MISS OFFICE GIRL TAJIR
Summary : Bila tiada mendalam cinta dan kerinduan tak kan terlalu dalam, luka yang ku rasakan. Naruto menutup mulutnya, kepalanya digeleng-gelengkan, tak percaya. Air mata kesedihan menetes di pipinya. Ganti summary
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Family dan Drama
WARNING
Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.
Pair : sementara baru KisaNaru
Maaf updatenya lama, laptopnya lagi masuk rumah sakit, baru sekerang selesai diperbaiki. Maaf juga tidak membalas review, ngetik kilat biar target bulan ini sudah end, jadi Ai bisa focus dengan fic yang lain. Terima kasih semua yang udah review. Terus dukung fic ini dengan review sebanyak-banyaknya. Chekidot.
Don't Like Don't Read
Chapter 9
Kedut di pelipis Neji dan Kiba berdenyut, tanda si empunya lagi marah besar. Hari ini mereka ditugaskan di Saskey eh salah Sasuke untuk membantu Naruto mengatasi masalah syuting film kali ini yang katanya banyak kendala. Tapi kenapa mereka berakhir seperti ini? Tubuhnya diperban persis seperti tokoh horror dari Mesir alias mumi. Siapa yang nggak dongkol coba? Kalo kayak gini, wajah gantengnya jadi nggak kelihatan kan? Hey kayaknya bukan itu dech masalahnya. Tapi ah sudahlah, pokoknya mereka berdua sekarang lagi marah, titik nggak pake koma.
Naruto membuka perban yang menutupi seluruh tubuh Neji, sedangkan Kiba dibantu oleh Shikamaru, susah payah. Soalnya ia harus menahan tawa, dan pura-pura sok prihatin dengan nasib rekannya. Pekerjaan tambah sulit karena Neji menatapnya tajam, setajam silet. Sepertinya pun Shika mengalami hal yang serupa, ia memang tak mengulum senyum atau berusaha sesekali memegangi perutnya yang sakit karena kegelian, tapi bahu dan punggungnya bergetar hebat karena geli.
"Ini pasti ulah elo? Iya kan? Hayo ngaku?" tuduh Shika seenaknya sendiri pada Naruto disela-sela pekerjaannya membuka perban di tubuh Kiba.
"Enak aja, elo nuduh gue sembarangan. Gue nggak tahu apa-apa. Waktu gue ketemu, mereka udah kayak gini kok." Balas Naruto tak terima.
"Kalo bukan elo? Siapa lagi?"
"Tanya aja sama mereka. Mereka punya mulut sendiri kan?"
Seolah mengerti maksud tatapan Naruto dan Shika yang butuh penjelasan, Neji mewakili Kiba, menceritakan hal yang sebenarnya. "Tadi pagi gue tiba di lokasi syuting. Gue ketemu Kiba di tempat ini. Lalu….
Flashback
Neji merengut kesal. "Dasar Sasuke kampret, bos rese." Rutuk Neji sepanjang jalan dengan nada lirih. Dia sudah bersumpah nggak ingin menginjakkan kaki di lokasi syuting semenjak adegan adu mulut dengan mantannya. Semua ini gara-gara bosnya yang seenak perutnya menyuruhnya ke sini. Kalo nggak? Mana sudi ia kemari?
Tapi kalo di sini kan ia bisa lihat banyak cewek kinclong, khususnya si Tenten. Dia jadi super cantik dan anggun, beda sekali dengan waktu mereka pacaran dulu. Dia juga jadi lebih berani berdebat dengannya, nggak kayak dulu pemalu sekali. Kelihatannya ngobrol ama dia nggak buruk juga. Dia smart seperti Naruto minus sifat jahilnya dan seenaknya. Dia lebih professional. Eh kenapa jadi ngomongin Tenten sih?
Neji mengentikan lamunannya ketika ia melihat Kiba lagi memantau lokasi syuting. Naruto tak ada, mungkin lagi bicara dengan Pain. Denger-denger syuting kali ini sulit. Banyak adegan dicut karena tak sesuai harapan si sutradara yang terkenal perfeksionis itu. Ia pun mendekati Kiba. "Udah lama, Bro?" tegur Neji.
"Baru nyampe. Elo disuruh Sasuke juga?" jawab Kiba. Neji mengangguk. "Kalo bukan karena si Saskey, gue ogah ke sini lagi." Kata Kiba merengut kesal. 'Tapi di sini nggak buruk juga. Gue bisa ketemu si Hinata. Dia jadi amboy lebih seksi dan menggiurkan. Sayang kalo dilewatkan.' Tambahnya dalam hati.
Mereka mengawasi syuting dan membantu jika ada kendala teknis. Beberapa kali break karena Sakura aktingnya entah kenapa buruk. Dia terlihat tertekan. Narutopun mengajak Sakura bicara empat mata, meninggalkan Neji dan Kiba. Tiba-tiba ia melihat lampu lighting akan jatuh menimpa Tenten dan Hinata yang berada di bawahnya. Semua panic, berteriak. Tenten dan Hinata yang saking syoknya malah nggak bisa beranjak dari tempat mereka berdiri, terpaksa Neji dan Kiba menolong keduanya. Akibatnya keduanya tertimpa lampu lighting.
"Adowwwww…" teriak keduanya kesakitan ketika tiang lampu yang beratnya Naudzubillah, menimpa punggung mereka. Untung para pekerja sigap, langsung memindahkan tiang dari tubuh bos mereka, jadi Neji dan Kiba tak perlu merasakan penderitaan lebih lama. Tenten dan Hinata terus menggumamkan kata maaf. Keduanya entah emang nggak ngerti P3K atau panic asal aja memperban luka keduanya. Mereka memakai seluruh perban ke sekujur tubuh Neji dan Kiba sehingga mereka berdua persis seperti mumi, padahal yang luka hanya punggung mereka aja. Dasar….
End Flashback
"Ooooo…." Gumam Naruto dan Shika kompak. Mereka mengangguk-angguk, antara kagum dan geli. Kekehan beberapa lolos dari bibir Shika, membayangkan insiden kecelakaan yang menurutnya murahan kayak adegan film hero picisan, seorang hero menyelamatkan cewek cantik. Puihhhh, biasa banget deh adegannya.
"Diam loe. Nggak ada yang lucu." Bentak Neji masih dongkol diketawain Shika. Dia nggak berani membentak Naruto karena Naruto kan lagi membalut lukanya, kalo dibentak, ntar malah dia menambah penderitaannya lagi dengan dalih, lagi memperban. Alamak, ngeri banget kan?
"Iya. Elo sendiri kenapa muka loe ada cap tangan di pipi. Habis digampar karena ditolak cewek atau dikejar-kejar tukang kredit karena nggak bisa bayar utang?" Sindir Neji.
"Bukan keduanya." Balas Shika kasar. Ia mengelus cap tangan di pipi. Rasanya masih perih dan berdenyut sakit. "Ini gara-gara cewek bertenaga kingkong itu." lanjutnya.
"Siapa? Ino maksudmu?" tanya Kiba.
"Siapa lagi? Heran deh gue. Preman pasar gitu bisa-bisanya jadi model terkenal. Agennya buta kali ya?" rutuk Shika.
"Preman-preman gitu, dulu elo pernah suka kan?" sindir Naruto tepat sasaran, kayak ada panah yang menancap di dadanya.
"Itu…itu… alah, ini dan itu kan lain. Nggak ada hubungannya. Sudah nggak usah dibahas lagi. Itu semua sudah jadi masa lalu." Kata Shika untuk terakhir kalinya. Ia nggak mau lagi kisah pahitnya terbuka.
"Mang kenapa sih kalian putus? Kayaknya elo dendam banget sama dia." Tanya Naruto tak ambil pusing dengan delikan Shika yang tajam karena tak suka.
'Naruto itu kepo banget sih. Mau tahu aja, urusan orang.' Batin Shika dongkol. "Bukan urusanmu." Kata Shika dingin.
"Ada dong. Aku nggak ingin syuting ini terkendala hanya karena urusan pribadi." Kata Naruto ngotot.
Shika menghela nafas. "Dia hanya memanfaatkan gue untuk mendekati orang yang bisa membantu karirnya." Kata Shika lirih, mengungkap luka lama. 'Mungkin ada baiknya dia cerita untuk mengurangi rasa sakit hati, merasa tak berguna yang bercokol di hatinya. Toh Naruto juga senasib, sama-sama tak beruntung dalam percintaan.
"Oooo, begitu." Kata Naruto paham. Dugaan dia tepat. Ino bukan gadis ambisius, demi ambisi rela berbuat apa saja. Dia jadi ngerti kenapa Shika jadi berubah playboy begitu. "Tapi elo nggak harus jadi bajingan hanya demi menyalurkan hasrat balas dendammu pada cewek lain kan?"
"Mereka sama saja. Semua cewek yang pernah tidur sama gue juga begitu. Itu suka sama suka, hanya soal seks tak lebih." Kata SHika yang diamini Neji dan Kiba.
"Nggak semua gitu, contohnya gue. Gue nggak pernah gonta-ganti cowok." Balas Naruto.
"Emang loe nggak pernah ML gitu?" tanya KIba berani.
"Nggak. Kaa bukan orang seperti itu. Kami berniat melakukannya setelah resmi jadi suami istri. Seks pranikah hanya akan menimbulkan luka dan merusak orang yang kita sayangi. Itu pasti." Kata Naruto.
"kata Siapa?"
"Ya bisa aja kan gara-gara itu si cewek hamil terus pas mereka mutusin nikah eh cowoknya sebelum nikah beneran, keburu mati. Kasihan cewek dan anaknya kan jadi anak haram. Itu contoh masih banyaklah. Dan lagi…"
"Dan lagi apa?" kejar Neji.
"Seks pranikah apalagi yang kalian lakuin hanya akan membuat seks itu tak lagi istimewa. Kau tahu kenapa?"
"Kenapa?" ganti Kiba yang tanya.
"Karena seks tanpa emosi, ibarat makan nggak akan merasakah sedapnya. Ada banyak air mata bahagia, dan bangga di sana."
"Tapi emosi yang terlalu dalam akan membuat kita sakit hati."
"Memang, tapi sebanding dengan kepuasan yang kita dapat. Dan lagi, itu kan bisa dicegah. Nyari ceweknya yang bener dong. Cari cewek baik-baik."
"Betul… betul.. betul.." kata Gaara tiba-tiba mendadak muncul, membuat keempatnya histeris. 'Hwaaaa….' Teriak mereka berempat kompak.
"Kapan elo muncul?" tanya Kiba.
"Ngapain elo ke sini?" tanya Shika.
"Barusan. Ngasih tahu rapatnya dimajukan jadi sekarang." Balas Gaara.
"What? Mampus gue. Gue belum kelar." Kata Naruto kalang kabut. Ia langsung meraih berkas yang tadi dibawa Shika ke lokasi syuting dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang belum kelar.
"Makanya ngerjainnya jangan SKS (Sistem Kebut Semalam)?" sindir Kiba.
"Emang elo udah?" tanya Neji.
"Belum sih." jawab Kiba cengengesan. Gubrakkk, semua pada jatuh nggak elit gara-gara Kiba.
"Itu sih sama aja." Balas Neji nyemprot Kiba. Ia dengan susah payah membetulkan pekerjaannya karena punggungnya masih memar. Semua pada sibuk, mengabaikan Gaara yang masih berdiri.
"Kenapa sih Saskey ngajuin rapatnya?" tanya Naruto kesal. Ia tak suka diburu-buru karena itu bikin pekerjaannya tak seperti yang diinginkan.
"Sasuke mau pergi keluar kota. Dia harus bantuin kakaknya ngurus perusahaan kakaknya itu. Tenang ajalah. Ini hanya rapat singkat untuk membahas susunan pemain film, lokasi dan kostumnya nggak minta laporan kok." Kata Gaara menjelaskan.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?" teriak Neji dan Kiba kesal, lagi sakit gini dipaksa ngerjain pekerjaan menjengkelkan ini dalam waktu singkat. Padahal rasa nyeri di punggung mulai menjalar ke tubuh yang lain. Alamak sakitnyaaaa….
"Nggak nanya." Kata Gaara singkat yang dibalas gerutuan semua orang. "Elo kenapa Nar? Melamun ya?"
"Bukan. Gue nggak nyangka si Sasuke itu sayang juga sama kakaknya." Kata Naruto sambil tersenyum simpul.
"Dia emang gitu kok, sayang banget ama keluarga. Kenapa? Elo naksir dia?"
"Kagak. Gue nggak minat." Mereka semua ngelihatin Naruto sambil senyum-senyum nggak jelas. "Gue beneran nggak suka ama dia, meski gue nggak lagi jatuh cinta sama Kaa." Lanjutnya kesal.
"OH ya?" tanya Shika. Siapa juga yang percaya. Hampir tak ada cewek yang tak terpesona pada Sasuke, mantan mereka pun sempat terpesona juga.
"Ok Sasuke memang tampan. Tapi itu bukan segalanya. Gue udah biasa liat cewek tampan. Elo lupa kalo gue itu biasa berhubungan dengan actor-aktor tampan Hollywood. Dia itu sama kayak actor-aktor tampan itu, badboy. Iihhh males banget, deh. dan lagi Sasuke itu nggak jantan."
"Nggak jantan bagaimana?" tanya Itachi penasaran. Ia saat ini membelakangi Naruto sehingga Naruto nggak sadar dan masih asyik gosipin Sasuke.
"Iya dia itu penakut. Masa sama bencong aja takut, langsung ngambil langkah seribu."
"Yah itu sih semua cowok normal juga ngelakuin itu. Stress loe." Kata Kiba, menyuarakan isi hati mereka.
"Itachi-san tidak seperti itu. Dia itu kalem aja, digodain Jugo, Shui sampai Orochi. Nggak kabur tuh." Kata Naruto membuat hati Itachi deg-degan. Namanya disebut-sebut sang pujaan hati.
"Itu sih lain. Mereka itu siapa sih, Nar?"
"Bodyguard gue. Papa yang nyuruh mereka berpenampilan seperti itu. Entah apa maksudnya." Kata Naruto sedikit tengsin, menguak kejelekan papinya sendiri.
"Papamu seleranya aneh." kata Itachi heran. Nggak nyangka Minato jisan yang keren dan perlente itu seleranya nggak banget. Pantas putri kesayangannya ini pun punya hobi yang kalah aneh juga, hobi kok hobi jadi babu sih.
"Lho Itachi-san juga ke sini? Iya papaku memang aneh." Kata Naruto.
"Tadi aku ditelepon Sasuke, disuruh ikut rapat. Nah itu dia!" kata Itachi.
Dengan kedatangan Sasuke berakhirlah obrolan panjang dan nggak jelas itu berikut curcol beberapa orang. Rapatnya pindah ke salah satu ruangan yang kedap suara dan cocok untuk rapat bisnis di salah satu sudut rumah ini.
"Kita sudah sepakat dengan judul film, lokasi, dan kostum. Sekarang kita pilih pemain. Ada yang punya usul?" tanya Sasuke memimpin rapat.
"Ada. Aku pilih Deidara sebagai Kyou, samurai yang terkenal dengan karakter transgendernya. Aku sudah bertemu dengannya dan menurutku dia pas sekali dengan peran itu."
"Deidara? Ya, aku setuju denganmu. Menurutku pun begitu. Kalo pemeran Hideo, si ketua klan Akamura, aku usulkan Kisame." Kata Neji.
"Kisame? Nama yang aneh."
"Itu nama panggungnya. Dia sering berperan sebagai yakuza, pembunuh bayaran dan antagonis lainnya. Jadi pas meranin karakter bengis dan sadis di hadapan lawan, tapi lembut pada keluarga. Dia terkenal dengan keharmonisan keluarga kecilnya. Ini fotonya bersama anak dan istrinya." Kata Kiba menunjukkan selembar foto pada semua peserta rapat.
'Brakkk….' Tanpa sadar Naruto menggebrak meja karena kaget setelah melihat foto Kisame. "Dia..dia.. su su sudah menikah?" tanya Naruto tak percaya.
"Bukan hanya elo yang kaget, semua orang juga begitu. Nggak nyangka aja, wajah monster gitu, istrinya cantik banget. Ayame-san terlihat seperti bidadari." Puji Kiba tak mengerti wajahnya naruto yang pucat pasi seperti mayat hidup. Yah hanya Itachi sih yang tahu dengan alasan sikap ganjil Naruto, jadi wajar saja kalo Kiba pun salah mengartikan sikap ganjilnya itu.
Naruto tertegun, meremas foto itu kuat-kuat. Ia tak lagi bisa konsentrasi dengan rapat. Pikirannya buyar. Semua itu tak luput dari pengamatan Itachi yang duduk di sampingnya. Ia sampai menyentuh pundaknya untuk menyadarkan Naruto. Rasa cemburu meruak di dada Itachi. Jadi ini orang yang membuat Naruto saat hari pertunangan mereka dulu. 'Siall…' rutuknya dalam hati.
Naruto mengikuti rapat setengah hati. Ia tetap berusaha professional meski saat ini lagi galau akut. Setelah rapat, ia akan minta ijin menemui Kisame untuk memastikan sesuatu. Ya ia butuh penjelasan. Ia pantas mendapat penjelasan setelah semua kesakitan dan penderitaannya selama ini, demi mencari Kaa… dan inilah yang ia dapat. Kaa sudah menjadi milik orang lain.
Skip Time
Naruto berlari, menyusuri jalan setapak. Ia tahu hari ini Kisame syuting di tempat ini. Ia memaksakan kakinya ke sini. Ia tak lagi perduli dengan kemungkinan adanya skandal. Saat ini ia butuh penjelasan kenapa Kaa berbuat begini. Kenapa Kaa menyakitinya dan mengkhianatinya.
"Kau sudah datang?" tanya Kisame seolah sudah tahu kedatangan gadis pujaannya hanya melalui angin yang berhembus. Bau tubuh kekasihnya ini merasuk ke dalam indera penciumannya. Rindu itu yang ia rasakan. Ingin ia mendekap tubuh itu lagi untuk menyalurkan rasa rindunya selama ini. Tapi ia tahan. Ia mengingatkan dirinya bahwa dia bukan lagi miliknya karena ia telah memilih melepaskannya.
"Kenapa kau begitu? Kenapa kau menyakitiku? Tak berhargakah aku di matamu?" Tanya Naruto lirih, menyuarakan rasa sakit dalam dada, tanpa basa-basi. Ia menahan isak tangis yang membuncah di dadanya.
"Maaf. Maafkan aku. Aku bisa saja membuat alasan kalo ini amanah dari almarhum kakakku."
"Jadi, kenapa? Kenapa?"
"Aku lelah, Nar. Sekian lama hubungan kita tak direstui, meski sudah banyak yang ku korbankan. Apalagi setelah wajahku hancur. Bukan wajahku saja yang hancur, tapi juga hati ini. Harapanku sirna sudah."
"Kaa.. aku.. aku…" kata Naruto tergagap, tak menyangka kekasihnya akan terluka seperti ini.
"Aku tahu kamu menerimaku apa adanya. Tapi Aku lelah dan aku ingin menyerah. Karena itu waktu kakakku memintaku menikahi istrinya aku bersedia. Maaf, Nar. Maaf mungkin kita memang tak berjodoh. Tolong lupakan aku." Kata Kisame berlalu pergi.
Naruto berdiri diam, meski hujan mengguyur tubuhnya. Air mata menetes deras tak terbendung. Hatinya kini kelabu sekelabu awan di langit. Hilang sudah harapannya. Musnah sudah impiannya jadi pengantin Kaa. Ia merunduk, meratapi hidupnya.
"Nanti kau sakit." Kata Itachi yang ternyata mengikuti Naruto. Ia memayungi tubuh Naruto yang basah kuyub, tapi tak diperdulikan olehnya. Ia seolah mati rasa. Akhirnya Naruto pingsan ke dalam pelukan Itachi karena tak dapat menhan rasa pening yang mendera kepalanya. Itachi membopong tubuh Naruto ke dalam mobil milik Sasuke yang tadi dipinjam paksa, untuk mengikuti Naruto dan dibalas omelan panjang Sasuke, dengan lembut. Ia sedih pujaannya jadi begini. Ia ikut merasakan rasa sakit yang saat ini dirasakan Naruto. Tapi ia juga lega. Naruto sudah putus. Jadi ia punya kesempatan untuk mendekatinya.
Berat bebanku meninggalkanmu
Separuh nafasku sirna
Bukan salahmu… apa dayaku…
Mungkin benar cinta sejati tak berpihak pada kita
Kasihku sampai di sini kisah kita
Jangan sesali keadaannya
Bukan karena kita berbeda
Dengarkan dengarkan lagu lagu ini
Melodi rintihan hati ini
Kisah kita berakhir
Berakhir… di Januari
TBC
Terakhir Please RnR sebanyak-banyaknya. Aku sudah mengabulkan permintaan salah satu reviewer untuk memisahkan Kisanaru. Hik hik hik sedih banget ngelakuinnya. He he he salah ding. Emang udah diplot gitu kok. Kisame hanya masa lalunya sedangkan cinta sejatinya ada Uchiha entertainment corp begitu juga dengan para direktur yang lain. Cinta mereka akan bersemi di perusahaan ini. Mohon maaf jika masih ada typo.
Owari
"Apa kau yakin, Kisa?" tanya Ayame.
"Ini yang terbaik untuk kami. Dia memang bukan tercipta untukku." Putus Kisame.
Airmataku kasih, menetes di pangkuanmu
Saat terakhir kita bertemu
Di senja yang kelabu
Kata isi hatiku padamu disaat itu
Sebagai bukti tanda kasih sayangku
Kita telah berjumpa
Namun akhirnya kan berpisah
Semua kusadari kau takkan kumiliki
Antara kita berdua terhalang dinding pemisah
Yang tak mungkin dilalui
Walaupun sampai di akhir nanti
Di malam dingin ini ku duduk seorang diri
Terdengar sayup alunan lembut
Nada sebuah melodi
Teringat aku akan suatu memori indah
Yang akan selalu kuingat sampai mati
Kalau kutahu begini, tak ingin bercinta lagi
Yang membuatku hidup di dalam illusi
Biarlah semua berlalu dalam bayangan kelabu
Hanyalah satu yang pasti
Cintaku akan tetap abadi
Ayame menatap Kisame prihatin. Semua ini salahnya juga, memisahkan dua sejoli yang saling mencintai itu. Tapi apa boleh buat, dia juga mencintai Kisame sejak dulu. Rasa itu tetap ada, meski ia sudah menikah dengan kakak Kisame. Ia pun mengambil kesempatan saat suaminya meninggal untuk mengikat Kisame. 'Maafkan aku Tuhan. Maafkan keegoisanku. Tapi aku mencintainya, Tuhan dan aku tak akan pernah melepaskannya.' Doanya dalam hati.
End Owari
