Pairing : KaiSoo/KaiDo

Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.

Rate : T

Main Cast : Kai dan Kyungsoo

Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~

WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)

.

.

.

Because You're Just For Me

by : Ernas

.

.

.

To : KyungSoo
Hai Nona cantik. Ada waktu malam ini? Aku ingin mengenalkanmu dengan Sehun. Aku jemput di appartementmu jam 7 nanti ne? Bersiaplah ^^

"Hana.. Dul.. Set.. Send. Semoga saja.."

From : KyungSoo
Mencoba menggodaku eum? Ne. Aku tunggu kau jam 7 nanti.

"YYYYYYEEESSSSEEEUUUUUUU!" Teriakku kegirangan saat melihat pesan balasan dari'nya'.

"Eh? Kenapa aku harus sesenang ini?"

*Jongin pov end*


[Chapter 6]

*Kyungsoo pov*

"Aku pulang. Hhhhh~ hari ini benar-benar hari yang panjang." Gumamku sendiri saat aku sampai di apartemenntku setelah pergi seharian dengan Luhan dan bertemu dengan yeoja Byun itu.

Aku dijodohkan dengan seseorang namja Seoul yang sangat amat menggilai Expresso

Tiba-tiba sjaa perkataan Baekhyun menggema diotakku. Oh Tuhan mungkinkah Baekhyun istri dari Chanyeol? Istri dari giant ku?

Drrt drrt drrt

Ku ambil ponselku yang kuletakkan di meja belajarku. Sebuah pesan masuk. Aku harap itu adalah pesan dari'nya'.

From : Jonginnie
Hai Nona cantik. Ada waktu malam ini? Aku ingin mengenalkanmu dengan Sehun. Aku jemput di appartementmu jam 7 nanti ne? Bersiaplah ^^

"OMONA!" Teriakku histeris saat membaca pesan itu.

Aku loncat sambil meneriakkan nama'nya' disela loncatanku. Aku sangat senang. SANGAT AMAT SENANG! Bagaimana tidak? Doaku baru saja dikabulkan oleh Tuhan.

Dengan buru-buru kubalas pesan itu. Tak ingin membuat orang yang telah membuatku senang ini menunggu.

To : Jonginnie
Mencoba menggodaku eum? Ne. Aku tunggu kau jam 7 nanti.

"Send!" Oh bahkan aku memencet tombol send terlalu keras karena aku sangat senang.

Apakah balasanku terlalu dingin? Ah biarlah. Nanti saat bertemu aku akan menjelaskannya kalau dia marah,

DEG.. DEG.. DEG

Aku tersenyum tenang saat merasakan jantungku berdegup kencang.

"Apa kau merasakannya juga, Kai? Aku harap jawabannya adalah iya. Karena aku tahu, kau juga merasakannya." Gumamku sendiri.

"Ayolah Jongin. Dimana kau? Ini sudah lewat dari jam 7. Tidak bisakah kau tepat waktu?" Gumamku sendiri sambil mondar-mandir didepan pintu. Berharap terdengar sebuah bel yang menandakan kehadirannya.

Ting tong..

"Ah itu dia!" Dengan sigap aku memencet beberapa angka lalu membuka pintu itu semangat.

"Jong— Luhannie?" Aku kaget setengah mati saat manik mataku ini menangkap sosok Luhan disana. Bukan Jongin.

"Eh Kyungsoo? Kau mau kemana? Kenapa cantik sekali?"

"Ah eum a-aku akan pergi de-dengan seseorang." Jawabku gugup.

"Nugu?"

"Eum i-itu—"

"Chogiyo."

Ucapanku terputus saat aku mendengar suara yang sangat familiar di telingaku.

"Eh? Nugu?" Luhan dengan sigap menanyakan siapa namja yang ada dihadapan kami ini.

"Nan Kim Jongin imnida."

"Mencari siapa?"

"Aku. Luhannie. Aku harus pergi dengannya sekarang. Aku sudah ada janji dengannya. Akan ku jelaskan semuanya ketika aku pulang nanti arra? Annyeong." Aku dengan cepat menarik tangan Jongin sebelum Luhan melarangku pergi dengannya.

"KYUNGSOO! JANGAN PULANG LARUT ATAU KAU AKAN MATI!" Teriak Luhan dari jauh.

"Tunggu!" Jongin tiba-tiba saja berhenti saat aku dan dia sudah sampai parkiran tempat Jongin menenggerkan motor besarnya.

"Wae?"

"Apa itu eonnie mu? Sangat menyeramkan."

"Yak beraninya kau bilang dia menyeramkan!" Kataku sambil menerjunkan kepalan tanganku di kepalanya.

"Aah appo! Mian mian. Jelaskan padaku siapa dia arra?"

Aku hanya mengangguk kecil sambil mempoutkan bibirku ini.

"Kau ingin aku habisi disini eum? Berhentilah mempoutkan bibirmu seperti itu!" Ucap Jongin sambil menangkup pipi chubbyku.

Aku bisa merasakan rasa hangat menjalar dalam tubuh kami. Aku mulai terbiasa dengan degup jantung yang tiba-tiba berdegup sangat cepat saat aku dengan Jongin. Bahkan aku menyukai degup jantung itu. Degup jantung yang sama saat aku bersama Chanyeol.

Aura kecanggungan mulai terasa diantara kami. Dengan cepat, Jongin melepaskan tangannya dari pipiku.

"Naiklah, Sehun telah menunggu."

Aku dan Jongin kini sampai disebuah Restaurant yang bisa dibilang cukup mewah. Dan aku yakin, biaya makan disini pasti sama dengan biaya kehidupanku selama satu bulan.

Kami -aku dan Jongin- berjalan beringiran sambil menautkan jari manis kami. Aku dibuat ternganga ria saat melangkahkan kakiku ke dalam.

Ini.. benar-benar mewah.

Kami disambut dengan dua orang penyanyi yang mengalunkan lagu-lagu indah dengan suara emasnya. Banyak pasangan yang menghabiskan waktu makan malam mereka disini.

Tembok restaurant yang berwarna perpaduan ungu dan silver menambah kesan mewah untuk restaurant ini. Belum lagi ada beberapa rangkaian bunga di setiap mejanya. Tembok resto juga dihiasi beberapa ornamen unik yang melengkapi hipotesaku bahwa ini adalah restaurant mahal.

"Itu. Meja 12." Jongin menepuk pundakku pelan dan membuatku buyar akan lamunanku.

Kulihat sudah ada namja albino -yang aku yakin itu adalah Sehun- yang kulihat di club waktu itu. Aku tersenyum manis sambil menarik kursi ku dan duduk tepat didepannya.

Mirip sekali dengan Luhan..

"Aku sudah memesan makanan untuk kita." Ucap namja albino itu untuk memecahkan keheningan antara kami bertiga.

"Ah Sehunnie ini Do Kyungsoo. Panggil saja Kyungsoo. Ingat? Dia yeoja yang kita kerjai saat pernikahan hyung lalu yeoja—"

"Yeoja yang sama yang membuat kau pergi meninggalkanku di club malam itu. Benarkan aku Kai? Ah annyeonghaseyo noona. Nan Oh Sehun imnida. Bangapta."

Aku menundukan kepalaku sebentar untuk menghormati Sehun.

"Nan Do Kyungsoo imnida. Bangapta." Ucapku singkat lalu menatap Jongin cukup lama seolah-olah bertanya 'mengapa dia boleh memanggilmu Kai?'

"Kau sangat cantik noona. Pantas saja Kai menggilaimu." Ucap Sehun datar.

Aku merasakan pipiku mulai merona karena malu. Dan lagi-lagi degup jantungku mulai berdetak cepat.
Sesekali aku lihat Jongin yang tergugup karena pernyataan Sehun tadi. Aku terkekeh kecil melihat pemandangan langka ini.

"A-apa maksudmu huh? Kau tahu? Kerjaan dia hanyalah menangis karena ditinggalkan oleh namja 4tahun yang lalu. Bodoh."

Senyumku tiba-tiba saja menghilang.

"MWO? Hahahahah apakah itu benar noona? Oh beruntungnya namja itu ditangisi wanita cantik seperti mu." Kata Sehun dengan nada meremehkan.

"Apa ada yang lucu Sehun-ssi?" Jawabku sinis.

"Ah tak usah terlalu formal noona. Panggil aku Sehun saja cukup. Ah itu benar-benar lucu. Kau setuju Kai? Hahahahaha." Dan kini tawa itu semakin keras karena Jongin menimpal. Membuat beberapa pasang mata melirik kearah kami.

"Kecilkan suara kalian." Kataku dingin menginstrupsi kegiatan mereka yang sedang menertawaiku.

"Ah ne aku lupa kita ada ditempat umum. Ah noona izinkan aku memberi tahu satu fakta besar tentang namja. Kau tahu? Pada dasarnya semua namja didunia ini sama. Menginginkan hanya dirinya seorang yang digilai seluruh yeoja didunia. Memang, impian kami adalah memiliki sebuah keluarga kecil dan harmonis, tapi kau tahu noona? Semua usaha untuk mencapai impian itu tidak akan pernah muncul dalam fikiran namja sebelum Tuhan memberikan mukjizatnya kepada namja itu." Ucap Sehun perlahan tapi pasti.

Aku hanya diam mendengar penuturan Sehun. Tidak berusaha menjawab sepatah katapun

"Saat seorang yeoja menangis, meronta, dan memohon kepada namja karena sebuah alasan bodoh yang disebut cinta, saat itulah namja itu menang. Bukan, namja bukan menang mendapatkan piala atau piagam. Tapi namja itu menang karena dia berhasil menaklukan wanita layaknya berhasil menaklukan naga besar. Semakin yeoja itu mencintai seorang namja, maka rasa egois di hati namja itu semakin besar. Brengsek memang. Tapi itulah kenyataannya. Persetan dengan kata cinta. Namja tidak pernah mengenal kata cinta. Ralat. Ada namja yang mempercayai cinta. Tapi sangat sedikit. Mungkin perbandingan dunia ini 1:10 atau 1:100 atau 1:1000 ah entahlah intinya sangat sedikit." Sehun melanjutkan ucapannya. Dan detik ini tenggorokanku rasanya benar-benar gatal.

"Untunglah aku dan Kai termasuk dalam komunitas mayoritas. Aku dan Kai tidak mempercayai cinta. Persetan dengan kata itu!" Lanjutnya antusias.

"Kau tidak percaya cinta?" Tanyaku lirih. Menatap dalam mata Jongin yang menunduk.

"Apa yang harus kami percayai noona? Oh tentang kata-kata manis? Atau perlakuan yang hangat? Persetan semua itu. Aku dan Kai bisa melakukannya meskipun tidak mencintai yeoja itu." Jawab Sehun enteng. Aku merasa pelupuk mataku sudah mulai berair. Sakit. Sakit aku harus tahu karena Jongin, tidak merasakan apa yang aku rasakan.

"Kalian seperti itu karena kalian tidak pernah merasakannya. Kalian tidak pernah merasakan bagaimana degup jantung yang tiba-tiba saja berdegup kencang saat kau dekat dengan seseorang. Kalian tidak pernah merasakan bagaimana rasanya khawatir saat kalian tidak mendengar kabarnya. Kalian tidak pernah merasakan bagaimana rasa nyeri didada saat kalian melihatnya menangis. Kalian tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kalian ingin terus menjaganya, mendekapnya dan membenci diri kalian sendiri saat kalian tidak bisa apa-apa. Kalian bicara seperti itu karena kalian tidak pernah merasakannya. Tidak pernah dan tidak akan pernah jika kalian tetap seperti ini." Tuturku lembut dengan sebuah senyum yang sangat aku paksakan. Airmataku sudah mengalir sejak tadi. Aku menangis tanpa isakan. Rasanya sakit. Sungguh sangat menyakitkan.

"Noona! Sudah ku bilang jangan menangis karena namja! Kau tidak boleh menangis karena ucapanku! Aku tidak mau menang karena mu!" Ucap Sehun sambil mengelus pipi ku yang sudah penuh dengan airmata.

Aku tersenyum simpul. Lagi-lagi senyum yang dipaksakan. Aku menepis tangan Sehun lembut.

'"Ah maaf. Aku lupa." Tuturku singkat.

Aku mengahapus kasar airmataku. Lalu tersenyum bahagia layaknya anak kecil yang baru saja diberikan lolipop. Aku melirik kearah Jongin. Aku lihat raut wajahnya yang sulit diartikan. Dia meremas ujung bajunya kencang. Terbukti karena tangan kekarnya seperti sedang mengepal tanpa halangan.

"Jongin? Gwenchana?" Tanyaku lembut.

"Ah ne."

Aku tersenyum simpul. Semuanya sangat menyesakan hari ini.

"Eh? Noona kau memanggil Kai dengan Jongin? Ah dia melarangmu eoh?" Tanya Sehun. Yang aku jawab hanya dengan anggukan kecil.

"Kau sudah tahu alasannya?"

"Ani. Mau kah kau memberitahuku Sehunnie?"

Sehun menatap tersangka yang sedang dibicarakan seolah-olah meminta izin kepada bos besarnya itu. Dan Jongin mengangguk pelan.

"Harusnya aku juga memanggilnya Jongin. Tapi entahlah. Aneh rasanya harus memanggilnya Jongin.
Aku yakin noona tahu bahwa aku dan Kai adalah anak panti asuhan. Aku dan Kai adalah teman sejak kecil. Sejak kami sudah mulai bisa merangkak, ibu panti bilang bahwa kami seperti mempunyai ikatan batin. Entah karena apa, ibu panti bilang setiap kali salah satu diantara kami menangis, itu artinya kami ingin bermain berdua.
Kami tumbuh begitu cepat dan menjadi salah satu anak paling cerdas karena kami bisa memahami sesuatu dengan cepat. Termasuk paham dengan arti dari kata kematian dan meninggalkan.
Diumur kami yang ke 7. Ibu panti memutuskan menceritakan latar belakang kami. Sungguh saat mendengar itu, airmata kami tak kuasa kami bendung. Rasanya seperti dilemparkan dari surga kedalam jurang kelam dan kami tidak bisa bangkit.
Haruskah aku bersyukur karena ternyata Oh Sehun itu adalah nama pemberian orang tuaku? Haruskah aku bersyukur karena aku pernah merasakan hangatnya pelukan orang tua walau hanya sampai umurku yang ke 2bulan? Haruskah noona?"

Sehun menghentikan ceritanya sejenak. Sehun menatapku seakan meminta jawaban dariku. Aku diam. Aku tidak bisa menjawab apapun.

"Hhhh. Tapi aku bersyukur. Aku benar-benar bersyukur tentang itu noona. Karena kau tahu? Jongin, nama Jongin adalah nama pemberian ibu dan ayah panti. Bahkan mereka tidak mengetahui siapa orang tua Jongin. Jongin tidak pernah merasakan pelukan orang tuanya sepertiku walau hanya untuk waktu yang singkat. Sangat singkat.
Sejak mengetahui itu, kami tumbuh menjadi liar. Membenci kenyataan, membeci seseorang yang selalu dibanggakan setiap anak. Membenci sosok orang tua. Aku dan Kai tumbuh dijalanan dan menjadi seorang penari jalanan. Kami berlatih mati-matian agar tarian kami menjadi sempurna dan menghasilkan banyak uang. Kami tidak perduli lagi dengan prestasi kami di sekolah. Tak perduli bahwa ibu dan ayah panti kecewa karena penurunan nilai kami."

Sehun berhenti sejenak. Aku bisa melihat raut wajah kesedihan dan kebencian saat ini.
Sehun mengambil nafasnya panjang sebelum melanjutkannya.

"Kami memakai topeng dan nama panggung tiap kali menari di jalanan. Jongin dengan Kai dan aku dengan Steve. Tapi panggilanku tidak bertahan lama karena aku tidak menyukainya. Jongin dan Kai adalah pribadi yang berbeda meskipun satu raga. Jongin adalah sosok pemalu dan penyayang. Sedangkan Kai adalah sosok yang kau lihat saat ini. Sosok yang dingin, kasar, dan penuh kebencian.
Kami menjadi penari jalanan sampai seorang yeoja berhati malaikat datang dan mengadopsi Kai. Kai kali ini beruntung karena mendapatkan keluarga yang sangat manis. Keluarga Kim itu memasukkan kami ke sanggar tari. Mengasah bakat menari kami lebih dalam lagi.
Dan dari situlah Kai sadar. Ada sesuatu yang salah dengan nama panggungnya itu."

Sehun menatap mata Jongin nanar. Sungguh, aku ingin memeluk namja tan ini. Tapi aku tidak bisa. Itu hanya menambah lukaku yang masih baru.

"Seringkali Kai bermimpi bahwa ada seorang ajhussi yang memanggilnya dengan nama Kai. Dan saat ia terbangun sesuatu yang buruk akan terjadi. Pernah saat terbangun Kai, melihat sebuah kecelakaan persis didepan matanya padahal jalanan sanggat longgar hari itu. Selain itu saat kami sedang menjenguk teman kami yang akhirnya harus meninggal karena malamnya Kai bermimpi. Lalu saat Nyonya Kim meninggal. Kai bermimpi itu. Atau saat appanya memutuskan memindahkannya ke Manchester. Malamnya Kai juga memimpikan itu. Dan yang baru-baru saja terjadi saat ia menerima kabar bahwa hyungnya akan menikah dan meninggalkannya.
Karena hal-hal itulah Kai membenci nama panggungnya. Sangat membencinya."

"Tapi kau tahu noona? Aku sangat salut denganmu. Selama aku mengenalnya, ia tidak pernah membiarkan satu orangpun tahu tentang hidupnya kecuali aku. Dan kau adalah orang pertama yang Kai kenalkan kepadaku sebagai temannya. Kau adalah orang pertama yang bisa sedekat ini dengan Kai tanpa perlu aku bantu. Aku tidak pernah melihat Kai seperti ini sebelumnya. Sungguh aku percaya padamu, noona."

Sehun mengambil nafas panjangnya sambil menutup mata. Menandakan berakhirnya ucapannya. Aku menatap Jongin yang sedang menunduk dalam. Ku lihat bahunya yang bergetar. Entah keberanian darimana, aku menggemgam tanggannya erat.

"Ulljima Jongin. Aku akan ada disisimu selalu. Percayalah padaku." Bisikku tepat di telinganya. Berharap ia bisa tenang lagi.

Aku tidak percaya Jongin mempunyai masalah hidup yang sebegini peliknya. Jongin yang selalu aku lihat tenang dan damai ternyata menyimpan jutaan masalah yang ia biarkan menumpuk tanpa ia selesaikan.

Aku akan menjagamu, Jongin. Sama seperti kau menjagaku. Aku janji Jongin. Aku akan mengembalikan sisi aslimu. Aku tahu, kau tersiksa dengan seperti ini. Aku mohon, izinkan aku masuk lebih jauh lagi kedalam kehidupanmu.

"Jongin.." Kataku lirih dan perlahan. Takut namja yang selalu memberiku kekuatan masih lemah karena hal tadi.

"Ne?" Jawabnya dengan sebuah senyuman yang sangat dipaksakan.

"Kau jelek."

"Biarlah, yang penting kau selalu disisiku dan memberiku kekuatan, Soo."

Aku tersenyum simpul.

"Bisakah kau mengantarku ke supermarket terlebih dahulu? Persedian bahan makananku habis."

"Dengan senang hati Malaikat kecilku."

Jongin memarkirkan motor besarnya di supermarket dekat dengan appartementku.

"Tunngu ne?" Kataku yang dijawab dengan anggukan kecil dari Jongin.

Hanya butuh sekitar 25 menit, aku sudah keluar lagi dengan tangan yang penuh dengan bungkusan.

"Jongin, kajja pul-"

BRUUUKKK!

.

.

.

.

TBC


HAAAAAAAAIIIIIII AKU DATANG LAGI!

parah makin kesini cerita makin absurd. makin maksud. makin kayak sinetron. parah

aku pusing banget nentuin alurnya-_- jadi absurd gini. maaf kalo mengecewakan kalian :(

aku ucapin beribu terimakasih kepada :

setyoningt , flowerdyo , KaiSoo Fujushi SNH , younlaycious88 , HitsuKiro16

Maaf aku gabisa fast update yah :(

semoga kalian sabar menanti :')