9095

a YunJae fanfiction presented by ©Cherry YunJae

YunJae only

NC 17/Mystery/Fantasy

Chapter 2[END] - Almost PWP

Based on Tohoshinki's song "9095"

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

"Don't open your eyes until i count to 7" He's always there.. At 9095...

.

.

"Siapa kau sebenarnya?" Jaejoong memanfaatkan diamnya makhluk ini untuk bertanya.

Tapi yang ia terima hanya senyuman sebagai jawaban. karena kesal, yang Jaejoong lakukan selanjutnya adalah mendorong tubuh Yunho yang tadi sempat memenjarakannya.

"Jangan main-main, aku tidak peduli kau ini cenayang, hantu atau apa.. Tapi aku bisa saja melaporkanmu atas kasus pelecehan seksual!" ancam Jaejoong, ia masih keras kepala sepertinya.

Tentu saja, bisa bahaya jika ia benar-benar 'diperawani' oleh seseorang yang ber-gender sama dengannya, ia bersumpah bahwa ia masih normal! Yah, meski harus diakui bahwa ia menikmati saat makhluk didepannya ini menjamahnya di dalam mimpi.

Jaejoong berjalan secepat yang ia bisa menuju pintu kamar itu, ia harus cepat melarikan diri sebelum pria berbahaya di belakangnya itu mengejar.

Klekk.. Klekkk..

Sial!

Jaejoong tak percaya kenapa takdir tidak berpihak padanya dan justru membiarkan pintu terkunci.

Yunho hanya tersenyum, dalam sepersekian detik ia sudah berada tepat di belakang Jaejoong, membuat namja cantik itu berjengit kaget karena hawa panas yang tiba-tiba menyentuh punggungnya.

"Kau tidak akan bisa pergi, belle.. Takdir sudah mengikatmu disini bersamaku.." Yunho memeluk pinggang ramping itu dan bibir nakalnya mulai menyapa leher tanpa cela milik Jaejoong.

Menyerah..

Kim Jaejoong tak mampu lagi berkutik saat pelan-pelan bibir namja itu bergerak lembut di permukaan kulitnya.

Jaejoong seakan terbius sejak pertama kali Yunho menyentuhnya tadi. Ia hanya mampu memejamkan mata dan berharap saat membuka mata nanti ia hanya berada sendirian di kamarnya, tapi pikirannya menolak.. Seluruh sentuhan yang kini ia rasakan terlalu nyata dan terlalu nikmat.

Entah bagaimana Jaejoong justru menuruti Yunho yang membawa tubuhnya berbalik menghadap namja bermata musang itu, jemari Yunho terulur mengangkat dagu mungil Jaejoong agar dua pasang mata itu bertemu.

Jaejoong tidak bisa, menatap kedalam mata musang itu membuat kakinya lemas, tatapan itu begitu menggodanya.

"Kau cantik, sangat cantik…" Suara itu terdengar lirih, dan Jaejoong hanya terpejam menahan semua perasaannya. Itu adalah ekspresi terbodoh yang pernah ia lakukan, atau justru yang terbaik, karena semuanya mendorong Yunho untuk mengecup bibirnya dengan lembut. Ciuman hangat dan penuh perasaan membawa Jaejoong terbang tinggi dan melupakan dunia ini.

Ia tak tahu bagaimana bisa orang asing ini mengecup bibirnya dengan begitu lembut. Bukan nafsu liar, yang Jaejoong rasakan adalah perasaan lain yang mengalir begitu lembut lewat ciuman Yunho, meski ia tak yakin perasaan apa itu.

"Mmmh…" Jaejoong hanya terpejam pasrah.

Tubuhnya gemetar hebat. Tapi mulutnya terbuka saat lidah Yunho mulai menjulur dan menggelitiki rongga mulutnya. Lidahnya ikut bergerak meski masih sangat kaku, saling menggelitiki untuk mendapatkan sensasi aneh yang sempurna. Tangannya begitu saja menyentuh lengan Yunho yang kokoh, yang saat itu tengah melingkar di pinggangnya Jaejoong.

Waktu seakan berhenti. Dan keduanya terpaku seperti sepasang patung sihir. Hanya helaan nafas yang terdengar di sela-sela ciuman mereka. Kedua tubuh itu merapat dan saling bergesekan, seakan tak dapat terpisahkan. Saling memberikan rasa hangat yang aneh dan membangkitkan seluruh saraf yang tertidur.

Keduanya baru berhenti ketika nafas mulai habis dan terengah-engah kelelahan.

Jaejoong kaget dan merasa malu sekali. Mulutnya basah akibat ciuman panas itu. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain menanti yang terjadi selanjutnya.

"Aku sudah lama menunggumu, sangat lama.." Yunho menatap sayu, Jaejoong memperhatikan ekspresi sendu itu.

"Kau... Siapa?" desis Jaejoong masih tak mengerti.

Yunho mendekatkan parasnya ke sisi kanan kepala Jaejoong, membisikan sesuatu sambil menempelkan bibirnya di telinga Jaejoong dengan begitu sensual.

"Aku pemilikmu.. Aku yang akan memilikimu.." Jawaban yang begitu ambigu, namun sebelum Jaejoong sempat protes, kembali Yunho menempelkan kedua bibir mereka.

Kali ini gerakan Yunho tak terkontrol, ia seperti ingin memakan Jaejoong bulat-bulat. Jaejoong mendesah kecil, tangannya secara refleks berusaha mencegah, tapi Yunho yang tak mau kehilangan lagi berusaha menahan Jaejoong agar tetap diam. Ciumannya makin liar hingga Jaejoong tak bisa mengelak.

Tangan Yunho tiba-tiba saja sudah menjalar di dalam kemeja katun milik namja cantik itu, menyentuh segala hal yang bisa ia capai disana, terutama titik sensitif Jaejoong.

"Mhhhh!"

Sentuhan di dadanya terasa makin nyata, membuat Jaejoong terengah-engah akibat rangsangan hebat di tubuhnya. Ia tak kuasa mencegah sentuhan itu, karena bagaimanapun dirinya ternyata menikmati.

Keduanya terengah-engah akibat ciuman yang panjang itu.

Sedangkan paras Jaejoong makin memerah, karena ia benar-benar terangsang oleh segala bentuk sentuhan Yunho di kulitnya. Bibir, pipi, telinga, perut, & dadanya.

Jaejoong benar-benar tak bisa berkutik hingga Yunho dengan mudah membuka pakaiannya, dan sibuk membiarkan bibirnya menjelajahi tubuh bak porselen milik Jaejoong.

Jaejoong membiarkan dirinya terdesak ke pintu, hingga ia hampir merosot jatuh saat sentuhan tangan Yunho makin lincah dan mempermainkan puncak dadanya yang kini tak tertutupi apa-apa. Ia hanya mendongak setengah terpejam dan tangannya yang bingung merapat ketat di atas pintu berukiran indah itu. Ia makin tak terkontrol karena di saatyang bersamaan ciuman Yunho mendarat di dagu dan lehernya bertubi-tubi. Lehernya cukup panjang dan jenjang, hingga kepala Yunho dapat terbenam di sana dan memberinya beberapa tanda kemerahan. Jaejoong merasakan jantungnya begiru panas. Ia sangat kebingungan mengenali perasaannya saat ini.

Ia sempat menunduk dan hanya melihat rambut brunette milik Yunho, ia mungkin sudah gila karena membiarkan dirinya diperkosa oleh seorang namja. Tapi apa daya, Jaejoong tidak tahu kalau rasanya akan se-memabukkan ini hingga ia tak mampu menolak.

Kini tangan Yunho dengan berani membuka pembungkus terakhir yang melekat di tubuh Jaejoong.

"Kau pasti tidak tahu, betapa cantiknya kau saat ini.. Dan itu membuatku makin menggilaimu." Puji Yunho berbisik sambil membelai paha mulus Jaejoong.

Hanya sentuhan kecil itu saja membuat Jaejoong tersengal, kenapa Yunho begitu mudah menyulut gairahnya?

"Kau stalker?" Tanya Jaejoong terputus menahan hasrat yang meledak karena jemari indah Yunho menari lincah diatas pahanya.

Namja tampan itu tersenyum, "Tidak sopan menyebutku stalker, sudah kubilang aku ini pemilikmu.." Yunho tak ingin berbasa-basi lagi dan akhirnya namja itu membenamkan wajahnya di dada Jaejoong, memberikan bekas yang sama seperti di leher namja cantiknya itu.

"Ouhh! Apah yang... Enghh.." ucapan Jaejoong terputus saat Yunho menghisap nipple-nya. Jaejoong mendongak, tentu saja karena jutaan saraf berkumpul di titik itu hingga ia begitu sensitif saat rasa nikmat menjalar cepat menuju seluruh pembuluh darahnya.

"Hngh!" dan belum selesai keterkejutan Jaejoong saat tangan Yunho ternyata menyentuh kejantanannya.

Harga diri Jaejoong menolak sebenarnya, tapi entah kenapa ia tak ingin munafik bahwa ia menyukai sentuhan itu. Sejak ciuman tadi, bagian itu memang terus mendesak ingin dimanja.

Jaejoong kehilangan tenaga secara drastis, setiap titik tersensitif ditubuhnya dipermainkan dengan begitu lihai oleh Yunho dan yang paling ia suka adalah bagaimana jari-jemari Yunho yang dengan lembut menyentuh kejantanannya, mengocoknya hingga menciptakan rasa yang sulit dijabarkan.

Kejantanan Jaejoong berkedut, hingga makin lama ia makin merasakan desakan aneh yang sangat sulit ia pahami. Ia tak dapat menahan perasaannya. Ia terus mengerang dan mengerang hingga desakan itu makin menuju ke arah puncak.

Ia tak sanggup bertahan lagi.

"Aaakkhhh!" Jaejoong menjerit panjang saat orgasme melanda. Tubuhnya mengejang kuat, melengkung seperti busur. Tangannya meremas tangan Yunho yang tak juga berhenti bergerak. Ia merasakan letupan-letupan dahsyat seperti sebuah terpaan badai.

Tak memberi waktu untuk istirahat atau sekedar menetralkan nafas, Yunho segera membawa Jaejoong kembali ke ranjang berwarna putih di tengah ruangan itu.

Ia tak mampu bertahan lagi setelah melihat bagaimana ekspresi Jaejoong ketika mendapatkan puncaknya, ia ingin melihat rona merah itu lagi.

"Nghh.." Kini seperti tak ingin menolak lagi, Jaejoong lebih rileks & menyerah pada Yunho. Yunho sendiri kembali memberi sedikit foreplay ringan sambil mempersiapkan dirinya sendiri untuk memasuki Jaejoong.

"Aku sudah lama menanti hari ini, belle.."

Dan tak lama setelah mengatakan itu, Yunho melebarkan kedua kaki Jaejoong dan berusaha sepelan mungkin memasukinya tanpa melukai.

Namun sulit sepertinya, saat ia lihat Jaejoong dengan refleks menggigit bibir dan mendongak saat ujung kejantanan Yunho mulai menembusnya. Tapi ia mampu bertahan hingga akhirnya Yunho sempurna berada di dalam tubuhnya.

Jaejoong semakin larut karena tidak tahu jika rasa bercinta dengan namja asing ini begitu hebat.

"Ouhh... Nghh" suara serak Jaejoong terdengar begitu seksi ketika Yunho memulai gerakannya, ia mendorong kejantanannya lebih dalam hingga Jaejoong harus memekik.

"Aku mencintaimu, Kim Jaejoong.. Aku sangat mencintaimu.." bisik Yunho, Jaejoong seperti kehilangan kesadaran karena menjawab ucapan Yunho hanya dengan erangan dan lenguhan aneh.

Dan tubuhnya tersentak saat Yunho berhasil menyentuh titik terdalam milik Jaejoong. "Angh! Disana, lagi.. Kumohon.." wajah Jaejoong memerah, bisa ditebak kini suhu tubuh Jaejoong pasti meningkat.

"Panggil aku jika kau ingin aku melakukannya lagi." Yunho justru berhenti bergerak, hendak menggoda Jaejoong sepertinya.

"Arghh! Cepat sentuh lagi...!" Jaejoong mengerang frustasi namun Yunho tetap diam dan hanya mengangkat sudut bibirnya memperlihatkan sebuah smirk yang membuat Jaejoong frustasi.

"Ku-kumohon Yunhoh.. Cepat selesaikan ini, aku tidak tah-Akhh!" Yunho kemudian bergerak liar secara tiba-tiba, menusuk titik yang dimaksud Jaejoong dengan brutal.

"Akhhh! Khhh!"

Jaejoong merasa nyaris gila karena kenikmatan yang disuguhkan Yunho saat ini, ia bahkan tak mampu lagi berpikir rasional. Tentu saja.. Bagaimana bisa ia berpikir saat namja diatasnya ini tengah menghujaninya dengan rasa yang mampu melumpuhkan kerja otaknya?

"Nghh aaahhhh!" Jaejoong menjerit saat dengan mudahnya ia menjemput orgasme kedua-nya. Tubuhnya seperti dialiri listrik ratusan volt hingga membuatnya lemas setelah lahar itu keluar begitu saja.

Ia lelah.

Tapi tidak dengan Yunho.

Namja diatasnya itu masih saja mengerjai tubuhnya. Klimaks kedua membuat Jaejoong begitu lemas, karena itu ia membiarkan Yunho tetap mencari puncaknya sementara ia mengumpulkan kesadaran. Tapi ternyata sulit, Jaejoong yang semakin sensitif terus mendapat klimaks dengan jarak yang begitu dekat, berbeda dengan Yunho yang benar-benar bertahan.

.

.

.

"Arghh!" Geraman Yunho membuat Jaejoong lega, namja diatasnya itu baru saja mendapat orgasme pertamanya setelah Jaejoong mencapai klimaks 6 kali!

Yunho segera menyingkir, membiarkan Jaejoong beristirahat karena ia tahu Namja cantik itu pasti sangat lelah.

Tak butuh waktu lama hingga Jaejoong tertidur lelap karena rasa kebas menyelimuti tubuhnya, ia memang sangat lelah. Yunho menyingkirkan sedikit rambut yang menutupi pelipis Jaejoong lalu mengecupnya penuh kehati-hatian.

"Mercí beáucoup.." Yunho menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Jaejoong kemudian tersenyum penuh makna. Dipeluknya tubuh Jaejoong sambil berbisik pelan.

"Don't open your eyes until i count to seven.." Suara rendah Yunho yang berbisik seperti sebuah sugesti bagi Jaejoong di dalam tidurnya.

"Uné."

.

"Deux"

.

"Trois."

.

"Quatre."

.

"Cinq."

.

"Six."

.

"Sept"

"Au révoír, belle.."

.

.

Jaejoong membuka matanya perlahan bersamaan dengan suara yang hilang seperti tertiup angin.

Kepalanya sedikit pusing, tapi ia paksa melihat ke arah jendela yang terbuka.

Sudah pagi.

Ia pun berusaha memposisikan diri untuk duduk, namun ia cukup kaget saat merasa tubuhnya begitu sakit. Belum lagi selimut yang tersingkap membuat sinar matahari menerpa kulit tubuhnya yang ternyata penuh bercak kemerahan—nyaris keunguan sebenarnya.

Kepalanya berdenyut kuat saat ia memaksa mengingat kejadian tadi malam. Ah.. Ia ingat, pria asing.. Mimpi.. dan 9095.

Perlahan pecahan memorinya tersusun.

Lalu pertanyaannya, dimana pria itu?

Dan...

"Siapa dia?" Mata Jaejoong menatap sendu ke arah langit-langit kamar itu.

.

.

.

Yoochun dan Jaejoong bersiap untuk check out setelah sarapan, Yoochun berjalan di belakang Jaejoong sepanjang lorong hotel menuju lobby. Ia bingung, sejak tadi pagi hyung sekaligus bawahannya itu hanya diam dan melamun.

Ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi yang jelas ia tahu itu bukan Jaejoong yang biasanya.

Yoochun menyerahkan kunci kamar pada bagian resepsionis, "Ada yang mengganggu pikiranmu, hyung?" Tanya Yoochun. Jaejoong menoleh dan segera menggeleng.

"Geureom, Kajja.." ajak Yoochun.

Namun Jaejoong tidak segera mengikuti Yoochun, ia tetap berdiri di depan meja resepsionis dan setelah beberapa saat ragu untuk mengatakannya, ia pun bertanya.

"Uhm.. Aku ingin tahu, maaf.. Boleh aku tahu siapa yang memakai kamar nomor 9095?"

"Ne? Ah.. Kamar 9095 di ujung koridor lantai 8?"

Jaejoong pun mengangguk.

"Kamar itu tidak dipakai, kami mengalih fungsikannya menjadi tempat penyimpanan barang-barang yang rusak, apa ada masalah?" tanya yeoja berseragam marun itu.

Jaejoong terkejut sebenarnya, ia ingin bertanya 'Kau yakin itu gudang?' pada yeoja itu, tapi ia tak mau dianggap aneh, karena itu ia segera menggeleng dan menyusul Yoochun.

Jaejoong berjalan gontai menuju valley, bos nya itu justru memintanya menunggunya mengambil mobil. Dengan patuh, Jaejoong menunggu sambil menatap sekitar.

Ia masih tak habis fikir dengan kejadian semalam, apakah itu mimpi lagi?

Tapi jejak yang ditinggalkan terlalu nyata.

Siapa sebenarnya namja bermata musang itu?

Dimana dia sekarang?

"Tak perlu mencariku.."

Deg!

Jaejoong dengan cepat menoleh, mencari ke segala arah namun tak menemukan apapun.

Disentuhnya telinga kanannya sendiri, suara itu.. Sangat jelas. Suara yang sama dengan bisikan tadi malam, dengan hembusan nafas menggelitik yang juga sama. Tapi kenapa sosok itu tak ada?

Sekali lagi ia mengamati sekitarnya, namun nihil.

Siapa sebenarnya Yunho?

THE END

.

.

.

.

.

EPILOG—

3 Bulan kemudian.

Jaejoong masih sibuk di depan komputernya, mengetik sejumlah angka dan huruf, saat tiba-tiba seorang karyawati muda mendekatinya.

Jaejoong hanya melirik sesaat pada gadis dengan stelan berwarna pastel itu.

"Ng.. Kim Jaejoong-sshi.. Maaf.. Aku.. Ng.. Ingin mengajakmu makan malam.. Apa kau ada waktu?" gadis itu melihat ke arah dua temannya yang dari jauh memberi kode aneh.

Jaejoong yang mendengar itu terpaksa menghentikan gerakan jemarinya diatas keyboard komputer, dibukanya kacamatanya dan menatap gadis itu.

"Maaf, aku tidak tertarik.." tolaknya halus.

"Jaejoong-ah! Sajangnim memanggilmu!" teriak salah satu rekannya, Jaejoong segera bangkit dari duduk dan bersyukur karena timing-nya sangat tepat!

"Ah! Jaejoong-sshi!" bisa Jaejoong dengar kekecewaan di intonasi panggilan gadis itu, apa boleh buat kan?

.

.

"Kau gagal?"

"Uhm.."

"Sudah kubilang, jangan Kim Jaejoong.."

"Iya, dia sangat sulit didekati.. Wanita manapun ia tolak."

"Eh?"

"Kudengar bahkan ia tak ingin menikah.."

"Jangan-jangan dia gay?"

"Entahlah.."

.

.

.

Jaejoong menekan angka password pintu apartemennya. Hari sudah gelap dan Jaejoong ingin cepat-cepat masuk untuk beristirahat.

Klekk

Begitu pintu terbuka, Jaejoong segera melepas sepatu dan menaruhnya di rak dekat pintu.

Ia bergerak merenggangkan otot pinggangnya sambil berjalan masuk ke dalam, namun ia harus terkejut karena tiba-tiba sesuatu melingkari pinggang rampingnya.

"Kau sudah pulang?"

Hawa dingin segera menyelimuti tubuhnya, ia tersenyum sambil menyentuh sepasang tangan yang memerangkap erat pinggangnya.

"Ne.. Yoochun mengijinkanku pulang lebih awal."

"Baguslah, aku tidak ingin melihatmu terus kelelahan, belle.."

Jaejoong mengecup pipi namja di belakangnya. "Arasseo, terima kasih sudah mengkhawatirkanku.. Aku mencintaimu, Yun.."

Namja bermata musang itu tersenyum.

"Aku lebih mencintaimu, sayang.. Lebih dari yang kau tahu.." Yunho segera mencium bibir merah Jaejoong dengan lembut karena begitu senang mendengar ucapan manis kekasihnya itu.

"Mhhh..."

Jaejoong melepas ciuman mereka. Yunho pun menatap intens pada makhluk cantik di dekapannya itu.

"Wanna play something 'hot'?" tanya namja tampan itu, dan hanya dijawab dengan senyuman nakal dari Jaejoong.

.

.

.END

.

.

Notes :

avez-vous aimé? : Kau menyukainya?

Mercí beáucoup : Terima kasih banyak

Au révoir : Selamat tinggal

.

.

Ini lanjutannya! Hehehe Maaf kalo ada yang gak puas sama ending-nya tapi emang dari awal saya mau bikin cerita yang begini aja, jadi Yunho tetep jadi makhluk misterius.

Terserah readers mau nyimpulin Yunho itu makhluk apa.

Kekeke~

Sebenernya sih Yunho itu sejenis Incubus disini, tapi akhirnya dia terobsesi ama Jaejoong dan terus ngikutin Jaejoong setelah malem itu. Udah saya bocorin kan tuh.. :D

Sekali lagi maaf buat yang nunggu ff ini & kecewa ama endingnya.

See ya in the next fanfic ^^

.。.:*・° .。.:*・° .。.:*・° .。.:*・°

Special Thanks to :

missjelek || Park July || gwansim84 || Hikari Vongola || yoon hyunwoon || princess yunjae || princesssparkyu || irengiovanny || Himawari23 || Vherakim1 || PhantoMiRotic || KimYunhoJungJonghyun || YunHolic || ShinJiWoo920202 || jaena || FiAndYJ || ifa p arunda || Rly C Jaekyu || Myyunyun || Guest || Elzha luv Changminnie || Hannazono Aikawa || Lady Ze || Luckies || Kim anna shinotsuke || Nyonya Park || Febbygista || Kim01 || sayuri || jongindo || Jeong Daisuke and all Silent Readers

Saya berterimakasih kalian udah mau baca.

Gomawo all~ ^^