Pairing : KaiSoo/KaiDo
Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.
Rate : T
Main Cast : Kai dan Kyungsoo
Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~
WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)
.
.
.
Because You're Just For Me
by : Ernas
.
.
.
"Soo, kita sampai. Sampai kapan kau akan tersenyum seperti itu hanya karena perkataanku?"
Aku menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku. Menutupi muka merahku karena tersipu malu dan sungguh ini terlihat sangat bodoh.
"Palli turun." Perintahnya lembut.
Aku akhirnya membuka seatbelt ku dan turun dari mobil. Jongin sudah berada di sampingku. Dan betapa kagetnya aku, bahwa aku berada di…
Panti Asuhan.
[Chapter 8]
"Soo, ini tempat aku dibesarkan sebelum akhirnya keluarga Kim mengadopsiku. Kajja masuk." Kata Jongin lembut.
Jongin memegang tanganku erat seolah tak ingin aku pergi. Belum sempat aku menetralkan degub jantungku karena mengetahui aku pergi ke panti asuhan, sekarang aku telah dikagetkan lagi dengan suara anak-anak kecil yang berlarian kearah Jongin.
"Hyuuuuuungggg!"
"Opppppppppaaaaa!"
Begitulah kira-kira anak-anak itu berlari sambil berteriak dan menghamburkan dirinya ke arah Jongin yang sudah mensetarakan dirinya dengan tinggi mereka.
"Oppa, apa yeoja ini kekasihmu?" Tanya satu anak perempuan kecil manis yang dibalas dengan anggukan oleh Jongin. Aku merasakan pipiku berwarna merah sekarang.
"Aigoo… Cantiknya!" Akhirnya satu per satu dari mereka menyahut seperti itu.
"Ah, jadi dimana noona?" Tanya Jongin. Aku mengerutkan dahiku. Aku tidak tahu siapa 'noona' yang dimaksud Jongin.
"NOOONNNAAAA ADA JONG—" Ucapan anak itu terhenti saat melihat tatapan death glare milik Jongin.
"Kalian bukan anak bodoh bukan? SUDAH BERAPA KALI AKU BILANG BAHWA MEMANGGIL ORANG SEPERTI ITU TIDAK SOPAN HUH?!" Aku kaget saat tiba-tiba sikap lembut Jongin yang tadi hilang begitu saja. Aku memperhatikan anak-anak itu satu per satu. Ada yang menunduk, memainkan ujung baju dan menahan nangis. Aku tahu mereka semua ketakutan.
"Jongin. Tak seharusnya kau kasar terhadap anak-anak. Anak-anak. Ulljimayo." Kataku lembut. Entahlah aku benci Jongin yang kasar seperti ini.
"Soo, jangan memanjakan mereka. Aku tidak mau mereka tumbuh menjadi manusia brengsek seperti aku dan Sehun karena terus terusan dimanja." Aku hanya tersenyum kecil menanggapi pernyataan itu.
"Yak! Siapa yang ber— OPPA!"
Suara seorang yeoja tiba-tiba memecahkan kecanggungan ini. Suara itu juga yang membuat anak-anak -yang mengelilingi Jongin tadi- mulai masuk kedalam lagi.
Aku tersenyum getir saat melihat sosok si empunya suara..
"Krystal-ssi.." Gumamku lirih dan pelan. Sangat pelan.
"Baby!" Sahut Jongin ringan dan senyumnya yang terlihat sangat bahagia.
"Kau datang lagi eum? Apa aku punya tugas? Eh? Kau membawa seseorang? Annyeonghaseyo." Sapa Krystal dengan lembut. Dia benar-benar sangat cantik. Melebihi dewi langit yang pernah ada.
Aku mengepal tangan kananku -yang tidak digengam Jongin- kencang. Dadaku merasakan nyeri seketika saat gendang telingaku mendengar suara Krystal yang lembut. Tuhan.. boleh aku pergi sekarang?
"N-ne. Annyeonghaseyo." Akhirnya aku membuka mulutku. Gugup. Aku benar-benar gugup. Aku menoleh kearah Jongin yang sedang memperhatikanku. Sungguh aku ingin pulang sekarang.
Apa maksudmu Jongin?
Salahkah aku bertanya seperti itu? Apa mau dirinya? Kurang cukupkah penyiksaan seminggu itu? Bahkan sekarang yang aku fikir akan menjadi hari yang paling bahagia hancur begitu saja saat bertemu Krystal. Untuk apa Jongin memintaku dandan yang cantik jika hanya ingin bertemu dengan Krystal? Aku harap aku terkena serangan jantung lalu mati. Sialnya aku tidak punya penyakit jantung.
"Eh? Kau adalah orang yang ada di supermarket bukan? Ah! Barang-barangmu terjatuh. Semuanya ada di dalam. Belum kusentuh sama sekali. Kau mengenalnya oppa? Mengapa kau tidak mengenalinya padaku?!" Kata Krystal dengan berdecih kesal diakhirnya.
"Ah kelinci sialan, berhentilah seperti itu. Ini Do Kyungsoo! Kyungsoo, ini… Jung Krystal." Jongin mengatakan nama Krystal sambil menunduk.
"Bangapta Krystal-ssi." Kataku lirih.
"Bangapta Kyungsoo eonnie." Katanya semangat.
Sungguh lebih baik kau membunuhku Jongin..
"Krystal jangan bodoh! Hentikan ini semua!" Jongin berteriak kesal. Entah karena apa.
"SHIREO OPPA!"
"Krystal-ssi! Jangan menjadi bajingan kau!"
"Ani! Aku tidak menjadi bajingan. Kau bajingan oppa."
"Apapun itu katakan padanya. Palli!"
"Shireo! Kau pas—"
"Aku akan tetap menuruti permintaanmu."
"JINJJA?"
"Ne."
Aku mengerutkan dahiku. Mendengar baik-baik percakapan diantara dua manusia yang bersamaku. Tapi, aku masih tidak mendapatkan maksud dari pembicaraan itu.
"Kajja masuk! Kita bicarakan didalam. Kajja eonnie!" Tiba-tiba saja Krystal merangkulku akrab sambil mengajakku masuk.
Aku hanya mengikuti dengan muka bingung sekaligus perasaan penasaranku. Aku mengikuti kemanapun Krystal mengajakku.
"Duduklah eonnie." Katanya lembut dan aku hanya mengikuti perintahnya.
Dan disinilah aku berada. Diruang tamu panti asuhan ini. Duduk dikursi panjang tepat bersebelahan dengan Jongin dan Krystal didepanku. Ada apa ini?
"Eonnie. Mianhae. Jeongmal mianhae." Suara Krystal memecahkan keheningan antara kami bertiga. Aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi sekarang.
"Mwo? Untuk apa?" Kataku.
"Karena aku, telah membuat hubungan kau dengan Jongin oppa berantakan." Lanjutnya. Aku tersenyum miris.
"Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf Krystal-ssi? Aku yang sudah merusak hubungan kalian. Mianhae Krystal-ssi. Mianhae… Jongin." Jawabku tak kalah lirihnya dari suara Krystal.
"Ani. Eonnie.. aku dan Jongin oppa tidak seperti yang kau fikirkan. Aku tidak mempunyai hubumgan apa-apa dengan Jongin oppa. Aku bukannlah kekasihnya." Lanjutnya.
Aku diam seribu bahasa. Kaget sekaligus bingung dengan perkataan Krystal tadi. Sesekali aku melirik kearah Jongin yang tidak memberi ekspresi apapun.
"Aku bukan kekasihnya eonnie. Sekalipun didunia ini namja yang tersisa hanya Jongin oppa, aku tetap tidak mau menjadi kekasih musang bajingan seperti dirinya ." Katanya sambil tertawa ringan.
"Aku hanyalah satu dari bagian dari sejuta umat yang menjadi bagian dari panti asuhan ini. Aku menyayangi Jongin oppa dan Sehun oppa layaknya keluargaku sendiri. Mereka adalah dua musang bajingan yang sangat bertanggung jawab dan sangat aku sayangi lebih dari apapun yang ada didunia ini. Aku kehilangan kedua orangtuaku diumurku yang ke 3 tahun. Dan aku benar-benar beruntung karena aku menjadi bagian dari keluarga panti asuhan ini.
Mereka berdua benar-benar memanjakanku. Tapi semuanya berubah saat mereka berdua menjadi namja brengsek karena sering pergi ke club malam dan bercinta dengan yeoja bodoh. Mereka mengabaikanku. Mereka melupakanku. Dan disaat seperti ini, Tuhan dengan jahatnya mengacaukan otak mereka." Lanjutnya lagi. Aku tidak bergerak. Aku masih menjadi pendengar setia dari cerita Krystal. Krystal mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
"Mereka memintaku pura-pura menjadi kekasihnya setiap kali mereka bosan dengan wanita. Aku awalnya menolaknya. Tapi mereka membayarnya dengan menuruti semua kemauanku. Apalagi Jongin oppa. Dia sudah menjadi bagian keluarga kaya. Menuruti semua keinginanku bukanlah sebuah masalah bukan? Akhirnya aku menyepakatinya dan kesepakatan itu akan berakhir jika mereka memerintahkanku untuk berhenti,seperti tadi. Setiap kali aku selesai bertugas dengan menjadi 'kekasihnya' aku akan mendapatkan apa yang aku mau. Seperti smartphone, gadget terbaru untuk anak-anak panti, mengajak satu panti asuhan makan di restaurant mewah, dan masih banyak lagi. Tapi, aku tidak berani meminta sesuatu yang berlebihan dengan Sehun oppa mengingat Sehun oppa belumlah bekerja atau mempunyai keluarga kaya seperi Jongin oppa. Dia hanya menjadi dancer di kampusnya dan akan mendapatkan uang setelah memenangkan lomba kejuaraannya."
"Dan saat malam itu, Jongin oppa sangat marah kepadaku saat aku menjalankan tugasku dihadapanmu, Eonnie. Baru pertama kali aku melihat Jongin oppa semarah itu. Itu sangat menyeramkan. Kau tahu, eonnie? Namja brengsek disebelahmu ini sangat mencintaimu. Jongin oppa menceritakan semuanya tentang dirimu. Aku bersyukur akhirnya Tuhan memberi Jongin oppa seorang malaikat. Jadi aku hanya harus mengurus satu musang bajingan lagi. Yaitu Sehun oppa." Cerita Krystal selesai saat Krystal menatap mataku intens.
"Kau memaafkanku eonnie?" Katanya lirih sambil memegang tanganku dan aku menjawabnya dengan anggukan.
"Apa ada alasan agar aku tidak memaafkanmu? Sekalipun kenyataannya kau adalah kekasih Jongin, aku tetap bersyukur karena Jongin memiliki kekasih secantik dan selembut dirimu, Krystal." Jawabku sambil tersenyum.
Ku lihat Jongin mulai bernafas lega. Sesekali aku juga melirik kearah Krystal yang tersenyum.
"Aku boleh bertanya sesuatu, Krystal?" Kataku pelan.
"Apapun itu eonnie."
"Apa maksud dari perbincangan tadi antara kau dan… Jongin? Apa yang kau tidak mau?" Kataku hati-hati. Lalu kulihat Krystal mengambil nafas panjang sambil terpejam.
"Jongin oppa memintaku untuk mengakhiri tugasku. Aku tidak mau eonnie. Aku sudah nyaman dengan semuanya. Apalagi aku hanya harus bergaya manja seperti apa yang biasa aku lakukan. Bukankah itu mudah? Selain itu aku juga tidak mau, saat aku berhenti bertugas aku tidak akan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Untunglah, Jongin oppa masih tetap menuruti permintaanku sekalipun tugasku selesai. Aku memang egois." Katanya dan mengucap lirih di kalimat akhirnya. Aku hanya mengangguk lemah. Entah harus bagaimana.
"OMONA! Aku lupa! Aku sedang membantu Yixing eomma didapur! INI GARA-GARA KAU OPPA! Mengapa senang sekali datang saat waktunya makan siang, eoh? Astaga aku harus ke dapur sekarang!" Tiba-tiba pekikan Krystal menggema. Buru-buru Krystal bangun dan bersiap menuju dapur sebelum tangan kurusnya aku genggam seolah menghalanginya.
"Waeyo eonnie?"
"Hm.. apakah aku boleh membantumu didapur?" Kataku dengan nada sedikit gugup.
"Tentu saja! Kajja eonnie! Palli!" Katanya sambil tersenyum dan menarikku ke arah dapur. Tapi, lagi-lagi gagal karena sebuah tangan kekar telah menggenggam tanganku yang lainnya erat.
"Kau pergi ke dapur duluan, Krys. Aku dan Kyungsoo akan menyusul." Jongin menatap dalam mata Krystal dan diakhir dengan larinya Krystal kearah dapur meninggalkan aku berdua dengan Jongin diruang tamu. Aku mengerutkan dahiku.
Apalagi kejutan kali ini Jongin?
Jongin menatap mataku intens. Menempatkan kedua tangannya di bahu kecil dan sempit milikku. Jarak kami sangat dekat. Jongin seperti membiarkan aku mabuk karena wangi mint dan coklat dari tubuhnya yang sangat kental menyapa indra penciumanku dan membuat jantungku bekerja diluar batas normal.
"Soo, tatap aku.." Ucap Jongin pelan dan lembut. Yap. Memang daritadi aku berusaha tidak menatap matanya. Aku terlalu takut dan gugup jika harus menatap mata elang milik Jongin dalam waktu lama. Dengan keberanian yang entah darimana, aku perlahan menatap manik mata yang berwarna kecoklatan itu dengan pelan-pelan.
"Soo, jika kau bilang bahwa kau tidak perduli dunia akan menentang keputusanmu yang menginginkan aku untuk disisimu selalu, maka aku jauh lebih tidak perduli lagi dengan itu.
Jika kau bilang, kau meminta maaf karena egois yang menginginkanku ada disisimu selalu, maka maafkan aku juga. Karena aku juga hanya ingin kau disisiku.
Jika kau bilang kau meminta maaf karena telah membawaku kedalam kehidupanmu yang tak indah, maka maafkan aku karena telah memaksamu membiarkan aku masuk kedalam hidupmu. Maafkan aku karena membawamu kedalah kehidupanku yang jauh lebih buruk dari tumpukan sampah didunia ini.
Jika kau memintaku untuk pergi dari kehidupanmu, kumohon, bunuh aku, Soo. Karena aku tak sanggup hidup sedetikpun tanpa dirimu."
DEG!
Aku merasakan pelupuk mataku telah penuh cairan yang siap turun sekarang juga.
"Soo, aku tidak bisa merangkai kata-kata seperti seorang pujangga. Aku tidak bisa menyiapkan ucapan romantis seperti pangeran. Bahkan aku tidak menyiapkan apapun selain keberanian, Soo.
Do Kyungsoo.." Ucapan Jongin terhenti. Perlahan Jongin melepas tangannya dari bahuku. Jongin berjongkok sedikit sehingga posisinga berada dibawahku dengan kuda-kuda di kakinya. Tangan kekarnya mengenggam erat kedua tanganku dan mengecupnya berkali-kali.
"Saranghae. Jeongmal saranghae." Lirihnya pelan dan bersamaan dengan runtuhnya tembok pertahananku. Aku menangis. Tidak! Bukan karena aku bersedih. Melainkan terlalu bahagia. Jongin bangun kembali dan menghapus airmataku yang turun dengan kedua ibu jarinya.
"Bersediakah kau menjadi kekasihku, Kyungsoo? Menjadi sebuah alasan untukku bertahan. Menerimaku dengan semua kekurangan dan kelebihanku. Menyayangi seongok daging yang mempunyai jutaan dosa sepertiku. Dan mencintai diriku didalam dan diluar alam kesadaraanmu. Bersediakah kau, Kyungsoo?" Ucapnya berbisik tepat ditelinga kananku. Aku mengangguk sebagai jawaban 'Ya' lalu memeluknya erat sambil menangis terharu atas semua yang terjadi hari ini. Atas kejutan-kejutan bodoh hari ini.
Tuhan, aku mohon. Jangan biarkan kebahagiaan ini berakhir. Aku mohon, biarkan kebahagiaan ini lebih lama lagi. Jeball…
"GUYS! We have a new Mom and Dad! Come here!"
.
.
.
.
TBC
