MISS OFICE GIRL TAJIR
Summary : Naruto jadi most trouble di kantor, bersikap seenaknya sendiri, bikin perusahaan Uchiha kocar-kacir. Para direktur pun sepakat menendang gadis itu bulan ini juga apapun alasannya sebelum PH Uchiha entertainment bangkrut. Berhasil nggak ya misi mereka.
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Family dan Drama
WARNING
Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.
Pair :Sementara belum ada
Author Note : Sory banget fic ini lama update. Lagi macet ide karena bikinnya dadakan sebagai respon fic yang author ingin muntah bacanya. Masa kisah perselingkuhan berakhir happy ending sedangkan yang diselingkuhi hidupnya nelangsa. Jijik banget bacanya. Jadi pesannya ayo selingkuh jika pernikahan tak bahagia. Selingkuh nikmat gitu? Itu sih tulisan sampah. Maaf bagi yang tak suka. Tapi coba rasakan kalo missal kamu yang diselingkuhi orang yang kamu cintai apapun alasannya, pasti sakit sekali.
Buat Fuyu no Hana dan the guest yang author nggak tahu namanya: maaf jika ada diksi yang dirasa tak pas. Waktu itu bikinnya dadakan mumpung ada ide. Jadi editing lost control. Itu fic bikin 2 jam langsung publish, nggak pake baca teliti, sekilas aja. Terima kasih untuk masukannya.
.5 : iya nih papi Mina nggak modal banget. Kaya tapi kere. Di sini Temari bukan sodara Gaara. Soal kakak-kakak Naruto belum kepikiran, tapi yang jelas bukan Deidara. Ada yang mau usul? Apa yang bikin Sasu takut ama Naruto? Coba tebak? Masih belum bisa diungkap di chap ini. Tapi Ai kasih bocoran, itu sesuatu yang paling cowok straight takuti.
Gues : Ini no yaoi. Dah ada di warningnya.
Bagi yang reques SasufemNaru kayaknya nggak bisa Ai layani, karena feelnya nggak dapat. Lagian semua cowok di tempat Naruto kerja itu bajingan semua kok, yang masih abu-abu itu Gaara. Tapi author pertimbangkan. Ntar deh bakal author kasih bocoran alasan utama Naru kabur, semua ini karena para Namikaze ini dikutuk tak pernah sukses dalam percintaan. Terakhir OK chekidot
Don't Like Don't Read
Chapter 3
Kiba mendobrak brutal pintu ruang kerja Sasuke, menimbulkan kedutan samar di pelipis Sasuke. Untung Sasuke masih berdarah Uchiha yang terkenal dingin, tak gampang mengumbar emosi di depan public, jika tidak? Mungkin kursi yang saat ini diduduki Sasuke akan mendarat dengan manis di tubuh si maniak anjing ini.
"Tak bisakah elo ngetuk pintu dulu sebelum masuk? Elo pikir gue criminal sehingga elo bisa seenak udelnya dobrak pintu ruang kerja gue." Kata Sasuke ketus yang dibalas dengusan Kiba. Doski nggak perduli dengan amarah Sasuke yang terkadang kayak iblis, apalagi nasib si pintu. 'Bodo amat.' Pikirnya.
Sasuke yang duduk di kursi kerjanya hanya mampu menghela nafas panjang, meredakan emosi yang nyaris meledak akibat ulah brutal Kiba. Ia tahu hanya sekali lihat wajah Kiba, pasti ini urusannya bakal panjaaaang banget. Jangan harap ia bisa tenang kerja kalo Kiba yang saat ini udah seperti gunung Sinabung siap memuntahkan lahar panas, berhasil dijinakkan. Padahal ia ingin segera pulang ke apartemen untuk istirahat melepas penat. Ia memijat urat-urat syarat di kepala yang kaku akibat setres yang menderanya.
"To the point saja. Apa yang mau elo katakan?" Tanyanya kemudian pasrah melewatkan waktu istirahatnya yang berharga.
Kiba dengan tak sopan berdiri, entah kapan dia duduknya, tiba-tiba aja dia udah nemplok di kursi depan Sasuke tanpa dipersilakan lebih dulu. Ia menggebrak meja Sasuke kuat-kuat, menyalurkan emosi terpendamnya. "Gue mau elo pecat Naruto."
"Kenapa emangnya?" tanya Sasuke lelah.
"Dia itu nggak becus kerja. Kerjaannya hanya molor sepanjang hari, bahkan ini lebih parah dari Shika. Dia juga mencoret semua artis yang gue rekomendasikan, tanpa alasan yang jelas selain dua kata 'Dia failed'. Gue nggak terima. Sekarang elo pilih. Elo pecat dia, atau gue yang angkat kaki." Ancam Kiba serius.
"Idem. Gue setuju usul Kiba." Kata Neji yang entah kapan masuknya diiringi Shika dan Gaara. "Dia itu hanya parasit. Bukan hanya karena dia perempuan. Tapi karena dia nggak professional. Dia itu beban bagi perusahaan ini." Lanjutnya.
"Emang apa yang dia lakukan sampai bikin elo semua marah? Molor juga?" Tanya Sasuke masih setia memijat pelipisnya yang berkedut, pusing.
"Nggak, lebih buruk dari itu. Gue ngerti kalo kaum hawa senang belanja, cuci mata, tapi jangan dilakukan di jam kantor dong. Mana belanjaannya banyak banget pula. Dia maksa gue jadi pesuruhnya yang harus bawa ini itu. BT."
"Naruto mangkir kerja dan shoping ?" Tanya Sasuke menegaskan. Kali ini beneran dia harus mengucapkan selamat tinggal dengan kasurnya yang empuk untuk mengatasi masalah bawahan kepercayaannya ini.
"Ya. Tiap diajak survey lapang, kerjanya itu shoping, ngobrol ngalor ngidul nggak jelas dengan orang-orang di sekitar lokasi." Adu Neji. Ia bersedekap untuk mengurangi rasa emosi. Jika meledak kan dia bisa ngancurin ruangan ini jadi kayak kapal pecah.
"Elo, Gaa?" Tanya Sasuke.
"Gue nggak keberatan dengan karyawan yang ingin ruang kerjanya dibuat beda. Karena itu gue bersusah payah bikin ruangan seperti yang dia mau, meski itu terlihat nggak sesuai selera gue. Gue ngalah kalo itu demi kebaikan perusahaan. Tapi dia bener-bener…." kata Gaara tenang sebagai prolog, lalu Gaara terdiam, menghela nafas panjang dan memejamkan kedua bola matanya.
Tepat saat membuka kedua bola matanya, tatapan datarnya berubah menjadi dingin. "Dia itu pingin minta dibecek-becek kayak saos sambal kali ya." Kata Gaara dingin saking keselnya. Urat-urat kemarahan jika bisa dilihat, mungkin sudah ada enam atau bahkan lebih menghiasi wajah tampannya.
"Dia bikin masalah apa lagi?" Tanya Sasuke lirih memberanikan diri. Dia sampai kesulitan meneguk ludah begitu juga dengan Kiba dan Neji, abaikan Shika yang molor di sofa, saking horornya wajah Gaara saat ini.
"Dia nggak pernah ada di ruangan. Kerjaannya always di pantry. Kau tahu apa yang bikin aku kesel waktu ku tanya 'kenapa?' padanya"
"A-a-apa?" tanya Kiba.
"Alasannya 'Dah PW'. Udah gitu..." kata Gaara sengaja dipotong biar tambah dramatis.
"Udah gitu apa?" tanya Neji penasaran.
"Udah gitu, kalo diskusi ama dia selalu saja di pantry dan dia bukannya merhatiin aku malah sibuk bebersih, bawa kemoceng di kanan dan lap di kiri. Risih liatnya."
'Pantas saja Gaara marah. Dia kan paling benci dengan orang yang mengabaikan dia. Dasar Naruto bego.' Batin ketiganya.
"Elo Shika. Elo diapain ama…." Kata Kiba terhenti saat membalikkan badan ternyata Shika…. Brrrr. Tubuh Kiba bergetar emosi. Dia langsung mengambil bantal yang dipake Shika kasar dan memukulnya dengan bantal. "Bangun loe. Molor mulu. Elo pikir ini hotel?"
"Adududuh Kiba. Please biarkan gue tidur sejenak. Gue ngantuk."
"Makanya jangan kebanyakan main, jadi ngantuk kan. Dasar nggak professional, tukang molor kayak Naruto."
"Jangan sebut nama itu lagi di depanku!" Bentak Shika marah. Dia berdiri dari duduknya. Hilang sudah kantuknya. Ia jalan mondar-mandir karena gusar. Ia balik arah dan menghadapi keempat temannya dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kursi.
"Eneg gue dengernya. Dan asal elo tahu gue ngantuk bukan karena main. Bahkan dah seminggu ini gue puasa bercinta gara-gara cewek sialan itu." Sembur Shika memuntahkan isi hatinya akhirnya.
"Wow, itu sesuatu sekali. Seorang Shika tahan nggak ngelakuin 'ehem ehem' demi seorang cewek? Elo beneran kecantol dengan cewek it... Adududuh. Apaan sih?" kata Kiba terhenti karena Shika melempar bantal tepat mengenai mukanya.
"Ya jujur gue emang sempat tertarik ama dia, secara dia itu kawai, bodynya bak gitar spanyol. Tapi gue nggak tergila-gila padanya hingga mau berkorban sebesar itu."
"Lalu?" Tanya Gaara penasaran.
"Dia itu selama di kantor nyuruh gue ini itu, minta laporan perusahaanlah, memperbaiki proposal gue berulang-ulanglah. OK gue terima itu. Secara professional gue kerjain semua, meski hati ini gondok setengah mampus. Tapi masa di luar kantor gue juga mesti berurusan dengan dia mulu." Kata Shika kesal, teringat semua peristiwa tak menyenangkan selama seminggu ini.
"Di restoran, di bar, di kafe, di mall, bahkan waktu mau check in di hotel pun selalu ada dia. Naruto ada dimana-mana. Itu bikin mood bercinta gue hilang seketika. Gue setres seminggu ini junior gue nggak dapat jatah. Kalo di kantor nggak bisa bercinta minimal di luar kantor ya jangan dihalangi dong." Kata Shika frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya yang biasanya rapi diikat tinggi. Kayaknya dia yang paling apes deh. Mungkin sebentar lagi mereka bakal menjenguk rekan kerjanya ini di RSJ jika dia tak diselamatkan dari Naruto.
"Tuh kan. Apalagi yang elo tunggu. Pecat dia sekarang juga." Kata Kiba yang diamini semuanya.
"Gue nggak bisa mecat dia. Kalian tahu itu." Ia mengangkat sebelah tangan ke atas menghentikan protes teman-temannya. "Dia kerja di sini hasil bujukan tou san. Dia pasti bakal mengaum, menerkam semua orang kalo kita mengutak – atik posisi Naruto. Yakin deh elo nggak bakal ingin lihat itu."
"Gue ngerti. Tapi dia itu merusak ritme. Kalo dibiarkan perusahaan bakal tinggal sejarah."
"Gue tahu itu tapi…" kata Sasuke dintrupsi suara ketukan pintu. Tok tok tok "Masuk." Kata Sasuke. Lalu dari balik pintu nongolah Naruto, orang yang jadi topic pembicaraan mereka. Ia mengenakan baju kerja. Roknya yang berwarna biru tua polos selutut dipadukan dengan blaser warna putih dan jas warna biru tua pula. Dia terlihat sangat kawai dan professional tak seperti yang digambarkan keempat rekan kerja Sasuke.
"Wah kalian ngumpul di sini juga? Kebetulan jadi kita bisa langsung rapat kecil saat ini juga." Kata Naruto membawa map. Ia duduk di samping Kiba, Neji dan Gaara duduk di sofa.
Mereka serempak membaca map yang diberikan Naruto pada Sasuke karena selain pada Sasuke ia juga membawa beberapa kopian yang akan diserahkan pada mereka juga.
"Hmmm, ini aneh. Kenapa lokasinya bukan yang biasa kita pake syuting?" kata Shika sok resmi karena ini sudah di luar komunitas kecilnya. Dalam hati dia batin 'Ini kan tempat-tempat yang dulu gue datangi bareng cewek gebetan gue dan terpergok Naruto. Ini itu murni bisnis apa dia ada niat ngerjain gue sih?' batin Shika.
"Ada beberapa alasan. Pertama hemat anggaran. Aku udah nego dengan pemiliknya, ia bersedia memberi harga miring karena kebetulan mereka lagi butuh promosi gratisan. Kedua lokasinya menurutku lebih sesuai dengan yang digambarkan diskenario dan yang diinginkan sutradara. Ketiga, sekalian kita promosi keindahan Tokyo yang ditawarkan. Ada banyak sudut menarik yang bisa kita ambil sehingga feel romancenya bakal lebih kerasa. Keempat, tempatnya nggak begitu jauh dengan lokasi terdahulu kok, hanya geser sedikit."
"Kamu dah konsultasi dengan sutradara dan stafnya?" tanya Shika lagi.
Naruto mengangguk. "Ya, dan mereka juga sepakat."
Shika mengangguk puas sedangkan Neji pundung di pojokan sambil komat-kamit tak jelas eh salah ding. Dia hanya merunduk tak jelas apa yang dipikirkannya saat ini. Dia merenungi kenapa semua tempat yang dia rekomendasikan dicoret. Naruto jadi merasa tak enak hati.
"Maaf Neji, tapi lokasi yang dulu kita survey itu sangat tak cocok dengan tema film kita. Tempat itu bagusnya untuk film dewasa romantic soalnya maaf terlalu glamor sedangkan film yang akan kita produksi berlatar belakang remaja."
"Tahu darimana?" cerca Neji.
"Aku sudah survey selama beberapa hari ini, lokasi yang biasa dijadikan cewek remaja kongkow itu memang kawasan itu, tapi bukan lokasi yang biasa kita pake. Tepatnya di sisi sebelahnya kira-kira jaraknya 100 meter.
"Aku mengerti." Kata Neji singkat. 'Sial, gue kalah cepat. Emang lokasi yang dipilih Naruto jauh lebih mendukung cerita film, daripada lokasi yang gue pilih.' Batinnya.
"Kenapa di daftar ini tak ada nama Karin?" Tanya Kiba sambil menggebrak meja, menggebu-gebu.
"Kenapa? Tentu saja karena dia tak layak. Aktingnya buruk."
"Siapa bilang? Dia itu tambang emas kita. Film yang dibintanginya selalu meledak di pasaran."
"Kita tidak sedang membuat film BF. Kalo tujuan kita 'ITU', ya artis yang kau bilang itu sangat cocok. Tapi sayangnya saat ini film yang kita tangani tidak BF."
"Apa maksudmu?" tanya Kiba penuh penekanan.
"Dia berakting layaknya pelacur murahan, hanya bisa pamer bodynya. Padahal yang kita butuhkan seorang aktris yang berperan sebagai agen cantik, seksi, dan cerdas yang harus menyamar jadi murid. Ketiga criteria ini tak ada padanya."
"Jaga ucapanmu." Tegur Kiba. 'Dia itu ceweknya Sasuke, bos kita tahu. Elo bisa lewat kalo berani ngutak atik dia.' Tambahnya dalam hati.
Naruto mengangkat bahu. "Itu kenyataannya." Kata Naruto tanpa beban.
"Emang elo tahu apa? Kerjaan elo molor mulu." Sindir Kiba sengaja.
"Karena aktingnya sangat buruk, bikin mata gue sakit. Mending gue tidur, daripada liat cewek yang berlagak seksi." Kata Naruto sudah berani ber gue elo karena terpancing emosi.
"Terus Tayuya, aktris kelas bawah yang nggak ada menariknya ini lebih pantas begitu?" Cela Kiba. 'Cocok dari mananya? Bodynya kayak papan tripleks, nggak ada lekuk-lekuk menggiurkan gitu.' Tambahnya dalam hati.
"Menurut gue, 'Ya'. Dia itu smart, wajah menarik dan sedikit misterius dari senyumnya. Pas sebagai agen yang menyamar jadi remaja pengikut geng motor."
"Well, gue tidak setuju. Tokoh utama ini selain smart juga seksi, sedangkan dia tidak ada unsur seksinya. Menurut gue, Karinlah yang paling pas memerankanya."
"Siapa bilang? Tayuya jauh lebih seksi daripada Karin. Dia tahu kapan saatnya menampilkan keseksiannya dan kapan harus tampil smart. Sedangkan Karin hanya bisa pamer tubuh dan maaf kegenitan." Kata Naruto tenang.
"Kurang ajar loe?" tunjuk Kiba berdiri, tersulut emosi.
"Bagaimana kalo kita battle?" Tawar Naruto tenang.
"Sepakat. Gue harap kali ini elo tak tidur."
Naruto tersenyum. "OK. Besok kita panggil mereka berdua untuk tes terakhir. kalian saksinya."
"Well semua sudah clear. Jadi kalian bisa kembali ke ruang kalian masing-masing." Kata Sasuke.
"Bagaimana denganku?" tanya Gaara tak puas.
"Selain Gaara, kalian boleh kembali." Mereka menganggukkan kepala puas. Satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan hingga hanya tersisa Gaara. Ia melihat-lihat ruangan Sasuke yang terlihat tak biasa, lebih bersih, kinclong dari hari-hari sebelumnya. "Ruangan loe bagus. Gue sampai pangling."
"Soal hobinya yang seneng di pantry, biarkan saja." kata Sasuke tak memperdulikan komentar Gaara.
"Tapi.." protes Gaara dihentikan Sasuke.
"Gue diberi tahu Tou San. Naruto itu punya kelainan. Dia senang bebersih kayak pembokat. Karena itu dia pasti lebih nyaman kerja di pantry daripada ruang kantor. Jadi biarkan saja."
Gaara tercengang, ada ya cara pelepas setres kayak gitu. Ini bener-bener hal paling aneh yang pernah dia denger, tapi nyata. Kok nggak elit gitu ya, hobinya. Pantas ruangan Sasuke juga para direktur lainnya jadi jauh lebih clean semenjak Naruto di sini. Mungkin dia sepenuh hati bersihinnya karena diam-diam Gaara tahu seberapa kesalnya Naruto pada Sasuke dkk, meski dia tak tahu alasannya apa. "OK akan gue coba tutup mata selama dia tidak keterlaluan." Kata Gaara sebelum pamit.
Sasuke hanya berdehem 'Hn' sebelum merapikan tempat kerjanya karena dia mau pulang istirahat.
SKIP TIME
Hasil battle menunjukkan Tayuya menang. Dia paling pas memerankan karakter Maiko Kitagawa. Dia bisa menunjukkan sisi seksi yang elegan alih-alih seronoksi Maiko, tapi tetap smart di satu sisi. Tokoh Maya tampak hidup saat dia memerankannya, seperti apa yang diinginkan si pembuat scenario.
Pilihan Naruto tepat. Film yang dibintangi Tayuya si bintang baru meledak di pasaran. Ini berimbas bagus pada image perusahaan Uchiha yang selama ini dipandang sebelah mata, hanya bisa bikin film bernuansa erotis saja. Pundi-pundi uang pun bertambah seiring dengan banyaknya tawaran proyek.
Tayuya sendiri senang diberi kesempatan tampil di film perdananya sebagai pemeran utama. Ia mendadak tenar dan masuk dalam jajaran bintang kelas atas. Tawaran kerja mendadak banyak hingga dia kuwalahan.
Sasuke dan Fugaku puas. Senyum lebar tersungging di wajah mereka. Tak percuma mereka merekrut Naruto. Meski sifatnya rada aneh, dan banyak ganjalan berupa teriakan frustasi para bawahannya karena sikap aneh Naruto itu, tapi hasilnya memuaskan. Sihir tangan miqdas Naruto bekerja dengan baik.
TBC
Mohon saran dan kritiknya para reader untuk membuat fic ini lebih baik lagi.
