Setelah sekian lama saya menelantarkan fic yang bahkan baru dimulai ini. Sambutlah chapter kedua! #dibom

Naruto © Masashi Kishimoto

This fic is mine, just borrowed charas :3

Enjoy!

.

.

.

2 weeks ago.

Konoha International High School. Sekolah yang dipenuhi anak-anak berbakat, berotak diatas rata-rata, dan tentunya berkantong tebal.

"Kenapa kita harus ditugaskan mengambil benda merepotkan itu sih." Terdengar gerutuan seorang lelaki berambut pirang pada teman sebelahnya. Temannya hanya memutarkan mata onyxnya bosan.

"Urusai,Naruto. Kau tau Orochimaru seperti apa." Gumamnya malas, sesekali menguap dan mengucek-ngucek matanya. Yah,disekolah sebagus apapun, tetap saja ada oknum yang berIQ tinggi dengan tingkat kemalasan yang sama tingginya juga.

"Kau tau sendiri Sasuke, kelas kita sampai ke Lab Kimia itu jauh pake banget! Belum lagi kita harus menaiki tangga-tangga itu." teriak Naruto lebay. Memang sekolah ini terdiri dari 3 bangunan yang membentuk huruf U dengan 3 lantai pada masing-masing bangunan dan lapangan di tengahnya. Bangunan pertama untuk kelas 1 dan 2. Bangunan kedua untuk kelas 3. Dan bangunan terakhir untuk keperluan yang lain –Lab,Ruang serba guna,dsb- beserta ruangan guru dan staff.

"Berhenti mengoceh kita sudah sampai." Kata Sasuke malas. Lalu memutar handel pintu dan memasuki Lab Kimia sekaligus ruangan khusus Orochimaru.

"Cepat ambil barang merepotkan itu dan segera kembali kekelas." Kata Naruto sambil mengorek-ngorek laci sementara Sasuke mendengus lalu membuka lemari untuk mengambil beberapa zat kimia yang diminta Orochimaru.

"Hey. Lihat apa yang kutemukan." Kata Naruto sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari laci yang dikoreknya barusan. Lalu meletakkannya di atas meja.

"Apa yang kau lakukan mendokusai. Jika kau ketahuan Orochimaru sedang mengorek lacinya, tamatlah riwayat kau." Kata Sasuke memperingatkan. Naruto acuh. Lalu mulai membaca judul dari kertas itu.

"X-Project? Apa itu?" gumam Naruto penasaran. Lalu mulai membaca isinya dengan kening mengkerut. Dari tanggalnya sepertinya project ini sudah dibuat beberapa bulan yang lalu dan akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Virus-X untuk membuat otak murid semakin cerdas dan membuat otak bekerja secara maksimal.

Hanya itu yang bisa dicerna Naruto dengan baik, karena selanjutnya dibahas tentang virus-virus dan bahan-bahan kimia lain yang akan digunakan. Sasuke mendengus kesal.

"Cepat bereskan itu dan kembali kekelas,Naruto. Aku tidak akan menanggung kalau Orochimaru tau kau mengorek lacinya." Kata Sasuke lagi sambil menguap lalu bergegas meninggalkan Naruto.

"O-oi teme tunggu aku!" teriaknya lalu bergegas memasukkan kertas-kertas itu serapi mungkin ketempat asalnya. Lalu menyusul Sasuke.

Blam.

Dan inilah awal dari segalanya.

.

.

.

"Ne,Sasuke-kun. Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya gadis dengan mata rembulan itu. Yang ditanya menolehkan kepalanya dan mendesah malas.

"Hanya melihat orang bermain basket,Hinata." Gumamnya pelan. Gadis yang dipanggil Hinata tadi hanya tersenyum kecil lalu berdiri disamping Sasuke. Mereka berada dilantai 3 di gedung kedua. Sasuke menopangkan dagunya.

"Ada yang sedang kau pikirkan,Sasuke-kun?" tanya Hinata pengertian sambil mengusap wajah Sasuke. Tentunya selama 2 tahun menjadi kekasih Sasuke Uchiha, Hinata bisa membaca raut wajah kekasihnya.

Sasuke mendesah berat. Lalu menopang wajahnya –lagi- "Entah kenapa aku terus-terusan memikirkan X-Project itu." Sasuke memang menceritakannya kepada Hinata tentang penemuan Naruto di ruangan proyektor itu semalam. Entah kenapa ia merasakan feeling yang kurang baik tentang hal ini.

"Apa kau tidak berpikir itu aneh,Hime? Sekolah kita sudah unggul, bahkan menjadi nomor 1 dijepang. Untuk apalagi membuat virus-virus tidak jelas itu untuk di suntikkan kepada kita." Kata Sasuke mengeluarkan pendapatnya. Hinata hanya bisa menggangguk-angguk.

"Dan lagi, mereka membuat Virus bukan Vitamin."

Sasuke menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang barusan berbicara. Ternyata Naruto yang datang bersama Sakura,gadis yang merupakan ketua klub judo perempuan sekaligus kekasihnya.

"Aku juga merasakan feeling kurang baik,teme." Gumam Naruto pelan. Sejauh ini hanya mereka berempat yang tahu tentang project tidak jelas itu. "Apalagi yang mengusulkannya si Ular tua bangka itu. Kau tau siapa." Terlihat sekali Naruto sangat tidak menyukai senseinya yang lebih mirip ular daripada manusia itu. Sasuke mengeryit.

"Orochimaru yang mengusulkannya?" kata Sasuke. Memang,Orochimaru adalah guru Kimia mereka. Mata onyxnya menangkap sesuatu yang janggal dilapangan. Lee? Kenapa cara berjalannya terseok-seok? Tidak biasanya. Batin Sasuke sambil memperhatikan Lee, anak kelas sebelah yang selalu energik itu terlihat sedang berjalan gontai.

"Teme, apa yang kau lihat? Lihat Hinata-chan cemburu tuh." Ledek Naruto, sedangkan Sakura hanya tertawa melihat ekspresi terkejut Sasuke. Kurang ajar,mereka kira aku pecinta sesama jenis apa. Batin Sasuke berang. Hinata hanya terkikik pelan.

Sayup-sayup terdengan lolongan histeris dari arah lapangan. Sontak keempat kepala itu langsung melihat kearah lapangan. Terlihat Lee sedang menarik Kiba yang sedang bermain basket bersama Shino,Sai dan beberapa orang lainnya, lalu mengigit bahunya sampai mengeluarkan darah yang cukup banyak.

Hinata terkesiap,Sakura menutup mulutnya terkejut. Sasuke dan Naruto langsung bersiap lari kebawah untuk melihat keadaan.

"Hinata,Sakura, Jangan terpisah. Cari benda yang bisa kalian pakai untuk melawan. Apapun itu!" teriak Sasuke lalu melesat kebawah bersama Naruto. Hinata hanya bisa mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

"Sa-Sakura-chan apa itu? Apa yang terjadi?" gadis yang biasanya selalu tampil ceria dan semangat tersebut hanya bisa mematung ketika melihat Kiba yang tadinya terkulai pingsan di gigit Lee bangun kembali. Keadaannya sama persis dengan Lee.

"Tidak tahu Hinata, yang pasti kita harus mencari barang untuk digunakan nanti. Sepertinya feeling buruk Sasuke dan Naruto terjadi." Desis Sakura.

.

.

.

Sasuke PoV

"Mungkin ini feeling buruk kita dari semalam. Tak kusangka. Apa-apaan ini,teme?!" desis Naruto pelan ketika kami sampai dilapangan. Ceceran darah. Kulihat Kiba yang tadinya tergolek lemah dan sepertinya sudah tidak bernafas lagi bangkit. Matanya putih, wajahnya memucat, dengan alirah darah merah pekat merembes di bahunya. Seperti di dalam film-film zombie yang biasa kulihat bersama Naruto.

Flashback

"Dobe, entah kenapa aku kepikiran zombie." Gumamku pelan. Ya, seperti di film-film. Ilmuwan yang membuat virus-virus tidak jelas, disuntikkan kepada kelinci percobaannya, gagal dan menjadi zombie."Virus itu, aku khawatir akan berakhir seperti film ini." Kataku sambil menatap layar didepanku yang menayangkan beberapa manusia yang sedang berlari menghindari zombie-zombie ganas yang ingin memangsa mereka.

"Teme kau terlalu banyak berkhayal. Mana mungkin hal itu bisa terjadi." Dengus Naruto menahan tawa. Sialan. "Kemana teme yang mengedepankan logika? Jelas-jelas zombie itu cuma di film. Mungkin kau harus kurangi menonton film zombie seperti ini."

Sekali lagi. Sialan.

"Mudah-mudahan cuma feeling saja." Kataku sambil menyandarkan dipinggiran kasur.

Naruto mendengus lagi. "Sejujurnya firasatku juga kurang baik. Tapi ya mana mungkin ada zombie. C'mon! Itu hanya di film. Kalau ada pun, kita pasti sanggup melawannya. Ne,ketua?" serigai Naruto sambil meninju bahuku.

Siapa yang tau kami benar-benar menghadapi mahkluk itu kedepannya.

End Flashback

"Yokatta na,Kiba. Daijoubu ka?" tanya Sai yang sepertinya tadi berusaha membangunkan Kiba dengan menepuk-nepuk pipinya. Tanpa aba-aba kiba langsung menarik wajah Sai, lalu mengigit pipinya sampai dagingnya terlepas. Sai menjerit keras. Disebelah kanan Lee sedang menggerogoti Shino yang berusaha keras melepaskan diri dari Lee.

"Shit. Cepat kembali keatas dan segera menyingkir dari tempat ini,Naruto." Kataku sambil menarik bahunya yang tegang. Lalu Naruto mengikutiku berlari keatas dengan wajah pucat pasi.

Sial, keadaan dibawah sudah parah, sudah banyak yang terinfeksi. Tidak salah lagi, ini pasti sama seperti zombie-zombie yang biasa ku tonton itu! Pertanyaannya. Siapa yang membuat ini semua dan apa tujuannya?

Ketika sampai diatas, kulihat Sakura sedang menenangkan Hinata yang ketakutan melihat adegan tidak wajar tersebut. Kurangkul bahu Hinata, selanjutnya ia menyandar di dadaku sambil mencicit pelan.

"Sasuke-kun,apa yang terjadi?" tanyanya dengan tubuh gemetar. Aku hanya bisa mendesah pelan. Lalu menepuk kepalanya. "Ayo, kita cari alat untuk melawan mereka." Kataku pelan, lalu menatap Naruto dan memberi isyarat untuk mengikutiku.

"Tunggu! Sasuke,bisa kau jelaskan apa yang sedang terjadi?" teriak Shikamaru menghentikan kami. Sepertinya ia dan kedua temannya –Chouji dan Ino- juga melihat apa yang terjadi. Seluruh sekolah menjadi hiruk pikuk. Ribut dan kacau.

"Nanti saja penjelasannya! Cepat ke gedung 3 dan cari alat-alat untuk melawan mereka!" kata Naruto sambil memimpin jalan. Beruntung setiap gedung ada semacam jembatan yang menghubungkan 1 gedung ke gedung yang lain. Kami bergegas menuju gedung 3.

Menuju ruang memanah.

.

.

.

Pojokan Author(?) : Maafkan sayaa semuanya karena lupa mem-post fic ini! biasalah anak (sok) sibuk,apalagi semalem baru aja liat kelulusan dan tebak! ya dong, gue lulus. Masa ngga.

Okelah daripada saya asik-asik curcol gaje, lebih baik ngebalesin reviews. Maaf ya author agak males balas pm(?). Yang belum sempet author bales lewat PM,lain kali baru dibales lewat Pm, kali ini disini dulu ya #kedipmata #sharinganed(?)

EsterhazyTorte : Iya ini baru dilanjutin maafya! #geboked

Sora : Pairnya udah tentu SasuHina dong Sora-san :3 dan NaruSaku tentunya.

Siapa Ini : Hai siapa ini-san(?) saya usahakan jeng oro nanti jadi zombie ya,muhuhuhu #ketawasetan

Guest : #kabur

At least, makasih semua reviewnya! #tebarcium #dirajammassa

-Kyu-