan gadis tersebut, "D-ne… Kalau kamu mengatakannya seperti itu, kau seperti mengatakan bahwa aku benar-benar memiliki kepribadian yang terbagi menjadi dua…"

"Yaaahh, itu saja sudah masuk akal 'kan?" sahut D-ne—nama gadis itu—tersenyum malu.

"Pfffttt." Aku pun hanya bisa tertawa di dalam hati.

Dan… Tiba-tiba ada seorang cowok—kali ini berambut sama seperti B-ko dan bermata heterokromik—bergabung dalam obrolan pembuka klub—ah bukan, lebih baik kalau ini disebut perkumpulan atau semacamlah—ini. Ia lalu bangkit dari bangku tempat ia duduk, dan menyambangi cowok suram itu dari belakang, "Haha, seperti biasa, B-ko punya perasaan khusus—eh sebaiknya aku bilang, sikap yang ramah ke D-ne, ya?"

B-ko meninggikan suaranya, dan mendengus sebal, "Diamlah, C-rou."

C-rou, nama cowok berambut merah terang itu, lantas meneruskannya, "Tapi bukan maksud A-ya untuk menceritakan kebohongan yang tanpa arti, benar kan, A-ya?"

Bah, kalau B-ko ditambah D-ne ditambah C-rou begini sama saja menyiram bensin ke api, kutukku bertambah kesal.

"Kan, B-ko punya dua sisi, sisi 'depan', dan sisi 'belakang'. Dia benar-benar seperti dua orang yang berbeda sih." lanjut C-rou 'mengkritik' B-ko, dan dibalas dengan tatapan maut awas-ya-elo-nya B-ko.

"Benar juga, dan itu sangat cocok dengan aktivitas kita kan?"

"… A-Apakah ini sebegitu berlebihannya…?"

Meskipun aku dan orang-orang ini tidaklah terlalu kompatibel—bahkan kami semua sampai sekarang masih 'orang asing'—kami memiliki sesuatu yang sama. Kami semua sangat suka dengan rumor yang sangat ekstrim. Kita hanya berkumpul di dalam gedung sekolah lama ini untuk mengobrol tentang urban legends dan hal-hal yang berbau occult, hanya itu saja. Kami tidak bersahabat bersama karena kami adalah teman baik atau apalah itu. Dan aku sudah merasa oke-oke saja seperti ini; tidak lebih dari seorang sahabat bagi mereka bertiga.

Menghela napas malas, aku menelungkupkan mukaku ke dalam lubang yang dibentuk dari kedua tanganku seraya mendesah lemah, "… Ngomong-ngomong. Aku sebenarnya memikirkan sesuatu ini belakangan."

B-ko yang menyadari suara keluhan yang oh-tidaklah-berguna ini, lalu menghampiriku dan bertanya dengan nada penasaran, "Apa itu?"

"Yaaa… Aku nggak tahu sih jika ini adalah fenomena tidak biasa atau tidak. Bisa jadi ini adalah hanyalah imajinasiku, tetapi… Saat aku bangun di pagi hari, aku merasa seperti… dilihat. Aku yakin aku bisa merasakan seseorang menatap aku." Aku menengadahkan kepalaku sedikit ke atas—walau tidak menghadap muka B-ko—seraya memijat dahi. Mereka mungkin menyadari kalau aku memperlihatkan wajah ngeri yang tak pernah kuperlihatkan kepada siapapun.

"Merasa dilihat, kau bilang… Apa kau yakin yang melihat itu hanya keluargamu?" tanya D-ne ikut menimbrung obrolan tersebut.

Aku pun merendahkan suaranya, "Kedua orangtuaku sudah pergi dari rumah pagi hari ini, jadi… Gimana menjelaskannya, ya. Aku merasakan seperti… Seseorang melihatku dari… belakang. Tapi ketika aku menolehnya, aku tidak menemukan siapapun di belakangku. Hal ini terjadi mulai belakangan ini, secara konstan."

"Sesuatu… seperti Zashiki-warashi?" tanya C-rou kali ini.

"Jika itu adalah Merry-san, maka yang dilakukannya pasti lewat handphone atau semacamnya, ya 'kan?"

"Mungkin."

Bahkan jika aku membicarakan hal yang seperti ini, mereka tidak akan berpikir kalau aku hanya bercanda. Itulah hal yang bagus dari mereka bertiga. Bahkan, mereka tahu bagaimana cara menikmati rumor-rumor tersebut. Itulah sebabnya aku merasa lebih enak berbicara dengan mereka bertiga—walau tidaklah sangat intens seperti halnya sahabat-sahabat di dalam film dan oh-apalah-itu.

"Dan satu lagi… Ada lagi yang terus kupikirkan belakangan ini, sih." tambahku seraya mengganti posisinya; aku kali ini membelakangi bangkunya dan menghadap ke sandaran punggung dan bersandar di atasnya, "Kalian punya ide dengan apa yang akan kubicarakan ini?"

"Beberapa hari yang lalu, B-ko, C-rou dan aku… kita bertiga bermain Kokkuri-san, ya 'kan?"

"Yeah." jawab C-rou dan B-ko bebarengan.

Aku pun meneruskannya, "Dan hari selanjutnya hingga detik ini… Ya, aku mulai merasakan tatapan seseorang yang ditujukan kepadaku. Makanya… Mungkin hal ini berkaitan erat dengan sesuatu—Bookmark of Demise. Inilah apa yang aku pikirkan…"

BA-DUMP!

BA-DUMP!

-xXx-

Kalian pasti belum pernah mendengar apa yang namanya Bookmark of Demise, ya 'kan?

Bookmark of Demise adalah rumor yang telah menjadi kenyataan; yang hanya diceritakan di gedung lama tempat aku dan tiga orang ini berkumpul. di mana semua urban legend di seluruh dunia sudah tertulis di situ, 'The Book of Demise'. 'The Bookmark of Demise' adalah sesuatu yang diselipkan di dalam The Book of Demise. Mereka sepertinya berada tersembunyikan di dalam suatu tempat di sekitar lingkungan sekolah tempat kami berada.

Dikatakan, sebuah urban legend yang di mana The Bookmark of Demise ditempatkan, akan berubah menjadi… kenyataan.

Di dalam gedung lama ini, yang sudah tidak dipakai lagi, kira-kira sepuluh tahun yang lalu telah terjadi suatu kasus yang tidak dapat dipahami—dan juga dijelaskan logikanya. Semua murid sekolah tempat kami berada pasti pernah mendengar cerita ini—paling tidak satu kali—tentang ini, selagi cerita ini sudah lama diturunkan sebagai cerita hantu. Kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi sepuluh tahun yang lalu? Itu adalah karena mereka telah mendapatkan 'The Bookmark of Demise'…! ! !

Kalau kupikir-pikir, bisa jadi karena ini, kami jadi tertarik ke rumor. Ngomong-ngomong, ini juga menjadi salah satu tujuan kami untuk menyelesaikan teka-teki 'Bookmark of Demise'. Saat kami melakukannya, kami menemukan sebuah buku kira-kira seminggu yang lalu. Sebuah buku pertukaran dari para murid yang tewas pada sepuluh tahun yang lalu itu… Ternyata, kelihatannya para murid tersebut terdiri dari beberapa siswa yang menyukai mengumpulkan berbagai urban legend, seperti kami.

Dicatat dalam buku itu, adalah banyak rumor yang berbeda dengan rumor-rumor di sekolah saat ini. Aku bahkan tak bisa mengingat betapa tertariknya aku sepanjang kehidupanku ini.

Apa yang ditulis dan direkam di dalam buku catatan itu adalah sesuatu yang sangat berharga; cara mendapatkan 'Bookmark of Demise' dan 'Book of Demise', dan langkah awalnya adalah—memulai permainan Kokkuri-san, sesuai dengan peraturan yang telah dituliskan di buku tersebut. Sayangnya, kami tidak bisa membaca catatan selanjutnya pada hari seusai mereka mendapatkan 'Bookmark of Demise' tersebut. Meski demikian, mereka memberikan kami bukti yang sangat kuat bahwa Bookmark of Demise dan Book of Demise benar-benar eksis.

Oleh karena itu…

"… Ngomong-ngomong, permainan Kokkuri-san yang kemarin gagal." ujarku.

"Ga… Gagal?" tanya B-ko sedikit merinding.

"Kita tidak berhasil mendapatkan Bookmark of Demise dan Book of Demise, ya kan?"

"Ya, itu benar, tetapi…"

"Meskipun kita tidak melakukannya sesuai dengan peraturan di dalam catatan itu, tetapi… lihat… Ayo lakukan Kokkuri-san itu sekali lagi." Aku pun berdiri dan mulai menyunggingkan senyuman lebar nan mengerikan; menunjukkan keseriusanku dalam hal tersebut.

DEG!

DEG!

DEG!

Sambil tersenyum mengerikan, aku mengatakan bahwa kami telah terlibat dalam suatu permainan—yang bisa dikatakan permainan yang paling mengerikan dan mematikan. Ya, terlibat dalam permainan yang dinamakan Demise Game

.

.

.

[ Adventure goes on ]


A/N (Mun) : Adakah di antara kalian yang sadar siapa sosok karakter KnB yang menjadi A-ya, B-ko, C-rou dan D-ne? Well, untuk yang C-rou jelas mudah ketahuan, tetapi satu hints, B-ko dan D-ne adalah versi genderbent-nya A-ya dan C-rou. Kalau nama mereka berempat... Aku malas. Kembali ke imajinasi gila Readers. /ditabok