MISS OFFICE GIRL TAJIR

Summary : Bila tiada mendalam cinta dan kerinduan tak kan terlalu dalam, luka yang ku rasakan. Naruto menutup mulutnya, kepalanya digeleng-gelengkan, tak percaya. Air mata kesedihan menetes di pipinya. Ganti summary

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Family dan Drama

WARNING

Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.

Pair :KisaNaru

Sepertinya para reader pada kaget dengan terpilihnya Kisame. Ada juga sih yang masih salah nebak Kakuzu, tapi sebagian besar bener kok. He he he, kan Ai dah bilang di Ka-kun itu orang yang di luar dugaan dan nggak nyangka banget. Prediksi Ai bener kan? Nggak ada satu pun yang ngira si Kisame. Baru di chap ini saja yang nebaknya tepat.

Kenapa Ai pilih Kisame dan bukan yang lain? Ini tuntutan alur. Ai ingin membuat kisah cinta sejati yang tak memandang harta dan rupa. Ai ingin mereka melihat cinta apa adanya dengan cara yang sederhana, karena hatinya bukan yang lain. Selain Ai juga ingin membuat cerita yang BEDA, pair yang unik, lain dari yang lain. Kisamelah karakter yang pas untuk itu.

Awalnya Ai tak terlalu tertarik mengeksplor suasana syuting berikut permasalahan para artisnya biar cepet kelar dan nggak melebar kemana-mana, tapi sekarang Ai buat cerita itu juga, untuk membuat kisahnya lebih manis dan nggak maksa. Ai ingin para reader suka dengan pair baru ini.

Di sini Ai nggak bikin femNaru itu Naruko, tapi Naruto karena Ai nggak terlalu suka karakter Naruko. Bagi yang merasa kasihan dengan Dei. Hei dia dapat peran bagus kok, si Dei ini dapat peran utama dan karakter dia susah banget. Nggak gampang memerankan sosok jago pedang yang kemayu. Dia harus bisa terlihat lembut kayak cewek, bukan cewek beneran, ahli seni, tapi jago pedang. Dei itu beruntung. Ntar di chap selanjutnya bakal lebih Ai eksplor.

Untuk karakter kakak, Ai masih butuh sumbangan nama. Untuk sementara usulan baru Tsunade, Yugito nii, Sara, Shion, dan Kurama. Ayo reader kirim lagi plus alasannya buat jadi bahan pertimbangan.

Terima kasih semua yang udah review. Terus dukung fic ini dengan review sebanyak-banyaknya. Chekidot.

Don't Like Don't Read

Chapter 8

Siapa yang merubah hatiku

Siapa yang membuat kita satu

Selalu menyatu beban kecewa

Namun tak pernah ragukan berakhir

Siapa yang membuatku pilu

Kembali datang masa lalu

Semakin dalam gejolak jiwa

Benci dan cinta ku menyatu

Kenangan indah pun memudar

Alami masa sendu

Walau kita kan berpisah

Rasa hati menggelora

Siapa yang membuatku resah

Tak berharap untuk berjumpa

Benci dan cinta selalu menyatu

Namun tak pernah ragukan berakhir

Naruto yang sedang bersedih, isak tangisnya makin terdengar kencang begitu melihat Gaara, seiring semakin derasnya bunyi hujan yang jatuh ke bumi seakan ikut merasakan luka Naruto. Gaara yang iba, segera menarik tubuh Naruto ke tempat yang lebih kondusif dan tempat itu bukanlah trotoar. Ia mengajak Naruto masuk dalam kafe. Di sana ia biarkan Naruto menangis sejadi-jadinya, tanpa harus merasa malu, tentu saja setelah Naruto ganti baju, pinjam pada pelayan kafe yang sudah dikenal baik Gaara.

"Elo kenapa, sih hujan-hujanan? Elo ngidam pingin sakit?" tanya Gaara sedikit melawak untuk membuat suasana hati Naruto lebih baik.

Naruto tersenyum kecil denger lawakan garing Gaara, tapi itu malah bikin miris yang lihat. Matanya tampak merah dan bengkak, jejak-jejak air mata masih nampak jelas di sepanjang pipinya, ditambah dengan rambutnya yang awut-awutan, hanya satu kata untuk menggambarkan penampilan Naruto saat ini yaitu KACAU. Tapi Naruto berusaha tersenyum dan membersihkan jejak air mata yang tertinggal dan mengompres kelopak matanya dengan es. Tangannya menyisir rambutnya kasar, berusaha merapikan penampilannya yang acak-acakan seolah ia berniat menghapus kenangan buruk itu.

Gaara menarik nafas panjang, ikut prihatin. Biar kata Naruto nyebelin, dengan hobinya yang super duper aneh, dia cukup nyaman bekerja sama dengan Naruto. Anaknya asyik juga dan bisa diajak tukar fikiran, tanpa ia harus memikirkan Naruto bakalan jatuh cinta padanya. "Minum dulu tehnya, untuk menghangatkan badanmu. Elo nggak pingin sakit, kan?"

"Trims Gaa. Elo baik banget sama gue."

"Jangan GR. Gue hanya nggak ingin bokap loe datang ke kantor dan marah-marah gara-gara elo jatuh sakit. Bokap elo kan galak banget." Kata Gaara masih berusaha melawak, yang membuat Naruto lagi-lagi tersenyum kecil. "Elo bisa cerita sama gue, kalo itu bikin elo lebih baik. Tenang saja rahasia elo aman ama gue." Lanjutnya setelah Naruto menyeruput tehnya dengan tenang.

Naruto hanya menyeruput tehnya sedikit, sisanya mengaduk-aduk isi cangkir tak jelas. Matanya menerawang, menyiratkan luka mendalam yang tertoreh di sudut hatinya. "Elo pernah ditinggal cewek yang sangat elo cintai di dunia ini?" tanyanya setelah lima belas menit dalam kesunyian beku.

"Elo lihat cowok yang elo cari selama ini jalan ama cewek lain?" Tanya Gaara balik.

"Hiks, iya." Jawab Naruto diantara isak tangisnya yang kembali pecah. Air mata menetes deras, tanpa bisa ia tahan lagi. Bila tiada mendalam cinta dan kerinduan pada Ka-kun, mungkin tak kan terlalu dalam luka yang ia rasakan saat ini.

"Elo dah melakukan konfrontasi padanya?"

Naruto mendongakkan kepalanya. "Apa itu penting?"

"Penting. Mungkin itu tak memperbaiki keadaan dan mungkin tak berakhir seperti yang elo mau, tapi itu akan membuat hati loe lebih tenang. Elo tak akan pernah tersiksa, diuber-uber pertanyaan tanpa jawaban sepanjang hidupmu dan akhirnya berakhir dengan penyesalan tak berkesudahan."

Naruto tersentak. Mungkinkah Gaara sedang membicarakan luka lamanya. "Elo ngalamin hal itu?"

"Ya. Gue dulu menuduhnya selingkuh, tapi gue nggak berani berkonfrontasi padanya. Gue hanya menjauhinya dan bersikap buruk adanya, tanpa minta penjelasan. Akhirnya dia minta putus dan gue iyakan. Gue pikir itu yang terbaik dan gue bisa menjalani hidup gue lagi. Tapi…." Gaara merunduk sedih, mengingat kenangan pahit itu.

"Tapi apa?"

"Gue merasa gelisah karena dihantui pertanyaan, kenapa dia selingkuh? Dengan siapa? Pertanyaan gue baru terjawab setelah gue denger berita kematiannya." Kepala Gaara semakin tertunduk, mengingat luka yang menggores batin. "Dia..dia…dia… nggak pernah selingkuh selama menjalin hubungan denganku. Laki-laki yang selalu dia temui ternyata kakaknya yang lama tak bertemu dan terpisah karena perceraian orang tuanya." Kata Gaara sedikit bergetar, menyiratkan dalamnya penyesalannya. "Gue nyesel. Seandainya waktu bisa diputar, gue pingin minta maaf padanya." Lanjut Gaara.

"Maaf, gue. Gue..."

"Tak masalah. Mungkin gue perlu cerita pada yang lain untuk mengurangi beban di hati." Potong Gaara. Ya ia merasa sedikit lega setelah mencurahkan isi hatinya. Hei ini siapa yang curhat? Kenapa malah jadi terbalik?

"Baiknya elo pastiin dulu. Bisa saja dia beneran jalan dengan orang lain, tapi elo tetap butuh penjelasan. Dengan demikian elo bisa mengakhiri hubungan kalian dan elo bisa menjalin hubungan dengan orang lain."

Naruto merenungkan kata-kata Gaara. "Tapi gue nggak tahu dimana dia?" katanya lirih, tapi masih bisa didengar Gaara.

"Tenanglah. Kalo jodoh tak akan kemana." Naruto lagi-lagi tersenyum. Beban yang tadi terasa berat di pundak sedikit berkurang. Ia merasa yah merasa beruntung kerja di Uchiha entertainmen. Memang para direkturnya rada gelo, laki-laki bajingan, tapi Suasana kerja di tempatnya penuh kekeluargaan. Satu sama lain bagai keluarga besar. Para direkturnya sering bikin dia kesal dengan tingkah ababil dan lebay mereka, tapi Naruto tahu. Mereka perduli padanya.

SKIP TIME

"Cut cut cut… Bukan begitu Sakura. Bukan seperti itu karakter Ayumu. Kenapa sih elo susah banget diarahin? Elo beneran artis prifesional, nggak sih? Gitu aja nggak bisa-bisa." Omel Pain kesal karena Sakura terus melakukan kesalahan berulang-ulang. Dari kemarin, adegan 34 dimana Ayumu menghibur Maya yang sedih karena kehilangan jejak kekasihnya, gagal terus. "Sudah kita break dulu." Lanjutnya. Semua pun bubar. Sakura dan Karin yang hari ini beradu acting sebagai sepasang sahabat pun meninggalkan lokasi syuting untuk istirahat.

"Susah ya?" tegur Naruto menghampiri Pain. Wajahnya sudah fresh. Jejak-jejak tangis kesedihan kemarin, sudah hilang. Bicara dengan Gaara membuat hatinya lebih plong.

"Menurut loe? Gue frustasi dengan Sakura. Dia gagal terus. Wajahnya terlalu dibuat-buat tidak alami dan chemistry dengan Karin nyaris tak ada. Ini semua salah loe. Kalo elo nggak nunjuk mereka, mungkin syuting ini sudah kelar dari kemarin."

"Mereka yang terbaik selama audisi, elo tahu itu. Dan gue hanya milih yang terbaik."

"Iya, tapi kan dua orang itu terkenal musuhan. Itu sih sama aja nyatuin Angelina jolie dengan Jennifer Aniston, nggak mungkin banget."

Naruto tertawa kecil. "Bagus kan? Itu bisa jadi promosi gratisan."

"Elo tuh hanya mikirin promosi saja. Lihat syutingnya jadi kacau. Lama-lama gue bisa masuk RS karena maag akut, setres gue." Tukas Pain kesal.

Naruto terkekeh geli. Bukan dia nggak ngerti penderitaan Pain, tapi apa boleh buat. Itu resiko pilihannya. "Memang sudah tak bisa diperbaiki lagi?"

"Nggak mungkin. Sakura itu memang aktingnya bagus, tapi tanpa jiwa, rasanya jagi nggak enak lihatnya. Ibarat makanan, rasanya hambar. Siapa juga yang mau makan? Kalo adegannya nggak banyak sih mungkin nggak terlalu mengganggu. Lah ini hampir 40% adegan melibatkan dia. Udahlah lebih baik ganti aja."

"Sakura itu artis favoritku. Aku suka aktingnya di drama 'Langit merah ginko'. Aktingnya keren banget. Akan ku bicarakan masalah ini dengan dia. Jika tak ada perubahan dengan terpaksa dia harus diganti. Mungkin…."

"Tolong jangan ganti saya. Saya janji ini tak akan terulang lagi." Potong Sakura yang tiba-tiba nongol. Raut wajahnya nampak cemas. Ini kesempatannya untuk melejitkan popularitasnya kembali yang akhir-akhir ini jatuh karena terdesak oleh Tayuya.

Pain dan Naruto menolehkan kepalanya. Naruto pun mengajak Sakura bicara berdua di tempat yang privasi, sedangkan Pain memilih makan siang. Mereka duduk di taman. "Jangan maksain diri. Gue lihat elo memaksakan diri beradu acting dengan Karin. Elo tidak terlihat sebagai Ayumu yang tegar, sayang pada teman, bijak dan mandiri. Elo malah terlihat orang yang penuh dendam dan sedang bersiasat akan melakukan sesuatu di belakang."

"Maafkan saya." Kata Sakura lirih mengerti itu memang kesalahannya. Ia larut dalam perasaan benci pada Karin hingga terbawa syuting. Tapi ia tak bisa membohongi isi hatinya. Ia amat benci dengan Karin, orang yang telah mengambil Sasuke darinya. Tapi sepertinya Tuhan sedang menghukumnya. Ia malah dapat peran sebagai teman si cewek binal ini. Ini mengerikan.

"Elo benci Karin? Elo tahu kenapa gue milih Karin? Gua akui gue awalnya eneg lihat perannya dia di film-film terdahulu. Apalagi waktu audisi film …., gue muak banget. Tpai waktu audisi film kemarin, gue langsung jatuh hati. Ia punya karekter unik. Ia dengan segala bahasa tubuhnya pas sekali membawakan sosok Maya. Maya terlihat hidup dan nyata."

"Kenapa anda cerita tentang ini?" tanya dengan nada tinggi. Naruto menatap balik Sakura. "Maaf." Lanjutnya lirih.

"Gue hanya mau bilang. Karin mungkin tak sebinal seperti yang ingin ia citrakan. Sebaliknya dia gadis yang lugu, penuh cinta, dan…"

"Huh, penuh cinta apanya? Dia itu cewek murahan, tukan rebut cowok orang. Dia itu…dia itu MENJIJIKKAN." Potong Sakura penuh emosi. Tangannya mengepal erat. Kenangan perselingkuhan SasuKarin terbayang di matanya. Rasa sakit itu masih sama, meski sudah 4 tahun lamanya. Luka yang mereka torehkan terlalu dalam, hingga sulit bagi Sakura menghapusnya.

"Karin tidak suka disentuh cowok. Sebelum acting bermesraan dengan cowok, bahasa tubuhnya terlihat gelisah dan tiap selesai syuting, ia selalu menggosok-gosok kulitnya seolah ingin menghapus jejak sentuhan cowok itu."

"Untuk apa anda cerita ini pada saya." Potong Sakura kesal.

"Gue hanya ingin elo buka mata. Tak semua yang elo lihat itu yang sebenarnya. Bisa saja lain. Lihatlah tindakannya bukan apa yang ingin ia ucapkan apalagi kesan yang ingin ia perlihatkan." Kata Naruto lembut.

"Anda mau bilang Karin itu orang baik dan Sasuke itu seorang santo. Hah lucu sekali. itu lelucon paling garing yang pernah ku dengar." Kata Sakura sinis.

"Bisa jadi begitu. Gue kenal siapa Sasuke. Dia itu biasa meniduri cewek bahkan yang di pinggir jalan yang baru dikenalnya. Tapi hanya pada Karin, sikap Sasuke berbeda. Dia tak pernah menyentuhnya sedikitpun. Cara bicaranya juga berbeda tak lagi menggoda. Jadi bisa saja mereka menyembunyikan sesuatu yang kita tak tahu. Makanya jangan terbawa prasangka, lebih baik cari bukti."

Sakura merenungkan ini. Dia sama sekali tak tahu hal itu. Jujur hatinya pun ragu. Bagaimana kalo prasangkanya ini salah dan Karin bukanlah gadis binal seperti perkiraannya selama ini, tapi dia beneran si Maya, si gadis baik hati? Karin sangat berhasil memerankan si Maya, seolah dia itu beneran Maya. Bahasa tubuhnya tak bisa dibohongi. Dia sama sekali tak berlagak seperti Maya. Ia jadi ragu dengan kemampuan dirinya dan merasa terintimidasi hingga aktingnya buruk. Rasa cemburu ditambah kisah buruk diantara mereka berdua membuat aktingnya semakin kacau.

"Apa Sasuke pernah menggodamu?" tanya Sakura usil.

"Pernah. Tapi dia mundur teratur."

"Kenapa?" tanyanya heran. Tumben Sasuke melewatkan cewek secantik Naruto.

"Dia takut dengan bodyguardku. Ha ha ha ha…."

"Nggak mungkin."

"Dia takut berurusan bodyguardku yang sedikit kemayu alias bencong. Ha ha ha ha…." Tawa Naruto semakin kencang ingat peristiwa itu. Sasuke terlihat pucat pasi digoda Jugo. Sakura tertular dengan keceriaan Naruto. Semangatnya kembali muncul. Dia bertekat akan bersikap professional. Naruto saja yang jelas terlihat sedang sedih masih berusaha ceria dan tertawa seolah tak ada apa-apa. Masa dia yang seorang artis kalah.

"Gue bakal coba. Kali ini gue bakal nunjukin kemampuan gue yang sebenarnya. Gue bakal buktiin elo nggak salah pilih artis." Tekat Sakura menimbulkan senyum lembut di bibir Naruto.

"Baguslah." Katanya. Mereka pun beranjak pergi dari taman karena perut mereka lapar minta diisi.

SKIP TIME

Shika sedang berusaha mengajak Temari makan malam saat Naruto meneleponnya. Ini bikin Shika merutuki HPnya. Kenapa saat itu ia membawa HP dan juga menyumpahi Naruto. Cewek nyebelin itu selalu sukses mengacaukan harinya. Tak bisakah dia sehari saja tak mengganggunya. "Halo, ada apa?" kata Shika mengangkat telepon.

"Shika bisa elo ke tempat syuting sekarang. Tolong bantuin gue, bawain berkas gue yang ketinggalan.'

"Kenapa nggak nyuruh OB saja sih? Atau minimal Itachi." tukas Shika merasa permintaan Naruto itu nggak penting.

"Dan membocorkan rahasia perusahaan kita pada yang lain. Mang ada jaminan si OB nggak buka berkas itu. Itachi lagi pergi ke Hikarigaoka, nyari referensi untuk proyek film selanjutnya." jawab Naruto.

"Kalo penting, kenapa elo nggak ke kantor saja?"

"Gue nggak bisa ke kantor hari ini. Syutingnya hari ini, lagi banyak masalah dari hujan, para pemain dll."

"Kan udah ada Kiba dan Neji. Masa elo mestu turun tangan juga."

"Mereka lagi terluka. Nih mukanya bonyok, lagi diobati. Udah elo ke sini. Hari ini berkas itu harus sudah selesai. Besok rapatnya kan?"

"Kok bisa sih? Ya udah, gue ke sana." Kata Shika ingin mengakhiri percakapan. Dia sedikit meringis geli, tak sabar ingin lihat wajah bonyok dua orang yang terkenal paling dandy dan paling care dengan penampilan.

"Shika tunggu…"

"Apalagi?" tanya Shika bosan.

"Terima kasih." Kata Naruto sebelum menutup telepon dan sukses bikin Shika merinding disko. Ini tak bagus. Kata terima kasih Naruto seolah ancaman baru untuknya.

"Maaf. Gue ada urusan, jadi…" kata Shika terpotong tak enak hati.

"Tak masalah." Kata Temari lembut.

"Tapi kita bisa makan malam hari ini kan?" tanya Shika penuh harap.

"Maaf, saya ada makan malam dengan Naruto." Tolak Temari halus.

"Besok?"

"Maaf tak bisa juga. Naruto janji jika filmnya kemarin sukses, ia mau nraktir aku sekeluarga selama dua minggu. Ini baru hari kelima."

"Yah…ya udahlah lain kali ya." Kata Shika kecewa sebelum meninggalkan Temari. Sepeninggal Shika, Temari merunduk sedih. Ia meremas celemeknya. Sebenarnya dia ingin makan malam dengan nanas cungkring pemalas, sebutan Shika dari Naruto, karena jujur dia ada hatinya dengannya, tapi ia takut. Shika itu playboy dan dia tak siap dengan itu. Ia tak ingin hatinya terluka di kemudian hari. Dia cukup sadar diri kok.

Dia itu hanya orang miskin, tak cantik, pendidikannya pun pas-pasan. Tak mungkin SHika yang tajir dan tampan beneran suka padanya. Paling juga dia hanya ingin main-main seperti selama ini. Ia tak mau hanya jadi cinta semalamnya apalagi hanya teman ranjangnya untuk semalam. Dia bukan tipe gadis seperti itu.

Temari menarik nafas panjang, membuang pikiran buruknya. Dia memilih kerja sebaik mungkin untuk menghibur hatinya yang lagi lara dan galau.

Shika pun mengendarai mobilnya hati-hati. 30 menit kemudian, dia sampai. Ia keluar dari mobil dan mencari Naruto. Ia melihat Naruto lagi duduk dekat dua orang yang wajahnya sudah seperti mumi. Kalo nggak kenal mereka lama, mungkin Shika nggak bakal tahu. Tubuhnya mengejang karena rasa geli yang mendadak menyerangnya.

TBC

Mohon saran dan kritik dari para reader. Saran dan kritik anda membantu saya mengembangkan ide ini dan membuat ide itu mengalir deras di kepala saya dan akhirnya updatenya cepet deh.