MISS OFFICE GIRL TAJIR
Summary : Bila tiada mendalam cinta dan kerinduan tak kan terlalu dalam, luka yang ku rasakan. Naruto menutup mulutnya, kepalanya digeleng-gelengkan, tak percaya. Air mata kesedihan menetes di pipinya. Ganti summary
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Family dan Drama
WARNING
Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.
Pair :Sementara belum ada
Author Note :
T : Author nggak konsisten. Katanya maret mau diselesaikan, eh malah ngilang, mana jalan ceritanya kayaknya masih baru pertengahan pula.
J : Maaf jika plan saya gatot alias gagal total. Planingnya, saya publish dua hari sekali biar fic ini kelar di bulan Maret. Nggak tahunya saya diganjar flu selama 2 minggu, tepar deh saya di tempat tidur. Abis itu saya panen raya jadi sibuk jemur padi seorang diri. Jadinya tenaga saya habis seharian untuk itu. Makanya saya nggak bisa ngelanjutin fic ini. Tapi saya usahakan begitu hari panen raya ini kelar, fic ini akan saya update lebih cepat.
T : Siapa cowok Naru?
J : Bagi yang nebak Kakashi atau Kurama, siap-siap kecewa aja. Ka-kun disini bukan nama yang sebenarnya, hanya panggilan kesayangan.
T: Chapnya tinggal berapa lagi? Itachi buat lebih galau lagi. Kakak Naru kapan muncul?
J : Rencananya 9-10 chap tamat. Kalo molor mungkin 12an. Ntar lebih banyak mengeksplor kegalauan Itachi dan Naru. Kan konflik berasal dari kisah mereka. Kalo para direktur yang playboy itu nggak terlalu bermasalah dengan Naruto. Kakak Naru muncul ntar kalo dah mau tamat. Kalo mau dimunculin lebih cepat, tolong kasih ide siapa nama kakaknya yang pas. Ai lagi kebingungan nyari nama yang pas. Ino dan Deidara bakal keluar bukan sebagai kakak lho.
T : Apa ini SasoNaru, KyuuNaru, atau ItaNaru?
J : Kayaknya bukan ketiganya. Ntar lihat aja.
T : Tolong jangan bikin Itachi jahat banget.
J : Tenang aja dasarnya ia nggak jahat, hanya karena masalah cinta aja dia sampe segitunya.
Terima kasih semua yang udah review. Terus dukung fic ini dengan review sebanyak-banyaknya. Chekidot.
Don't Like Don't Read
Chapter 7
Naruto memijit pelipisnya kesal. Ia memandang sebal deretan pemain yang kemarin ia audisi sendiri. Ia memang sudah memprediksi bakal ada gesekan diantara mereka. Dia nekat aja karena menurutnya mereka yang terbaik, sekalian buat promosi film nanti. Tapi nggak secepat ini juga kale. Masa baru minggu pertama sudah panas suasana syutingnya. Ini kan temanya percintaan remaja yang ceria dan angst di bagian akhir. Kenapa sepanjang syuting malah suram begitu sih? Berasa di kuburan.
Chemistry diantara pemain juga nggak ada. Tidak ada suasana keakraban diantara mereka. Mereka hanya berakting tanpa emosi, kecuali si Karin. Dia cukup menjiwai perannya. Emosi si Maya berhasil ia tangkap, lebih baik dari ekspektasinya. Sisanya kayak robot tanpa jiwa.
Dia mengetuk-ngetuk meja kerjanya kesal. OK, kalo intrik diantara pemain yang sejak awal nggak dekat dan bermasalah dia ngerti. Tapi kenapa paa direktur ikut terlibat konflik sih? Ia melihat lagi mereka dengan pandangan kesal. Penampilan Neji si Mr klimis acak-acakan rambutnya karena bekas dijambaki Tenten, yah Tenten juga sih. rambutnya ikut amburadul. Baju Kiba dan Shika malah koyak sana-sini habis diserang Hinata dan Ino. Sakura dan Karin sih penampilannya masih baik-baik saja, tapi… Fuhhhhh, mereka nggak ada chemistry sebagai sahabat karib.
"Jadi bisa jelaskan padaku. Kenapa hal ini bisa terjadi? Ini memalukan. Kalian sudah bukan anak TK yang menyelesaikan masalah dengan cakar-cakaran. Kalian sudah dewasa. Apa kalian sudah lupa?" kata Naruto dalam saking kesalnya.
Mereka saling sikut, menunjuk seseorang untuk dikorbankan. Naruto emang baik, tapi kalo lagi marah begini nyeremin. Mereka takut juga dengan rumor kalo bungsu Namikaze ini terkenal tegaan. Siapapun yang berani mengacaukan proyek filmya bisa dipastikan karirnya bakalan tamat. Secara aklamasi, akhirnya mereka menunjuk Kiba dan Tenten sebagai juru bicara mereka semua.
Flashback
Tenten POV
Tenten membaca skrip saat Pain memarahi Sakura dan Karin yang tak bisa berakting seperti yang diharapkan sang sutradara. Sakura-Karin berperan sebagai sepasang sahabat dari kecil, jadi mereka harus terlihat akrab. Tapi mereka seolah masih tak bisa lepas dari jeratan persaingan panas soal Sasuke. Jadi kesan permusuhan lebih kental. Itu bikin Pain kesal.
"Kalian itu bagaimana sih? Masa begitu saja tak bisa. Ingat kalian itu artis. Kalian dibayar untuk memerankan tokoh ini. Buang semua emosi kalian. Yang ada di sini hanya Maya dan Ayumu." Bentak Pain.
Tenten melihat mereka dengan tatapan malas. 'Nggak mungkin mereka bisa akrab, mereka kan musuh abadi. Semua orang juga tahu itu. Hanya orang bego yang maksa satuin mereka.' Pikirnya.
Ia membolak-balikkan kertas naskahnya dengan bosan. Gilirannya masihlah lama, jadinya ia bosan nungguin dari tadi. Ia menyeruput jus kaleng hingga tetes terakhir. Karena masih merasa haus, dia pun berniat mencari mesin penjual minuman otomatis. Baru juga jalan beberapa langkah, eh dia lihat si mantan lagi godain cewek cakep di lokasi syuting.
"Aku baru tahu kalo direktur Uchiha Entertainmen tak professional. Masa jam kerja dipake main. Menyedihkan." Ejek Tenten.
Neji yang berniat menggoda cewek manis yang lagi lewat, menoleh. Sial kenapa dia mesti ketemu dengannya secepat ini sih. "Aku juga baru tahu kalo Tenten-si-model-no-1 kurang kerjaan, ngurusin urusan orang lain." Balasnya nggak mau kalah untuk menutupi rasa dag dig dug jantungnya yang berdentam-dentam cepat.
Sial, Tenten semakin cantik saja. Ia jadi terbayang-bayang wajahnya terus, hingga membuatnya sulit tidur belakangan ini. 'Apa Naruto saja tidak cukup mengganggu hidupnya hingga Engkau masih mengirimkan seorang Tenten untuk mengacaukan harinya. Apa dosaku Tuhan?' Batinnya.
"Kenapa menyalahkanku? Salahkan saja produsermu yang siapa itu namanya, Naruto? Dia milih Sakura dan Karin jadi sahabat akibatnya syuting jadi molor terus."
"Banyak alasan. Bilang saja kalo iri karena elo kalah cantik dari mereka." Tukas Neji.
"Apa elo bilang? Gue jauh lebih cantik dari mereka. Mereka itu bukan lawan yang sepadan denganku." Kata Tenten sarkastik.
"Kata siapa? Menurut gue, dia lebih cantik dari elo." kata Neji memanas-manasi.
"Diam loe, baleng, cowok kok rambutnya panjang. Elo pingin jadi banci ya makanya manjangin rambut?"
"Jangan pernah menghina rambutku!" Kata Neji menggeram marah. Dia paling tak bisa menerima orang yang berani menghina rambutnya yang indah bak model iklan shampoo.
"Kenapa? Elo pikir gue takut. Dasar banci." Kata Tenten menantang.
Kilat berbahaya muncul di mata mereka. Proses selanjutnya Neji mendorong bahu Tenten dan dibalas Tenten. Akhirnya aksi kekerasan mereka meningkat dan jambak-jambakan nggak elit pun terjadi. Mereka baru memisahkan diri setelah dibentak Naruto.
"Hentikan! Apa-apaan ini? Kalian ikut aku ke kantor." Kata Naruto.
End Tenten POV
Ino dan Hinata POV
Ino duduk di samping Hinata. Mereka sibuk dengan scenario di tangan masing-masing. Karena dari awal nggak akrab, maka tak ada satupun dari mereka yang mau membuka pembicaraan lebih dulu. Tiba-tiba Hinata memekik pelan. 'Auwww..' tangannya teriris pisau buah, saat ia bernit mengupas apel. Tidak dalam memang, tapi karena kaget dengan darah yang menetes dia jadi sedikit panic. Dia kan takut darah.
Ino yang kasihan membalut tangan Hinata dengan tisu. Dia berniat mengajak Hinata mencari kotak P3K untuk mengobati lukanya. Makanya dia manggil dua orang cowok yang lewat, nggak tahunya yang dipanggil malah mantan mereka. Mereka menoleh dengan wajah sengak bikin Ino dan Hinata sebal.
"Apa?" tanya Shika masih kesal. Pagi ini kan dia lagi sibuk PDKT dengan Temari, eh tiba-tiba Naruto nongol, nyuruh dia mantau lokasi syuting bareng Kiba karena dia ada urusan penting. Jadinya dengan ogah-ogahan ia nemenin Kiba. Hatinya dongkol betul. Naruto memang paling tahu cara merusak harinya. 'Sialan tu cewek.' Makinya dalam hati.
"Elo punya obat merah? Tangan Hinata terluka." Kata Ino dingin masih kesal dengan pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu saat proses audisi berlangsung.
"Luka? Mana lihat." Tanya Kiba. Ia membuka tisu yang menutupi luka Hinata. "Ya ampun, luka kecil gini aja dimasalahin. Dasar Miss lebay." Kata Kiba jelas-jelas mengejek.
Hinata yang dulu mungkin tak berani membalas, Hinata yang sekarang lain. "Lukanya memang kecil, tapi kalo infeksi bagaimana? Elo mau syuting ini molor gara-gara masalah yang elo bilang sepele tadi? Gitu aja nggak ngerti. Kayak gitu masih ngaku berpendidikan." Balas Hinata tajam.
"Lebay. Bilang aja elo mau cari perhatian para cowok dengan luka begini. Basi tahu." Tukas Kiba tak terima.
"Sudah abaikan saja. Mereka kan cewek nggak laku. Makanya nyari perhatiannya kayak gitu." Kata Shika.
"Diam loe, kepala nanas. Kita bukan cewek nggak laku. Banyak cowok yang lebih cakep dan kaya dari kalian, bertekut lutut pada kami." Balas Ino.
"Apa buktinya? Kalian masih jomblo bukan?" sindir Shika.
"Kita memang milih jomblo, karena kita ingin focus dengan karir. Nggak kayak kalian, orang-orang kurang kerjaan yang bisanya lontang lantung tak jelas. Palingan juga ntar kalian jadi gepeng di pinggir jalan." Balas Hinata.
"Diam. Jangan pernah menghina kami." Tukas Kiba dan Shika bersamaan.
"Kalian yang mulai dulu. Kenapa? Marah? Dasar sampah." Hina Ino membuat hati Shika panas. Dia mendorong Ino dan dibalas dorongan pula oleh Ino. Pertengkaran mereka berlanjut dan menyeret Kiba dan Hinata untuk ikut terlibat baku hantam tak seimbang. Mereka baru berhenti setelah Naruto melerai.
End Ino dan Hinata POV
End Flashback
"Begitu kejadiannya." Kata Kiba menjelaskan diantara ringisan pipinya yang memar akibat kena pukul Hinata.
"Itu kan masalah sepele. Kenapa dibesar-besarin sih? Tak bisakah kalian bersikap professional? Tolong jangan campur adukkan kesenangan dengan pekerjaan. Jadi kacau kan. Image kalian semua bisa jatuh. Siapa yang rugi? Kalian pula."
Mereka sebenarnya ngerti, tapi masing-masing masih sakit hati dengan mantan pasangannya. Bagaimanapun perpisahan mereka tidak dengan baik-baik saja, tapi Karena perselingkuhan? Naruto ngerti itu.
"Tolong kalian lebih dewasa. Tenten, Ino, Hinata, aku ngerti perasaan kalian. Kalian benci dengan mereka, tapi ini pekerjaan. Jangan bawa-bawa masalah pribadi kalian. Anggap saja mereka itu pajangan, benda mati atau bahkan kotoran. Jangan perdulikan mereka. Kalian sudah tak punya hati pada mereka kan?" tanya Naruto membuat mereka tersentak.
"Fokuslah pada karir kalian. Ingat ini film besar. Aku menargetkan film ini untuk pangsa pasar Asia. Ini hanya batu loncatan untuk membuka pasar yang lebih luas. Kalian tentu tak ingin stagnan jadi artis yang menang di kandang sendiri bukan? Ini juga berlaku untukmu Sakura dan Karin. Aku ingin kalian lebih baik lagi. Dengarkan arahan sang sutradara. Aku tak mau mendengarn Pain complain lagi. Jika ini terulang, maka dengan terpaksa peran kalian akan aku ganti."
Mereka mengangguk, mengerti. Kenapa mereka bisa lupa tujuan utama mereka. "Bagus. Sekarang kalian boleh pergi." kata Naruto pada mereka untuk keluar. Tepat saat Shika, Neji, dan Kiba akan keluar, Naruto menahannya.
"Kalian, tunggu sebentar. Bisakah kalian menahan diri? Tolong jangan lepas kendali. Kalo peristiwa tadi bocor ke media, tamatlah riwayat kalian." Kata Naruto memberi peringatan. Mereka mengangguk mengerti.
Setelah itu, Naruto membereskan berkasnya yang berantakan. Semoga kejadian konyol itu tak terulang lagi. Kalo perlu besok pagi, ia akan menemani mereka syuting dari pagi biar nggak ada kejadian tak mengenakkan lagi.
SKIP TIME
"Ini data yang kamu minta. Dulu Naruto menjalin hubungan dengan Kanata, seorang actor figuran. Hubungan mereka sempat ditentang ayahnya, tapi Naruto bersikeras. Tapi hubungan mereka kandas di tengah jalan karena Kanata menghilang tepat di hari H pertunangan mereka. Kabarnya ia mengalami kecelakaan dan wajahnya rusak parah." Kata Deidara di samping Sasori kekasihnya memberi laporan pada Itachi di ruangan Sasuke.
Itachi mengangguk-angguk. Ia melihat wajah dan profilnya Kanata. Sungguh dia itu orang yang biasa saja, wajahnya sama sekali tak tampan alias pas-pasan, prestasinya apalagi kekayaannya sama sekali tak sebanding dengan Naruto. Kenapa Naruto malah terpikat padanya?
Sasuke mengerjakan laporan sambil ngedumel. 'Kenapa mereka malah ngerumpiin Naruto di ruangannya sih? Dasar Naruto, selalu saja bikin kacau hari orang.' Batin Sasuke dongkol setengah mati.
"Kabarnya, Kanata masih tetap terjun di dunia artis di Jepang. Ia sering berperan sebagai tokoh antagonis dan yakuza. Namanya cukup popular. Kali tak salah nama panggungnya itu….." Kata-kata Deidara terputus karena adanya intrupsi. Tok tok tok…
"Masuk." Kata Sasuke.
"Sas, Itachi ada di… Itachi-san bisa ke ruanganku. Ada yang ingin ku bahas dengan… Anda Deidara?" tanya Naruto langsung berdiri di dekat Deidara membuat Deidara was-was semoga dia nggak lihat kertas di tangan Itachi. Bukan hanya Deidara yang cemas, Itachi juga. Tubuh mereka sampai kaku. Kalo ketahuan Naruto, bisa ngamuk dia.
"Iya. Anda fans saya?"
Naruto tersenyum manis membuat semua yang ada di ruangan terpesona. "Anggap saja begitu. Saya sudah lama ingin bekerja sama dengan anda. Anda mau ikut audisi film 'The red devil from Akibahara'?"
"Ya." Kata Deidara spontan. Kapan lagi bisa kerja sama dengan produser paling jenius yang diam-diam dipujanya ini? Meski dia tak tahu jalan ceritanya.
"Anda diterima sebagai Kyou. Nanti saya akan kirim detail naskah dan kontrak kerjanya. Saya benar-benar berharap bisa bekerja sama dengan anda. Maaf saya masih ada urusan. Itachi-san bisa ke ruangan saya?" Kata Naruto untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan ruangan. Deidara yang ditinggalkan langsung melambung tinggi, sampai ingat siapa tokoh Kyou yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama.
"Dia mencapku baleng. Kurang ajar. Gue ini cewek tulen." Rutuk Deidara kesal.
Sasuke tertawa pelan. "Elo pas memerankan sosok itu. Elo pasti bakal tampil menawan sebagai Kyou, seorang samurai yang kemayu, tapi jago pedang.
"Sialan loe." Rutuk Deidara yang dibalas kekehan dan tawa pelan Sasuke dan Sasori yang dari tadi memilih diam, mendampingi sang kekasih.
SKIP TIME
Naruto yang capek, sms Shui dan Jugo untuk menjemputnya. Dia malas nyari taksi. Mereka berdua kan dibayar jadi pengawal oleh papi Minato. Mereka nurut-nurut aja termasuk perintah dari Minato untuk menyamar jadi banci untuk membuat cowok yang tak diinginkan tak mendekat. Mereka kan rada keder gitu ama banci terutama banci dengan wajah sangar, itu bisa bikin mereka mimpi buruk. Buktinya para direktur itu mundur teratur karena pengawal aneh Naruto.
Naruto main-main dengan HPnya sambil nunggu jemputan. Tak sengaja matanya lagi-lagi melihat Ka-Kunnya di kejauhan. Naruto segera mengejarnya. Senyum bahagia tersungging di bibirnya saat jarak mereka sudah dekat. Senyumnya pudar tepat ketika ia melihat Ka-kunnya menggandeng seorang wanita cantik yang sedang hamil. Mereka tampak mesra belanja peralatan bayi. Hatinya bagai diremas, sakit.
Ia terduduk di trotoar, lemas hingga mereka menghilang dari pandangannya. "Tidak itu tak mungkin Kaa. Aku pasti salah orang." Kata Naruto lirih berusaha menghapus bayangan buruk itu, tapi hatinya tak bisa dibohongi. Meski wajah Kaa-nya rusak parah, ia serpti monster ikan hiu dengan wajah biru dan garis-garis luka dia wajah, Naruto tetap mengenalinya. Air mata semakin menetes deras diiringi guyuran air hujan membasahi tubuhnya seakan merasakan kepedihan hatinya.
Tak pernah ku bayangkan
begini jadinya
Suratku engkau balas
dengan undangan
Kalau memang tak mau
baiknya kau katakan
Agar ku tak berharap
cinta darimu
Ku rela sudah begini jadinya cintaku padamu
Surat undanganmu penikahan itu
Ku genggam erat di tanganku
Hanya doa restu yang ku persembahkan
Semoga engkau bahagia
Sendiri lagi seperti dahulu
Tanpa dirimu di sisiku
Tetes air mataku hatiku pedih
Membasahi undangan pernikahanmu
Sebuah payung menghalangi hujan mengguyur tubuh Naruto. Naruto mendongak. "Kau bisa sakit jika hujan-hujanan." Kata Gaara.
TBC
Mohon saran dan kritik dari para reader. Maaf jika updatenya telat Banget. Aku usahakan ini tak terulang lagi.
