Pairing : KaiSoo/KaiDo
Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.
Rate : T
Main Cast : Kai dan Kyungsoo
Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~
WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)
.
.
.
Because You're Just For Me
by : Ernas
.
.
.
Kami berbincang cukup lama. Membicarakan tentang Jongin. Bagaimana orangtuanya yang dengan kejamnya membiarkan bayi mungin menangis dan kedinginan didepan sebuah tiang listrik. Menceritakan bagaimana sepupu Yixing eomma melihatnya dan membawa bayi mungil itu ke Yixing eomma sebagai bayi pertama yang Yixing eomma dan suaminya urus di panti asuhan ini. Menceritakan bagaimana nama Jongin dibuat. Aku bahkan baru tahu bahwa Jongin adalah nama gabungan dari nama sepupu Yixing eomma dan kekasihnya. Sepupu Yixing eomma bernama Jongdae. Dan kekasihnya bernama Xiumin. Nama 'Jong' diambil dari nama depan 'Jongdae' dan 'In' dari nama akhir 'Xiumin'.
Kami juga membicarakan tentang masa kecil Jongin bersama Sehun dan Krystal. Tentang bagaimana Jongin yang penyayang, Jongin yang ceria lalu mendadak berubah menjadi Jongin yang acuh dan cuek karena mengetahui kondisi dirinya yang sebenarnya. Jongin yang membenci dunia dan kenyataan. Jongin yang egois dan pemarah. Dan masih banyak lagi.
"Kalian benar-benar keterlaluan. Kenapa tidak menyusul huh?! Kalian tahu betapa sulitnya mengurusi anak-anak sialan itu sendirian?! Dan kalian hanya mengobrol dan tertawa seperti ini tanpa aku huh?!" Suara berat milik Jongin menginstrupsi acara bercerita antara kami.
"Appa!" Teriak Sehun dengan nada sedikit menggoda.
"Jangan bermimpi Sehun. Sampai kapanpun aku tidak akan sudi menjadi appa mu." Ucap Jongin dingin.
"Wae? Kyungsoo noona saja sudah bersedia aku panggil eomma." Kata Sehun masih dengan nada menggodanya. Sementara Jongin hanya melihatku seolah-olah menanyakan 'apa itu benar?'. Yang aku balas dengan senyumman yang tak akan bisa Jongin baca artinya 'iya' atau 'tidak'.
"Ah ne appa. Aku juga sudah memanggil Kyungsoo eonnie dengan panggilan eomma." Krystal kali ini mencoba menimpali kegiatan menggoda Jongin.
"Ayolah Kai. Kita akan menjadi keluarga bahagia. Kim Jongin sebagai appa, Kim Kyungsoo sebagai eomma. Dan mereka memiliki anak bernama Kim Sehun dan Kim Krystal. Aigoo… kita adalah keluarga sempurna!" Pekik Sehun sambil memberikan aegyo yang sukses membuatku tertawa. Aku tidak percaya namja seperti Sehun bisa melakukan aegyo dengan baik.
"Menjijikkan. Demi Tuhan. Yixing eomma, apa aku boleh membunuh dua anak ini?" Kata Jongin sambil menatap Krystal dan Sehun malas. Dan kami -aku, Sehun, Krystal dan Yixing eomma- tertawa terbahak-bahak.
"Nah Jongin, jadi kau sudah tau bagaimana rasanya mengurus anak-anak itu? Tapi mengurus mereka semua jauh lebih mudah daripada aku mengurus anak brandal yang suka membobol warung tetangga setiap malam seperti kalian bertiga." Ucap Yixing eomma lembut disela tawa kami dan Sehun dan Krystal serentak berhenti tertawa.
"Ah eomma, saat itu kami hanya ingin memakan chiki. Aku dan Jonginbaru berumur 5tahun. Dan salahkan Krystal yang sudah ikut dengan kami padahal umurnya masih 2tahun." Jelas Sehun sambil menunduk. Sungguh aku benar-benar tidak menyangka Sehun yang cool di depanku saat malam itu berubah menjadi namja manja yang sangat imut sekarang. Bagaimana bisa?
"Ah sudahlah eomma, kali ini kau tidak perlu takut. Karena aku berjanji anak-anak yang ada disini tidak akan menjadi manusia bajingan seperti aku, Sehun dan Krystal." Ucap Jongin kalem.
"Kita harus pergi, Soo." Lanjutnya sambil mengajakku berdiri dari dudukku.
"Eh? Kemana? Aku belum mau pulang, Jongin." Kataku sambil mengerutkan dahiku.
"Kau ingatkan tentang diriku kan chagi? Keluarga bukan hanya panti asuhan ini. Aku ingin mengenalkanmu ke appa dan Chanyeol hyung. Memberitahu mereka tentang malaikatku yang akan menjadi bagian keluarga Kim sebagai istri dari Kim Jongin. Kajja. Mereka sudah menunggu."
[Chapter 10]
*Kyungsoo pov*
Jongin menarik tanganku lembut. Aku hanya terdiam mendapat perlakuan dari Jongin. Terlalu sibuk mencerna kata-kata Jongin tadi.
"Nah eomma, Sehun, Krys, aku dan Kyungsoo pulang dulu ne? Annyeong." Jongin sedikit menundukkan diri sedangkan aku masih diam dan tak bergeming sama sekali.
Apakah aku siap?
Selama perjalanan aku lebih memilih diam. Aku masih bingung apa yang sedang terjadi sekarang.
"Soo?" Tangan Jongin menyentuh pipiku lembut. Aku hanya menoleh.
"Kau tahu? Hubunganku dengan appa sudah membaik. Ah ani. Sangat membaik." Katanya sambil tersenyum.
"Bagaimana bisa?"
"Seminggu saat kau benar-benar menjauhiku, aku benar-benar kacau dan terpuruk. Dan saat itulah kali pertama aku melihat appa sangat mengkhawatirkanku. Tapi aku masih bersikap dingin dan enggan menjawab banyak untuk setiap pertanyaan yang appa berikan." Jelas Jongin.
"Lalu?"
"Malam itu, appa bilang suhu badanku naik dan aku demam tinggi. Appa bilang aku mengiggau memanggil namamu. Appa benar-benar khawatir denganku. Dan dipagi hsri saat aku bangun, aku melihat appa tidur disisi ranjangku sambil menggenggam tanganku." Lanjut Jongin lagi.
"Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan semuanya tentangmu, Soo. Sungguh bahkan semua yang hari ini terjadi adalah permintaan appa. Ah ya, appa juga memintaku menjadi direktur baru di perusahaannya karena Chanyeol hyung akan mengurus perusahaan appa di Jepang." Lanjut Jongin.
Aku hanya diam mendengar perkataan Jongin. Chanyeol akan pergi ke Jepang? Jadi aku dan Chanyeol akan benar-benar dipisahkan? Tiba-tiba saja sekelibat pertanyaan terbesit dalam otakku saat sadar aku akan bertemu dengan Chanyeol.
Apa yang akan Jongin lakukan jika saja Jongin tahu tentang aku dan Jongin? Apa Jongin akan membenciku? Lalu bagaimana dengan Chanyeol saat tahu bahwa aku adalah kekasih Jongin. Apa dia akan senang? Atau marah? Atau sedih? Atau—
"Soo, kita sudah sampai." Suara Jongin membubarkan lamunanku.
Jongin membuka pintu lalu membiarkan tangannya menggenggam tanganku lembut. Aku masih diam dan menuruti semua tindakan Jongin.
"Soo, gwenchana? Kau diam sedari tadi. Kau sakit?" Kata Jongin sambil memegang keningku. Dan aku hanya senyum dan menggeleng pelan.
"Soo. Saranghae. Jeongmal saranghae. Aku berjanji akan melindungimu dan membunuh orang yang sudah mencampakkanmu selama ini Kyung. Aku berjanji." Kata Jongin lembut diakhiri dengan mengecup punggung tanganku. Aku hanya tersenyum miris.
Sekarang aku sudah berada dirumah Jongin dan itu juga berarti berada di rumah Chanyeol. Rumah yang tak pernah aku singgahi saat menjadi kekasih Chanyeol selama 1 tahun sekaligus rumah yang akan aku singgahi bersama Jongin yang baru saja menjadi kekasihku siang tadi. Rumah yang selalu Chanyeol hindari saat aku bertanya 'dimana rumahmu, Channie?' sekaligus rumah yang terbuka lebar untukku tanpa harus aku bertanya 'dimana rumahmu Jonginnie?'
Aku memperhatikan rumah mewah ini. Apa alasan Chanyeol selalu menghindariku mengajak kerumahnya? Ini rumah yang sangat mewah. Pagar tinggi berwana keperakan menyambut rumah ini didepan. Dinding rumah didominasi warna abu-abu dan putih menambah kesan mewah nan minimalis dirumah ini. Saat aku masuk kedalam, aku disuguhkan berbagai barang-barang mewah. Pertanyaan seputar 'mengapa Chanyeol menyembunyikan ini dariku' pun menghantui pikiranku.
"Aku pulang!" Teriak Jongin lembut. Tak ada jawaban.
"Hhh… mungkin mereka masih berada dikantor. Aku akan menelfon mereka." Jongin bergumam sendiri.
Namun tak butuh beberapa lama, suara berat yang sangat aku kenali berteriak cukup kencang dari lantai atas.
"Kkamjong? Kau kah itu? Apakah kau benar-benar membawa malaikatmu huh?!" Tepat! Ini suara Chanyeol yang entah sejak kapan sudah menggunakan kacamata. Bahkan saat terakhir aku bertemu dengannya Chanyeol tidak memakai kacamata. Chanyeol turun sambil melepas kacamatanya lalu manaruhnya di kantung kemeja dan membenerakan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ah annyeonghaseyo. Nan Chan— Kyungsoo?" Mata Chanyeol membulat sempurna saat menatapku sedangkan aku hanya menunduk tak berani menatap Chanyeol atau Jongin.
"Eh? Kalian sudah saling kenal? Ah jadi tinggal mengenalkan malaikat ini ke appa. Bagaimana hyung? Aku benarkan? Malaikatku ini sangat cantik." Jelas Jongin dengan nada yang bangga.
"Sangat. Sangat cantik karena selalu sukses membuat aku mengingat semuanya." Ucap Chanyeol lirih. Matanya masih menatapku dalam dan semakin membuat aku takut. Untunglah Jongin tidak mendengarnya.
"Well, sejak kapan kalian saling kenal? Kau mengapa tidak memberitahu padaku kalau kau sudah kenal Chanyeol hyung chagi?" Tanya Jongin lembut.
Rasanya aku mau mati sekarang juga.
"Ah mi-mian Jonginnie. A-aku lupa untuk bilang itu." Jawabku gugup dan masih mempertahankan posisiku yang menunduk.
"Gwenchana chagi. Kau terlihat sangat lucu saat gugup seperti ini. Hahahahaha."
"Jadi, adikku sendiri yang menjadi penyelamat untukmu, Kyung? Adikku sendiri yang berhasil membantumu melupakanku, Kyung? Namja beruntung itu adalah adikku sendiri?" Chanyeol berkata lirih disela tawa Jongin. Jongin langsung diam dan menatap Chanyeol bingung.
"Apa maksudmu, hyung?"
"Jawab aku Kyung. Mengapa kau menyembunyikan semuanya? Mengapa kau tidak jujur padaku atau pada Jongin?" Kali ini nada Chanyeol meninggi. Kurasakan pelupuk mataku yang sudah penuh dengan air mata dan siap menetes jika sekali saja aku memejamkan mataku.
"KYUNG JAWAB AKU!" Bentak Chanyeol sambil meremas bahuku. Dan aku sudah benar-benar menangis sekarang.
"Yak! Hyung! Apa maksudmu huh? Lepaskan Kyungsoo! Kau menyakitinya!" Kali ini suara Jongin tak kalah tinggi. Jongin melepaskan remasan Chanyeol dibahuku sambil terus terusan bertanya apakah aku baik-baik saja atau tidak.
"Hyung ada apa ini sebenarnya?" Setelah cukup lama, Jongin kembali membuka percakapan antara kami bertiga. Aku menggenggam jemari Jongin kuat. Berharap dengan cara ini Tuhan memberikanku sedikit kekuatan.
Chanyeol diam. Dia masih menatapku dan sesekali menatap Jongin. Lalu menghembuskan nafas beratnya.
"Apa maksudmu melakukan ini, Kyung?" Bukannya menjawab, Chanyeol malah bertanya padaku dan membuatku semakin kalut.
"Sebegitu bencinyakah kau padaku, Kyung? Kau ingin membalas semua ini denganku lewat Jongin? Kau hanya mempermainkannya? Kau—"
"Ani! Aku mencintai Jongin, Chan! Sangat! Bahkan aku mati rela detik ini juga kalau Jongin… membenciku." Aku memotong ucapan Chanyeol tegas. Namun berubah lirih diakhirnya.
"Apa maksud dari semua ini?! Seseorang jelaskan padaku!" Jongin mulai geram. Dia melepas kasar tautan jemariku dan aku hanya menghela nafas.
"Kau yang bilang padaku untuk mengejar namja itukan, Chan? Kau yang bilang padaku kalau aku harus membuktikan bahwa aku sangat mencintai namja itu. Dan kau juga yang bilang untuk tidak pernah melepaskan namja itu seperti aku melepaskanmu. Aku sudah melakukan semuanya, Chan. Gomawo." Kataku lirih sambil tersenyum yang sangat dipaksakan.
"Tapi mengapa kau tidak bilang bahwa namja itu adalah adikku sendiri Kyung? Oh Tuhan bahkan kau juga menyembunyikan fakta bahwa aku adalah mantan kekasihmu?! Kau juga menyembunyikan fakta bahwa aku yang membuatmu menangis selama 4tahun lamanya? Bahwa aku adalah namja brengsek yang dibenci adikku karena telah membuat malaikatnya menangis dimalam hari disebuah halte usang yang aku yakini itu adalah tempat kita bertemu untuk pertama sekalinya! Apa — "
PRAAAANNNGGG
Chanyeol menggantungkan ucapannya saat terdengar suara beda kaca terjatuh. Dan aku menemukan sosok yang baru saja aku kenal. Baekhyun.
"K-Kyung-Kyungsoo?" Ucapnya terbata-bata. Sementara didekat kakinya banyak terdepat serpihan gelas pecah dan cairan minuman yang membasahi kakinya.
Aku terpatung melihat Baekhyun disana. Aku kaget karena tebakkanku tentang Baekhyun benar dan juga kaget karena Chanyeol langsung menuju arah Baekhyun sambil membersihkan serpihan gelas dan air di kaki Baekhyun.
Sementara itu, aku lihat Jongin yang sedang menahan tangis dan marahnya. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras. Aku tahu Jongin sangat membenciku sekarang.
"Appa pulang. Ah ada tamu rupanya. Eh? Baekkie? Gwenchana? Ada apa ini?" Suara berat lainnya-yang aku yakini adalah Tuan Kim- menyapa telinga kami.
"Soo, pulanglah." Kata Jongin pelan dan sangat lirih. Aku hanya diam tidak mengindahkan perintah Jongin.
"Yak Jongin! Appa belum banyak bicara dengan malaikatmu!" Bentak Tuan Kim namun terdengar sangat halus dan lembut.
"Ah choenen Kim Leeteuk imnida. Bangapta er…" Lanjut Tuan Kim.
"Kyungsoo. Bangapta." Jawabku purau.
"Aku akan menelfon Sehun untuk mengantarmu pulang, Soo. Aku pusing." Jongin menatap mataku lembut sambil tersenyum. Tapi aku tahu, ada berjuta rasa kesal, marah dan sedih disana yang tidak bisa ia sembunyikan dariku.
"Shireo!" Jawabku. "Aku mau pulang bersamamu. Kau bilang jika aku pergi bersamamu, maka kau juga yang akan mengantarkanku pulang." Lanjutku sambil mempoutkan bibirku. Berharap Jongin luluh dan aku bisa berbicara padanya. Namun usahaku tak berbuahkan hasil.
"Aku pusing." Jawabnya dingin.
DEG!
Sungguh aku benar-benar benci Jongin menggunakan nada dingin itu padaku.
Saat aku dan Jongin masih saling bertatap, kurasakan seorang yeoja memelukku sambil menangis.
Baekhyun menangis.
"Aku membencimu, Kyungsoo! Sungguh! Sangat membencimu! Kau membuat keluarga ini hancur dalam sekejap mata saat kau hadir. Lihat! Jongin menjadi dingin kembali dan Chanyeol berubah! Aku bersumpah tidak akan membiarkan kau hadir di keluarga ini lebih lama lagi! Aku berjanji!" Ucap Baekhyun purau dan pelan disela tangisnya. Tubuhku mengaku sempurna.
"Ada apa ini?" Suara milik Tuan Kim menginstrupsi kami. Namun, suara itu bagaikan angin berlalu untuk Jongin dan Chanyeol. Jongin berjalan menuju -yang aku yakin- kamarnya dan Chanyeol menaikki anak tangga sambil terburu-buru dan disusul oleh Baekhyun.
"Josonghamnida, Tuan Kim." Kataku purau. "Aku yang menyebabkan kekacauan ini. Josonghamnida." Lanjutku.
"Duduklah." Perintah Tuan Kim. Dan aku menurut. "Aku panggil maid untuk membersihkan ini semua. Tunggu sebentar." Lanjutnya.
Tak butuh waktu lama, Tuan Kim sudah datang kembali dan duduk tepat didepanku.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya lembut tapi sangat serius.
Akhirnya, aku menceritakan semuanya. Menceritakan tentang Chanyeol dan Jongin dengan alur yang sama tanpa ada hal yang aku tambahkan atau aku kurangkan. Aku menceritakannya sampai aku menangis dan lemas. Tapi aku lega, setidaknya aku bisa meluapkan semuanya sekarang.
"Sungguh. Aku mencintai Jongin. Sangat. Tapi aku bohong jika aku benar-benar melupakan Chanyeol. Melupakan cinta pertama sangatlah sulit. Tapi aku berani bersumpah bahwa aku sudah sama sekali tidak mencintai Chanyeol. Aku mencintai Jongin. Hanya Jongin." Tuturku untuk mengakhiri ceritaku.
"Aku tidak tahu harus apa. Bagaimana bisa dua putraku seperti ini hanya karena seorang yeoja. Bahkan sejak kecil mereka tidak pernah bertengkar hanya karena seorang yeoja. Kecuali yah.. Jongin. Dia memang tidak suka dengan Baekhyun. Tapi mereka tidak pernah seperti ini seingatku. Aigoo.. bagaimana ini?" Gumam Tuan Kim.
"Josonghamnida." Ucapku lirih.
"Gwenchana Kyungso-ya. Tidak usah khawatir, mereka akan baik-baik saja. Percaya padaku ne?" Tuan Kim mencoba menenangkanku. Dan itu cukup berhasil.
"Sepertinya Sehun sudah datang. Pulanglah. Kau terlihat sangat kacau. Kembali lagi besok dengam fikiran jernihmu ne? Kita selesaikan semua ini. Aku ada dipihakmu Kyungsoo-ya. Tenang saja."
Aku berdiri lalu menunduk dan mengucapkan terima kasih sebelum aku keluar dari rumah itu. Aku menatap pintu kamar Jongin dan tersenyum miris.
Saat diluar, Sehun telah menungguku diatas motornya. Buru-buru Sehun membuka helmnya.
"Noona gwencahana?" Tanya Sehun panik. Aku hanya menangguk sebagai jawaban.
"Antarkan aku pulang ne? Aku butuh istirahat." Kataku lembut dan langsung di'iya'kan oleh Sehun.
Sehun mengantarkanku pulang dengan pelan dan hati-hati. Bahkan, Sehun mengantarkanku sampai depan pintu appartemenku. Dan pulang saat Luhan sudah membukakan pintunya.
Setibanya di appartement, aku langsung memeluk Luhan erat dan menangis sejadinya. Menumpahkan segalanya yang aku tahan sejak tadi didalam tangisku.
"Waeyo guerae?" Tanyanya lembut dan aku menggeleng.
"Tenangkan dirimu lalu ceritakan semuanya padaku." Lanjutnya sambil mengusap punggungku lembut.
"Lu, aku mau bertemu eomma dan appa." Kataku gagap karena aku masih menangis dipelukan Luhan.
"Besok pagi kita kesana ne?" Tanya Luhan dan aku hanya mengangguk.
Entah semalam aku tidur jam berapa. Aku benar-benar menumpahkan semuanya semalam dengan Luhan. Berteriak, merajuk dan masih banyak lagi hal keanak-anakan lainnya yang aku lakukan. Tapi setidaknya, dengan begitu sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Dan akibat terlalu khawatir denganku, Luhan memutuskan untuk tinggal bersamaku dan menyewakan appartementnya. Luhan adalah segalanya untukku.
Aku melirik ke arah jam dinding yang setia memakan waktu dengan cepat. Pukul 7 pagi. Aku dan Luhan sudah rapih dan sedang bersiap-siap. Bukan. Kami bukan ingin ke kampus. Seperti janji Luhan semalam, aku dan Luhan akan bertemu eomma dan appa.
Aku dan Luhan sudah sampai pada tempat tujuan kami. Aku membawakan dua bucket bunga lily untuk kedua orang tuaku.
Aku dan Luhan berdiri di pagar tanah luas yang dihiasi banyak batu nisan disana. Kami berjalan menuju dimana eomma dan appa tertidur dengan sangat tenang dan nyaman sehingga mereka lupa bagaimana caranya untuk bangun.
Aku kaget setengah mati saat melihat namja yang sangat ku kenal sedang berjongkok di antara dua batu nisan dekat dengan pusara eomma dan appa.
"Entahlah eomma, appa, aku hanya benar-benar —-"
"Sehun?" Potongku saat Sehun -namja yang berjongkok tadi- sedang berbincang dengan kedua orang tuanya.
"Eh noona? Apa yang kau lakukan disini?" Katanya sambil berdiri dan menyeka ujung kedua matanya. Sehun menangis.
"Aku ingin bertemu dengan orang tuaku. Ah Sehun, ini Luhan. Teman yang sudah ku anggap seperti kakaku sendiri. Lu, ini Sehun. Teman Jongin yang pernah aku ceritakan." Kataku sambil menatap Sehun dan Luhan bergantian.
"Bangasimida Luhan noona." Kata Sehun sambil menundukkan badanya.
"Ah bangapta Sehunnie. Tidak usah panggil aku noona ne? Aku benci terlihat tua." Sehun hanya mengangguk sambil tersenyum mendengat pernyataan Luhan tadi.
"Noona, apa Jongin tahu ini?" Tanya Sehun dan aku hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Nanti, jika sudah saatnya aku akan beritahu. Jadi kau jangan bilang tentang ini arra? Ah aku dan Luhan bertemu orang tuaku dulu ne?"
Tanpa menunggu jawaban Sehun, aku dan Luhan langsung berjongkok diantara dua pusara lalu menaruh bucket bungaku di masing-masing pusara dan memanjatkan doa.
"Eomma bogoshippo. Maaf aku tidak datang kemari selama dua bulan terakhir. Maaf." Kataku purau sambil mememuk batu nisan yang bertuliskan nama eomma disana. Luhan mengelus punggungku pelan.
"Eomma aku lelah. Aku sangat lelah eomma. Aku benci dengan semua ini eomma. Aku benci. Mengapa Tuhan tak pernah membiarkan aku bahagia? Sehari saja eomma. Sehari. Bahkan untuk waktu sehari pun Tuhan enggan memberikannya." Suaraku semakin purau karena aku menahan tangisku. Ini menyakitkan.
"Aku lelah eomma. Sangat lelah. Bolehkah aku beristirahat disebelahmu? Menyusulmu dan bertemu denganmu dan appa disana? Jeball eomma. Aku mohon. Aku sudah tak punya alasan untuk tetap ada di dunia yang kejam ini. Jeball eomma. Hiks." Dan tembok kekuatanku runtuh. Aku menangis sejadinya. Dan aku kaget saat sebuah tangan menepuk pundakku. Ini bukan tangan Luhan. Aku mendongak keatas untuk mencari tahu tangan siapa ini.
"Sehunnie? Wae? Belum pulang?" Tanyaku saat aku tahu siapa pemilik tangan di pundakku ini. Sehun menggeleng.
"Kau sudah tak punya alasan untuk bertahan hidup eoh?" Tanyanya sinis. Aku menundukkan kepalaku lagi. Mengapa sakit saat Sehun menanyakan itu? Padahal aku baru saja mengucapkan hal yang sama.
"Kalau begitu matilah. Dan biarkan Jongin menjadi pribadinya yang lama. Jongin yang dingin, acuh dan tidak perduli. Biarkanlah Jongin semakin percaya bahwa cinta hanyalah sebuah khayalan." Lanjut Sehun saat tahu aku tidak merespon apapun.
"Sehun benar, Kyung. Kalau memang posisiku tak kau anggap untuk membuatmu bertahan, maka anggaplah posisi Jongin, Kyung. Jongin membutuhkanmu." Sahut Luhan dan sukses membuat hatiku mencelos karena ucapannya.
Aku berpindah kearah pusara appa. Memeluk batu nisan itu erat.
"Appa bogoshippo. Maaf aku tidak menghampirimu selama dua bulan. Merindukanku eoh?" Aku benci saat ini. Aku ingin bercanda dengan sosok appa. Bukan dengan batu nisan ini.
"Appa hiks.. aku lelah appa. Aku butuh appa. Aku sangat butuh appa. Appa diciptakan untuk menguatkan anaknya bukan? Aku butuh penguatan dari appa. Sangat butuh appa. Aku butuh appa. Hiks.." Lagi. Tangisku pecah untuk yang kedua kalinya hari ini.
"Noona, izinkan aku menjadi sosok yang menguatkanmu. Jeball. Aku benar-benar tidak mau melihatmu seperti ini. Kau terlihat sangat buruk." Lagi-lagi Sehun menyahuti obrolanku dengan orang tuaku. Aku hanya tersenyum lemah.
"Gomawo Sehunnie." Ucapku lirih sambil berdiri dan bertukar posisi dengan Luhan.
"Eomma. Hiks.. hiks.. Mianata. Hiks.. aku gagal merawat dan menjaga Kyungsoo. Hikss. Eomma mianata. Hiks.." Aku merasakan hatiku hancur saat mendengar suara lembut Luhan. Luhan menangis. Dan itu karena aku.
Luhan adalah sosok kuat dan tegar. Apapun itu masalahnya Luhan berusaha untuk tidak menangis. Bahkan saat appa dan eomma meninggal, Luhanlah yang tetap tersenyum meskipun terkadang ia meneteskan airmata. Tapi kali ini? Didepanku, Luhan menangis sejadinya sambil memeluk batu nisan eomma. Aku tahu, Luhan pasti lelah. Dinding kekuatannya runtuh dan aku harap dinding itu akan bangkit kembali dengan cepat.
Luhan menggeser posisi berjongkoknya menghadap pusara appa. Dan lagi, Luhan menangis sambil memeluk batu nisan itu. Aku benci apa yang ku lihat sekarang. Aku benci melihat Luhan menangis karena rasa bersalahnya. Padahal kenyataannya, Luhan sukses menjaga dan merawatku. Bahkan sangat sukses. Luhan selalu bisa menjadi penguatku saat aku merasa lelah dan lemah. Luhan menjadi alasanku untuk tersenyum apapun yang terjadi padaku. Luhan segalanya untukku.
Apa karena ucapanku tadi kau menjadi seperti ini, Lu? Mianata..
Luhan menyudahi perbincangannya. Lalu berdiri dan menyeka ujung kedua matanya. Aku langsung berdiri dan memeluknya erat. Mengucapkan minta maaf atas ucapanku tadi. Aku sadar, Luhan-lah alasanku bertahan selama ini. Luhan malaikat bagiku.
Setelah cukup lama berpelukan, aku dan Luhan memutuskan untuk pulang. Baru saja berbalik kami dikagetkan dengan suara cadel seorang namja. Siapa lagi kalau bukan Sehun. Aku kaget dia masih ada disini.
"Mengapa tidak pulang Sehunnie?" Tanyaku sambil berjalan meninggalkan lapangan luas berhiaskan batu nisan ini.
"Menunggu kalian. Apa kalian keberatan jika aku antar pulang? Aku bawa mobil milik Jongdae hyung."
Aku dan Luhan menggeleng serempak. Lalu tertawa karena aksi kami yang bersamaan. Bahkan Tuhan telah memberikan aku dan Luhan ikatan batin yang kuat.
"Aku dan Luhan membawa mobil Sehunnie. Gomawo. Lain kali saja ne? Lagi pula kami harus ke kampus." Kataku lembut sambil menepuk pundak Sehun pelan.
Aku datang terlambat ke kampus hari ini. Untunglah mata kuliah pertama adalah seni rupa yang diajar oleh Minho songsaenim yang sangat baik hati. Jadi, aku tidak harus mendapat hukuman berat karena datang terlambat.
Selesai dari kuliah, aku langsung menghampiri Luhan di kantin. Mengajaknya untuj segera mengantarkan aku kerumah Jongin detik itu juga. Aku tidak mau membiarkan masalah ini lebih lama lagi sehari saja. Aku tidak mau.
Tapi, sesampainya di kantin, aku dikejutkan oleh pemandangan aneh. Aku melihat Luhan sedang mengobrol dengan namja! Untuk sekian lama, yang aku tahu Luhan bukanlah seorang yang mudah dekat dengan namja. Tapi kali ini? Bahkan mereka tertawa bersama.
Siapa namja ini?
.
.
.
.
TBC
AKU KEMBALI DENGAN FF ABSURD INI!
mian.. mian.. mian.. minggu ini aku cuma bisa ngasih satu chapter yang mudah-mudahan panjang. ini chapter terpanjang yang aku buat.
hayuluh banyak banget vote buat chanyeol-kyungsoo. aku bingung. jadi di chap ini belum terlalu ketauan kan chanyeol gimana?:3
makasih buat yang udah baca ff absur nan gaje ini. makasih buat para silent readers yang masih nyempetin baca ff ini walaupun tanpa jejak. dan makasih buat para reviewers yang setia ngasih review setiap chapter dan aku bersyukur gaada bash atau flame di review kalian.
like usually, review aku bales di pm :3
BOCORAN NIH! MINGGU DEPAN HUNHAN SHIPPER BERSIAP SIAP OKE?! :3
follow twitter aku yuk :) /ErnasTiaraa
cukup mention followback dan detik itu juga aku followback tanpa babibubebo. aku mau lebih deket dan lebih akrab lagi sama kalian. :)
last but not least
REVIEW PLEASE ^^
*buingbuing bareng Sehun*winks bareng Baekhyun*boboan bareng Kai*
