MISS OFFICE GIRL TAJIR
Summary : Audisi pemain film Auntum in Tokyo dimulai. Para mantan Neji, Kiba, Shika, dan Sasuke bermunculan, membuat suasana panas. Siapa yang bakal kepilih? Apakah Ino mantan Shika, Hinata mantan Kiba, Tenten mantan Neji atau bahkan Sakura mantan Sasuke? Lihat cara unik para buaya darat ini mengakali tes agar tak perlu berurusan dengan para mantan yang menjelma bak singa lapar itu. Ganti summary
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Family dan Drama
WARNING
Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.
Pair :Sementara belum ada
Author Note : Sory banget bagi yang reques pairing, tidak bisa dilayani. Ai udah punya planning sendiri. Kalo main ganti ntar ceritanya malah aneh dan nggak mengharu biru lagi. Dan Ai juga belum bisa ngasih bocoran. Tapi yang jelas bukan NaruNaru.
Haruna aoi : Itachi bukan lupa marganya, tapi sengaja. Ntar penjelasannya di chapture ini.
Hyull : Anda benar saya salah ngetik judul, kurang huruf F untuk OFFICE. Terima kasih sudah diingatkan.
Mitsuki sakurai : Yang dimaksud author dia itu bukan Itachi. Naruto aja nggak kenal Itachi. Kan pas nyebutin nama itu mereka baru kenalan. Di chapture ini bakal lebih jelas lagi.
Tsumehaza Arief : Owari itu dibuat agar author tidak kesulitan bikin sudut pandang dan untuk menceritakan kejadian yang terjadi secara bersamaan dengan si pelaku utama.
Widya. Mikazuki : Itachi memang orang yang nggak gampang nyerah, tapi ini tergantung Naru-chan bisa move on dengan mantan nggak. Kalo nggak ya ngga ada pairing ItaNaru.
Terima kasih semua yang udah review. Terus dukung fic ini dengan review sebanyak-banyaknya. Chekidot.
Don't Like Don't Read
Chapter 5
Naruto mengernyitkan dahi, bingung dengan keputusan Sasuke kali ini. Kenapa dia nerima orang kayak gini jadi asistennya, sih? Bukannya dia ragu dengan kemampuan si siapa namanya tadi Ma, eh salah Nata, kayaknya bukandeh, Sa…Sa… ah iya Sabaku Itachi ini. Dia yakin si Sabaku san ini sangat cakap dengan pekerjaannya. Tapi?
Naruto mendekati Sasuke, berdiri tepat di sampingnya dan berbisik lirih di telinga Sasuke agar tak kedengeran si Sabaku ini. "Sas, elo yakin mau nerima dia?" tanyanya tak yakin, tetap sambil menyunggingkan senyum, biar tak ada yang curiga.
Sasuke langsung tersadar dari kecengokannya dan kembali mendarat ke bumi. "Mang kenapa?" katanya lirih, ikut-ikutan berbisik.
"Dia sama sekali tak punya potongan jadi bawahan." Kata Naruto pelan, masih mempertahankan senyumnya.
Sasuke membatin. 'Ya, iyalah. Dia kan kakak gue. Masa Uchiha jadi bawahan apalagi pembokat kayak elo? Itu sih penistaan, namanya.'
"Tenang aja. Dia nggak bakal menelikung kita dari belakang." Kata Sasuke masih setia dengan acara bisik-bisiknya.
"Yakin sekali. Ini bukan masalah feeling, kan?"
"Bukan. Dia itu…." Kata-katanya terpotong oleh Itachi yang tak mau dijadikan kambing congek. Dia tahu mereka berdua lagi bisik-bisik tentangnya, yah di samping ia cemburu juga dengan kedekatan kedua orang ini.
Ehem. Itachi berdehem untuk menarik perhatian. "Sepertinya anda ragu dengan kemampuan saya, nona Namikaze san."
"Bukan begitu. Saya tak tahu kalo Sasuke membuka lowongan untuk asisten saya. Dia tidak ngomong tentang masalah ini."
"Oh… Anda tenang aja, Miss. Anda tak akan menyesal milih saya." Kata Itachi penuh rasa percaya diri.
"Benarkah?"
Itachi tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya sekali. Ia balik menatap tajam Naruto. Dari tatapannya, Naruto tahu si Sabaku san ini orang yang penuh tekad, dan teguh pada pendirian. Tak mudah membuatnya berpaling.
"Baiklah. Anda saya terima. Anda bisa menaruh barang-barang anda di kantor saya, tepat sebelah ruang Sasuke dan persiapkan berkas untuk audisi sebentar lagi. Saya ke pantry dulu, masih ada urusan. Permisi." Kata Naruto tak mau ambil pusing, toh Sasuke sudah menggaransi dia 100%. Ia memegangi pipinya yang mulai senut-senut karena bengkak. 'Lumayan keras juga tamparan si Karin ini.' Batinnya.
Sepeninggal Naruto, baik Sasuke maupun Sasori menatap Itachi tajam.
"Apa?" tanya Itachi.
"Elo punya utang penjelasan. Apa maksud loe dengan ganti marga? Elo lupa dengan marga elo sendiri?" Tanya Sasuke.
"Apa sih yang ada di otak loe sekarang ini. Kalo elo kerja di sini, terus perusahaan elo gimana?" Tambah Sasori.
"Tenang-tenang. Gue bisa jelasin." Kata Itachi.
"Memang sudah seharusnya, kan?" Kata Sasori sarkastik.
"Dulu gue pernah cerita bukan, gue jatuh cinta sama bidadari pirang bermata biru. Sampai saat ini pun hanya ada dia seorang di hatiku." Jelas Itachi.
"Terus?" tanya Sasuke masih belum ngerti.
Iya sih, Itachi pernah cerita sama mereka berdua, alasan kenapa dia sering nongkrong di perempatan jalan Konoha yang terkenal itu, tiap hari selama berjam-jam kayak remaja bau kencur, yang kurang kerjaan. Tapi bukannya dia nggak pernah ketemu lagi dengan gadis itu. Gadis yang telah mencuri hati sekaligus membuat playboy kelas kakap ini tobat, meski sudah mengubek-ubek seisi kota dan mengacak-acak kantor catatan sipil kota Konoha? Bahkan meski sudah lewat bertahun-tahun, hatinya masih tertambat dengan gadis itu. Jangan bilang kalo gadis yang dimaksud itu….
"Maksudmu Naruto itu …." Kata Sasuke berhasil mengambil keseimpulan dan diberi anggukan Itachi.
"Makanya itu ku mohon rahasiakan identitasku yang sebenarnya."
"Kenapa harus dirahasiakan, sih? Bukannya dengan kedudukanmu yang sekarang, akan lebih mudah menggaet dia?" tanya Sasori bingung.
"Naruto bukan orang macam itu. Dia nggak matre. Lagian dia itu agak aneh…" Tukas Sasuke refleks. Dia melanjutkan penjelasannya, mengerti tatapan penuh tanya kedua orang lawan bicaranya ini. "Dia itu nggak pernah terlihat dekat dengan cowok sejati. Dia itu deketnya dengan…. dengan… dengan…" kata Sasuke terputus. Sasuke merinding disko, tiap ingat hal ini. Itu seperti mimpi buruk yang jadi nyata. Ingin lupa, tapi tak bisa.
"Dengan apa?" potong Itachi geregetan.
"Dengan….bencong." Tepat pas kata bencong, Sasuke ngomongnya pelan banget, ogah memandang baka anikinya secara langsung. Anggap saja nggak tega.
"Mana mungkin?" tanya Itachi tak percaya.
"Bukan Cuma gue yang tahu. Kiba pernah memergokinya, Naruto jalan ama bencong. Neji malah tahu tempat Naruto nongkrong dan di tempat itu punya seorang bencong juga. Kata pelanggan setia tempat itu, Naruto biasa menghabiskan waktu berjam-jam di sana, sebelum dijemput dua orang bencong."
"Tapi aku masih tak percaya. Naruto itu cewek normal. Kalopun dia menyimpang? Akan ku buat dia normal dan ku jadikan dia Nyonya Uchiha Itachi. Lihat saja nanti! Sasori sekarang elo gue angkat jadi direktur. Besok akan ku buat surat kuasanya. Gue cabut dulu." Kata Itachi pamitan membuat duo S ini geleng-geleng kepala. 'Gini nih kalo orang lagi jatuh cinta. Apapun dilakukan dan apapun dikorbankan demi sang pujaan hati.' Batin Sasuke dan Sasori kompakan.
Inikah namanya cinta
Inikah cinta
Cinta pada jumpa pertama
Inikah rasanya cinta
Oh inikah cinta
Terasa bahagia saat jumpa
Dengan dirinya
SKIP TIME
Naruto sedang di pantry, mengambil es untuk mengompres memar di pipinya. Ia menahan rasa dingin dan nyeri secara bersamaan, saat es yang dia balut dengan sapu tangan bersentuhan langsung dengan kulitnya yang mulus. Lama-kelamaan rasa nyeri itu hilang juga bersamaan dengan kekakuan pada kulitnya, efek dari rasa dingin es. Anggap saja itu bius murah meriah, untuk mematikan rasa sakit sementara.
Tiba-tiba datang Temari yang wajahnya juga sebelas dua belas seperti Naruto, kayak lagi janjian aja. Dia mengambil tempat duduk di depan Naruto dan melakukan hal yang sama denganya, sama-sama mengompres pipinya dengan es.
"Elo kenapa, Nar?"
"Gue kena gampar Karin. Biasa cewek kalo lagi cemburu, emang seram. Elo sendiri kenapa? Bonyok gitu."
"Gue ditampar Ino."
"Kok bisa. Elo ada masalah apa dengannya?"
"Panjang ceritanya." Kata Temari singkat
Flashback
Temari membawa nampan berisi minuman dengan hati-hati, agar minumannya tidak tumpah ruah. Tiba-tiba datang seorang wanita muda nan cantik dengan baju modis dari arah berlawanan, sibuk menelepon, tak lihat jalan menyenggolnya. Akibatnya gelasnya miring ke bawah dan isinya tumpah ruah di lantai. Wanita muda itu terkena cipratan tumpahannya. Gadis itu marah besar dan menampar Temari kuat-kuat. Nyut nyut nyut.. ia rasakan di pipinya, tapi ia tetap menunduk, takut mendapat yang lebih parah. Inilah resiko jadi seorang OB, meski sudah kerja keras melayani sepenuh hati, jarang mendapat penghargaan yang setimpal.
"Apa yang elo lakukan? Dasar OB bego. Kalau jalan pake mata. Elo pikir gaji elo sebulan bisa membayar baju gue apa? Dasar idiot." Bentaknya dan lagi-lagi melayangkan pukulan pada Temari, untung ada Shika yang nolong.
"Apa-apaan ini. Tolong jangan bikin ribut. Ini kantor bukan jalanan."
"Diam loe. Bukan urusan loe. Anjing ini pantas diperlakukan kasar. Dia sudah berani mengotori bajuku."
"Dia bukan anjing. Dia ini manusia dan dia punya nama. Nih uang, AMBIL!" katanya melempar kartu kreditnya pada Ino. " Aku tak mau sundal macam kamu mengganggu staffku." Lanjutnya.
"Apa elo bilang?" desis Ino emosi.
"Sundal.. kenapa? Marah? Elo kan memang sundal, wanita murahan yang mau tidur dengan siapa saja demi karir. Cuih…" kata Shika jijik.
"Hah… yang benar saja. Bilang saja elo sakit hati karena gue mutusin elo. Karena gue nggak mau tidur ama elo."
"Gue tidur ama elo? Ih, najis. Ular berbisa kayak elo pantasnya di hutan." Balas Shika sengit.
Karena tak ingin mendengar pertengkaran mantan kekasih ini lebih lama, Temari berniat beranjak pergi.
"Mau kemana loe, Babu? Kita belum selesai." sergah Ino kasar.
"Sa sa saya mau ngambil minuman yang baru untuk para dewan juri. Saya takut Gaara sama marah." Kata Temari takut-takut.
"Kamu bisa pergi. Aku yang akan menyelesaikan masalah ini, tenang saja. " kata Shika menenangkan.
"I- i-iya Shika-sama. Terima kasih banyak. Permisi."
End Flashback
"Jadi begitu." Naruto manggut-manggut. "Repot ya ntar. Tapi kenapa Shika kelihatan marah gitu sama Ino, sih?" Gumamnya.
"Emang loe nggak tahu?"
"Tahu apa?"
"Iya, Ino itu mantannya Shika. Waktu putus dulu, kantor ini sampai rame banget. Mereka bertengkar hebat di sini. Saling memaki dengan kata-kata kasar gitu."
"Trus kenapa sekarang ia ke sini lagi? Mo ngelabrak Shika lagi? Nyuruh dia tanggung jawab karena tek dung kayak roman picisan?"
"Mungkin mau ikutan audisi juga. Dia kan seorang aktris dan…"
Ehem. Itachi berdehem menghentikan gossip keduanya. "Maaf, bisa kita ke tempat audisi? Semua sudah menunggu." Katanya memotong perkataan Temari.
"Iya. Aku akan segera ke sana." Kata Naruto membenahi penampilannya dikit, menyamarkan bekas tamparan Karin.
Dalam perjalanan, Itachi nanya dikit. "Kenapa anda bergosip tentang Nara san? Apa anda ada hati dengannya?"
"Dengan makhluk tukang tidur itu? Hell, no. Aku hanya tertarik dengan info tentang Ino."
"Apa pentingnya?"
"Kalo dia itu ternyata terpilih, dan ia sedang bermasalah dengan Shika kan repot juga. Pasti itu bisa mengacaukan ritme kerja."
"Artis yang ikut audisi dan pernah terlibat skandal dengan dewan direktur banyak kok. Nggak hanya Nara san saja."
Naruto menghentikan langkah. "Benarkah?"
"Iya. Mantan-mantan Sasuke, Neji, dan Kiba juga tumplek blek di studio."
"Aduhh, makin runyam aja urusannya. Semoga saja mereka nggak bikin ulah. Cakar-cakaran sesama mantan misalnya." Kata Naruto lirih, tapi masih cukup didengar Itachi. Itachi mendengus geli, bayangin adegan itu, pasti itu lucu banget. Jadi ingin liat reaksi mereka nanti.
Mereka pun sampai di tempat audisi. Pintu sudah dibuka. Para juri sudah siap menduduki tempatnya masing-masing. Proses audisi yang ketat dimulai. Satu per satu peserta audisi di panggil ke dalam. Mereka di tes untuk memainkan beberapa karakter yang dibutuhkan. Siapakah yang akan terpilih nantinya? Ikuti terus kisah ini.
TBC
Maaf lama update. Lagi macet idenya. Tapi aku usahakan Maret ini semua ficku tamat, jadi aku nggak ada utang lagi. Terkahir RnR.
Owari
Kiba datang menemui Neji, Gaara, dan Shika yang lagi kumpul untuk mensukseskan agenda penjaringan audisi pemain film 'Auntum in Tokyo', film terbaru mereka. Mereka ingin semuanya perfect, dan hasilnya melebihi film pendahulu yang dibintangi artis pendatang baru Tayuya.
"Lama amat. Kemana aja loe?" tegur Neji.
"Gue ngurusin Karin. Tadi dia mau nerobos masuk ruangan Sasuke."
"Terus? Itu kan masalah sepele, kenapa lama?" kejar Neji masih belum terima.
"Karin bikin masalah berat, Bro. Dia nampar Naruto di depan Sasuke dan Itachi."
"Whatt? Sudah gila ya tu anak." Komentar Gaara.
"Bukan gila. Tapi cewek yang lagi dilanda cemburu. Dia ngira Naruto itu cem-cemannya Sasuke. Habis Naruto penampilannya kayak cewek remaja. Jadi mungkin dia ngira Naruto itu artis pendatang baru yang lagi jalin affair dengan Sasuke."
Hi hi hi hi…, mereka tersenyum geli, bayangin adegan itu. Rada seneng juga denger Naruto kena gampar gitu. Habis dari kemarin dia itu nyari penyakit terus sih sama mereka. Tapi kasihan juga sih sama Narutonya. Dia kan cewek. Pasti sakit banget tuh.
"Terus terus… Sasuke diam aja?" tanya Neji bergaya ibu-ibu tukang ngerumpi.
"Ya. Nggaklah. Dia kayak ada niat gitu bales si Karin, tapi dicegah ama Naruto. Tapi bukan Sasuke yang reaksinya aneh. Secara dia kan dah dipesenin bokapnya Naruto buat jaga Naruto, wajar jika dia belain Naruto."
"Siapa?" tanya Shika yang ikut penasaran.
"I…" kata-kata Kiba terpotong karena melihat seseorang yang membuatnya syok berat. "Itu Hinata kan? Oh ya Tuhan. Jangan bilang kalo Hinata juga ikutan audisi?"
"Mana-mana?" tanya Neji mencoba mencari Hinata diantara kerumunan peserta audisi, eh malah dia lihat orang yang nggak ingin dia temui lagi. "Mampus gue. Tenten ada di sini." Rutuk Neji.
"Yang sabar ya? Gue ikut berduka cita."Kata Shika sok perduli.
"Diam loe Shika."
"Sudah-sudah tak usah dibahas. Tapi kayaknya kita bakal dapat tugas yang berat kali ini." Kata Gaara menengahi.
"Pastinya. Masa mantan kita ikutan audisi juga. Mampus deh kita sekarang." Kata Kiba.
"Bukan gitu. Sakura, mantannya Sasuke juga ikutan. Kalo ketemu Karin bisa berabe dia." Kata Gaara.
"Bukan hanya mereka lho. Hampir semua mantan kita ada di sini." Kata Shika lirih.
Mereka lagi-lagi melihat para peserta yang jumlahnya mencapai ribuan. Dan benar kata Shika, mantan-mantan mereka hampir semuanya ada di sini. Lemeslah mereka. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Kiba bingung.
"Gue mau ke kantor dulu. Mendadak kepala gue pusing." Kata Shika pamitan, mo kabur duluan.
"Dasar nggak setia kawan." Rutuk Kiba. "Menurut elo, Ji?"
"Cuek aja. Toh yang bakal mengaudisi bukan kita. Tapi Naruto. Doa aja moga-moga mantan kita nggak ada yang keterima."Kata Neji.
"Semoga saja." kata Kiba mengamini yang sukses bikin Gaara il feel. 'Dasar mata keranjang. Berani berbuat tak berani bertanggung jawab.' Rutuk Gaara. Dia sih nggak khawatir mantannya muncul. Orang dia nggak pernah pacaran semenjak kepergian kekasihnya dahulu, aka Matsuri. Yah paling one night stand, jadi tanpa melibatkan perasaan, nggak seperti ketiga temennya itu, yang punya banyak mantan bertebaran di mana-mana di kota ini. Hem ketahuan dia juga penganut seks bebas rupanya.
Shika yang mencoba melarikan diri, menghentikan langkah saat mendengar suara seseorang yang amat dibencinya, sedang memarahi makhluk bening yang telah mencuri perhatiannya akhir-akhir ini. 'Cih, wanita sundal itu ikutan juga.' Batinnya muak.
SKIP TIME
Di dalam ruang tunggu, para peserta audisi sibuk mempersiapkan diri. Ada yang merapikan penampilannya agar lebih perfect, ada yang cuek dengan dengerin MP3, ada yang sibuk twiteran.
'Gue harus bisa. Akan ku tunjukkan pada Kiba kun, bahwa aku sudah berubah. Aku bukan lagi Hinata yagn pemalu dan gagap, tapi wanita dewasa yagn sudah matang. Akan ku buat dia menyesal karena sudah mencampakkanku.' Batin Hinata, mantan Kiba, sibuk membaca novel untuk membuatnya rileks. Ini bukan audisi yang mudah karena audisi ini mengaduk-aduk emosinya.
'Gue nggak akan kalah. Gue pasti bisa mengalahkan mereka. Persetan dengan cowok sialan itu.' Batin Tenten penuh percaya diri. Secara dia itu cantik, artis papan atas, dan putri seorang pejabat pemerintah.
'Sial. Kenapa gue mesti kejebak di sini, sih. Males banget ketemu makhluk tukang tidur sialan itu.' Batin Ino. Dia masih kesal karena habis berantem dengan mantan kekasihnya itu.
Sakura menggigit kuku jarinya karena nerveous. Dia terpaksa ikut audisi karena kali ini karirnya dipertaruhkan. Ini hal tersulit yang pernah dia lakukan sejak perpisahannya dengan Sasuke dulu. Dia tak percaya setelah sekian tahun berpisah, dia mesti ketemu lagi dengan posisi dia yang tak menguntungkan. Dia seperti mengemis pekerjaan pada mantan sialannya. Belum lagi dia harus lihat muka menyebalkan si Karin, cewek barunya Sasuke. Uuhhhh, pingin nyakar-nyakar mukanya yang songong itu. 'Yang terjadi, terjadilah. Persetan dengan Sasuke sialan itu. Akan gue tunjukkan kelas seorang Haruno Sakura.' Baitn Sakura.
'Sial, gadis itu ikut audisi juga. Gue harus maksimal kalo nggak ingin dilibas cewek itu. Gue harus mendapatkan pekerjaan ini.' Batin Karin.
Mereka pun dipanggil satu per satu, menunjukkan kebolehan akting masing-masing di depan para juri casting. Karin sedikit tersentak melihat gadis yang tadi dia tampar duduk deretan para juri. Masih untung gadis itu menundukkan wajahnya, mungkin tidur. Entahlah ia tak yakin. 'Gimana kalo dia juri juga? Mampus gue.' Batin Karin bingung. Rasa percaya dirinya berantakan saat ini juga.
End Owari.
