MISS OFFICE GIRL TAJIR

Summary : Audisi pemain film Auntum in Tokyo dimulai. Para mantan Neji, Kiba, Shika, dan Sasuke bermunculan, membuat suasana panas. Siapa yang bakal kepilih? Apakah Ino mantan Shika, Hinata mantan Kiba, Tenten mantan Neji atau bahkan Sakura mantan Sasuke? Lihat cara unik para buaya darat ini mengakali tes agar tak perlu berurusan dengan para mantan yang menjelma bak singa lapar itu. Ganti summary

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Family dan Drama

WARNING

Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.

Pair :Sementara belum ada

Author Note :

T : Apa Temari, Gaara, dan Sasori bersaudara? Apa marga Temari?"

J : Temari, Gaara, dan Sasori tak ada hubungan keluarga. Temari kakak Kankuro. Nama lengkap masing-masing Sabaku Gaara, Akasuna Sasori, Sakuragi Temari.

T : Penasaran gimana kalo para mantan keterima semua.

J : Ai kabulin nih permintaannya. Pasti para direktur gila itu makin setres. Tapi Ai ingin membuat mereka sadar, dan nggak ngelakui hal buruk lagi.

T : bahasanya campur aduk.

J : Yup. Saat lagi ngumpul bareng temen kongkow mereka bahasanya rada gaul, tapi saat mulai serius pake bahasa resmi.

T : Udah tahu kan sedikit masa lalu Gaara. Ntar dia bakal ketemu cinta sejati kok. Karin udah insaf kok. Ntar di chap depan bakal Ai blow up bahwa sebenarnya tu cewek nggak rese sekelihatannya, tapi baik kok. ItaNaru? Hmm, masih belum pasti sih.

T :Nggak kebayang aksi cakar-cakarannya

J : Maaf mengecewakan. Aksi cakar-cakarannya nggak ada. Mungkin di chap depan. Ini kan mereka lagi audisi, pada jaimlah. Masak memperlihatkan belangnya, meski depan mantan, tapi kan masih ada sutradara, Naruto yang selalu diburu para artis untuk kerja sama.

T:pair SasuNarU dong.

J : Kayaknya untuk fic ini nggak bisa Ai kabulin. Tapi tenang saja pair SasuNaru masih ada di fic-fic Ai yang lain yang belum kelar. Rada bosen juga kalo SasuNaru terus. Pingin refreshing dengan pair yang lain. Pokonya pairnya bakal NGGAK NYANGKA DEH. ^_^

Terima kasih semua yang udah review. Terus dukung fic ini dengan review sebanyak-banyaknya. Chekidot.

Don't Like Don't Read

Chapter 6

Pintu sudah dibuka, audisi pun dimulai. Para peserta yang dilanda H2P (Harap-harap cemas) beranjak dari tempat PW (Posisi Wuenak) mereka masing-masing, menunggu namanya dipanggil. Sebelum dipanggil mereka mendapat pengarahan, job description, aturan mainnya. Mereka juga diperkenalkan dengan para dewan juri yang akan menilai mereka.

Tenten POV

Tenten berkata "Itu kan gadis itu…, gadis yang bersama Neji malam itu."

Ia teringat peristiwa beberapa malam yang lalu, saat ia ke bar bersama pacarnya yang sekarang. Ia tak sengaja melihat sang mantan aka Neji sedang salting (salah tingkah) gara-gara gadis itu. Terbetik rasa cemburu memenuhi benaknya. Bagaimana tidak?

Ia melihat mantannya itu, dia…dia..dia…TERSENYUM, garis bawahi sodara-sodara tersenyum, yah meski tak terlalu kentara, tertutupi face pokernya, tapi Tenten tahu, amat sangat tahu, dan itu semua tak luput dari pengamatannya. Wajah Neji yang keras, terpahat ciri khas kaum bangsawan perlahan melunak, membentuk senyum tipis di bibirnya, karena guyonan gadis itu. Dan yang lebih mengesalkan melihat bagaimana perhatiannya Neji padanya, selalu memandangnya lembut. Ia bersikap hati-hati pada gadis itu, seakan-akan tak ingin menyakitinya.

Ia menggigit bibirnya kesal, semakin terbakar api cemburu. Seingat dia, selama 2 tahun Tenten menjalin hubungan bersama Neji, Neji tak pernah bersikap demikian. Boro-boro perhatian, tersenyum padanya saja tak pernah. Ia tak tahan bersama dengan laki-laki miskin ekspresi dan tak perdulian ini, semakin lama bersamanya, hanya sakit yang Neji torehkan. Hal inilah yang menguatkan tekad Tenten untuk memutuskan pertunangan mereka. Terpergoknya Neji yang tidur dengan pembantunya, di apartemen mereka, hanyalah pemicu.

Panas bara api membakar kulitku

Lebih panas lagi

Oh terbakar hati

Siapa sebenarnya gadis itu? Apa hubungannya dengan Neji? Mungkinkah Neji jatuh cinta pada gadis ini?

Tenten mengeraskan rahangnya. Semua itu hanyalah masa lalunya yang tak ingin ia ingat lagi. Apapun hubungan gadis itu, semua itu tak lagi ada hubungannya dengan dia. 'Iya, kan…?' bisik Tentan tak yakin. Bagaimana pun sudut hatinya yang paling dalam, ia masih mencintainya.

End Tenten POV

"Mampus gue. Dia…dia..dia…juga juri?" Kata Karin lirih. Tangannya memegangi roknya, gelisah. "Gue pasti nggak bakal diterima." Lanjutnya pedih. Air mata menetes di pipinya. Sedih itu yang ia rasakan saat ini. Bukan karena kemungkinan besar dia gagal. Tapi… menghilangnya sejumlah uang yang sangat besar dari honor yang mungkin diterimanya jika dia terpilih jadi pemeran utama. Padahal dia butuh banget uang itu untuk melunasi hutang-hutang keluarganya.

Dengan lemah lunglai ia memasuki uang audisi. Ia pasrah saja, yang terjadi ya terjadilah. Minimal dia tak akan lari dari audisi, seperti seorang pengecut.

End Karin POV

Mereka mulai di tes satu per satu, menunjukkan kebolehannya masing-masing. Naruto seperti biasa tidur selama proses audisi. Ia cuek aja tidur, meski dilihatin para direktur yang lain.

"Mampus deh kita. Gimana caranya milih? Mantan-mantan kita bagus-bagus aktingnya." Dumel Kiba.

"Ya iyalah. Mereka kan artis papan atas bukan kelas 3. Wajar dong kalo mereka lolos audisi." Kata Neji menimpali.

"Maksud gue bukan begitu, bego. Gue bingung siapa yang bakal kepilih jadi pemeran utama." Balas Kiba. 'Gue nggak mau mantan gue yang keterima. Pasti suasananya bakalan nggak enak, tuh.' Tambah Kiba dalam hati.

"Sama, gue juga. Rasanya rada gima…na… gitu. Tapi peserta selain mantan kita nggak ada yang bagus." Keluh Neji yang diamini semua. Mereka tertunduk lesu.

"Hei, Sas…" Gaara menyenggol lengan Sasuke. "Bentar lagi bakalan gawat nih. Habis ini giliran mantan loe. Loe tahu nggak antrian di belakang Sakura siapa?"

"Bukan urusan gue." Tukas Sasuke tak suka diingatkan dengan mantannya.

"Karin…" kata Gaara pelan yang disambut tawa kecil Neji, Shika, dan Kiba. Ini bener-bener WOW. Kalo mereka cakar-cakaran gimana? Sasuke hanya bisa merunduk, BT. Itu pula yang dia fikirkan dari tadi. Sial, ini benar-benar sial. Ia nggak mau keduanya lolos. Bisa berabe nanti.

"Heh, enak betul ya Naruto itu?" celetuk Gaara.

"Emang. Asistennya yang terbaik, paling kapabel. Gue masih nggak percaya, seorang Itachi mau melakukan itu? Pasti dia naksir berat amat Naruto." Kata Neji.

"Bukan begitu maksudku." Bantah Gaara. Neji memandang Gaara dalam-dalam, masih belum 'DONG' alias ngerti. Gaara pun menunjuk Naruto yang sedang dalam posisi wuenak, tidur dengan cantiknya. Matanya terpejam erat dengan tangan bersidekap di dada. Itachi berdiri di samping Naruto, berinisiatif mencatat hasil acting para artis yang sedang diaudisi, kalo-kalo Naruto membutuhkan.

"Dia itu bener-bener keterlaluan. Shika aja yang tukang tidur, masih bela-belain terjaga, kok. Dia malah enak-enakan molor terus. Nggak lihat apa, kita lagi kesusahan begini?" Kata Neji ketus.

"Gue bilang juga apa? Dia kerjaannya tidur mulu." Kata Kiba jengah.

"Udah, biarin aja." Kata Shika.

"Biarin aja bagaimana? Itu menunjukkan kalo dia itu nggak profesional. Jangan mentang-mentang dia itu anak paman Minato dan asistennya Itachi, dia bisa seenaknya sendiri." Rutuk Neji protes.

"Emang elo berani protes? Dihajar Itachi baru tahu rasa. Lagipula, dia itu beda. Dia itu, meski matanya terpejam, telinganya stereo. Dia masih bisa menemukan bibit emas hanya dengan mata terpe….., Aha, gue ada ide bagus. Kita biarkan saja Naruto tidur. Justru itu bagus untuk kita." Kata Shika.

"Bagus apanya?" tukas Neji sebal.

"Bener kata Shika. Dia bakal mempermudah kerja kita semua. Kita bakal terbebas dari dilematis gara-gara mantan-mantan kita itu." kata Sasuke. Dia tersenyum, mengerti maksud tersirat Shika.

"Ah, gue ngerti maksud loe sekarang. Elo benar. Cerdas juga loe." Kata Neji.

"Gue kok belum ngerti ya. Bisa dijelaskan…?" tanya Kiba.

Shika menghela nafas panjang. Kok Kiba masih nggak berubah sih, nggak pernah konek dengan mereka. "Kalo dia tidur itu artinya peserta audisi nggak bagus dan itu termasuk mantan-mantan kita. Hmm, tinggal Sakura dan Karin, mantan ayang dan ayangnya Sasuke yang tersisa. Siapa ya yang akan dipilih Naruto? Pasti Sakura deh."

"Belum tentu." Tukas Sasuke.

"Belum tentu gimana? Karin itu kan orang yang udah nampar dia, nggak mungkinlah Naruto sebego itu milih dia. Dan lagi bukannya pas audisi film kemarin, Karin tak berhasil lolos?" kata Shika nggak mau kalah.

"Yah, mungkin juga sih. Waktu audisi kemarin, Karin dikritik Naruto habis-habisan. Kalo dibandingkan Sakura sih, jauuuuh banget kelasnya. Itu artinya Sakura dong yang punya peluang lebih dipilih Naruto." Kata Kiba yang dibalas senyum-senyum tak jelas Gaara, Neji dan Shika. Sebaliknya Sasuke manyun.

'Masa sih dia mesti nerima mantannya itu? Eohhh, nggak banget, deh.' batin Sasuke.

Sakura memperhatikan deretan para juri. Lupakan para direktur sialan itu. Ia hanya memperhatikan Pain, sang sutradara beserta asistennya Hidan dan Kakuzu. Merekalah yang kemungkinan akan jadi penentu hasil audisi, dan bukannya para direktur yang bajingan itu. Ia lalu melihat Naruto yang sedang tidur.

Ia teringat desas-desus seputar audisi yang lalu. Tayuya terpilih saat itu mengalahkan kandidat kuat Karin berkat gadis itu. Gosipnya dialah yang memberi nilai tinggi. Jadi Sakura harus bisa membuat gadis itu terpesona padanya dengan cara membuatnya bangun.

Sakura melangkah ke ruang audisi dengan penuh percaya diri. Dia mendekati Naruto yang masih ayik terbuai mimpi. Ia menepuk lengan Naruto perlahan, membuat gadis itu membuka matanya. Ia menggigit bibirnya gelisah. "Maaf… mengganggu anda. Apa tadi anda melihat seorang gadis berambut pirang dengan seragam Saint Felicia di sekitar sini?" tanyanya cemas. Ia menggigit bibirnya gelisah.

Naruto yang terbangun sedikit tercengang, tapi berhasil menguasai keadaan. Ia lalu tersenyum mengikuti suasana yang dibangun si peserta audisi. "Maaf, saya baru datang. Jadi saya tak lihat. Mungkin kau bisa bertanya pada yang lainnya." Katanya. Sakura pun merunduk mengucapkan terima kasih. Ia berakting cemas, mata celingukan mencari-cari seseorang. Naruto tersenyum melihat aktingnya yagn seolah nyata itu.

Karin yang sedang menunggu semakin cemas. Kali ini habislah kesempatannya. Acting Sakura lebih baik dari dia. Tapi dia memberanikan diri masuk ruang audisi. Ia mengangkat dagunya tinggi, sok kuat, padahal tangan dan kakinya gemetaran karena cemas setengah mati.

Karin aalah peserta audisi terakhir, sehingga setelah Karin selesai audisi, mereka pun break. Para peserta bubar, menunggu pengumuman sebentar lagi. Ada yang makan di kantin, ada yang main HP dan gatgetnya karena saking cemasnya tak bisa makan. Ada juga yang baca-baca majalah atau sekedar membetulkan riasannya.

Setelah break, istirahat sejenak, para juri berkumpul, memberikan nilai masing-masing. Naruto mengumpulkan hasil penilaian para juri karena dia nanti yang akan mengumumkan. Ia mengakumualasi nilai dari para dewan juri. Setelah itu dia menyuruh panitia memanggil Hinata, Ino, Sakura, Tenten, dan Karin karena mereka yang mendapat nilai paling tinggi diantara para peserta untuk wawancara terakhir.

Mereka pun masuk dengan gaya khas mereka masing-masing. Para juri memandang mereka tanpa ekspresi. Sasuke mengepalkan tangannya kesal. 'Pasti Sakura yang terpilih.' Batinnya. Semua juri memberi dia nilai terbaik karena aktingnya yang paling memukau, minus Naruto. Dia masih tak mau menunjukkan nilainya.

"Saat ini kami sedang mencari tokoh Maya Kitajima dalam film Auntum in Tokyo. Maya Kitajima jatuh cinta pada seorang pemuda baik hati yang telah menolongnya. Saat itu dia bertekat untuk menikah dengan pemuda itu. Mereka akhirnya menjalin hubungan, sepasang cincin menjadi saksi tekad mereka untuk menikah. Sayang pemuda itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar sejak pergi ke kota. Maya pun ke kota mencari pemuda itu. Di kota inilah Maya perlahan tumbuh menjadi seorang gadis kota yang dewasa, mandiri, dan smart. Banyak pemuda yang menginginkannya, tapi ditolak Maya karena hatinya masih tertambat pada kekasihnya yang dulu. Dia…"

"Apa Maya akhirnya bertemu dengannya?" Potong Karin penasaran. Peserta yang lain diam acuh tak acuh. Yah bagi mereka tokoh Maya ini terdengar naïf dan bodoh. Di dunia ini mana ada kisah cinta begitu. Mereka sendiri mengalaminya, mempercayai cinta adalah kebodohan terbesar yang pernah mereka lakukan.

Naruto tak marah kalimatnya dipotong Karin, tapi juga tak menjawabnya secara langsung. "Menurutmu?"

"Saya harap mereka berjumpa dan akhirnya menikah. Hidup dengan bahagia." Balas Karin mengungkapkan harapannya. Dia mengerti sosok Maya ini. Betapa sedihnya dia berpisah dengan kekasihnya, dilanda rindu dan terombang-ambing oleh kebimbangan akankah dia setia. Tapi ia masih bertekad mempertahankannya karena dialah cintanya, hidupnya. Semoa saja kisah happy ending.

"Hmmm, bagus juga usulmu, tapi aku tak bisa memberi tahu skenarionya, cukup karakter si Maya." Balas Naruto tersenyum

"OK, aku akan membacakan hasil penjurian. Dari semua peserta kalianlah yang mendapat nilai terbaik. Hinata, diantara semua peserta karakter wajahmu yang paling sesuai dengan sosok Maya Kitajima, lembut sederhana, khas gadis desa." Kata Naruto. Hinata pun tersenyum mendengarnya.

"Ino, hmmm meski penampilanmu tidak memenuhi syarat, terlalu menor seperti tante-tanten, tapi kamu cukup bagus menampilkan sosok Maya yang bertransformasi jadi lebih dewasa dan smart." Lanjutnya. Kali ini gantian Ino yang tersenyum.

"Tenten paling anggun menampilkan sosok Maya, sosok yang berdikari, tangguh, dan mandiri. Improvisasimu bagus juga." Puji Naruto menuai senyum Tenten.

Naruto ikut tersenyum melihat senyum-senyum terukir di wajah Ino, Tenten, dan Hinata, berbanding terbalik dengan mantan-mantan mereka yang manyun berat. Takut mantan mereka yang terpilih. 'Sialan Naruto. Dia memang ingin ngerjain kita kali ya. Pake acara nggak mau ngasih lihat kertas nilainya.' Batin Shika, Kiba, dan Neji bersamaan.

"Sakura… diantara yang lain. Kau paling sempurna membawakan sosok Maya sejak dia masih lugu hingga ia berubah jadi lebih dewasa." Lanjut Naruto yang disambut teriakan 'Yes' dalam hati Sakura dan tubuh lemas Karin. 'Gue pasti gagal.' Batin Karin.

"Karin, mungkin dibandingkan yang lain aktingmu paling buruk. Kamu terlihat kikuk, penampilanmu seperti gaids kota nan modis yang bersiap mau ke pesta-pesta. Para juri memberimu nilai kurang bagus." Kata Naruto membacakan hasil penjurian. Karin semakin yakin dia tak akan lolos. Nilainya begitu buruk dan ya diakui aktingnya tak terlalu bagus Karin grogi, masih terbayang insiden penamparan tadi.

"Selamat. Karin… kamu lolos audisi. Kamu yang terpilih memerankan tokoh Maya." Kata Naruto membuat semua orang di ruangan ini terkejut, termasuk Karin.

"Sa…Sa…Saya lolos?" tanya Karin tak percaya.

"Kenapa dia yang lolos? Anda bilang nilai saya yang tertinggi." Protes Sakura.

"Benar. Aku pun memberimu nilai tinggi. Tapi kalian semua termasuk kamu, membuat kesalahan fatal." Mereka menatap Naruto tajam meminta penjelasan.

"Hinata terlihat ragu-ragu, padahal Maya seorang yang tegas. Ino, kau memang memperlihatkan tekad bulat Maya, tapi terlalu ambisius. Maya bukan sosok seperti itu, dia idealis. Tenten, bagaimana ya mengatakannya. Kau gagal berakting sebagai Maya yang sederhana, dengan tekad yang sederhana. Kau terlihat seperti cewek metropolis. Sakura, kamu sempurna. Aku akui itu, tapi…"

"Tapi apa?" potong Sakura.

"Tapi aktingmu kosong, tanpa jiwa. Kau tak mampu menghadirkan sosok Maya yang penuh cinta. Kau tak mempercayai cinta, bukan?"

Sakura melengos, begitu pun Hinata, Ino, dan Tenten. Pertanyaan Naruto tepat sasaran. Mereka kesulitan memerankan tokoh Maya, dia seperti tokoh dalam dongeng modern. Di jaman sekarang mana ada orang seperti itu.

"Karin memang kikuk, tapi ia yang paling mendekati sosok Maya. Dia bisa menampilkan sosok lugu, tapi berpura-pura sok kuat. Ia berusaha tegar, meski hatinya menjerit cemas an bingung, campur aduk jadi satu di tiap aktingnya. Aku suka improvisasinya itu. Ia mampu menghidupkan sosok Maya dengan segala dilema hatinya. Tapi yang paling utama darinya dan memikat hatiku dia percaya cinta. Itu yang kalian berempat tak miliki."

Karin tersenyum garing. Tak disangkanya aktingnya yang masih dilanda galau itu dikira Naruto penjabarannya pada sosok Maya. Sumpeh dia nggak mengira begitu. Dia juga kaget ternyata penjelasan awal Naruto juga bagian dari tes audisi. Dia benar-benar pintar menjebak. Ia bernafas lega. Untung ia tak mempersoalkan insiden penamparan itu.

"Memang sosok Maya itu ada?" tanya Ino mewakili yang lainnya.

"Ada. Dia akan selalu ada bagi orang-orang yang mempercayai cinta. Kalian harus mengerti. Film itu menangkap impian orang-orang yang samar sekalipun. Aku yakin di tengah kerasnya hidup, dalam hati kecil mereka ingin cinta sejati hadir dalam hidup mereka. Kalian juga kan?" tanya Naruto yang dibalas sikap tak acuh Ino, Sakura, Tenten dan Hinata.

"Kesetiaan menjadi barang langka. Cinta sejati seolah hanya mimpi di siang hari. Karena itulah mereka ingin melihat kisah cinta sejati, sebagai hiburan. Mereka sadar itu tak lebih kisah dongeng, tapi tetap saja indah. Mereka iri dan berharap mereka pun bisa menggapai cinta sejati dalam kehidupan mereka. Sebagai artis seharusnya kalian bisa menampilkan sosok cinta meski menurut kalian itu sesuatu yang naïf. Ingat kalian ini artis. Kalian dibayar untuk menghidupkan tokoh semuskil, semustahil apapun. Jangan kalian masukkan opini kalian karena itu hanya akan mengacaukan hidup kalian."

Mereka mengangguk, mengakui kesalahan mereka. Mereka terlalu memasukkan opini bahwa cinta itu tak ada, sehingga gagal menghidupkan tokoh Maya. "Apa anda percaya tokoh Maya itu ada?" tanya Hinata.

"Ya. Maya itu ada." Kata Naruto singkat, tanpa sadar membelai cincin putih murahan terbuat dari plastik yang dijual 10 yen di pinggir jalan. Mereka semua melihat itu. Jadi Naruto sejak tadi membicarakan tentangnya. Maya itu ya Naruto itu.

Neji, Sasuke, Gaara dan SHika berfikir 'Pantas dia kabur dan menghilang dari dunia showbiz. Mungkin mau mencari cinta sejatinya itu. Ternyata di dunia ini masih ada ya yang mempercayai cinta sejati, dan tetap setia meski banyak godaan menghadap.' Tikaman rasa bersalah menggelayuti hati keempatnya. Mereka yang selama ini mempermainkan hati para cewek mungkinkah dicintai sebesar itu? Mereka jadi merasa apa yang mereka selama ini sia-sia dan hambar.

Bukan gonta-ganti teman tidur yang membuat mereka bahagia. Bukan teriakan amarah para gadis yang mereka campakkan yang membuat mereka bangga. Tapi mungkin cinta setulus hati, dan kesetiaan tanpa batas dari seorang wanitalah yang akan membuat mereka merasa berharga. Beruntung sekali pemuda yagn dicintai Naruto itu. Apa mereka berhenti jadi bajingan saja ya, biar bisa ketemu sosok wanita seperti Naruto?

Lain mereka lain pula Itachi. Dia mengertakkan kepalan tangannya. Ternyata di hati Naruto sudah ada laki-laki lain. Pantas dulu dia menolak segala usaha PDKTnya, bahkan kabur saat mereka akan dijodohkan. Ia tak akan membiarkan semua itu. meski harus membolak-balikan isi bumi. Naruto itu miliknya dan akan menjadi miliknya selamanya.

'Kaa-kun. Dimanakah kamu? Aku rindu padamu.' Batin Naruto pilu.

"Ehem. Ok sekarang telah dipilih tokoh utama yakni Karin. Apa kalian bersedia menjadi pemeran pendukung film Auntum in Tokyo?" Tanya Naruto.

Hinata, Ino, Tenten, dan Sakura saling menolehkan kepala. Secara aklamasi mereka menganggukan kepala. Memang itu tak mereka banget, menerima peran selain pemeran utama, tapi well semua artis tahu siapa Namikaze. Dia seperti ayahnya, bertangan emas. Semua artis yang pernah kerja sama dengannya, namanya langsung melejit. Para arits Hollywood papan atas juga banyak yang awalnya digembleng para Namikaze ini. Mereka yang masih ingin menjadi artis papan atas bahkan mendunia, tentau wajib hokum menerima tawaran Naruto.

"Baguslah. Soal kontrak, semua diurus Kiba, jadwal syuting dan scenario di pegang Neji. Jadi bekerja samalah dengan mereka." Kata Naruto untuk terakhir kalinya sebelum mereka bubar, menyisakan Kiba dan Neji yang pundung. Mulai hari ini ke depan, hidup mereka tak akan sama lagi.

Ini mengerikan, sangat…. Kenapa mesti mereka sih yang ketiban sial. Kenapa pula yang keterima mesti mantan mereka juga… shika dan Sasuke bernafas lega. Meski mantan mereka juga lolos, tapi kan setidaknya mereka tak harus mengurusnya secara langsung.

SKIP TIME

Naruto pulang seorang diri. Capek juga seharian masih ngerjain scenario film yang lain, yang belum beres, dibagian finishing. Ia menggerakkan tangannya yang kaku. Tadi Shui dan Jugo bilang akan menjemputnya, tapi sampai sekarang mereka belum nongol juga. Tiba-tiba ia melihat seorang pemuda yang amat dicintainya di seberang jalan.

Naruto yang kaget, reflex berusaha mengejar pemuda itu sebelum pemuda itu berlalu menaiki bis. Naruto nekat hendak menyeberang jalan, hingga nyaris saja dia tertabrak mobil yang melaju kencang, tak mengindahkan rambu lalu lintas. Untung Itachi yang baru datang segera menyelamatkannya, menarik lengan kanannya.

"Aaaaa…" teriak Naruto kaget. Itachi memeluk tubuh Naruto yang gemetaran akibat nyaris celaka, menenangkannya. Naruto segera menjauh dari Itachi. "Terima kasih banyak sudah menolongku. Terima kasih…"

"Sama-sama. Kenapa tak hati-hati?"

"Oh, tadi aku li…aaaaa, aku lupa…" Naruto membalikkan badan melihat bis yang ditumpangi kekasihnya sudah berjalan. Naruto berteriak, mencoba mengejar bi situ. Kaki-kaki kecilnya berlari menyusuri jalanan beraspal begitu kencang, hingga ia terjatuh dan bus tak lagi terlihat oleh pandangan mata.

Ia terduduk di trotoar, mengusap kakinya yang pedih, tapi lebih pedih lagi hatinya. Hik…hik…hik… air mata menetes deras di pipinya, tak sanggup dia tahan. Ia merasa frustasi, kekasihnya yang tadi sudah ada di depan matanya kembali hilang.

"Kau tak apa-apa?"

Naruto mendongakkan kepala, melihat Itachi menjulang tinggi di depannya. Ia menggelengkan kepala. "Tidak. Aku baik-baik saja."

"Memang kau ingin naik bus itu, sampai lari-lari begitu? Aku tak keberatan kok mengantarmu, jika kau takut terlambat."

Naruto menggenggam erat tali tas mungilnya. "Bukan begitu, Itachi san. Aku tadi melihat seseorang yang ku kenal. Tapi terima kasih atas tawarannya."

'Pasti kekasihnya itu yang tadi dilihatnya.' Batin Itachi marah. "Tawaranku masih berlaku."

"Sekali lagi terima kasih, tapi aku sudah dijemput kok. Itu orangnya." Tunjuk Naruto pada taksi yang tepat berhenti di depan mereka. Keluarlah dari taksi itu dua bencong aka Jugo dan Shui.

"Maaf ya Naru chan telat. Tadi eke, lagi banyak pelanggan. Aih siapa si ganteng ini? Pacarmu ya?" Tanya Shui mencoba menggoda Itachi, yang sama sekali tak mempan. Ia tak bergeming dan masih menatap Naruto tajam.

Naruto tertawa garing melihat adegan roman picisan ini. "Bukan Shui. Dia ini asistenku, namanya Itachi. Maaf Tachi, aku pergi duluan. Terima kasih banyak untuk semuanya." Kata Naruto pamitan diikuti Shui dan Jugo.

Itachi yang tertinggal mengepalkan telapak tangannya marah. Ia memencet nomor seseorang yang pasti bisa membantunya saat ini. "Kau cari informasi soal Naruto. Semuanya. Besok aku tunggu. Klik." Itachi menutup kembali HPnya kasar. Ia balik badan menuju motornya yang tadi dia tukar dengan sopirnya. Biar Naruto tak curiga. Yah meski tak berhasil membonceng Naruto, minimal dia bisa memeluk tubuh gadis itu. Aroma citrus yang menguar dari tubuh Naruto masih tercium dalam indera penciumannya. Kulitnya yang lembut masih terasa di tangannya. 'Apapun yang terjadi. Naruto harus jadi milikku.' Kata Itachi dalam hati.

TBC

Please RnR dong sebanyak-banyaknya. saran anda sangat membantu Ai untuk mengembangkan fic ini sehingga lebih cepat update. kirim saran dan kritik sebanyak-banyaknya . jangan lupa ya? ^_^