Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : Many typos, maybe.
DLDR! Enjoy this story.
.
.
"Hinata-chan. Bawa beberapa anak panah dan busur." Kataku pada Hinata. Ya,dia ketua klub memanah dan kemampuan memanahnya tidak bisa di ragukan lagi. Mungkin panah bisa berguna dalam pertarungan jarak jauh.
Hinata mengangguk lalu mencari anak panah dan busur. Ketika cukup, kami bergegas menuju klub kendo, Klub yang diketuai olehku dan Naruto sebagai wakilnya. Mengambil beberapa katana. Masing-masing mendapat 1. Sebelum ini, kami sudah cukup banyak melewati latihan menggunakan pedang,walaupun pedang kayu. Dan inilah saatnya menggunakan pedang asli. Kuakui aku cukup gemetar,begitupun Naruto.
Kami memutuskan untuk pergi keruangan yang cukup aman di lantai 3. Ruangan proyektor. Biasanya ruangan ini dipakai untuk meeting sesama guru, ataupun OSIS.
Setelah menutup pintunya rapat dan menaruh meja kursi sebagai penahan, kami mulai duduk dilantai. Membahas masalah yang sepertinya akan berat dijalani anak-anak seusia kami.
Kutatap Hinata, wajahnya yang pucat semakin pucat karena ketakutan. Buku jarinya memutih mencengkram busurnya. Kupegang tangannya,berharap bisa mengurangi ketakutannya.
Naruto yang memijat pelipisnya dan Sakura terduduk lemah. Shikamaru tetap menguap namun matanya menyiratkan kebingungan. Chouji hanya bisa terdiam. Ino yang terisak-isak.
"Dengar." Kataku perlahan, membuat 6 pasang mata itu langsung tertuju padaku. Aku menghela nafas pelan,berat. "Yang kita hadapi saat ini, tidak lebih dari seonggok mayat hidup." Kurasakan semua terkesiap kecuali Naruto. Dia sudah pasti mengetahui hal ini.
"Jangan segan-segan menghancurkan kepalanya." Kataku lagi.
"Kuso! Siapa yang membuat hal ini terjadi!" kata Naruto sambil mengacak rambutnya frustasi. Sakura mencoba menenangkannya dengan menepuk pundaknya pelan.
"Apa kita akan mati? Hiks. Aku tidak mau mati!" pekik Ino pelan sambil mengucurkan air matanya. Shikamaru hanya mendesah pelan. "Bisa kau jelaskan hal ini, Sasuke, Naruto?" tuntutnya.
"Semua ini pasti berawal dari X-Project itu." Seru Naruto lantang dengan tatapan marah. Aku tersentak. Benar juga. Bisa jadi virus itu malah bermutasi dan mengambil alih kinerja otak manusia.
"Mungkin yang dikatakan Naruto benar. Mungkin saja virus itu bermutasi, berkembang terlalu pesat, sehingga mengambil alih dan merusak kinerja otak manusia." Kataku menyuarakan pendapat yang barusan terlintas di otakku. Shikamaru mangut-mangut. Mencoba menganalisis dengan IQ diatas 200nya.
"Kurasa Sasuke benar." Desis Shikamaru geram. Seharusnya sekarang ia sedang tidur nyenyak didalam kelasnya. Bukannya harus terjaga dan waspada setiap saat untuk melawan mayat hidup yang merepotkan itu.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Tidak mungkin kita selamanya disini." Tanya Naruto. Sekilas terdengar suara geraman-geraman dan pekikan dari arah luar. Shikamaru terlihat berpikir keras.
"Jika ini benar seperti zombie-zombie yang biasa di movie.." jedanya pelan. "Berarti sebisa mungkin kita harus tidak menimbulkan suara, sekecil apapun. Kurasa mereka tidak bisa mengerjar apabila kita berlari cukup cepat, seperti yang tadi kalian lihat. Mereka hanya berjalan terseok-seok dan dengan kekuatan yang sepertinya tidak bisa dibilang kecil mereka akan menarik kita untuk dimakan." Jelas Shikamaru panjang lebar. Ino dan Chouji bergidik ketakutan.
Kutatap Ino dan Chouji, sepertinya mereka akan membawa masalah. Ino yang cengeng dan suara lengkingannya yang memekakkan telinga, memberi peluang besar untuk kami di serang mayat-mayat berjalan itu apabila ia tidak sengaja memekik. Chouji yang agak berisi itu juga. Selain lemah berolahraga,ia juga mudah kelelahan.
Aku mendesah pelan, sedikit frustasi. Kulirik Hinata yang masih terdiam. Walaupun terlihat seperti anak lemah,ia memiliki stamina yang setara dengan lelaki. Begitupun Sakura. Berhubung mereka ketua klub memanah dan judo perempuan,sepertinya aku masih bisa bernafas lega.
Untuk sementara.
"Ada yang membawa mobil kesekolah?" tanyaku. Berhubung aku hari ini membawa motor ninja hitamku, sudah pasti kendaraan satu itu dicoret dari daftar. Lebih baik menaiki mobil daripada ketika menyetir motor tahu-tahu kami sudah disergap dengan tidak berperikemanusiaan oleh zombie-zombie ganas itu.
Pertanyaanku disambut gelengan dari Naruto,Sakura,Ino dan Chouji. "Mobilku baru masuk bengkel, kau tau sendiri teme." Naruto misuh-misuh ketika mengingat mobilnya yang tidak sengaja menabrak tiang listrik ketika mau kencan dengan Sakura beberapa hari yang lalu.
"Aku bawa." Gumam Shikamaru. Fyuh,mungkin keberuntungan masih berpihak kepada kami. Sekarang tinggal bagaimana kami keluar dari ruangan ini dan menuju tempat parkiran.
Ku intip keadaan diluar lewat jendela yang kebetulan menghadap koridor. Ruangan disekolah ini memang 'sedikit' lebih mewah daripada sekolah-sekolah lain. Bukannya menyombongkan sekolah kami, tapi memang sekolah kami agak-agak mewah. Dengan jendela besar yang di tutupi tirai,seperti ruangan-ruangan mewah gimana gitu. Sudahlah anggap saja aku baru menyombongkan diri. Oke itu gak penting banget.
Ku intip sedikit melalui celah-celah tirai. Iya, mana mungkin kusibakkan seluruh tirai lalu berpose seperti orang tolol dan berkacak pinggang lalu berkata : "Wahai para zombie,aku adalah Chicken Rider! Saudara jauhnya Kamen Rider!" setelah aku berkata seperti itu sudah pasti aku langsung menjadi seonggok daging gaje karena diserbu para zombie cewek ganas yang bahkan sudah matipun masih terpesona karena kegantenganku yang amat-sangat-paling ganteng banget ini, lalu diserbu zombie cowok ganas yang iri karena kegantengan tiada taraku.
Ah, melantur lagi.
Kulihat orang-orang yang selamat berlarian kesana-kemari, bertubrukan dan ada pula yang sedang dimangsa. Aku bergidik. Bukan,bukan takut. Ternyata si baka dobe sedang mencoba mengintip juga di belakang ku, hembusan nafasnya membuatku bergidik. Oke readers-tachi. Ini bukan yaoi.
Kembali ke scene.
Sekarang bagaimana caranya kami dapat keluar? Keadaan sudah porak poranda. Sedangkan tempat parkiran itu jauhnya pake banget. Aku menghela nafasku, agak galau. Eh?
Aku kembali duduk bersama mereka.
"Nah, ada yang punya ide bagaimana kita keluar dan menuju mobil?" tanyaku memecah keheningan. Naruto mangut-mangut. Hinata menaruh jari telunjuknya di dagu. Sakura menjambak rambutnya. Ino menjambak juga. Chouji sok berpikir sambil makan keripik kentangnya yang entah kenapa gak habis-habis. Shikamaru juga katanya sedang berpikir. Tapi please deh, apa perlu mikir sambil ngupil? Udah gitu upil nya disentil kemana-mana lagi. Aku bergidik geli ketika sentilannya mendekati ujung jempol kakiku.
"Ah, sudahlah. Lebih baik kita keluar sekarang, lalu pergi ketempat parkiran. Selama perjalanan,kalau lihat zombie pukul saja kepalanya. Bereskan? Aku takut kalo nunggu lebih lama lagi nanti zombienya makin banyak." Kata Naruto. Hm,ada benernya juga sih.
"Kita lewat belakang gedung 3 aja. Sekalian ngintip-ngintip keadaan tempat parkiran sebelum kesana." Usul Ino. Kami hanya mangut-mangut. Ini semacam gamble. Dengan hidup mati kita sebagai taruhannya. Kuhembuskan nafas berat. Untungnya udah sikat gigi.
"Oke. Sebisa mungkin jangan bersuara. Jangan lambat. Jangan sampai terpisah. Apapun kondisinya." Kataku mengultimatum. Lalu kami semua bersiap memegang senjata kami masing-masing. "Dalam hitungan ke-3 aku buka pintunya, siap-siap." Kataku lagi sambil memegang handel pintu. Iya, aku sedikit takut duluan soalnya. Sedikit aja kok.
"1." Kurasakan semuanya mulai tegang.
"2." Ino merapatkan tubuhnya ke Shikamaru. Sedangkan Chouji memegang katanya erat-erat. Naruto merangkul Sakura untuk mendekat, Hinata berdiri disebelahku dengan raut wajah cemas.
"3."
Klik.
"Graaa!"
Hanjerrr! Jantungku langsung mencelos dan ngacir tanpa mengajaki tuannya begitu mendengar auman berjigong bau dari zombie yang menyerbu masuk. Aku langsung menebas kepala zombie itu dengan katanaku dengan gaya yang kece badai pake banget. Kulihat Naruto menusuk-nusuki kepala zombie yang satu lagi dengan brutal. Disebelahnya Sakura menonjok-nonjoki zombie yang sudah terkapar tidak berdaya, aku sedikit bergidik ngeri melihat aksi brutal sepasang kekasih barbar itu. Hinata hanya memanah zombie-zombie yang datang dengan busurnya. Wajahnya begitu tenang,beda dari yang tadi. Membuat abang Sasuke ini jatuh cintrong lagi.
Cih,melantur lagi.
Shikamaru juga dengan sigap menusuk kepala zombie-zombie yang datang, disebelahnya Chouji membekap mulut Ino yang kapan saja bisa mengeluarkan suara ultrasonic.
Setelah membereskan zombie-zombie yang menyerbu masuk, kusuruh kepala Naruto melongok keluar untuk memastikan apakah ada zombie yang sedang berjalan-jalan atau ada yang sedang menyeruput teh setelah memangsa manusia lainnya. Kenapa? Gak mungkin aku mau mengorbankan kepalaku yang ada wajah kece ini. Bisa-bisa aku di juluki si kece tanpa kepala tetapi tetap kece.
Crap. Sepertinya aku hobi melantur lantaran frustasi akan keadaan ini. Atau karena si Author memang mencoba meng-ooc-kan aku? Cih. Padahal awalnya aku udah dibikin serius badai, sekarang dinista badaikan dia.
Naruto mengangkat jempolnya. Bukan,bukan untuk menyetop taxi. Tentu saja untuk memberitahukan bahwa keadaan diluar aman. Hembusan nafas lega keluar dari 14 lubang hidung dan 7 mulut kami,yang untungnya tidak bau-bau amat.
Kuputuskan untuk sok keren, walaupun memang sudah keren. Aku akan memimpin jalan.
"Buruan sebelum kita diserbu lagi." Kataku datar lalu menggandeng Hinata. Iya, Sasuke juga manusia keles, takut itu wajar. Lalu kami keluar dan menyusuri koridor yang dulunya bersih sekarang sudah bertaburan darah-darah berbagai macam orang dan mantan orang.
Tap. Tap. Tap.
Kami melangkahkan kaki kami sehening mungkin. Menuju tempat parkiran.
.
.
.
Kami sampai di pinggir gedung ketiga tentunya dengan berbagai perlawanan kepada beberapa mantan manusia yang ingin menyergap kami. Yang bikin aku jengkel, fansgirls ku tetap, catat, TETAP brutal ketika melihat wajahku. Cih. Padahal mereka kan udah mantan manusia.
Sedikit terengah-engah kecapekan. Kuberi isyarat untuk tetap diam kepada konco-koncoku dibelakang. Hinata disampingku tentu saja. Bukankah sudah kubilang? Sasuke juga manusia, punya rasa punya hati,bisa takut juga keles.
Perlahan kuintip keadaan tempat parkiran dengan sebelah mataku. Iya, aku tetap tidak ingin menjadi si-ganteng-dan-kece-tanpa-kepala-tapi-tetap-kece. Mungkin julukan si-ganteng-dan-kece-tanpa-sebelah-mata terlihat lebih keren dibanding tanpa kepala.
Cih. Keadaan ditempat itu sungguh mengerikan. Bahkan lebih mengerikan daripada didalam sekolah. Mungkin dikarenakan murid-murid saling berdesakan ingin keluar sedangkan gerbang tidak dibuka, sehingga mereka malah saling meng-infeksi satu sama lain disana.
Ada yang tangannya buntung sebelah. Tunggu,itukan Hidan-senpai. Senior kami yang sekelas dengan kakak-keriput-ku. Disana dia sedang mengaum-ngaum gak jelas. Semoga saja teman-teman zombienya tidak mati untuk kedua kalinya karena kebauan jigongnya itu. Cih, bagaimana dengan keadaan si Keriput Itachi-nii dan si Sadako berambut coklat alias Neji ?
"Teme,apa kau melihat Kyuubi-nii?" tanya Naruto pelan, tersirat kekhawatiran di wajah blasterannya itu. Hei, walaupun dia blasteran,tetap saja Sasuke lebih kece. Kusapu pandanganku kesegala penjuru parkiran yang luasnya naujubileh.
Nihil.
Kugelengkan kepalaku pelan. "Itachi dan Neji juga tidak ada." Kataku sambil melirik Hinata yang memasang wajah super khawatir yang entah kenapa terlihat oh-sangat-imut-Saskay-ingin-menerkammu. Kukendalikan diriku karena bagaimanapun juga, Fic ini tidak bergenre romance.
"Gaara." Gumam Sakura pelan. "Bagaimana dengan Gaara?" tanya Sakura khawatir dengan sepupunya. Kugelengkan kepalaku.
"Sudahlah, nanti saja baru kita pikirkan mereka setelah keadaan kita aman." Terdengar egois, tapi apa kami punya pilihan? Tidak tentu saja. Zombie-zombie itu tentu gak mau tau kami ingin mencari sebiji manusia keriput, sebiji sadako, sebiji rubah galak dan rakun kekurangan tidur berambut merah. Mencari mereka dalam keadaan tanpa pelindung apa-apa seperti ini namanya bunuh diri pake banget. "Aku yakin mereka pasti bisa menyelamatkan diri." Kuyakinkan mereka. Itachi senior kami di klub Kendo. Sedangkan Neji si Sadako senior di klub Judo, kemampuan bertarung mereka tidak bisa dipandang remeh. Lalu si barbar Kyuubi dan Gaara, Kyuubi anggota reguler Judo, dan Gaara anggota klub menembak. Dan lagi, Duo barbar itu sering terlibat perkelahian gak jelas.
Kurasa tidak ada yang harus dikhawatirkan. Aku juga yakin mereka pasti bersama-sama. Justru Aku mengkhawatirkan keadaan kelompokku. Semoga saja tidak terjadi masalah. Semoga.
"Shikamaru, dimana mobilmu diparkirkan?" tanyaku. Shikamaru pun menunjuk kearah pinggir parkiran yang letaknya cukup jauh juga. Astaga. Sekarang, bagaimana caranya kami bisa selamat sampai dimobil hijau butut itu?
"Jangan mengatai mobilku butut, sudah untung ada tumpangan." Gumam Shikamaru keki, seolah bisa membaca pikiranku. "Matamu terlihat menghina." Oke, aku mulai merasa Shikamaru sedikit banyak punya kemampuan cenayang. Lupakan soal mobil butut dan majikannya yang nggak kalah bututnya. Sekarang bagaimana caranya kami bisa sampai ke mobil itu tanpa menjadi santapan mantan-mantan manusia yang brutal abis itu?
"Gimana caranya kita bisa kesana tanpa dikerubuti makhluk ganas itu,teme?" tanya Naruto sambil mendelik sedikit ketakutan melihat banyaknya zombie-zombie disana yang berkeliaran. Disebelahnya Sakura sedang sibuk menenangkan Ino yang entah kenapa stok air matanya tidak habis-habis. Sedangkan Chouji sibuk mengunyahi keripik kentangnya dengan kecepatan super lantaran takut.
Kuhela nafas berat. Lalu aku berkata dengan pedenya. "Kalian sih enak, Jelek. Zombie-zombie itu pasti lebih banyak mengerubungiku yang kece ini."
Shikamaru memijit kepalanya. Naruto sweatdrop. Hinata melongo. Sakura sudah mengepalkan tangannya. Ino juga melongo bersamaan dengan keripik kentang Chouji yang jatuh setitik.
"Sudahlah, aku akan memancing mereka. Sedangkan kalian nanti sebisa mungkin, larilah kemobil itu. Aku akan memancing mereka dari luar pagar." Kataku. Memang, gerbang itu belum sempat dibuka sampai sekarang. Jika begitu banyak orang mencoba mendobraki pagar sebesar itu kuyakin akan runtuh juga. Aku hanya sok mengorbankan diri. Yang penting Hinata selamat.
"S-Sasuke-kun.." ujar Hinata cemas sambil memegang tanganku. Aku tersenyum mellow. Kutepuk kepalanya perlahan. "Daijoubu. Aku akan kembali." Kataku lagi sambil meyakinkan diriku sendiri tentunya.
"Teme , kau tidak perlu mengorbankan diri seperti ini kan. Pasti ada cara lain." Sahut Naruto tidak setuju dengan rencanaku ini. "Aku ikut denganmu." Katanya lagi. Aku menggeleng.
"Lebih baik satu orang saja, untuk mengurangi resiko. Kau jaga Hinata untukku." Kataku sambil melengos pergi. Dengan sedikit bergetar. "Lagipula kau kan bisa menyetir dengan cepat, tidak seperti si tuan pemalas bermobil butut ini." Dan aku mendapat dengusan ketika mengatakan hal itu. Lalu aku bergegas memanjati tembok disamping yang lumayan tinggi dengan bantuan Naruto dan Shikamaru.
Sesampainya diluar, aku mendapati pemandangan yang tak kalah mengerikannya dari dalam sekolah. Asap dimana-mana, bahkan kebakaran dan mobil-mobil yang bertabrakan sana-sini. Kenapa begitu cepat orang-orang diluar terinfeksi juga?! Otakku berpikir keras. Jangan-jangan mereka menerobos pintu belakang? Lalu menginfeksi orang-orang kota?
Bukan waktunya aku berpikir seperti itu. Diluar hanya ada beberapa zombie yang sedang berkeliaran.
Satu,dua,tiga,lima,sepuluh. Bukan jumlah yang besar. Aku akan mengatasi ini, dan memancing yang lain keluar, lalu Naruto akan menjemputku.
Tanpa kusadari ada sebiji zombie yang ingin mendekatiku. Tidak akan kubiarkan! Kutebas kepalanya dengan katanaku. Apa aku cukup keren? Kulanjutkan acara tebas-menebasku dengan suara yang kubuat seminimal mungkin.
Setelah zombie terakhir berhasil kutebas dan kubacok-bacoki dengan tidak berperi-ke-zombie-an, aku langsung menuju pagar dan mengguncang-guncangkan pagarnya dengan sekuat tenaga babon yang kupunya. Tentunya hal ini memancing semua zombie mengikuti asal suara yang kubuat.
"Hey! Lihat sini! Sasuke yang kece badai disini!" teriakku nista sambil menggocang-goncangi pagar sambil narsis sedikit. Lalu aku berteriak kepada Naruto dkk. "Cepat lari kemobil!"
Sialan!
Tanganku yang mulus ini hampir saja digigiti oleh zombie berambut merah yang kalau tidak salah ketua fansclub Sasuke-the-kece-boy. Sudah matipun masih ingin mencium tangan pujaan hatimu,eh. Tidak akan kubiarkan. Kutusuk kepalanya dengan katanaku.
Pagar ini mulai bergetar. Tidak,tidak. Aku harus memastikan Naruto dan yang lainnya sampai ke mobil dengan selamat dulu, baru pagar ini boleh roboh. Maka,dengan tekad yang membara kutusuk-tusuki kepala zombie yang berada dipagar, sambil terus berteriak untuk memancing zombie yang banyaknya astaganagabonar untuk terus mendekati pagar sehingga mereka bisa sampai dimobil.
.
.
.
Naruto POV
Kulihat teme dengan nistanya mengguncang-guncangi pagar sambil berteriak narsis soal dirinya yang kece badai itu. Mau tidak mau, otakku berpikir. Gilakah dia karena semua kejadian hari ini?
Tepukan Sakura-chan dibahuku membuat arwahku yang tadinya berjalan-jalan sebentar masuk lagi ketubuhku. Melihat zombie-zombie yang sudah banyak mengerubuti pagar sehingga kami mendapat akses jalan untuk menuju mobil, aku langsung menarik tangan Sakura-chan disebelah kananku, dan Hinata-chan disebelah kiriku.
"Ayo! Cepat bergerak!" perintahku kepada mereka semua. Shikamaru menarik tangan Ino yang masih saja bergetar ketakutan. Dan menarik lengan baju Chouji.
"Usahakan jangan timbulkan suara,mengerti?!" ujarku perlahan tapi bisa didengar oleh mereka. Kami terus berlari. Sampai ditengah-tengah kudengar teme berseru keras. "Cepat Naruto! Pagar ini tidak bisa menahan lebih lama lagi!" ujarnya panik sambil terus menusuki zombie-zombie yang brutal abis itu.
Ohmaygoatz!
Kupacu kakiku untuk berlari lebih cepat lagi sambil menggandeng kedua gadis berwarna rambut kontras ini dengan kepayahan. Sebentar lagi kami sampai. Sekilas kudengar sesuatu terjatuh, disusul pekikan histeris.
Tamatlah riwayat kami.
Ino memekik keras ketika ada satu zombie tanpa kaki mencengkram kaki Chouji yang tergeletak berwajah pucat ketakutan. Membuat beberapa zombie menoleh kearah kami serentak. Shikamaru langsung membekap mulut Ino dan menendang kepala zombie yang bergelayut di kaki Chouji.
"Ambil kuncinya Naruto! Cepat ke mobil!" teriak Shikamaru sambil melempar kunci mobilnya, dan kusambut dengan cepat. Kulihat ada zombie yang berusaha menggapai Ino, dan Chouji memegang kaki zombie itu sekuat tenaga. Lalu berteriak. "Kalian berdua,lari ! Aku akan menaha- arghh!" teriak Chouji ketika kakinya digigit oleh zombie tanpa kaki itu. Mungkin dia iri dengan kaki Chouji yang masih utuh?
Ino menangis terisak-isak dan memberontak ingin menyelamatkan Chouji ketika Shikamaru menyeretnya berlari kemobil. "Lepaskan Shika! Kita harus menolong Chouji!" teriakannya melengking membuat semakin banyak zombie menuju kearah sini. Susah payah kulindungi dua perempuan dibelakangku dan mengayun-ayunkan katanaku ke kepala zombie-zombie yang berdatangan.
Plak!
Kulihat Hinata berjalan cepat, lalu menampar wajah Ino dengan kuat. Lalu berkata dengan tegas. "Kau pikir kami tidak mau menyelamatkan Chouji? Tapi lihat! Dia berkorban untukmu! Apa kau tidak menghargai pengorbanannya dengan menangisi mayatnya sampai kau digigit dan menjadi salah satu dari mereka?!"
Chouji memang sudah tergeletak pasrah dengan zombie-zombie yang mengerubuti tubuhnya. Lalu ia menoleh kepada Ino sebelum akhirnya mengeluarkan batuk darah dan matanya terpejam.
"Cepat! Jangan buang waktu lagi! Sasuke masih diluar!" teriak Sakura didekat mobil sambil menebas kepala-kepala zombie yang ingin mendekati mobil. Aku sudah menyalakan mesin mobil.
Kulihat Hinata berlari tergopoh-gopoh sambil menggandeng Ino dan Shikamaru dibelakang untuk melindungi mereka. Pagar sudah hampir rubuh. Aku harus menyelamatkan Sasuke.
"Sakura-chan,cepat masuk dan duduk!" teriakku sambil membukakan pintu depan, lalu Sakura masuk dan duduk. Disusul Hinata lalu Ino dan terakhir Shikamaru.
Blam!
Sial. Zombie-zombie ini banyak sekali mengerubungi mobil ini. Ku jalankan mobil dengan kecepatan penuh,lalu kulindasi zombie-zombie yang mengerubungi mobil ini.
.
.
.
Pojok Author (?) : Ciee jadi gue bisa update agak cepetan nih ceritanya. Langsung aja bales reviewnya ya. ;3
Varian Andika : Ini udah dipanjangin Varian-san. gimana? ;)
Hanafid, Altadinata, Leontujuhempat : Trims reviewnya. ini udah dilanjutin ;3
Ultimatekuuga : iya kuuga-san ini udah saya panjangin wordsnya semoga suka, trims reviewnya ;3
kiiroi : makasih kiiroi-san atas ucapannya hehe ;3 wah itu tergantung mood saya dong sasuhinanya mau selamat or ga (?) #dirajam. anw, trims reviewnya juga.
Puypuy : haha tapi saya ngga ambil dari RE loh puypuy-san. ini berdasarkan mimpi nista saya(?) trims reviewnya ;3 soal oro nanti baru dipikirin mau dijadikan apa dia(?)
-Kyu-
