Pairing : KaiSoo/KaiDo
Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.
Rate : T
Main Cast : Kai dan Kyungsoo
Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~
WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)
.
.
.
Because You're Just For Me
by : Ernas
.
.
.
Aku datang terlambat ke kampus hari ini. Untunglah mata kuliah pertama adalah seni rupa yang diajar oleh Minho songsaenim yang sangat baik hati. Jadi, aku tidak harus mendapat hukuman berat karena datang terlambat.
Selesai dari kuliah, aku langsung menghampiri Luhan di kantin. Mengajaknya untuj segera mengantarkan aku kerumah Jongin detik itu juga. Aku tidak mau membiarkan masalah ini lebih lama lagi sehari saja. Aku tidak mau.
Tapi, sesampainya di kantin, aku dikejutkan oleh pemandangan aneh. Aku melihat Luhan sedang mengobrol dengan namja! Untuk sekian lama, yang aku tahu Luhan bukanlah seorang yang mudah dekat dengan namja. Tapi kali ini? Bahkan mereka tertawa bersama.
Siapa namja ini?
[Chapter 11]
*Author pov*
"Luhan? Nug- SEHUNNIE?!" Kyungsoo membulatkan matanya yang sudah bulat saat melihat namja yang sedang bersama Luhan sekarang.
"Ne noona? Hahahaha. Awas matamu keluar nanti noona . Hahahahahah." Sehun malah menertawai respon Kyungsoo karena mata bulatnya yang hampir keluar itu. Tidak ini hiperbola.
"Yak! Berhenti tertawa Sehun!" Kyungsoo membalas ucapan Sehun dengan sedikit 'mengusap' kepala Sehun terus menerus selama Sehun masih tertawa.
Sedangkan Sehun? Ia kesenangan karena berhasil membuat noona-nya merajauk kesal meskipun harus menahan sakit karena di jitak terus menerus oleh Kyungsoo.
"Ah ne ne. Aku kalah kali ini, Sehun." Ucap Kyungsoo malas saat melihat Sehun yang tidak henti-hentinya tertawa. "Apa aku boleh bergabung?" Lanjut Kyungsoo lagi.
"Aku akan dibunuh oleh eonnie mu ini noona jika aku bilang 'Tidak noona. Tidak boleh. Pergilah dan cari tempat lain.' " Ucap Sehun sambil mencoba mempraktekan bagaimana seandainya Sehun menolak Kyungsoo untuk bergabung.
Dan tanpa aba-aba lagi, Kyungsoo duduk di kursi panjang tepat disebelah Sehun.
"Apa yang kau lakukan disini Sehun?" Tanya Kyungsoo sambil menopang dagunya dan menghadap Sehun yang sedang melihat-lihat daftar menu.
"Berkuliah. Apa lagi yang aku lakukan huh? Membersihkan kampus ini? Oh ayolah noona. Aku ini terlalu tampan untuk seorang office boy." Jawab Sehun santai dengan tingkat kepedean yang diluar batas. Kyungsoo hanya memutar bola matanya malas namun beberapa detik kemudian memekik cukup keras.
"MWO? KAU BERKULIAH DISINI?!" Ucap Kyungsoo ulang sambil menggebrak meja dan berdiri.
"Yah Kyung! Kita masih ditempat umum bodoh!" Luhan buru-buru berdiri dan memaksakan sahabatnya itu duduk kembali. Sehun hanya terkekeh melihat pemandangan didepannya ini.
"Sudah lama. Aku berbeda dua tingkat denganmu noona. Kau ada di semester tengah eoh? Semester 4. Jadi aku semester 2." Jelas Sehun kalem.
"T-tapi k-kenapa aku tidak pernah melihatmu?" Tanya Kyungsoo lagi. Masih terlalu tidak percaya bahwa sahabat dari kekasihnya adalah hoobae-nya sendiri.
"Hhhhh~ kau tahu? Kalian terlalu sibuk dengan urusan kalian. Datang ke kampus, mengikuti mata kuliah, lalu pergi ke kantin atau perpustakaan. Apa tidak ada hal lain yang bisa kalian lakukan di kampus selain itu?" Kyungsoo dan Luhan tercengang bersamaan.
"Aku mengenal kalian. Aku sering melihat kalian berdua dan dengan sengaja mengikuti kalian. Haha aku seperti seorang secret admirer bukan?" Jelas Sehun saat melihat dua yeoja cantik didepannya tercengang.
"L-lalu J-Jong—-?"
"Jongin? Jongin juga mengetahui bahwa aku adalah hoobae mu, noona. Hanya saja ia merasa itu bukan hal penting untuk ia beritahu padamu." Ucapan Kyungsoo diputus paksa karena Sehun buru-buru menjelaskan pertanyaan selanjutnya yang akan keluar.
"Yak! Dasar sok tahu! Maksudku mengapa saat Jongin mengenalkanku kau bertindak seolah-olah tidak mengenalku sama sekali?"
"Oh itu. Aku malas. Memang apa yang harus aku lakukan? Apa harus seperti ini? 'Omona! Itu Kyungsoo sunbae!' Atau 'Astaga Kai! Itu sunbae-ku dikampus.' " Jawab Sehun sambil mempraktikan hal-hal konyol untuk mendukung ucapannya. Luhan dan Kyungsoo hanya tertawa melihat sikap bodoh Sehun.
Mereka berbincang cukup lama. Tertawa bersama. Ceria. Hanya itu yang digambarkan untuk 3 makhluk ini. Melupakan tentang masalah. Melupakan tentang tangis dan kecewa. Melupakan tentang kesengsaraan. Yang ada hanya tawa, dan kebahagiaan. Hanya itu.
"Kyung? Nanti kau kerumah Jongin lagi?" Tanya Luhan disela-sela tawa mereka. Kyungsoo hanya mengangguk sebagai jawaban 'iya'.
"Noona.. Apa yang terjadi?" Tanya Sehun dengan nada lirih dan wajah paniknya.
"Hah? Apa maksudmu, Hunna? Tidak terjadi apa-apa bukan disini?" Tanya Kyungsoo bingung. Jangan lupakan bahwa Luhan benci dipanggil noona.
"Dengan kau dan Kai? Aku tahu ada yang tidak beres disana kan?" Tanya Sehun lagi. Entahlah, Sehun yang sekarang berbeda dengan yang tadi. Sehun yang panik dan ketakutan. Sehun takut kalau dua orang yang penting dalam hidupnya bermasalah. Yap. Siapa lagi kalau bukan Jongin dan Kyungsoo. Sehun sudah menganggap Kyungsoo sebagai noona-nya sendiri. Sehun merasa harus menjaga Kyungsoo sama seperti ia melindungi Krystal.
"Gwenchana. Aku dan Jongin baik-baik saja." Ucap Kyungsoo parau dan tersenyum. Senyum paling buruk. Begitulah menurut Sehun. Lagi-lagi mereka melupakan dimana mereka seharusnya bahagia sekarang.
"Aku mohon noona. Jangan berbohong." Ucap Sehun sambil meremas pundah Kyungsoo lembut dan sukses membuat Kyungsoo panik.
"E-ehh a-anni S-Sehun aku tidak berbohong." Ucap Kyungsoo tergagap-gagap.
"Kau pembohong yang buruk, Kyung." Luhan mencoba membantu Sehun. "Katakanlah padanya." Lanjut Luhan lagi.
Kyungsoo menggeleng pelan. Memaksa Sehun melepaskan pegangannya pada pundaknya dan menunduk. Pelupuk matanya siap mengeluarkan cairan lagi. Oh Kyungsoo! Tidakkah kau sadar bahwa matamu sudah seperti bakso isi telur sekarang?! Jika kau menangis lagi matamu akan menjadi apa huh?!
"Ulljima noona. Aku tidak akan memaksa. Tapi aku mau kau tahu. Aku siap menjadi penguatmu. Menggantikan sisi Tuan Do untuk menguatkan putrinya. Percayalah padaku noona." Ucap Sehun lembut sambil mengelus punggung Kyungsoo yang bergetar.
"Gomawo Sehunnie. Gomawo. Tapi kurasa Luhan sudah cukup. Dengan adanya Luhan sudah cukup untuk semuanya. Luhan cukup memberiku kekuatan untuk bertahan, kekuatan untuk tetap tersenyum. Luhan masih bersamaku, jadi kufikir Luhan masih bisa menjadi sandaranku."
"Ah kalau begitu aku punya ide lebih bagus lagi." Ucap Sehun sambil memainkan jarinya di meja dan dibalas dengan tatapan bingung oleh Luhan dan Kyungsoo. "Aku akan menjadi sandaran untuk Luhan. Kau juha butuh tempat bersandar kan, Lu? Kau butuh seseorang yang juga menguatkanmu kan, Lu? Maka akulah orangnya." Jelas Sehun dengan senyum bodohnya.
Dan perkataan Sehun sukses membuat pipi Luhan merona hebat.
Mengapa mirip sekali? Satu jiwa beda raga. Oh kau kah itu Minho-ssi? Batin Luhan menggema sendiri.
Jam ditangan kanan Luhan menunjukan pukul 13 KST. Menandakan mata kuliah terakhir Kyungsoo hari ini telah selesai. Luhan buru-buru melangkah kearah mobil dan memutuskan menunggu Kyungsoo disana.
Tepat! Sore ini atau mungkin siang ini Luhan akan mengantarkan Kyungsoo ke rumah Jongin. Dan tak butuh waktu lama Kyungsoo telah sampai di parkiran dan masuk kedalam mobil.
"Ntahlah Lu, rasanya aku tidak ingin bertemu Jongin dan keluarganya dulu." Ucap Kyungsoo sambil menutup pintu mobilnya.
"Kalau begitu, tidak usah datang."
"Tuan Kim yang memintaku kesana. Aku tidak mampu menolaknya." Jelas Kyungsoo dan diakhiri dengan nafas berat.
Luhan menancapkan gas dan membiarkan roda-roda mobil bermerk 'Proton' didepannya berjalan. Bukan mobil mewah. Tapi tidak juga bisa dibilang mobil murah.
"Kau tahu Kyung? Sehun mirip sekali dengan Minho-ssi." Luhan mencoba membuka percakapan selama perjalanan.
"Jeongmal?"
"Ne." Luhan menangguk pelan. "Pribadinya sangat susah ditebak. Kadang menunjukan bahwa dia adalah namja cool. Kadang menunjukan bahwa dia adalah namja yang bersahabat. Dan tak jarang juga dia menunjukan bahwa dia namja penyayang. Atau namja rapuh. Persis seperti apa yang Minho dan Sehun lakukan." Jelas Luhan.
"Lalu kau menyukainya?" Tanya Kyungsoo to the point. Dan Luhan langsung tersenyum dan membuat semburat merah dipipinya.
"Entahlah, Kyung."
Tidak terdengar lagi perbincangan serius setelah itu. Hanya ada tawa, tawa, dan tawa. Sungguh, Luhan sangat senang hari ini. Setidaknya ia tidak harus melihat Kyungsoo yang menangis sepanjang hari. Luhan melihat Kyungsoo tertawa hari ini. Dan itu menyiptakan rasa bahagia yang tidak ada bandingnya.
Sesampainya di appartementnya.. ehm maksudnya appartement Kyungoo yang menurut Kyungsoo juga menjadi appartement Luhan, Luhan langsung merebahkan dirinya di kasur. Luhan merindukan waktu istirahatnya.
Semalam, Luhan tidak bisa tidur akibat terlalu khawatir dengan Kyungsoo dan jadilah Luhan hari ini sangat amat lelah dan mengantuk.
Namun,baru beberapa menit Luhan menutup matanya, ponselnya berbunyi. Dan sumpah serapah pun keluar dari mulut Luhan begitu saja.
"Yeoboseyo!" Jawab Luhan dengan nada sedikit tinggi. Dan tiba-tiba rasa lelah dan mengantuk yang menerpanya menghilang begitu saja saat mendengar suara namja yang baru saja menjadi bahan obrolannya dengan Kyungsoo di mobil tadi.
"Ah. Ne. Mian aku berteriak tadi."
"…"
"Hmm. Tidak. Wae?"
"…"
"Jam 7? Oke."
"…"
"Yak berhenti menggodaku!"
"…"
"Hmm ne ne. See you."
Luhan langsung berputar bak seorang putri saat sambungan telepon terputus. Bahkan ia loncat-loncat kegirangan sekarang. Siapa pun yang melihat Luhan sekarang pasti akan berfikir bahwa Luhan kesurupan setan yang sedang bahagia. Karena pasalnya Luhan tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ingat TIDAK PERNAH. Ah sepertinya salah. Ia pernah seperti ini. Dulu, dan itu sudah lebih dari 12tahun.
Luhan buru-buru membuka lemarinya. Mencari baju semenarik mungkin yang cukup membuat ia terlihat cantik. Tak sadarkah ia bahwa jika ia hanya menggunakan jins belel dan kaos biasa ia pun akan tetap terlihat sangat cantik? Persetan dengan itu. Luhan ingin terlihat lebih dan lebih cantik lagi.
"Oh ayolah! Sudah tak ada waktu lagi. Aku pakai baju yang mana sekarang?" Gumam Luhan sendiri sambil mengotak-atik lemarinya yang sudah berantakan.
Tak punya banyak waktu lagi? Bahkan masih ada 5 jam lagi untuk sampai jam 7 Luhan bilang tak punya banyak waktu lagi? Entahlah, ternyata cinta juga bisa membuat seseorang menjadi sangat bodoh.
Tunggu dulu.
.
.
.
Cinta?
"Yeoboseyo." Suara seorang yeoja yang sangat Luhan sayang menggema dari ujung panggilan telepon.
"Ah Kyung. Apa kau akan pulang larut?" Tanya Luhan langsung tanpa basa-basi.
Jam sudah menunjukkan pukuk 6.30 itu tandanya setengah jam lagi Luhan akan pergi. Luhan juga sudah selesai berperang dengan lemari dan alat make up. Semabari memakai dress warna hijau tosca kesukaannya Luhan menelpon sahabatnya itu.
"Molla. Wae?"
"Hm… aku akan pergi dengan seseorang malam ini."
"MWO? Nugu? Ini benar kau kan Lu? Tidak sedang kesurupan atau —-"
"Yak Kyung! Iya ini aku! Tidak. Aku memang akan berkencan malam ini."
"Dengan siapa?"
"Seseorang yang sudah mencuri perhatianku sejak awal bertemu."
"Se—"
"Sudah yah! Aku harus bersiap! Aku tidak akan pulang larut. Annyeong. Saranghae Kyung!"
Luhan memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan langsung menghela nafas panjang.
"Ada apa denganku? Apa aku benar-benar jatuh pesona?" Luhan bergumam sendiri di depan meja riasnya.
Ting Tong..
Tak butuh waktu lama, tepat selesainya Luhan berias, orang yang ditunggu pun datang. Tidak. Luhan hanya merias wajahnya tipis. Membuat sedikit sentuhan alami. Begitulah menurut Luhan.
Dengan dress selututnya yang berwarna hijau tosca, Luhan pun menggunakan sepatu teplek dengan warna senada. Kaki jenjang dan putihnya dipamerkan begitu saja. Oh jangan lupakan bahwa dress itu tidak menggunakan lengan. Membuat bahunya yang putih terkekspos kemana-mana. Luhan sangat cantik. Bak seorang dewi yang turun dari kayangan.
"Tunggu." Ucap Luhan sambil mengambil tas kecilnya dan menuju pintu arah sumber suara.
"Ann—" Ucapan orang yang berdiri diluar pintu pun terhenti saat melihat sosok Luhan.
"Err.. A-apa ini terlalu berlebihan? Ah, tunggu aku ganti baju dengan kaos dan jins biasa saja dulu. Tunggu." Luhan baru saja mau melangkah masuk ke dalam appartement, namun langkah itu terhenti saat tangan berkulit putih menahannya.
"Jangan. Ini tidak berlebihan. Kau cantik. Sangat cantik, Lu. Aku suka." Jawab namja itu.
"Hmm. Ne. Gomawo Sehunnie." Ucap Luhan malu-malu. Siapapun bisa melihat bahwa pipi Luhan sudah merona sekarang. Membuat kesan imut pada dirinya.
Sehun. Namja yang berdiri didepan Luhan kali ini adalah Sehun. Atau mungkin sosok lain dari Minho. Begitu menurut Luhan.
Sehun hanya menggunakan baju kaos polos berwana biru donker. Lalu menggunakan kemeja kotak-kotak berwarna senada tanpa dikancingkan. Jangan lupa jins hitam kesayangannya dan snapback bertuliskan "XOXO" berada di kepalanya. Sepatu Jordan kesayangannya yang merupakan hadiah dari Jongdae juga selalu jadi kebiasaanya. Intinya Sehun hanya menggunakan pakaian sehari-harinya namun sukses membuat Luhan bergumam pelan kata 'tampan' berkali-kali.
"Aku tahu, bidadari sepertimu tak seharusnya makan ditempat seperti ini. Mianhae." Sehun berucap lirih saat berhasil memarkirkan mobilnya di depan kedai makan kecil. Tidak banyak pengunjungnya. Namun, Luhan yakin, disini makanannya enak.
"Gwenchana, Hun. Lagi pula, aku jauh lebih suka tempat sederhana seperti ini daripada restaurant mewah." Ucap Luhan sambil tersenyum. Memberikan senyuman terbaiknya pada sosok namja ini.
"Hhhh~~" Sehun menghembuskan nafas beratnya lalu menurunkan diri dari mobil BMW hitamnya.
Seperti apa yang diucapkan tadi. Warung makan ini hanyalah warung makan sederhana. Tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil. Hanya ada beberapa pengunjung didalamnya. 4 atau 5 orang mungkin? Entahlah, pengunjung itu bisa dihitung jari.
Luhan dan Sehun memilih tempat dipojok warung dekat dengan jendela. Katanya, Luhan mau melihat jalanan Seoul dimalam hari lewat kaca. Dan Sehun hanya meng'iya'kan permintaan Luhan itu.
"Kau cantik, Lu. Sangat cantik." Ucap Sehun tiba-tiba sambil menjentikkan jarinya tanda memanggil pelayan.
"Kau berlebihan Tuan Oh." Ucap Luhan kalem sambil berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang berlebihan.
"Jadi bidadari dihadapanku mau pesan apa?" Tanya Sehun dan jangan lupakan ia sedang tersenyum dengan senyum yang sulit diartikan sekarang.
"Apapun seterah denganmu."
"Kalau begitu aku pesan apapun makanan terbaik disini." Sehun dengan sigap menutup daftar menu dan mengembalikannya ke pelayan.
Seperginya pelaya itu, mereka kembali diam. Kalut dengan pikirannya masing-masing.
"Kau tahu Lu? Aku sudah mengagumimu sejak awal aku melihatmu." Sehun mencoba membuka suara.
"Hm? Lalu?"
"Lalu aku mengikutimu. Kemanapun kau pergi dengan Kyungsoo noona dikampus. Itulah mengapa aku menyebut diriku sebagai secret admirer tadi." Jelas Sehun sambil terus menatap Luhan. Yang ditatap hanya menunduk dan mendongakkan kepalanya sesekali.
"Kau tahu Lu? Aku sangat benci dengan dua kata. Yaitu 'ditinggalkan' dan 'meninggalkan'." Lanjut Sehun saat tak mendengar satu respon pun dari Luhan.
Luhan mendongakkan kepalanya lalu menopang dagunya dengan tangan kanannya. "Kalau begitu kau sama denganku." Jawab Luhan.
"Oh yah? Apa aku boleh lancang dengan menanyakan alasannya?" Tanya Sehun. Ia mulai senang karena bisa membuat Luhan tertarik untuk mengobrol dengannya.
Luhan menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. "Bagaimana kalau kau dulu? Apa alasanmu membenci dua kata itu?" Bukannya menjawab Luhan malah balik bertanya. Oh, syukurlah Sehun bisa bersabar kali ini.
"Jelas saja karena aku tahu tentang kematian orang tua ku. Orang tuaku 'meninggalkan'-ku dan aku 'ditinggalkan' oleh orang tuaku. Apa ada alasan lain? Bahkan mereka pergi tanpa pernah ku ingat raut wajahnya sama sekali." Ucap Sehun enteng. Dapat diketahui dari ucapan tersebut Sehun benar-benar namja yang rapuh dan membenci kenyataan bahwa dia adalah seorang yatim piatu.
"Bagaimana denganmu? Apa alasan bidadariku membenci dua kata itu?"
"Tidak jauh berbeda denganmu. Dua kata itu juga merenggut kebahagiaanku." Jawab Luhan dengan nada lirih dan senyum yang dipaksakan.
"Bersedia untuk bercerita? Tapi aku tidak memaksa." Sehun yang melihat bidadarinya seperti itu memberanikan diri menggenggam tangan Luhan yang menganggur. Seolah memberi Luhan kekuatan. Dan Luhan mengangguk.
"Kau tahu? Aku bukanlah orang Korea." Ucap Luhan membuka awal ceritanya.
"Aku tahu. Xi Luhan. Dari margamu sudah menandakan kau orang China. Am i right?" Dijawab dengan anggukan oleh Luhan.
"Aku pindah ke Korea saat aku berumur 10 tahun. Saat itu sedang awal tahun ajaran baru. Jadi aku adalah salah satu murid baru di salah satu Elementary School." Lanjut Luhan.
"Lalu? Mengapa kau pindah?"
"Aku pindah karena beberapa alasan. Alasan pertama adalah karena Jonghyun ahjusshi. Ia pamanku. Sejak kematian ahjumma, Jonghyun ahjusshi meminta keluargaku untuk pindah ke Seoul. Dan keluargaku menyanggupinya." Jawab Luhan. Luhan menghentikannya ceritanya, lalu memejamkan matanya.
"Aku yang pertama dijemput oleh Jonghyun ahjusshi untuk pindah sekaligus mengurus kepindahan sekolahku. Appa dan eomma berjanji akan menyusul sebulan setelah kepindahanku karena ada keperluan lain." Lanjut Luhan. Tanpa Luhan sadari, air matanya sudah mengalir tanpa permisi.
"Dan datanglah hari itu. Hari dimana harusnya appa dan eomma tinggal bersamaku dan Jonghyun ahjusshi. Namun, perkiraan kami salah. Justru aku tidak akan pernah bertemu appa dan eomma lagi. Untuk selamanya. Kecelakaan itu membunuh kedua orang tuaku. Bom sialan itu membuat pesawat yang ditumpangi oleh appa dan eomma hancur lebur tak bersisa." Ucap Luhan sambil mempertahankan senyumnya. Meskipun itu semakin memeperlihatkan sosok Luhan yang sebenarnya.
"Setelah kejadian itu, Jonghyun ahjusshi menjadi seorang pendiam. Berbeda jauh dengan ahjusshi yang ku kenal sebagai sosok yang periang. Dua bulan setelah itu, ketidak adilan Tuhan datang lagi." Luhan masih berniat melanjutkan ceritanya meski wajahnya sudah penuh dengan airmata. Sehun dengan senang hati menghapus jejak air mata itu dengan sapu tangan yang ia pegang sekarang.
"Apa lagi yang terjadi eum?" Tanya Sehun lembut. Sangat lembut.
"Hari itu tepat di ulang tahunku. Aku benar-benar membenci hari ulang tahunku di tahun itu. Sangat! Karena hari itu yang membuat aku resmi menjadi seorang diri. Tak punya keluarga dan berada di kota orang tanpa siapapun. Hiks.. malam itu tiba-tiba saja ada api dari arah belakang rumah. Aku yang panik langsung lari ke kamar ahjusshi. Tapi aku terbelalak saat melihat kamar ahjussshi sudah dikelilingi api. Aku berteriak memanggil ahjusshi namun ahjusshi menyuruhku untuk keluar. Dan itulah pertama dan terakhir kalinya aku melihat Jonghyun ahjusshi tersenyum setelah kematian appa dan eomma. Karena setelah itu, tubuh ahjusshi habis karena runtuhan atap rumah. Hiks.. hiks.. hiks.." Runtuh sudah dinding pertahanan Luhan. Ia menangis dalam dekapan Sehun sekarang. Sehun pindah ke kursi sebelah Luhan yang menganggur karena tadinya Sehun berada di kursi tepat depan Luhan.
"Aku tidak memaksa. Jika melanjutkan cerita itu hanya membuat kau menangis, hentikanlah." Ucap Sehun lembut sambil mengusap punggung Luhan dengan lembut dan sayang. Luhan menggelengkan kepalanya didalam dekapan Sehun. Menandakan ia akan tetap melanjutkan ceritanya.
Setelah cukup tenang, Luhan kembali melanjutkan cerita pedihnya. "Beruntung, aku diselamatkan oleh seorang petugas pemadam kebakaran dan pihak kepolisian secara cepat. Atau mungkin aku akan menyusul keluargaku. Polisi yang menyelamatkanku adalah Tuan Do. Ayah Kyungsoo. Yang dengan senang hati memperbolehkan aku tinggal bersamanya. Aku cukup beruntung karena aku mendapat keluarga baru yang tak kalah hangat dengan keluargaku yang lama." Ucap Luhan sambil tersenyum. Dan Sehun tau, senyum ini adalah senyum kebahagiaan.
"Tapi, lagi-lagi Tuhan menguji kekuatanku. Dengan cara yang sama, hari yang sama dan jam yang sama di tahun yang berbeda. Kejadian sialan itu datang lagi. Appa dan eomma Kyungsoo meninggal karena kecelakaan di pesawat dan bom yang meledak. Syukurlah, jasad kedua orang tua Kyungsoo utuh sehingga bisa di makamkan. Hiks.. hiks.. dan sejak saat itu aku benci dua kata itu. Aku benci karena aku selalu ditinggalkan oleh orang yang kusayangi. Dan aku benci karena semua orang yang aku sayang selalu meninggalkanku. Hikss.." Luhan kembali menangis membuat Sehun merasa bersalah telah menanyakan ini pada Luhan.
Luhan menghapus airmatanya kasar, lalu tersenyum. "Hari saat appa dan eomma Kyungsoo dimakamkan aku tidak menangis. Entahlah, rasanya airmataku tidak mau keluar. Yang aku fikirkan hanyalah bagaimana caranya agar Kyungsoo bisa tersenyum lagi dan mengikhlaskan semua ini. Aku harus menjadi penguat untuk Kyungsoo apapun masalahnya. Untunglah, aku sekelas dengan namja yang Kyungsoo sukai. Chanyeol." Lanjut Luhan.
"Ch-Chanyeol?" Tanya Sehun ragu.
"Hm ne. Dulu, Kyungsoo sangat menyukai Chanyeol dan Chanyeol pun begitu. Jadi, aku memint Chanyeol untuk mengutarakan perasaannya pada Kyungsoo. Dan berhasil. Sejak Kyungsoo menjadi kekasih Chanyeol, Kyungsoo selalu tersenyum. Membuat seolah olah semua bebanku menjadi ringan dengan melihat senyum Kyungsoo." Lanjut Luhan.
"Tapi tepat satu tahun, Chanyeol memutuskan semuanya. Chanyeol pergi begitu saja tanpa memberi tahu alasan yang jelas dengan Kyungsoo. Semakin membuatku membenci 'ditinggalkan' dan 'meninggalkan'. Aku berkali-kali ditinggalkan dan berkali-kali juga orang yang aku sayang meninggalkanku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan Kyungsoo mengalami itu. Sekuat tenga aku berusaha menjadi penguat untuk Kyungsoo, tapi pagi tadi, runtuh sudsh pertahananku saat Kyungsoo bilang bahwa tak ada alasan untuknya bertahan. Hiks.." Lanjut Luhan.
"Kau tahu, dia hanya terbawa emosi. Aku yakin Kyungsoo noona membutuhkanmu." Sehun mencoba mengusap punggung tangan Luhan "Kalau begitu bagaimana dengan tawaranku tadi pagi?" Lanjut Sehun.
"Hah? Tawaran apa?" Luhan menatap Sehun bingung.
"Tadi, aku bilang kan bahwa aku akan menjadi penguatmu. Menjadi sandaran untukmu. Ku mohon.. Aku tahu ini terlalu cepat untukmu. Tapi ini sudah lama untukku. Aku menyukaimu. Aku menyayangimu, Lu. Suatu keajaiban karena tadi aku berkenalan denganmu. Ku mohon." Sehun menggenggam erat kedua tangan Luhan. Matanya tak luput untuk tetap menatap mata Luhan tidak berniat berpaling walau hanya untuk sedetik.
"Lu, kau mau kan membiarkan aku menjadi penguatmu. Membiarkan aku menjadi sandaran untukmu saat kau lelah dengan semuanya. Saat kau butuh tempat untuk menumpahkan semuanya. Lu, kau mau kan menjadi malaikat untukku sama halnya Kyungsoo noona menjadi malaikat untuk Jongin. Aku… mencintaimu, Lu. Oke. Ini terlalu cepat untukmu. Tapi kumohon, biarkan ini semua. Beri aku waktu eum… sebulan! Aku janji sebulan selama kita menjalin hubungan itu kau akan percaya bahwa kau juga mencintaiku. Tapi jika dalam waktu sebulan kau tidak mencintaiku, kita bisa… menyudahi semuanya. Bagaimana?" Tanya Sehun lagi.
GREBB!
Luhan memeluk tubuh Sehun. Bersandar di dada bidang Sehun membiarkan dirinya mendengar detak suara jantung Sehun. Dan dengan sadar Luhan menganggukkan kepalanya. Luhan sadar, Sehun benar. Luhan membutuhkan seseorang untuk menjadi sandarannya. Luhan membutuhkan seseorang untuk menjadi penguatnya. Luhan butuh seseorang untuk menjadi alasan agar Luhan tetap tersenyum.
Sehun tak henti-hentinya mengucapkan kata 'gomawo' sambil memeluk tubuh ramping Luhan erat. Sehun tersenyum. Bahkan Sehun juga sedang berusaha tidak meneteskan airmata bahagianya.
Setelah cukup lama berposisi seperti itu, Luhan mengendurkan pelukannya. Lalu kembali bertopang dagu dengan tangan kanannya. Sehun yang melihat bidadarinya seperti itu hanya menghelus surai hitam Luhan dengan sayang.
"Kau tahu? Kau sangat mirip dengan seseorang." Ucap Luhan tiba-tiba.
"Ohya? Nugu?"
"Namanya Minho. Choi Minho. Dia teman sekaligus orang yang paling ku sayang. Yang harus pergi bersamaan dengan appa dan eommaku." Ucap Luhan sambil tersenyum. Entahlah. Malam ini Luhan sangat lemah.
"Kalian sangat mirip. Sikap kalian yang sulit ditebak. Kadang kalian adalah namja cool, keren dan cuek. Tapi dapat dengan mudah berganti dengan namja penyayang dan lembut. Lalu hanya waktu sedetik kalian bisa menjadi namja rapuh." Jelas Luhan.
"Tapi dari semua itu yang paling penting adalah kalian sama-sama bisa membuatku nyaman didekat kalian walaupun baru saling mengenal. Seperti sekarang. Sehunna…" Ucapan Luhan terpotong karena Luhan memilih untuk menghadap Sehun. Menatap lawan bicaranya.
"Jangan tinggalkan aku. Jangan biarkan aku meninggalkanmu dan ditinggalkan olehmu." Lanjut Luhan yang dijawab Sehun dengan kecupan singkat di keningnya.
"Aku berjanji." Tegas Sehun.
Dan malam itu menjadi malam paling membahagiakan untuk keduanya. Biarlah, kali ini biarkan dua insan Tuhan yang selalu merasakan kesedihan itu merasa bahagia sekarang. Mereka malam malam dengan ceria. Mereka tertawa bahagia, bercanda bersama. Melupakan masa lalu yang menyakitkan. Melupakan masa lalu yang kelam dan suram. Membuka lembar baru yang bahagia dan lebih berwarna. Begitulah menurut mereka.
Luhan dan Sehun pulang bersamaan dengan pulangnya Kyungsoo dan Jongin. Kyungsoo sempat mengerjapkan matanya imut saat melihat tangan Sehun dan Luhan yang saling bertautan.
"Jadi, kalian tad—-" Ucap Kyungsoo yang diputus dengan Sehun.
"Ne noona! Aku dan Luhan menjadi sepasang kekasih! Bagaimana? Kami cocok kan?" Kata Sehun dan berhasil membuat Luhan menunduk malu.
Tap.. tap.. tap..
Disela-sela kebersamaan mereka, Jongin langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan 3 orang lain yang berada disana.
"Yak Kai!" Teriak Sehun. Yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya.
"Eodiga?" Tanya Sehun.
"Pulang." Jawab Jongin dingin. Lalu ia berbalik begitu saja dan mencoba untuk melangkah lagi.
"Yak Kai!" Teriak Sehun lagi.
"Wae huh?!"
"Kau mau pulang tanpa pamit dengan kami?! Oke kalau kau tak menganggap aku dan Luhan. Tapi Kyungsoo noona?! Kau mengabaikan kekasihmu sendiri huh?!" Kata Sehun dengan nada yang cukup tinggi. Tapi Jongin gak mau mengambil pusing sehingga Jongin tetap melanjutkan jalannya dan pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.
"Kalian ada masalah noona?" Tanya Sehun pelan saat melihat Kyungsoo yang tersenyum paksa.
"Kita butuh istirahat Hun. Kau pulang lah. Ini sudah malam." Kata Luhan sambil membuka pintu appartement dan membopong Kyungsoo masuk.
*Author pov end*
.
.
.
.
.
TBC
