Pairing : KaiSoo/KaiDo
Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.
Rate : T
Main Cast : Kai dan Kyungsoo
Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~
WARNING! Newbie, YAOI, Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)
.
.
.
Because You're Just For Me
by : Ernas
.
.
.
GREEEBB!
Tiba-tiba saja namja ini menarikku dan membiarkan aku menangis dalam peluknya. Aku tak berusaha melepaskan. Karena jujur, aku butuh sebuah pelukan sekarang. Ku eratkan pelukanku. Ku gigit bibir bagian bawahku agar aku tak terisak lebih kencang lagi.
"Jangan gigit bibirmu. Nanti bibir kecil itu akan terluka" tuturnya lembut.
Dengan cepat ku lepaskan pelukanku. Aku berlari secepat mungkin. Berusaha tak menangis lagi. Ku hapus kasar airmataku. Dari kejauhan ku dengar ia berteriak.
"Hey! Kita belum berkenalan! Siapa namamu?! Aku hanya bercanda atas pernyataanku tadi! Hey! Kembalilah! Hey!"
[Chapter 2]
*Jongin pov*
Aish! Apakah bercandaku tadi keterlaluan? Sungguh, aku benar-benar tak berniat membuat dia menangis. Dan… hey! Itu hanya teman-temanku! Aku baru saja pulang dari pernikahan seseorang bersama teman-temanku. Dan saat ku lewat, ku lihat yeoja itu menangis. Namja manakah yang tega melihat seorang yeoja menangis? Apalagi saat ku perhatikan, yeoja itu sangat…. cantik. Benar-benar cantik.
Sungguh, aku merasa sangat bersalah sekarang. Aku harus mencarinya! Harus! Aku harus meminta maaf dengannya!
*Jongin pov end*
-SKIP TIME-
*Kyungsoo pov*
Kubuka mataku. Lalu mengerjapkannya beberapa kali. Membiasakan sinar lampu kamarku masuk kedalam retinaku.
Masih cukup pagi untuk membuat sarapan. Gumamku sendiri.
Yah memang, setelah kejadian malam itu dua hari berturut-turut aku selalu bangun terlambat dan aku tidak bisa membuat sarapanku. Alhasil, aku harus menahan lapar saat berada di kampus. Syukurlah kali ini aku bangun cukup pagi.
Kubuka pintu kamarku. Melangkahkan kakiku keluar kamar menuju dapur tercintaku. Yap! Hal lain yang paling ku cintai adalah dapur. Aku senang sekali memasak. Walau aku tahu, masakanku tidak seenak masakan restaurant atau bahkan masakanku jauh lebih buruk dari warung pinggir jalan, tapi masakanku adalah hal yang paling Chanyeol suka…. dulu. Iya dulu, saat kita masih bersama.
"KYUNGSOO-YAA!"
Haruskah pagi ini ku dengar lengkingan suara itu? Ku putar bola mataku malas. Aku tahu yeoja keturunan China ini pasti akan berteriak saat ada hal baru yang membuatnya senang
"Yak! Do Kyungsoo! Tak mendengarkanku eoh?!" Katanya lagi. Sungguh, sekalipun aku sudah memakai earphone dengan volume paling besar, lengkingan itu akan tetap terdengar.
"Waeyo Xi Luhan?" Jawabku malas dengam sedikit penekanan saat namanya.
"Kau mendengar ternyata hehe. Maaf aku berteriak tadi." Katanya sambil menunjukan aegyonya padaku. Jurus andalannya agar aku tidak marah padanya.
Aku hanya mengangguk pelan. Tak berusaha membalasnya. Aku masih menunggu penjelasan apa yang akan ia sampaikan sampai-sampai waktu istirahatku diwarnai dengan sebuah lengkingan.
"Kau tahu? Ku dengar akan ada seorang mahasiswa baru yang akan masuk dikelasmu. Kalau aku tidak salah, ia adalah pindahan dari Eropa. Ah aku tak bisa membayangkan seberapa tampannya namja Eropa itu. Kau pasti sangat cocok dengannya! " Lanjut Luhan antusias.
Aku hanya memutarkan bola mataku dengan malas. Tak bisakah sekali saja sahabatku ini tidak membicarakan namja? Ia tahu aku masih mencintai Chanyeol. Tapi kenapa ia terus saja menghasutku agar tertarik dengan namja lain?
"Luhannie, aku benci harus mengatakan ini. Tapi sungguh, tak adakah hal yang jauh lebih penting umtuk kau sampaikan padaku? Harus berapa kali aku bilang? Aku hanya mencintai Kim Chanyeol. Hanya dia.. Sekalipun ia telah melupakanku dan memiliki seorang istri." Jelasku.
Entah sudah berapakali aku mengatakan ini padanya. Tapi nampaknya, sahabatku yang sangat berharga untukku ini tidak pernah memahaminya. Tidak pernah dan tidak akan pernah bisa memahaminya.
"Ah ayolah Kyungsoo! Kau sudah ditinggal 4 tahun olehnya. Terakhir itu saat kita duduk dikelas 3 Senior High School. Dan sekarang? Kita sudah kuliah! Dan Chanyeol pun sudah sukses menjadi direktur perusahaan milik appanya. Apalagi sekarang ia telah menikah. Ayolah, sekali saja kau buka hatimu untuk orang lain. Aku hanya benci harus melihatmu lemah karena dirinya, sahabatku."
Aku hanya diam. Tak bergeming dan tak berniat menjawab perkataan Luhan tadi. Luhan memang benar. Tapi entahlah, rasanya hatiku dan otakku sudah tak bisa menghapus nama Kim Chanyeol sekalipun aku sudah berusaha sangat keras.
Sialnya hari ini aku tak bisa membawa mobilku. Terpaksa aku harus menaik bus untuk sampai di apartement ku. Yap! Setelah kedua orang tua ku meninggal, aku memutuskan pindah ke apartement dan menjual rumah serta isinya untuk biaya penghidupanku sebelum aku kerja.
"Menunggu sebuah bis? Bagaimana jika aku yang mengantarmu pulang sebagai tanda permintaan maafku?"
Ku tolehkan kepalaku ke arah suara itu.
DEG!
Namja ini lagi? Sahutku dalam hati.
"Hei? Tak mendengarkanku eoh?"
"Ah gwaenchana. Aku sudah biasa naik bis. Terimakasih atas tawarannya." Jawabku sedatar mungkin.
"Kalau begitu izinkan aku menemanimu sampai bismu datang. Ah kita belum belum berkenalan bukan? Nan Kim Jongin imnida. Kau bisa manggilku Jongin atau Kai."
Aku hanya tetap dalam diamku. Tak berusaha membalas tawarannya untuk memperkenalkan diriku. Dan nampaknya, Kai tak terlalu mempermasalahkan itu.
"Kau tahu? Aku mencarimu selama ini hanya untuk minta maaf atas sikapku padamu malam itu. Sungguh, yang kau lihat itu adalah teman-temanku. Bukan pembalap liar seperti apa yang ku katakan. Maaf telah membuatmu menangis dan maaf atas candaku yang keterlaluan." Kai tiba-tiba memecahkan keheningan antara kami.
Kubulatkan mataku yang sebenarnya sudah bulat ini saat mendengar penjelasannya.
"Kau tahu? Saat melihat kau pergi sambil menangis malam itu, rasanya aku adalah namja paling brengsek yang pernah ada karena membuat yeoja menangis. Padahal aku sudah sangat sering membuat banyak yeoja menangis. Tapi entahlah kali ini semuanya berbeda." Lanjutnya lagi.
Sudah kutebak dari awal. Namja ini pasti sering memainkan wanita. Dan ini pasti hanyalah salah satu caranya untuk menaklukan hatiku. BASI! Teriakku dalam hati. Cara lama yang ia pakai ini sangatlah tidak berepengaruh padaku sedikitpun. SEDIKITPUN!
"Bis ku sudah datang. Terimakasih telah menemaniku." Kataku saat melihat kendaaran yang ku tunggu sudah berada didepanku. Ku tundukan kepalaku sejenak lalu masuk kedalam bis tanpa mengeluarkan sedikit katapun.
*Jongin pov*
"Bis ku sudah datang. Terimakasih telah menemaniku." Katanya datar.
Sakit. Itulah yang kurasakan sekarang. Entah mengapa melihat sikap dingin yeoja -yang baru ku kenal- ini membuat nyeri dalam dadaku. Entah karena apa, aku ingin mengenalnya jauh. Aku ingin terus menemaninya. Aku ingin terus bersamanya dan menjaganya. Tak ingin melihat sebuah kristal putih keluar dari matanya yang bulat. Aku benar-benar tak tahu alasan dari semua itu.
Mungkin seantero dunia ini tahu bahwa aku adalah laki-laki playboy yang sering memainkan wanita hanya untuk menghilangkan rasa bosan dan tentu saja menghilangkan hawa nafsu ku.
Tapi sepertinya aku mendapatkan balasan atas perilaku ku yang tak terpuji itu.
"KKAMJONG!"
Lamunanku buyar saat kudengar seseorang meneriakan nama kecil ku. Hanya dua orang yang boleh memanggil ku dengan nama itu. Yang pertama adalah hyung ku. Dan yang kedua adalah…
"Oh Sehun! Apa yang kau lakukan hah? Memanggil namaku seperti itu di muka umum? Kau ingin aku terkenal dengan nama memalukan itu hah?!" Sahutku kesal.
"Keep calm bro.. Hahahaha. Hey apa yang kau lakukan? Kenapa kau berdiri di halte? Dimana mobilmu?" Cerocosnya dengan suara cadelnya. Bicara saja belum becus tapi banyak gaya. Untung kau teman baikku Oh Sehun. Kutukku dalam hati.
Ku tunjuk kearah asal -yang maksudnya adalah ke arah mobilku- sambil mendesah malas. Aku tau apa yang sedang ia inginkan sekarang. Hhhhhh~~
"Eh? Sudah ganti lagi? Kau baru sebulan di Seoul tapi sudah mengganti mobil lebih dari 2 kali?"
Katanya lagi.
"Aku bosan. Lagipula apakah masalah untuk kedua orang tuaku hanya untuk mengeluarkan uang $800 ? Tidak sama sekali." Jawabku malas.
Memang, aku baru saja mengganti mobilku itu minggu lalu. Aku bosan dengan mobil sport ku. Lagipula hanya $800. Itu adalah nominal kecil untuk kedua orang tuaku. Hey! Jika kedua orang tuaku mau, negara ini bisa dibelinya!
Aku berjalan kearah mobilku malas. Aku tahu, dia pasti menguntit dibelakangku sambil melakukan aegyo -yang menurutku- sangat buruk! Dia pasti ingin aku mengatarnya pulang. Sungguh Oh Sehun, bersyukurlah kau karena mempunyai teman sepertiku.
"Naiklah, tapi dengan satu syarat." Kata ku sambil menggenggam gaganv pintu.
Dia hanya menaikan alisnya sebelah. Cih! Tak usah berlagak sok tampan kau Oh Sehun!
"Temaniku dulu dirumah. Aku ingin mengganti bajuku sebentar. Aku akan ikut kerumahmu. Lalu kita ke club malam nanti. Bagaimana?"
"Yehet!" Sahutnya semangat.
Aku hanya berdecak malas. Dasar manusia aneh. Sudah albino. Cadel pula. Batinku sambil menghembus nafasku kasar.
.
.
.
.
.
TBC
