Pairing : KaiSoo/KaiDo

Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.

Rate : T

Main Cast : Kai dan Kyungsoo

Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~

WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)

.

.

.

Because You're Just For Me

by : Ernas

.

.

.

Drrrtt...Drrrttt..

"Hhhhhhh~ dasar anak ceroboh! Bagaimana ia bisa lupa kalau ponselnya masih terletak disini?! Hhhh~"

Kuambil ponsel milik Kai yang masih bertengger manis di ayunan tua ini.

DEG!

Krystal Baby Calling...

"Krystal? Si-si-siapa di-di-dia?"

*Kyungsoo pov end*


[Chapter 5]

"Aku pulang."

Ya. Aku tau memang tidak ada orang di apartement ini selain aku. Tapi, sudah menjadi kebiasaanku untuk bicara seperti itu setiap kali pulang.
Tanpa basa-basi aku masuk kedalam kamarku. Mengganti bajuku dengan piyama pororo kesukaanku.

-Flashback On-

"Yak Kyungsoo! Lama sekali! Palli! Ini sudah larut! Kajja pulang! Kyung— Eh ponsel ku?"

"Krystal. Siapa Krystal? Apa dia kekasihmu?"

"Peduli apa kau dengannya?"

"SIAPA DIA?!"

"Ada apa denganmu, huh? Apa pedulimu dengan dia? Apa urusanmu dengannya? Mengapa kau malah semarah ini?"

"Aku akan pulang sendiri."

"Apa maksudmu pulang sendiri? Kau pergi bersamaku. Maka, aku juga yang harus mengantarmu pulang."

"Aku pergi sendiri. Lalu dengan tak sengaja bertemu denganmu. Jadi aku akan pulang sendiri."

"Shireo! Aku akan tetap mengantarmu pulang!"

"KALAU BEGITU JAWAB AKU SIAPA ITU KRYSTAL! Setelah itu aku akan pulang denganmu."

"Menurutmu bagaimana? Seseorang memanggilmu baby setiap saat. Siapa dia? Kau harusnya mengetahuinya.

-Flashback Off-

"AAAAARRGGGHHHH!"

Aku berteriak putus asa. Kenapa juga aku harus mengingat percakapan sialan itu? Oh Tuhan, aku fikir aku akan gila sekarang.

Kupejamkan mataku. Berusaha untuk tidur karena ini sudah sangat larut malam. Tapi sialnya, semakin aku pejamkan mataku, aku malah semakin mengingat percakapanku tadi dengan Kai.

Aku tidak mengerti. Mengapa aku marah. Aku tidak mengerti mengapa aku merasa kecewa. Dan aku juga tidak mengerti mengapa aku benar-benar… ingin menangis.

KRRRIIIINGGGG

Bunyi alarm ku benar-benar menjadi musuhku pagi ini. Aku benar-benar masih mengantuk karena semalam aku baru tertidur saat akhirnya aku benar-benar menangis. Dan hal yang mengejutkannya adalah aku menangis karena orang lain. Bukan karena Chanyeol.
4 tahun lamanya setelah aku benar-benar kehilangan Chanyeol, aku tidak pernah sekalipun menangis karena namja lain selain Chanyeol. Ada apa denganku?

Drrt drrr drrt

From : Luhan
Kyungsoo ya! Gwenchana? Tidak biasanya kau tidak datang ke kampus. Biasanya meskipun tidak ada jam kuliah, kau akan tetap datang untuk membaca buku di perpustakaan. Apa kau sakit? Aku sudah di dekat apartementmu. Bersiaplah.

"Kau terlalu mengekhawatirkanku eonnie. Sampai-sampai kau sering mengabaikan dirimu sendiri." Gumamku sendiri.

Tak lebih dari 10 menit saat aku menerima pesan Luhan, kini Luhan sudah ada di apartementku. Dan seperti yang biasa dia lakukan. Dia akan berteriak histeris.

"Annye— OMO KYUNGSOO YA! APA YANG TERJADI DENGANMU? MENGAPA MATAMU SEPERTI ITU? ASTAGA KYUNGSOO! KAJJA KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG JUGA!"

"Ah eonnie. Na gwenchana. Aku hanya habis menangis semalam. Jadi seperti inilah aku sekarang. Tak usah terlalu berlebihan membawa ku kerumah sakit! Aku bukan anak kecil!"

"Sudah berapa kali aku bilang panggil aku Lu-Han! Jangan dengan embel-embel itu! Aku benci terlihat tua.. Guerae. Apa yang menbuatmu menangis? Memikirkan Chanyeol lagi?"

Aku hanya diam ditempat. Tidak mungkin aku bicara bahwa aku menangis karena Chanyeol. Tapi, tidak mungkin aku menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.

"Sudah kubilang beratus-ratus kali. Lupakan Chanyeol. Biarkan dia bahagia. Aku akan membuat makanan."

"Luhannie. Setelah makan nanti, kita pergi ke luar sebentar ne? Aku bosan."

"Hhhh~ sudah lama sekali yah Kyungie kita tidak pergi ke mall seperti ini? Sudah sangaaaaat lamaa…"

"Ah ne Luhannie. Ini sudah sangat lama. Jadi ke toko mana kita sekarang? Hahahaha."

Aku pergi ke mall hari ini. Luhan dengan sengaja tidak datang ke kampus saat ia tahu aku tidak ada dikampus hari ini. Aku benar-benar merindukan waktu seperti ini dengan Luhan.

"Luhannie, dulu kemanapun kita pergi, eomma selalu bersama kita."

"Eomma tetap bersama kita bukan? Disini. Dihati kita. Jadi tenanglah. "

Aku selalu senang dengan kata-kata Luhan. Kata-katanya sangat menenangkan dan menghangatkan.

Aku dan Luhan benar-benar senang dengan hari ini. Kami tertawa seharian sambil berbelanja beberapa pakaian juga bahan makanan.

"Hahaha Kyungsoo aku benar-benar senang hari ini. Aku senang melihatmu seperti ini. Tetaplah tersenyum dan jangan menangis lagi ne? Berjanjilah padaku."

"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan pada—-"

BRUK!

"Ah mian nyonya. Mian."

Aku tidak sengaja menabrak seseorang didepanku.

"Gwencahana."

Buru-buru aku merapihkan barang bawaan yeoja itu karena bawannya lumayan banyak untuk seorang perempuan yang pergi sendirian.

"Ah mian nyonya. Aku tidak sengaja."
Kataku sambil menunduk.

"Gwencahana. Hey well, jangan panggil aku nyonya. Umurku baru 22 tahun."

"MWO?!"

"Tidak usah terlalu kaget. Ah nan Byun Baekhyun imnida. Bangapta"

"Ah nan Do Kyungsoo imnida. Dan ini teman yang sudah ku anggap kakaku sendiri. Xi Luhan. Bangapta." Kataku sambil membungkukkan badanku sedikit.

"Kalian punya waktu? Bagaimana kalau kita saling mengenal satu sama lain? Kalian tahu? Aku ingin sekali mempunyai teman dekat."

"Ne Baekhyun-ssi. Kami akan menjadi temanmu." Jawabku yang diakhiri death glare terbaik Luhan.

Entahlah apa yang terjadi denganku.
Mengapa aku bisa dengan mudahnya memutuskan menjadi teman dekat dengan seseorang yang bahkan aku baru sekali bertemu dan itu SECARA TIDAK SENGAJA!

Kami -aku, Luhan dan Baekhyun- sampai pada sebuah caffé yang berada tidak jauh dari mall. Caffé yang sering sekali aku datangi. Ralat. Aku dan Chanyeol datangi. Ini caffé kesukaan Chanyeol. Chanyeol bilang rasa kopi di caffé ini berbeda dengan ditempat lain. Itulah mengapa setiap kali berkencan aku san Chanyeol akan menghampiri caffé ini walau hanya untuk membeli secup kopi kesukaan Chanyeol, lalu pergi.

Aku memilih tempat duduk dekat kaca jendela. Meja nomor 4. Meja kesukaan kami. Meja kesukaan aku dan Chanyeol. 4 untuk angka kesukaan ku dan Chanyeol. 4 untuk angka kami. 4 untuk anggota keluarga yang indah. Aku, Chanyeol, dan dua malaikat kecil ku dan Chanyeol. Sayangnya, semua itu semu. Semua itu berakhir tanpa alasan.

Kami menyukai meja ini karena sebuah alasan. Ada 4 buah sofa kecil dan sebuah meja bulat didepannya. Itu pas untuk keluarga kecil kami. Jika kau menengok kearah kiri, maka kau akan mendapatkan jalanan kota Seoul yang terbentang luas dengan diwarnai beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
Jika kau menengok ke arah kanan, maka kau akan mendapatkan sebuah penyanyi dan guitaris yang mengalunkan lagu setiap detiknya. Indah bukan meja 4 ini?

"Ada yang bisa ku bantu?"

Lamunanku terpecahkan saat seorang pramuniaga datang. Dan ku perhatikan ke arah Luhan dan Baekhyun yang ternyata hanya terdiam dan kebingungan melihatku yang terkejut saat pramuniaga itu datang.

"Expresso." Kata ku bersamaan dengan Baekhyun.

Luhan hanya menggelengkan kepalanya pelan. Aku tahu, Luhan tidak akan kaget dengan pesananku tadi. Aku tahu persis akan hal itu. Tapi lihatlah Luhan sekarang. Aku yakin, pulang nanti Luhan akan menghujamku jutaan caci maki karena memilih minuman itu.

"Luhan-ssi apa yang ingin kau pesan?" Baekhyun memecahkan acara tatap-menatapku dan Luhan.

"Ahh a-aku hanya ingin lemon tea."

"Guerae. Dua Expresso dan Lemon tea. Ada tambahan lain?" Tanya pramuniaga itu. Lalu, kami bertiga serempak menggeleng.

"Jadi kau juga suka Expresso Kyungsoo-ssi? Ah sebenarnya aku tidak menyukai kopi. Expresso adalah kopi kesukaan suamiku." Baekhyun mencoba memecahkan kecanggungan antara kami bertiga.

DEG!

"Su-su-suami?" Ucapku lirih.

Chanyeol menyukai Expresso. Chanyeol akan selalu mengajak siapapun untuk menikmati minuman itu dan tidak menutup kemungkinan Chanyeol akan mengajak istrinya juga. Chanyeol telah mempunyai istri bermarga Byun. Dan yeoja di hadapanku ini bermarga Byun. Mungkinkah?-

"Yak! Kyungie! Tak sopan mendiamkan sebuah pertanyaan!" Luhan mencoba membangunkanku dari lamunanku.

"Aah.. ne mian. I-iya aku menyukai Expresso. Ah kau sudah mempunya suami? Kau tidak berkuliah?"

"Haruskah? Aku berasal keluarga kaya di Bosan. Ah bahkan apa artinya Bosan tanpa kedua orang tuaku? Aku dijodohkan dengan seseorang namja Seoul yang sangat amat menggilai Expresso. Aku senang saat pertama sekali bertemu dengannya. Ia sangat ramah, dan selalu memberikanku kehangatan disela tawanya. Aku sadar, aku mencintainya saat pandangan pertama itu. Saat itu aku masih duduk dikelas 3 Senior High School. Sedangkan dia sudah masuk kuliah dan bekerja paruh waktu di kantor appanya. Setelah lulus sekolah, aku harus mengurus kantor appaku terlebih dahulu selama 4 tahun. Dan minggu kemarin, aku menikah dengannya. Sangat simple bukan semuanya? Ah apa kalian berkuliah Kyungsoo-ssi, Luhan-ssi?"

Dan minggu kemarin aku menikah dengannya..

Benarkah namja itu Chanyeol, Baekhyun-ssi?

"Ah ne. Aku dan Luhan berkuliah di Arts Entertainment Campus. Aku duduk di semester tengah. Jadi kalau tidak ada masalah, aku akan sidang kelulusan tahun depan. Sedangka Luhan eonnie akan lulus tahun ini. Luhan berbeda 3tahun dari aku. Jadi umurnya sekarang 24 tahun. Saat lulus sekolah dulu, ia tidak langsung kuliah seperti ku."

"Hmmm begitu yah? Ah, bagaimana dengan kehidupanmu? Kuliah di Arts Entertainment Campus itu sangat mahal bukan?"

"Aku dan Luhan masuk ke kampus itu karena prestasi kami. Jadi kami adalah mahasiswa beasiswa di kampus tersebut. Orang tua ku meninggal dalam kecelakaan pesawat 5tahun yang lalu. Jadi, aku harus membiayai semua kehidupanku sendiri. Aku tidak bekerja paruh waktu seperti yang suami-mu lakukan. Semuanya masih cukup dengan uang tabunganku."

-
-

"Hhhhh senang sekali aku bisa menghabiskan waktu ku dengan kalian berdua. Aku harap suatu hari nanti kau mau datang kerumahku. Akan ku kenalkan kalian dengan suamiku. Ah anak itu datang. Aku pulang dulu ne? Adik iparku telah menjemputku. Annyeong."

Kenapa mirip sekali dengan Kai…

"Luhannie? Aku ingin bicara sesuatu. Bisakah kau menginap malam ini?"

"Ah mian. Aku mau, tapi aku tidak bisa. Kau tahu aku harus menyelesaikan tugas akhirku. Mian Kyungie."

Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.

*Jongin pov*

Aku sedang berada dalam kamarku sekarang. Memikirkan hal yang seharusnya tidak ku fikirkan. Lagi pula apa gunanya memikirkan semua ini?
Kalian bertanya aku memikirkan apa?

Aku memikirkan Kyungsoo.

Aneh bukan? Bahkan dari awal saat aku bertemu dengannya aku selalu memikirkannya. Aku selalu mengkhawatirkannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku sekarang ini. Ini kali pertama aku merasakan hal ini. Ini kali pertama aku merasakan nyeri didadaku saat aku melihatnya menangis. Aku merasakan jantungku berdegup diluar batas normal saat aku terus menatapnya. Aku tidak suka melihatnya menangis. Aku tidak suka ia memikirkan orang yang selalu membuatnya menangis. Tuhan, bahkan aku tidak percaya dengan namanya cinta. Tapi apa maksud dari semua ini?

Drrt drrt drrt

From : Chan Hyung
Kkamjongie apa kau sedang sibuk? Aku boleh meminta tolong? Aku sedang ada rapat sekarang. Tapi Baekhyun memintaku menjemputnya di caffé tempatku biasa. Bisakah kau menggantikanku? Sebagai imbalannya nanti akan kukirim uang ke rekeningmu untuk pergi makan malam dengan Sehun. Bagiamana?
Saranghae dongsaeng^^

Aku mengacak rambutku asal setelah aku mendapatkan pesan sialan itu. Tidak, aku tidak membenci hyungku. Aku hanya membenci nama yang ada dalam pesan itu. Sangat membenci nama itu.

-Flashback On-

"Yeoboseyo."

"HYUNG BOGOSHIPPO!"

"Ah Kkamjong! Tak usah berteriak! Nado. Bogoshipo Kai."

"Hehehehe. Mian ne? Ah hyung dan appa akan datang keacara kelulusanku kan? Kalian sudah berjanji!"

"Anak manja! Ne. Aku dan appa akan datang keacara kelulusanmu. Tenang saja."

"Yak hyung! Jika aku anak manja aku sudah mati sekarang karena tak bisa mengurus diriku sendiri!"

"Hmm? Lalu bagaimana dengan kebiasaanmu yang suka mabuk-mabukan?"

"Ah itu… bisakah kita bicarakan hal lain saja?"

"Selalu saja mengelak. Ah iya aku lupa. Aku akan menikah sebulan setelah kelulusanmu."

"MWO?! Hahahahahaha! Tidak lucu bodoh."

"Apa ini terkesan seperti lelucon?"

"Kau sudah berjanji dengan eomma akan menjagaku hyung."

"Aku selalu melakukannya bukan?"

"Apa yang kau lakukan untuk menjagaku? Hanya dengan menelponku setiap malam supaya aku tidak pergi ke club malam. Apa itu bentuk janjimu pada eomma huh?"

"Setidaknya aku sudah usaha."

"Usaha katamu eoh? Huh. Sungguh jika eomma masih hidup, ia akan memarahimu karena kau sama sekali tidak menjagaku hyung."

"Aku selalu menjagamu, Kai!"

"Ohyah? Mana bukti kau menjagaku hyung? Kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri! Kau bahkan pernah tidak menghubungi selama 5 bulan hyung! Kemana saja kau hyung saat itu?! Bahkan sekarang saat aku bisa pulang dan membiarkan kau untuk benar-benar menjagaku kau justru akan meninggalkanku hyung."

"Aku tidak meninggalkanmu, Kai."

"Tidak meninggalkanku? Kau akan menikah hyung! Kau akan hidup bersamanya dan meninggalkanku hyung!"

"Kai aku tid—"

"Hyung berhentilah bicara bahwa kau tidak meninggalkanku! Kau akan menikah hyung! Waktumu akan habis untuknya! Kau akan melupakan ku! Kau akan menghabiskan sisa harimu dengannya bukan aku! Posisiku akan berada jauh dibawah istrimu! Hey hyung! Siapa aku? Aku hanya adikmu. Ah ralat. ADIK TIRIMU! Ah Tuhan, apalagi yang Kau rencanakan setelah mengambil eomma? Apa Tuhan juga ingin mengambilmu hyung? Hhhh… Kau dan appa tidak usah datang keacara kelulusanku. Aku masih mau di sini. Di Manchester, kota asing untukku. Tapi setidaknya aku tahu. Aku benar-benar sendiri disini. Daripada harus di Seoul tapi aku selalu merasa sendiri."

"Aku akan tetap datang keacara itu Kai. Aku dan appa akan menjemputmu pulang."

"SHIREO! Aku tidak mau pulang! Apa gunanya aku pulang hyung?!"

"Kau boleh marah padaku, Kai. Kau boleh membenciku karena aku tidak pernah menjagamu. Tapi pulanglah untuk appa."

"Appa? Kau bercanda hyung? Appa tidak pernah peduli denganku hyung! Dari awal aku datang!"

"Dia menyayangimu, Kai. Appa hanya tidak bisa mengatakannya."

"Bodoh."

"Kau yang bodoh, Kai! Tak tahukah kau bahwa appa selalu memeluk bingkai foto kita setiap malam? Iya! Foto kau, eomma, appa dan aku yang berara di satu frame! Pulanglah. Jika kau tidak mau pulang karena pernikahan ku, pulanglah karena appa merindukanmu."

-Flasback Off-

Tanpa aku sadari aku telah membuat sungai kecil karena harus mengingat percakapan sialan itu.

Kuhapus airmataku kasar lalu mengambil ponselku.

To : Chan Hyung
Ne.

Aku sudah berada didepan caffé tempat Chanyeol hyung biasa menghabiskan waktu luangnya. Aku menbuka pengait helmku lalu melepas helmku. Membenarkan beberapa helai rambut yang berantakan lalu berdiri dari motorku untuk menghubungi 'Tuan Putri' itu.

To : Tuan Putri
Sampai.

Hanya itu. Lalu apa yang harus laukan? Mengirimya pesan panjang seperti 'Noona, aku sudah sampai depan caffé. Cepatlah keluar^^' atau 'Noona aku sudah didepan caffé. Kajja kita pulang ^^' . Itu sangat menjijikan.

" Hhhhh senang sekali aku bisa menghabiskan waktu ku dengan kalian berdua. Aku harap suatu hari nanti kau mau datang kerumahku. Akan ku kenalkan kalian dengan suamiku. Ah anak itu datang. Aku pulang dulu ne? Adik iparku telah menjemputku. Annyeong."

Hanya itulah yang aku dengar dari perkataan 'Tuan Putri' dengan teman-temannya.

Mirip dengan Kyungsoo…

"Jongin! Ah ternyata kau yang menjemputku. Mana mobilmu? Apa kita akan naik motor ini? Aku bisa mati kepanasan nanti. Ah aku lebih baik naik taksi."

"Kalau begitu pergilah. Aku akan bilang dengan hyung bahwa kau yang tidak mau pulang denganku, noona."

"Ah hehehe aku hanya bercanda. Baiklah aku akan naik motor ini denganmu."

"Kalau begitu cepatlah NYONYA."

"Kau memang manis, Jongin."

Apa katanya?! Dasar bodoh! Tak bisakah ia membedakan mana pujian dan mana hinaan?! Ah sial!

Aku sedang berada dikamarku. Menatap nanar ponsel yang sedang aku genggam. Mengetik beberapa pesan lalu menghapusnya lagi. Aku terlalu pengecut untuk mengirim sebuah pesan kepada'nya'. Begitu saja yang kulakukan sedari tadi.

Ada apa denganku?

Tiba-tiba aku memikirkan pertanyaan yang entah datang darimana. Benar. Ada apa denganku? Mengapa aku berubah akhir-akhir ini? Aku merasakan hal aneh selalu menggerogoti tubuh ku setiap aku berasama'nya'. Aku merasakan sebuah kehangatan tiap kali melihat senyum'nya'. Tenang dan damai. Aku menyukai cara'nya' tertawa, marah bahkan menangis. Semua rasa ini hadir begitu saja tanpa permisi. Apakah ini….

"Ck. Bodoh." Desahku sendiri atas apa yang aku fikirkan.

To : KyungSoo
Hai Nona cantik. Ada waktu malam ini? Aku ingin mengenalkanmu dengan Sehun. Aku jemput di appartementmu jam 7 nanti ne? Bersiaplah ^^

"Hana.. Dul.. Set.. Send. Semoga saja.."

From : KyungSoo
Mencoba menggodaku eum? Ne. Aku tunggu kau jam 7 nanti.

"YYYYYYEEESSSSEEEUUUUUUU!" Teriakku kegirangan saat melihat pesan balasan dari'nya'.

"Eh? Kenapa aku harus sesenang ini?"

*Jongin pov end*

.

.

.

.

TBC