Pairing : KaiSoo/KaiDo

Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.

Rate : T

Main Cast : Kai dan Kyungsoo

Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~

WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)

.

.

.

Because You're Just For Me

by : Ernas

.

.

.

Tak terasa hubunganku dengan Jongin sudah masuk usia 1 bulan. Memang masih sebentar, tapi sudah cukup banyak masalah didalamnya. Sikap Chanyeol yang masih saja sinis kepada kami, sikap Baekhyun yang kian menjadi, dan sepertinya sekarang Tuan Kim juga sudah mulai ragu kepadaku karena ucapan Baekhyun yang membuat seolah-olah aku menyiksa Baekhyun.

Memang sudah seperti makanan sehari-hari untukku datang ke kantor Jongin atau kerumah keluarga Kim dan juga mendapat fitnahan dari Baekhyun. Seperti dituduh Baekhyun bahwa aku tak pernah membantunya, atau dituduh bahwa aku tidak pernah membersihkan dapur sehabis memakainya, aku bahkan pernah dituduh mencuri perhiasan Baekhyun. Jujur! Sebenarnya aku lelah meskipun sudah terbiasa. Tapi terbiasa bukan berarti kita tidak merasa lelah bukan?

Seperti sekarang. Aku merasa lelah. Alu harus menghadapi sikap Baekhyun dan tatapan sinis Chanyeol dan juga tingkah Tuan Kim yang sepertinya sudah mulai membenciku. Belum lagi Jongin juga selama seminggu terakhir sangat sulit untuk dihubungi. Jongin tidak pernah membalas pesanku, tidak menjawab telponku, bahkan ponselnya sering tidak aktif. Sesampainya dirumah pun Jongin langsung pergi kekamarnya dan keluar saat makan malam.

Tak bisakah semua ini berakhir? Semuanya sangat menyulitkan. Kapan aku lepas dari semua ini?

Sekarang aku sedang mencuci piring dan alat-alat masak dirumah Kim. Dirumah ada aku, Baekhyun, Jongin dan Tuan Kim sendiri. Jongin dan Tuan Kim sedang berada di ruang kerja sepertinya entahlah.

Namun tiba-tiba saja aku mendengar suara dari lantai atas. Tepatnya dari kamar Baekhyun dan Chanyeol.

"AAAARRRGGHHH! Appo!" Teriak Baekhyun. Aku buru-buru mencuci kedua tanganku dan melesat ke kamar Baekhyun.

"Yak eonnie! Apa yang kau lakukan? Omona!" Pekikku saat melihat tangan Baekhyun berlumuran darah dan Baekhyun memegang sebuah pisau.

Aku mengambil pisau itu. Baru saja aku ingin mengambil kotak P3K, tiba-tiba Baekhyun berteriak lagi.

"Kyungsoo! Kumohon ini menyakitkan! Aaaarrgghh! Appo! Kyung.. hiks.." teriak Baekhyun dan sekarang ia menangis.

Aku merasakan hal ganjil disini.

Baekhyun merencanakan sesuatu lagi?

"Eonnie! Apa maksudmu? Aku bahkan tidak melakukan apapun." Kataku membela diriku sendiri. Aku menenangkan Baekhyun sebentar, dan berbalik bermaksud ingin mengambil kotak P3K dibawah.

Tapi, gerakanku terhenti saat melihat dua orang namja yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Baekhyun.

.

.

.

.

"Jongin.. Tuan Kim.."


[Chapter 13]

Akibat darah yang terus mengalir, Tuan Kim memutuskan untuk membawa Baekhyun ke rumah sakit. Aku hanya menurut dan mengikuti semua perintah Tuan Kim.

Sesampainya dirumah sakit, lenganku ditarik oleh Jongin kearah taman rumah sakit. Aku hanya menurut. Otakku sepertinya sedang enggan berkomentar apapun tentang tindakan tiba-tiba ini. Aku hanya masih memikirkan bagaimana dengan keadaan Baekhyun.

Kami duduk di bangku tepat dibawah pohon maple. Tak ada suara untuk beberapa lama. Kami hanya masih terlalu sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

"Soo, apa yang kau rasakan sekarang?" Jongin membuka suara.

"Huh?" Jawabku sekenanya. Aku masih belum menangkap pertanyaan Jongin.

"Apa yang kau rasakan sekarang?" Tanyanya lagi.

"Tidak ada." Jawabku singkat. Aku masih terlalu panik dengan keadaan Baekhyun.

"Jujurlah, Soo. Kau tahu kau tidak akan bisa berbohong padaku." Balas Jongin.

"Aku hanya merasa kau berubah, Jongin. Kau lebih susah untuk aku hubungi seminggu terakhir ini. Kau jarang membalas pesanku, tidak mengangkat panggilanku, bahkan ponselmu sering tidak aktif. Setibanya dirumah pun, kau langsung masuk ke kamarmu tanpa menyapaku terlebih dahulu seperti biasa. Kau terlihat menghindariku." Jawabku. Tak bisa aku pungkiri, aku merindukan Jongin yang dulu.

"…"

"Tapi aku tahu, kau tidak menghindariku kan? Kau hanya terlalu sibuk dikantor lalu terlalu lelah ketika dirumah. Aku benarkan?" Lanjutku lagi. Setetes airmata telah turun dipipiku sekarang.

"Ulljima." Kata Jongin singkat. Bahkan saat ia mengatakan ini matanya hanya menatap lurus tanpa menoleh sedikitpun kearahku.

Lalu, kami kembali dalam diam.

"Ada hal lain kan? Keluarkanlah. Semuanya." Jongin kembali membuka suaranya.

"Aku.." Ucapku gantung. Aku ragu mengatakan ini. Entah kenapa.

"Kenapa?"

"Aku lelah Jongin. Aku lelah dengan sikap Baekhyun. Bahkan tadi itu aku—"

"Aku tahu, Soo. Aku melihatnya. Tadi tak lama saat kau datang, aku datang. Tapi sepertinya kalian tidak menyadari kedatanganku."

Aku tidak berniat membalas ucapan Jongin. Aku hanya diam. Berusaha untuk tidak menangis sekarang. Menahan semua cairan yang sudah siap keluar dari ujung mataku.

"Kau tahu? Aku juga lelah." Kata Jongin saat tahu tak ada balasan dariku. "Dan kau mengerti arti kata lelah kan, Soo?" Lanjutnya. Aku hanya mengangguk.

"Itu artinya kita butuh istirahat." Lanjut Jongin. Matanya masih enggan melihatku.

"Tapi cukup untukku dengan melihat senyummu setiap hari, Jongin. Aku bisa menguatkan diriku asalkan kau tetap bersamaku." Jawabku sambil menggenggam tangan Jongin.

"Ani. Soo aku tahu kau paham dengan maksudku." Balas Jongin. Rasanya Jongin masih malas untuk sekedar melihatku.

"Ani. Aku tidak mengerti." Jawabku singkat. Aku mengeratkan genggamanku pada Jongin.

Diam. Jongin tak menjawab. Aku kembali kedalam pikiranku sendiri. Mengkhawatirkan Baekhyun juga perkataan Jongin. Lalu, aku memposisikan diriku untuk bersandar didada bidang Jongin. Untunglah, Jongin tidak menolaknya meskipun ia masih belum melihatku.

"Soo, kita sama-sama lelah kan? Itu artinya kita butuh istirahat. Istirahat yang ku maksud bukan tidur atau apalah itu untuk fisikmu. Tapi kita harus mengistirahatkan hubungan ini. Kita harus mengakhirinya." Akhirnya Jongin buka suara. Dan akhirnya ia menatapku. Mengelus suraiku lembut.

Aku tak bisa menahannya lagi. Aku menangis dalam pelukan Jongin. Membiarkan baju Jongin basah. Tapi aku berusaha untuk tidak terisak sekarang.

"Soo, ulljima."

Aku bangun dari posisiku, kembali duduk dan menatap matanya lekat.

"Jongin tatap aku." Kataku memberanikan diri. Entah keberanian darimana ini. Tapi yang aku tahu, aku tak pernah berani menatap Jongin.

Namun, rasanya Jongin enggan menatapku. Ia malah menundukkan kepalanya.

"Jongin tatap aku!" Aku ulangi lagi dengan nada yang cukup tinggi dari sebelumnya. Dan itu cukup membuat Jongin menoleh. Membalas menatap mataku.

"Kau ingin mengakhiri semuanya?" Tanyaku mengulang ucapannya. Dan Jongin hanya mengangguk.

"Apa alasannya? Kau bosan? Kau jenuh? Atau… ada yeoja lain Jongin?" Tanyaku lagi. Kali ini, aku tersenyum sambil mengelus pipinya. Dan menyetuh bibirnya. Bibir pertama yang berhasil merasakan bibirku.

"Jongin jawab." Kataku lembut.

"Hm. Ne." Jawab Jongin. Ia menunduk. Enggan melihatku.

Sebegitu bencinyakah kau padaku Jongin? Semudah itukah kau melupakanku? Menggantikan posisiku?

"Apa itu juga yang membuatmu berubah selama seminggu terakhir ini?" Tanyaku lagi. Dan lagi-lagi Jongin hanya menganggukkan kepalanya.

"Nugu? Siapa yeoja beruntung itu Jongin?"

Jongin mengangkat kepalanya seolah tak percaya dengan ucapanku tadi. Aku hanya tersenyum. Menutupi hatiku yang sebenarnya sudah tak berbentuk lagi.

"Dia… sekertarisku. Namanya Soojung. Lebih tua dariku 2tahun. Dia adik dari artis terkenal Lee Jongsuk." Jelas Jongin. Dan aku hanya bisa tersenyum miris mendengarnya.

Aku menarik nafasku panjang. Lalu berkata, "Baiklah." Sambil berdiri dan mengambil tasku. "Jaga dia ne? Jangan mainkan dia lagi seperti kebiasaanmu dulu. Sayangi dia arraso? Aku pulang dulu. Bilang dengan Chanyeol dan Tuan Kim juga Baekhyun aku minta maaf atas sikapku selama ini. Dan juga…."

"Apa?"

"Terimakasih untuk waktu singkat ini. Terimakasih telah membuatku tersenyum setelah sekian lama aku lupa caranya tersenyum. Terimakasih telah membuatku merasakan kehadiran dan kehangatan kasih sayang setelah sekian lama aku lupa bagaimana rasanya. Ghamsahamnida Jongin-ssi." Lanjutku sambil membungkukkan badanku. Lalu aku melangkah pergi meninggalkan Jongin.

Namun langkahku terhenti saat suara Jongin memanggilku.

"Soo!" Katanya. Aku menghentikan langkahku. Tidak menoleh. Membiarkan Jongin menghampiriku.

"Biar aku yang antar." Katanya. Suaranya gugup. Yang aku tahu satu. Saat Jongin bersuara gugup, itu pasti ia sedang dalam keadaan bingung.

"Ani. Aku bisa naik bus, Jongin-ssi. Gomapta." Kataku sopan. Hey! Aku sudah bukan siapa-siapanya lagi kan?

"Jeball, Soo." Rayunya. Aku hanya menggeleng. Mempertahankan jawabanku yang sebelumnya.

"Untuk yang terakhir kalinya, Soo. Biarkan aku mengantarmu pulang untuk yang terakhir kalinya." Jongin memohon. Dan bodohnya, aku selalu tidak bisa menolak permintaan Jongin jika ia sudah memohon

.

.

.

Aku sudah berada didalam mobil Jongin sekarang. Selama perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Kami sibuk larut dalam urusan kita masing-masing.

"Jongin.." Aku akhirnya membuka suara.

"Ne?"

"Bisakah kau antarkan aku ke sesuatu tempat?" Tanyaku.

"Eodiga?" Tanyanya lembut.

Jongin berhenti. Tak perlu kau bersikap lembut seperti ini jika pada akhirnya kau akan tetap meninggalkanku.

"Ikuti saja arah jalan ini."


"Kyungsoo, ini—"

"Iya pemakaman. Kau tahu?"

"Aku tahu. Kedua orang tua Sehun dimakamkan disini. Tapi maksudku apa yang kau—"

"Disini jugalah tempat kedua orang tuaku."

Jongin langsung terdiam. Ia memberhentikan langkahnya di belakangku. Memaksa diriku untuk berhenti dan menoleh.

"Kau ingin tunggu disini saja?" Tanyaku memastikan.

"A-ani. Aku ikut."

.

.

"Eomma, appa bogoshippo." Ucapku saat kami sampai di dua pusara.

"Soo, ini—"

"Ne. Tepat disebelah makan kedua orang tuaku, makam kedua orang tua Sehun."

Aku langsung berjongkok dihadapan kedua nisan orang tuaku. Lututku rasanya terlalu lemas untuk tetap membiarkan aku berdiri. Dan tanpa aba-aba aku memeluk nisan eomma dengan erat.

"Eomma hiks.. ireona! Eomma ireona! Jeball eomma! Hiks.. hikss." Tangisku pecah begitu saja tanpa bisa aku pendam lagi.

*Kyungsoo pov end*

*Jongin pov*

"Eomma hiks.. ireona! Eomma ireona! Jeball eomma! Hiks.. hikss." Tangis Kyungsoo pecah begitu saja.

DEG!

Melihat Kyungsoo menangis, bagaikan ditusuk ribuan belati tepat dihatiku. Tapi… bukankah aku yang menyebabkan Kyungsoo menangis sekarang?

"Eomma! Ireona! Hiks.. hikss. Kau tak bosan eoh hanya tidu seperti ini huh?! Tak merindukanku eoh?! Hiks.. hiks.. eomma jeball. Ireona!" Kyungsoo masih terus meronta. Meminta Nyonya Do bangun.

Ayolah Kyungsoo, berhenti. Ulljimma, Soo.

"Ah eomma, ini Jongin. Namja yang selalu ku ceritakan dengan Luhan. Dan namja yang menjadi alasan untukku tetap kuat dan tersenyum. Dia tampan ne? Pantas jika banyak yeoja yang menyukainya. Dan mungkin aku hanyalah satu dari sekian banyak yeoja yang beruntung karena sempat memilikinya." Tutur Kyungsoo.

Kyungsoo! Aku tetap milikmu! Tetap milikmu!

Tuhan, rasanya aku bisa mengulang waktu. Aku tidak akan membuatnya seperti ini. Ini menyakitkan.

Kyungsoo beralih ke nisan sebelahnya. Aku yakin itu adalah nisan Tuan Do.

"Appa.. hiks.. ireonna appa. Jeball. Hiks. Kau tak ingin menjagaku eoh? Ireona appa! Appa jeball! Ireona!" Bahkan saat melihat Kyungsoo meronta lagi, aku hanya tetap diposisiku. Berdiri dan hanya menatapnya sedari tadi. Aku ingin membantunya. Sangat. Aku ingin memeluknya. Menenangkan dirinya. Tapi apa aku pantas?

"Appa hiks.. tidak ada yang menguatkan aku lagi. Tidak ada appa! Apa appa tega membiarkan aku menjadi yeoja lemah eoh?! Appa! Hiks"

Kyungsoo kumohon. Berhentilah..

"Appa, ini Jongin. Dia yang selama ini menguatkan aku. Melindungiku layaknya appa melindungiku. Tapi mulai besok atau mungkin mulai hari ini semuanya akan berubah. Jongin sudah tak bisa melindungiku. Jongin harus melindungi yeoja lain yang ia cintai appa. Dan yeoja itu bukan aku." Kyungsoo masih senang bermonolog ria.

"Soo, aku akan tetap melindungimu." Entah ini apa maksudnya. Tapi aku benar-benar mengatakannya. Kyungsoo hanya tersenyum menghadapi perkataanku tadi.

Soo, aku mencintaimu. Hanya kau, Soo. Tapi ini sulit.

Kyungsoo kembali meronta. Bahkan kali ini ia berteriak. Meminta orang tuanya bangun.

Melihat pemandangan ini, membuat diriku sakit. Dengan semua keberanian, aku ikut berjongkok dan memeluk Kyungsoo. Menenangkan dirinya. Aku tahu, dengan seperti ini Kyungsoo akan tenang. Atau paling tidak, Kyungsoo berhenti meronta dan berteriak.

"Soo, stop! Berhenti! Tenanglah, Soo. Tenang!" Sahutku sambil memeluk tubuh mungil ini. Aku.. aku merindukannya. Aku merindukan pelukan ini. Sangat merindukannya.

Kyungsoo tetap menangis. Tetap dalam pelukanku. Tetap menumpahkan rasa kecewanya pada sosok namja brengsek. Yaitu aku.

Setelah cukup lama, Kyungsoo mulai tenang kembali. Ia langsung melepaskan pelukannya denganku dan beralih memeluk nisan Nyonya Do. Lalu, menangis lagi.

Tuhan, apakah aku mengambil keputusan yang salah?

"Soo, hari sudah gelap. Kajja, kita pulang." Kataku sambil menepuk ringan bahu Kyungsoo. Kyungsoo menggeleng.

"Soo, besok aku janji akan mengantarkanmu kesini lagi. Tapi kita harus pulang sekarang." Kyungsoo masih dalam keputusannya. Ia menggeleng lagi.

"Soo, jeball. Lihat dirimu, Soo. Kau butuh istirahat. Aku yakin appa dan eomma mu tidak suka melihat kau yang seperti ini." Aku masih mencoba merayu Kyungsoo. Namun nihil. Kyungsoo masih menggeleng.

"Soo. Jeball"

"Jongin pulanglah. Aku bisa pulang sendiri nanti. Gomawo." Katanya singkat. Namun cukup membuat gores yang dalam.

"Soo! Tidakkah kau mengerti bahwa aku khawatir denganmu eoh?! Tidakkah kau sadar aku membenci melihat kondisimu yang seperti ini?! Tidakkah kau paham dengan semua perasaanku eoh?! Tidakkah kau—"

"Jongin cukup! Buat apa kau mengkhawatirkanku eoh?! Buat apa kau membenci melihat kondisiku ini eoh? Buat apa?! Toh pada akhirnya kau tetap meninggalkanku kan?! Pulanglah. Keluargamu menunggumu."

DEG!

Sejak kapan Kyungsoo berani membentakku seperti ini? Apa Kyungsoo benar-benar kecewa denganku?

"Setidaknya, biarkan aku tetap menjagamu. Biarkan aku tetap mengkhawatirkanmu."

*Jongin pov end*

*Author pov*

"Setidaknya, biarkan aku tetap menjagamu. Biarkan aku tetap mengkhawatirkanmu." Jongin berucap lirih. Terlihat seperti menggumam sendiri. Tapi, Kyungsoo masih dapat mendengarnya.

"Kajja Soo, kau harus pulang. Luhan pasti mengkhawatirkanmu." Lanjut Jongin.

Akhirnya menyerah juga Kyungsoo. Ia berdiri dan mulai melangkah pergi meninggalkan pusara kedua orangtuanya.

Sesampainya di appartement Kyungsoo, tidak ada yang berkata. Tidak ada ucapan gombal dari Jongin atau pun ucapan manis dari Kyungsoo seperti biasanya. Jangan lupakan kebiasaan itu sudah berubah sejak seminggu yang lalu.

Kyungsoo menekan angka password untuk membuka pintu appartementnya. Namun, gerakannya sangat lambat. Kyungsoo bahkan meneteskan airmatanya saat menekannya.

Bagaimana tidak? Semuanya yang ada didunia ini hanya mengingatkan dirinya dan Jongin. Bahkan password ini. Dulu, passwordnya adalah angka ulangtahun orangtuanya, namun diganti dengan angka ulangtahunnya dengan Jongin.

Pintu appartement sudah terbuka. "Aku pulang." Ucap Kyungsoo. Tidak terlalu berteriak dan juga tidak pelan. Namun untunglah Luhan bisa mendengarnya.

"Kyung- Omona! Kyungsoo apa yang terjadi eoh?! Yak Jongin! Waeyo guarae?! Kyung—"

"Gwenchana, Lu. Aku lelah. Sangat lelah. Bisakah kau tolong temani Jongin jika ia masih ingin berada disini?" Ucap Kyungsoo lemas dan lirih. Namun masih tetap mempertahankan senyumnya seperti biasanya. Luhan hanya mengangguk.

Namun, langkah Kyungsoo terhenti. "Soo." Ucap Jongin sambil menarik lembut tangan Kyungsoo.

"Jongin lepas. Aku lelah." Katanya sambil melepas genggaman tangan Jongin lembut.

"Soo sebentar." Ucap Jongin lagi.

"Jongin aku le—"

"Soo, jeball. Sebentar saja."

"Jongin aku—"

"Soo! Aku—"

"JONGIN! Aku lelah!"

Kyungsoo menyerah. Ia sudah berusaha untuk tetap lembut sedari tadi. Ia sudah berusaha untuk tetap tersenyum daritadi. Kyungsoo sudah berada dipuncaknya. Ia menangis lagi.

"Jongin, kau bilang jika kita lelah maka kita harus istirahatkan? Aku lelah, Jongin. Lelah fisik ataupun lelah batin. Aku berterimakasih karena lelah batinku sudah kau selesaikan. Tapi aku juga butuh istirahat untuk fisikku. Mengertilah." Ujar Kyungsoo lemah.

"Aku mohon. Jangan membenciku, Soo." Ucap Jongin lemah.

Kyungsoo tidak menanggapi ucapan Jongin. Kyungsoo memilih melepas lembut tangan Jongin yang masih menggenggam tangannya sambil tersenyum. Lalu, berbalik dan berjalan dengan langkah yang sangat pelan.

"Soo.. saranghae. Jeongmal saranghae." Lirih Jongin.

Kyungsoo menghentikan langkahnya. Memutar badannya agar kembali menghadap Jongin. Matanya berair. Bisa dipastikan sekali ia berkedip, cairan itu akan membasahi pipinya.

"Apa kau bilang?" Tanya Kyungsoo memastikan. Jongin hanya menunduk.

"Kau mencintaiku?" Tanya Kyungsoo lagi. Namun Jongin masih menunduk.

"JONGIN JAWAB AKU!"

Tidak ada jawaban. Jongin masih menunduk meskipun Kyungsoo sudah meninggikan suaranya. Kyungsoo lelah. Sungguh, Kyungsoo benar-benar lelah. Inilah batasnya. Batas kemampuan Kyungsoo untuk tetap senyum, batas kemampuan Kyungsoo untuk tetap bertahan, batas kemampuan Kyungsoo untuk tetap bersabar. Semuanya habis. Semuanya hilang begitu saja.

"Apa buktinya Jongin?! Apa buktinya kau mencintaiku?! Apa huh?! Jika kau mencintaiku mengapa kau malah memilih yeoja lain daripada aku?! Lalu untuk apa semua yang sudah kau lakukan huh?! Untuk apa kita meyakinkan Chanyeol oppa jika pada akhirnya kau menyerah?! Untuk apa kau membelaku didepan appamu, membuktikan bahwa semua perkataan Baekhyun itu salah kalau pada akhirnya semuanya sia-sia?! Untuk apa Jongin?!" Lirih Kyungsoo dengan nada tinggi. Runtuh sudah semuanya. Kyungsoo menangis sekarang. Tapi biarlah. Kyungsoo lelah. Jadi biarkan ia menumpahkan semuanya sekarang.

"Soo, aku bis—"

"Lu.." Ucapan Jongin Kyungsoo putus. Kyungsoo menghadap Luhan. Dari sorot matanya seolah-olah Kyungsoo meminta bantuann Luhan. Dan Luhan mengerti. Luhan segera menganggukkan kepalanya.

"Jongin. Aku eonnienya. Aku yang mengurus Kyungsoo. Kyungsoo lelah. Jadi aku mohon jangan halangi dia untuk masuk. Arraseo?" Tegas Luhan.

Jongin tidak bisa menolak lagi. Jongin hanya bisa menatap nanar punggung Kyungsoo yang masuk ke dalam dengan keadaan bergetar. Kyungsoo menangis.

Ulljima,Soo. Jeball. Gumam Jongin dalam hati.

Dengan cepat Luhan menutup pintu appartement dari luar. Iya, Luhan berada diluar sekarang bersama Jongin.

"Kau mendustakan janjimu." Ucap Luhan. "Kau meninggalkan Kyungsoo. Kau membuatnya menangis." Lanjut Luhan. Kini suaranya agak sedikit bergetar.

"Mianata noona." Lirih Jongin sambil menunduk.

"Jangan pernah datang lagi kesini. Jangan pernah lagi temui Kyungsoo, sekalipun Kyungsoo memohon dan bersujud kepadamu jangan pernah! Jangan pernah lagi ganggu hidup Kyungsoo. Jangan pernah lagi kau tampakan wajahmu dihadapannya walau hanya sedetik. Jika kau melanggarnya kau akan menerima balasannya. Sekarang pergi! Sebelum aku meminta security untuk mengusirmu." Tegas Luhan.

Jongin hanya menunduk dan langsung memutar badannya pulang.

Aku hanya terlalu bingung dengan semuanya. Terlalu bingung harus apa dan bagaimana. Soojung ataukah Kyungsoo. Tuhan, beritahu aku mana yang terbaik. Batin Jongin berteriak pilu.


Hari baru, cerita baru, kenangan baru, dan harapan baru. Begitulah sekiranya menurut Kyungsoo sekarang. Kyungsoo mencepol rambutnya asal dan bangun dari ranjangnya menuju meja nakas yang berada tidak jauh dari dirinya. Memandangi sebuah bingkai foto yang menyimpan jutangan kenangan. Kyungsoo hanya tersenyum pahit.

"Selamat pagi, Jongin." Gumamnya sendiri.

Kyungsoo mengecek ponselnya. Tidak ada pesan disana. Tidak ada lagi ucapan 'good morning' dari seseorang yang selalu ia tunggu. Dan lagi-lagi Kyungsoo hanya bisa tersenyum.

Kaki kecilnya memaksanya keluar dari kamarnya yang hangat. Ia berjalan ke arah dapur dan mendapati Luhan disana.

"Apa yang sedang kau lakukan eonnie?" Tanya Kyungsoo tanpa basa-basi dan duduk dimeja makan.

"Membuat sarapan. Apalagi?" Jawab Luhan.

Kyungsoo terkekeh. "Bahkan kau tidak bisa memasak, Lu." Ucap Kyungsoo. "Kita sarapan diluar saja ne? Aku juga ingin kerumah sakit dan mengunjungi appa dan eomma." Lanjut Kyungsoo.

Luhan menghentikan aktivitasnya dan buru-buru menoleh kearah teman sekaligus dongsaeng-nya itu. "Kerumah sakit? Apa kau sakit?" Tanya Luhan tidak mengerti.

"Bodoh." Ucap Kyungsoo sambil berdiri. "Aku ingin bertemu Baekhyun. Aku ingin meminta maaf dan memberi selamat kepadanya. Sudah aku mandi dulu." Lanjut Kyungsoo. Luhan hanya berdecih sebal.

Kau terlalu baik, Kyung. Gumam Luhan dalam hati.

.

.

"Bagaimana hubunganmu dengan Sehun, Lu?" Tanya Kyungsoo disela-sela perjalanan mereka ke rumah sakit tempat Baekhyun dirawat.

"Baik." Jawab Luhan singkat. "Dulu, aku memang melihatnya sebagai Minho. Tapi sekarang aku melihatnya sebagai Sehun. Sebagai Oh Sehun. Dan kau tahu? Mereka sangat berbeda." Lanjutnya.

Lalu, Luhan menceritakan kisahnya dengan Sehun. Sehun yang ternyata sangat manja, Sehun yang suka sekali dengan bubble tea, Sehun yang mempunya sejuta aegyo dan masih banyak lagi. Lalu membandingkannya dengan Minho. Minho yang mandiri, Minho yanv lebih menyukai coffee daripada bubble tea, Minho yang sama sekali tak bisa melakukan aegyo dan semuanya. Yang mendengar cerita Luhan hanya bisa tersenyum miris. Hatinya iri.

Apakah aku benar-benar tak pantas bahagia? Tanyanya dalam hati kecilnya.

.

.

.

Kyungsoo memutar knop pintu dan mendapatkan ruangan putih berbau obat dengan seorang yeoja cantik terbaring disana.

Tanpa aba-aba, Kyungsoo langsung masuk dan disusul oleh Luhan. Mereka berjalan mendekat kearah yeoja yang berbaring di ranjang itu. Kelihatannya yeoja itu sudah baik-baik saja.

"Hai eonnie." Sapa Kyungsoo. Yang disapa langsung membuka matanya yang memang sengaja ia pejamkan saat melihat siapa yang datang keruangannya.

"Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Kyungsoo. Luhan hanya bisa memutar pandangannya kesegala arah asalkan ia tidak melihat yeoja yang sekarang sedang menyamankan dirinya di ranjangnya.

"Semua baik-baik saja, Kyung. Terimakasih karena telah berakting dengan baik kemarin." Jawab yeoja itu dengan sedikit senyuman meremehkannya.

"Cheonma eonnie. Ah chukae eonnie." Ucap Kyungsoo sambil mengulurkan tangannya.

"Eh?"

"Kau berhasil. Kau berhasil mengeluarkanku dari keluarga Kim. Impianmu terwujud. Aku tidak akan masuk kedalam daftar keluarga Kim. Chukae." Ujar Kyungsoo.

Yeoja yang sedang diranjang itu hanya bisa memandang Kyungsoo dengan mata berbinarnya. "Jinjjayo?! Aigoo.. aku tidak percaya semudah ini." Tuturnya senang. Luhan hanya bisa memandang yeoja itu dengan perasaan benci.

"Aku harus segera pergi." Ucap Kyungsoo. "Ah lain kali jangan melakukan hal bodoh lagi seperti ini, arraseo eonnie?" Lanjut Kyungsoo.

Yeoja itu hanya berdecih. "Jangan sok baik Do Kyungsoo." Ucapnya dengan nada meremehkan.

Kyungsoo menggeleng. "Aku tidak sok baik Byun Baekhyun. Aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu kemarin. Kau ingat saat kita pertama sekali bertemu?" Baekhyun - yeoja diranjang tadi- hanya diam dan menunggu lanjutan dari perkataan Kyungsoo.

"Kau bilang bahwa kau ingin mempunyai teman dekat eoh? Dan aku menyanggupinya. Aku khawatir karena kau adalah temanku." Lanjut Kyungsoo dan berhasil membuat Baekhyun tertawa sedangkan Luhan berdecak sebal.

"Aku tak akan membiarkan kau berteman dengannya, Kyung." Ucap Luhan pelan namun tegas.

"Hahahahaha. Baboya! Siapa juga yang ingin berteman dengan seorang perusak seperti dia? Hahaha kalian sangat lucu hahaha." Baekhyun malah tertawa terbahak-bahak.

"Yak Byun Baekhyun!" Teriak Luhan dan sukses membuat Kyungsoo menghentikan tawanya.

"Wae?" Ucap Baekhyun dingin.

"Tak punya hati." Gumam Luhan.

Kyungsoo yang merasakan aura suram disekitarnya segera angkat bicara. "Aku pulang dulu, Baek. Jaga dirimu baik-baik." Ucap Kyungsoo lalu menarik lengan Luhan dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Luhan yang geram dengan tingkah Kyungsoo segera menghentikan langkahnya dan mengibaskan tangannya agak kasar saat sudah berada diluar ruangan.

"Aku bingung denganmu Kyungsoo." Ujar Luhan. "Kau terlalu baik atau terlalu bodoh sih?" Tanya Luhan.

Kyungsoo hanya mendelikkan bahunya tidak peduli. Lalu melanjutkan langkahnya lagi.

.

.

.

Mereka -Kyungsoo dan Luhan- sudah berada di dalam mobil sekarang. Luhan berada di balik kemudi, menancap gas agar mobil dapat melaju keluar dari area rumah sakit.

"Sekarang kemana lagi kita nona Do?" Tanya Luhan.

"Panggil aku Kyungsoo Luhan eonnie!" Bentak Kyungsoo dengan sedikit penekanan dikata 'eonnie'. Luhan hanya terkekeh melihat sikap Kyungsoo yang seperti itu.

"Guerae. Sekarang kita akan kemana my cutiest dongsaeng?" Ulah Luhan yang diakhiri tawa. Kyungsoo memutar bola matanya malas.

"Aku mau bertemu appa dan eomma, Lu." Jawab Kyungsoo.

Tanpa babibu lagi, Luhan langsung mengarahkan mobil ke arah pemakaman. Tempat dimana orangtua Kyungsoo dimakamkan sejak 5 tahun yang lalu.

Sesampainya disana, Kyungsoo langsung menghampiri dua pusara yang diikuti oleh Luhan. Kyungsoo dengan cepat berjongkok dan memeluk dua nisan secara bergantian. Kyungsoo menangis. Meraung. Tapi, Kyungsoo tidak mengeluh.

Ini sungguh aneh untuk Luhan. Kyungsoo tidak pernah seperti ini. Saat datang ke pemakaman menurutnya adalah saat pengeluhan. Luhan maupun Kyungsoo pasti mengeluh jika sudah berada didua pusara ini. Tapi sekarang? Kyungsoo bahkan tidak mengeluarkan satu katapun. Kyungsoo hanya menangis dan berteriak meraung. Hanya itu.

"Kyungsoo-ya?.." panggil Luhan sambil menepuk kecil bahu sempit Kyungsoo. Kyungsoo menoleh dan tersenyum.

Apakah sesakit itu, Kyung? Sampai-sampai kau tidak bisa mengungkapkan semuanya lagi disini? Gumam Luhan dalam hati.

"Gwenchana?" Tanya Luhan. Kyungsoo hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Lalu, ia berdiri dan menghapus kasar airmatanya.

"Aku lelah menangis, Lu. Aku lelah menjadi yeoja lemah. Aku ingin menjadi yeoja kuat sepertimu, Lu. Aku ingin tidak menangis lagi. Aku.. aku hiks.. hiks.." ucap Kyungsoo sambil berdiri dan memandang pusara kedua orang tuanya.

Luhan langsung bangkit dari jongkoknya dan mengelus punggung Kyungsoo dengan sayang. "Kalau begitu berhentilah menangis. Berjanjilah untuk tidak menangis lagi. Kecuali kau sudah tak sanggup lagi, kau baru boleh menangis." Ujar Luhan lembut.

"Aku berjanji, Lu. Aku tidak akan menangis lagi. Aku berjanji."

Luhan hanya memutar bola matanya malas. "Kau sudah sering mengucapkan itu. Tapi mana buktinya?" Kyungsoo hanya diam. Tidak bisa menjawab pertanyaan Luhan karena memang itu benar.

"Berjanjilah pada dirimu sendiri. Bukan kepada orang lain, Kyung." Tutur Luhan lembut.

Kyungsoo kembali berjongkok lagi dan menyentuh pusara sang eomma. "Eomma, aku berjanji tidak akan menangis lagi. Untuk diriku, untuk eomma dan untuk Luhan. Aku berjanji. Ah tolong sampaikan janjiku ini pada Tuhan ne? Bilang pada Tuhan jika aku melanggarnya tolong hukum aku." Ucap Kyungsoo.

Luhan tersenyum. Dalam hati ia berjanji akan melindungi Kyungsoo. Apapun dan bagaimanapun caranya. Luhan akan menjaga Kyungsoo sampai ia tidak bisa menjaganya lagi.

Sepulang dari pemakaman, Luhan mengajak Kyungsoo ke kedai kecil untuk makan. Ingat? Mereka belum sarapan hari ini. Jadi mungkin ini sudah termasuk rangkap. Sarapan dan makan siang. Karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11 KST.

Mereka duduk didekat jendela. Kebiasaan keduanya saat makan diluar adalah duduk didekat jendela. Untuk Kyungsoo duduk didekat jendela itu berarti kau sangat dekat dengan dunia luar yang tanpa kau sadari kau sudah berada didalamnya. Sedangkan menurut Luhan duduk didekat jendela adalah saat seperti dimana kau berada diruang yang sama namun terpisah. Entah apa maksudnya tapi itulah pendapat mereka.

Mereka nampak sedang menunggu seseorang. Itu terbukti saat mereka menunda memesan makanan saat pramuniaga datang ke meja mereka. Tidakkah mereka merasa lapar?

Tak butuh waktu lama lagi, seseorang yang mereka tunggu datang. Namja tinggi, yang membawa tas ransel, menggunakan kaos putih yang dilapisi jaket kulit berwarna coklat dan jins belel lalu sepatu nike berwarna merah marun yang dipadukan dengan hitam. Terkesan seperti seorang selebritis jika saja orang-orang benar-benar memperhatikannya. Lagipula, namja ini termasuk dalam ulzzang di sekolahnya dulu. Hhhh~ jelas saja Luhan mencintai namja ini.

Yap! Namja ini adalah Sehun. Sehun duduk diantara keduanya dengan senyum lima jarinya yang membuat kesan namja cool itu hilang digantikan dengan namja aneh dan idiot. Tapi tak apa. Luhan tetap mencintai Sehun bagaimanapun kondisi Sehun.

Mereka mengobrol cukup lama sebelum akhirnya cacing yang berada diperut mereka menggema minta diisi.

Setelah memesan makanan, Sehun membuka bahan pembicaraan yang sedang mengganjal menurutnya akhir-akhir ini.

"Noona.." sapa Sehun. Yang dipanggil hanya mendongakkan kepalanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Apa hubungan kau dan Kai baik-baik saja?" Tanya Sehun to the point. Membuat Luhan sedikit kaget dan Kyungsoo menganga walau hanya untuk persekian detik.

"Ah ne. Hubungan kami baik-baik saja." Jawab Kyungsoo. Ya tentu saja berbohong. Kyungsoo tidak terlalu mau banyak mengambil resiko jika ia memberi tahu keadaan yang sebenarnya ke Sehun.

"Kau tahu kan bahwa kau adalah pembohong terburuk noona?" Ujar Sehun lagi. Ia jengah. Mengapa noona kesayangannya ini selalu saja menutupi semuanya dari dirinya. Sehingga ia harus mencari tahu sendiri apa yang sedanh terjadi dengan noona kesayangannya itu.

"Tapi sungguh! Aku sedang tidak berbohong." Kyungsoo mengelak. Tidak! Kyungsoo tidak ingin membebani banyak orang lagi. Sudah cukup dengan membebani Luhan. Jangan Sehun juga.

Sehun hanya mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar. "Oke. Aku tidak akan memaksamu lagi untuk bicara noona. Tapi kau tahu. Cepat atau lambat aku pasti tahu apa yang terjadi."

Kyungsoo hanya tersenyum kecil menanggapinya. Ia merasa sangat bahagia. Mempunyai eonnie sebaik dan sepengrtian Luhan dan juga mempunyai namdongsaeng seperti Sehun yang siap melindungi dirinya kapanpun dan dimanapun. Walau kenyataannya mereka bukan saudara kandung.


Detik berganti menit, menit berganti jam. Waktu terus berlalu. Waktu terus berjalan. Enggan berhenti walaupun untuk sedetik. Pagi berganti siang. Siang berganti malam. Bumi sepertinya tak pernah lelah untuk berotasi. Tak pernah lelah untuk berputar.

Namun, semua itu tidak berlaku untuk Kyungsoo. Yeoja kecil dan cantik ini masih sama. Tidak ada yang berubah. Kyungsoo masih mencintai Jongin. Orang asing yang dengan lancangnya mencium bibir heartshapednya saat pertama kali bertemu. Orang asing yang bisa membuat Kyungsoo nyaman dan aman jika berada didekatnya. Orang asing yang bisa membuat Kyungsoo selalu memikirkannya, Kyungsoo mencintai orang asing ini entah bagaimana caranya.

Tanpa terasa seminggu lebih sudah Kyungsoo menjalani semuanya. Hidup sendiri tanpa seorang Kim Jongin didalamnya. Seminggu lebih Kyungsoo tidak lagi melihat Jonginnya. Kyungsoo tidak lagi merasakan hangat dari senyuman dan tatapan matanya. Kyungsoo merindukannya. Sangat merindukannya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Bahkan Jongin sekarang sudah memiliki yeoja lain.

Tanpa disadari, matanya sudah menumpuk liquid yang siap turun. Tidak. Kyungsoo tidak boleh menangis. Kyungsoo sudah berjanji di hadapan kedua orangtuanya untuk tidak menangis lagi, jadi Kyungsoo tidak akan menangis lagi. Apapun itu masalahnya, sebesar apapun itu masalahnya, sesakit apapun itu Kyungsoi tidak akan menangis lagi. Kyungsoo berjanji.

Kyungsoo berjalan dilorong kampusnya sambil menyeka kasar matanya yang hampir mengeluarkan airmatanya. Ia mencoba tersenyum sekarang. Sesekali ia melihat lembaran tugas yang baru ia selesaikan yang diberikan oleh Lee Songsaenim dua hari yang lalu. Ia berjalan ke arah kantin kampus untuk bertemu dengan pasangan yang selalu menghiburnya akhir-akhir ini.

Sesampainya di kantin, Kyungsoo langsung ke mengedarkan pandangannya ke segala arah. Mencari dimana dua sosok yang sedang ia cari. Tak butuh waktu lama, Kyungsoo sudah bisa menemukan dua sosok tersebut. Mereka seperti sedang berdebat. Dengan cepat, Kyungsoo langsung melangkah kearah mereka dan duduk diantara mereka. Namun, baru saja Kyungsoo menempatkan posisi duduknya. Salah satu diantara mereka malah menyambar ranselnya lalu pergi tanpa sepatah katapun.

"Eh? Mwoya?" Tanya Kyungsoo bingung. Ia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

"Kyung, mianhae. Jeongmal mianhae." Ucap yeoja yang masih tersisa disana. Nadanya terdengar penuh penyesalan.

"Aku sama sekali tidak paham, Lu. Jelaskan padaku." Ucap Kyungsoo lembut sambil mengelus sayang punggung Luhan.

Yeoja yang tadi tersisa -Luhan- hanya bisa mendesah lemah. "Aku.. aku tidak sengaja menceritakan semuanya yang terjadi denganmu dan Jongin ke Sehun tadi. Dan sepertinya ia sangat marah dengan Jongin. Aku.. aku—" Luhan mengucapkan semuanya dengan gugup dan terbata-bata.

Kyungsoo langsung diam ditempat untuk beberapa detik. Lalu kemudian mengelus punggung Luhan lagi. "Gwenchana, Lu. Cepat atau lambat, Sehun pasti mengetahuinya." Ujar Kyungsoo lembut.

"T-tapi tadi Sehun pergi untuk bertemu dengan Jongin. Aku takut mereka bertengkar. Kau tahu? Sehun masih sulit mengendalikan emosinya." Luhan berkata lirih. Bahkan ia sudah menangis sekarang.

"Ssshhhh… Ulljima, Lu. Doakan saja semoga tidak terjadi apa-apa ne?"

Sebenarnya ini cukup menganggu untuk Kyungsoo. Ia takut perkataan Luhan tadi benar. Ia takut. Ia mengkhawatirkan Sehun dan Jongin sekarang. Sangat mengkhawatirkan mereka. Tapi apa yang bisa Kyungsoo lakukan?

.

.

.

Disisi lain, seorang namja tampan sedang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Lalu berhenti didepan rumah mewah. Dengan cepat Sehun -namja tadi- memarkirkan motornya dan masuk kedalam rumah itu kasar.

"Yak lepaskan!" Teriak Sehun saat penjaga rumah tersebut menarik-narik lengan Sehun saat ia berhasil masuk kedalam rumah.

Mendengar kebisingan didalam rumahnya, Baekhyun langsung turun ke bawah dan kaget saat melihat Sehun disana. Pasalnya, Sehun sangat jarang mau datang ke rumah ini jika tidak bersama Jongin. Tapi sekarang?

Setelah mengisyaratkan penjaga untuk kembali, Baekhyun membuka suaranya. "Ada apa Sehunnie? Jongin masih dikantornya jika kau mencarinya." Ucap Baekhyun lembut. Membuat Sehun memutar bola matanya malas dan berdecih.

"Aku tidak mencari, Kai. Aku mencarimu, Byun Baekhyun." Ucal Sehun dingin. Baekhyun tertawa ringan mendengar ucapan Sehun.

"Kau juga tak mau memanggilku noona sama seperti Jongin? Oke gwenchana. Ada apa ingin bertemu denganku?"

Tanpa basa-basi, Sehun langsung mengenggam erat kerah baju yang Baekhyun gunakan sambil mendorong yeoja cantik itu ke dinding.

"Kau…" Ucap Sehun terhenti. Akal sehatnya sudah mulai bekerja. Dengan cepat, Sehun melepaskan gengamannya. Membuat Baekhyun terbatuk-batuk.

"Yak Sehunnie! Apa yang kau—"

"Bahkan itu tidak semenyakitkan apa yang dirasakan Kyungsoo noona." Putus Sehun saat Baekhyun hendak memarahinya.

"Apa yang aku lakukan belum sebanding dengan apa yang kau lakukan ke Kyungsoo noona. Kau merebut kebahagiaannya. Kau menghancurkannya. Kau merusak hidupnya yang nyaris sempurna." Lanjut Sehun lagi. Ucapannya sangat dingin. Tatapan matanya masih terus menatap Baekhyun tajam.

"Oh ya? Hahahahaha. Kau mulai terpengaruh dengannya Sehun. Aku beruntung Jongin sudah sadar dari pengaruhnya." Ucap Baekhyun meremehkan.

"Aku berani membunuhmu sekarang juga jika kau masih meremehkan Kyungsoo noona dihadapanku sekarang." Balas Sehun

"Hahahahah jinjjayo? Aigoo.. Kyungsoo memang sangat berbakat dalam mencuci otak hahahaha." Baekhyun tertawa terbahak-bahak. Membuat Sehun geram dan emosi.

"YAK BYUN BAEKHYUN!" Teriak Sehun diluar kendali. Baekhyun spontan langsung diam. Entah karena takut atau bukan. Tapi yang jelas sekarang tatapan Sehun sangat mengerikan.

"Tak punya hati." Ucap Sehun telak. Entah mengapa membuat hati Baekhyun melengos perih. Ini kedua kalinya ia dicap seperti itu.

"Aku punya hati Sehun. Justru kau harus mengatakan itu pada Kyungsoo." Ucap Baekhyun sinis.

Sehun sangat geram sekarang. Ia menggenggam lagi kerah baju Baekhyun. "APA BUKTINYA? Jika Kyungsoo noona tidak punya hati, maka ia tidak akan menolongmu saat kau melukai dirimu sendiri! Ia tidak akan datang menjengukmu saat kau dirawat dirumah sakit karena ulahmu sendiri! Kau aish jinjja!" Sehun melepaskan genggamannya dan mengacak rambutnya asal.

"Tak pernahkah kau mengerti bagaimana jika kau berada diposisinya? Bagaimana rasanya menjadi dirinya? 4 tahun lamanya ia lupa bagaimana rasanya kehadiran seseorang, ia lupa bagaimana rasanya kehangatan, ia selalu sendiri. Ia selalu dalam kesepian yang pada nyatanya ia punya segalanya. Tapi saat ia bisa merasakan semua itu lagi kau merenggutnya. Apa kau tahu bagaimana sakitnya Baekhyun? Apa kau tahu? Dan saat kau sudah menghancurkan semuanya ia masih menganggapmu sebagai temannya. Apa ini yang disebut dengan teman Baekhyun?! " ucap Sehun lemah. Ia sudah meneteskan airmatanya. Membuat Baekhyun diam seribu bahasa.

"Bagaimana rasanya saat kau dipaksa harus meninggalkan Chanyeol hyung? Apakah kau bisa? Apakah kau mampu melakukannya?" Lanjut Sehun lagi.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Sehun langsung keluar dari rumah keluarga Kim dan meninggalkan Baekhyun yang masih terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.

Sejahat itukah aku? Guman Baekhyun sendiri.

Setelah selesai mengurusi urusannya dengan Baekhyun, Sehun dengan cepat melajukan motornya ke pusat kota. Dimana gedung gedung pencakar langit ada disana.

Sehun memarkirkan motornya di depan sebuah perusahaan ternama dan cukup berpengaruh di Korea Selatan. Membuka helmetnya dengan kasar lalu masuk dan menghampiri meja receptionist.

"Dimana ruangan Jongin?" Tanya Sehun tanpa basa-basi.

"Eh? Apakah sebelumnya sudah membuat janji dengan Sajangnim?" Tanya yeoja receptionist itu. Sehun hanya berdecak malas.

"Aku bertanya bodoh! Mengapa kau malah balik bertanya?! Cepat beritahu aku dimana ruangan Jongin!" Bentak Sehun.

Merasa dalam bahaya, dua orang security datang dan menanyakan tentang apa yang terjadi.

"Aku hanya bertanya dimana ruangan Jongin. Dan kalian hanya bertugas untuk menjawab." Ujar Sehun sedikit emosi.

"Tapi anda belum membuat janji sebelumnya. Sajangnim tidak bis—"

"Cepat beritahu aku atau aku akan menghancurkan gedung ini!" Bentak Sehun lagi. Dan akibat bentakkannya ini, Sehun di tarik paksa oleh security untuk keluar.

"Lepaskan aku!" Sehun mencoba mengelak. Namun kekuatannya masih tidak sebanding dengan dua security yang menariknya ini.

"Didalam ranselku ini ada bom! Aku bisa menyalakannya sekarang jika kalian tidak mau melepaskan aku!" Ancam Sehun dan berhasil! Dua security ini melepaskan Sehun.

Tidak. Di dalam ransel Sehun tidak ada apapun kecuali buku musiknya yang ia bawa tadi saat kuliah. Ini hanya cara agar ia bisa lepas dari dua security bodoh -menurut Sehun-.

"Sekarang beritahu aku dimana ruangan Jongin atau aku akan benar-benar menghancurkan gedung ini." Ucap Sehun dingin dan tajam.

"N-ne. R-ruangan Jongin Sajangnim ada di lantai 5. Belok ke kanan setelah keluar dari lift dan anda akan mendapati ruangannya, Tuan." Jawab sang receptionist yang sudah bergetar karena ketakutan.

Akibat teriakan Sehun tadi, banyak karyawan yang datang untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sehun tidak perduli dengan itu. Ia hanya melangkahkan kakinya ke ruangan Jongin yang telah diberitahu oleh yeoja tadi.

Sehun melangkah dengan diikuti ole dua security dan beberapa karyawan yang penasaran. Sesampainya di lantai 5 gedung itu, Sehun langsung mengarahkan dirinya keruangan Jongin. Dan bingo! Tanpa susah payah, Sehun menemukannya dengan mudah. Sehun berdecak meremehkan saat melihat nama 'Kim Jongin' yang ada di depan pintu.

Tanpa aba-aba Sehun memutar knop pintu itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Betapa kagetnya Sehun dengan apa yang dilihatnya sekarang. Begitu juga dengan dua orang security dan karyawan yang mengikutinya tadi.

"YAK KIM JONG IN!"

.

.

.

.

.

TBC


ada yang kangen sama aku? atau kangen sama ff ini? kkkkkk

AAAAAAAAAAAKKKKKKKKK D-2 untuk teaser comeback EXO. WELL I"M NOT READY YET! gimana dengan kalian? aku agak kecewa sama SM. kenapa mereka ngebuat exo comeback saat aku udah mau UN? KENAPA SM KENAPA? T_T /nangis dipelukan jongin/

udah liat teaser pic dari Sehun sama Kai belum? AAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK MEREKA GANTENG BANGET DI TEASER ITU! MEREKA AAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKK! /steps/

oke lupakan sejenak tentang exo. ini udah D-9 untuk hari UN. jadi setelah ini aku bakalan bener-bener hiatus. untuk beberapa saat.. see you exo :')

aku seneng buat yang udah review kemarin. terimakasih atas reviewnya. /bow/ dan maaf kali ini aku gabisa bales review kalian lagi. tapi aku baca semua reviewnya kok. terimakasih karena masih menyempatkan diri untuk memabaca dan mereview ff absurd nan kacau ini. makin hari alur makin gaje, cerita makin mumet, konflik makin membingungkan dan rasa sayang aku ke jongin juga semakin menjadi #plak! maaf .. aku kangen Jongin banget :( T_T

dan buat silent readers... satu review kalian sangat berarti buat aku. karena semakin banyak review semakin semangat buat aku nyelesain ff ini. kelanjutan ff ini ada di tangan kalian. kalo review masih seperti biasanya, aku gak segan-segan ngapus ff ini dan ngegantungin ceritanya. :') jadi aku mohon dengan sangat review lah yang banyak jika kalian masih mau kaisoo jaya di ff ku ini :') INGAT! REVIEW KALIAN ADALAH ALASAN MENGAPA FF INI MASIH BERLANJUT!

kali ini aku mau sedikit egois kayak kyungsoo. aku mau nargetin review. kalo target review itu tercapai aku bakalan lanjutin ff ini. tapi kalo enggaa... liat aja nanti gimana. /ketawa nista/

oiya! buat kalian semua! panggil aku cukup E-R-N-A-S ! aku kurang nyaman dipanggil author atau thor._. jadi panggil aku ERNAS oke? tapi boleh juga kok kalo kalian mau manggil aku istrinya Jongin. aku rela kok. rela banget malahan ;;)

last! aku minta doa dari kalian semua untuk kelancaran UN ku nanti. aku berterimakasih dengan kalian yang udah ngedoain aku. semoga kalian mendapat balasan yang lebih dari yang Maha Kuasa nanti. Amiin. o:)

Big Thanks to : Kaisoo Fujoshi SNH ; flowerdyo ; setyonight ; guest ; rinzkudo ; Kaisooship ; yesinta90 ; xo couple ; exo couple ; KaisooSAN ; Emiliakim ; Little Pororo ; zoldyk ; thyrhyeee ; acintialady ; xiaodult ; Lost Little Deer ; Al ; KyungRi08 ; and all silent readers..

NO BLASH! NO FLAME! DON'T BE A SILENT READERS! REVIEW PLEASE IF YOU STILL WANT THIS FF! :)

Ernas~~