MISS OFFICE GIRL TAJIR

Summary : Itachi marah. Neji marah. Shika marah. Kiba marah. Tenten marah. Temari marah. Hinata marah. Sasuke kesal. Sakura dan Karin tersenyum lega. Gaara bingung sendiri. Semua ini gara-gara Naruto. Dia itu seperti bom, tercipta untuk membuat semua orang kesal. Ganti summary

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Family dan Drama

WARNING

Bertebaran typo di sana-sini. FEMNARU, no yaoi, OOC, dan bertebaran kata-kata gombal, Bahasa tidak baku dan acak adul, kadang resmi kadang gaul dan kadang alay.

Pair : sementara baru KisaNaru

Sepertinya chapter kemarin mengecewakan para reader. Reviewnya paling dikit. Tak apalah, yang penting Ai sudah berusaha sekuat tenaga. Bagi yang nebak OB baru itu Mikoto. Maaf anda salah besar. Masa Mikoto jadi OB, nggak elit amat. Dia di sini berperan sebagai Ka Sannya Uchiha bersaudara itu kok. Bagi yang nebak Naruto. Yeiiii, anda benar. Naruto balik lagi jadi OB.

Buat fic Ai yang lain harap sabar ya. Ini mau ditamatin dulu. Tinggal dikit kok. Bentar lagi juga end. Udah mulai klimaks.

Terima kasih semua yang udah review. Terus dukung fic ini dengan review sebanyak-banyaknya. Chekidot.

Don't Like Don't Read

Sasuke mengetukkan jarinya di meja. Setelah semua tenang dan duduk di kursi baru ia mulai menjelaskan. "Jadi begini ceritanya." Kata Sasuke

Flashback

Sudah seminggu Naruto masuk rumah sakit. Ia sudah sehat dan boleh masuk kerja lagi. Dia membuka pintu kantor Sasuke dengan ragu-ragu. Masuk tidak ya? Ia tak yakin Sasuke akan menerima keputusannya ini. Tapi ia sungguh tak sanggup lebih lama lagi disini. 'Ah cuek ajalah. Emang siapa Sasuke?' katanya dalam menepis pikiran buruk.

'Tok Tok Tok' Naruto mengetuk pintu ruang Sasuke.

"Masuk." Balas sebuah suara baritone yang sudah dikenalnya baik.

Naruto membuka gagang pintu dan masuk ke dalam ruangan. "Eh elo, Nar. Dah sembuh?" kata Sasuke.

Naruto mengangguk. Ia menyerahkan secarik amplop yang diterima Sasuke penuh tanda tanya. "Apa ini?" tanyanya.

"Baca aja sendiri." Kata Naruto singkat.

Sasuke merobek amplopnya dan membaca kertas yang ada di dalamnya. "Apa-apaan ini? Elo bercanda?"

"Enggak. Gue serius."

"Kenapa elo ingin berhenti? Elo ada masalah dengan Shika, Neji, Kiba atau yang lainnya?"

Naruto menggeleng kuat-kuat karena memang bukan mereka penyebabnya. "Enggak kok. Mereka baik banget sama gue. Waktu gue sakit, mereka banyak nolong gue."

"Lalu?"

"Ya, nggak ada apa-apa. Gue ingin berhenti saja, nggak lebih nggak kurang."

Sasuke menghela nafas panjang. "Lalu apa rencanamu setelah keluar dari sini?"

"Jadi TKW di Arab Saudi." Katanya lirih.

"Apa? Elo gila." Teriak Sasuke kaget setengah mati. Kirain Naruto mo balik ke Hollywood atau kerja di PH lain. Kok sekarang ia malah lebih gila lagi. Ingin jadi TKW, coba? Siapa yang percaya seorang milyader yang biasa hidup di bawah sorot lampu, malah banting stir, ingin jadi TKW? Dunia sudah gila.

"Nggak, Sas. Gue udah mantep. Teman gue udah nyariin gue majikan di Arab sono. Gue tinggal berangkat. Passport pun sudah siap."

"Tapi kenapa elo ingin jadi TKW?" gumam Sasuke masih tak percaya. Mungkinkah penyakit lama Naruto itu malah tambah parah, sampai punya pikiran gila. "Kalo elo kangen berat dengan pekerjaanmu yang dulu, elo boleh kok jadi OB lagi untuk sementara waktu sampai elo tenang. Tapi, please jangan jadi TKW, ya? Gue bisa dibunuh bokap loe."

"Tapi Sas…" kata Naruto keberatan

"Please. Tolong kasihani nyawa kami." Bujuk Sasuke.

Akhirnya Naruto mengangguk. Tak ada salahnya jadi OB di sini. Dia juga udah PW di sini. "Baiklah. Gue bersedia jadi OB lagi. Terus kerjaan gue yang dulu gimana?"

"Itu… Kan film yang terakhir dah kelar. Tinggal editing dan promosi jadi bisa dikerjain ShikaNeji. Untuk selanjutnya biar Itachi yang gantiin elo."

"Apa nggak jadi masalah buat Itachi-san?"

"Nggak bakalan. Dia itu hebat lagi menangani hal gituan. Elo kan juga masih bisa bimbing dia. Meski jadi OB, elo tetap masuk team kreatif." Kata Sasuke membuat Naruto merengut.

"Katamu gue jadi OB. Gimana sih? Dasar nggak ikhlas." protesnya.

"Iya, elo itu OB, OB special maksudnya. Kalo elo ninggalin perusahaan ini gitu aja, gue bisa bangkrut. Ayolah. Elo hanya bimbing dia kok. Nggak ngerepotin elo. Mau ya?"

"Baiklah. Gue ganti seragam dulu. Waktunya kerja." Kata Naruto undur diri.

Sasuke tersenyum miris. Kali ini tamatlah riwayatnya. Kalo Om Minato tahu, nyawanya pasti melayang. Tapi daripada dia jadi TKW, kayaknya masih lebih baik di sini deh. Yah meski sama-sama jadi babu juga. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Nar… Nar, punya hobi kok aneh. Gue baru denger ada seorang bos bujuk karyawan potensialnya jadi OB. Gue pasti sudah gila." Gumamnya lirih.

End Flashback

Mereka manggut-manggut entah ngerti entah hanya ikut-ikutan. Reaksi mereka pun macam-macam setelah mendengar penjelasan dari Sasuke.

"Jadi elo gagal membujuknya?" (Neji)

"Hn." (Sasuke)

"Terus?" (Kiba)

"Apanya yang terus. Ya the sow must go on. Ada maupun tidak perusahaan ini akan tetap bekerja sesuai schedule. Untuk sementara posisi Naruto digantikan Itachi. Nah sekarang kalian bisa bubar dan kembali ke ruangan kalian masing-masing." Usir Sasuke yang dijawab gumaman tak ikhlas karyawannya. Mereka keluar semua, minus Itachi yang masih diam.

"Elo nggak apa-apa kan Chi?" tanya Sasuke khawatir. Siapa tahu aja anikinya syok melihat kenyataan yang sebenarnya dari cewek pujaan hatinya.

"Hn."

"Gue khawatir aja elo syok." Jawab Sasuke ngerti maksud gumaman aneh Itachi.

"Hn."

"Baguslah. Elo bisa kan gantiin Naruto? Please jangan balik dulu. Gue udah pusing dengan pengunduran diri Naruto, nih." Bujuk Sasuke.

"Hn."

"Terima kasih banyak. Elo emang aniki yang paling bisa gue andalin. Oh ya sekedar ngasih tahu. Gue udah masukin Naruto secara resmi jadi asisten loe. Jadi elo bisa merintah dia." Tambah Sasuke waktu Itachi sudah balik badan, mau kembali ke ruangannya.

Itachi tersenyum lega. Tak sia-sia ia merendahkan diri, melamar jadi asisten Naruto. Sekarang dia bisa lebih dekat lagi dengan Naruto dan bisa memonopolinya sendiri. Kali ini ia tak ingin kecolongan lagi. Ia akan membuat Naruto benar-benar lupa dengan mantannya yang dulu dan hanya Itachi yang bertahta di hatinya.

SKIP TIME

Naruto sibuk bikin dua minuman untuknya dan kakaknya yang baru datang. Dia sudah diberi tahu tempat kerja Naruto yang baru oleh ayahnya. Ia sama sekali nggak kaget dengan pilihan kerja adik bungsunya itu. Ia sudah tahu dengan penyakit aneh adiknya dari dulu.

"Hmm, gue nggak ngerti dengan elo deh, Nar. Sumpeh deh. Gue tahu elo dari dulu aneh, punya obsesi jadi petugas kebersihan, tapi elo nggak harus jadi OB, kan? Bukannya elo udah dapat posisi bagus jadi direktur? Kenapa sekarang jadi OB?" tanya Shion nggak habis pikir. Ia menghirup teh hijau buatan adiknya untuk menenangkan batinnya yang syok. Untung dia yang lihat, coba Kyuubi? Bisa dibom perusahaan ini mungkin. Dia kan kalo teller suka bikin bom. Rumahnya aja nyaris gosong akibat bom buatannya sendiri.

"He he he… abis gue kan seneng pekerjaan ini. Jadi gue keluar."

"Gila lho ya?"

"Nee chan, jangan gitu ah. Nee chan sendiri juga punya hobi aneh."

"Diam loe. Dibilangin bukannya nurut malah ngeyel."

"Yes, mam. Gimana kabar Papa?"

"Ya elo tahu sendirilah. Kalo salah satu dari kita sakit, pasti papa juga sakit. Dia lagi terbaring di rumah sakit, itu pun mesti dirantai di tempat tidur."

"Kok dirantai? Emang pasien RSJ?"

"Dia mau nengok elo pas denger elo masuk rumah sakit, padahal dia sendiri sakit parah. Karena kesal nggak bisa dibilangin, Mami nyuruh petugas rumah sakit buat merantai dia. Makanya ia nggak ke sini."

'Dasar Papa. Masih aja kekanakan.' Batinnya. "Nee chan jangan bilang sama papa ya kerjaan Naru sekarang." Kata Naruto cemas.

"Papa udah tahu."

'Uuh, ini pasti gara-gara Sasuke. dasar cowok ember.' Rutuk Naruto dalam hati. "Kenapa ia nggak ke sini?"

"Daripada elo jadi TKW, mending juga elo jadi OB. Begitu katanya."

Naruto tersentak kaget. "Papa juga tahu hal itu?"

"Ya iyalah. Elo pikir papa itu apa? Kalo hanya buat nyari info tentang elo sih kecil."

"Dulu papa sempat kehilangan jejak." Kata Naruto ngotot.

"Papa sebenarnya udah tahu kok elo tinggal di Konoha, hanya nggak tahu aja profesi elo gara-gara Jugo dan Shui bantuin elo. Makanya papa marah dan menghukum mereka berdandan ala bencong. Sekarang papa lebih canggih lagi lho. Pokoknya elo nggak bakal lepas dari pengamatan papa."

"Yah." Kata Naruto kecewa.

"Udahlah itu nggak penting, nggak usah dibahas. Sekarang apa rencana elo?"

"Rencana? Rencana apa?"

"Rencana masa depan elo lah. Jadi elo mo netap di Konoha, meski elo dah putus dengan siapa itu mantan loe itu? Gue lupa." tanya Shion penuh selidik sambil mempermainkan kukunya yang baru saja dimanicure.

"Kanata. Sekarang namanya Kisame. Ya, gue mau tinggal di sini saja. Gue betah di sini kok. Orangnya asik-asik."Jawab Naruto.

"Elo yakin? Gimana kalo ntar elo ketemu lagi sama si siapa sih namanya lupa lagi, dengan istrinya itu? Elo sanggup? Ntar elo mewek lagi."

"Kisame. Entahlah, gue sendiri nggak yakin. Mungkin gue bakal mewek lagi mungkin juga tidak. Gue…."

"Kenapa elo nggak berhenti aja? Liburan sama gue ke Eropa, Hawai atau apalah itu, yang jelas nggak di sini."

"Nee-chan kan tahu, gue kayak gimana? Gue nggak ingin liburan di sana. Di sini saja gue sudah tenang."

"Oh yeah, gue percaya itu. Elo pasti datangin lagi tempat kenangan kalian berdua terus termehek-mehek. Lalu kapan elo bisa move on dari dia. Atau elo punya rencana ngerebut dia?"

"Ya nggaklah. Emang gue cewek apaan. Tolong biarkan gue tenang dulu di sini. Gue bisa…"

"Nar, elo bisa bikinin gue minum… Oh, elo ada tamu." Kata Itachi memotong kalimat Naruto. Naruto mendongak, dalam hati merasa lega dengan intrupsi Itachi. Jadi kakaknya yang satu ini nggak bisa lagi menyelidikinya kayak penjahat.

"Ah, tak masalah. Ntar aku antarkan." Kata Naruto.

Shion yang melihat kedatangan Itachi terpana. Dia berdiri tegap, membuat garis leher gaunnya yang rendah dan tadi tertutupi tas, terbuka lebar memperlihatkan belahan dadanya yang cukup menggiurkan. "Ehem, jadi anda bosnya Naruto." Katanya dengan suara serak, mendesah, dan tatapan nakal menggoda. Biasanya dengan cara ini ia berhasil menakhlukkan semua cowok. Ia menghampiri Itachi memamerkan kakinya yang ramping dan jenjang. "Bisa kita bicara berdua saja? Aku ingin membicarakan tentang adikku." Katanya masih dengan suara merayu membuat Naruto panic.

Naruto merasa tak enak hati dengan Itachi atas kelakuan buruk kakaknya yang lagi kumat. Kakaknya ini punya penyakit demen menggoda cowok tampan. Dia biasa mencatat nama cowok-cowok tampan yang dikencaninya di atas ranjangnya. Dulu sempat sembuh setelah ia bertunangan, tapi setelah putus, penyakitnya semakin menjadi-jadi. Yah Namikaze family emang aneh dengan segala hobinya yang tak biasa.

"Hn, terima kasih, tapi tak perlu. Adik anda seorang pekerja yang sangat berdedikasi dan cakap dalam pekerjaan. Itu saja yang bisa saya katakan." Katanya dingin. Ini membuat Naruto merasa heran, tumben ada cowok yang tak terpengaruh sama sekali dengan rayuan maut dan keseksian kakaknya. Itachi terlihat dingin, tak perduli. Tak ada kabut nafsu di pantulan bola matanya. Ia jadi heran sendiri. Kok bisa? Tapi ia memang tak begitu mengenal asisten eh salah mantan asistennya ini. Kenapa dia jadi ingin tahu soal Itachi? Ia makin bingung sendiri.

"Tolong ya. Sekalian aku ingin minta penjelasan soal proyek yang akan datang." Katanya sambil tersenyum simpul sebelum beranjak dari ruangan.

"Siapa sih cowok itu? Sialan, dia nyuekin gue." Gerutu Shion mondar-mandir sambil berkacak pinggang.

Naruto tertawa geli lihat Shion mencak-mencak, tak terima. "Namanya Sabaku Itachi. Dia itu atasanku yang baru. Orangnya emang gitu. Gue aja nggak pernah lihat dia bareng cewek sekalipun. Kalo direktur yang lain sih sering."

"Maksud loe, dia itu homo?" tanya Shion bergidik. Bisa-bisanya dia godain homo, ih najis. Harus mandi kembang nih, buat buang sial.

"Kayaknya enggak deh."

"Tahu darimana?"

"Feeling aja." Kata Naruto cuek, sambil menyiapkan pesanan Itachi. "Elo masih lama?"

"Enggak. Gue mau balik ke apartemen loe. Capek gue."

"Hm, hati-hati di jalan." Kata Naruto siap-siap membawa nampan meninggalkan Shion di pantry, merapikan make upnya sambil nunggu jemputan. Tadi dia udah ngebel Jugo untuk menjemput. Tak lama kemudian Temari masuk ke pantry, dia sedikit kaget. Ada cewek super cantik dalam ruangan.

"Err, anda?" tanya Temari dipotong Shion.

"Gue Shion, kakaknya Naruto. Gue balik dulu." Kata Shion tak mau berbasa-basi. Temari mengangguk ngerti kalo kakaknya Naruto ini tak ingin beramah tamah dengan orang rendahan macam dia, beda dengan Naruto.

"Oh, ya tolong jaga adik gue ya?" katanya ramah sebelum pergi. "Dia itu meski terlihat kuat, sebenarnya lemah. Tolong hibur dan temani dia, ya. Saat ini dia lagi patah hati. Elo bisa kan?" tambahnya.

Temari menganggukkan kepala lagi. "Pasti. Dia itu teman baik kita semua. Semua orang sayang sama dia." Balas Temari. Ternyata kakaknya Naruto baik juga, nggak sombong seperti dugaannya tadi. Mungkin dia jet leg habis perjalanan jauh, makanya ia tak mau berbasa basi dengannya.

SKIP TIME

"Jugo. Elo tahu Itachi, bosnya Naruto?" tanya Shion dalam perjalanan pulang.

"Ya." Jawabnya singkat, focus menyetir mobil. Shion mengangkat alisnya minta penjelasan lebih lanjut. "Namanya Uchiha Itachi, kakak kandung Uchiha Sasuke yang memiliki perusahaan Saringan Company. Dia itu seorang milyader di usia muda." Lanjutnya mengerti apa yang ingin dikatakan nonanya.

"Begitu." Shion mengangguk paham. Mungkinkah Itachi jatuh cinta pada adiknya ini? Dia pernah dengar Itachi yang terkenal kejam dalam dunia bisnis, dan pernah jadi petualang cinta mendadak tak lagi mau kencan dengan siapapun. "Elo beruntung Nar. Elo selalu bertemu dengan cowok yang baik dan benar-benar mencintai elo apa adanya." Gumamnya lirih. Ia senang dengan hal itu, sekaligus sedih. 'Nggak kayak gue. Kenapa gue selalu ketemu sama cowok brengsek? Kapan gue bakal ngalamin hal kayak elo? ' tambahnya dalam hati perih tak terperikan.

SKIP TIME

"Kita harus bicara. Ada hal penting yang mau gue omongin." Kata Shika menarik tangan Temari ke salah satu bilik kamar mandi ketika Temari lewat, menguncinya dari dalam.

Temari awalnya kaget, tapi berusaha menutupinya. Ia menarik nafas panjang untuk mencegah emosinya meluap, bagaimanapun Shika ini salah satu pimpinan di sini. "Bisakah anda membuka pintunya? Saya harus kerja. Lagipula saya rasa tak ada yang perlu kita bicarakan."

"Ada." Bentak Shika frustasi. "Kenapa elo menghindar dari gue?" lanjutnya.

"Itu hanya perasaan anda." Tukas Temari tetap tenang.

"Elo bahkan memanggil gue, anda."

"Anda kan pimpinan saya, wajar jika…"

"Dulu, elo mau manggil gue Shika bahkan mau bercanda dengan gue. Kenapa sekarang… sekarang elo menjauhi gue? Apa gue ada salah sama elo?" desak Shika.

"Tidak. Saya hanya baru sadar kedudukan saya. Saya ini hanya OB, kelas rendah. Tak pantas bergaul maupun bercanda dengan orang kaya, apalagi dengan pimpinan saya."

Shika terhenyak. Mungkinkah ia mendengar percakapannya dengan Kiba tempo dulu? "Dengar elo itu bukan…"

"Itulah kedudukan saya. Saya mungkin lupa karena terlalu lama bergaul dengan Naruto. Tapi sekarang saya ingat. Saya… saya.. saya harap anda tak mempersulit saya." Potong Temari cepat. Ia juga frustasi dengan keadaan ini. Ia juga sedih harus menjauhi Shika karena dia telah jatuh hati padanya. Tapi ia sadar dirinya ini siapa. "Tolong buka pintu ini."

"Kita belum selesai bicara. Gue masih…"

"Tolong. Saya masih butuh pekerjaan ini. Kalo saya dipecat, keluargaku gimana? Saat ini saya tulang punggung keluarga." Kata Temari lirih membuat Shika akhirnya mau membuka pintu. Temari berlari keluar, menutup mulutnya untuk mencegah isak tangis keluar.

Di lain pihak Shika yang frustasi memukul dinding toilet, melampiaskan emosi. Kenapa jadi begini? Dulu semua baik-baik saja. Bahkan waktu dia ditinggalin Ino cinta pertamanya saja, dia tak begini. Kenapa hanya karena tak lagi bisa berdekatan dengan Temari ia merasa begitu menderita begini?

"Tenang saja. Gue akan tutup mulut." Kata Naruto, masih sibuk membersihkan lantai toilet. Dia dari tadi ada di situ jadi melihat insiden itu dari awal sampai akhir.

"Gue pikir elo bakal gampar gue karena nyakitin hati Temari." Kata Shika.

"Ogah. Enak di elo dong. Elo mau gue gampar biar elo lega kan? Enak aja. Jadi kita sama sekarang. Sama-sama lagi frustasi."

"Sialan loe. Kenapa sih elo jahat?"

"Itu kan salah elo sendiri. Coba-coba mainin perasaan akhirnya elo sendiri yang jadi korban. Emang enak?"

"Tak bisakah elo empati dikit?"

"Tenang aja. Kalo elo butuh orang buat gampar pipi loe, gue bersedia kok." Kata Naruto sambil menggampar Shika keras lalu langsung lari dan menutup pintu toilet keras. "Awww…" teriak SHika kesakitan. "Sialan loe, Nar. Sakit banget. Emmm, bau. Uwekkk…" dumelnya. Tadi kan Naruto menggosok korslet (bener nggak sih nulisnya?) jadi wajar dong kalo tangannya bau.

SKIP TIME

Neji, Kiba, Shika, Sasuke, dan Gaara bertemu di lantai satu, tanpa sengaja, saat mau pulang ke rumah. "Elo kenapa, Kib? Pipimu kok bengkak begitu?" tanya Gaara heran.

"Kena gampar Hinata. Tadi gue menawarkan diri nganterin dia pulang. Eh gue salah gandeng tangan orang. Terus kena gampar deh. Dikiranya gue mau mainin dia. Padahal gue kali ini mau serius. Uhh, sakit banget deh." kata Kiba memegang pipinya yang bengkak.

"Eli, Shik. Elo kena gampar Ino?" tanya Sasuke geli.

"Bukan. Ini gara-gara Naruto. Gue minta digampar eh dia gamparnya beneran pake tangannya yang bau, abis bersihin toilet lagi. Apes tenan." Kata Shika sama seperti Kiba megangin pipinya yang bengkak dan merah.

"Elo masih mending. Nih lihat muka gue bonyok kanan kiri." Kata Neji.

"Karena Tenten. Aww, sadis betul cewek itu." kata Gaara ikut prihatin.

"Itu setengahnya. Ini semua gara-gara Naruto."

"Kok? Emang dia ngapain lagi sih? Kayaknya elo sial mulu kalo ama dia." Kata Sasuke.

Flashback

Neji baru saja keluar dari ruangan. Tadi itu pertemuan dengan para kru dan pemain film soal promosi film nanti. Ia jalan bareng Tenten beriringan. Berkaca dari kasus Naruto, membuat Neji sadar. Bahwa cinta akan membuat segalanya nikmat termasuk soal ranjang. Kalo ingin terikat dalam mahligai pernikahan maka Tentenlah orang yang akan dipilih Neji. Makanya itu ia mau PDKT. Pas dia ngajak makan malam besok, Sebelum Tenten buka mulut, tampak Naruto dari kejauhan ngedumel.

"Dasar Sasuke rese, selalu saja ngerepotin orang. Masa gue yang jelas-jelas lagi patah hati disuruh nyari ide film percintaan. Nggak sensi banget sih ni, cowok." Dumel Naruto. Ia pun melihat Neji. "Ji, entah elo ada acara?" tanya Naruto setelah jarak tak begitu jauh.

"Tidak ada." Kata Neji ringan, yang emang lagi nggak ada acara.

"Ntar kita kencan ya? Gue tunggu di bawah abis jam kantor." Kata Naruto seenak perutnya sendiri sambil melengos pergi, membuat Neji melongo.

Tenten langsung salah paham dan memakinya. "Bisa-bisanya elo deketin gue saat elo lagi jalin hubungan dengannya." katanya marah.

Neji langsung tersadar. "Dengerin dulu penjelasan gue. Ini nggak seperti yang elo pikirin." Kata Neji gelagapan, bingung sendiri. 'Dasar Naruto bego. Awas elo entar.' Dumel Neji dalam hati.

"Penjelasan apa lagi? Semua udah jelas. Elo nggak pernah berubah ya, Dasar cowok brengsek." Tenten mengayunkan tangan kanannya, menampar pipi kanan Neji keras hingga muncul warna merah. Plakkkk. "Gue benci ama elo. Jangan deket-deket gue lagi." Katanya penuh kebencian meninggalkan Neji.

Neji udah berniat mengejar Tenten, tak ingin kehilangan kesempatan balikan dengan Tenten. Dia terlanjur jatuh hati dengan gadis itu, tapi baru juga selangkah eh udah ada yang berdehem dengan aura tak menyenangkan memanggilnya.

Itachi baru saja menghadiri pertemuan dengan para pemain film pendukung serial kolosal yang akan diproduksi, tapi sudah mendapat tontonan gratis tak menyenangkan ini. Ia mengepalkan tangannya kesal. Naruto dengan santainya mengajak Neji, si bajingan tengik itu kencan. Sejak kapan mereka menjalin hubungan tanpa sepengetahuannya.

"Ehem. Elo bener-bener bangsat." Kata Itachi dingin. Tatapannya sadis, seperti berniat mengoyak tubuhnya hingga jadi serpihan.

"Dengar ini salah pa…"

"Elo pikir gue tuli? Dasar brengsek, nggak tahu diri." Bukkk, Itachi menghantam perut Neji hingga ia merasakan nyeri hingga tulang rusuknya. Belum puas juga, Itachi menghadiahi bogem mentah di bagian pipi yang satunya lagi. Pusing tujuh keliling, rasanya. 'Alamak, kalo gue mati gara-gara ini, bakal gue hantui lho, Nar seumur hidup.' batinnya.

End Flashback

"Uh uh uh, sakit banget tuh rasanya. Aduhai tak patut." Kata Gaara sok prihatin. 'Hukum karma kali ya.' Tambahnya dalam hati.

"Tak usah ditanya lagi gimana sakitnya." Kata Neji sedikit meringis. Shika, Kiba, dan Sasuke menatap kasihan, meski dalam hati batin 'Untung bukan gue yang kena.'

"Terus elo jadi kencan dengan Naruto?" tanya Sasuke.

"Enggaklah. Udah bosan hidup apa gue. Mana gue belum bisa ngubungin Tenten lagi. Uuuh, nyebelin banget sih Naruto itu. Dosa apa sih gue padanya, selalu saja gue yang kena iseng."

"Mungkin dia naksir elo kali?" goda Kiba.

"Bukan. Dia ngajak gue kencan hanya buat referensi scenario film. Dia biasa gitu lagi." (Neji)

"Maaf mengganggu sebentar. Bisa bicara dengan Sasuke?" tanya Sakura menyela pembicaraan ababil mereka. Mereka saling menoleh dengan sepakat memberi privasi untuk mantan pasangan kekasih itu. mereka pamitan pulang.

"Ada apa?" tanya Sasuke mengangkat salah satu alisnya, heran. Tumben mantannya ini mau ngajak ia bicara. Abis putus kan mereka tak pernah berkomunikasi sama sekali.

"Bisa bicara di tempat yang lebih privat. Ada yang ingin kutanyakan. Ini penting." Kata Sakura mantap.

"Tentu." Kata Sasuke lalu mengajak Sakura masuk ke dalam mobil. Mobilnya kedap suara jadi nggak bakal ada yang menguping pembicaraan mereka.

TBC

Ai akui sempat kehabisan ide dan nggak tahu gimana endingnya entar, makanya lama updatenya. Mohon saran dan kritik para reader yang membangun untuk fic ini. RnR, please.

OWARI

Pertemuan para pemain dan kru film dilakukan di ruang studio. Beberapa kru film awalnya bingung kenapa Itachi yang jadi produsernya dan bukan Naruto? Lalu mana Naruto? Eh ternyata dia hanya jadi penulis scenario saja, tak lagi terlibat masalah produksi secara langsung.

Kisame mendengarkan penjelasan Itachi dan beberapa kru film dengan gelisah. Matanya celingukan mencari sosok Naruto. Dia mendengar gadis itu masuk rumah sakit karena drop. Ia beberapa kali menjenguknya dari kejauhan, karena merasa tak pantas. Ia diam-diam mengamati gadis itu dari kejauhan. Hatinya sempat merasakan sakit hati karena kedekatan ItaNaru. Tapi ia tahan. Emang apa haknya? Dia bukan siapa-siapanya Naruto. Bukankah ini sudah keputusannya melepas gadis itu? Kenapa sekarang ia merasa tak rela?

"Elo nyari apa? Dari tadi celingukan." Tegur Deidara yang duduk di sebelah Kisame.

"Nyari Naruto." Jawabnya spontan menimbulkan kernyitan heran Deidara. "Gue denger kalo film yang diproduseri Namikaze bungsu itu selalu meledak di pasaran dan artis yang membintanginya pasti namanya bakalan melambung tinggi. Karena itu gue berharap….'

"Tenang aja ada Itachi kok." Potong Deidara. "Dia itu bertangan emas, semua yang ia tangani selalu berhasil. Lagipula skenarionya ditulis Naruto sendiri lagi. Jadi gue yakin film ini bakal sukses." Tambahnya penuh keyakinan.

"Atau mungkin elo punya niat lain?" Tanya Deidara penuh curiga.

"Maksudmu?" tanya Kisame balik ikut bingung.

"Banyak orang yang mencoba mendekatinya karena ingin namanya tenar. Apa elo juga mau begitu? Ingat elo itu udah punya anak dan istri. Nyadar dong." Kata Deidara kesal.

"Gue nggak bermaksud begitu." Kata Kisame. Dia udah lama tahu hal itu. banyak sekalo cowok cakep selangit dari jajaran selebritis yang mencoba PDKT pada Narutonya sejak dulu. Tapi semua ditolak demi dia. Pasti hidup Naruto hancur begitu tahu ia mengkhianati sumpah mereka. Dia tahu itu karena ia mengenal Naruto. Tapi ia bakal lebih hancur lagi kalo bersamanya. Ia akan jadi burung tanpa sayap. Ia tak suka itu. Ia ingin Naruto terbang bebas di angkasa, dan bahagia, meski itu tanpa dirinya di sisinya. Biarlah ia merasa sakit dan sedih saat ini, tapi tidak di masa depan. Biarlah ia berkorban. Cukup dia aja yang merasa sakit.

"Baguslah kalo elo ngerti. Sebaiknya kita denger lagi penjelasan Itachi, ntar kita kelewatan bagian yang penting lagi." Kata Deidara mengakhiri pembicaraan dan dibalas anggukan Kisame.

End OWARI