Pairing : KaiSoo/KaiDo

Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.

Rate : T

Main Cast : Kai dan Kyungsoo

Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~

WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)

.

.

.

Because You're Just For Me

by : Ernas

Jam sudah menunjukkan pukul 11 KST. Kyungsoo menenteng barang belanjaannya ceria sambil melangkah. Langkahnya mantap dan pasti. Ingat? Hari ini ia akan datang ke Panti Asuhan. Tempat dimana namja yang selalu ada diotaknya menyatakan perasaannya. Kyungsoo hanya bisa tersenyum miris mengingatnya.

"Tinggal menyebrang lalu belok ke gang itu, dan sampai!" Ucapnya bermonolog ria. Tidak, Kyungsoo tidak membawa mobilnya. Ia memilih menaiki bus dan berjalan kaki agar sampai di tempat tujuannya itu.

Namun saat hampir sampai di tepi jalan ketika menyebrang. Kyungsoo malah diam ditempat melihat apa yang ia lihat. Ia melihat orang yang paling ia cintai sedang mencium kening seorang yeoja. Meskipun sudah banyak mobil yang mengklakson dan menyuruh Kyungsoo minggir, Kyungsoo tak kunjung juga bergerak. Ia masih diam di tempatnya sampai akhirnya ia merasa tubuhnya terbanting cukup jauh dari tempatnya berdiri.

"KYUNGSOO ANDWAE!"

Sebuah truk menabraknya. Tidak, Kyungsoo tidak merasakan sakit. Sakit ditubuhnya ini yang sudah penuh darah masih belum sebanding dengan sakit dihatinya saat melihat Jongin –orang yang paling ia cintai- mencium kening seorang yeoja didepan matanya sendiri.

Orang-orang mulai berlarian berkumpul ke arah tubuh Kyungsoo yang penuh dengan darah baik di kepala ataupun di badannya. Dengan lemah Kyungsoo tersenyum saat melihat Jongin datang dan memeluknya. Tidak memperdulikan bajunya yang kini sudah penuh dengan darah Kyungsoo.

"Bertahanlah aku mohon, Soo. Bertahanlah. Saranghae. PALLI! TELEPON RUMAH SAKIT PABBO!" Teriak Jongin putus asa. Ia bahkan sudah menangis sekarang. Ia memeluk tubuh Kyungsoo sekali lagi. Lalu menaruh kepala Kyungsoo di pahanya.

"J-j-jong-in.." Titah Kyungsoo lemah.

"Ne chagi? Sabar ne. Ambulans akan datang. Sabar ne?" Ucap Jongin panik.

"S-sa-sarang-hae.." Dan tepat setelah itu Kyungsoo menutup matanya rapat.

"Yak Kyungsoo jangan bercanda. Ireona. Yak Kyungsoo-ya! DO KYUNGSOO! ANDWAE KYUNGSOO! SOO ANDWAE! IROENA! YAK DO KYUNGSOO! IREONA! KAU BERJANJI TIDAK MENINGGALKANKU SOO! SOO ANDWAE! NADO SOO NADO! NADO SARANGHAE JEONGMAL SARANGHAE! DO KYUNGSOOOOOOOOO!"


[Chapter 15]

Pip.. pip.. pip..

Alat pendektesi jantung masih senang mengeluarkan suara monolognya. Membuat Jongin semakin mengutuk dirinya atas kebodohan yang dilakukannya.

Flashback

Jongin buru-buru memarkirkan motor sportnya dan masuk kedalam kantornya tanpa memperdulikan jutaan karyawan yang memberi salam padanya. Iya, Jongin memilih membawa motor sportnya daripada harus membawa mobilnya. Alasannya? Karena mobil tidak bisa menyalip. Ingat? Jongin sedang buru-buru sekarang. Ia berjalan gusar ke lantai 5 dimana ruangannya berada. Dan itu berarti disana jugalah tempat Lee Soojung yang bertindak sebagai sekertarisnya.

"Anyeong chagiya." Sapa Soojung saat melihat Jongin atau bisa dibilang kekasihnya datang.

"Anyeong noona. Aku harus bicara padamu. Bisa ikut aku?"

Soojung sempat menyerngit sebentar sebelum akhirnya hilang karena melihat mata Jongin yang memohon dengan puppy eyesnya yang gagal.

"Hentikan itu Jongin-ah. Baiklah memangnya kita mau kemana?" Bukannya menjawab, Jongin malah langsung menarik Soojung mengikutinya keluar kantor dan menyuruh Soojung duduk manis di jok belakang motornya.

Jongin membawa Soojung kesebuah kedai dekat dengan Panti Asuhan dimana ia dirawat oleh seorang malaikat -menurut Jongin- sebelum ia di adopsi oleh keluarga Kim.

"Aku belum sarapan. Temani aku sarapan ne?" Bohong Jongin. Jelas saja bohong. Pagi tadi ia masih menyempatkan diri untuk makan kimbab buatan Baekhyun dirumah bersama appa dan hyungnya.

Soojung hanya mengangguk imut sebagai jawabannya. Lalu mengikuti Jongin yang entah sejak kapan sudah berada didalam kedai tersebut. Tanpa harus memesan terlebih dahulu, Jongin dengan mudah mendapatkan makanannya tanpa harus menunggu lama. Membuat Soojung bingung sendiri. Bagaimana bisa?

"Aku sudah sering kesini noona. Jadi tanpa harus aku memesan, mereka pasti tahu apa yang aku pesan. Aku juga mengenal mereka dengan cukup baik." Ucap Jongin seolah-olah bisa membaca kebingungan Soojung. Soojung hanya mengangguk sebagai jawabannya.

Tidak ada terdengar suara ocehan lagi setelah itu. Jongin masih menyusun jutaan kata-kata untuk menjelaskan misinya tanpa harus melukai perasaan Soojung. Sedangkan Soojung sendiri hanya memainkan jarinya di meja sedari tadi. Ia sendiri tidak berniat membuka suara dan memulai perbincangan sepertinya.

"Eum.. noona." Ucap Jongin sedikit berbisik. Soojung mendongakkan kepalanya dan menatap manik Jongin. "Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Lanjut Jongin lagi. Jongin mengambil nafas panjanh sebelum memulai penjelasannya yang pasti panjang dan rumit.

"Aku ingin hubungan kita sampai disini saja noona. Aku tidak bisa melanjutkannya. Aku… aku masih mencintai Kyungsoo." Ucap Jongin saat tak mendengar balasan daro Soojung sebelumnya.

"Aku tahu ini, aku memang namja brengsek. Tapi noona, percaya atau tidak semua yang diucapkan Sehun kemarin itu benar noona." Lanjutnya. Soojung tidak menjawab. Ia memilih tetap menatap mata Jongin entah sampai kapan. Menatap mata Jongin dalam dan sedekat ini karena ia sendiri tahu, ia tidak akan bisa melakukannya lagi.

"Noona…" Lirih Jongin. Tanpa Jongin sadari, bulir airmata milik Soojung telah menetes entah sejak kapan. "Mianhae.." Lanjut Jongin lagi.

Karena posisi duduk mereka yang bersebelahan, maka itu memudahkan Jongin membawa Soojung kedalam dekapannya. Membiarkan yeoja itu menangis didalam dekapannya. Membiarkan baju kantornya basah karena airmata Soojung yang tidak ada habisnya.

"Noona kau tahu? Masih banyak namja lain diluar sana yang pantas untuk kau tangisi. Jangan menangis karena namja brengsek seperti aku noona. Jeball." Ucap Jongin pelan dan lembut. Ia tidak mau menyakiti Soojung lebih dalam lagi.

Butuh waktu kira-kira 10 menit untuk Jongin agar bisa membuat Soojung tenang. Membiarkan makanan yang ia pesan sudah mendingin karena terlalu lama dibiarkan. Lagipula sebenarnya Jongin masih kenyang. Setelah cukup tenang, Soojung melepaskan dirinya dari dekapan Jongin dan menatap manik Jongin.

"Sebenarnya… aku tahu itu." Soojung membuka suaranya. "Kau sering sekali mengigau memanggil nama Kyungsoo. Dan aku juga sering mendapati dirimu sedang memperhatikan fotomu dengan yeoja diponselmu yang aku yakin yeoja itulah yang bernama Kyungsoo." Lanjut Soojung. Jongin kaget. Iya sendiri tidak sadar kalau dia melakukan seperti itu.

"Jika memang Kyungsoolah kebahagianmu, kejarlah dia Jongin. Gapai dia. Sungguh aku akan membencimu jika kau malah menyia-nyiakannya untuk kedua kalinya." Ujar Soojung lembut. Bukan! Ini bukan seperti sepasang kekasih. Ini seperti seorang yeoja ke namdongsaeng tersayangnya.

"Noona.. kau tidak akan benar-benar membenciku kan?" Lirih Jongin.

"Iya aku membencimu! Aku akan membencimu kalau kau kau menyia-nyiakan Kyungsoo lagi. Aku sudah bilang itu tadi." Ucap Soojung dengan sedikit terkekeh. Biarlah dia sendiri yang merasakan sakit. Biarlah dia pendam sendiri bagaimana sakitnya. Asalkan namja yang ia cintai ini -Jongin- bahagia. Cinta tidak bisa dipaksa bukan?

"Nah, Jongin sekarang habiskan makanmu lalu pergilah menemui Kyungsoo. Ppali!" Perintah Soojung. Jongin menggeleng.

"Ani noona. Aku kenyang. Aku hanya membuang-buang waktu jika memakan makanan ini dulu. Kajja noona! Aku antar kembali kau ke kantor."

Setelah membayar semua pesanannya dimeja kasir, Jongin langsung menarik Soojung keluar dan bergegas untuk menggunakan helmetnya dan mengantar Soojung kembali ke kantornya. Namun, tiba-tiba..

CHU~~

"Gomapta noona." Ujar Jongin setelah mencium kening Soojung. Tidak salah bukan? Hanya sebagai ucapan terimakasih. Hanya itu tidak lebih.

Saat Soojung masih berdiam karena ulah Jongin tadi, Jongin mengedarkan padangannya keseluruh arah. Entah mengapa, perasaannya bilang bahwa Kyungsoo ada disini.

Dan bingo! Jongin menemukannya. Jongin menemukan sosok mungil yang sangat ia cintai sedang berada ditengah jalan. Iya Kyungsoo berada di tengah jalan. Meskipun suara klakson sudah berkali-kali berbunyi dari jutaan kendaraan yang lewat, Kyungsoo masih saja diam di tempatnya. Baru saja Jongin ingin berlari menarik Kyungsoo ketepi jalan, sebuah truk dengan kecepatan tinggi menabrak tubuh mungilnya.

"KYUNGSOO ANDWAE!"

Flashbak Off

"Pabboya! Pabboya! Pabboya!" Jongin tak henti-hentinya memukul kepalanya sendiri dengan tangan kananya dan menyumpahi dirinya sendiri karena kejadian yang ditimpa Kyungsoo tadi.

Sooiee~ Ireonaa.." Lirih Jongin sesekali sambil mengguncang kecil tubuh lemah Kyungsoo yang dipenuhi alat-alat rumah sakit.

Jongin menutup matanya. Membuat irisnya meneteskan airmata. Perih. Sakit. Sesak. Sungguh, Jongin benar-benar membenci dirinya. Masalah lama belum teratasi, masalah baru sudah menunggu didepan mata.

"Sooie~" Lirih Jongin lagi. Demi Tuhan, Jongin tidak akan meninggalkan Kyungsoo sendirian disini. Tidak, Jongin tidak akan meninggalkan Kyungsoo lagi meskipun untuk sedetik.

"KYUNGSOO!"

Jongin menoleh ke sumber suara. Jongin menemukan sosok yeoja cantik bersama seorang namja tinggi dengan kulit putih seputih susu. Tanpa basa-basi, yeoja itu langsung berlari ke arah ranjang dimana sosok yang ia paling berharga dalam hidupnya dalam keadaan mengenaskan dan disusul oleh namja tinggi itu.

"Kyungie~" Lirih yeoja itu. Sungguh, apapun akan ia lakukan asalkan 'Kyungie'-nya sadar dan membuka matanya lagi.

Yeoja menatap benci kearah Jongin. Membuat Jongin sedikit merinding. "Mianhae Luhan noona.." Lirih Jongin. Pelan. Sangat pelan. Untunglah yeoja tadi -Luhan- masih bisa mendengarnya.

"PERGI!" Ucap Luhan dingin

DEG!

Seolah waktu berhenti detik itu juga. Jantung Jongin berpacu dengan cepat. Ini kali keduanya Jongin diusir oleh Luhan. Tapi tidak! Jongin tidak akan pergi. Jongin tidak ingin pergi. Jongin akan tetap disini. Disisi Kyungsoo sampai yeoja mungil ini membuka matanya.

"JONGIN KU BILANG PERGI! KELUAR! DAN JANGAN DATANG LAGI!" Bentak Luhan lagi. Tidak! Luhan tidak ingin adik kecilnya tersiksa lagi. Cukup bagi Luhan untuk semua ini. Cukup bagi Luhan melihat betapa terlukanya adik kecilnya ini hanya karena namja berkulit tan didepannya ini.

"Mianhae noona. Tapi aku tidak akan pergi. Sekalipun kau memohon atau menyuruh security memaksaku keluar aku tidak akan pergi noona. Aku akan tetap disini. Sampai Kyungsoo membuka matanya. Aku akan disini noona. Bahkan jika kau menyewa seribu orang agar aku tidak bisa bertemu dengan Kyungsoo lagi itu percuma. Karena tanpa noona tahu, aku tercipta untuk Kyungsoo. Dan Kyungsoo juga tercipta untukku. Sekalipun alam memisahkan kami, kami akan tetap bertemu noona. Kecuali Tuhan yang memisahkannya." Jawab Jongin pelan. Entah didapat darimana semua kata-kata tadi. Jongin sendiri tidak tahu. Ia hanya mengeluarkan apa yang ada diotaknya saja. Mengeluarkannya tanpa kecuali.

"Jongin aku mohon.. keluarlah." Luhan melemah. Tidak. Ia tahu ini akan percuma. Ia tahu Jongin sama kerasnya dengan Kyungsoo. Tapi apa salah jika Luhan ingin Kyungsoo tidak lagi tersiksa karena Jongin?

"Noona mianhae." Hanya itu yang mampu Jongin jawab.

"Jo—"

"Kai.. keluarlah. Kau bisa kembali lagi malam nanti. Aku berjanji akan membiarkanmu masuk. Tapi aku mohon, keluarlah dulu. Aku tidak ingin melihat Luhan hancur, Kai. Cukup aku melihat Kyungsoo noona yang sudah ku anggap sebagai noona kandungku sendiri hancur. Cukup itu Kai. Jeball." Ucapan Luhan dipotong oleh Sehun begitu saja. Sehun menatap mata Jongin memelas. Memohon pada Jongin untuk mengerti dengan keputusannya.

"Tapi Sehun-ah.. aku bahkan belum menjelaskan apa yang terjadi bukan?" Bukannya menjawab, Sehun malah menarik lembut tangan sahabatnya itu keluar dari ruangan Kyungsoo. Membiarkan Luhan sendirian dan menangis bersama tubuh tak berdaya Kyungsoo didalam.

"Sehun-ah.." Lirih Jongin. Air mata yang sudah ia tahan sejak tadi akhirnya menetes juga. Memaksa Sehun untuk memeluk sahabatnya itu.

Seperti mempunyai ikatan batin, Sehun pun meneteskan airmatanya. Seolah-olah ia mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. Oh ayolah, jangan bilang kalian lupa kalau mereka sudah bersama sejak masih bayi? Ingat perkataan Yixing? Jika Jongin menangis dan tidak mau meminum susunya, itu tandanya Jongin mau bermain dengan Sehun. Begitu juga sebaliknya. Mungkin itu juga alasan mengapa mereka seolah-olah memiliki ikatan batin seperti ini.

"Aku.. aku mencintainya Hun. Sangat." Ucap Jongin. Suaranya parau dan kacau. Semuanya berantakan. Semua rencananya yang sudah ia susun dengan Baekhyun semuany berantakan. Sehun melepaskan pelukannya dan membawa Jongin duduk di kursi yang berada didepan ruangan Kyungsoo.

"Aku.. aku…. Hun-ah bagaimana mengatakannya?" Racau Jongin lagi. Entahlah fikirannya sudah melayang-layang sekarang. Rasa senang, bersalah, kecewa, marah, rindu, semuanya menjadi satu. Tidak bisa diartikan. Tidak bisa diungkapkan.

"Kau tahu Kai? Terkadang, namja kuat juga butuh pundak untuk menangis. Tapi maaf, aku tidak bisa menyediakan pundakku untukmu menangis. Aku tidak mau di bilang gay oleh orang yang melihat kita nanti." Ucap Sehun sedikit bercanda. Dan sukses! Jongin tersenyum sekarang!

"Pabboya." Ucap Jongin disela senyumnya. Setidaknya Sehun -sahabatnya- sudah kembali. Setidaknya ada Sehun yang mengerti bagaimana rasanya tanpa harus diberitahu. Setidaknya ada Sehun yang akan melindungi, memarahi, menyemangati Jongin. Setidaknya ada Sehun. Sahabat terbaiknya. Itu cukup sekarang. Dan akan lebih terasa indah lagi jika Kyungsoo sadar dan memaafkan dirinya. Pikir Jongin.

"Jadi pulanglah. Carilah pundakmu untuk menangis sepuasmu. Luapkan semuanya dalam tangismu. Setelah itu berjanjilah untuk menjadi namja kuat lagi. Arraseo?" Jongin mengangguk sebagai jawabannya. Lihatkan? Jongin sebenarnya rapuh. Sangat rapuh. Tapi ia hanya bisa melihatkan sisi rapuhnya ini ke beberapa orang saja. Dan Sehun adalah salah satunya selain Nyonya Kim dan Yixing pastinya.

"Aku akan menjelaskannya ke Luhan. Setidaknya ia tidak lagi berteriak dan membiarkanmu bertemu denga Kyungsoo noona. Aku tidak yakin aku bisa menghapus rasa bencinya padamu. Tapi aku akan usahakan." Ucap Sehun lagi. Ia melihat Jongin yang menangkup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menarik nafasnya panjang. "Aku tunggu kau disini, didepan ruangan ini jam 7 malam nanti. Telat satu menit. Kau tidak boleh masuk. Arraseo?" Dan Jongin hanya mengangguk lagi sebagai jawaban.

.

.

.

"Kyungiee~~ ireona.. hiks." Racau Luhan daritadi. Tidak henti-hentinya Luhan meminta agat Kyungsoo membuka matanya meskipun Luhan tau itu percuma pastinya.

"Kyungie~ aku lapar. Kau belum membuat makan siang. Ireona Kyung~" Racau Luhan lagi. Oh sungguh Luhan seperti sedang bermonolog sekarang. Belum lagi matanya terus-terusan mengeluarkan liquid yang menyebabkan matanya bengkak dan sembab.

CKLEK

Luhan hanya menoleh. Lalu kembali dengan monolognya. Tidak memperdulikan namjachingu nya yang menatap dirinya sedih. Ayolah siapa yang tidak sedih jika melihat dua orang yang paling berarti dalam hidupmu dalam keadaan hancur.

"Baby Lu.." Lirih namja yang baru masuk ke kamar Kyungsoo tadi.

"Ah Kyung! Lihat! Sehun datang Kyung. Oh ayolah ireona Kyungie.. Aku akan melakukan apapun asal kau bangun Kyung. Jeball. Ireona.. hiks." Racau Luhan lagi. Ia tidak memperdulikan apapun lagi. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan saat ini hanya satu. Kyungsoo, Kyungsoo, dan Kyungsoo. Tidak ada yang lain.

"Lu.." Lirih Sehun -namja tadi- untuk kedua kalinya. Cukup! Cukup untuk Sehun melihat keadaan Kyungsoo yang lemah dan tidak sadarkan diri. Sehun tidak akan membiarkan Luhan-nya hancur juga. Tidak dan tidak akan!

"Dengarkan aku, Lu. Ku mohon." Dengan malas, Luhan mengalihkan pandangannya ke Sehun yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Tanpa aba-aba, Luhan memeluk Sehun erat. Menangis dan meraung sejadinya didalam dekapan Sehun.

Setelah cukup tenang, Sehun membuka suaranya sambil mengelus sayang surai lembut Luhan.

"Aku yakin Kyungsoo noona akan bangun sebentar lagi, Lu. Kau percaya padaku kan? Feeling ku tidak pernah meleset dan kau tahu itu kan?" Luhan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Jadi yang sekarang harus kau lakukan adalah tersenyum. Kau tahu? Kyungsoo noona pasti sedih jika saat membuka matanya nanti melihatmu dalam keadaan hancur seperti ini. Jadi berjanjilah untuk tersenyum setelah ini arra?" Lagi-lagi Luhan mengangguk dalam dekapan Sehun. Sehun mencium puncak kepala Luhan dengan sayang.

"Sehun-ah.." Lirih Luhan dalam dekapan Sehun. Sehun berdehem sebagai jawaban.

"Apa yang kau bicarakan dengan Jongin tadi?" Luhan melepas pelukannya. Lalu menatap manik mata Sehun dengan matanya yang bengkak dan sembab. Sehun membungkukan badannya sedikit. Mensejajarkan dirinya dengan Luhan yang duduk diatas kursi.

"Aku hanya menyuruhnya pulang dan datang lagi malam nanti. Hanya itu. Wae hm? Kau takut?" Sehun mengelus sayang surai Luhan. Tidak ada yang berarti bagi Sehun selain senyum Luhan. Hanya senyum Luhanlah yang ingin Sehun lihat sekarang. Hanya itu.

Luhan mengangguk imut sebagai jawaban. Membuat Sehun mencubit pelan pipi kekasihnya itu karena gemas. "Mengapa kau imut sekali eoh?" Tanya Sehun gemas.

"Jangan bercanda, Hunnie."

"Mian ne? Apa yang kau takutkan baby?" Sehun mengalah. Ia tahu ia salah. Ia malah menyempatkan diri untuk bercanda disaat seperti ini. Tapi hey! Itu adalah triknya agar Luhan mau tersenyum lagi! Tidakkah semuanya sadar atas usahanya itu? Tapi oh ayolah Sehun, apa ini waktu yang tepat untukmu egois?

"Aku takut.. aku takut Jongin menyakiti Kyungsoo lagi. Aku takut, aku takut Kyungso menderita lagi. Tidak Sehun tidak! Aku tidak mau hiks.. Kyungsoo menderita lagi hiks.. aku rela menderita seumur hidupku asalkan Kyungsoo tidak menderita lagi. Aku—"

"Luhan cukup!"

Bentakan Sehun tadi malah membuat Luhan semakin menangis. Sehun yang menyadari kesalahannya segera memeluk Luhan. Menggumamkan kata maaf terus menerus.

"Mianhae. Mianhae. Mianhae. Mianhae." Gumam Sehun tanpa henti. Bukan maksud Sehun membentak Luhan tadi. Tapi Sehun kecewa karena Luhan meracau hal bodoh -menurutnya. Sehun marah. Sehun tidak suka Luhan meracau seperti itu.

"Mianhae Lu. Aku.. aku tidak bermaksud membentakmu tadi. Mianhae." Lirih Sehun lagi. Luhan masih saja menangis didalam dekapan Sehun. Tidak berniat menggubris Sehun meskipun Sehun terus saja menggumamkan kata maaf tanpa henti.

"Aku berjanji akan membunuh Jongin jika ia menyakiti Kyungsoo noona lagi. Aku berjanji, Lu. Aku tidak akan membiarkan Kyungsoo noona menderita lagi. Aku berjanji." Ucap Sehun. Berharap agar Luhan sedikit tenang dan memaafkan dirinya.

"Yak Sehun!" Bukannya tenang, Luhan malah memukul dada Sehun dengan sisa tenaganya. Membuat Sehun mengerutkan alisnya sebentar sebelum akhirnya tersenyum; Luhannya sudah memaafkannya.

Sebenarnya mudah saja untuk Sehun mengetahui apakan Luhan sudah memaafkannya atau belum saat Luhan sedang marah. Seperti sekarang, Luhan adalah salah satu yeoja yang tidak betah untuk diam terus-menerus. Jadi saat Luhan sudah berhenti mendiamkan Sehun, itu tandanya Luhan telah memaafkannnya.

"Eh wae Lu? Apa aku melakukan kesalahan? Ah appo Lu.. appo." Ucap Sehun. Sebenarnya pukulan Luhan sama sekali tidak sakit. Tapi ayolah, kalian tidak juga mengerti maksud Sehun?

"Apa-apaan kau ini Sehun! Jongin itu sahabatmu! Masa kau ingin membunuh sahabatmu?! Apa kau tidak menyayanginya eoh?!" Sehun berdecak malas karena pertanyaan Luhan.

"Ppfffttt…Buahahahahahahahah."

"Yah Oh Sehun! Kau menyebalkan!" Luhan mengerucutkan bibirnya imut. Tangannya yang tadi memeluk Sehun kini malah ia lipat didepan dadanya.

"Pertanyaanmu aneh Lu. Yang benar saja kau menanyakan apa aku menyayangi Jongin atau tidak. Tentu saj jawabannya iya! Dia yang mengenal diriku dari nol. Aku tumbuh bersamanya. Bagaimana mungkin aku tidak menyanyanginya, Lu." Ujar Sehun saat melihat tingkah Luhan. Takut-takut Luhan ngambek lagi dan berakhir mendiamkan dirinya lagi selama semalaman. Itu mimpi buruk bagi Sehun.

"Lalu kenapa kau ingin membunuhnya?" Tanya Luhan polos. Tangannya kini sudah melingkar manis di leher Sehun. Membuat sang empunya kesenangan atas tingkah Luhan yang bisa dibilang langka ini.

"Karena aku juga menyayangi Kyungsoo noon baby Lu. Tidak kah kau mengerti? Aku ini namja. Aku harus menjaga kau dan noona ku, Kyungsoo. Apapun aku lakukan asalkan kalian berdua bahagia. Termasuk jika aku harus berkelahi sampai mati dengan sahabatku sendiri. Kau mengerti itu sekarang baby?" Jelas Sehun yang diakhiri sebuah ciuman singkat di pipi Luhan. Membuat pipi Luhan merah merona karena ulah Sehun.

Luhan memeluk erat Sehun. Cukup untuknya 'kehilangan' Kyungsoo untuk jangka waktu yang ia sendiri tidak tahu sampai kapan. Ia tidak ingin kehilangan Sehun juga. Walau untuk sedetik. Tidak dan tidak akan. Entah untuk yang keberapa kalinya, Luhan menangis lagi dalam pelukannya.

"Aku mohon, Lu. Mulai detik ini tersenyumlah. Bagaimana jika saat kau menangis Kyungsoo noona sadar? Kau akan terlihat jelek saat Kyungsoo noona membuka matanya nanti jika kau menangis terus menerus. Kau ingin membuat Kyungsoo noona sedih karena melihatmu dengan keadaan menyedihkan seperti ini?" Tanya Sehun sambil mengelus sayang surai Luhan. Luhan menggeleng sebagai jawaban.

"Jadi, mulai sekarang kau harus tersenyum arra?!" Lanjut Sehun lagi dan di 'iya' kan oleh Luhan. Luhan menghapus airmatanya kasar dengan punggung tangannya dan mencoba tersenyum. Memberikan senyum terbaiknya.

"Aku tidak akan menangis lagi. Aku janji. Untuk Kyungsoo. Dan untukmu.. Sehun. Aku janji."

.

.

.

.

.

Jongin masuk kedalam rumah mewahnya dengan langkah gontai. Tidak memperdulikan panggilang Baekhyun, Chanyeol, bahkan Tuan Kim sendiri. Ia terus melangkah ke kamarnya dengan kepala menunduk, dan bahu bergetar. Hanya satu kemungkinan. Jongin menangis.

Takut dugaan dari ketiga orang tersebut benar, Baekhyun, Chanyeol dan Tuan Kim mengikuti Jongin kearah kamarnya. Dan benar saja! Jongin menangis. Ia menangis dalan diam tanpa isakan. Ia memeluk bingkai fotonya bersama Kyungsoo. Erat sangat erat. Seolah-olah Jongin takut kehilangan Kyungsoo. Bukan! Bukan seolah-olah! Tapi Jongin benar-benar takut kehilangan Kyungsoo.

"Jongin.. gwenchana?" Tanya Baekhyun sambil berjalan kearah Jongin disusul oleh dua namja lainnya dibelakang.

Jongin tidak menjawab.

"Jongin.. gwen—"

GREP!

Jongin memeluk erat tubuh Baekhyun. Membuat Baekhyun kaget. Begitu juga dengan Chanyeol dan Tuan Kim. Jongin menangis dalam pelukannya. Erat dan semakin erat.

"Hiks.." Satu isakan lolos dari bibir Jongin.

"Jongin..Gwenchana?"

"Noona, hyung, appa apa benar seorang namja kuat juga boleh menangis dan meraung seperti yeoja lemah?" Bukannya menjawab, Jongin malah melontarkan pertanyaan kepada tiga orang yang sudah berada dalam kamarnya. Memperlihatkan matanya yang basah akibat menangis. Dan ketiganya mengangguk sebagai jawaban.

Jongin kembali memeluk Baekhyun -namun tidak seerat tadi. Kembali menangis dalam pelukannya. Bahkan ia terisak sekarang. Jongin sudah sampai dititik puncaknya. Jongin lelah. Jongin kecewa. Jongin marah. Dan semuanyaa menjadi satu. Jongin sendiri tidak bisa menggambarkan perasaannya.

"Menangislah terlebih dahulu. Lalu ceritakan padaku apa yang terjadi arra?" Ujar Baekhyun lembut sambil mengelus sayang kepala Jongin. Jongin mengangguk sebagai jawaban.

Setelah cukup tenang, Jongin melepaskan pelukannya dan menyeka airmatanya yang tersisa dengan punggung tangannya. "Ini memalukan." Ujar Jongin saat menyeka airmatanya.

"Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis lagi, Jongin. Ada masalah? Terakhir kau menangis saat eomma meninggal. Ingin berbagi?" Tawar Chanyeol. Yah memang, Jongin termasuk namja kuat. Ia tidak bisa menangis hanya karena hal yang menurutnya tidak penting. Seperti menangis karena cinta contohnya. Tapi sekarang Jongin memecahkan rekornya yang tidak pernah menangis karena cinta itu. Ia menangisinya sekarang.

Jongin menarik nafasnya dalam-dalam. Seolah mengumpulkan sisa tenaganya yang terkuras entah karena apa. Dan entah sejak kapan, Chanyeol sudah duduk disisi kiri Jongin -karena disisi kanannya ada Baekhyun- dan Tuan Kim duduk di sofa Jongin yang ditarik mendekat kasur terlebih dahulu. Ini pertama kalinya Jongin merasa diperhatikan oleh keluarganya. Tapi ayolah Jongin bukan untuk membahas itu sekarang.

"Kyungsoo…" Ucap Jongin pelan. Jongin memejamkan matanya. Membiarkan airmatanya jatuh kembali.

"Ada apa dengan Kyungsoo? Dia tidak memaafkanmu? Dia membencimu? Dia —"

"Kyungsoo kecelakaan dan itu semua karena aku." Jongin memotong ucapan Baekhyun.

Tidak ada suara lagi setelah itu. Baik Jongin, Baekhyun, Chanyeol ataupun Tuan Kim, semuanya larut dalam pikirannya masing-masing.

"Bagaimana bisa? Kau menabraknya?" Ucap Chanyeol akhirnya mengakhiri kesunyian sesaat itu.

"Ani." Jawab Jongin singkat. Terlalu sakit sebenarnya untuk Jongin mengingat kejadian ini lagi. Tapi bagaimanapun juga, keluarganya harus tahu. Setidaknya, saat Jongin dibenci didunia luar, Jongin bisa diterima didunia rumahnya. Jadi, Jongin harus menceritakan masalahnya pada anggota keluarganya. Siapa tahu ada yang bisa membantunya kan?

"Lalu kenapa? Apa yang kau maksud dengan kecelakaan karena dirimu Jongin?" Tanya Chanyeol lagi.

Jongin memulai ceritanya. Memulai rentetan kejadian yang terjadi hari ini yang diluar dugaannya. Memulainya dari saat ia keluar rumah dengan terburu-buru, datang ke kantor, mengajak Soojung pergi untuk bicara, sampai akhirnya kejadian mengerikan itu terjadi. Jongin menceritakan semuanya. Tak ada yang dilebihkan atau dikurangi. Semuanya sama. Tak jarang Jongin menangis dan terisak lagi. Namun, cepat-cepat Jongin menstabilkan dirinya lagi. Terlalu munafik untuk Jongin menangis karena cinta.

"Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku mencium kening Soojung dimuka umum seperti itu. Tapi ayolah, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih. Aku menyayanginya. Aku menyanyagi Soojung sebagai noonaku. Ayolah percaya.. bukan karena aku mencintainya. Bukan!" Jelas Jongin saat menceritakan kejadian ulang itu ke noona, hyung dan appanya.

"Kau tidak berusaha menjelaskannya pada Kyungsoo,Jongin?" Tanya Tuan Kim. Jongin memutar bola matanya malas. Apa appa tidak mengerti jalan ceritanya huh? Pikir Jongin.

"Appa, bagaimana cara aku menjelaskannya? Bagaimana cara aku menjelaskan pada Kyungsoo kalau itu hanya salah paham kalau saat aku baru saja ingin menariknya menepi dari jalan raya, tapi truk sialan dan brengsek itu justru malah menabraknya terlebih dahulu. Apa aku bisa menjelaskannya appa? Tidak! Aku kalah cepat dengan truk sialan itu appa! Hiks.." Jelas Jongin dari pertanyaan appanya -yang sangat bodoh menurut Jongin.

"Ulljima Jongin-ah." Ucap Chanyeol yang sedari tadi hanya diam. Chanyeol terlalu kaget. Terlalu takut, terlalu panik. Bagaimanapun juga, Kyungsoo adalah mantan kekasihnya. Kyungsoo pernah menjadi bagian hidupnya. Kyungsoo pernah mewarnai kanvas kehidupannya. "Bagaimana keadaan Kyungsoo sekarang?" Lanjut Chanyeol.

"Kyungsoo ada di Seoul International Hospital. Kyungsoo koma untuk waktu yang cukup lama. Luka dikepalanya cukup parah, hyung. Dokter Kris, yang menangani Kyungsoo pun menyuruhku agar tidak terlalu berharap agar Kyungsoo bisa sadar dalam waktu dekat." Jelas Jongin. Kepalanya ia tumpukan di kedua tangannya.

"Kau ingin menjenguknya?" Tanya Tuan Kim. Oh ayolah appa mengapa kau selalu melontarkan pertanyaan bodoh. Batin Jongin. Jongin mengangguk.

"Kalau begitu appa ikut. Appa akan mengurus semua biaya administrasi Kyungsoo selama dirumah sakit."

"MWO?!" Teriak Jongin histeris. "Appa tidak bercanda kan? Appa serius kan?" Jongin menatap mata appanya dengan sedikit berbinar. Senyuman mulai tampak di wajah tampan Jongin.

Tuan Kim mengangguk yakin. "Hitung-hitung sebagai permintaan maaf appa kepada Kyungsoo karena ulahmu, Baekhyun, dan Chanyeol karena telah membuatnya menderita." Jelas Tuan Kim. Jongin memeluk appanya erat sambil menggumam kata 'gomawo' berkali-kali.

"Apa aku juga boleh ikut?" Tanya Baekhyun disela aktivitas Chanyeol memeluki appanya.

"Ne! Hyung ikutlah juga! Kita akan kesana jam 7 malam nanti arra?" Jawab Jongin semangat. Entah apa yang membuat Jongin semangat. Tapi intinya Jongin senang. Sangat senang.

.

.

.

Hari sudah gelap. Sinar matahari sudah berganti dengan sinar bulan yang tak kalah indah. Luhan mengerjapkan matanya imut. Sesekali ia menggosokan punggung tangannnya ke matanya.

"Sudah bangun hm?" Tanya Sehun sambil melangkah masuk. Luhan tidak tahu Sehun darimana. Yang Luhan mau tahu apakah Kyungsoo sudah bangun juga atau belum.

"Hm." Luhan berdehem sebagai jawaban. Ia membenarkan cepolan rambutnya yang sudah berantakan karena tidur tadi.

"Kita pulang dulu ne? Kau belum makan dan mandi, Lu." Ajak Sehun lembut. Sehun masih diposisinya. Berdiri dipintu tanpa berniat mendekat sama sekali.

"Kalau kita pulang, siapa yang menjaga Kyungsoo? Ani. Aku tidak akan pulang." Jawab Luhan sambil mengelus pipi Kyungsoo.

"Aku yang akan menjaganya noona."

Luhan menoleh. Ia mendapatkan sosok yang selalu ia benci seumur hidupnya. Namja dengan kulit berwarna tan sedang berdiri didekat Sehun berdiri. Luhan berdecak malas saat mengetahui siapa yang datang.

"Apa yang kau lakukan disini Jongin? Bukankah tadi pagi ucapanku jelas? Kau tak perlu datang menemui Kyungsoo lagi." Ucap Luhan dingin.

Sehun jalan mendekat diikuti oleh Jongin dibelakangnya. Sehun perlu mensejajarkan dirinya dengan Luhan yang duduk agar bisa melihat wajah cantik Luhan. Setelah itu, Sehun mengelus sayang pipi Luhan. Berharap Luhan bisa sedikit tenang.

"Kita sudah bicarakan ini tadi siang kan, Lu?" Ucap Sehun lembut. Tangannya yang tadi mengelus pipi Luhan telah menggenggam erat tangan Luhan.

"Aku belum menyetujui bahwa Jongin bisa masuk kesini, Oh Sehun." Ucap Luhan dingin. Ia bahkan tidak mau menatap Sehun. Sehun tahu, Luhan kecewa.

"Kau tak ingat janjiku hm?" Tanya Sehun lagi.

"Sehun itu hanya—"

"Luhan cukup! Berhentilah bersikap egois! Aku tahu kau takut Kai menyakiti Kyungsoo noona lagi, tapi kau juga harus ingat janjiku, Lu! Aku tahu ketakutanmu! Tapi aku juga tahu bagaimana menderitanya sahabatku karena ulah bodohnya sendiri! Ayolah, Lu. Aku menyayagi Kyungsoo noona. Aku juga menyayangi Jongin. Dan tentu saja aku menyayangimu." Ucap Sehun memotong ucapan Luhan. Sehun bukannya tidak tahu resikonya jika ia seperti ini. Tapi Sehun lelah jika terus menerus mengikuti keegoisan Luhan. Sehun tidak ingin ada yang tersakiti lagi.

"Kau membentaku lagi. Ini kedua kalinya untuk hari ini Sehun. Chukae." Ucap Luhan dingin. Sebenarnya Luhan benar-benar ingin menangis. Bagaimana bisa Sehun orang yang paling mengerti dirinya setelah Kyungsoo malah membentaknya seperti tadi didepan Jongin? Luhan kecewa. Sangat kecewa.

"Luhan, jeball. Aku mohon. Oke sekarang aku tanya padamu. Bagaimana jika aku yang ada diposisi Kyungsoo noona? Bagaimana jika aku yang terbaring lemah disana dan Kai tidak mengizinkanmu untuk menjenguk diriku? Kai tidak membiarkanmu melihat diriku walau hanya untuk sedetik? Bagaimana rasanya Lu? Bisa kau membayangkannya huh?!"

Luhan yang awalnya ingin memotong ucapan Sehun langsung mengurungkan niatnya. Luhan diam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berdiri dan menatap mata Sehun dan Jongin bergantian. Mencari kesungguhan dari ucapan Sehun tadi siang. Dan mencari ketulusan dimata Jongin.

"Antar aku pulang, Hun. Aku ingin mandi dan makan. Kau juga belum mandi dan makan. Kajja. Aku tidak ingin meninggalkan Kyungsoo dengan namja ini terlalu lama." Ucap Luhan akhirnya mengalah. Ia melangkah duluan meninggalkan Jongin dan Sehun yang sedang bernafas lega.

"Noona camkkaman!" Teriak Jongin sebelum Luhan membuka knop pintu. Luhan menoleh saat Jongin memanggilnya.

"Gomapta." Ucap Jongin hangat dengan senyuman. Luhan tidak menggubrisnya. Ia kembali membalikkan badannya.

"Noona camkkaman noona! Aku belum selesai." Ucap Jongin lagi. Sehun sudah melangkah mendekat kearah Luhan yang berada diambang pintu.

"Aku mohon. Percaya padaku noona. Aku mencintai Kyungsoo. Aku minta maaf atas kebodohanku kemarin-kemarin. Mianhae." Ucap Jongin.

"Buktikan itu." Hanya itu jawaban dari Luhan sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Jongin sendirian didalam.

Luhan kaget saat melihat ruang tunggu Kyungsoo penuh dengan banyak orang. Bukan, bukan orang lain maksud Luhan kenapa ruang tunggu Kyungsoo bisa ada Baekhyun, Chanyeol, dan Tuan Kim?

"Annyeong Luhan eonnie." Sapa Baekhyun. Luhan hanya memutar bola matanya malas.

"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Luhan dingin. Sehun hanya bisa membuang nafas panjangnya melihat tingkah dingin Luhan. Ia tidak bisa melakukan apapun.

"Menjenguk Kyungsoo. Apalagi?" Jawab Baekhyun tenang. Luhan berdecih meremehkan.

"Kyungsoo tak butuh dirimu Byun Baekhyun. Atau harus ku panggil Kim Baekhyun?" Ucap Luhan masih dengan sangat dingin. Baekhyun terkekeh mendengar ucapan Luhan tadi. Membuat Luhan sedikit marah.

"Tidak ada yang lucu pabboya!" Ucap Luhan dengan meninggi. Sehun mengelus punggung Luhan agar Luhan bisa stabil lagi. Ayolah, ini masih dirumah sakit.

"Aku tahu, kau marah denganku eonnie. Aku tahu kau benar-benar membenciku. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu padamu? Aku hanya meminta agar kau memaafkanku. Memaafkan semua kesalahanku baik padamu atau pada Kyungsoo. Aku sadar aku salah. Dan aku berterimakasih pada namjachingumu yang telah menyadarkanku. Gomawo Sehunnah." Ucap Baekhyun dengan masih menpertahankan senyuman hangatnya. Sehun mengangguk sebagai jawabannya. Sedangkan Luhan menatap Sehun tidak mengerti. Apa yang terjadi? Batin Luhan.

"Aku juga ingin meminta maaf Lu." Ucap Chanyeol. "Ini semua karenaku. Andai saja aku tidak emosi dan marah saat Jongin mengenalkan Kyungsoo ke keluargaku, aku yakin semuanya tidak akan seperti ini. Mianhae, Lu." Lanjut Chanyeol membuat Luhan semakin tidak mengerti.

"Luhan-ssi.." Panggil Tuan Kim. "Aku tahu kau sudah tahu ceritanya bagaimana kejamnya aku dari Kyungsoo. Aku lebih mempercayai Baekhyun daripada Kyungsoo. Jeosonghamnida Luhan-ssi." Ujar Tuan Kim.

"Jujur. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi dengan kalian. Aku tidak mengerti mengapa kalian tiba-tiba bersikap seperti ini. Mulai dari Jongin, sampai Tuan Kim. Tapi, aku ini masih manusia. Aku masih punya hati. Sekejam apapun kalian kepada Kyungsoo, aku tahu yakin, Kyungsoo pasti memaafkan kalian. Dan saat Kyungsoo memaafkan kalian, saat itu jugalah aku memaafkan kalian. Kalian tak perlu menunggu Kyungsoo bangun untuk mengetahui apakah Kyungsoo memaafkan kalian atau tidak, karena aku tahu, Kyungsoo sudah memaafkan kalian." Jelas Luhan.

"Kau memaafkan kami, Lu?" Tanya Chanyeol. Luhan mengangguk meskipun sangat berat.

"Aku memaafkan kalian, karena aku tahu Kyungsoo pasti memaafkan kalian. Aku harus pulang. Annyeong." Ucap Luhan lagi lalu melangkah begitu saja. Meninggalkan Baekhyun, Chanyeol, dan Tuan Kim yang sudah tersenyum lega.

Luhan melangkahkan kakinya keruang administrasi. Ia harus mengurus biaya Kyungsoo selama ada dirumah sakit. Sehun hanya mengikuti kemanapun Luhan pergi. Kau yang terbaik, Lu. Ucap Sehun dalam hati.

Tak butuh waktu lama untuk Sehun menunggu Luhan berbincang sedikit dengan pegawai rumah sakit dibagian administrasi ini. Luhan melangkah mendekat dan duduk dikursi bersebelahan dengan Sehun.

"Bagaimana? Apakah terlalu mahal? Aku akan mencari kerja untuk membantumu, Lu." Ucap Sehun saat Luhan sudah mulai duduk disebelahnya. Luhan menggeleng.

"Biaya administrasi Kyungsoo sudah selesai dibayar semuanya, Hun. Oleh seseorang yang meminta agar identitasnya disembunyikan." Ucap Luhan.

"MWO?!"

"Yak Oh Sehun!"

Akibat teriakan Sehun yang cukup kencang tadi, banyak orang-orang yang melihat kearah mereka berdua. Membuat Sehun dan Luhan salah tingkah.

"Bagaimana bisa?" Ucap Sehun lebih pelan lagi. Ia sudah bisa mengontrol kekagetannya sekarang. Luhan menggeleng.

"Semoga Tuhan memberkatimu hai orang yang membayar administrasi Kyungsoo noona." Ucap Sehun berdoa dan diamini oleh Luhan.

.

.

.

.

.

Detik berganti menit. Menit berganti jam. Pagi berganti malam. Malam pun berganti pagi. Waktu terus berjalan. Tapi tidak dengan Kyungsoo. Kyungsoo masih saja terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit dengan banyak alat rumah sakit yang menempel pada tubuhnya. Entah itu infus, alat pendeteksi jantung, atau apalah itu namanya tidak ada yang terlalu perduli.

Seminggu sudah berlalu sejak kejadian kecelakaan itu. Kyungsoo masih sama. Masih 'tertidur' dalam 'tidur' panjangnya. Semuanya tidak berubah. Kecuali Luhan. Luhan sudah mulai bisa menerima kehadiran Keluarga Kim. Luhan sudah mulai terbiasa dengan kedatangan Jongin, Baekhyun, Chanyeol, atau Tuan Kim setiap harinya. Tak jarang Luhan malah mengobrol dengan mereka. Luhan sudah mengerti apa yang terjadi dengan mereka sekarang. Baik Sehun, Jongin ataupun Baekhyun dengan senang hati menceritakan apa yang terjadi dengan Luhan. Jadi apa masih ada alasan Luhan marah dengan Jongin dan Baekhyun? Menurut Luhan sudah tidak ada. Luhan hanya berharap Kyungsoo segera sadar dan memulai semuanya dari awal lagi. Memulai semua kebahagiaannya bersama Jongin dari nol lagi. Hanya itu harapan Luhan sekarang.

Luhan sudah selesai dengan kuliahnya siang ini. Dengan cepat, Luhan menuju rumah sakit untuk melihat Kyungsoo. Sama seperti biasanaya. Bangun pagi-ke kampus-ke rumah sakit-pulang saat malam-bangun pagi-ke kampus-ke rumah sakit dan begitu terus setiap harinya.

"Kyungiiiiieeeee~~ aku datang~~~ eh masih tidur rupanya." Hanya satu yang tidak berubah dari Luhan; Luhan masih menganggap Kyungsoo hanya tertidur. Luhan sebenarnya ingin sekali menangis saat ia sadar bahwa Kyungsoo bukanlah tertidur. Tapi Luhan selalu menahannya. Luhan ingat perkataan Sehun.

Bagaimana jika Kyungsoo noona sadar saat kau sedang menangis? Kau ingin membuat Kyungsoo noona bersedih saat sadar nanti karena melihatmu sedang menangis?

Itulah perkataan Sehun yang selalu ia ingat tiap kali ia ingin menangis. Tentu saja Luhan melakukannya karena Luhan takut Kyungsoo sadar saat ia sedang menangis. Luhan tidak mau hal itu terjadi. Sangat tidak mau.

CKLEK~

Luhan menoleh. Ia mendapati seorang namja tan yang masuk kedalam ruangan Kyungsoo sambil membawa sebuket bunga mawar merah. Luhan tersenyum melihatnya.

"Hai noona." Sapa namja tan itu. Luhan hanya berdehem menanggapinya.

"Sudah lama disini?" Tanya namja tan itu lagi.

"Aku baru datang 15 menit yang lalu." Jawab Luhan.

Namja tan itu mengangguk mengerti. Ia menaruh buket bunga mawar di meja dekat ranjang Kyungsoo. Lalu mengelus pipi Kyungsoo dengan sayang.

"Hallo Soo." Sapa namja tan itu.

Luhan berdiri dari posisi duduknya. Mempersilahkan namja tan itu duduk. Luhan bilang ia ingin pulang terlebih dahulu. Ia belum merapihkan appartementnya. Jadi Luhan melangkah pulang dan meninggalkan namja tan itu berdua dengan Kyungsoo dikamar Kyungsoo.

"Masih belum ingin bangun hm?" Tanya namja tan itu sambil menggenggam erat tangan Kyungsoo.

"Mau sampai kapan, Soo? Apa mimpimu itu sangat indah eoh?" Tanya namja itu lagi. Meskipun ia tahu Kyungsoo tidak akan menjawabnya, tapi namja tan itu tak bosan-bosannya mengajak Kyungsoo berbicara.

"Apa kau menemukan namja yang melindungimu didalam mimpimu hm? Apa dia setampan aku? Siapa namanya? Apa Kim Jongin? Namanya Kim Jongin? Itu namaku Soo. Jangan bercanda." Ucap namja tan -yang mengaku namanya Jongin- lagi. Ia masih senang bermonolog ria. Masih sangat senang.

"Aku membawa bunga mawar hari ini, Soo. Kau suka? Tadi aku sengaja membelinya. Bunga mawar ini masih segar dan cantik. Tapi tenang Soo, tidak ada satu hal pun yang mengalahkan kecantikanmu." Ujar Jongin lagi. Jongin melepaskan tautan tangannya. Ia mulai mengelus pipi Kyungsoo dengan lembut dan sayang dengan ibu jarinya.

"Aku merindukanmu, Soo. Ireona. Jeball." Kali ini monolog Jongin lebih mirip dengan sebuah doa.

"Sebegitu marahnya kah kau padaku, Soo? Sebegitu salahnya kah aku padamu, Soo? Apa kau benar-benar membenciku sampai kau menghukumku seperti ini?" Lagi-lagi Jongin bermonolog ria. Nampaknya Jongin tidak lelah melakukan monolog ini tanpa henti.

"Kau boleh membenciku. Kau boleh memukulku. Kau boleh mencaci makiku. Kau boleh melakukan apapun Soo untuk menghukumku asalkan jangan seperti ini. Aku mohon, Soo. Ireona. Hiks.." Satu isakan akhirnya lolos dari bibir tebal Jongin. Jongin lelah. Jongin lelah menunggu seperti ini. Jongin ingin Kyungsoo membuka matanya. Jongin ingin Kyungsoo bangun. Jongin ingin Kyungsoonya kembali. Apapun itu caranya, akan Jongin lakukan asalkan Kyungsoonya bangun.

"Aku akan menuruti semua keinginanmu asalkan kau bangun, Soo. Aku akan mengabulkan semuanya yang kau mau asalkan kau sadar, Soo. Jeball." Racau Jongin lagi.

Karena terlalu lelah menangis, Jongin akhirnya tertidur dengan posisi kedua tangan yang menjadi tumpuannya. Tangan kananya menggenggam erat tangan Kyungsoo. Entah Jongin sadari atau tidak, tangan mungil milik Kyungsoo sesekali bergerak. Namun, Kyungsoo rupanya masih enggan membuka matanya untuk melihat dunia kembali.


"Eommaaaa! Krystaaalll!" Sehun masuk kedalam panti asuhan -yang merupakan rumahnya- dengan sedikit ricuh. Membuat beberapa anak yang sedang bermain ditaman sedikit kaget sehingga berakhir meneriaki Sehun seperti 'oppa berisik!' atau 'hyung! Jongin hyung bilang itu tidak sopan!' atau apalah itu Sehun tidak perduli.

"Eom—"

"Yak oppa! Itu tidak sopan!" Ucapan Sehun dipotong oleh seorang yeoja manis berumur 16 tahun.

"Krys, dimana Yixing eomma?" Tak mengindahkan bentakan Krystal -yeoja itu- Sehun malah bertanya dimana 'eomma'nya.

"Ada apa Sehun? Kau berisik sekali." Yang dicari Sehun pun datang. Yeoja paruh baya dengan apron yang masih melekat ditubuhnya.

"Aku ingin bicara." Ucap Sehun akhirnya sedikit tenang. Sehun duduk disofa ruang tamu dan diikuti oleh Yixing dan juga Krystal.

"Ada apa, Sehun?" Tanya Yixing lembut sambil membuka apronnya.

"Ini tentang Kyungsoo noona, eomma." Jawab Sehun. Sehun menghela nafasnya panjang. "Kyungsoo noona dirawat dirumah sakit karena kecelakaan. Sebenarnya Kyungsoo noona dirawat sejak seminggu yang lalu, tapi aku baru bisa memberitahukannya kepadamu sekarang." Jelas Sehun.

"MWO?!" Teriak Krystal.

"Yak Jung Krystal!"

"Mianhae eomma. Aku kaget. Bagaimana bisa Kyungsoo noona dirawat oppa?"

"Ceritanya panjang. Malam nanti, Jongin kesini untuk menjemput kalian agar bisa menjenguk Kyungsoo. Bersiaplah. Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Aku ada kuliah sebentar lagi." Ujar Sehun sambil bangun dan mengambil ranselnya lalu berlari kecil keluar dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.

"Eomma, Kyungsoo eonie akan baik-baik saja kan?" Tanya Krystal sambil menunduk. Ia terlalu takut sesuatu yang buruk terjadi dengan Kyungsoo.

"Aku yakin Kyungsoo baik-baik saja." Jawab Yixing menenangkan Krystal. Sebenarnya ia juga takut dan panik. Tapi ia harus menutupi itu. Ia harus bersikap tenang. Jika ia sendiri panik bagaimana dengan Krystal?


Jongin membuka matanya lalu mengerjapkannya beberapa kali. Matanya langsung menelusuri yeoja mungil yang berada didepannya. Kyungsoo masih belum sadarkan diri. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati Sehun tertidur di sofa dan Luhan tertidur di dada Sehun. Berapa lama aku tertidur? Batin Jongin.

"02.30." Gumam Jongin pelan. Itu tandanya 4 jam ia tertidur disini. Jongin hanya diam setelah itu. Menatap mata Kyungsoo yang masih saja menutup.

"J-j-jong-in.." Kyungsoo membuka mulutnya dan mentitah nama Jongin. Membuat Jongin sedikit kaget.

"Aku berhalusinasi rupanya. Aku seperti seorang pecandu narkoba sekarang." Gumam Jongin pelan. Ia mengklaim dirinya sedang berhalusinasi saat mendengan suara Kyungsoo tadi.

"J-j-jong-in." Kyungsoo kembali memanggil nama Jongin.

"Kyungsoo kau memanggilku?" Ucap Jongin tidak percaya. Kyungsoonya sebentar lagi akan bangun. Kyungsoonya sebentar lagi akan sadar.

"J-j-jong-in." Titah Kyungsoo untuk ketiga kalinya. Membuat Jongin loncat kegirangan dengan mata yang berbinar.

"Iya Soo? Aku disini. Wae hm? YAK OH SEHUN! LUHAN NOONA! IREONA! KYUNGSOO MEMANGGIL NAMAKU!" Teriak Jongin dari jauh. Membuat nama yang dipanggil itu bangun karena kaget dan buru-buru mendekat kearah Jongin.

"Ada apa Kai?" Tanya Sehun setengah sadar.

"Tadi.. Kyungsoo. Memanggilku. Kyungsoo memanggilku!" Ucap Jongin senang. "Soo, ucapkan itu lagi,Soo. Ada apa kau memanggilku hm? Kau mimpi buruk? Ayo bangun kalau begitu." Ucap Jongin sambil mengelus surai Kyungsoo lembut. Namun nihil. Kyungsoo tidak bergerak sama sekali apalagi membuka suaranya.

"Aku rasa kau berhalusinasi, Kai. Kau mabuk?" Tanya Sehun saat melihat tidak ada yang terjadi apapun.

"Ani! Aku tidak mabuk! Sehun aku tertidur tadi. Ayolah, percaya padaku" Ucap Jongin lagi. Ia kembali mengelus surai Kyungsoo dan kembali meminta Kyungsoo agar memanggil namanya lagi.

Entah kapan Luhan keluar dari ruangan Kyungsoo, tapi sekarang Luhan masuk dan membawa Kris -dokter yang mengurus Kyungsoo. Kris meminta Sehun dan Jongin menjauh sedikit agar membuat Kris leluasa memeriksa Kyungsoo.

"Demi Tuhan Kris! Aku mendengarnya ia memanggil namaku tadi!" Ucap Jongin yakin. Jangan bingung dengan Jongin yang memanggil Dokter tampan itu dengan nama aslinya. Kris adalah teman Chanyeol saat Chanyeol berada di China setelah lulus SMA dulu. Lagi pula, Kris bukanlah seseorang yang gila hormat. Ia tidak begitu perduli semua orang memanggil namanya begitu saja tanpa embel-embel 'hyung', 'oppa' , atau 'dokter'.

"Kau mengigau Kkamjong." Ucap Kris final. "Jika ia benar-benar mengeluarkan suaranya, itu tandanya ia sudah akan sadar. Tapi apa? Kondisinya sama saja dengan yang kemarin-kemarin. Jangan terlalu sering mabuk. Inilah akibatnya." Ucap Kris lagi. Sehun dan Luhan hanya bisa menghela nafas. Ia tidak tahu apakah yang Jongin bilang itu benar atau bukan.

"Sungguh aku sudah tidak pernah mabuk lagi setelah mengenal Kyungsoo, musang sialan. Ayolah Kris. Kau tak percaya padaku eoh?" Jongin meyakinkan Kris lagi. Demi Tuhan, Jongin yakin tadi itu nyata. Semuanya nyata. Jongin tidak mengigau atau mabuk atau berhalusinasi. Jongin yakin betul Kyungsoo memanggilnya. Dan memang kenyataannya begitu. Kris menaruh stetoskopnya dikantung jas kerjanya. Lalu berjalan begitu saja tidak mengindahkan usaha Jongin yang mencoba meyakinkan dirinya.

Jongin mendudukkan dirinya lalu mengerang frustasi sambil mengacak rambutnya. "Nyawamu masih belum terkumpul mungkin sehabis tidur tadi, Jongin." Ucap Luhan sambil berjalan mendekat dan duduk di kursi yang berada disisi ranjang Kyungsoo dan diikuti oleh Sehun.

"Tidak noona! Sama sekali tidak! Aku yakin! Tapi—- ah aku tahu ini akan percuma! Aarrggghhh!" Jongin mencoba mempertahankan jawabanya dan diakhiri erangan.

"Aku pulang dulu noona, Sehun. Malam nanti aku kembali bersama eomma dan Krystal." Ucap Jongin sambil bediri dan melangkah keluar.

.

.

.

"Eomma!" Luhan langsung berlari dan memeluk erat tubuh Yixing lalu menangis dipelukannya.

"Ulljima eonnie. Sehun oppa bilang, kau tidak boleh menangis." Ucap Krystal sambil mengelus punggung Luhan. Luhan melepaskan pelukannya dengan Yixing, dan beralih memeluk Krystal.

"Hm. Ne. Arraseo." Ucap Luhan disela pelukannya dengan Krystal. Krystal mengangguk senang.

Hari memang sudah malam. Seperti yang Sehun bilang, Jongin akan datang menjemput Yixing dan Krystal untuk menjenguk Kyungsoo. Dan disinilah mereka sekarang.

"Dimana Sehun, eomma?" Tanya Luhan saat ia tidak mendapati sosok Sehun didekatnya.

"Sehun menjaga anak-anak, Lu. Minggu depan mereka ujian. Jadi Sehun harus memastikan mereka belajar." Jawab Yixing lembut. Luhan mengangguk lalu mengajak Yixing dan Krystal mendekat kearah Kyungsoo.

"Kyungie~ lihat siapa yang datang? Eomma dan Krystal!" Ucap Luhan dengan riang ke sosok tidak berdaya.

"Hm. Mianhae eomma, Krystal. Sepertinya Kyungsoo terlalu lelah untuk bangun dan menyambut kalian." Ucap Luhan lagi. Luhan sudah mulai kembali dengan imajinasinya. Membuat Yixing dan Krystal panik.

"Apa ia terus seperti ini Jongin?" Tanya Yixing ke Jongin yang hanya memperhatikan mereka di sofa dekat pintu.

"Tidak juga eomma. Terkadang ia sadar kalau Kyungsoo itu koma, bukan tertidur. Dan saat sadar, Luhan noona hanya menangis sampai tertidur." Jelas Jongin membuat Yixing semakin khawatir dengan keadaan psikis Luhan.

"Aku baik-baik saja eomma. Percayalah." Luhan mencoba meyakinkan. Luhan tersenyum sebentar ke arah Yixing lalu mengelus lembut surai Kyungsoo.

"Kapan Kyungsoo akan bangun eomma?" Tanya Luhan sambil mempoutkan bibirnya. "Dia fikir aku tak butuh makan? Dia selalu melarangku menyentuh dapur. Tapi dia tak kunjung bangun dan membuatkan aku makanan." Lanjut Luhan lagi.

"Sebentar lagi Lu." Ucap Yixing setenang mungkin meski kenyataannya Yixing sangat ingin menangis. Krystal hanya bisa menghembuskan nafas panjang sambil menahan airmatanya yang sudah berads dipelupuk mata.

"Sehun juga selalu bilang begitu. Tapi apa eomma? Sudah satu minggu 4 hari Kyungsoo seperti ini. Lusa hari kelulusanku eomma. Aku ingin Kyungsoo hadir di hari kelulusanku, eomma." Ucap Luhan.

Yixing hanya bisa diam. Ia sendiri bingung harus apa dan bagaimana. Begitu juga dengan Krystal. Semuanya terlalu tiba-tiba menurut Krystal dan Yixing. Terlalu mengejutkan. Dan terlalu menyakitkan. Melihat Kyungsoo dalam kondisi tidak berdaya dan Luhan yang selalu meracau hanya membuat hati mereka perih dan pilu. Dua orang yang dikenal dengan keceriaannya kini hilang dalam sekejap mata.

.

.

.

.

.

Sehun, Luhan dan Jongin berlari dari parkiran menuju ruangan Kyungsoo. Bibir mereka terus menggumam kata 'gomawo' tidak ada habisnya. Hari ini, hari kelulusan Luhan. Dan tepat juga di hari ini, Kris menghubungi Jongin dan bilang bahwa Kyungsoo sudah bangun dari masa komanya. Jongin yang mendengar berita itupun langsung menghubungi Sehun dan Luhan tentang berita itu lalu meminta Sehun dan Luhan kerumah sakit. Setelah acara kelulusan selesai, Luhan langsung menarik Sehun untuk pergi dan menuju rumah sakit. Begitu juga Jongin. Meskipun sedang ada meeting, tanpa perasaan berdosanya Jongin langsung meninggalkan ruangan dan meminta Chanyeol segera menggantikan posisinya.

Dengan tidak sabaran Jongin langsung membuka pintu ruangan Kyungsoo dan melihat Kyungsoo dan Kris sedang berbincang sesuatu.

"Kyungsoo!" Teriak Jongin dan langsung berlari dan memeluk Kyungsoo diikuti oleh Luhan dan Sehun yang juga langsung memeluk Kyungsoo.

"Aahh Jongin, Luhan, Sehun, engaappp.." Ucap Kyungsoo sedikut tertitah. Dengan cepat mereka bertiga pun langsung melepaskan pelukannya. Lalu tiba-tiba Kris tertawa terbahak-bahak.

"Jika sikap kalian seperti itu, aku rasa Kyungsoo bisa tidsk sadarkan diri lagi." Ucap Kris setelah tertawa dan mendapatkan 'hadiah' dari Jongin.

"Jaga bicaramu bodoh!" Ucap Jongin sambil 'menyapa' kepala Kris.

"Jongin-ah.." Panggil Kyungsoo. "Jangan seperti itu, bagaimanapun juga Kris uisainim lah yang merawatku selama aku koma." Lanjut Kyungsoo.

"Noona aku dan Luhan juga merawatmu! Kami datang setiap hari kau dan selalu menemanimu!" Sehun rupanya tak terima. Sehun mempoutkan bibirnya. Pout bibir itu tak lama karena Luhan menarik bibir Sehun kesal.

"Apa-apaan kau memarahi Kyungsoo seperti itu huh?!" Ucap Luhan. Kris dan Kyungsoo tertawa melihat 3 orang yang baru datang ini merajuk tak terima satu sama lain.

"Kyungsoo.." Panggil Jongin. Jongin menempatkan dirinya disisi Kyungsoo lalu mengelus pipi Kyungsol dengan ibu jarinya. "Aku merindukanmu." Ucap Jongin. Kyungsoo hanya memejamkan matanya. Menikmati sentuhan hangat Jongin yang sangat ia rindukan.

"Aku minta maaf atas sikap bodohku. Sungguh aku minta maaf. Aku sadar sekarang kalau aku hanya mencintaimu, Soo. Saranghae, Soo. Jeongmal saranghae." Lanjut Jongin lagi dan diakhiri sebuah kecupan ringan di kening Kyungsoo. Lagi-lagi Kyungsoo tidak merespon. Kyungsoo masih tetap menikmati sentuhan Jongin. Sentuhan Jongin yang dulu sempat hilang.

"Sebagai tembusan maafku, aku akan melakukan apapun permintaanmu. Aku akan menuruti semua maumu. Aku akan menerima hukuman darimu. Aku akan menerimu jika kau memukulku, memarahiku, memakiku apapun Soo apapun, asalkan kau memaafkanku dan tidak membenciku, Soo." Ucap Jongin sambil menggenggam tangan Kyungsoo dan menatap mata Kyungsoo lekat. Kyungsoo menatap mata Kyungsoo mencari kesungguhan diasana.

"Kau akan menuruti semua mauku Jongin?" Tanya Kyungsoo ulang. Jongin mengangguk mantap.

"Kalau begitu, aku minta padamu. Pergi dari hidupku. Berhenti menggangguku. Jangan pernah temui aku lagi. Pergi dan jangan penah kembali meskipun aku memohon dan meminta jangan pernah kau kembali. Jangan pernah. Keluar dan pergilah." Pernyataan Kyungsoo ini membuat Jongin dan yang lainnya kaget. Sungguh, ini sangat mengagetkan. Bagaimana Kyungsoo meminta Jongin pergi dengan mantapnya. Pasalnya, mereka semua tahu, seberapa Kyungsoo masih mencintai Jongin. Seberapa Kyungsoo masih menyayangi Jongin. Tapi sekarang? Kyungsoo dengan mantapnya meminta Jongin pergi dari hidupnya.

"Kyungsoo kau bercanda." Ucap Jongin sambil memutar bola matanya. Ia yakin betul Kyungsoo hanya bercanda. "Ini tidak lucu, Soo." Lanjut Jongin lagi.

"Kau bilang kau akan menuruti semua mauku kan? Itu mauku Jongin. Apa aku terlihat sedang bercanda huh? Aku akan memaafkanmu dan tidak akan membencimu tapi turuti kemauanku." Ucap Kyungsoo mantap. Membuat Jongin semakin kaget. Tidak ini tidak mungkin terjadi! Batin Jongin.

"Kyungsoo ayolah ini tidak lucu. Kau—"

"Jongin kau bilang kau akan menuruti semua mauku." Potong Kyungsoo saat Jongin bicara.

Luhan menghela nafasnya panjang. Begitu juha dengan Sehun. Mereka tidak mengerti apa yang ada didalam pikiran Kyungsoo. Bagaimana Kyungsoo bisa berbicara seperti itu saat Kyungsoo sendiri masih sangat mencintai Jongin. Ini bukanlah alurnya. Ini bukanlah impiannya. Inibbukanlah harapannya. Bukan! Seharusnya tidak seperti ini! Gumam Luhan dalam hati. Harusnya Kyungsoonya bahagia sekarang. Harusnya Kyungsoo senang sekarang. Harusnya Kyungsoo bisa bersatu lagi dan memulai semuanya dari awal lagi dengan Jongin. Bukan seperti ini.

"Kyungsoo.." Lirih Jongin sambil menatap Kyungsoo. "Apa jika aku pergi dan meninggalkanmu kau akan bahagia? Apa jika aku pergi dan meninggalkanmu kau akan senang? Kau tidak akan menangis lagi?" Tanya Jongin. Tanpa terasa Jongin meneteskan airmatanya. Membiarkan pipinya itu dibasahi cairan tersebut. Kyungsoo mengangguk.

Sebenarnya Kyungsoo sendiri ragu. Kyungsoo sendiri takut atas keputusannya sendiri. Tapi, entah mengapa hati Kyungsoo bilang ia harus melakukan ini. Kyungsoo hanya berharap Jongin tidak benar-benar pergi dan menghilang seperti apa yang dilakukan Chanyeol dulu. Sebenarnya, Kyungsoo sendiri takut kehilangan Jongin lagi. Kyungsoo ingin bersama Jongin lagi. Tapi entah mengapa hati dan otaknya bilang ia harus bicara seperti itu. Hati dan otak Kyungsoo bilang, sekalipun Jongin pergi dan menghilang, Jonginnya pasti akan kembali lagi. You're just for me, Jongin. Believe it. Batin Kyungsoo.

"Kau yakin akan bahagia, Soo?" Ulang Jongin lagi. Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum. Meskipun Kyungsoo sangat ingin menangis dan memeluk Jongin, tapi keinginannya itu Kyungsoo tahan semaksimal mungkin dan memberikan sebuah senyuman paksaan.

"Guerae. Cepatlah sembuh. Jangan lagi melamun ditengah jalan, arra?! Makanlah dengan baik, istirahatlah dengan baik. Kau terlihat sangat kurus saat aku melihatmu dijalan kemarin. Berhentilah menangis. Kau harus menjadi yeoja yang kuat. Ingat kata Sehun dulu? Jangan pernah menangis karena seorang namja. Apalagi karena namja brengsek sepertiku. Aku tahu aku pantas mendapatkan ini, Soo. Mintalah kepada Sehun atau Luhan menceritakan apa yang terjadi setelah aku pergi. Bahagialah, Soo. Selamamya." Ucap Jongin sambil mengelus surai Kyungsoo. Jongin mundur lalu melangkah keluar ruangan Kyungsoo.

"Jongin.." Lirih Kyungsoo pelan. Sangat pelan. Airmatanya yang sidah ia bendung akhirnya tumpah juga.

"Dan oh ya Soo!" Jongin menoleh saat sudah berada diambang pintu. "Aku mohon, maafkanlah Baekhyun noona, Chanyeol hyung dan appa. Mereka sangat menyayangimu. Saranghae." Lanjut Jongin lagi sebelum benar-benar keluar dari ruangan Kyungsoo.

"Jongin andwae.."

.

.

.

"Jongin yak! Apa yang kau lakukan huh?! Mengapa kau pulang? Kyungsoo sudah sadar bukan? Kau tidak ingin menemani Kyungsoo huh?!"

"Dimana hyung dan appa noona?"

"Ada apa Jongin?"

"Appa. Aku mau aku bertukar posisi dengan hyung. Aku yang mengurus perusahaan di Jepang. Aku mohon, turuti kemauanku. Aku mau besok pagi aku berangkat kesana. Aku akan bersiap sekarang dan mempelajari perusahaan Jepang. "

.

.

.

.

.

TBC


*suara bedug* Aku datang lagi~~

ada yang nungguin? ada yang kangen? ada yang mau aku cium? #plak

first of all. terima kasih untuk semua readernim karena telah menunggu kelanjutan ff absurd dan maksud ini. terima kasih karena telah menyempatkan waktu kalian untuk baca ff abal ini. dan termakasih untuk para reviewers karena telah menyediakan dua waktu untuk baca dan review ff ini. sekali lagi terimakasih. kalian berharga. /hug/bow/ aku harap kalian gak bosen-bosen buat tetep review meskipun cuma satu kata. REVIEW KALIAN ALASAN MENGAPA FF INI BERJALAN. dan buat para SILENT READERS.. bukti penghargaan kalian kalo kalian suka sama ff ku ini adalah review. jangan malu untuk review yah. aku tunggu review kalian :)

next. as what you wish, pada mau aku ngenistain suami aku (baca: Kai) dulu kan? oke aku turutin kemauan kalian karena aku juga senang menistakan member exo. huahahahaahahaha *ketawa nista* eh jangan salah paham! ini cara aku nunjukin kalo aku sayang sama exo. aku anti mainstream. jadi jangan judge aku yah! ohiya aku gak ngebuat Kyungsoo mati kok disini tenang aja. kalian udah baca kan? kyungsoo gak matikan? ;;) di chap ini ada moment HunHannya. gak banyak sih tapi mudah mudahan cukup._.

aku minta maaf buat para readers ku yang ganteng yang cantik yang rupawan yang the best lah pokoknya! aku minta maaf karena pertama aku gabisa fast update, kedua aku gabisa fast update, ketiga aku gabisa fast update, keempat aku gabisa nampung alur dari kalian semua, kelima karena udah buat kalian nangis selama baca ff aku. mianhae.. jeongmal mianhae. /bow/ sebenernya bukan cuma kalian loh yang nangis. aku aja pas buat nangis-_- aku cengeng bgt emang!-_-

makasih buat kalian yang udah nyupport dan nyemangatin aku untuk meneruskan ff ini. seminggu akhir ini aku kehilangan mood menulis aku di ff ini. jadi untuk ngebalikin ff ini aku harus berkali-kali baca review dari kalian biar aku semangat lagi. liatkan segimana pentingnya review kalian tuh? jadi sekali lagi aku ingetin! AKU BISA AJA GAK NERUSIN FF INI TANPA REVIEW KALIAN! JADI REVIEW KALIAN SANGAT AMAT PENTING! P-E-N-T-I-N-G !

LUHAN PUNYA ACCOUNT INSTAGRAM YAH?! AKU KAGET MASA!

Oh yah, ada yang tahu gak tangan Sehun kenapa? :( yang tau pm aku yah! :')

eh aku mau lebih dekat dengan kalian dong :( jadi kalian bisa kritik atau ngasih saran atau cerita atau apalah itu yang penting aku mau lebih dekat dengan kalian! follow twitter aku yah! ErnasTiaraa ~~~~ aku followback pasti!

last but not least!

Big Thanks to : Kaisoo Fujoshi SNH ; flowerdyo ; setyonight ; guest ; rinzkudo ; Kaisooship ; yesinta90 ; xo couple ; exo couple ; KaisooSAN ; Emiliakim ; Little Pororo ; zoldyk ; thyrhyeee ; acintialady ; xiaodult ; Lost Little Deer ; Al ; KyungRi08 ; KyuraCho ; kaisoohunlovers ; org ; dorekyungsoo93 ; luhanesu ; Ami KeyBum ; rahayuuni ; Kyungi Nadiana ; Guest ; 081919907600 ; Dkaixoyd ; LAB27 ; leon ; sehunpou ; yixingcom ; kimnaeun ; aysndrEXO ; coffeus ; Overdoses ; Siwonnie407mine ; RyeoLaaSoo ; xiaolu odult ; exo kaisoo ; Diodoii ; DJ 100 ; imgista and all silent readers..

.

.

.

Ernas~~