Pairing : KaiSoo/KaiDo
Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.
Rate : T
Main Cast : Kai dan Kyungsoo
Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~
WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)
.
.
.
Because You're Just For Me
by : Ernas
"Kyungsoo.." Panggil Jongin. Jongin menempatkan dirinya disisi Kyungsoo lalu mengelus pipi Kyungsol dengan ibu jarinya. "Aku merindukanmu." Ucap Jongin. Kyungsoo hanya memejamkan matanya. Menikmati sentuhan hangat Jongin yang sangat ia rindukan.
"Aku minta maaf atas sikap bodohku. Sungguh aku minta maaf. Aku sadar sekarang kalau aku hanya mencintaimu, Soo. Saranghae, Soo. Jeongmal saranghae." Lanjut Jongin lagi dan diakhiri sebuah kecupan ringan di kening Kyungsoo. Lagi-lagi Kyungsoo tidak merespon. Kyungsoo masih tetap menikmati sentuhan Jongin. Sentuhan Jongin yang dulu sempat hilang.
"Sebagai tembusan maafku, aku akan melakukan apapun permintaanmu. Aku akan menuruti semua maumu. Aku akan menerima hukuman darimu. Aku akan menerimu jika kau memukulku, memarahiku, memakiku apapun Soo apapun, asalkan kau memaafkanku dan tidak membenciku, Soo." Ucap Jongin sambil menggenggam tangan Kyungsoo dan menatap mata Kyungsoo lekat. Kyungsoo menatap mata Kyungsoo mencari kesungguhan diasana.
"Kau akan menuruti semua mauku Jongin?" Tanya Kyungsoo ulang. Jongin mengangguk mantap.
"Kalau begitu, aku minta padamu. Pergi dari hidupku. Berhenti menggangguku. Jangan pernah temui aku lagi. Pergi dan jangan penah kembali meskipun aku memohon dan meminta jangan pernah kau kembali. Jangan pernah. Keluar dan pergilah." Pernyataan Kyungsoo ini membuat Jongin dan yang lainnya kaget. Sungguh, ini sangat mengagetkan. Bagaimana Kyungsoo meminta Jongin pergi dengan mantapnya. Pasalnya, mereka semua tahu, seberapa Kyungsoo masih mencintai Jongin. Seberapa Kyungsoo masih menyayangi Jongin. Tapi sekarang? Kyungsoo dengan mantapnya meminta Jongin pergi dari hidupnya.
"Kyungsoo kau bercanda." Ucap Jongin sambil memutar bola matanya. Ia yakin betul Kyungsoo hanya bercanda. "Ini tidak lucu, Soo." Lanjut Jongin lagi.
"Kau bilang kau akan menuruti semua mauku kan? Itu mauku Jongin. Apa aku terlihat sedang bercanda huh? Aku akan memaafkanmu dan tidak akan membencimu tapi turuti kemauanku." Ucap Kyungsoo mantap. Membuat Jongin semakin kaget. Tidak ini tidak mungkin terjadi! Batin Jongin.
"Kyungsoo ayolah ini tidak lucu. Kau—"
"Jongin kau bilang kau akan menuruti semua mauku." Potong Kyungsoo saat Jongin bicara.
Luhan menghela nafasnya panjang. Begitu juha dengan Sehun. Mereka tidak mengerti apa yang ada didalam pikiran Kyungsoo. Bagaimana Kyungsoo bisa berbicara seperti itu saat Kyungsoo sendiri masih sangat mencintai Jongin. Ini bukanlah alurnya. Ini bukanlah impiannya. Inibbukanlah harapannya. Bukan! Seharusnya tidak seperti ini! Gumam Luhan dalam hati. Harusnya Kyungsoonya bahagia sekarang. Harusnya Kyungsoo senang sekarang. Harusnya Kyungsoo bisa bersatu lagi dan memulai semuanya dari awal lagi dengan Jongin. Bukan seperti ini.
"Kyungsoo.." Lirih Jongin sambil menatap Kyungsoo. "Apa jika aku pergi dan meninggalkanmu kau akan bahagia? Apa jika aku pergi dan meninggalkanmu kau akan senang? Kau tidak akan menangis lagi?" Tanya Jongin. Tanpa terasa Jongin meneteskan airmatanya. Membiarkan pipinya itu dibasahi cairan tersebut. Kyungsoo mengangguk.
Sebenarnya Kyungsoo sendiri ragu. Kyungsoo sendiri takut atas keputusannya sendiri. Tapi, entah mengapa hati Kyungsoo bilang ia harus melakukan ini. Kyungsoo hanya berharap Jongin tidak benar-benar pergi dan menghilang seperti apa yang dilakukan Chanyeol dulu. Sebenarnya, Kyungsoo sendiri takut kehilangan Jongin lagi. Kyungsoo ingin bersama Jongin lagi. Tapi entah mengapa hati dan otaknya bilang ia harus bicara seperti itu. Hati dan otak Kyungsoo bilang, sekalipun Jongin pergi dan menghilang, Jonginnya pasti akan kembali lagi. You're just for me, Jongin. Believe it. Batin Kyungsoo.
"Kau yakin akan bahagia, Soo?" Ulang Jongin lagi. Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum. Meskipun Kyungsoo sangat ingin menangis dan memeluk Jongin, tapi keinginannya itu Kyungsoo tahan semaksimal mungkin dan memberikan sebuah senyuman paksaan.
"Guerae. Cepatlah sembuh. Jangan lagi melamun ditengah jalan, arra?! Makanlah dengan baik, istirahatlah dengan baik. Kau terlihat sangat kurus saat aku melihatmu dijalan kemarin. Berhentilah menangis. Kau harus menjadi yeoja yang kuat. Ingat kata Sehun dulu? Jangan pernah menangis karena seorang namja. Apalagi karena namja brengsek sepertiku. Aku tahu aku pantas mendapatkan ini, Soo. Mintalah kepada Sehun atau Luhan menceritakan apa yang terjadi setelah aku pergi. Bahagialah, Soo. Selamamya." Ucap Jongin sambil mengelus surai Kyungsoo. Jongin mundur lalu melangkah keluar ruangan Kyungsoo.
"Jongin.." Lirih Kyungsoo pelan. Sangat pelan. Airmatanya yang sidah ia bendung akhirnya tumpah juga.
"Dan oh ya Soo!" Jongin menoleh saat sudah berada diambang pintu. "Aku mohon, maafkanlah Baekhyun noona, Chanyeol hyung dan appa. Mereka sangat menyayangimu. Saranghae." Lanjut Jongin lagi sebelum benar-benar keluar dari ruangan Kyungsoo.
"Jongin andwae.."
.
.
.
"Jongin yak! Apa yang kau lakukan huh?! Mengapa kau pulang? Kyungsoo sudah sadar bukan? Kau tidak ingin menemani Kyungsoo huh?!"
"Dimana hyung dan appa noona?"
"Ada apa Jongin?"
"Appa. Aku mau aku bertukar posisi dengan hyung. Aku yang mengurus perusahaan di Jepang. Aku mohon, turuti kemauanku. Aku mau besok pagi aku berangkat kesana. Aku akan bersiap sekarang dan mempelajari perusahaan Jepang. "
[Chapter 16]
-Skip time-
Jepang, 7 bulan kemudian.
"Jongin-ah, nanti—"
"Yak! Hyung! Janga panggil aku nama itu! Aku Kai hyung! K-A-I! Aish sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku dengan nama itu!"
"Aish jinjja. Siang nanti ada meeting dengan client mengenai—"
"Yayayaya apapun itu urusi saja hyung."
"Aish.. Sampai kapan kau seperti ini huh?"
"Molla, aku lapar Kyuie hyung. Kajja keluar. Temani aku makan."
"Yak. Kim Jongin!"
"Hyung!"
"Mwo?! Kau juga memanggilku Kyuie. Apa itu?! Panggilan menjijikan huh?"
"Aish… CHOI KYUHYUN. Kajja palli!"
Namja tan itu menggerutuk dalam hati. Bagaimana bisa ia mempunya asisten pribadi seperti ini? Seseorang yang menyebalkan dan keras kepala. Sungguh! Jika ini bukan permintaan appanya yang menjadikan dia menjadi asistennya, ia tidak akan menerimanya.
7 bulan pergi dan menghilang dari orang-orang yang paling ia sayang bukanlah hal yang mudah. Itulah yang dirasakan Kim Jongin. Namja tan yang sedang menggerutu sendiri dalam hati karena asisten pribadinya. Pergi dan menutup identitasnya yang asli juga Jongin lakukan sekarang. Jongin tidak mau dipanggil nama aslinya 'Jongin'. Meskipun ia sangat benci dengan nama 'Kai' tapi ia jauh lebih membenci nama 'Jongin'. Nama 'Jongin' lah yang membuat ia kehilangan orang yang paling ia sayang, nama 'Jongin' lah yang membuat orang yang paling ia sayang membenci dirinya dan nama 'Jongin' lah yang membuat dia meninggalkan Korea.
"Kyuhyun hyung.." Panggil Jongin ke asisten pribadinya. Mereka sedang berjalan kaki di jalanan menuju sebuah kedai makan sekarang. Kyuhyun hanya berdehem sebagai jawaban.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Hah? Apa maksudnya?" Tanya Kyuhyun bingung.
"Tentang Kyungsoo. Kau pasti tahu kan?" Kyuhyun mengangguk paham. "Menurutmu bagaimana? Aku harus apa?" Tanya Jongin lagi.
"Aku tidak tahu, Jongin. Hidupmu sungguh rumit. Ikuti kata hatimu. Yakinlah, semuanya yang terbaik jika kau mengikuti kata hatimu." Jongin menghela nafasnya panjang dan dalam.
"Kata hatiku bilang, aku harus datang dan menghancurkan hari bahagianya. Tapi hyung ayolah, bagaimana jika saat aku melakukan itu Kyungsoo malah menderita? Tidak hyung. Aku tidak mau melihat Kyungsoo sedih lagi." Jawab Jongin.
-Flasback-
"Yeoboseyo.." Jongin menjawab panggilan dari seseorang yang ia sendiri tidak tahu siapa.
"Jongin-ah!" Seru orang tersebut dibalik telepon.
"Ah ne. Nuguseyo?"
"Kim Chanyeol." Jawab orang itu. Jongin hanya bisa menghela nafas panjang mendengarnya nama hyungnya itu.
"Berapa kali aku bilang hyung jangan hubungi aku lagi. Aish hyung!"
"Aku ada info Jongin." Jongin menghela nafasnya. Tuhan, kenapa serumit ini hidupku? Batinnya menggema. "Ini tentang Kyungsoo." Lanjut Chanyeol.
"Apa itu hyung? Apa Kyungsoo memintaku kembali? Apa Kyungsoo memaafkanku? Apa Kyungsoo mencintaiku lagi? Apa hyung?" Tanya Jongin antusias. Ia pasti akan selalu senang dan semangat jika mengenai Kyungsoo.
"Kyungsoo memintamu pulang Jongin." Mata Jongin membulat sempurna. Bibirnya mengembangkan senyum terbaiknya.
"Ne hyung aku pulang! Aku akan pulang! Lusa aku pulang hyung aku berjanji! Aku—"
"Kyungsoo ingin kau hadir dalam acara pernikahannya minggu depan. Acara pernikahannya dengan… Kris."
DEG!
Senyum ceria dari wajah Jongin tiba-tiba saja berubah. Niatnya untuk pulang yang menggebu-gebu berubah. Matanya yang tadi berbinar-binar berganti dengan cairan yang siap tumpah.
"D-dengan K-Kris?" Ulang Jongin. "M-menikah h-hyung?" Lanjutnya dengan nada lirih. Airmatanya akhirnya menetes. Dadanya sesak. Sangat sesak. Ini lebih menyesakkan daripada saat Kyungsoo menyuruhnya pergi dulu. Ini lebih menyakitkan.
"Iya Jongin. Kau akan datang? Menurutku tidak perlu. Itu hanya menyakitkanmu. Tetaplah disana arra?"
"Aku ada meeting hyung. Aku hubungi lagi nanti. Annyeong."
Dan tepat saat Jongin memutuskan panggilannya dengan Chanyeol, airmata Jongin juga turun tanpa bisa Jongin cegah lagi.
-Flashback Off-
"Aaaarrrggghhhh!" Jongin mengerang frustasi sambil menjambak kasar rambutnya. Tidak memperdulikan orang-orang yang melihat aneh akibat tingkah Jongin. "Aku akan gila hyung!" Lanjutnya.
"Kau memang sudah gila Kai." Jawab Kyuhyun santai.
"Yak hyung~" Rengek Jongin sambil menarik-narik lengan Kyuhyun.
"Yayaya Kim Jongin!"
"Eottoke?" Rengek Jongin lagi.
"Aku bilang aku tidak tahu. Aku asistenmu di perusahaan, Kai. Bukan seorang psikolog untuk membantu masalahmu." Ucap Kyuhyun sambil memutar bola matanya malas.
"Aish.. Aku hanya berharap Kyungsoo menghubungi dan meyakinkanku bahwa apa kata hatiku ini benar."
"Bermimpilah terus Kai~~~"
.
.
.
.
.
"Sudah?"
"Hem sudah. Aku harap dia mengerti."
"Yah semoga saja. Cepatlah, pangeran berkuda putihmu sudah menunggu."
"Bukan dia pangeranku. Hanya pengganti."
"Dasar kejam. Kau yang memilih kau juga yang menyesal."
.
.
.
Jongin merebahkan badannya dikasur setelah pulang dari kantornya malam ini. Iya, semenjak Jongin pindah ke Jepang, Jongin memilih tinggal di appartement yang ia sewa daripada harus tinggal dirumah sepupu tirinya, Choi Kyuhyun. Toh, selama ini kalau Jongin malas pulang kerumah dia juga pulang ke appartementnya. Jongin sudah terbiasa tinggal sendiri, bahkan sejak kecil. Jadi tinggal di appartement mewah bukanlah hal sulit baginya. Hanya perlu menyewa seseorang maid semuanya sudah cukup buat Jongin.
Jongin menarik nafasnya panjang sambil memenjamkan matanya. Setelah itu, bangun dan mengganti pakaiannya dengan baju yang jauh lebih santai. Ponselnya yang mati sejak makan siang tadi dengan Kyuhyun dengan cepat ia charge. Ia berniat menghubungi Baekhyun sekarang. Ia masih penasaran bagaimana bisa Kris yang notabane nya adalah temannya malah menikahi Kyungsoo orang yang paling ia sayang. Meskipun sudah seminggu Jongin terlihat tidak perduli dengan semua tentang Kyungsoo, tapi percayalah, ia selalu mengeluh dengan Kyuhyun. Terimakasih pada Kyuhyun yang tidak membeberkan keluhan Jongin dengan siapapun.
Setelah mengganti pakaiannya dan mencuci mukanya, Jongin berjalan keluar kamarnya. Perutnya berontak minta diisi. Jongin melangkahkan kakinya ke arah dapur. Bibirnya terangkat keatas saat melihat meja makannya sudah penuh dengan makanan. Tidak sia-sia ia menyewa seorang maid.
"Aku membuat makanan kesukaanmu, Kai." Kai menoleh, mendapati seorang yeoja cantik dengan ramput dikepang kecil dan dress ungu. Setelah memperhatikan penampilan yeoja itu, senyum Jongin menghilang dan meninggalkan meja makan. Jongin mengambil kunci mobilnya dan jaketnya lalu melangkah keluar appartementnya.
"Eodiga?" Tangan cantik milik yeoja itu menahan pergerakan Jongin. Jongin menepis kasar tangan tersebut.
"Bukan urusanmu." Jawab Jongin dingin. Lalu dengan cepat yeoja itu memeluk tubuh Jongin dari belakang dan menangis lirih disana.
"Apa salahku Kai? Apa salahku? Mengapa kau seperti ini? Hiks.. Aku mencintaimu dan kau tahu itu. Hiks aku.. hiks.." Jongin melepas pelukan yeoja itu dan memutar tubuhnya menghadap yeoja itu.
"Sulli-ah." Lirih Jongin. Yeoja yang bernama Sulli itu mendongak menatap mata Jongin. "Aku tidak akan bersikap dingin seperti ini jika kau menurut apa kataku. Aku hanya meminta kau menjauh dariku. Hanya itu." Lanjut Jongin lagi.
"Wae Kai? Apa alasannya?"
"Karena aku tidak mau kau berdekatan denganku jika kau masih mencintaiku. Aku tidak mau menyakitimu karena aku tidak bisa membalas cintamu. Aku tidak mau itu terjadi, Sulli. Aku menerimamu sebagai temanku. Tapi tidak jika kau malah jatuh cinta denganku. Duduklah dulu, aku akan ambilkan minum. Maaf membuatmu menangis, Sulli." Jelas Jongin sambil menarik lembut tubuh Sulli kearah sofa , lalu berjalan kearah dapur dan memabawa segelas air putih untuk temannya itu.
Inilah Jongin sekarang. Semenjak kepindahannya ke Jepang belum sekalipun Jongin memiliki kekasih lagi. Jongin berubah 180 derajat. Jongin yang biasanya dengan mudah bergonta-ganti kekasih, sekarang ia malah melarang semua yeoja yang untuk mencintainya. Jongin hanya ingin satu yeoja. Do Kyungsoo. Hanya Kyungsoo yang Jongin ingin. Jika memang tidak bisa mendapatkannya, lebih baik ia menunggu sampai ia bisa mendapatkannya kembali. Begitulah kira-kira.
Setelah berbincang sebentar dengan Sulli, -sebenarnya perbincangan ini adalah paksaan Jongin agar Sulli berhenti mencintainya- Jongin menyuruh Sulli pulanh dengan alasan sudah terlarut malam. Sebenarnya tidak juga. Jongin hanya risih melihat Sulli yang terus memohon agar Jongin tidak melarangnya untuk mencintainya. Well, apa kau bisa menentukan dimana hatimu berlabuh huh? Tapi sepertinya Jongin melupakan itu.
Jongin masuk kedalam kamarnya setelah mengantar Sulli ke lobby appartement. Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan menekan icon 'face time' disana. Ia melakukan video call dengan Baekhyun.
"Yeoboseyo Jongin-ah." Suara Baekhyun menggema, menandakan video call nya tersambung.
"Ah noona. Bagaimana keadaanmu? Keadaan appa? Keadaan hyung? Kalian baik-baik saja?" Tanya Jongin sambil merebahkan dirinya dikasur.
"Ne. Kami baik-baik saja. Kau sendiri? Aku fikir hanya kami yang mengkhawatirkanmu Jongin. Kau juga mengkhawatirkan kami?"
"Tidak. Aku tidak akan peduli jika aku bukan bagian keluarga Kim. Ah noona, aku ingin bertanya sesuatu." Suara Jongin mulai melemah di akhir. Sebenarnya Jongin ragu harus menanyakan ini atau tidak. Ia takut ia menyesal dan marah saat benar-benar mengetahui keadaannya.
"Mwoya?" Tanya Baekhyun lembut.
"Ini… ini tentang Kyungsoo." Jawab Jongi pelan. Untunglah Baekhyun mempunyai pendengaran yang cukup tajam. "Bagaimana bisa semuanya terjadi noona? Kris hyung.. Kyungsoo.. Pernikahan.. Dan yah semuanya noona. Ceritakan padaku jeball." Lanjut Jongin. Baekhyun menghela nafasnya. Ia tahu, cepat atau lambat Jongin pasti akan menanyakan ini.
"Aku tidak yakin Jongin. Ini akan membuatmu terluka."
"Noona, aku lebih baik terluka karena aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Daripada aku harus terluka karena analisaku sendiri tentang apa yang terjadi noona." Ucap Jongin yakin.
"Kau yakin Jongin?" Tanya Baekhyun lagi. Baekhyun benar-benar ragu. Baekhyun takut Jongin terluka.
"Palli noona. Ceritakan!"
"Ini karena kau memaksa Jongin." Baekhyun mengambil nafasnya panjang. "Awalnya semuanya berjalan biasa saja. Kyungsop termasuk 50 mahasiswi terbaik di angkatannya yang bisa mengikuti sidang kelulusan lebih cepat dari perkiraannya. Tugas akhirnya waktu itu adalah menulis sebuah cerita sebanyak 150 halaman. Kau tahukan Kyungsoo mengambil jurusan sastra?" Jongin mengangguk.
"Siang itu, aku, Luhan dan Kyungsoo sedang membicarakan masalah tugas Kyungsoo. Aku tidak tahu bagaimana caranya, Kris tiba-tiba datang dan menawarkan diri membantu Kyungsoo dan Kyungsoo menerimanya. Toh kau pahamkan bagaimana sikap Kyungsoo yang tidak bisa menolak?"
"Semuanya berjalan baik-baik saja awalnya. Kris datang ke kampus Kyungsoo jika dia mempunyai waktu kosong. Tak jarang dia mengajak aku atau Luhan untuk menemani. Tapi itu hanya berjalan di dua minggu pertama. Setelah itu, Kris sering mengajak Kyungsoo berkencan. Aku dan Luhan mungkin tidak akan mengetahuinya kalau saja Kyungsoo tidak bercerita. Malam—"
"Camkkaman noona! Jadi Kris hanya mengajak Kyungsoo dalam kencannya? Tanpa memberi tahumu atau Luhan noona?" Tanya Jongin memotong ucapan Baekhyun. Baekhyun mengangguk.
"Malam iti Kris mengantar Kyungsoo pulang ke appartementnya, entah apa yang ada dalam fikiran Kris, Kris malah meminta untuk menginap di appartement Kyungsoo dan Luhan karena itu sudah larut malam dan hujan. Dan bodohnya Kyungsok meng'iya'kan. Untunglah Sehun bersedia datang dan menginap juga disana. Sehun takut terjadi sesuatu. Jadilah Sehun berjaga sepanjang malam itu." Baekhyun menarik nafasnya panjang. Disinilah bagian menyakitkannya.
"Noona lanjutkan. Kenapa berhenti?" Tanya Jongin. Sebenarnya hati Jongin sudah berteriak cukup. Tapi rasa penasaramnya menutupi semuanya.
"Sabar Jongin." Baekhyun menarik nafasnya lagi. "Hari itu, hari kelulusan Kyungsoo. Kris mengajak Kyungsoo, Luhan, Sehun dan aku ke pantai sebagai ucapan selamat untuk Kyungsoo. Dan disanalah semua kekacauan ini terjadi. Kris melamar Kyungsoo didepan kami semua. Aku, Luhan dan Sehun awalnya menganggap semua itu hanya lelucon. Tapi, Kris mengelaknya dengan tatapannya yang benar-benar serius."
"Dan Kyungsoi menerimanya? Oh baiklah terimakasih infonya noona. Jal—" Jongin memotong ucapan Baekhyun sambil tersenyum miris.
"Ani! Kyungsoo menolaknya Jongin! Kyungsoo menolaknya!" Tegas Baekhyun. Jongin membuka mulutnya sempurna tak percaya. Lalu mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Kyungsoo m-menolaknya?" Ulang Jongin lagi. Baekhyun mengangguk.
"Kyungsoo menolaknya karena kau Jongin. Kyungsoo menolaknya karena ia menunggumu Jongin. Kyungsoo benar-benar menyesal menyuruhmu pergi saat itu Jongin. Ia merindukanmu. Kyungsoo masih sangat mencintaimu. Bahkan siang tadi, Kyungsoo bilang Kris hanyalah penggantimu. Kyungsoo bilang bukan Krislah pangeran berkuda putihnya, tapi kau Jongin." Jelas Baekhyun. Mata Jongin sudah berair. Satu kali kedipan cairan itu akan tumpah ke pipinya. "Aku sudah berkali-kali menyuruhmu pulang. Tapi kau tidak mau. Aku tidak mungkin bilang tentang Kyungsoo yang menunggumu. Kyungsoo ingin kau sadar dengan sendirinya. Aku.. aku juga merasa bersalah. Jongin mianhae." Dan tepat saat itu juga, airmata Jongin terjun bebas di pipinya. Jongin mulai terisak pelan.
"Kyungsoo menolaknya karena aku? Hiks tapi noona sekarang .. Hiks bagaimana bisa noona? Hiks.." Jongin terisak sambil meracau. Pikirannya kacau. Sangat kacau. Ia menyesal. Kalau saja ia menurut dengan ucapan Chanyeol atau Baekhyun yang menyuruhnya pulang, pasti semuanya tidak akan terjadi.
"Ia menunggumu. Kyungsoo bilang pada Kris tentang bagaimana perasaanya. Tentang bagaimana ia mencintaimu, Jongin. Kris mengerti dan paham. Semenjak itu, Kris tidak pernah datang lagi menemui Kyungsoo." Baekhyun memejamkan matanya sebentar. "Aku dan Luhan tidak tahu pasti apa yang terjadi, sebulan semenjak Kris melamar Kyungsoo dan Kris tidak terlihat lagi, tiba-tiba Kyungsoo bilang Kyungsoo menerima lamaran Kris. Baik aku, Luhan atau Sehun sama sekali tidak tahu alasannya mengapa sampai sekarang. Tapi Jongin satu hal yang perlu kau tahu, Kyungsoo masih benar-benar mencintaimu. Sangat mencintaimu." Baekhyun menutup cerita panjangnya dengan hembusan nafas panjang.
"Noona.. apa yang harus aku lakukan?" Lirih Jongin.
"Aku tidak tahu Jongin. Aku sendiri bingung harus bagaimana. Ini terlalu rumit." Ucap Baekhyun. "Lebih baik kau sekarang tidur, Jongin. Kau butuh mengistirahatkan dirimu. Jika kau memang mau datang ke pernikahan Kyungsoo, aku akan menyiapkan baju untukmu. Pernikahannya lusa dan kau tahu itukan? Pergilah tidur. Jaljayo Jongin-ah." Dan Baekhyun pun menyelesaikan video call itu secara sepihak. Membiarkan Jongin dengan fikiran kacaunya.
"Kyungsoo apa yang harus aku lakukan? Beri aku petunjuk, Soo. Aku harus bagaimana?" Lirih Jongin sambil memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
"Yak Do Kyungsoo! Ireonaaa! Kau tidak ingin menikah huh?!"
Kyungsoo dibangunkan dengan suara lengkingan milik Luhan dari luar kamarnya. Membuat Kyungsoo terpaksa bangun dan mengerjapkan matanya imut.
"Yak Xi Luhan. Berisik!" Jawab Kyungsoo tak kalah nyaring dengan suara Luhan. Baru saja Kyungsoo ingin kembali tidur, Luhan dengan cepat masuk kedalam kamar Kyungsoo.
"Aish jinjja! Kau tak ingat hari apa ini huh?! Ini hari pernikahanmu dengan Kris, Kyungsoo! Aigoo." Ucap Luhan. Si tersangka atas kemurkaan Luhan hanya memutarkan bola matanya malas.
"Aku tahu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Panik sepertimu? Aku tidak bisa. Ini bukan Jongin." Jawab Kyungsoo santai. "Hanya Jongin yang bisa membuatku panik dihari pernikahanku. Bukan orang lain." Lanjutnya.
"Tapi ini keputusanmu, Kyung. Astaga. Aku akan gila menghadapimu. Kim Jongin kembalilah ku mohon."
Kyungsoo bangun dari kasurnya dan melangkah ke arah kamar mandi sambil mencepol asal rambutnya. "Yap kau benar, ini adalah keputusanku. Keputusanku yang selalu aku sesali sejak dulu." Ucapnya.
.
.
Hari ini, hari tepat dimana Kris dan Kyungsoo menikah. Kris sudah bersiap di altar dengan kemeja putih dan celana hitamnya. Serta tuxedo hitam yang melengkapi ketampanannya. Jangan lupakan dasi kupu-kupu yang menghiasi lehernya. Ia terlihat sangat sempurna sekarang. Ia berdiri di altar sambil beberapa kali menoleh ke arah pintu gereja. Menunggu seseorang datang disana. Ia tersenyum. Ini bodoh sebenarnya. Ia tidak mencintai yeoja yang ia tunggu. Tidak sama sekali, tapi ini permintaan appanya yang ingin melihat Kris segera menikah. Setelah menawarkan diri untuk membantu yeoja itu mengerjakan tugasnya, Kris dengan senang hati mengajak yeoja itu mengerjakan tugas itu dirumahnya. Mengenalkan yeoja itu pada orangtuanya. Sialnya, orangtua Kris malah meminta Kris menikahi yeoja itu. Iya menikahi Kyungsoo. Meskipun sudah berkali-kali menolak, akhirnya Kris pasrah dan menuruti kemauan orang tuanya dengan ancaman orang tuanya pastinya. Dan ancaman orang tua Kris juga lah yang membuat Kyungsoo harus menerima lamaran Kris. Menyedihkan memang, tapi inilah keadaannya.
Kyungsoo masuk ke dalam gereja dengan anggunnya. Ditemani dengan Sehun dan Luhan, Kyungsoo terlihat sangat amat cantik dengan gaunnya. Gaun putih yang membungkus tubuh mungil Kyungsoo terlihat sangat pas. Tanpa lengan dan tali, gaun itu memperlihatkan bahu sempit milik Kyungsoo. Juga panjang gaunnya yang pendek didepan dan panjang dibelakang. Memperlihatkan kaki kecil milik Kyungsoo. Make up tipisnya pun menambah kecantikannya. Jangan lupakan rambutnya yang digerai begitu , ini membuat semua namja yang ada didalam gereja itu berdecak iri dengan Kris karena berhasil mempersunting bidadari seperti Kyungsoo.
"Aku serahkan noonaku padamu, Kris. Aku mempercayaimu, hyung." Ucap Sehun sambil menaruh tangan Kyungsoo ke Kris. Lalu berjalan meninggalkan dua calon pengantin itu di altar bersama pendeta.
"Aku tahu ini akan sulit, Kyung. Kita bisa hentikan ini sekarang jika kau mau." Ucap Kris lembut. Kyungsoo menggeleng.
"Aku tidak punya cukup alasan untuk menghentikan ini, Oppa. Biarkan saja." Jawab Kyungsoo sambil memaksakan senyuman.
Kris dan Kyungsoo sudah menghadap kearah pendeta. Dengan cepat Kris menganggukkan kepalanya, menandakan keduanya siap menjalani pernikahan.
"Saudara Wu Yifan. Anda yakin akan menikahi Do Kyungsoo?" Tanya sang pedeta dengan tegasnya.
"Ne." Jawab Kris yakin.
"Saudari Do Kyungsoo anda yakin akan menikah dengan Wu Yifan?" Kini Kyungsoo yang mendapatkan pertanyaan yang sama.
"Ne." Ucap Kyungsoo yang sebelumnya memejamkan matanya dulu sebelum menjawab.
"Kalau begitu, Wu Yifan, ulangi perkataanku." Ucap pendeta itu. Kris menganggukan kepalanya.
Sementara itu dilain tempat, terlihat dua orang namja sedang berlari kesuatu tempat. Mereka terlihat sangat buru-buru. Salah satu namja itu terlihat sangat panik dan takut. Sementara namja yang lainnya sedang berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan namja di sebelahnya.
"Kau yakin akan menghancurkannya?" Tanya seorang namja yang berkulit putih sambil terus menyamakan posisinya.
"Ne hyung! Aku yakin. Dia yang meminta. Aku harap ini belum terlambat." Ucap namja yang berkulit lebih gelap yakin.
Mereka berdua sampai di depan sebuah gereja dengan banyak mobil di depannya. Dengan cepat mereka masuk ke gereja. Lalu memperhatikan apa yang sedang terjadi disana.
"Aku Wu Yifan. Aku bersedia mencintai Do Kyungsoo sepenuh hatiku. Akan mencintainya baik dalam suka maupun duka. Baik dalam senang maupun dalan susah. Aku akan tetap mencintainya sampai maut memisahkan kita." Ucap seseorang namja yang bernama Wu Yifan atau yang lebih sering dipanggil Kris itu dengan tegasnya di altar. Membuat dua orang namja yang berada dipintu tercekat untuk beberapa waktu.
"Do Kyungsoo, ucapkan hal yang sama." Ujar sang pendeta. Yeoja yang bernamkan Do Kyungsoo itupun mengangguk pelan.
"Aku Do Kyungsoo. Aku —-"
"STOP! HENTIKAN SEMUANYA! AKU BILANG HENTIKAN!"
Dengan cepat, namja berkulit gelap yang berada di depan pintupun berteriak. Matanya terpejam lekat. Peluh membasahi wajah tampannya. Tapi sungguh, bukan itu yang dipedulikan namja ini sekarang. Seluruh pasang mata yang ada didalam gereja itu pun melihat kearah dua namja itu. Ada yang berbisik 'gila', 'aneh', 'tidak tahu diri' atau cacian lainnya ke dua namja tersebut. Tapi sekali lagi. Ia tidak tidak perduli.
Namja berkulit gelap pun dengan pasti maju kearah altar. Matanya tak pernah lepas dari yeoja yang berada disana. Iya. Namja berkulit gelap itu memperhatikan Kyungsoo. Matanya terus menatap Kyungsoo. Dengan seluruh keberaniannya, ia mendekat kearah Kris dan Kyungsoo.
"J-jong-jongin?" Titah Kyungsoo dengan mata berair dan sebuah senyum. Demi apapun, Kyungsoo sangat ingin memeluk namja tan yang berada dihadapannya ini. Ia sangat ingin memeluk Jonginnya. Iya Jonginnya.
"Aku disini, Soo. Jadi hentikan semuanya. Aku mohon." Lirih Jongin sambil menggenggam erat tangan Kyungsoo. Matanya berair. Jongin benar-benar tidak tahu yang kebodohan dan kegilaan ia lakukan ini benar atau salah.
"Tapi, Jongin.. ini—" Kyungsoo tidak bisa melanjutkan ucapannya karena kaget dengan tindakan Kris. Begitu juga Jongin. Kris jalan menuju arah appanya lalu menatap seluruh isi ruangan gereja.
"Dengan segala hormat, pernikahanku dengan Kyungsoo, aku batalkan." Teriak Kris, membuat seluruh isi gereja tersentak kaget.
"Kris!" Ucap Tuan Wu dengan nada tinggi.
"Mwoya?! Ini keputusanku appa! Bagaimana mungkin aku merusak kebahagiaan mereka berdua?! Jongin temanku appa! Dan Jonginlah yang mencitai Kyungsoo! Bukan aku! Aku bukan orang jahat yang tega memisahkan mereka appa! Saat inilah yang aku dan Kyungsoo tunggu! Saat dimana Jongin datang dan merusak semuanya! Ini yang aku dan Kyungsoo mau appa! Kami menurutimu karena kami menganggapmu dan menghormatimu appa! Kami tidak bisa menolak karena aku dan Kyungsoo tidak punya alasan yang cukup untuk menghentikan semua ini! Dan sekarang aku punya alasannya appa! Karena Kyungsoo tidak mencintaiku! Kyungsoo mencintai Jongin! Dan karena aku… aku juga tidak mencintai Kyungsoo!"
.
.
.
.
.
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian di dalam gereja itu. Keesokan harinya, Kris menjelaskan apa yang terjadi dengannya dan Kyungsoo. Mulai dari hanya niatnya membantu sampai paksaan appanya untuk menikahi Kyungsoo. Semuanya Kris ceritakan. Dan kemarin, Kris pindah ke Jepang. Tinggal dengan ibu kandungnya disana. Kris hanya terlalu malu untuk tetap berada di Korea meskipun Jongin sudah memaafkannya dengan sedikit tinju kecil diwajah Kris. Untung Kris tidak melawan. Jongin bilang, tinju itu adalah salah satu syarat agar ia memaafkan Kris.
Jongin sedang menatap langit-langit kamarnya. Tak jarang ia melirik sebuah bingkai foto yang berisi fotonya dan Kyungsoo. Membuat Jongin tersenyum malu. Jongin meraih ponselnya di meja lalu mengirim sebuah pesan kepada seseorang yang selalu membuat detak jantungnya tidak berjalan normal.
To : Sooie
Hallo nona manis. Kkkkk
Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Aku tunggu kau 15 menit dari sekarang di taman. Telat sedikit aku akan menghilang lagi seperti 7 bulan yang lalu. See you~
"Send~" Ucap Jongin dengan ceria. Lalu dengan cepat ia mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu keluar tanpa memperdulikan teriakan Baekhyun.
Jongin menyempatkan dirinya untuk membeli 3 tangkai mawar merah sebelum ia sampai ditaman tadi. Hanya butuh beberapa menit dari ia sampai, Jongin sudah bisa melihat Kyungsoo duduk disebelahnya. Meskipun Kyungsoo duduk dengan memberi jarak, tapi Jongin cukup senang. Karena awalnya Jongin fikir Kyungsoo tidak akan datang. Berarti dari kedatangannya ini satu hal yang Jongin tahu; Kyungsoo tidak ingin Jongin pergi dan menghilang lagi.
"Ada apa?" Tanya Kyungsoo dingin. Sangat dingin. Tapi Jongin tidak perduli.
"Untukmu." Ucap Jongin sambil memberikan 3 tangkai mawar merag itu ke Kyungsoo. Kyungsoo mengambilnya lalu berdecak.
"Tck. Kau gila Jongin. Kau tahu?" Ucap Kyungsoo masih dengan dingin.
"Aku tahu. Dan itu semua karenamu." Ucap Jongin dengan tersenyum.
"Kau menghancurkan hari bahagiaku Jongin." Jongin memberikan Kyungsoo ponselnya. Menyuruh Kyungsoo membaca sebuah pesan yang ada dalam ponselnya.
"Kau yang memintaku, chagiya~" Ucap Jongin dengan sedikit menggoda. Kyungsoo tersenyum saat membaca pesan itu.
From : Sooie
Annyeong Jongin-ah.
Dimana kau sekarang? Apa kau baik-baik saja? Apa kau makan dengan baik? Apa kau istirahat dengan cukup? Aku merindukanmu kau tahu? Pulanglah. Aku menunggumu.
Aku yakin kau pasti tahu tentang pernikahanku. Kau tahu? Aku tidak benar-benar menginginkan pernikahan itu. Aku tidak mencintai, Kris. Tidak sama sekali. Aku masih menunggumu pulang, Jongin. Tapi aku tidak punya alasan yang cukup untuk menghentikan pernikahan ini. Ada satu hal yang bisa menghentikan ini Jongin. Yaitu kau. Kau yang bisa menghentikan pernikahan ini.
Jongin-ah… Aku mohon pulanglah. Jadilah satu-satunya alasan untukku menghentikan semua ini. Jadilah alasan agar aku tetap mencintaimu. Aku mohon..
Seseorang yang menyesal karena menyuruhmu pergi, dan seseorang yang sangat mencintaimu.
Do Kyungsoo.
"Tck. Aku memintamu pulang dua hari sebelum hari pernikahanku, Jongin. Bukan memintamu menghancurkan hari bahagiaku." Ucap Kyungsoo sambil mengembalikan ponsel Jongin.
"Memangnya kau bahagia dihari itu?"
"Iya! Aku bahagia! Aku bahagia karena ada orang gila yang masuk kedalam gereja dan menghancurkan hari pernikahanku." Jelas Kyungsoo.
"Maksudmu aku ini gila huh?!" Tanya Jongin tidak terima.
"Ne. Dan aku membencimu." Jawab Kyungsoo santai. Jongin terkekeh mendengar jawaban Kyungsoo.
"Aku juga mencintaimu, Soo." Goda Jongin. Membuat mata bulat Kyungsoo semakin bulat.
"Aku bilang aku membencimu!"
"Tapi kenyataannya kau tidak pernah bisa membenciku, Soo. Akuilah~" Goda Jongin lagi. Membuat pipi Kyungsoo merona hebat.
"Kemana saja kau selama ini?" Tanya Kyungsoo mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jangan alihkan pembicaraan, Sooie-ya~"
"Aku bertanya serius?! Kau tahu aku mengkhawatirkanmu!" Bentak Kyungsoo. Buru-buru Kyungsoo menutup mulutnya. Sedangkan Jongin tertawa atas kemenangannya.
"Hahahahaha. Ne ne. Aku di Jepang. Aku bersama sepupuku Kyuhyun. Orang gila lainnya yang mendukungku untuk menghancurkan hari pernikahanmu seminggu yang lalu." Jongin menghela nafasnya. "Aku lapar. Sudah makan siang?" Tanya Jongin.
"Sialnya belum." Jawab Kyungsoo. Kyungsoo benar-benar kesal dengan Jongin sekarang, tapi rasa senang karena bisa dekat dengan Jongin seperti ini lagi mengalahkan semuanya. Kyungsoo pun menerima ajakan Jongin makan siang bersama.
.
.
.
Inilah rutinitas baru Jongin. Semenjak rusaknya hari pernikahan Kyungsoo dan Kris, Jongin harus rela bolak-balik Jepang-Korea. Setiap akhir pekan, Jongin akan pulang ke Korea untuk menemui Kyungsoo pastinya. Dan kembali lagi ke Korea di hari Seninnya. Begitu terus selama sebulan ini. Hubungan Kyungsoo dan Jongin juga mulai membaik. Kyungsoo sering menerima ajakan Jongin untuk bertemu saat akhir pekan. Bahkan, Kyungsoo menunggu akhir pekan untuk bertemu dengan Jongin. Dan ini tidak menutup keduanya untuk menjalin kasih lagi. Tapi kenyataannya tidak. Mereka masihlah seperti seorang teman. Kyungsoo dengan senang hati mendengar semua keluhan Jongin tentang kantornya dan begitu juga Jongin yang setia mendengarkan keluhan Kyungsoo tentang masalah novelnya. Iya, Kyungsoo sedang sibuk menulis novel pertamanya sekarang.
Hari hari Rabu, tapi Jongin sedang berada di Korea untuk menyiapkan sesuatu. Besok adalah ulangtahun Kyungsoo, jadi Jongin ingin menyiapkan kejutan untuk Kyungsoonya. Ayolah, ini sudah untuk Jongin atau Kyungsoo mengklaim mereka saling memiliki. Jongin terlihat sedang sibuk dengan dua orang yeoja di rumahnya sekarang. Memperdebatkan hal yang tak ada akhirnya sejak tadi.
"Ya Tuhan, Jongin percayalah itu adalah hal yang paling norak kau tahu?!" Ucap seorang yeoja dengan eyeliner tebal dimatanya. Ia terlihat sangat putus asa.
"Yah lalu bagaimana Baek? Aku bingung. Hanya itu yang ada dalam fikiranku." Ucap Jongin tak kalah putus asanya.
"Aku kenal Kyungsoo sejak ia masih kecil, dan sungguh jangan pernah mendekatkan dia dengan sesuatu berwarna orange. Dia membencinya." Kata yeoja yang lainnya.
"Luhan! Astaga kau menambah rumit!" Ucap yeoja eyeliner yang bernama Baekhyun itu. "Kita sedang membicarakan tentang cara norak Jongin. Apa hubungannya dengan warna orange?!" Lanjut Baekhyun dengan nada meninggi. Ia mengacak rambutnya asal.
"Yayayaya kalian berisik sekali. Ada apa huh?" Tiba-tiba Chanyeol datang dan duduk tepat disebelah Jongin.
"Membicarakan ulang tahun Kyungsoo hyung. Aku ingin memberi Kyungsoo kejutan. Tapi aku bingung bagaimana caranya. Aki sudsh menyiapkan hadiahnya hyung. Tapi bagaimana cara memberikannya? Aish.. Aku akan gila!" Jelas Jongin membuat Chanyeol terkekeh.
"Hanya karena itu?" Tanya Chanyeol sambil menahan tawanya.
"Tidak ada yang lucu, Yeol. Kita sedang bingung bagaimana memberikan kejutan untuk Kyungsoo. Tidak boleh ada kata norak didalamnya! Aku mau kejutan Jongin beda dari yang lain. Aku mau kejutan Jongin terkesan istimewa dimata Jongin." Jelas Baekhyun sambil memberikan death glare terbaik ke suaminya itu. Bukannya takut, Chanyeol malah tertawa.
"Yak Kim Chanyeol! Kau tidak berubah dari SMA dulu! Masih saja tidak bisa serius!" Kesal Luhan. Membuat Chanyeol terpaksa menahan tawanya.
"Aku tidak mengerti denganmu hyung. Apanya yang lucu sih?" Tanya Jongin dengan nada putus asanya. Ia menjambak rambutnya lalu mengerang frustasi.
"Oke. Aku punya ide. Aku tidak tahu ini termasuk kategori norak atau bukan. Tapi aku yakin, kalian akan menyukainya karena ini adalah ide gila yang ingin aku lakukan saat masih bersama Kyungsoo dulu."
.
.
.
.
.
Kyungsoo membuka pintu appartementnya dengan sangat lemas. Ia sudah sangat lelah sekarang. Pulang di jam 12 malam adalah alasan kelelahannya. Pagi tadi ia ada janji dengan salah satu penerbit yang bersedia bekerja sama untuk menerbitkan novelnya. Lalu sore harinya ia harus melanjutkan novelnya di halaman kampus. Ya, meskipun Kyungsoo sudah lulus Kyungsoo masih sering datanh ke halaman kampusnya untuk mencari inspirasi. Saat ia baru saja ingin pulang dari kampusnya, tiba-tiba teman lama seangkatannya, mengundangnya datang ke acara ulangtahunnya. Tidak mungkin menolak, Kyungsoo pun menerimanya. Karena terlalu menikmati acara itu -sekaligus acara reuniannya- akhirnya Kyungsoo pulang terlalu larut. Belum lagi ia tidak membawa mobil dan terpaksa harus beberapa kali naik bus untuk sampai ke appartementnya. Padahal, besok adalah hari ulang tahunnya. Ia ingin membuat pesta kecil-kecilan. Tapi, ia malah kelelahan karena jadwal hari ini.
Kyungsoo masuk kedalam appartementnya lalu menyalakan lampu. Ia yakin Luhan pasti sudah tidur makanya seluruh ruangan gelap.
"Aku pulang." Ucap Kyungsoo lemah. Namun hanya beberapa saat, semua rasa lelahnya berganti dengan rasa takut. Lampu ruangan tengah tidak bisa menyala meskipun Kyungsoo sudah menekan saklar lampunya. Kyungsoo benci gelap. Sangat benci dengan gelap.
"Lu-Luhan.." Lirih Kyungsoo degub jantungnya berdegub kencang karena takut. Wajahnya sudah penuh dengan peluh. Ia takut sangat takut. Ia tidak bisa melihat apapun.
"Lu-luhan. Eodiga?" Lirih Kyungsoo lagi. Ia meraba-raba sekitarnya agar tubuhnya tidak menabrak sesuatu. Tubuhnya kini bergetar hebat. Sangat hebat.
"Luhan.." Panggil Kyungsoo lagi. Tiga kali sudah Kyungsoo memanggil nama Luhan. Tapi tetap tidak ada suara tertedengar. Karena terlalu takut, akhirnya Kyungsoo menjatuhkan dirinya dan mulai terisak.
"Hiks.. Luhan eodiga.. hiks.. takut.. hiks aku mohon.. hiks Luhan.. aku takut." Racau Kyungsoo sambil terus terisak. Kyungsoo takut. Sangat takut. Ini sudah larut malam, tubuhnya lelah tapi ia malah harus mengahadapi kegelapan seperti ini.
Saat ditengah-tengah ketakutannya, Kyungsoo merasakan ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang. Bukannya tenang, Kyungsoo malah teriak histeris dan semakin ketakutan.
"Yaak! Siapa kau?! Hiks! Lepaskan! Hiks! Siapa kau?! Luhan! Aah siapa kau?! Lepaskan!" Teriak Kyungsoo terus berteriak histeris sambil mencoba melepaskan pelukan orang asing itu. Namun nihil. Sebesar apapun tenaga Kyungsoo untuk melepaskan pelukan orang asing itu, tenaganya orang asing itu masih terlalu kuat untuknya.
"Tenanglah.." Ucap orang asing itu akhirnya.
Suara ini.. suara ini..
"J-Jongin?" Lirih Kyungsoo. Kyungsoo mencoba memegang tangan orang asing itu.
"Iya, aku disini. Tenanglah." Jawab orang asing itu. Dengan cepat ia memutar tubuh Kyungsoo menghadap dirinya. Lalu menyalakan ponselnya untuk memberi sedikit penerangan. "Ini aku. Kim Jongin. Tenanglah." Lanjut namja itu lagi. Dengan cepat, Kyungsoo langsung memeluk Jongin dan menangis disana.
"Jongin.. hiks.. gelap.. hiks aku takut.. hiks Jongin.. hiks aku.. hiks.." Racau Kyungsoo lagi dalam pelukannya. Dan semakin lama Kyungsoo semakin mengeratkan pelukannya. Tidak mengizinkan Jongin pergi untuk satu centimeter pun.
"Aku disini jangan takut." Ucapan penenang dari Jongin lagi. Kyungsoo tidak mau terlalu perduli bagaimana Jongin bisa ada didalam appartementny. Kyungsoo tidak mau terlalu perduli itu. Kyungsoo hanya ingin semua kegelapan ini berakhir. Hanya itu.
"Jangan tinggalkan aku. Hiks… Jeball." Kyungsoo masih menangis dalam dekapan Jongin. Jongin hanya mengelus sayang Kyungsoo. Beraharap Kyungsoo bisa jauh lebih tenang.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Soo. Bahkan sampai saat lampu menyalapun aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya akan meninggalkanmu jika Tuhan mengambil nyawaku, Soo." Jawab Jongin. Perlahan namun pasti, Kyungsoo sudah mulai tenang. Pelan-pelan Jongin melepaskan pelukan Kyungsoo. Membuat Kyungsoo kembali panik.
"Ingat Soo, aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Meski tubuhku tak ada disampingmu, tapi kau harus ingat jiwaku selalu bersama jiwamu." Ucap Jongin sambil terus mencoba menjauh dari Kyungsoo.
"Jongin! Andwae! Jangan pergi hiks.. Jongin!" Teriak Kyungsoo saat merasa Jongin sudah tidak ada lagi disekitarnya. Tapi ia masih bisa mendengar suara Jongin tadi. Ia kembali menangis dan meraba-raba daerah sekitarnya. Mencari sosok pelindungnya disela-sela tangisannya.
"Jangan takut, Soo. Semakin kau takut, kegelapan ini akan semakin menghantuimu. Tenanglah, aku akan selalu bersamamu. Bukankah memang seperti itu? Kau harus hadapi kegelapan ini dengan tenang. Setenang saat kau memelukku tadi." Ujar Jongin. Suaranya masih terdengar jelas di indra pendengaran Kyungsoo. Tapi ia tidak perduli. Yang ia perduli dimana Jongin berada sekarang.
"Bagaimana bisa aku tenang? Hiks.. Jongin.. eodiga? Hikss. Aku takut.. jeball. Hisk kembali hiks.." Kyungsoo masih terus meraba-raba daerah sekitarnya. Masih terus mencari sosok Jongin disekitarnya.
"Berhenti menangis. Dan berhenti mencariku. Aku tidak ada disampingmu. Tapi ada dihatimu, Soo. Rasakan kehadiran diriku dihatimu, Soo. Dan kau akan tenang sama seperti saat aku berada disampingmu." Entah karena apa, Kyungsoo berhenti meraba-raba sekitarnya. Mata yang tadi terbuka, kini terpejam sangat erat. Seolah-olah sedang merasakan sesuatu dalam hatinya. "Jongin ini gelap." Ucap Kyungsoo saat menutup matanya.
"Tapi kau bisa rasakan kehadiranku dihatimu kan?" Tanya Jongin. Kyungsoo mengangguk. Meskipun Jongin tidak bisa melihatnya, tapi Jongin bisa merasakannya.
"Kalau begitu teruslah seperti itu saat kau berada didalam gelap arra? Tetap pejamkan matamu. Karena dengan itu kau merasakan kehadiranku dihatimu meskipun aku tidak disisimu. Arraseo?" Kyungsoo mengangguk lagi. Entah kekuatan dari mana, tubuhnya yang tadi bergetar hebat langsung merasa sangat tenang. Sama persis setiap kali Jongin memeluknya baik dalam gelap ataupun terang.
Perlahan Kyungsoo mulai mendirikan tubuhnya. Ia bangun dari posisi duduknya dan mulai melangkah pelan. Mencari Jongin. Tapi tanpa Kyungsoo ketahui, Jongin terus melangkah mundur kearah yang Jongin sendiri tidak yakin dimana.
"Jongin bicaralah. Aku mencarimu." Ucap Kyungsoo. Ia hanya tahu Jongin masih diappartementnya. Ia tahu tadi itu bukan halusinasinya. Ia yakin sangat yakin.
"Aku dihatimu. Seharusnya kau tahu dimana aku. Tanpa harus mendengar dimana letak suaraku. Cari aku tanpa harus aku bicara." Ujar Jongin. Dengan cepat Jongin menyalakan ponselnya. Ia sudah berada didekat televisi ternyata. Sedangkan Kyungsoo masih berada di sekitar sofa. Ini terlalu jauh. Pikirnya. Dengan sedikit berlari kecil Jongin melangkah menuju arah dapur Kyungsoo. Meninggalkan Kyungsoo yang terus berputar-putar di dekat sofa dan televisi itu.
"Jongin bicaralah. Aku tidak tahu kau dimana." Ucap Kyungsoo lagi. Ia masih terus meraba sekitarnya. Yang ia tahu pasti ia sudah berada diruang tengah. Kyungsoo masih terus berputar-putar disana.
"Jongin… bicaralah jeball." Ia mengulang perkataannya lagi. Ia yakin betul tadi itu bukan halusinasinya. Ia yakin betul tadi Jongin memeluknya, tapi kenapa tidak terdengar suara Jongin lagi setelah Kyungsoo cukup berani melawan ketakutannya?
Entah bagaimana bisa tubuh Kyungsoo sudah berada dimeja makan sekarang. Dan ini sangat amat dekat dengan Jongin. Kyungsoo sendiri tidak tahu ia ada dimana. Ia hanya menuruti langkah kakinya yang membawanya kemari.
5 langkah lagi.
4 langkah.
3 langkah.
2 langkah.
Dan..
"Kau berhasil menemukanku, Soo." Ucap Jongin saat Kyungsoo sudah berada didepannya. Tanpa aba-aba lagi Kyungsoo langsung memeluk tubuh Jongin. Memukul pelan dada Jongin sesekali.
"Jangan tinggalkan aku!" Ucap Kyungsoo dengan nada sedikit marah dan kecewa. Namun dalam pelukannya, Kyungsoo selalu tersenyum. Senang karena akhirnya ia bisa sedekat ini lagi dengan Jonginnya.
"Hahahaha ish hahahha." Jongin tertawa saat Kyungsoo terus merajuk kesal karena telah ditinggalkan olehnya tadi. Lalu dengan cepat Jongin menahan pergerakan Kyungsoo.
"Aku akan memberimu hadiah karena telah menemukanku. Tapi ada satu syarat." Ucap Jongin. Tangan Kyungsoo pun sudah beralih memeluk tubuh Jongin.
"Apa?" Tanya Kyungsoo penasaran.
"Tetap pejamkan matamu eoh?" Kyungsoo mengangguk meng'iya'kan.
CHU~
Jongin mencium bibir Kyungsoo untuk yany kedua kalinya. Ia melumat lembut bibir bawah Kyungsoo. Dan tepat saat dua benda kenyal itu menyatu, Kyungsoo membuka matanya dan mendadak seluruh lampu ruangan appartement menyala.
Jongin melepaskan tautannya bibirnya dengan Kyungsoo dan membuka matanya lalu mengerjapkannya beberapa kali. Begitu juga dengan Kyungsoo. Keduanya perlu waktu untuk membiasakan cahaya lampu masuk kedalam mata mereka. Setelah cukup, Kyungsoo menatap manik mata Jongin sambil tersenyum.
"Berbaliklah." Ucap Jongin lembut dan Kyungsoo menurutinya.
"SURPRISE! Saengil chuka hamnida. Saengil chuka hamnida. Saranghaneun Do Kyungsoo. Saengil chuka hamnida!"
Belum sempat menjawab pertanyaan otakknya yang bertanya mengapa Jongin bisa di appartementnya, Kyungsoo dikejutkan lagi dengan adanya Luhan, Sehun, Baekhyun dan Chanyeol yang berada di ruang tengah dan membawa sebuah kue tart disana. Membuat Kyungsoo semakin bertanya-tanya 'bagaimana bisa' didalam otaknya.
"Yak noona! Kemari! Tiup lilinnya sebelum mati lagi!" Ujar Sehun. Kyungsoo menatap Jongin sebentar. Lalu berjalan mendekat kearah sahabat-sahabatnya itu.
"K-kalian.. bersekongkol?" Tanya Kyungsoo sambil menatap Jongin yang masih berada di dapur tanpa berniat untuk bergabung sedikitpun.
"Cepat make a wish lalu tiup lilinnya, Kyung!" Ujar Luhan tidak memperdulikan pertanyaan Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk lalu memejamkan matanya.
Tenang. Setiap kali aku memejamkan mataku rasanya sangat hangat. Karena ada Jongin. Dan aku harap Jongin tetaplah disampingku seperti ini. Tetap memberikanku sejuta kehangatan yang tidak bisa aku dapatkan dimanapun.
Kyungsoo membuka matanya dan meniup lilin ulang tahunnya yang berada didepannya. Lalu, Baekhyun - yang memegang kue- menaruh kue itu keatas meja makan dan ikut bertepuk tangan seperti yang lainnya.
"Gomawo." Ujar Kyungsoo sambil tersenyum penuh arti. "Harusnya aku yang menyiapkan pesta, tapi kalian malah memberiku kejutan bodoh seperti ini." Lanjutnya.
"Ah noona! Ini untukmu. Saengil chuka hamnida. Saranghae." Ucap Sehun sambil memberikan kotak berukuran berwarna merah muda. Kyungsoo mengambilnnya sambil bergumam gomawo.
Acara 'penyerahan kado ke Kyungsoo' pun berlanjut. Setelah Sehun, Baekhyun dan Chanyeol juga memberikan kado mereka ke Kyungsoo. Begitu juga dengan Luhan. Dan Kyungsoo tak henti hentinya bergumam gomawo setiap kali mendapat kadonya.
"Yah Kai! Tidak memberi hadiahmu eoh?" Tanya Sehun sambil mendudukan dirinya dilantai. Sehun tidsk terlalu suka duduk di sofa. Dan kegiatan duduk itupun disusul oleh Luhan, Chanyeol, dan Baekhyun. Sedangkan Kyungsoo masih setia berdiri. Ia ingin duduk saat Jongin sudah berada disampingnya.
"Nanti saja. Kadoku tidak terlalu penting." Ucap Jongin sambil melangkah kearah pintu. Ia membuka kenop pintu itu. "Aku ingin keluar sebentar. Nanti aku kembali. Bersenang-senanglah kalian." Ujar Jongin sambil menutup kenop pintu. Kyungsoo pun memandangi pintu itu sambil tersenyum miris.
"Kyung, ayo duduklah. Potong kue ini. Aku dan Baek yang membuatnya." Ucap Luhan saat melihat Kyungsoo masih saja berdiri. Kyungsoo mengangguk dan memposisikan dirinya di depan teman-temannya.
"Sudahlah noona, Kai sebentar lagi pasti datang." Ucap Sehun saat melihat noona-nya terus saja memandangi pintu dengan gelisah.
"Jongin mempersiapkan semua ini untukmu, Kyung." Ujar Baekhyun sambil memakan kuenya. Kyungsoo hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah selesai menghabiskan kue, Luhan, Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun pun berpamitan untuk pulang.
"Tunggu, Lu. Kau pulang? Ini rumahmu!" Ujar Kyungsoo saat Luhan ikut-ikutan bilang bahwa dia mau pulang.
"Aku ke appartementku dulu malam ini. Ada beberapa berkas yang ingin aku ambil untuk interview di kantor Chanyeol besok." Ucap Luhan. Kyungsoo mengangguk mengerti.
"Tapi bukankah terlalu cepat? Kalian baru selesai makan kuenya. Aku ingin membuat sup rumput laut untuk kalian. Bagaimana?" Tawar Kyungsoo.
"Tidak perlu Kyung. Ini sudah terlalu malam. Kami harus pulang. Siang nanti kita bisa kembali lagi kan?" Ujar Chanyeol dan diamini oleh Luhan dan Baekhyun. Kyungsoobhanua bisa menghembuskan nafasnya panjang.
Setelah mempersilahkan sahabat-sahabatnya pulang, Kyungsoo mulai merapikan piring-piring dan sisa kue. Menaruh piring-piring kotor di tempat cuci piring dan mencucinya. Lalu setelahnya ia mendudukan dirinya di sofa. Ia memang sangat lelah, tapi entahlah, ia belum ingin tidur.
"Bahkan sampai mereka pulang dan aku selesai merapikan semua ini kau belum kembali, Jongin." Lirih Kyungsoo. Inilah penyebab ia tidak mau tidur. Ia sedang menunggu Jonginnya datang. Tapi sudah satu setangah jam Kyungsoo menunggu, Jongin belum datang juga. Kyungsoo mendesah panjang dan memilih untuk masuk kedalam kamarnya.
Tapi, baru saja sampai depan pintu kamarnya, ia mendengar seseorang mengetuk pintu appartementnya. Itu pasti Jongin! Fikirnya. Dengan cepat ia berjalan dan membuka pintu dengan cerianya. Tapi senyumnya hilang saat melihat siapa yang datang.
"Ada seseorang yang menitipkan ini padamu, Nona. Orang tersebut menunggumu di lobby sekarang." Itu bukanlah suara Jongin. Hanya seorang pegawai appartement yang memberikan Kyungsoo sebuket bunga mawar merah. Kyungsoo mengambilnya dan menganggukkan kepalanya. Siapa yang menungguku di lobby? Itu pasti bukan Jongin. Jongin bisa datang langsung ke appartementku tanpa harus memintaku datang ke lobby. Fikir Kyungsoo. Ia menutup pintunya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan appartementnya.
Seaampainya di lobby, ia langsung mengedarkan seluruh pandangannya ke segala arah. Ia mencari seseorang yang sekiranya sedang menunggu. Namun nihil. Tidak ada orang disana. Ia berjalan kearah receptionist dan bertanya tentang seseorang yang sedang menunggu, namun jawabannya adalah tidak. Tidak ada seorang pun yang terlihat sedang menunggu dari tadi. Kyungsoo menghela nafasnya panjang dan kembali.
"Darimana saja kau?" Saat msih terus bertanya-tanya siapa yang menunggunya di lobby, Kyungsoo dikejutkan dengan Jongin yang sudah berada di depan ruangannya. "Aku menunggumu daritadi." Lanjut Jongin lagi.
"Aah. Mianhae. Tadi aku ke lobby, seorang pegawai bilang ada seseorang yang menungguku disana. Tapi sesampainya aku di lobby, tak ada seorangpun."
"Aku yang menunggumu." Kyungsoo membelakkan matanya sempurna. Kaget? Tentu saja!
"T-ta-ta—"
"Aku ingin memberimu hadiah disana tadinya, tapi setelah aku fikir lagi itu sangatlah tidak romantis. Jadi aku kesini." Potong Jongin seolah tau apa yang akan Kyungsoo tanyakan.
Dengan cepat Kyungsoo memukul bahu Jongin dengan brutalnya. "Ah ah appo Soo. Appo.." Ujar Jongin. Sebenarnya pukulan Kyungsoo tidak sakit, namun jika terus diserbu seperti ini, jadi ia merasakan sakitnya juga. Kyungsoo menghentikan dari mari-pukuli- Jongin dengan mempoutkan bibirnya lucu dan menyilangkan kedua tangan didadanya.
"Aishh.. Wae hm?" Tanya Jongin saat melihat Kyungsoo merajuk.
"Apa-apaan kau ini?! Kau meminta pegawai untuk menyuruhku datang ke lobby. Tapi saat sampai ke lobby aku tidak menemukan siapapun disana! Lalu kau tiba-tiba ada disini dan bertanya dengan mudahnya 'darimana saja kau?' seolah-olah kau tidak melakukan kesalahan! Memangnya kau fikir itu tidak membuang waktu?! Aku lelah dan waktuku terbuang sia-sia untuk itu! Dan kau—-"
CHU~~
Jongin mengunci bibir Kyungsoo dengan bibirnya. Membuat Kyungsoo diam untuk menelaah apa yang sedang terjadi untuk beberapa saat lalu kemudian memukul dada Jongin meminta melepaskan tautan mereka.
"Apa-apan kau ini Jongin?! Ini ditempat umum! Kau mau aku dicibir oleh orang lain eoh?!" Kyungsoo kembali mengerucutkan bibirnya setelah menceramah Jongin sebentar.
"Jika kau tetap merajuk seperti itu, aku tidak segan-segan memperkosamu disini sekarang juga, Soo."
"YAK!" Jongin mengelus-elus kepalanya yang tadi di'sentuh' oleh Kyungsoo sambil meringis.
"Appo, Soo.."
"Dasar mesum!"
.
.
Kyungsoo mendudukkan dirinya di sofa ruang tamunya dan dikuti oleh Jongin. Setelah melalui pertengkaran kecil, akhirnya Kyungsoo mempersilahkan Jongin masuk kedalam. Ini sudah larut dan Kyungsoo tidak mengizinkan Jongin pulang. Kyungsoo menyuruh Jongin menginap diappartementnya. Sebenarnya, ini sudah biasa terjadi untuk Jongin menginap di appartement Kyungsoo. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada Luhan dan Sehun sekarang. Itulah perbedaannya dari yang sebelum-sebelumnya.
"Kyungsoo." Panggil Jongin. Kyungsoo menolehkan kepalanya ke Jongin sambil menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan.
"Jangan menatapku seperti itu kalau kau tidak mau aku terjang, Soo." Kyungsoo memutar bola matanya malas dan menatap Jongin dengan sangat amat malas. Bukan, bukan karena ia marah. Ia kesal dengan Jongin. Tapi ia juga senang karena akhirnya Jongin datang kembali ke appartementnya setelah meninggalkannya selama satu setengah jam.
"Tegakkan tubuhmu menghadap kearahku dan tutup matamu." Ujar Jongin lembut.
"Wa—"
"Lakukan saja." Kyungsoo menyerah. Ia sudah sangat lelah jika harus bertengkar lagi dengan Jongin. Jadi, ia hanya mengangguk pasrah dan mengikuti perintah Jongin tadi.
"Aku tahu ini terlambat. Sangat terlambat malah. Tapi kumohon, izinkan aku untuk mengatakan ini." Ujar Jongin. Kyungsoo baru ingin membuka matanya karena penasaran, namun dengan cepat Jongin menutup mata Kyungsoo lagi dengan telapak tangannya.
"Tetaplah pejamkan matamu dan dengarkan aku." Jongin melepaskan tangannya saat Kyungsoo menganggukka kepalanya.
"Mianhae. Jeongmal mianhae. Maaf telah membuatmu menangis. Maaf karena telah melanggar janjiku. Maaf karena telah membuatmu sakit. Maaf karena telah menyia-nyiakanmu. Maaf karena semua kebodohan yang aku lakukan padamu. Mianhae. Jeongmal mianhae." Lirih Jongin. Matanya sudah mulai berair. Sekali ia mengedipkan matanya, maka cairan itu akan terjun bebas di keningnya.
"Maaf aku membuatmu marah. Maaf karena membuatmu kecewa. Maaf karena membuatmu sakit. Maaf karena meninggalkanmu. Mianhae. Jeongmal mianhae." Lanjut Jongin lagi. Dan.. Tes.. airmata Jongin pun jatuh tanpa bisa ditahan lagi oleh pemiliknya.
"Jongin aku—"
"Dengarkan aku dan jangan bicara apapun sebelum aku menyuruhmu." Potong Jongin. Ia menarik nafasnya panjang. "Gomawo. Jeongmal gomawo. Terima kasih karena telah menerimaku kembali seperti sekarang. Terima kasih karena telah memaafkan semua kesalahan dan kebodohanku selama ini. Terima kasih karena tetap berada disampingku. Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan padaku, Soo. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi cara berterima kasih padamu. Bahkan ragaku ini tak cukup untuk menyatakan rasa terima kasihku padamu. Gomawo. Jeongmal gomawo." Lanjut Jongin lagi. Jongin menarik lembut tangan kanan Kyungsoo. Ia mengambil sebuah kotak kecil di kantong jaketnya dan membukanya. Lalu menautkan sebuah cicin emas putih dengan pahatan bertuliskan 'Kim Jongin' dan sebuah black diamond di tengahnya. Lalu menautkan cincin tersebut di jari manis Kyungsoo dengan anggunnya.
"Buka matamu." Ucap Jongin lembut. Kyungsoo membuka matanya dan menatap mata Jongin yang berair. Ia mengusap pipi Jongin yang basah dengan ibu jarinya. Lalu Kyungsoo beralih pads jari manisnya yang telah dipeluk oleh cincin indah itu.
"J-Jong-Jongin?" Ucap Kyungsoo dengan gugupnya. Matanya berair melihat cincin indah itu. Rasa senang dan terharu merasuk dalam hatinya menjadi satu.
"Kyungsoo.. kau tahu mengapa pada akhirnya kita bisa bertemu lagi seperti setelah semua hal yang terjadi? Kau tahu mengapa kita bisa seperti ini lagi setelah aku melakukan semia hal bodoh? Kau tahu alasannya?" Tanya Jongin lembut sambil menangkup pipi chubby Kyungsoo dan mengapus airmata Kyungsoo yang sudah basah dengan airmata bahagianya. Kyungsoo menggeleng. Senyum dibibirnya tidak pernah luntur sejak tadi.
"It's just for one reason. A simple reason I've ever known. It' s because you're just for me, Soo. Kau hanya untukku. Karena Do Kyungsoo hanya untuk Kim Jongin. Sejahat apapun alam memisahkan kita, sekejam apapun waktu merusak hubungan kita, dan sekeras apapun hati kita berusaha untuk menolak, semuanya sia-sia. Karena Tuhan telah menulis namamu, Do Kyungsoo dan namaku, Kim Jongin dalam sebuah benang merah tak terlihat yang mengaitkan kita satu sama lain, Soo." Jelas Jongin tanpa sekalipun berniat melepaskan pandangannya dari mata Kyungsoo. Tangan Jongin masih betah menari-nari dengan indah di pipi Kyungsoo. Dan Kyungsoo menikmati semuanya. Sangat.
Jongin mengalihkan kedua tangannya menuju tangan mungil Kyungsoo. Jongin mengecupi tangan itu berkali-kali. Memberi tahu kepada pemilik tangan mungil itu bahwa Jongin sangat mencintainya. Mencintai dirinya sepenuh hatinya dan seluruh hidupnya.
"Kyungsoo." Panggil Jongin dan mulai berhenti menciumi telapak tangan Kyungsoo. Kyungsoo hanya berdehem sambil tersenyum sebagai jawaban. Jongin menatap mata Kyungsoo dengan sangat tajam. Mencari sesuatu dalam tatapan mata tersebut. "May I marry you?" Tanya Jongin mantap. Matanya masih belum berpaling dari manik Kyungsoo.
"Aku tidak mau lagi membuang-buang waktu hanya untuk menjadi sepasang kekasih. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama lagi jika kita menjadi sepasang kekasih. Aku tidak mau, Soo. Tidak mau." Lanjut Jongin. Jongin menarik sesuatu di lehernya. Menarik sebuah kalung yang entah sejak kapan Jongin pakai. Kalung ini bukan berhiaskan sebuah berlian atau bandul emas atau apapun. Kalung itu berhiaskan sebuah cincin. Jongin melepaskan kalung itu dan memperlihatkan cincin yang ada ke Kyungsoo. Sebuah cincin yang sama persis dengan yang berada di jari manis Kyungsoo. Hanya saja cincin milik Jongin bertuliskan 'Do Kyungsoo'. Hanya itu perbedaanya.
Kyungsoo menutup mulutnya saking kagetnya dengan semua yang sedang terjadi. Mulai dari lampu yang mati, Jongin yang tiba-tiba ada didalam appartementnya, ia yang bisa melawan rasa takutnya, adanya para sahabatnya yang memberi kejutan, seorang pegawai yang memberikan sebuket bunga, Jongin yang meracau meminta maaf dan berterima kasih dan terkahir… Jongin yang melamarnya. Semuanya sangat mengejutkan. Ini adalah hari ulang tahun terbaiknya selama masa hidupnya.
Dan akhirnya Kyungsoo pun mengangguk sebagai jawaban. "Aku tidak punya alasan untuk menolakmu sebagai calon suamiku, Jongin. Sama sekali tidak punya satu alasanpun untuk menolakmu." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum. Airmatanya berkali-kali menetes. Tapi Kyungsok tidak perduli. Ia senang. Sangat senang. Airmata ini airmata kebahagian. Bukan kesedihan.
Dengan cepat, Jongin langsung meraup bibir ranum Kyungsoo. Melumat bibir tersebut dengan lembut. Mengalirkan seluruh cintanya untuk Kyungsoo. Kyungsoo yang awalnya kaget mulai menyeimbangi permainan Jongin dengan mengemut lembut bibir atas Jongin. Perlahan namun pasti ciuman itu sudah berubah menjadi ciuman panas dan menggairahkan.
Saat merasa pasokan oksigen sudah menipis di paru-paru, Jongin melepaskan tautan mereka dan mulai menelusuri leher mulus milik Kyungsoo. Mencium, menjilat dan membuat banyak 'maha karya' disana. Membuat Kyungsoo menggelinjang nikmat karena semua sentuhan memabukkan Jongin.
"Eunggghhh…"
Satu erangan Kyungsok akhirnya lepas. Membuat libido Jongin semakin menggila. Tangan Jongin tidak diam begitu saja. Tangannya menelusup masuk kedalan kemeja Kyungsoo. Meraih dua gundukan yang masih terbungkus rapih meskipun sudah mengeras. Jongin mengeluarkan tangannya tanpa sekalipun berhenti membuat tanda kepemilikan di leher Kyungsoo. Dengan perlahan, Jongin membuka kancing-kancing kemeja Kyungsoo. Memperlihatkan bra hitam yang membalut lembut payudara Kyungsoo. Saat hampir saja Jongin melepaskan kemeja Kyungsoo, tangan Kyungsoo mencegahnya. Membuat Jongin mendesah kecewa sekaligus penasaran.
"Jonghhiinhhh thuungghhuu ddhhulluuhh.." Ucap Kyungsoo sulit. Tubuhnya masih merasakan semua sentuhan Jongin yang membuat ia gila itu. Jongin hanya menatap mata Kyungsoo dengan rasa penasaran. Kyungsoo menetralkan nafasnya lalu mendorong tubuh Jongin lembut yang entah sejak kapan sudah berada diatasnya.
"Kau… berapa banyak wanita yang pernah kau tiduri sebelum aku Jongin?" Tanya Kyungsoo sambil menunduk. Ia takut. Sebenarnya ia sangat takut. Tapi mau bagaimana lagi? Ia penasaran. Sangat penasaran. Lagipula, Jongin calon suaminya sekarang. Kyungsoo berhak tahu hal sekecil apapun tentang Jongin.
Jongin menghela nafasnya panjang. Kenapa juga Kyungsoo harus bertanya seperti ini? "Aku memang brengsek. Sangat brengsek. Bahkan jauh lebih brengsek daripada Sehun. Tapi aku berani bersumpah aku tidak pernah melakukan sex dengan satu yeoja pun. Begitu juga dengan Sehun." Ucap Jongin lantang dan frontal.
"Ta-tapi.. kenapa Krystal bilang waktu itu bahwa banyak yeoja yang datang ke panti untuk meminta pertanggung jawaban pada kalian saat mereka hamil?"
"Karena mereka terobsesi kepada kami. Sudahlah.." Jongin mengaitkan kembali kancing-kancing kemeja Kyungsoo yang tadi ia buka. Namun lagi-lagi Kyungsoo menghentikan aktifitasny saat Jongin baru saja mengancingkan dua kancing dari bawah kemeja Kyungsoo.
"Jeongmal? Kau tidak berbohong?" Tanya Kyungsoo. Jongin langsung menatap manik Kyungsoo. Menatapnya dengan sangat yakin.
"Apa mataku terlihat seperti sedang berbohong?" Kyungsoo menggeleng. Tatapan mata Jongin menandakan bahwa ia serius dengan ucapannya. Menandakan bahwa Jongin bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Sedangkan Jongin sendiri mulai kembali mengancingkan kemeja Kyungsoo.
Kyungsoo menahan pergerakan Jongin untuk kedua kalinya saat tersisa 3 kancing lagi. "Kalau begitu.." ucap Kyungsoo mengantung. Dengan cepat Kyungsoo meraup bibir Kyungsoo dan mendesah… err.. sexy. Membuat libido Jongin kembali naik saat Jongin sudah bisa mengontrolnya.
"Jadikan aku milikmu sepenuhnya malam ini. Begitu juga dengan tubuhku. Manjakan aku, maka aku juga akan memanjakanmu malam ini. Pertama untukmu, dan pertama untukku." Desah Kyungsoo dengan sexy tepat ditelinga Jongin. Membuat Jongin bergedik merinding karenanya.
"As you wish baby." Ucap Jongin dan menggendong Kyungsoo ala bridal style ke dalam kamar Kyungsoo. Melanjutkan aktifitas panas mereka disana.
.
.
.
.
.
"Yak yak Do Kyungsoo diam eoh! Nanti tatanan rambut ini rusak!" Ujar seorang yeoja yang sedang menata rambut yeoja yang mungil dengan mata sebesar mata burung hantu.
"Kyungsoo-ya! Diam nanti jari-jarimu malah terluka!" Ujar yeoja lainnya memarahi yeoja mungil itu.
"Kau tak sepanik ini saat akan menikah dengan Kris. Malahan kau malas-malasan saat akan menikah dengan Kria dulu. Tapi kenapa sekarang malah sepanik ini eoh?" Akhirnya yeoja bermata bulat itu - Kyungsoo- berhenti bergerak gelisah. Bibirnya mengerucut imut.
"Ayolah, Luhan, Baekhyun, kalian tidak bercanda bertanya seperti itu? Aku akan menikah dengan pangeranku, bukan dengan penggantinya. Aish kalian ini." Desah Kyungsoo kesal dan kembali bergerak gelisah. Sedangka Luhan -yeoja yang menata jari Kyungsoo- dan Baekhyun - yeoja yang menata rambut Kyungsoo- hanya bisa menghela nafasnya panjang melihat Kyungsoo kembali bergerak gelisah.
"Selesaaaiii!" Teriak Baekhyun sambil melihat hasil karyanya di rambut Kyungsoo. Rambut Kyungsoo yang panjang itu dibuat menyerupai mawar oleh Baekhyun dengan beberapa helai yang tetap menggerai indah dibahunya. Membuat leher jenjang Kyungsoo tereskpos bebas begitu saja.
"Ah selesaai!" Timpal Luhan. Luhan yang bagian mempoles jari-jari Kyungsoo pun mendesah senang saat tugas terakhirnya selesai.
Kyungsoo berdiri dan melihat pantulan dirinya dikaca. Berputar ke kanan dan ke kiri mencari-cari kecacatan ditubuhnya. "Aahhh… aku tidak tahu ternyata secepat ini aku harus melepas adik kecilku yang sudah ku urus sejak ia berumur 10 tahun." Ujar Luhan sambil memperhatikan Kyungsoo. Matanya berairi dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman bahagia. Kyungso menghentikan acara mecari-keanehan-ditubuhnya dan menoleh ke arah Luhan yang berada dibelakangnya.
"Aku akan tetap bersamamu, Xi Luhan." Ucap Kyungsoo sambil memeluk Luhan. "Terima kasih karena telah mengurusku selama ini, Lu." Lanjutnya.
"Yak Do Kyungsoo jangan menangis! Make up mu luntur nanti!" Ucap Baekhyun menghentikan acara Luhan dan Kyungsoo. Dengan cepat, Baekhyun menghapus airmata Kyungsoo dan mempoles wajah Kyungsoo sedikit. Kyungsoo hanya tersenyum menanggapinya.
"Luhan, Baekhyun, apa aku sudah terlihat cantik?" Tanya Kyungsoo sambil kembali melihat pantulan dirinya di cermin.
"Kau cantik, Kyung. Sangat cantik. Aku yakin pangeranmu tidak akan menyesal karena telah memilihmu sebagai permaisurinya." Ujar Luhan.
"Benar. Bahkan tanpa kau harus berias pangeranmu itu sudah tergila-gila bukan denganmu? Tenang saja, Kyung." Balas Baekhyun mengamini.
.
.
.
"Tidak bisakah kau sedikit tenang?"
"Entahlah hyung. Aku gugup. Apa saat kau menikah dengan Baekhyun dulu kau merasa gugup?"
"Tidak. Kau berlebihan."
Dua namja bermarga Kim itu sedang berada diperjalanan menuju sebuah gereja yang nantinya akan menjadi saksi bisu tempat ia dan dambaan hatinya meresmikan pernikahannya. Satu namja dengan telinganya yang lebih lebar terlihat duduk tenang di balik kemdi. Berbanding terbalik dengan namja yang berkulit tan. Ia terlihat sangat panik dan gelisah disebelahnya. Sedangkan sang ayah yang ada dikursi belakang hanya tersenyum dan melihat apa yang sedang terjadi sekarang.
"Appa tidak sangka appa akan tinggal sendirian dirumah sebentar lagi." Sahut sang ayah. Membuat kedua putranya menghela nafasnya cukup panjang.
"Appa aku kan tetap di Seoul. Aku tetap dirumah appa. Appa ini.. aigoo~" Ucap putra tertuanya.
"Iya appa. Aku akan tetap pulang ke Seoul setiap bulannya nanti. Apa yang harus apa takutkan?" Sahut sang adik. Seolah keduanya tidak setuju dengan pernyataan appanya.
"Kalian tidak ingin mempunyai rumah sendiri? Tinggal dirumah tersebut bersama keluarga bahagia kalian? Apalagi aku tahu bahwa Baekhyun sedang mengandung anakmu, Yeollie-ah. Kau yakin akan tetap tinggal dirumah?"
"MWO?! Yak hyung?! Mengapa kau tidak padaku kalau Baekhyun sedang hamil eoh?! Kalau begitu kan aku tidak akan mengizinkan dia membantu Kyungsoo hari ini! Dia pasti lelah. Aishh~~" Yang dipanggil 'Yeollie-ah' pun hanya bisa tersenyum mendengar perkataan ayah dan adiknya itu.
"Appa, aku akan tetap dirumah bersama Baekhyun dan uri aegya. Aku hanya ingin berada dirumah. Dan aku yakin Jongin pun begitu jika tidak harus mengurus perusahaan Jepang. Dan Jongin….niatnya aku ingin memberitahumu dan Kyungsoo nanti. Tapi.. hhhh~~"Jelas namja yang dihantam pertanyaan itu. "Ayo turun. Kita sudah sampai." Lanjutnya.
"Hyung, appa…" Sang adik-Jongin- memanggil mereka saat hampir masuk kedalam kegerja. Yang dipanggil menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Jongin.
"Wae Jongin-ah?" Tanya sang ayah lembut.
"Aku.. aku… aku.."
GREP!
Tanpa bisa menyelesaikan ucapannya, Jongin dengan cepat memeluk ayahnya sambil menangis tanpa isakan.
"Ulljima.." Ujar sang ayah sambil mengelus punggungnya dengan lembut. Begitu juga dengan Chanyeol -sang kaka. Jongin melepaskan pelukannya dan mengusap matanya dengan punggung tangannya.
"Tetaplah jadi Jongin yang seperti ini arra? Jangan kecewakan Kyungsoo. Jangan pernah. Appa bangga padamu Jongin-ah. Sekarang bahagialah bersama pilihanmu." Tutur Tuan Kim lembut. Jongin mengangguk sambil tersenyum pasti.
.
.
Jongin sudah berada dialtar. Ia sedang menunggu permaisurinya yang baru saja memasuki gereja bersama sahabat-sahabatnya.
Permaisuri Jongin sudah melangkah perlahan bersama Sehun disebelahnya. Jongin tidak bisa memalingkan matanya walau hanya untuk sedetik. Dalam hati, Jongin selalu berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukan dirinya dengan bidadari cantik ini, Do Kyungsoo.
Jongin memperhatikan Kyungsoo baik-baik mulai dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Dari rambutnya yang dibentuk mawar dengan beberapa helai yang tetap digerai di bahunya. Lalu gaun putihnya yang mewah. Gaun putih tanpa lengan itu membuat bahu Kyungsoo terekspos bebas. Lalu dibagian pinggangnya melingkar indah kumpulan payet merah yang membetuk kelopak mawar. Gaunnya yang panjang menutupi kakinya namun tidak merusak keindahann disana. Dan saking panjangnya, gaun Kyungsoo itupun mempunyai ekor dibelakangnya.
Kyungsoo dan Sehun sudah berada didepan Jongin dan sang pendeta sekarang. Jongin tersenyum kecil pada Kyungsoo membuat Kyungsoo menunduk karena malu.
"Aku serahkan noonaku padamu Jongin-ah." Ucap Sehun sambil memindahkan tangan Kyungsoo ke genggaman Jongin. Ini adalah kali kedua Sehun menyerahkan Kyungsoo ke seorang namja. Tapi Sehun yakin. Ini adalah yang terakhir.
"Kau bisa percaya padaku, Hun." Ucap Jongin tegas. Sehun pun mengangguk dan mulai melangkah mundur meninggalkan Jongin dan Kyungsoo berdua di altar.
"Kau cantik, Soo." Ucap Jongin lembut.
"Kau juga tampan, Jongin." Balas Kyungsoo.
.
.
"Kalian sudah siap?" Ucap sang pendeta. Baik Kyungsoo dan Jonginpun mengangguk pasti. "Kalau begitu ikuti ucapanku. Dimulai dari Kim Jongin terlebih dahulu." Lanjut sang pendeta.
" Aku Kim Jongin. Aku bersedia mencintai Do Kyungsoo sepenuh hatiku. Akan mencintainya baik dalam suka maupun duka. Baik dalam senang maupun dalan susah. Aku akan tetap mencintainya sampai maut memisahkan kita." Ujar sang pendeta.
"Aku Kim Jongin. Aku bersedia mencintai Do Kyungsoo sepenuh hatiku. Akan mencintainya baik dalam suka maupun duka. Baik dalam senang maupun dalan susah. Aku akan tetap mencintainya sampai maut memisahkan kita." Ulang Jongin dengan yakin dan tegas. Membuat sang pendeta tersenyum simpul.
"Sekarang giliranmu, Do Kyungsoo." Ujar sang pendeta. Kyungsoo pun mengangguk.
"Aku Do Kyungsoo. Aku bersedia mencintai Kim Jongin sepenuh hatiku. Akan mencintainya baik dalam suka maupun duka. Baik dalam senang maupun dalam susah. Aku akan tetap mencintainya sampai maut memisahkan kita." Ulang Kyungsoo pasti dan yakin saat sang pendeta menuturkan janji untuk Kyungsoo. Lagi-lagi sang pendeta tersenyum simpul setelahnya.
"Kalian berdua telah resmi menjadi sepasang suami-istri mulai sekarang."
4 tahun kemudian
"Appaaaaa! Pallii!" Teriak seorang perempuan kecil berumur 3 tahun. "Appaaaa!" Teriaknya lagi memanggil sang appa.
"Yak! Insoo-ah!" Sahut seorang wanita berumur 30 tahunan yang sedang memasak sesuatu di dapur.
"Eomma… Appa kenapa belum bangun juga eoh? Huuh." Keluh anak yang dipanggil 'Insoo' itu. Membuat sang umma, tersenyum menatap anak satu-satunya itu.
"Pergilah ke kamar appamu dan bangunkan appamu. Ingat cara membangunkannya hm?" Tanya eommanya lembut. Insoo pun mengangguk imut. Ia mulai turun dari kursi meja makan dan berlari kearah kamar kedua orang tuanya.
"Appa… ireonaaa~~ Hari ini Insoo sekolah appa~~ Appa berjanji mengantarkan Insoo kesekolah bersama eomma~" Rengek Insoo sambil menggoyang-goyangkan tangann appanya.
"Ennggghhh.. sebentar lagi Sooie. Appa mengantuk." Jawab sang ayah setengah sadar. Laki-laki berkulit tan itu pun mulai memutar badannya membelakangi Insoo.
"Andwaeyo appa. Insoo akan terlambat nantinya." Rengek Insoo. Dengan perlahan, ia mulai menaiki ke ranjang dimana appanya tertidur pulas sambil memeluk gulingnya. "Appaaa~~" Rengek Insoo lagi. Tapi sang ayah pun enggan menjawab.
CHU~~
Insoo mencium pipi ayahnya. Ia sudah kehabisan akal. Ia tahu, hanya dengan seperti inilah appanya itu akan bangun. Padahal, Insoo sangat malas harus mencium appanya itu. Menurut Insoo wangi appanya itu aneh. Oh ayolah Insoo kau tidak tahu kalau wangi appamu itu bisa membuat eommamu tergila-gila?
"Sebelah kirinya belum." Ujar sang ayah sambil memutar badannya menghadap Insoo. Memamerkan pipi kirinya yang belum dicium Insoo.
"Andwaeyo appa. Ireonaa~~" Rengek Insoo lagi sambil mempoutkan bibirnya. Matanya sudah berair saking kesalnya. Tapi ia ingat, appanya bilang ia tidak boleh menjadi yeoja cengeng. Huh, memiliki sifat lembut yang sama persis seperti sang eomma memang sangat sulit dikontrol oleh Insoo.
"Kalau begitu appa ingin tidur sebentar lagi. Baru appa mau mengantarmu." Goda sang ayah. Sebenarnya, ayahnya ini sudah bangun daritadi. Tapi, ia sengaja tetap berada dikamarnya. Karena ia tahu, hanya dengan seperti inilah ia bisa mendapatkan ciuman gratis dari anaknya. Yah memang, jika bukan kemauan Insoo sendiri, appanya ini harus menuruti semua kemauan Insoo jika ingin mencium Insoo.
CHU~~
Terpaksa, Insoo pun menuruti kemauan appanya itu. Sambil terus mempoutkan bibirnya Insoo melipat kedua tangan mungil didadanya.
"Sudah!" Ucap Insoo dengan nada ngambeknya. Membuat sang ayah terkekeh geli melihat sikap putri kesayangannya.
"Oke tuan putri. Tunggu diluar ne? Appa ingin mencuci muka dulu. Kau mau melihat appamu ini tampil sangat tampan bukan?" Goda ayahnya lagi.
"Aku kesal!" Ucap Insoo masih dengan ngambeknya. Dengan cepat, ayahnya itu turun dari ranjang dan menggendong Insoo berputar.
"Kesal kenapa eoh?" Tanya sang ayag lembut sambil mengelus pipi jagoannya.
"Kenapa Insoo memiliki appa yang senang sekali membuat Insoo kesal huh?! Appa jarang dirumah. Hanya setiap bulan appa pulang kerumah. Membiarkan Insoo dan eomma berdua dirumah. Meskipun kadang Yeolie ahjussi dan Baekie ahjumma datang bersama Chanhee oppa, tetap saja aku ingin appa berada dirumah setiap hari!" Jelas Insoo polos tentang apa yang ia rasakan selama ini. Meskipun baru berumur 3 tahun, Insoo memang sudah pintar berbicara. Jangan tanyakan kenapa. Otak encer milik sang eomma menurun persis kedirinya.
"Bukankah Sehun oppa dan Luhan ahjumma selalu datang kesini setiap hari? Sehun oppa bilang dia yang akan menjadi appamu jika appa tidak ada. Apa Sehun oppa tidak mengerjakan tugasnya dengan baik?" Tanya sang ayah sambil mendudukan Insoo di tepi ranjang dan mensejajarkan posisinya dengan Insoo.
"Aku tidak butuh Sehun oppa yang menjadi appaku! Aku butuh appaku yang sesungguhnya! Kim Jongin! Bukan Oh Sehun! Kim Insoo butuh Kim Jongin untuk menjadi appanya setiap hari tanpa ada gantinya!" Ujar Insoo kepada ayahnya yang kini telah diketahui namanya, Kim Jongin. Dengan cepat, Jongin memeluk aegyanya itu.
"Maafkan appa ne? Kau tahu kan ini semua juga appa lakukan untuk menghidupimu dan eomma? Appa akan lebih sering pulang jika kau meminta. Telfon appa jika kau membutuhkan appa, dan wusshhh~ appa akan pulang secepat roket yanh terbang ke angkasa." Jelas Jongin. Insoo pun mengangguk didalam pelukan Jongin.
"Appa lepas. Bau appa aneh. Cepat mandi appa. Nanti Insoo terlambat."
"Kau masuk sekolah jam berapa memangnya?"
"Jam 10 appa."
"Sekarang jam berapa?"
"Jam 8 appa."
.
.
Inilah keluarga kecil Kyungsoo dan Jongin. Ditahun pertama pernikahannya, Kyungsoo melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Kim Insoo oleh Jongin.
Baik Kyungsoo atau Jongin sangat menyayangi Insoo. Kenapa? Karena hanya Insoolah yang akan menjadi anak mereka satu-satunya. Masih bertanya kenapa? Saat hamil Insoo dulu, Kyungsoo divonis mempunyai kista dalam rahimnya. Dokter menyarankan Kyungsoo agar menggugurkan kandungannya. Namun, Kyungsoo tidak melakukannya. Sampai akhirnya, saat melahirkan Insoo lahir premature dan rahim Kyungsoo harus diangkat. Tapi yang terpenting dari semuanya, Insoo lahir tanpa cacat sedikitpun.
Insoo tumbuh cepat dan menjadi anak yang cukup dewasa untuk anak bisa dipungkiri, Insoo memiliki wajah yang sangat cantik. Insoo memiliki mata elang milik Jongin. Insoo juga memiliki bibir tebal Jongin. Bersyukurlah karena kulit Insoo seputih susu persis dengan milik Kyungsoo. Dan juga sifat Insoo yang luar biasa lembut persis dengan milik Kyungsoo. Insoo adalah sosok sempurna dimata Jongin dan Kyungsoo.
"Bagaimana sudah bangun appamu?" Tanya Kyungsoo yang masih sibuk membuat sesuatu di dapur. Insoo hanya berdehem sebagai jawaban.
"Eomma, Insoo tadi bilang pada appa kalau Insoo ingin appa tetap dirumah setiap hari." Ujar Insoo yang sedang berusaha menggapai kotak gummy di meja makan.
"Lalu?"
"Tidak bisa. Appa tidak bisa. Tapi appa berjanji akan pulang secepat kilat jika aku minta appa untuk pulang." Jelas Insoo yang masing saja meraih kotak gummynya diujung meja makan.
"Bukankah kau memang sudah tau tentang itu hm? Mengapa ditanya lagi?" Tanya Kyungsoo lembut.
"Karena aku— ah Insoo lupa melakukan—"
"Melakukan appa hm?" Potong Jongin yang tiba-tiba datang dengan rambutnya yang sedikit basah.
"Pinky promise?" Ujar Insoo sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Jongin. Jongin yang paham maksudnya pun segera menautkan jari kelingkingnya ke jari Insoo.
"Pinky promise." Ucap Jongin pasti. Sedangkan Kyungsoo hanya tersenyum melihat dua nyawanya itu. Demi Tuhan, Kyungsoo berjanji akan menjaga dua nyawanya tersebut.
.
.
.
.
.
Pada dasarnya, semua ini terjadi bukan karena takdir atau ketidak sengajaan. Semua ini terjadi karena memang mempunyai alasannya.
Pada dasarnya Tuhan memang mendengar semua doa-doa setiap makhluknya. Bahkan, tanpa perlu bicarapun, Tuhan tau apa yang sedang kau fikirkan.
Pada dasarnya, Tuhan bukannya tidak mewujudkan semua doa-doamu. Hanya saja, Tuhan tau mana yang terbaik untukmu. Jalan-Nya atau doamu.
Sadar atau tidak, Tuhan tidak pernah benar-benar memberimu apa yang kau inginkan. Tapi Tuhan memberikan apa yang kau butuhkan. Tuhan bukannya tidak bisa mengabulkan permintaanmu, hanya saja Tuhan tau betul mana yang terbaik untukmu. Kau tidak bisa untuk menyalahkan siapapun saat keinginanmu tidak dapat diwujudkan, namun percayalah, dibalik itu semua pasti ada makna yang tersimpan.
Because everything happen for a reason.
END
AKHIRNYA INI SELESAI JUGAAAAAA! :'D
Aku gak mau banyak bacot kali ini, karena... Kris eh maksud aku Wu Yifan. Aku lagi galau tingkat kabupaten.
Intinya, aku mau berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada kalian semua para readersku yang unyu-unyu bolo-bolo muah-muah, tanpa kalian ff ini tidak ada artinya sama sekali. /bow/
Terus aku juga mau berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada pihak-pihak yang telah mendukung jalannya ff ini. Ghamsahamnida /bow/
Lalu untuk para pembaca bayanganku terima kasih karena telah menyempatkan waktu untuk membaca ini walaupun tanpa jejak /bow/
dan yang paling penting dari semuanya...
TERIMA KASIH KEPADA REVIEWERS KU YANG PALING AKU HORMATI GURUMU SAYANGI TEMAN ITULAH TANDA NYA KAU MURID BUDIMAN~~~~ KALIAN LUAR BINASAA~~~~ EH MAKSUD AKU KALIAN LUAR BIASA~~~~~
Last for this ff...
GHAMSAHAMNIDA YEOROBUN /BOW/BOW/BOW/
aku punya cerita tapi gatau mau siapa castnya. next mau chanbaek, hunhan atau kaisoo lagi? vote yah^^
Annyeong~~
.
.
Ernas
