Pairing : KaiSoo/KaiDo

Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.

Rate : T

Main Cast : Kai dan Kyungsoo

Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~

WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)

.

.

.

Because You're Just For Me

by : Ernas

.

.

.

Luhan dan Sehun pulang bersamaan dengan pulangnya Kyungsoo dan Jongin. Kyungsoo sempat mengerjapkan matanya imut saat melihat tangan Sehun dan Luhan yang saling bertautan.

"Jadi, kalian tad—-" Ucap Kyungsoo yang diputus dengan Sehun.

"Ne noona! Aku dan Luhan menjadi sepasang kekasih! Bagaimana? Kami cocok kan?" Kata Sehun dan berhasil membuat Luhan menunduk malu.

Tap.. tap.. tap..

Disela-sela kebersamaan mereka, Jongin langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan 3 orang lain yang berada disana.

"Yak Kai!" Teriak Sehun. Yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya.

"Eodiga?" Tanya Sehun.

"Pulang." Jawab Jongin dingin. Lalu ia berbalik begitu saja dan mencoba untuk melangkah lagi.

"Yak Kai!" Teriak Sehun lagi.

"Wae huh?!"

"Kau mau pulang tanpa pamit dengan kami?! Oke kalau kau tak menganggap aku dan Luhan. Tapi Kyungsoo noona?! Kau mengabaikan kekasihmu sendiri huh?!" Kata Sehun dengan nada yang cukup tinggi. Tapi Jongin gak mau mengambil pusing sehingga Jongin tetap melanjutkan jalannya dan pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.

"Kalian ada masalah noona?" Tanya Sehun pelan saat melihat Kyungsoo yang tersenyum paksa.

"Kita butuh istirahat Hun. Kau pulang lah. Ini sudah malam." Kata Luhan sambil membuka pintu appartement dan membopong Kyungsoo masuk.

*Author pov end*


[Chapter 12]

*Kyungsoo pov*

Aku dan Luhan langsung masuk ke appartement setelah bicara singkat dengan Sehun. Aku yakin namja albino itu juga langsung melesat pergi. Entahlah. Hari ini semuanya nampak aneh. Aku tidak bisa bilang indah atau buruk.

Aku memutuskan untuk langsung masuk kedalam kamarku. Mengambil handuk yang aku gantung dibelakang pintu dan masuk kedalam kamar mandi untuk bilas. Ingat kan? Seharian ini aku bersama Jongin. Jadi aku belum sempat mandi.

Aku menatap nanar pantulan diriku dicermin. Aku terlihat sangat menyedihkan. Sangat kacau. Mataku yang masih sembab dan bengkak. Hhhh~ Entahlah. Aku seperti mayat hidup sekarang.

Aku keluar dengan menggunakan handuk dan langsung mengambil piyamaku dilemari. Dan setelahnya, aku langsung berbaring di kasurku dan membiarkan diriku terlelap ke alam mimpi.

.

.

Aku bangun saat alarm ku merusak kebahagiaan tidurku. Ku kerjapkan mataku. Membiasakan cahaya matahari menyapa retinaku. Lalu ku lirik ke arah jam yang berada di meja nakasku.

5.30

Begitulah kelihatannya. Aku masih setengah sadar untuk membaca dengan benar.

Setelah cukup sadar, aku bangun dan bergegas ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan. Huh. Untunglah hari ini aku tidak ada jadwal kuliah. Jadi aku bisa leluasa mengistirahatkan diriku ini.

Gerakanku terhenti saat suara seorang yeoja yang paling ku sayang menyapaku. "Morning, Kyung. Tidur nyenyak semalam?" Tanya Luhan sambil membenarkan cepolannya. Dan aku hanya mengangguk.

"Membuat apa?" Kata Luhan sambil berdiri disebelahku.

"Hanya kimbab. Tak apa kan?" Luhan mengangguk imut. Aku beruntung memiliki Luhan.

"Hari ini ke kampus?" Tanya Luhan sambil berjalan kearah meja makan. Sepertinya ia menungguku dengan duduk disana.

"Tidak. Tidak ada jadwal. Lagipula, aku lelah. Aku ingin istirahat. Bagaimana denganmu?" Jawabku singkat sambil meneruskan pekerjaanku.

"Baiklah kalau begitu. Istirahatlah. Aku pergi kekampus, Kyung. Minggu depan sidangku. Jadi aku benar-benar harus menyiapkan semuanya. Hari ini kerumah Jongin lagi?"

"Ne. Tuan Kim yang memintanya dan ia tidak menerima penolakan. Huh. Mungkin aku akan pergi siang atau sore." Jawabku sambil berdecak kesal.

Dan setelah itu tidak ada lagi percakapan. Luhan sibuk dengan tumpukan kertas-kertasnya dan aku sibuk dengan masakanku.

Tak butuh waktu lama, masakanku selesai dan aku langsung membawanya ke meja makan. Lalu duduk tepat dihadapan Luhan.

"Kau tahu Kyung? Sebesar apapun masalahmu, percayalah semuanya pasti ada jalan keluarnya. Every problems have a solutions. Remember it." Kata Luhan disela-sela acara makan kami.

"Aku tahu itu, Lu. Dan aku percaya itu. Dan lebih percaya lagi karena kau juga menguatkannya." Balasku


Seperti kataku tadi, siang ini aku pergi ke kediaman keluarga Kim. Entahlah, aku rasanya masih tetap ingin dirumah. Apalagi saat mengingat bahwa Jongin masih bersikap dingin. Belum lagi harus menghadapi sikap Baekhyun yang bermuka dua.

Hhhhh~ kapan semua ini akan berakhir Tuhan?

"Jongin. Keluarlah."

"Shireo appa. Aku pusing."

"Jongin—"

"Appa aku pusing."

"Ada Kyungsoo."

Tak lama dari perbincangan itu Jongin keluar dari kamarnya. Iya, aku sudah sampai di kediaman keluarga Kim. Bahkan aku sudah duduk di ruang tamu sekarang. Tadi Tuan Kim yang membukakan pintu untukku lalu menyuruhku menunggu disini.

Untunglah kamar Jongin tidak terlalu jauh dari ruang tamu. Jadi jangan heran kalau aku masih bisa sedikit mendengar perbincangan mereka tadi.

Jongin menghampiriku dengan langkah gontai dan tatapan sayu. Rambutnya berantakan. Bahkan ia masih menggunakan baju yang semalam ia pakai saat mengantarku pulang.

Apa yang terjadi denganmu?

Jongin duduk tepat disebelah kananku. Kedua tangannya ia lipat kebelakang untuk dijadikan bantal. Aku hanya memandangi gerak-geriknya. Aku masih terlalu takut untuk memulai bicara.

Merasa risih karena terus-terusan aku perhatikan, Jongin membuka suaranya. "Ada apa?" Tanyanya dingin. Tangannya yang tadi dilipat kebelakang sekarang disilakan ke dadanya.

"Ingin bertemu denganmu. Apalagi?" Jawabku singkat tanpa memalingkan mataku dari mata elangnya.

Merasa tak ada pertanyaan lagi dari Jongin, kini aku yang membuka suaraku.

"Gwenchana? Kau terlihat sangat kacau, Jongin." Tanyaku.

"Aku pusing, Soo. Aku mau istirahat. Aku akan menelfon Sehun untuk menjemputmu." Ucap Jongin sambil bangun dan meninggalkanku.

Lagi?

"Jongin!" Teriakku pelan saat Jongin hampir membuka pintu kamarnya. Yang dipanggil hanya menoleh sambil menaikkan alis matanya.

"Tak bisakah kau hentikan ini? Tak bisakah kau berhenti bersikap dingin denganku? Hiks.. Sebenci itukah kau padaku? Hiks.. Aku— hiks.. hikss.." Runtuh sudah pertahananku. Ucapanku aku sudah tidak bisa mengeluarkannya lagi. Semuanya begitu menyakitkan.

Aku menangis sekarang. Menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku menghapus jejak air mataku kasar. Lalu tersenyum kepada Jongin. Senyum yang paling menyedihkan yang pernah ku berikan.

"Gwencahana. Kau.. istirahatlah. Aku tidak mau kau sakit. Aku akan pulang sendiri. Annyeong. Sa-sarangahe, Jongin." Ucapku dengan sangat pelan dikata "saranghae".

Aku berbalik, mengambil tasku yang masih berada disofa. Tapi, saat aku ingin melangkah, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku. Aku merasakan deru nafas tidak teratur di bahuku. Dan aku merasakan bahuku basah.

"Jongin? Gwenchana?" Tanyaku sambil mengelus punggung tangannya yang melingkar di pinggangku.

Jongin mengendurkan pelukannya. Atau bahkan melepasnya. Ia memutar badanku. Menatapku dengan matanya yang sudah penuh dengan airmata.

"Mianhae, Soo. Jeongmal mianhae." Ucapnya dengan suara yang purau. Dan ia memelukku lagi. Tubuhnya semakin bergetar. Jongin menangis lagi.

Ini sangat menyakitkan. Sungguh! Melihat Jongin menangis seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada melihat Jongin bersikap dingin padaku. Aku benci melihat Jongin menangis!

"Ssssshhhh.. Ulljima.." ucapku sambil mengelus punggung Jongin. Bukannya tenang, tangis Jongin malah semakin menjadi. Membuatku bingung harus bagaimana.

Setelah kira-kira 10 menit, akhirnya tangis Jongin mereda. Jongin mulai tenang. Dan kesempatan ini aku gunakan untuk mengajaknya duduk disofa. Aku yakin, kami harus bicara.

"Soo…" panggil Jongin lembut. Sambil mengambil telapak tanganku dan mengecupnya.

"Hm?"

"Mianhae. Jeongmal mianhae." Ucapnya lagi dan masih terus mengecup punggung tanganku.

"Memangnya kau salah apa eoh? Kau tidak salah. Aku yang salah. Mianhae Jongin. Jeongmal mianhae." Ucapku lirih.

"Aku bersikap dingin kepadamu. Aku—" aku kunci bibirnya dengan jari telunjukku yang kutaruh dibibirnya.

"Kau seperti itu karena aku kan? Aku minta maaf karena tidak jujur terlebih dahulu tentang semua itu. Aku takut , Jongin. Hanya terlalu takut." Ucapku sambil menundukkan kepalaku.

"Soo, sekarang lupakan ini oke? Anggap saja ini tidak pernah terjadi. Aku dan kau tetap bahagia. Bisa?" Kata Jongin sambil meremas bahuku pelan. Matanya menatap mataku intens. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Aku sudah bicara dengan Chanyeol hyung mengenai ini." Lanjutnya sambil melepas remasannya. "Aku fikir Chanyeol hyung masih belum terima dengan hubungan kita. Tapi tenang! Kita harus buktikan kalau kita saling mencintai, arra?" Lanjutnya lagi.

"Arraseo!" Jawabku semangat.

Jongin membawa diriku kedalam dekapannya. Mencium pucuk kepalu berkali-kali sambil bergumam 'saranghae Do Kyungsoo' berkali-kali pula.

"Jongin?" Sapaku disela-sela acara berpelukan kami.

"Hm?"

"Kapan kau terakhir mandi?" Tanyaku. Lalu Jongin melepas pelukannya dan menggelitik tubuhku.

"Kau menghinaku chagi? Rasakan ini!" Kata Jongin sambil terus menggelitikku. Aku hanya tertawa dan berusaha menjauhkan jemari lihai milik Jongin.

Setelah puas menggelitikku dan karena nafasku sudah tersenggal-senggal, Jongin menghentikan acara 'menyerbu'ku. Lalu berdiri, "aku mandi dulu. Lalu, kita cari makan diluar ne? Kau pasti belum makan kan? Tunggu sebentar ne?" Katanya dan diakhiri dengan mencium pucuk kepalaku sekali lagi.


Selesainya Jongin mandi, aku dan Jongin langsung bergegas. Iyap! Kami akan pergi makan siang bersama. Namun, saat kami baru saja mau keluar dari rumah, sebuah suara yeoja imut mengagetkan kami.

"Kyungsoo! Jongin! Eodiga?" Tanya yeoja imut sambil berjalan ke arah kami.

"Pergi. Sudahlah Baek, kau urus saja untuk makan siang hyung dan appa. Kami pergi dulu." Jawab Jongin dingin.

"Huuuh.." Baekhyun menghela nafasnya panjang. Seolah-olah ia merasa kecewa. Namun tak lama ia bicara lagi. "Tadinya, aku mau mengajak Kyungsoo masak untuk makan siang hari ini. Tapi yasudahlah.. selamat bersenang-senang!" Lanjut Baekhyun.

Aku merasa risih dengan tatapan Baekhyun. Ia memberiku death glare terbaiknya. Tatapannya seolah menyuruhku membatalkan acara makan siangku bersama Jongin.

"Eum.. Jongin. Sepertinya aku tertarik untuk masak bersama Baekhyun eonnie." Kataku ragu.

"Huh?"

"Bagaimana kalau kita makan dirumah saja Jongin? Bersama Tuan Kim dan Chanyeol pastinya. Aku dan Baekhyun yang akan memasak. Bagaimana?" Tanyaku lagi dan masih dalam taraf keraguan yang sama.

"Tidak Kyungsoo. Tidak apa. Kalian pergilah." Kata Baekhyun lembut. Entahlah, aku tidak tahu ini memang Baekhyun lembut padaku, atau hanya pura-pura? Ingatkan bahwa Baekhyun sedang berusaha mengusirku dari keluarga Kim?

"Nah kan! Sudah ayo, Soo!" Balas Jongin sambil menarik lenganku.

"Jongin shireo! Ayolah, bukankah itu lebih special? Aku yang memasak untukmu Jongin. Kau belum pernah makan masakanku kan?" Kataku memohon pada Jongin. Aku hanya berharap. Aku tidak salah pilihan.

Jongin hanya mengangguk kecil lalu mencium puncak kepalaku sembil bicara "seterah kau saja, Soo."

Sedangkan Baekhyun? Ku lihat ia sedang tersenyum puas karena berhasil menggagalkan acaraku dengan Jongin.

Apa yang akan kau lakukan Baekhyun?


Aku dan Baekhyun langsung melaju ke supermarket menggunakan mobil Jongin. Aku yang menyetir karena sepertinya Baekhyun tidak bisa menyetir mobil. Baekhyun duduk dikursi belakang sambil sibuk dengan ponselnya. Ini terkesan seperti aku adalah supir pribadinya Baekhyun bukan?

Sesampainya di supermarket, Baekhyun hanya menyuruhku mengambil semua barang yang diperlukan. Kali ini kami ah tidak Baekhyun ingin membuat makanan kesukaan Chanyeol. Dan aku hafal betul apa yang Chanyeol sukai. Curry Ramyeon. Tapi entah kenapa bahan-bahan yang Baekhyun perlukan sangat berbeda dengan apa yang ku ingat.

"Eonnie, setahu ku Chanyeol lebih suka—"

"Aku istrinya."

Yah kira-kira seperti itulah yang terus Baekhyun bilang setiap kali au berusaha memberi tahu apa yang aku ingat.

Baekhyun juga yang menyuruhku membawa semua barang belanjaan. Sedangkan Baekhyun sendiri? Ia hanya sibuk dengan dunianya. Sekarang aku seperti seorang maid dari nyonya besar Byun Baekhyun atau Kim Baekhyun.

Saat tiba di depan pintu masuk rumah Keluarga Kim, tiba-tiba saja, Baekhyun mengambil semua barang belanjaan yang ada ditanganku.

Huh~ akhirnya..

"Annyeong! Kami pulang!" Teriak Baekhyun dengan nafas yang tersenggal-senggal. Seolah-olah dia telah membawa semua barang belanjaan ini.

"Eh? Kalian dari mana?" Tanya Chanyeol yang sedang asik duduk di ruang TV bersama Tuan Kim. Jongin? Mungkin dikamarnya.

"Dari supermarket. Huh. Ini sangat berat." Kata Baekhyun sambil berjalan melaluiku membawa semua barang-barang belanjaan kami.

"Aigoo.. banyak sekali yang kalian beli. Baekhyun mengapa kau yang membawa sendiri? Bukankah kau bisa minta bantuan Kyungsoo?" Tanya Tuan Kim saat melihat barang bawaan yang Baekhyun bawa. Dan Chanyeol dengan cepat membantu Baekhyun membawa barang itu. Aku? Aku masih diam didepan pintu. Bingung harus apa.

"Hahahaha. Tadi aku sudah memintanya, namun sepertinya ia tidak mau. Tak apalah appa. Aku bisa. Ah gomawo yeobo." Jawab Baekhyun.

TUNGGU DULU!

Dia bilang apa tadi? Aku tidak mau membawanya?! Hey bahkan tanganku masih merah karena menenteng barang belanjaan yang tidak sedikit itu!

Sekarang kalian tahu kan bagaimana liciknya Baekhyun?

Saatnya makan siang. Seperti biasa, saat memasak Baekhyun pun hanya memerintahkanku dan aku yang mengerjakannya. Tapi lain cerita lagi kalau berada di meja makan.

"Tadi, Kyungsoo sangat hebat. Ia bisa menyuruhku memasak ini. Aku yang mengerjakannya dan Kyungsoo hanya mengomandoi ku. Ah aku senang bisa belajar masak bersamamu, Kyung. Lain kali kita masak bersama lagi ne?" Kata Baekhyun sambil menyiapkan makanan untuk Chanyeol.

Benarkan apa kataku? Beda tempat, beda cerita. Itulah Baekhyun.

"Jadi kau yang mengerjakan semuanya, Baek?" Tanya Tuan Kim.

"Ne appa! Huh.. ini sangat asik sekaligus melelahkan." Jawab Baekhyun sambil mengusap dahinya seolah-olah berkeringat.

"Aku tidak percaya. Kau bahkan tak bisa masak, Baek." Ucap Jongin membela. Iya. Jongin sudah tahu tentang ucapan Baekhyun kepadaku. Aku memberitahunya kemarin. Meskipun kemarin Jongin masih bersikap dingin, tapi sekarang sepertinya ia mulai membelaku.

"Aku memang tak bisa masak, Jongin. Tadi ku bilangkan bahwa Kyungsoo yang mengajariku?" Ucap Baekhyun sambil tersenyum manis. Jongin hanya berdecih.

"Kyung, lain kali cobalah bantu Baek ne? Ia juga membutuhkan bantuan." Akhirnya Tuan Kim angkat bicara.

"Josonghamnida." Ucapku sambil menundukan kepalaku.

Setelah itu tidak ada lagi yang membuka percakapan kecuali Baekhyun dengan cerita-cerira fiksinya. Ia bilang bahwa aku hanya bersantai saat berbelanja, menolaknya untuk membawa barang belanjaan, dan masih banyak lagi. Andai saja aku punya keberanian, aku ingin menampar mulutnya yang dengan mudahnya berbicara kebohongan.

Setelah acara makan siang bersama, aku memutuskan untuk langsung pulang. Berpamitan dengan keluarga Kim yang ada. Termasuk Baekhyun dan Chanyeol. Jongin benar. Chanyeol menatapku sinis. Tanda bahwa Chanyeol tidak suka. Entah dengan aku, atau dengan hubunganku dengan Jongin. Aku tidak mau ambil pusing karena menurutku semuanya cukup dengan Jongin tetap berada disampingku.


Tak terasa hubunganku dengan Jongin sudah masuk usia 1 bulan. Memang masih sebentar, tapi sudah cukup banyak masalah didalamnya. Sikap Chanyeol yang masih saja sinis kepada kami, sikap Baekhyun yang kian menjadi, dan sepertinya sekarang Tuan Kim juga sudah mulai ragu kepadaku karena ucapan Baekhyun yang membuat seolah-olah aku menyiksa Baekhyun.

Memang sudah seperti makanan sehari-hari untukku datang ke kantor Jongin atau kerumah keluarga Kim dan juga mendapat fitnahan dari Baekhyun. Seperti dituduh Baekhyun bahwa aku tak pernah membantunya, atau dituduh bahwa aku tidak pernah membersihkan dapur sehabis memakainya, aku bahkan pernah dituduh mencuri perhiasan Baekhyun. Jujur! Sebenarnya aku lelah meskipun sudah terbiasa. Tapi terbiasa bukan berarti kita tidak merasa lelah bukan?

Seperti sekarang. Aku merasa lelah. Alu harus menghadapi sikap Baekhyun dan tatapan sinis Chanyeol dan juga tingkah Tuan Kim yang sepertinya sudah mulai membenciku. Belum lagi Jongin juga selama seminggu terakhir sangat sulit untuk dihubungi. Jongin tidak pernah membalas pesanku, tidak menjawab telponku, bahkan ponselnya sering tidak aktif. Sesampainya dirumah pun Jongin langsung pergi kekamarnya dan keluar saat makan malam.

Tak bisakah semua ini berakhir? Semuanya sangat menyulitkan. Kapan aku lepas dari semua ini?

Sekarang aku sedang mencuci piring dan alat-alat masak dirumah Kim. Dirumah ada aku, Baekhyun, Jongin dan Tuan Kim sendiri. Jongin dan Tuan Kim sedang berada di ruang kerja sepertinya entahlah.

Namun tiba-tiba saja aku mendengar suara dari lantai atas. Tepatnya dari kamar Baekhyun dan Chanyeol.

"AAAARRRGGHHH! Appo!" Teriak Baekhyun. Aku buru-buru mencuci kedua tanganku dan melesat ke kamar Baekhyun.

"Yak eonnie! Apa yang kau lakukan? Omona!" Pekikku saat melihat tangan Baekhyun berlumuran darah dan Baekhyun memegang sebuah pisau.

Aku mengambil pisau itu. Baru saja aku ingin mengambil kotak P3K, tiba-tiba Baekhyun berteriak lagi.

"Kyungsoo! Kumohon ini menyakitkan! Aaaarrgghh! Appo! Kyung.. hiks.." teriak Baekhyun dan sekarang ia menangis.

Aku merasakan hal ganjil disini.

Baekhyun merencanakan sesuatu lagi?

"Eonnie! Apa maksudmu? Aku bahkan tidak melakukan apapun." Kataku membela diriku sendiri. Aku menenangkan Baekhyun sebentar, dan berbalik bermaksud ingin mengambil kotak P3K dibawah.

Tapi, gerakanku terhenti saat melihat dua orang namja yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Baekhyun.

.

.

.

.

"Jongin.. Tuan Kim.."

.

.

.

.

.

TBC


AKU KEMBALI!

Huuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... T_T

mianata jeongmal mianata! aku gabisa fast update lagi :(

UN semakin dekat. dan aku bener-bener harus fokus sama UN. jadi ff ini bakalan aku tinggalin untuk beberapa waktu :(

makasih untuk para rievewers dan silent readers yang udah baca ff ini.

gimana adegan HunHannya? gak dapet yah feelnya? alurnya kecepetan yah? :(

nanti aku buat sequel untuk yang chap itu deh yah. tapi beresin ff ini dulu :3

aku bingung ending ff ini gimana-_- punya saran?

maunya kaisoo apa broken kaisoo? ._.

ohiya! maaf yah aku gabisa bales review kalian dulu :( nanti kalo ada umur panjang (?) aku bales yah. ini soalnya buru-buru bgt :(

ini aja gak dibaca lagi, langsung post aja. jadi maaf kalo typo berkeliaran :(

follow twitter aku yuk! at ErnasTiaraa

aku selalu update ditwitter ._.

sekali lagi makasih buat kalian yang masih setia dengan ff ini. makasih. /cipok basah/

OKE LAST! DONT BE SILENT READERS PLS! :*

REVIEW SANGAT PENTING UNTUK AKU!
KALO KALI INI REVIEWNYA BANYAK, MINGGU DEPAN AKU UPDATE LAGI! PROMISE!

JADI GIMANA?
REVIEW PLS!

/buing-buing bareng Sehun/kekamar bareng Kai/

MUACH :*