"Meskipun kita tidak melakukannya sesuai dengan peraturan di dalam catatan itu, tetapi… lihat… Ayo lakukan Kokkuri-san itu sekali lagi."


Tidak ada yang tahu tentang itu. Dan benda yang itu sama sekali tidak boleh sampai ketahuan. Bahkan untuk sebuah 'Bookmark of Demise'. Jika buku kosong dan pembatas buku bergambarkan kucing itu sampai ditemukan dan saat itu buku tersebut telah dibuka, maka orang yang menemukannya akan terlibat dalam sebuah permainan yang berkaitan serta mengundang sesuatu yang mengerikan bernamakan kematian—Demise Game.

Dan dua benda itu tidak boleh sampai ditemukan

Sepuluh tahun yang lalu, beberapa murid yang telah mendapatkan dua benda terlaknat itu menemui ajal yang misterius dan menakutkan, dan seolah-olah mengulang kembali kejadian tersebut, kami masuk ke dalam ritual untuk mendapatkan Bookmark of Demise untuk kita bersama—teman-temanku. Mematuhi beberapa peraturan dan melakukan permainan Kokkuri-san

.

.

.

The Basketball Which Kuroko Plays ~ The Bookmark of Demise

© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃

Chapter : 2— Kodoku no Kakurenbo (2 - End)

Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki, Shuuen no Shiori Project © Suzumu dan 150P

Warnings : OOC, AU, Chara Death, dan sebagainya.

A/N (Mun) : Tarataraaa~ akhirnya kesampaian juga chapter 2! Selamat membaca. Dan buat Mugipyon, anda benaaar~! XD

(!) NOTE (!) : Di fanfik ini aku akan memakai penamaan yang sama seperti Shuuen no Shiori. Kita akan lihat karakter yang menjadi pemain dalam drama horor yang indah ini~ /ditabok

.

.

.

"Nah, ayo mulai."

"Semuanya, tolong letakkan telunjukmu di atas koin."

DEG. DEG.

"Kokkuri-san, Kokkuri-san, jika Anda datang, tolong jawab 'ya'."

DEG. DEG.

Koin itu mulai bergeser—tanpa ada siapapun yang dengan sengaja menggeserkannya.

"Hingga sekarang, ini masih sa-sama seperti sebelumnya." gumam C-rou pelan.

Waktu kami bermain Kokkuri-san terakhir kali seminggu lalu, kami terlalu takut untuk melanjutkannya, sehingga permainan tersebut terhenti hanya sampai di situ saja.

DEG. DEG.

"N-Nah, sekarang, tolong kembali ke gerbang." ujarku berusaha tenang.

Kali ini akan berbeda! Aku pun menyeringai tertarik, dan penuh adrenalin yang mengalahkan rasa takut dan juga menumbuhkan rasa penasaran yang sangat tinggi. Aku mengepalkan tanganku untuk sekedar menguatkan diriku bahwa apa yang akan kulakukan kali ini akan menuai hasil dan tidak seperti permainan sebelumnya.

Aku pun memimpin permainan ini, "Selanjutnya, semua yang ada di sini akan bertanya satu sama lain. Untuk memulainya, silakan bertanya kepadaku."

B-ko lantas mengajukan tangan kanannya, dan bertanya dengan gugup—yah, wajar, ini adalah kedua kalinya ia mengikuti permainan yang menakutkan tersebut, "A-Anuuu… Apakah makan malam A-ya kemarin itu terbuat dari daging…?"

"Apa-apaan pertanyaan itu?" tanyaku menaikkan satu alis.

"I-Itu hanya apa yang baru saja terpikirkan olehk—ah! Di-Dia mulai bergerak!" pekik B-ko pelan menatap perubahan posisi koin yang ditekan oleh dirinya dan A-ya.

"!"

DEG!

B-ko lalu ganti melirik A-ya, "Dia mengatakan 'ya'… Apa yang kamu makan kemarin, A-ya?"

"… Um, itu… Hamburger steak." jawabku pelan, seraya mengelus dada dan sedikit mengepalkan tangan kiriku yang memegang blazer seragamku. Serius, permainan ini… Sangat menyenangkan, namun juga menakutkan. Fufufufufu…

C-rou lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "… Hahaha… Jadi, itu benar? Hamburger steak, huh… Hamburger steak yang dijual di restoran yang dekat rumahnya A-ya rasanya enak sekali, sudah lama aku tidak berkunjung dan makan malam di sana."

"Kokkuri-san, Kokkuri-san, tolong kembali ke gerbang…" perintah kami pelan—mulai terlihat aura mengerikan yang mengelilingi kami.

Ini benar-benar mengerikan, oh ayolah. Aku kali ini bisa merasakannya bahwa aku benar-benar sedang dilihat dari belakang oleh siapa—entahlah seseorang itu. Mungkin B-ko, C-rou dan D-ne juga merasakan hal yang sama. Rasanya… Luar biasa. Ini benar-benar hebat, sekaligus berbahaya…!

Aku pun meneruskannya—kali ini tiba-tiba ada ide jahil yang menumpang lewat di kepalaku, "Lalu selanjutnya… B-ko. Naaahh… Apakah B-ko punya perasaan khusus kepada seseorang?"

"He-Hei! Apa-apaan pertanyaan itu? ! Ta-Tanyalah sesuatu yang bisa bikin Kokkuri-san tebak salah, dong!" sergah B-ko spontan menarik telunjuk kanannya dari koin tersebut, dan mendadak menggebrak mejanya dengan pelan, plus suaranya sangat serak—pertanda ia pasti takut dengan permainan ini.

"He-Hei, itu tidak bagus jika kamu tidak menenangkan diri…"

"…!"

Koin itu kembali bergerak, menuju ke jawaban 'ya'. A-ya, B-ko, C-rou dan D-ne menatap jawaban itu dengan reaksi masing-masing—A-ya masih malas mengomentarinya, B-ko merasa terpojokkan dengan sukses, C-rou memasang wajah pura-pura tidak tahu, dan D-ne membentuk 'o' besar di mulutnya.

Aku pun menatap kertas itu dan berkata dengan malas, "Jadi benar-benar 'ya', huh?"

"Hei! Jika kau akan bertanya, kenapa reaksimu seperti itu? !" sergah B-ko panik setengah mati sambil menarik-narik kerah seragam A-ya.

"W-Waaahhh! S-Saat aku berpikir berulang kali, sebe-sebenarnya aku tidak terlalu penasaran, jadinyaaa…" jawabku berusaha mengelak dari amukan kesekian kalinya dari hime ini. Namun… Ketika aku melirik kedua tangan B-ko yang ganti menarik dasiku, aku melihat dengan jelas… Kedua tangan B-ko bergemetar cukup keras. Sudah kuduga, kita semua merasa menggigil karena merasa dilihat oleh seseorang yang misterius itu, ya…

"… Ah, Kokkuri-san, Kokkuri-san, tolong kembali ke gerbang…" ujar kami makin pelan dan lirih.

"Selanjutnya D-ne. Ayo."

"Okay."

"—."

-xXx-

Setelah menyelesaikan permainan ini, kupikir… Kupikir kalau hari selanjutnya bisa berlangsung seperti biasa, namun… Aku merasa diperhatikan dan ditatap setiap hari, bahkan frekuensinya semakin sering. Membuatku semakin tidak enak badan, entah itu karena sesuatu—atau bisa kukatakan bahwa sesuatu yang salah telah terjadi. Entah, aku bahkan tidak tahu apakah penyebabnya… Aku pun mengurung diri di dalam kamarku, berusaha menenangkan diriku sebisa mungkin.

DEG. DEG.

GRIP.

Aku semakin menelungkupkan tubuh bagian atasku ke dalam kedua kakiku, membuatku terlihat seperti jongkok, dan juga telentang di balik selimut. Oh Tuhan, siapapun, hapuskan rasa gelisah dan janggal ini!

Apakah karena kami telah melakukan permainan itu kemarin…? Ta-Tapi… Kemarin kami melakukan permainan itu sesuai dengan apa yang tertulis dengan jelas dalam peraturan permainan Kokkuri-san di buku pertukaran dari para korban permainan ini sepuluh tahun yang lalu itu… Tapi… Kami akhirnya gagal untuk kedua kalinya… Dan bahkan mungkin ini adalah jalan yang paling menakutkan yang pernah kubayangkan selama ini…!

THUD!

GRASP!

*KLIK*

A-Aku butuh suatu keberisikan…! Aku butuh keberisikan—apalah itu! Suara apapun, tolong kemari ke sini…! I-Ini mulai menyerang tulang belakangku! Tolong…! A-Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! AKU TIDAK BISAAA…! ! !

Ahahahahaha… Ahahahahaha…

"BERISIKKKK! ! !" teriakku benar-benar panik—oh, sungguh demi apa, aku benar-benar panik…!

BRAAAKKK.

Aku menarik napas dan menghembuskannya secepat mungkin—sebisaku—sesering mungkin—oh tidak…! Aku benar-benar melempar habis remot TV-ku dan—dan—dan—oh Tuhan! Merasakan suatu kegelisahan yang semakin menakutkan dan mengerikan, aku memutar kedua mataku ke sisi kanan. Tidak ada siapapun. Aku pun beralih ke sisi kiri—tanpa menolehkan kepalaku sedikit pun—dan menemukan bahwa… Tidak ada siapapun di sana juga.

"Si-Sialan… Be-Berisik… Di-Diam…" cicitku kesal dan merasa terpojok.

Aku pun segera mengacak-acak rambutku. Oh Tuham siapapun, tolong… Tolong… Di-Dia me-melihatku—.

"JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! JANGAN LIHAT! ! ! ! !" seruku panik sambil berusaha menenangkan diriku sebisa—oh, kalau bisa, semampuku…!

THUD!

Aku segera menarik selimutku, dan kembali telentang dengan perasaan ketakutan yang makin menghebat dan bercampur aduk dengan dahsyatnya. Sungguh, jikalau kamu sampai merasakan hal seperti ini usai bermain Kokkuri-san, maka kalian akan kukutuki sampai tidak bisa bernapas barang sekali pun…!

A-Aku tidak bisa tidur…

A-AKu tidak bisa tidur…

A-Aku benar-benar tidak bisa tidur…!

.

.

"Hey! A-ya!"

Ketika aku dengan gontainya melepas sepatuku pada keesokan pagi harinya, kulihat cowok yang kemarin menyapaku. Aaaahhh… Menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan.

"Pagii~ eh? Ada apa?" tanya cowok itu penasaran, berusaha memperpendek jarak diantara dia denganku.

"Kamu kelihatannya lebih suram dari biasanya…"

Pluk!

DEGH!

Aku seketika menolehnya ke cowok itu—R-ya—dan melihat cowok itu sedikit kaget melihat reaksiku. Aaaahhh… Menyebalkan. Menyebalkan.

"Oh tidak… Apa kau baik-baik saja?" tanya R-ya cemas.

"A-Ah, tidak, hanya… Hanya saja…" Aku secara spontan berjuang mencari rangkaian kata yang pas untuk menyapa cowok yang oh-sangat-menyebalkan ini. Dasar, lihat-lihat dong keadaanku!

Hah? Aku baik-baik saja? Mana mungkin aku baik-baik saja! Dasar cowok kurang ajar! Dia mungkin ingin bertanya tentang apa saja yang dia inginkan—oh, sumpah, aku sangat membenci topik itu—seperti biasa, namun maaf saja! Hari ini aku mana bisa siap mendengarkan omelanmu yang oh-kurang-ajar seperti ini…! Kau tahu—.

Aku pun berusaha bersikap seperti biasa—walau benar-benar tidak bisa, "Kamu memerlukan sesuatu? Kau tahu, aku sedang tidak terlalu baik dalam mengurusi omel—."

Klang. Syuuussshh.

R-ya segera mengalihkan perhatianku dan berkata seraya menunjukkan bagian belakang—tepatnya di lantai, "Hei! Ada yang jatuh dari loker sepatumu, A-ya!"

"Eh?"

Apa yang dilihat A-ya dan R-ya itu adalah… Sebuah surat berwarna putih yang rapi.

Tidak salah lagi!

A-ya terkesiap kaget; matanya melotot tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Bayangkan, di dalam loker sepatu A-ya, di situ ada sebuah surat! Bukan surat yang spesial, karena surat itu benar-benar polos. A-ya yang kemarin baru saja bermain Kokkuri-san juga sangat mengerti satu hal yang sangat mengerikan: permainan terkutuk itu telah dimulai… Dan surat itu tak lain dan tak bukan adalah perintah Kokkuri-san…!

Perintah Kokkuri-san akan dikirimkan lewat surat…!

DEG!

DEG!

DEG!

"Ooh! Jangan-jangan ini… Surat cinta? !" seru R-ya penasaran.

"O-Oi, kembalikan—."

"Aku penasaran si pengirimnya~ ayolah, biarkan aku mengintipnya. Sekali aja nih~~" pinta R-ya penasaran.

Aku benar-benar kalang kabut. Bagaimana pun, hal ini harusnya dihentikan! Aku masih ingat betul salah satu peraturannya—orang luar yang tidak bermakin Kokkuri-san akan mati. Jelas, mana mungkin aku mau melakukan suatu perbuatan kriminal nan konyol begini. Kalau itu benar adanya, maka jika dia sampai membaca isi surat itu… Dan dia akan benar-benar mati. Itu pun jika surat itu benar-benar surat yang dikirimkan oleh Kokkuri-san itu…!

A-Apa yang harus kulakukan…? Ha-haruskah aku membiarkannya membaca surat itu—sekedar untuk memastikan bahwa surat itu adalah memang benar suratnya Kokkuri-san..?!

"… Aaahh… Ya sudahlah…" Aku pun menjawabnya dengan tersenyum secara terpaksa.

"Waaahhh, kau benar-benar laki-laki!" Seraya tersenyum lega, R-ya lantas membukakan amplop itu.

"Yaaa… Jangan bilang-bilang ke siapapunoke?"

"Aku tahu, aku tahu."

Aku menarik napas dan menahannya—seolah-olah melihat suatu eksekusi menakutkan yang ada di depan mataku. Aku harus tenang, dan mungkin aku akan disangka gila atau apa—pokoknya aku tidak mau dicap sebagai orang gila—aku terpaksa membutuhkan suatu 'sesajian' untuk memastikan keaslian surat itu. Aku, sih, berharap kalau surat itu hanyalah surat biasa—oh tidak, jangan mengait-gaitkan surat itu dengan surat itu—itu—ituuu—.

"… Apa ini…? !"

DEEGGHHHH.

A-Apa…? ! A-Apa yang terjadi sebenarnya? ! Tadi itu… A-Apa yang dia lakukan—.

R-ya segera melempar kertas tersebut, dan segera memutar badannya menuju ke suatu tempat. Aku berusaha menghentikannya, dan—dan—dan—.

Kejadian yang menakutkan itu kemudian terjadi pada siang hari, di mana dia dibunuh dengan cara kejam—dibelah tubuhnya menjadi dua. Aku percaya, kini semuanya telah menjadi sangat jelas. Dia membaca surat itu, isi surat itu terukir dengan sangat jelas dan mengerikan dalam mata madunya dia. Seperti yang telah dikatakan oleh Peraturan Kematian, karena dia adalah orang luar—yang bahkan tidak ikut bermain Kokkuri-san—dia harus mati! Ini sangat berhubungan!

Instingku mulai mengatakan bahwa masalah ini sungguh-sungguh nyata. INI ADALAH MASALAH BESAR…! !

-xXx-

Sekolah segera ditutup selama seminggu setelah insiden menakutkan tersebut.

Tapi dalam keadaan apapun, aku masih tidak mau bergerak ke mana pun. Sejak aku memutuskan untuk mengurung diri selama seminggu penuh di rumah tanpa keluar ke manapun, maka kedua orang tuaku mulai cemas. Beberapa hari itu, aku perlahan bertanya kepada diriku, lagi, lagi dan lagi. Apakah aku yang membunuh dia…? Apakah permainan mengerikan ini benar-benar eksis…? Itu—Bookmark of Demise! !

BLETAK.

Ketika aku memojokkan diri di salah satu sudut kamarku, aku melihat… A-Aku melihat… Sebuah buku berwarna hitam plus sebuah pembatas buku. A-Ah! ! !

Aku seketika menutup mulutku dengan kedua tanganku, dan benar-benar syok. Sebuah pembatas berwarna hitam pekat dengan seekor kucing hitam menjadi ikon pembatas itu, dan sebuah buku tebal dan berwarna hitam pekat, oh demi Tuhan—aku benar-benar tidak percaya…! Bookmark of Demise dan Book of Demise itu BENAR-BENAR EKSIS…! ! ! Sungguh, demi apapun—aku bahkan tidak mempercayai itu—dua benda itu benar-benar ada di depanku sekarang…!

"UWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA—! ! ! !"

Aku segera menarik selimut dan menyembunyikan diriku di balik selimut di atas ranjangku. Dalam otakku, seluruh emosiku memicu sebuah fenomena Gestalt-Zerfall Phenomenon.

"Tetap tenang… Tetap tenang… Tetap tenang… Tetap tenang… Tetap tenang… Tetap tenang… Tetap tenang… Tetap tenang…"

Aku terus mengulang-ulang dua kata dan sebelas huruf itu, kepada diriku, terus, terus, dan lagi, sepanjang waktu…

… Hingga berapa lama ya, waktu yang sudah kulewatkan? Aku bahkan tidak yakin lagi… Selama aku bersembunyi di balik selimutku, aku bisa mendengar suara rintikan hujan, dan… Sebuah cahaya kecil menyelungsup masuk ke dalam kamarku, tetapi seketika lenyap. Apakah itu petir? Aaaahhh… Apakah ini semua hanyalah mimpi? Aku pun akhirnya berhenti menyelimuti diriku, dan bangkit. Tidak ada gunanya berdiam diri dalam waktu lama, ya 'kan?

"x x x x."

DEGH!

"A-Apa…?"

Aku melihat sebuah TV di kamarku menyala dengan sendirinya. Aku segera menghalangi cahaya dari TV itu dengan tangan kananku, dan perlahan menyesuaikan diriku dengan pemasukan cahaya itu ke mataku. Aku benar-benar kaget—dan kalau boleh dibilang, syok—dengan menyalanya TV secara mendadak. Tidak lucu, kalau TV-nya mendadak menyala di saat aku sedang berusaha menenangkan diri dari serangan yang seperti ini? !

"Selamat malam. Ini adalah siaran khusus. Kami akan mengumumkan korbam-korbannya sejauh ini…"

Kalau kupikir-pikir, beberapa saat yang lalu—setidaknya beberapa hari yang lalu—ada siaran seperti ini di Internet. Sebuah siaran khusus yang akan menyiarkan daftar korban-korban yang sudah meninggal, dan juga korban-korban selanjutnya. Sangat tidak lucu dan terasa… Menyebalkan, ya kan?

"… Orang yang melihat HP-nya di saat ia sedang berjalan…

Orang yang menyimpan boneka kucing di kamarnya karena terlalu kesepian…

Orang yang merasa puas setelah berjalan sepanjang sepuluh ribu langkah…

Orang yang mengintip isi surat seseorang…

Selanjutnya, kami akan membacakan daftar korban yang selanjutnya. Berikutnya…"

Serius, ini benar-benar tidak bercanda. Aku benar-benar kesal dan ketakutan. Kenapa sih, siaran itu membuat bulu kudukku berdiri? ! Aku lantas mendesah ketakutan—selagi aku menahan napas, "Ma-Makanya… Kenapa…?"

"Orang yang mengatakan secara langsung kepada seseorang karena penasaran,

Orang yang menolak perintah yang dititahkan,

Orang yang membolos sekolah dan bermain sendiri sepanjang hari,

Dan orang yang bermuka pucat pasi di saat-saat ini."

DEGHH!

"… Korban-korban keesokan harinya adalah orang-orang yang ini. Kami doakan kebahagiaanmu di dunia yang lain… Selamat malam."

SYUUUUSSH!

Semilir angin yang keras meniup jendela yang ternyata belum ditutup, menyingkapkan isi buku berwarna hitam yang dibiarkan tergeletak begitu saja. Halaman demi halaman ditiup oleh angin itu, dan perlahan berhenti pada salah satu halaman yang ternyata sialnya sudah diselipkan oleh pembatas buku yang cantik nan mematikan itu—menampakkan beberapa kalimat. Aku pun meliriknya dengan takut, dan mendapatinya di situ ada tulisan sebagai berikut—"One Man Hide and Seek. Author : A-ya."

Aku membiarkan mulutku ternganga lebar, dan mengejanya dengan suara yang sangat serak, "One Man Hide and Seek...? Namaku…"

Besok akan menjadi minggu depan, karena aku sudah menerima surat yang terkutuk itu.

"Fu… Fufufufu…"


Ingatlah peraturan berikut : Kamu diizinkan untuk memenuhi permintaan Kokkuri-san selama seminggu.


"Fufufufuhahahahaha! Aku akan melakukannya! One Man Hide and Seek!" Sembari berdiri seraya membawa buku berwarna hitam yang menjadi terdakwa sebagai Bookmark of Demise dan Book of Demise, aku mengatakannya demikian dan mulai memantapkan diri untuk melakukan permainan menakutkan ini—ayolah, kamu tidak mau dirimu dicabut nyawa oleh seseorang yang tidak kamu kenal—bahkan jika dalam skenario terburuk, hantu dari mitos yang kamu baca di buku itu? ! Tidak, kan?

Jika aku merencanakannya dengan baik dan hati-hati… Aku tidak akan mati…

Aku akan melakukannya, atau aku akan dihina jika aku mati sekarang…!

-xXx-

Peraturan dalam bermain One Man Hide and Seek sudah tertulis dengan jelas di dalam surat yang kuterima tersebut. Pertama-tama, aku harus menyediakan boneka dengan anggota badan yang lengkap. Aku ingat, aku pernah memiliki suatu boneka—ah ketemu. Aku mengambil sebuah boneka usang berwujud seekor beruang cokelat yang populer dengan nama kecilnya—Teddy Bear. Kedua, aku akan mengambil nasi yang sudah dimasak.

Dan ketika aku menuruni tangga untuk mencari nasi yang mungkin masih dipakai—aku tiba-tiba menyadari adanya tatapan mengerikan yang datang entah dari mana! Ugh… Tangan kiriku tiba-tiba saja bergemetar dahsyat… Sakit sekali rasanya…

"… Lagi? Sialan…"

Aku pun lalu mengumpulkan persyaratan ketiga: air garam, sebuah jarum jahit dan benang merah, gunting dan beberapa cutter. Aku lantas mengumpulkannya di satu tempat—di atas meja makan—dan ritual sebelum dimulainya permainan ini dimulai. Pertama-tama… Aku harus menggunting perut boneka itu dan menggantinya dengan nasi yang sudah kusiapkan. Hih, mengerikan…

CKRIS CKRIS CKRIS!

Ini seperti adegan di bioskop di mana sesuatu—bahkan perut manusia sendiri—bisa dipotong dengan mudahnya… Tapi apa aku akan memasang muka yang seperti ini, sekarang…

Jari-jari tangan kananku dengan gesit membuang isi perut boneka usang itu dan menggantinya dengan nasi dan beberapa potongan kuku jariku. Setelah memasukkannya, aku lantas memasukkan benang merah itu di dalam lubang jarumku, dan menjahitnya dengan sedikit tidak rapi dan menyilang. Setelah selesai, aku menatap boneka itu sekali lagi. Mirip dengan pembuluh darah sungguhan… Sungguh menjijikan bagiku.

Dan aku harus membawa air garam yang disediakan dalam gelas ke tempat sembunyiku…

… Hingga aku lupa menamai boneka yang menjijikan ini. Kalau kupikir-pikir, aku belum memberi nama boneka menjengkelkan ini… Ah. Pakai saja nama cowok yang itu.

Aku membiarkan TV nya menyala di lantai satu—sebuah persyaratan lain; semua listrik di rumah harus dimatikan kecuali TV. Dan harus dilakukan di sore hari—kira-kira jam dua sampai jam empat. Jika kamu terus melakukan permainan ini selama lebih dari dua jam, maka kamu tidak akan lolos dan akan… mati. Nah semua persiapan sebelum permainan ini dimulai… sudah selesai. Hah. Aku lalu celingak-celinguk ke sekitarnya, memastikan bahwa tidak ada siapapun di dalam rumah yang kosong ini.

Aku pun lalu berjalan menuju ke kamar mandi—lebih tepatnya ke sebuah bak besar yang kosong. Aku mengisi bak itu dengan air yang sudah ada di dalam keran, dan menunggunya hingga hampir penuh. Setelah beberapa sekon kemudian, aku lalu mengulum senyuman mengerikan—lebih tepatnya senyuman seseorang yang sedikit, tidak, sangat ketakutan, "… Ayo mulai."

"A-ya menjadi orang pertama yang menjadi 'itu'.

A-ya menjadi orang pertama yang menjadi 'itu'.

A-ya menjadi orang pertama yang menjadi 'itu'.

A-ya menjadi orang pertama yang menjadi 'itu'—."

SPLAAASSSH!

Aku pun menenggelamkan boneka itu ke dalam bak tersebut. Aku menunggunya hingga boneka itu benar-benar tenggelam di dalam bak itu, dan menutupnya dengan penutup bak yang berbahankan kayu. Ingat, persyaratan ketiga, bonekanya harus sudah tenggelam dalam bak.

Aku benar-benar tidak bisa berpaling dari permainan ini, huh…

Aku pun lalu berpaling dari bak mandi itu, dan mematikan lampunya serta menutup pintunya. Langkah kakiku membawaku kembali ke meja makan yang benar-benar kosong. Aku pun menarik kursiku, dan duduk di sana dengan tenang—salah, masih bergemetar walau dalam frekuensi yang kini melambat. Aku menarik napas dengan pelan. Ingat, persyaratan selanjutnya adalah tutup matamu rapat-rapat dan hitung mundur.

"10… 9… 8… 7…"

Hening.

"… 6… 5… 4…"

DEG.

"3… 2…"

DEG.

"…1…"

DEG.

"… 0… Apakah kamu sudah siap?" ujarku entah ke siapa.

DRAP!

Aku seketika membanting kursinya—bah, aku tidak peduli—dan berlari secepat kilat. Pokoknya, aku harus berlari cepat menuju ke kamar mandi yang tadi. Aku mendobrak pintu dan membantingnya dengan sangat keras, dan segera menghampiri bak mandi dalam hitungan kurang dari sedetik. Aku segera membuka penutup baknya, dan mengambil boneka itu dari dalam bak itu, dan segera mengeluarkan jurus pamungkas—sebuah cutter.

Aku lalu mengangkat cutter yang berada dalam genggaman tangan kananku, dan… ZLEB!

Aku menusuk perut boneka ini!

Menghela napas setengah ketakutan dan setengah puas, aku terduduk dengan lemas seraya menarik napas secara terburu-buru, "Fuuu… Fuuu… Fuuu… Fuuu… Fuuu…"

Masih terseok-seok mengambil oksigen selanjutnya, aku pun meneruskannya, "… Selanjutnya adalah giliran XXX menjadi 'itu'. Selanjutnya adalah giliran XXX menjadi 'itu'. Selanjutnya adalah giliran XXX menjadi 'itu'. Selanjutnya adalah giliran XXX menjadi 'itu'. Selanjutnya adalah giliran XXX menjadi 'itu'…"

DRAP DRAP DRAP.

Aku segera berlari kemari menuju ke tempat bersembunyiku. Tanpa peduli pada apapun—pokoknya apapun, aku hanya ingin menyelesaikan satu tujuanku selama bermain One Man Hide and Seek ini.

Menangkap dan membunuh si Pengkhianat dan Fox itu.

.

.

Aku meringkuk dengan ketakutan di dalam tempat persembunyianku.

DEG!

Apa sih, poin sebenarnya dari permainan tidak jelas ini? ! Pertama, siapa sebenarnya sang Pengkhianat? ! Permainan itu tidak seharusnya dimulai di saat seperti ini…! Lalu, kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Apa letak kesalahanku? ! Permainan ini… Hanyalah… Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?!

DEG!

DEG!

tidak ingin untuk mati…

Aku pun lalu meraba cutter yang seharusnya ada bersamaku—entahlah, aku bahkan tidak ingat di mana aku meletakkannya! Aku lantas menggumamkan dengan pelan, "Aku harus menemukan boneka sialan itu… Ah, aku lupa menaruh air garam di mulutku, huh. Haaahhh…"

Aku lalu memasukkan air garam itu di dalam mulut—ingatlah, tidak untuk menelannya. Persyaratan terakhir, kamu harus memasukkan air garam secukupnya di dalam mulutmu, dan tidak untuk menelannya. Andaikata ada seseorang yang menemukanmu, lekaslah menyemburkannya ke muka seseorang itu, dan tusuknya sebanyak mungkin! Tetapi cara yang paling ampuh itu adalah membakar tubuh tersebut.

Tap.

DEGHH!

Langkah kaki…? !

DEGH!

Bah-Bahkan di sini hanya ada aku; tidak ada siapapun di rumah ini selain aku! Tetapi… Tapi… Kenapa…? ! Kenapa aku bisa mendengar suara sesuatu itu? !

Tap.

Langkah kaki itu semakin dekat…!

menjauhlah…!

Tubuhku bergemetar; oh demi Tuhan. Apa ini? ! Seseorang, tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Aku bisa merasakannya, aku akan menjadi gila! Ah tidak! A-Aku harus menyiapkan senjata pa-pamungkasku, atau tidak—… Pokoknya… Aku harus menyiapkan senjataku! Aku lantas berjongkok di dekat tembok tempat persembunyianku di dalam rumah ini, dan berjuang mempertahankan kewarasanku. Demi apa—.

Langkahnya menghilang…? Terlalu tenang…

Aku pun memeluk diriku sendiri—oh, betapa pengecutnya aku. Badanku bergemetar dengan dahsyat, tidak menyangka betapa menakutkannya sensasi yang menyerang diriku selama bermain permainan yang sangat tidak etis ini—oh, permainan yang tidak diketahui asal usulnya ini.

KRIEK.

Aku lalu mengintip sosoknya dari sudut kedua mataku, dan perlahan… Aku sangat syok.

DEGGHHH! ! ! !

Sosok itu berada tepat di depanku, dan aku masih mematung dengan heningnya di depannya. Menyadari sosok itu… A-Aku langsung berteriak sekuat tenaga—segenap jiwaku, melalui mulutku yang mengejakan kalimat dengan susah payahnya, barang hanya sekalimat saking kelunya, "Kena…—"

"—KENAPA KAAAAUUUUU YANG—! ? ! ? ! ? ! ? !"

"—KUTEMUKAAAAAAA~AN KAMU."

ZLEEEEEEEEEEEEBBBB.

.

.

.


"... Ini adalah berita sekilas. Hari ini, di salah satu kota dalam prefektur XX, mayat seorang siswa laki-laki telah ditemukan. Mayat anak laki-laki tersebut ditemukan di dalam kamarnya, dengan luka tusuk di tubuhnya disebabkan oleh sebuah pisau. Korban ditemukan dengan sebuah handphone digenggam dengan erat pada tangan kanannya. Informasi tambahan, korban pembunuhan misterius yang terjadi beberapa hari yang lalu di sekolah ternyata merupakan temannya korban yang ini—."


Seseorang tersenyum licik mendengarkan berita tersebut.


"—Polisi menduga si pelaku kejahatan melakukan pembunuhan terhadap dua korban ini. Sebuah investigasi sedang dalam proses—."


KLIK.

.

.

.

Selanjutnya adalah giliranmu

[ Kodoku no Kakurenbo Arc – End. Adventure goes on ]