MISS OFFICE GIRL TAJIR
Summary : Kering air mataku mengingat tentangmu. Tentang kita yang tak jodoh. Dulu pernah bermimpi saling memiliki, nyatanya pun tak kesampaian. Perih hati Naruto, tercabik bagai ribuan kertas. Duka yang mendera membuatnya nekat ingin jadi TKW di Jazirah Arab. Berhasil nggak ya teman-temannya menghentikan niat konyolnya itu? Ganti summary
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Family dan Drama
WARNING
Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal.
Pair : sementara baru KisaNaru
Maaf jika Ai masih belum bisa balas review satu-satu. Ai nggak punya banyak waktu sekarang, ngejar target. Bagi para flamer yang bilang cerita ini tak jelas. Sebelum anda mengkritik coba belajar dulu cara membuat kalimat. Ngetik kritikan yang baik saja anda tak bisa, lalu bagaimana anda bisa mengkritik hasil karya orang lain?
Maaf juga updatenya lama. Situs naruto fanfic gak bisa dibuka eror terus, gak tahu kenapa. Kayaknya ada masalah dengan kartunya, pas ganti kartu eh bisa. Terima kasih semua yang udah review. Terus dukung fic ini dengan review sebanyak-banyaknya. Chekidot.
Don't Like Don't Read
Chapter 11
Temari duduk di ruang pantry. Hari ini pekerjaannya sudah selesai. Ia sibuk merapikan penampilannya yang sedikit berantakan, rutinitasnya sehari-hari sebelum pulang ke rumah. Ia mengulaskan bedak tipis-tipis ke wajahnya dan lip glouse di bibirnya yang sedikit kering. Rambutnya dia sisir rapi dan diikat jadi empat, khasnya dia.
"Tem. Elo mau jenguk Naruto." Tegur Shika tepat setelah ia memasukkan alat make upnya ke dalam tas hitam mungil miliknya.
Temari berusaha tersenyum, melupakan pembicaraan antara ShikaKiba beberapa jam yang lalu dan yang telah menyinggung perasaannya. "Ya." Jawabnya singkat.
"Elo mau bareng ke sana denganku? Gue nggak keberatan ngasih tumpangan."
"Terima kasih. Tapi…" kata-kata Temari dipotong oleh Gaara yang mendadak muncul di ruang pantry.
"Elo sudah siap?" tanya Gaara.
"Sudah." Kata Temari bersiap-siap.
"Ya sudah. Kita berangkat sekarang. Shik, kita cabut duluan ya?" Kata Gaara pamitan.
"Kalo nggak mau ya udah. Nggak usah pamer kemesraan dong." Dengus Shika tak suka dengan kedekatan mereka, setelah keduanya berlalu pergi dari hadapannya.
Ia bertanya-tanya dalam hati. 'Sejak kapan Gaara dekat dengan Temari? Inikah alasan kenapa dulu Gaara melarangnya PDKT, karena dia juga ngincar Temari?' pikirnya lesu. Rasa cemburu dan tak rela muncul tanpa bisa ia bendung menyusup di sudut hatinya. Apalagi tadi Temari terlihat senang diajak Gaara. Mungkinkah Temari menyukai Gaara? Makanya itu ia bersikap dingin padanya? Berjuta pertanyaan menggelayuti hatinya, menimbulkan rasa tak nyaman, melebihi ketika hidupnya diobrak-abrik Naruto dulu.
Ia pun pergi ke ruang parkir dengan lemah lunglai, merasa lelah. Ia jadi malas menjenguk Naruto. Dengan ogah-ogahan ia menstater mobilnya kembali pulang. Besok saja jenguknya.
SKIP TIME
Di rumah sakit, Sakura, Tenten tiba bersamaan dengan Temari dan Gaara. Mereka menanyakan kabar Naruto pada Shui. Jugo sedang tak ada di tempat. Ia ditugaskan mencari pasokan trombosit yang cocok dengan golongan darah Naruto di rumah sakit lain, karena kebetulan pasokannya menipis. Sedangkan Itachi tertidur di sofa karena kelelahan jagain Naruto semalaman.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sakura khawatir.
"Masih belum sadarkan diri. Demamnya masih tinggi dan tubuhnya drop banget. Makanya itu ia tidur sepanjang hari." Kata Shui. Ia melihat sang nona yang masih tidur nyenyak, tak lagi histeris seperti ketika di apartemen Itachi. "Maaf jika kalian tidak bisa bicara dengan Naruto. Kondisinya masih tak memungkinkan." Lanjutnya dengan setia mengganti kain di dahi majikannya itu.
"Tak masalah. Kami ngerti kok." Kata Sakura. Mereka lalu berbincang-bincang dikit hingga waktunya pulang minus Itachi yang masih terlelap. Setelah itu Temari dan Gaara berpamitan pulang. Mereka sedikit kecewa tidak bisa ngobrol langsung dengan Naruto, tapi apa boleh buat. Naruto tidur nyenyak sekali.
"Sak. Sory banget ya, gue nggak bisa ngantar elo. Gue harus ke lokasi syuting lagi. Mendadak nih." Kata Tenten tak enak hati setelah ditelepon manajernya yang lagi nunggu di bawah.
"Nggak apa-apa. Gue bisa naik taksi." Kata Sakura maklum. Tenten pun beranjak pergi buru-buru karena manajernya sudah tak sabaran nunggu. Sakura berniat menelepon taksi, tapi perusahaan taksi lagi sibuk, jadi terpaksa ia mesti nyetop taksi sendiri di bawah.
"Elo mau pulang sendiri?" tegur Shui.
"Iya." Kata Sakura.
"Bahaya cewek pulang malam-malam sendirian. Gue antar saja." tawar Shui.
"Ah, tak usah repot-repot. Gue bisa sendiri."
"Tidak, gue akan tetap ngantar." Tolak Shui tegas, tak bisa membiarkan seorang gadis pulang malam sendirian. Ntar kalo ada apa-apa gimana? Ia pun beranjak dari tempat duduk, membangunkan Itachi yang tidur.
"Chi, bangun Chi. Elo bisa jaga Naruto dulu kan? Gue mau nganterin Sakura pulang. Kasihan dia pulang sendiri." Kata Shui. Itachi terbangun, menggerakkan tubuhnya yang kaku. Tidur di sofa adalah mimpi buruk. Badannya sakit semua.
"Ada apa?" tanya Itachi dingin.
"Tolong elo jaga Naruto. Gue mau nganterin Sakura dulu." Kata Shui. Itachi yang memang sudah menunggu waktu berduaan saja dengan Naruto dari kemarin, mengangguk senang meskti tak terlalu kentara. Ia menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya dengan baik.
Itachi duduk di kursi samping ranjang Naruto setelah kepergian semua orang. Ia memperhatikan wajah ayunya dari mulai bulu matanya yang lentik, bibirnya yang ranum, hidung mancungnya, pipinya yang agak cabi, dan sudut lancip dagunya. Semua terlihat sempurna di matanya. Ia mengelus kulit wajah Naruto dengan tangan kanan secara hati-hati dan lembut. Ingin merasakan tekstur kulitnya, apakah sehalus kelihatannya? Ia mengusap bibirnya, membiarkan sensasi kehalusan bibir Naruto menggelitik saraf-saraf kulitnya. 'Kesempatan.' Pikirnya. Sudah lama ia ingin melakukan ini, tapi tak pernah kesampaian.
Itachi sedikit membungkuk ke depan, menurunkan kepalanya tepat di atas wajah Naruto yang masih lelap. Pertama-tama, ia mencium dahinya, turun ke pelipis, mata, hidung hingga akhirnya berakhir di bibir. Rasa hangat, efek dari demam Naruto, menjalar sepanjang tubuhnya, tapi tak diperdulikan oleh Itachi. Ia menelusuri garis di bibir Naruto dengan bibirnya lembut lalu menjilatnya dengan lidahnya yang ahli. Tak puas sampai di situ, ia menarik kepala Naruto ke atas dengan tangan kirinya untuk mendapat akses lebih. Ia menghisapnya seolah bibir Naruto itu permen, mengigitinya kecil-kecil hingga bibir Naruto menjadi merah dan sedikit bengkak. Ia menyalurkan nafsu terpendamnya, mumpung si empunya lagi tidur. Untung pintu segera terbuka sebelum Itachi berbuat lebih jauh lagi.
"Iam coming. Naruto gimana ka…?" kata-kata Kiba terputus karena melihat adegan tak senonoh yang dilakukan Itachi. "Kabarmu?" lanjutnya pura-pura tak melihat apapun. Ia meneguk ludah susah payah, terintimidasi dengan tatapan tak suka Itachi yang merasa terganggu.
"Di rumah sakit jangan teriak-teriak kayak di pasar. Dasar mulut toa." Gerutu Neji yang masuk belakangan. Ia menghampiri ranjang Naruto, mengabaikan Kiba yang masih mematung. "Gimana keadaannya? Kok tinggal elo sindiri? Yang lain mana?" lanjutnya.
"Sudah lebih baik, tapi masih belum sadar. Mereka ada urusan. Elo lama di sini?" balas Itachi dingin.
"Apaan sih. Elo nggak suka kita di sini. Kita juga khawatir tahu." Balas Neji tersinggung.
"Iya. Lagian elo pasti kecapekan dari kemarin jagain Naruto. Kita tak keberatan kok gantian jaga. Toh besok libur ini." Kata Kiba sok berani, meski tangannya masih gemetaran akibat intimidasi Itachi. 'Gue bakalan di sini biar si Itachi nggak berbuat macem-macem, setidaknya sampe ada orang lain di sini.' Tambahnya dalam hati.
Itachi mendengus tak suka. "Gue udah istirahat tadi. Udah sana pulang. Besok emang kalian nggak ke kantor, tapi kan besok masih ada syuting terakhir. Kalian harus mantau jalannya syuting kan? Kalo berantakan, kasihan kan Naruto. Ia sudah kerja keras hingga masuk rumah sakit nih." Balas Itachi membujuk mereka pulang.
"Tak apa, kami tak…" kata Kiba dipotong Neji.
"Elo benar. Elo nggak masalah kan di sini sendiri?" tanya Neji mengabaikan protes Kiba. Itachi mengangguk. "Ya sudah. Kita cabut sekarang. Yuk, Kib?" ajak Neji.
"Tapi…" protes Kiba, lagi-lagi diabaikan Neji.
"Ayo." Potong Neji menarik Kiba keluar dari ruangan meninggalkan Itachi dengan Naruto seorang.
Di luar kamar Kiba kembali melancarkan protes. "Elo apa-apaan sih, Ji? Kalo Naruto diapa-apain ama Itachi gimana?"
"Nggak apa-apa, paling juga dicium doang atau tubuhnya digerayangi, nggak sampai diperkosa ini." Kata Neji santai.
"Elo juga lihat?"
"Iya. Sudahlah kita biarkan saja. Kalo kelamaan di dalam yang ada kita tewas dibunuh Itachi. Lihat caranye memandang, hiiii.., nyeremin tahu." Kata Neji bergidik. Rupanya ia juga ikut terintimidasi. Mereka pun pulang ke apartemen masing-masing dengan hati tak tenang. Mereka khawatir dengan Naruto, tapi juga takut. Bagaimana pun Itachi bukan lawan sembarangan? Hanya orang gila yang mau jadi lawannya dan mereka tidak gila.
Kembali pada Itachi dan Naruto. Setelah kepergian Neji dan Kiba, Itachi berniat meneruskan niat mulianya, tapi Naruto terlanjur bangun. Perlahan ia membuka matanya. Ia sedikit kebingungan, tak mengenali dimana dia sekarang. "Aku ada dimana?" tanyanya lemah.
"Elo ada di rumah sakit. Tidurlah kalo elo masih ngantuk. Nanti gue bangunin." kata Itachi bergema dalam kepala Naruto. Dia mengangguk pelan, karena ia masih merasa ngantuk dan lemas. Tubuhnya tak enak digerakkan. Itachi menyentuh dahinya yang masih panas. Tangannya ditahan Naruto, saat ia berniat menurunkan tangannya. Rasa dingin dari telapak tangan Itachi membuatnya nyaman. Ia berangsur-angsur tidur lagi.
Setelah mengunci pintu karena tak ingin ada gangguan lagi, ia kembali melanjutkan aksinya yang tertunda. Ia mencium bibir Naruto sedikit lebih ganas, tangan kanannya dia letakkan di samping kepala Naruto sedangkan tangan kirinya memberanikan diri bergerilya, menyentuh tubuh Naruto lembut. Naruto menggeliat tanpa ia sadari karena merasa tak nyaman dan geli. Hal ini membuat Itachi semakin berani mengelus leher, tulang belikat, dada dan berhenti di bagian payudara agak lama, tanpa melepaskan ciumannya.
Ia menangkup salah satu gundukan bukit kembar Naruto yang cukup besar, kira-kira melebihi tangkupan telapak tangannya. Ia mengusap perlahan putingnya dari luar baju pasien Naruto, membuat Naruto semakin menggeliat tak nyaman dan mendesah dan ini dimanfaatkan Itachi. Ia memasuki rongga mulutnya dari celah-celah bibirnya yang terbuka, mengabsen deretan gigi sebelum mengajak lidah Naruto bertarung. "Mmmmm…" desah Naruto sedikit terangsang, terlebih ketika Itachi berani memasukkan tangannya ke dalam baju Naruto, mengusap kulit tubuh Naruto.
Sensasi dingin kulit Itachi bertemu dengan kulit Naruto yang panas, menimbulkan sensasi hangat dan nyaman. Naruto yang terangsang tanpa sadar mengangkat pinggulnya meminta lebih. Itachi mengerti itu. Ia menarik baju Naruto ke atas dan me….
"Chi, bangun Chi. Elo bisa jaga Naruto dulu kan? Gue mau nganterin Sakura pulang. Kasihan dia pulang sendiri." Kata Shui mengguncang-guncangkan tubuh Itachi.
Itachi terbangun karena kaget, tapi ia menutupinya dengan menggerakkan tubuhnya yang memang kaku. Tidur di sofa adalah mimpi buruk. Badannya sakit semua dalam arti tanda kutip dan sebenarnya. Tidak bisa menyalurkan hasrat itu menyakitkan sekali lho. Ditambah lagi ia tidur ditempat yang mungil ini. Lengkap deh penderitaannya.
"Ada apa?" tanya Itachi dingin. Ia kesal mimpi indahnya bercumbu dengan Naruto buyar sudah gara-gara makhluk ababil di depannya ini.
"Tolong elo jaga Naruto. Gue mau nganterin Sakura dulu." Kata Shui sebelum keluar dengan Sakura. Itachi mengangguk. Ia menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya. Setelah kepergian keduanya, ia cepat-cepat ke kamar mandi, mengeluarkan hasratnya sebelum celananya basah. Ini konyol. Bisa-bisanya ia ereksi hanya karena mimpi bercumbu, catat sodar-sodara mimpi. Semua adegan pelecehan pada Naruto itu hanya mimpi Itachi belaka. Ia cepat-cepat membereskan urusannya ketika ia mendengar Naruto berteriak.
"Jangan pergi. Kaa jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Hik hik hik…" katanya terisak dalam tidurnya. Itachi segera menghampirinya, mengusap air matanya lembut dan membisikkan kata-kata penghiburan.
"Sssst tenanglah. Semua baik-baik saja." kata Itachi lirih. Ia mengusap lengan Naruto lembut seolah menyalurkan kekuatannya pada Naruto agar dia kuat. Naruto yang merasa nyaman kembali tertidur. Itachi dengan setia mengganti kompresnya agar demamnya cepat turun. "Tenanglah. Gue nggak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Gue akan melakukannya saat elo siap, karena gue cinta sama elo." gumamnya lirih mengusir dorongan nafsu akibat mimpi erotisnya tadi.
"Iam coming. Naruto gimana ka…?" kata-kata Kiba terputus karena melihat adegan tak senonoh yang dilakukan Itachi. (Dari sudut mata Kiba, Itachi seolah-olah lagi terpergok nyium Naruto, padahal Itachi hanya berbisik di telinganya.) "Kabarmu?" lanjutnya pura-pura tak melihat apapun sedikit salah tingkah. Ia meneguk ludah susah payah, terintimidasi dengan tatapan tak suka Itachi yang merasa terganggu.
"Di rumah sakit jangan teriak-teriak kayak di pasar. Dasar mulut toa." Gerutu Neji yang masuk belakangan. Ia menghampiri ranjang Naruto, mengabaikan Kiba yang masih mematung.
"Hn." Gumam Itachi tak jelas, memperlihatkan wajah tak sukanya. Dia merasakan dejavu.
"Kenapa dia kayak nggak suka gitu sih?" tanya Kiba lirih pada Neji, biar Itachi nggak denger.
"Itu gara-gara elo teriak-teriak kayak toa di rumah sakit. Elo mau bikin Naruto kena serangan jantung?" balas Neji pedas, meninggalkan Kiba di depan pintu dan menghampiri Naruto.
SKIP TIME
Perjalanan pulang dilalui dalam keheningan, dan kecanggungan. Maklum mereka tak saling kenal sebelumnya. "Elo lama kenal Naruto?" tanya Sakura memecah keheningan.
"Ya. Dia banyak cerita tentang elo. Katanya elo salah satu pemain dalam film yang lagi digarapnya."
"Tapi gue bukan pemeran utamanya. Karin yang dapat peran itu." kata Sakura masih kesal dengan kegagalannya itu.
Deg, jantung Shui berdetak kencang mendengar nama gadis yang masih sangat dicintainya itu dan terpaksa ia tinggalkan demi rasa sayangnya pada Naruto, majikannya. Hal itu tak luput dari penglihatan Sakura. ' Tampaknya Karin pernah punya hubungan khusus dengan orang ini. Makanya itu Karin masih menyimpan fotonya.' Pikir Sakura.
"Elo kenal Karin?"
Deg. Lagi-lagi jantung Shui berdentam-dentam lebih cepat. Perlu waktu lama untuk menjawabnya. Ia memegang stir kuat-kuat. "Ya. Tentu saja. Dia kan artis. Sering muncul di TV kok." Katanya hati-hati.
"Oh." Kata Sakura singkat. Ia jadi berniat ingin mencari tahu lebih dalam hubungan keduanya. "Banyak lho, artis yang terlibat film itu nggak suka Karin. Dia dianggap artis murahan yang hanya manfaatin kedekatannya dengan Sasuke, pimpinan perusahaan itu." komentar Sakura membuat Shui menoleh cepat ke samping, tapi segera balik lagi melihat depan karena tak ingin masuk rumah sakit, apalagi kuburan.
"Karin nggak gitu. Dia itu pekerja keras. Dia berlatih lebih banyak dan disiplin. Ia sangat professional, tak suka mencampurkan masalah bisnis dengan kesenangan pribadi." Kata Shui tak suka gadisnya dijelek-jelekan.
Sakura tersenyum misterius. Jelas sudah kecurigaannya. Dia punya hubungan dengan Karin, mungkin hubungan kekasih. Tapi ia bingung apa hubungannya dengan Sasuke?
Shui terdiam, menyadari kalo dia bicara terlalu banyak. Moga saja gadis ini nggak ember dan Karin jadi susah karena hal ini. Ia nggak ingin Karin menderita karenanya. Dia masih mencintai gadis itu, sangat malah. Mereka kembali menghabiskan sisa perjalanan dalam diam, berkutat dengan pikiran masing-masing.
SKIP TIME
Naruto kembali ke apartemennya dibantu Shui dan Jugo yang jadi tetangga apartemen, tepatnya di depannya. Tadi Itachi juga menawarkan diri membantu, tpai ia tolak halus. Jugo meletakkan barang-barangnya di lantai sebelum menatanya ke tempat yang seharusnya, sedangkan Shui memapah Naruto di sofa agar Naruto bisa istirahat karena tubuhnya masih lemas.
"Kita sudah sampai sekarang. Elo butuh sesuatu?" tanya Shui sabar.
Naruto mengangguk. "Tolong ambilkan jus jeruk. Gue haus."
"Baiklah. Tunggu di sini dulu. Gue buatkan jus." Kata Shui meninggalkan Naruto sendiri di ruang tamu. Ia pergi ke dapur membuat apa yang Naruto minta.
Naruto memandang apartemen yang seminggu ini ia tinggalkan dalam-dalam. Sudah setahun ini ia tinggal di tempat ini. Apartemennya tidaklah mewah, sederhana malah. Hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Hal yang membuat Naruto suka tempat ini adalah ada balkon yang menghadap tepat ke matahari terbit, dan pemandangan desa nun jauh di sana terlihat jelas dari balkon. Tapi semua ini harus ia tinggalkan.
Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan isak air mata. Hatinya masih sangat terluka akibat diputus secara sepihak Kisame. Ia tak terima penantian dan pencariannya selama ini berakhir sia-sia. Perjuangannya selama ini tak ada gunanya. Sakit, marah dan sedih, itu yang ia rasakan sekarang hingga membuatnya tak sanggup lagi tinggal di Konoha.
Ia membulatkan tekat. Ia harus pergi dan menghilang dari tempat ini secepatnya. "Maafkan gue, maaf." Isaknya sedih. Bagaimanapun ini bukan hal yang mudah. Banyak kenangan manis di sini. Pertemanannya dengan Temari, sering cekcok dengan para direktur gila itu, persahabatan yang mulai terbangun dengan artis pendukung film terbarunya, dan perhatian asistennya membuat dirinya hangat dan berat. Tapi…., ia sungguh tak sanggup tinggal di sini lebih lama.
Ia tak kuat harus bertemu kembali dengan mantannya yang kini berbahagia. Apalagi dengan posisi dia sebagai pimpinanannya. Takut, ia sungguh takut. Karena itulah ia mengambil keputusan ini.
SKIP TIME
Neji dan Kiba POV
Keduanya sibuk kerja di ruangannya masing-masing. Selesai syuting mereka masih harus mengawasi proses editing dan proses promosi. Mereka ngecek akun social media yang mereka kelola untuk promosi dan program entertainmen yang bisa mereka andalkan untuk mendongkrak penjualan. Semua harus sempurna agar film ini meledak seperti film terdahulunya.
"Haus nih." Kata Kiba. Ia memencet nomor pantry. "Tolong buatkan aku jus sirsak. Bawa ke ruanganku." Kata Kiba tegas. Ia tak bisa kerja tanpa asupan jus sirsak terutama saat lagi dikejar deadline seperti saat ini.
"Tolong bawakan aku jus lemon ke ruanganku sekarang." Kata Neji yang juga sama hausnya sebelum memutus sambungan telepon.
Tak berapa lama pesanan mereka datang. Awalnya mereka cuek saja. Saat mereka mau nyuruh si OB lagi, betapa terkejutnya mereka. "Ada lagi, Tuan?" tanya si OB itu.
Seperti robot mereka sama-sama menggelengkan kepalanya saking syoknya. "Kalo begitu permisi." Kata OB itu sopan mengundurkan diri dan menutup pintu kerja mereka pelan.
Shika POV
Shika termenung di ruang kantornya. Ia tak bisa tidur beberapa hari ini. Bukan karena gaweannya segudang, tapi karena Temari. Semenjak Temari menghindarinya, yah ia memang selalu menolak diajak kencan, tapi baru sekarang Temari menyapanya sopan dengan panggilan 'Shika-sama'. Sejak itu, ia jadi tak bisa tidur lelap. Ia rindu bercanda tawa dengan gadis itu lagi. Ia biasa tukar fikiran ataupun gurauan dengannya. Kayak ada yang kurang dalam hidupnya.
Ia sudah berusaha menanyakan perubahan sikap gadis itu, tapi gadis itu selalu menghindar dan tak mau diajak bicara dengan alasan sibuk. Ia berfikir bagaimana caranya memaksa gadis itu bicara secara pribadi dengannya? mmmmm, dia mengetuk meja dengan jarinya yang panjang, berfikir keras. 'Ah begini saja.' pikirnya. Ia memencet nomor pantry. "Temari, tolong buatkan aku secangkir kopi. Bawa ke ruanganku sekarang." Katanya singkat dan memutus hubungan.
Ia tersenyum dan menggoyang-goyangkan kursi putarnya ke kanan dan ke kiri senang. 'Kali ini Temari tak bisa lolos lagi. Ia pasti mau ngomong apa alasan gadis itu menjauhinya.' Ia menunggu beberapa menit hingga pintunya di ketuk. Shika pura-pura membaca laporan seolah-olah tak perduli dengan gadis itu. "Masuk." Katanya tegas.
Seorang gadis dengan sebuah nampan di tangan masuk, meletakkan cangkir di atas meja. Shika mendongakkan kepalanya. Betapa terkejutnya dia, lihat siapa yang membawakannya minuman. "Kau?" tanyanya terkejut. Matanya membulat dan air ludahnya seolah berkhianat, sulit sekali ditelan, membuatnya semakin tersiksa.
"Permisi." Kata orang itu berlalu pergi masih membawa nampan. Mungkin ada orang lain yang juga memasannya.
Shika POV
Itachi POV
Itachi bekerja menggantikan tugas Naruto yang terbengkalai karena jatuh sakit. Ia tak keberatan karena dia memang suka pekerjaan ini. Tiba-tiba ada telepon masuk.
"Itachi. Sampai kapan elo kerja di sana?" kata Sasori kesal.
"Kayaknya gue bakal kerja tetap di sini deh." kata Itachi tenang, mengabaikan kekesalan Sasori.
"Apa? Elo gila? Terus perusahaan elo gimana?"
"Kan ada elo. Elo besok gue angkat jadi direktur gantiin gue." Kata Itachi seenaknya.
"Tapi Chi..?" protes Sasori dipotong Itachi.
"Elo mau nikahin Deidara kan? Kalo elo mau nikah ama dia, elo terima aja. Elo bakal serasi dengannya sekarang dan nggak ada yang berani ngusik hubungan kalian. Gue percaya kok ama elo. Elo nggak bakal menyalah gunakan wewenang."
"Tapi…" protes Sasori masih ragu.
"Nggak ada tapi-tapian. Terima atau elo gue pecat?" ancam Itachi.
"Iya iya iya deh, gue terima. Elo tuh bener-bener seenaknya sendiri. Nggak pernah berubah." Dumel Sasori kesal, sebelum memutuskan sambungan telepon, meski ia senang juga. Itachi benar. Kalo mau nikahin Deidara, dia harus sepadan dengannya yah, kalo tak ingin jadi bulan-bulanan media massa.
"Haus, ingin minum teh." Gumamnya. Ia memencet nomor pantry. "Tolong bawakan tth ke ruanganku sekarang." Katanya.
Ia kembali menekuni pekerjaannya yang tertunda hingga terdengar pintu diketuk. TOk TOK TOk. "Masuk." Katanya menyuruh si OB masuk. Orang itu masuk dan meletakkan cangkir teh ke atas meja. Itachi mengalihkan pekerjaannya karena mau minta dia foto kopi. "Tolong kamu foto kopi i…." katanya terhenti. Betapa terkejutnya dia lihat siapa yang berdiri di depannya itu.
"Ya? Foto kopi apa Tuan?" tanyanya ramah. Tapi Itachi tak bisa menjawab karena teramat terkejut. Mulutnya saja sampai terbuka lebar, sama sekali tidak Uchiha sekali.
Setelah OB itu dengan sopan keluar ruangan. Itachi beranjak dari tempat duduknya, membuka pintu kerjanya bersamaan dengan Neji, Kiba dan Shika. Keempatnya saling menolehkan kepalanya. Secara serentak tanpa komando menyerbu pintu kerja Sasuke. Di sana sudah ada Gaara yang lagi membuat laporan. Tanpa komando lagi keempatnya dengan kompak teriak "Sasuke… Apa-apaan ini?"
Sasuke menghela nafas panjang, sudah menduga ini bakalan terjadi. Ini keputusan paling gila yang pernah ia lakukan dan mungkin bakalan ngancam nyawanya. Bokapnya bisa ngamuk dan membunuhnya sekarang juga. "Aku bisa menjelaskan." Katanya lirih susah payah.
"Sudah seharusnya kan?" Kata Kiba kesal.
"Dasar merepotkan. Elo tambah merepotkan saja." gumam Shika kembali ke habitat awal, tak suka hal-hal repot. Selama ada Naruto kata favoritnya jarang keluar karena takut Naruto lebih sadis lagi nyiksanya.
"Elo pikir ini lelucon? Nggak lucu tahu." Komentar Neji pedas.
"Elo mau mati?" tanya Itachi penuh ancaman.
'Tuh kan benar?' pikirnya. Ia bisa tewas dengan penasaran sekarang. Tamat riwayatnya sekarang. Ia yang cool saja sampai salah tingkah gara-gara ini. Gaara yang tak mengerti duduk perkaranya hanya memandang mereka bergantian, bingung. 'Ada apalagi sekarang. Selalu saja ada masalah.' Pikirnya.
TBC
He he he penasaran kan siapa OB yang bikin mereka terkejut setengah mati itu. ayo RnR sebanyak-banyaknya.
