MISS OFFICE GIRL TAJIR
Summary : Apa Itachi jadi asisten Naruto? Sasuke aja kaget dengan ulah sinting kakaknya, apalagi yang lain. Kegilaan apalagi sih ini. Memang perusahaan Sasuke itu hanya berisi orang gila semua ya? Wah ada Karin lagi nampar Naruto hingga pipinya bengkak. Di sudut sana Naruto lagi pundung tak berhasil menemukan pujaan hatinya.
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Family dan Drama
WARNING
Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.
Pair :Sementara belum ada
The Guess : Unsur dunia bisnisnya diperbanyak? OK tak masalah. Nanti akan Ai usahakan.
Mitsuka sakurai : iya cowok kebanyakan sekarang hidung belang, apalagi yang merasa kecakepan, berkantong tebal dan tongkrongan keren? Wuih gandengannya ada dimana-mana. Ini nih akibat moral yang rusak, pada nggak ngerti agama, sih. Makanya Ai bikin fic ini buat pembelajaran moral juga, bahwa seks bebas itu hanya merusak diri sendiri secara fisik, moral, psikologis, keluarga, masyarakat dan Negara.
3Luca Marvell : slight kakak-kakak naru? Gimana ya? Nama untuk kakak Naru aja masih belum dapat. Ada yang bisa kasih usul? Buat slight nantinya? Rencananya kakak Naru baru keluar pas Naru mau nikah.
"Widya Mikazuki : Derita Sasuke dkk bakal panjang? he he he tenang aja proses penderitaan Sasuke dkk mungkin hanya di chap ini dan chap depan karena konflik dari masa lalu yang ditinggalkan Naruto di Amrik sana bakal muncul. Mantannya Naru bener-bener orang yang nggak disangka-sangka banget. Karena takut diprotes para fans terpaksa muncul belakangan.
Uchiha sabai: maaf SasuNaru hanya just friend.
.5 : bahasa Alay? Wah Ai nggak nyadar lho ada bahasa alay. Itu hanya bahasa sehari-hari yang biasa Ai pake ngobrol bareng temen-temen kuliah dulu. Karin smart dan seksi menurut Kiba bukan naru kok.
Buat para reviewer yang tak bisa Ai sebut satu-satu. Terima kasih sudah berkenan meninggalkan review. Terakhir OK chekidot
Don't Like Don't Read
Chapter 4
Neji baru saja absen saat bertemu dengan Kiba, Gaara, Shika dan Sasuke di lorong. Mereka sepertinya juga baru datang sepertinya. Mereka menyempatkan diri ngobrol sejenak sebelum berjibaku kembali dengan rutinitas pekerjaan mereka yang segunung.
"Elo kenapa, Ji? Mukamu asem banget pagi ini." Tegur Kiba.
"Gara-gara Naruto siapa lagi." Jawab Neji sengit.
"Apalagi sih yang dia lakukan? Kok kayaknya dari kemarin elo complain terus dengan dia." Tanya Sasuke hanya bisa mengelus dada. 'Kapan ya mereka bisa akur. Capek juga jadi wasit mereka. Gini kali ya derita seorang ibu yang tiap hari jadi hakim untuk anak-anaknya yang lagi pada berantem.' Tambahnya dalam hati.
Neji menghentikan langkah dan memandang mereka, merasa lelah. "Elo gampang ngomong gitu karena bukan elo yang dipermalukan." Balasnya dengan roman muka makin ditekuk.
"Dipermalukan gimana? Ini seperti bukan elo aja, dikerjain cewek ampe beberapa kali." Tanya Gaara penasaran juga.
Neji menghembuskan nafas, menyerah. Akhirnya ia cerita awal mula kenapa pagi ini mukanya asem.
Flashback
Naruto duduk di depan counter bar 'Manda' milik Orochimaru. Saat ini ia memainkan gelas di tangannya tak minat. Kabuto yang berada dibalik counter hanya menghela nafas lelah. 'Ni anak keras kepala banget, sih.' batin Kabuto.
"Udahlah, Nar nyerah aja. Lupain dia. Itu hanya akan membuat hatimu lebih sakit lagi. Kenapa elo nggak buka aja lembaran baru, nyari cowok lain?"
"Nggak semudah itu Kabuto-nii. Gue terlalu mencintainya. Asal elo tahu, dari kecil gue ngimpi suatu saat akan bersanding dengannya, hanya dia. Gue ngejar-ngejar dia selama bertahun-tahun. Gue hik… gue hik... Pokoknya gue harus ketemu dengannya, harus." Katanya sebelum meneguk cairan yang mengisi gelasnya hingga habis. Kabuto pun menuangkan kembali cairan ke dalam gelas Naruto yang kosong.
"Tolong bujuk Oji-San, tolong kasih gue, nii-chan? Gue nggak akan menyerah sebelum bertemu dengannya. Dia segalanya dan dia itu bagian dari hidupku." Katanya kembali meneguk habis cairan dalam gelasnya. Terdengar alunan soundtrack lagu Judika
******Mama Papa Larang (MAPALA) *****
Karena kamu bintang di hatiku
Takkan ada yang lain mampu goyahkan rasa cintaku padamu
Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu
Biarkan bumi menolak, ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang
Walau dunia menolak ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta dirimu
Sudah jangan kau usik lagi
Cinta yang tertanam di hati akan ku bawa sampai mati
Kabuto hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Dua-duanya sama keras kepalanya. Naruto terus-menerus datang menanyakan hal yang sama di bar ini, sedangkan Orochimaru-sama tetap istiqomah tak mau buka mulut. Jadi kek gini nih. Dia yang nggak tahu apa-apa yang jadi korbannya. Tapi tak apalah. Kabuto sangat menyayangi Naruto seperti adiknya sendiri. Dia tau gimana hancurnya hidup Naruto saat pertama kali datang ke bar 'Manda', nyari Orochimaru? Dia tak tega dengan derita gadis manis ini. Jika dengan mendengarkan keluh kesahnya dapat sedikit mengobati luka hatinya, dia rela.
Ini gelas kelima Naruto, saat Neji masuk ke dalam bar, mau melepas penat dan gundah di hati sekaligus mencari cewek baru. Kata temannya bar ini layak dicoba, nggak akan menyesal ke sana. Ia mengedarkan pandangan mencari cewek yang menurutnya layak untuk menemani tidurnya malam ini. Ia sedikit terkejut melihat Naruto duduk di depan counter bar. 'Hah, kenapa mesti ketemu dia lagi sih.' batinnya badmood. Ia pun dengan berat hati menghampiri gadis itu, mencoba bersikap baik sebagai sesama rekan kerja.
"Sudahlah, elo pulang saja. Sudah malam." Kata Kabuto secara halus mengusir Naruto.
"Tidak. Gue masih ingin di sini."
Kabuto kembali menghela nafas panjang. "Sekali ini saja dengerin gue. Elo pulang saja, percuma elo di sini."
"Dia benar. Kita pulang." Kata Neji tegas mencoba menarik tangan Naruto agar gadis itu berdiri. Ia mengernyit tak suka dengan jumlah gelas yang berjajar di atas meja depan Naruto. 'Pasti gadis ini mabuk. Uuhhh sial banget gue.' Rutuk Neji dalam hati.
Naruto mengibaskan lengannya dan berhasil terlepas dari pegangan Neji yang longgar. "Nggak gue masih ingin di sini. Kabuto aku mau segelas lagi." Kata Naruto. Kabuto kembali menuangkan minuman ke dalam gelas Naruto. Tapi saat Naruto mau minum, gelasnya direbut Neji.
"Elo bisa mabuk minum beginian. Anak kecil kayak elo nggak pantas di tempat seperti ini. Udah mana tas loe, gue antar pulang sekarang."
Naruto alih-alih memberikan tasnya, ia malah menertawakan Neji seakan itu hal paling lucu yang pernah di dengarnya. Ia sampai keluar air mata dan memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa, sedikit membuatnya terlupa dari rasa sedih yang menderanya. Ia menepuk lengan Neji beberapa kali, setelah berhasil mengatasi rasa geli. "Tenang aja gue nggak bakalan mabuk."
"Oh yeah dan babi bisa terbang. Siapa juga yang percaya." Dengus Neji.
"Percaya deh sama gue, gue nggak mungkin teller hanya gara-gara minum ginian." Kata Naruto masih bersikukuh dengan pendiriannya dan mencoba merebut gelasnya yang tadi diambil Neji.
"Dibilangin bandel banget, sih. Minuman keras itu nggak baik untuk kesehatan. Apalagi cewek? Nggak pantes."
"Ini bukan minuman keras. Ini…"
"Siapa sih yang mau elo bohongi? Jelas-jelas ini wisky. Nih gue coba." Neji minum seteguk isi gelas Naruto. Cairan itu mengalir memasuki kerongkongan Neji, menyisakan rasa manis di lidahnya. Ia kaget, benar kata Naruto ini tidak akan bikin dia teller. Ini gila. Kenapa minuman macam gini bisa nyasar ke tempat seperti ini sih.
End flashback
Bwa ha ha ha… Semua teman-teman Neji tertawa ngakak sampe keluar air mata. Sasuke bahkan ngakak sambil memegangi perutnya yang sakit karena kegelian. Neji hanya cengok aja diketawain gitu.
"Nggak ada yang lucu." Tukas Neji.
"Ha ha ha.. kok bisa sih Ji, elo salah sangka?"
"Yang namanya bar, pasti minumannya ya minuman keras dan kawan-kawannya. Mana mungkin ada barang itu. Naruto juga sih yang geblek, minum kayak gituan di bar. Orang pasti juga nyangkanya miras juga. Mana gue tahu kalo itu jus jeruk. Gara-gara itu gue jadi bahan tertawaan se bar. Aduh malunya… gue nggak bakal datang lagi ke tempat itu lagi." Kata Neji membela diri.
"Yah itu sih masih cemen. Gue lebih parah dari itu. Kemarin tu abis rayain kemenangan kita…" kata Kiba mulai cerita pengalaman tak mengenakannya.
Flashback
Kiba mengendarai mobilnya menyusuri jalan di Konoha, sekalian mencari cewek kece yang menarik hatinya. Hari ini dia belum membawa gandengan seorang pun gara-gara kesibukannya dengan proyek film terbaru. Cewek kenalannya yang biasa dia gandeng juga lagi pada sibuk semua, jadi terpaksa deh dia sendirian malam ini. Ia melihat di depan sana Naruto berdiri tepat di pinggir jalan sambil melihat jam tangan. Mungkin ia mencari tumpangan.
'Ah tak ada salahnya berbuat baik padanya, meski Naruto itu ngeselin setengah mampus.' Batin Kiba. Ia pun memberhentikan mobilnya tepat di depan Naruto. Din din diiin. Naruto mendongakkan kepalanya melihat siapa yang bunyiin klakson di depannya. Ternyata dia Kiba, rekan kerjanya yang rada flamboyant dan bergaya muda. "Butuh tumpangan?"
"Iya, kebetulan nih ada elo. Dari tadi nggak ada taksi yang lewat seorang pun. Tapi elo nggak masalah kan karena gue ngajak temen gue?"
"Tak masalah, asal orangnya nggak banyak. Ntar mobilku nggak muat."
"Terima kasih banyak. Gue panggil dia ya. Dia kakinya kram jadi gue suruh istirahat di dalam café." Kata Naruto sebelum meninggalkan Kiba. Kiba mengulaskan senyum penuh arti. Yeah siapa tahu habis ini Naruto bisa deket dengannya, dan diam mau diajak ehem ehem dengannya. Meski nyebelin, siapa sih yang mau nolak Naruto? Kiba nggak sebego itu kale. Ya berharap boleh dong. Betapa terkejutnya Kiba pas balik badan lihat temen yang katanya akan diajak pulang bareng. Eng ing eng… Kiba ingin pingsan saat itu juga. Tapi harga diri membuatnya tetap berdiri tegap, sok cool.
"Jadi ini Nar, yang ngasih tumpangan ama kita. Aih, gantengnya… Eke juga mau bok kalo sama dia…' kata seorang bencis, dengan giginya yang runcing semua seperti taring hiu. Dandanannya menor, dan bajunya blink-blink super minim, memperlihatkan kakinya yang kekar dan berbulu, lengkap dengan kalung dari bulu-bulu, persis seperti penyanyi dangdut murahan yang seneng nyari receh di jalan. Bulu mata palsunya yang panjang dia kedip-kedipin genit pada Kiba, sukses bikin Kiba ingin muntah sekarang. 'Hiii, kenapa temen Naruto baleng gini sih?' gumam Kiba komat-kamit.
End Flashback
Ha ha ha.. kembali tawa terdengar di sepanjang lorong yang mulai ramai, tapi kali ini obyek penderitanya beda. "Jadi elo dikecengin si baleng sok sekseh itu..?" tanya Neji tak kuat menahan tawa. 'Masih mending gue dong.' Tambahnya dalam hati.
"Udah gitu si baleng itu duduk di depan ama gue. Sepanjang perjalanan ia nyoba godain gue, sedang Naruto malah molor sok imut di belakang jok sana. Kalo nggak ingat itu temannya Naruto, udah gue lempar tu baleng di jalan." Rutuk Kiba penuh dendam.
"Yah elo masih mending hanya satu. Gue pernah dikerumunin baleng-baleng itu. Mereka bahkan tak segan narik-narik baju gue. Serem banget tahu. Habis itu gue mandi kembang 7 rupa buat buang sial." Kata Sasuke bergidik ingat peristiwa menyeramkan itu waktu ia nyoba godain Naruto. Yah kebongkar deh rahasia kenapa dia takut godain Naruto, meski yup jujur Naruto itu cakep selangit, Namikaze gitu loch.
"Karena itu dulu elo meringatin kami?" kata Gaara.
Sasuke mengangguk. Ya mereka ngerti sih betapa mengerikannya peristiwa macam itu bagi cowok straight, masih mending kalo muka si baleng rada cakepan. Ini mukanya udah gahar, badan kayak kingkong, tapi sok kecakepan. Hiii… bulu kuduknya rasanya berdiri semua.
"Elo kenapa Shika, kayaknya wajahmu sumringah? Dapat jatah dari gebetanmu, ya?" goda Kiba.
"Jatah apaan? Kagak."
"Trus kenapa muka loe kelihatan seneng gitu?" tanya Kiba makin penasaran.
"Gue abis lihat makhluk bening. Kenapa gue nggak nyadar ya selama ini?"
"Siapa?"
"Itu tuh OB cewek yang rambutnya pirang diikat empat yang sering jalan bareng Naruto."
"Wah nggak nyangka. Elo kebanyakan puasa ya sampe OB pun elo embat juga." Sindir Neji.
"Kiba juga sama saja. Dulu dia sempat ngincar Naruto saat masih jadi OB. Hayo ngaku. Kenapa gue dipojokin sih." kilah Shika.
"Kalo niatmu hanya ingin main-main?" kata Gaara. Ia mengambil nafas panjang, ciri khasnya saat ingin memberi peringatan pada seseorang. Istilahnya angin sepoi-sepoi dulu sebelum badai tornado datang menghancurkan segalanya.
"Mending jangan. Dia itu bukan tipe cewek iseng yang senang menjalin cinta semalam. Apalagi dia itu CSan ama Naruto. Bisa tamat riwayatmu nanti" Lanjutnya.
"Elo ngancam gue? Elo pikir gue takut?" tantang Shika.
"Elo boleh sombong sekarang, tapi saat itu tiba? Jangan pernah salahin gue. Gue udah meringatin elo." kata Gaara santai dan berlalu pergi, masuk ke ruang kerjanya.
"Apaan sih dia itu? Ganggu kesenangan orang aja." Dumel Shika.
"Jangan gitu Shik. Dia itu bener. Gue pernah denger dari orang-orang. Katanya orang yang udah mengkhianati kakak-kakak Naruto dari mulai mantan kekasih berikut selingkuhannya, masa depannya dia hancurkan hingga sekarang mereka jadi gelandangan di jalan. Dia bisa sangat baik di suatu saat, tapi juga bisa kejam di satu sisi. Gue nggak mau elo ngalamin hal yang sama."
"Kayak kakak elo." kata Kiba. 'Untung gue nggak pernah terang-terangan ngerayu dia. Serem amit ya.' Katanya dalam hati.
"Ya. Naruto itu sebelas dua belas dengan Itachi. Kalo bisa gue nggak mau nyari perkara dengannya." Kata Sasuke.
"Hahhh sayang sekali. Terpaksa deh nyari cewek lain." Kata Shika lemes.
"Udah nggak usah loyo gitu. Ntar gue kenalin ama model kenalan gue. Dia itu mantep Bro, servisnya." Kata Kiba menghibur.
Shika diam. Bukannya dia tak tertarik, kenalan model Kiba cakep-cakep, Bro, hanya saja hatinya berkata lain. Hatinya masih terpaut dengan Temari. Penampilannya sederhana, jauh dari seronok. Wajahnya juga nggak cakep-cakep amat. Hanya saja sudut dagunya yang sering diangkat tinggi-tinggi saat bicara dengan para atasannya membuatnya terlihat anggun dan seolah menantang tiap pria untuk menaklukan hatinya. Dan Shika sebagai lelaki merasa tertantang.
SKIP TIME
Temari melamun di pantry, itu bikin Naruto yagn lagi ngerjain proyek film barunya, jengah. Tumben ni anak melamun terus.
"Elo kenapa, Tem? Ada masalah?"
"Bukan, gue hanya berfikir saja."
"Mikir apa?"
"Menurut elo Shika itu bagaimana?"
"Secara pribadi apa professional?"
"Emang beda? Dua-duanya deh."
"Beda dong. Soal pekerjaan, dia number one, tapi soal pribadi…?" Naruto memberi isyarat satu jempol yang diarahkan ke bawah.
"Masa sih? Dia sopan dan ramah lagi."
"Bajingan berkelas ya kayak gitu. Udah karatan gue. Elo naksir dia? Mending jangan deh. Yang ada elo bakal disakiti."
"Gue tahu itu. Tapi masa sih dia nggak bisa berubah."
"Udah banyak cewek yang ketipu gara-gara kalimat tadi. Berharap para bajingan itu insaf setelah sama kita. Kenyataannya nol besar. Udahlah jauhi dia."
"Yah elo benar." Kata Temari pasrah. Ia mengerti benar itulah realita sekarang. Mencari cowok setia hampir lebih sulit daripada mencari jarum di tumpukan jerami. "Apa di dunia tak ada lagi cowok setia?" tanyanya ambigu.
"Pasti ada. Cowok seperti itu pasti ada." Kata Naruto lirih, tanpa sadar tangannya mengusap cincin murahan dari plastic pemberian darinya 15 tahun yang lalu. Ia rindu sekali dengannya. Kapankah mereka bisa bersua lagi.
Oh, aku rindu
Rindu kamu selalu rindu
Ingin bertemu dan tak mau jauh darimu
Oh, aku sayang
Sayang kamu terlalu sayang
Wajahmu seorang kian membuat hati tak tenang
Malam ini
Ku melamun memanggil namamu
Ku berharap jumpa kamu
Walau dalam mimpi….
Biar badai kan kujalani
Biar ku tak perduli
Biar siksa kan ku hadapi
Biar tak kusesali
SKIP TIME
Naruto baru saja ganti baju saat ia mendengar keributan di depan kantor Sasuke. Ia melihat Kiba menghalangi seorang gadis nan cantik berambut merah sebahu seperti rambut mendiang ibunya. Hmmm, wajahnya terlihat tak asing. Dimana ya dia pernah ketemu ama dia? Perlahan karena tak ingin mengejutkan mereka berdua, Naruto datang mendekat. Yah ia ada perlu juga sih dengan si Saskey yang saat ini masih menerima tamu penting, seorang sponsor film terbaru mereka.
"Lepasin gue. Gue mau ketemu ayangku." Kata Karin.
"Nggak bisa. Sasuke ada tamu penting. Ntar aja ketemunya. Lagian elo kan bentar lagi mau audisi. Elo nggak mempersiapkan diri?" kata Kiba tetap bersikukuh pada pendiriannya semula.
"Itu masalah kecil. Gue mau ketemu Sasuke. Ini penting. Udah minggir sana." Kata Karin tak kalah keras kepala.
"Ehem…" Naruto berdehem untuk menarik perhatian keduanya. "Maaf mengganggu acara bermesraan kalian, tapi bisakah kalian beri jalan untukku?"
"Siapa yang bermesraan?" bentak keduanya kompak. Karin memandang Naruto sengit. Pertama dia sebal karena dituduh bermesraan dengan maniak anjing ini. Kedua dia curiga dengan gadis nan cute yang masih tersenyum manis. Jangan-jangan dia ada affair juga dengan Sasuke. Bisa aja kan. Secara dia cantik dan punya lekuk tubuh yang menggiurkan. 'Cih dasar gadis jalang. Masih bau kencur sudah berani berhubungan dengan om-om. Jijik liatnya.' (Sasuke dkk umur 30an ke atas. Sedangkan Naruto terlihat seperti berumur 17an dengan seragam High scholl yang masih ia kenakan saat abis survey lokasi syuting tadi. Jadi di sini Sasuke malah terlihat seperti pedofili.)
Lain halnya dengan Karin, Kiba malah memendang takjub penampilan Naruto. Naruto terlihat cute dan fresh seperti gadis berumur 17an. Dia jadi bingung sendiri sebenarnya gadis ini umur berapa sih? Kalo bener dia menempuh S3 berarti umurnya sekitar 30an, tapi kok wajahnya muda banget.
"Kamu mau ketemu Sasuke?" tanya Kiba berubah jadi resmi karena ini masih jam kantor. Ini bikin Karin heran. Tumben-tumbenan dia bicara sopan dan penuh hormat ama cewek. Jangan-jangan bener Sasuke lagi jalan ama dia, makanya beberapa hari ini Sasuke bersikap dingin padanya, tak mau membalas BBMnya. Ia juga mencoretnya dalam daftar pemain malah diganti dengan artis kelas 3. Kemarahan membuncah mengisi rongga dada Karin. Ia mengepalkan tangannya erat hingga memutih. Kemarahan ini perlu disalurkan dan gadis sialan ini pantas menerimanya.
"Iya. Aku ada…Awww…" teriak Naruto mengaduh kesakitan saat sebuah tangan melayang, menampar pipinya keras hingga membuat pipinya yang mulus ternoda jejak cap tangan.
"Dasar, jalang. Penggoda murahan, tukang rebut kekasih orang." Maki Karin kembali melakukan KDRT bertubi-tubi pada Naruto, menjambaki rambutnya dan menonjok bibirnya hingga berdarah. Kiba secara sigap menarik tubuh Kiba sedangkan Naruto ditolong Sasuke karena tepat saat kasus KDRT terjadi, Sasuke sedang membuka pintu. Meski kaget dan tak mengerti jalan ceritanya, Sasuke dengan sigap menolong Naruto. Tindakan Sasuke itu justru membuat dugaan Karin menguat dan kebenciannya semakin besar.
"Apa apaan ini? Kenapa kalian bikin ribut di kantorku? Sedang apa kamu di sini, Karin? Bukannya studio tempat audisi di lantai 5. Sebaiknya kamu segera ke sana. Aku tak mau peristiwa ini terulang lagi." tegur Sasuke tegas. Karin dengan terpaksa mengkuti perintah Sasuke. Dia tidak sebego itu mau melawan Sasuke. Lagipula dia saat ini butuh banget pekerjaan itu untuk menolong keluarganya yang sedang terlilit hutang. Dengan menghentakkan kakinya Karin pun berlalu pergi, diikuti Kiba di belakang memastikan Karin berada di habitatnya.
"Elo nggak apa-apa, Nar?"
"Aku tak apa-apa, Sas. Hanya salah paham saja. Tak usah diperpanjang."
"Tapi…?" kata Sasuke ragu, tapi dipotong Naruto.
"Tidak ada tapi-tapian. Oh ya elo juga ikut sebagai juri audisi kali ini?" katanya mengalihkan pembicaraan.
"Ya. Ini proyek penting karena klien kita orang penting. Aku tak mau ada kesalahan dan itu bisa membuat nama kita yang lagi naik pamor ini turun."
"Maksudmu dia?" tanya Naruto menunjuk dua orang yang berdiri di belakang Sasuke. keduanya sangat tampan, yang satunya berambut merah menyala dengan wajah babyface, sehingga tak terlihat jelas umurnya, sedangkan satunya berambut hitam panjang sebahu dan diikat longgar di bagian bawah. Ada kerutan seperti keriput di sebelah kanan kiri hidung.
"Yup. Perkenalkan ini…"
"Sabaku Itachi. Hari ini saya resmi jadi asisten anda. Tadi Sasuke-sama sudah member saya surat kontrak kerja. Sebuah kehormatan bisa bekerja sama dengan anda. Saya sangat mengagumi karya anda." Potong Itachi bikin Naruto, Sasuke, dan Sasori terperangah dengan alasan yang berbeda-beda.
TBC
Maaf update telat lagi. Ai lagi nggak enak badan, lagi pilek akut, sering muntah pula jadinya lemes.
Owari
"Jadi elo mau jadi sponsor film Tokyo I love u?" tanya Sasuke
"Ya. Aku yakin film ini di tangan putri Minato itu akan meledak di pasaran sama halnya dengan film pendahulunya. Mungkin lebih."
"Baguslah. Aku senang itu. Ini kontraknya tolong ditanda tangani." Kata Sasuke menyerahkan berkas perjanjian. Meski dia ini kakaknya, Sasuke tetap harus professional agar di kemudian hari tak jadi masalah. Sasori yang jadi tangan kanan Itachi membaca tiap detil klausa perjanjian, mencari kalimat yang kurang tepat.s etelah merasa puas, ia menyodorkannya pada majikannya. Itachi sudah percaya 100% dengan Sasori sehingga tak perlu menilai ulang penilaian anak buahnya ini. Ia langsung menanda tanganinya.
Matanya tanpa sadar melihat tumpukan berkas di atas meja Sasuke. Isinya berkas lamaran sebagai asisten direktur pengembangan aka Naruto. Yah dia ngerti sih kalo gadis itu butuh asisten karena tugasnya berat. Dan pasti repot kalo dikerjain sendiri. Setelah kesepakatan yang diakhiri dengan tanda tangan dan jabat tangan formalitas, Itachi minta ijin mengundurkan diri, masih banyak urusan lain.
Mereka baru saja membuka pintu saat insiden pemukulan itu terjadi. Mata Itachi membulat sempurna, bidadarinya yang selama ini ia cari setelah menghilang selama berbulan-bulan tanpa kabar, sekarang ia sedang berdiri di depannya. Ia bagai dapat durian runtuh. Ia bahkan kesulitan mengendalikan denyut jantungnya yagn berdetak kencang.
Ia kembali mengamati wajah nan cantiknya, selalu terpesona olehnya dan selalu berhasil membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Keterpesonaan itu pudar begitu melihat noda bekas telapak tangan di pipi kanan sang bidadari. Besok pasti pipi bidadarinya ini bengkak.
Amarah menyeruak di dada Itachi melihat bidadarinya dipukuli hingga membekas di wajahnya. Ingin dia membanting, menghajar, kalo perlu ditendang biar setimpal, berani-berani ngajar bidadarinya. Samar-samar percakapan SasuNaru terdengar di telinganya. Ia sama sekali tak percaya, kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Sabaku Itachi. Hari ini saya resmi jadi asisten anda. Tadi Sasuke-sama sudah member saya surat kontrak kerja. Sebuah kehormatan bisa bekerja sama dengan anda. Saya sangat mengagumi karya anda."
End Owari
