Hai minna! Gomen updatenya lama. Saya masih harus meneruskan fic saya yang satunya. Baiklah….. saatnya balas review.
Imam. Sholkhan : sesuai keterangan, tokoh utama disini adalah team 7, bukan Naruto, Sasuke atau Sakura saja. Trims udah review.
Yasashi-kun : oke… nih udah lanjut. Trims udah review.
Alvaro d diarra : hehehe….iya, saya emang ambil dari situ, karena arahnya emang seperti judul, tapi ini bukan songfic. Trims ucah review.
AN Narra : oke.. nih lanjutannya. Maaf, karena memang masih prolog. Trims udah review.
Hotaru Keiko : oke…nih lanjutannya. Trims udah mau menunggu dan trims udah review.
Isas. Hernandes : maaf, gak bisa menjamin, karena saya juga membuat fic yang lain. Tapi akan saya usahakan. Trims udah review.
Nervous : oke…nih lanjutannya. Yup… ia adalah Naruto. Nanti ada penjelasannya. Trims udah review.
Guest : trims pujiannya senpai. Yup tebakan anda benar, tapi kenapa sakura menjadi FG gadungan itu mungkin chapter depan. Trims udah review.
Vin'Diesel No Giza : maaf, memang masih prolog. Nih kayaknya lebih panjang. Trims udah review.
Kiame : ah… gak apa-apa kok. Saya tetap senang karena masih mau mereview saya, yup. Sasuke tau kalau Itachi berbohong. Nih lanjutannya. Trims udah review.
Guest : trims pujiannya. Di fic ini saya mencoba menggunakan gaya baru. Yaitu menampilkan cuplikan chapter selanjutnya. Yup. Sama seperti tadi, memang benar kalau Naruto idiot imitasi dan sakura FG gadungan.
Nitya-chan : trims pujiannya senpai. Nih lanjutannya. Trims udah review.
Nauchi Kirika-Chan : oke… nih lanjutannya. Trims udah review.
Lanjut! Happy reading!
Welcome to The Family
Naruto n' chara lain ©Masashi senpai
This fic ©me
Genre : bingung? Kasih tau dong? #Puppy eyes no jutsu
Warning :Abal,gaje,typo OOC team Seven dll
Seorang bocah berjalan limbung ke arah sebuah mansion di pinggiran desa. Rambut ravennya kini terlihat kusut. Matanya memerah dan sedikit berair. Dari penampilannya dapat diketahui bahwa bocah tersebut mengalami gangguan. Dan bocah tersebut adalah…Sasuke. Dibenaknya terngiang pertanyaan. ' apa yang sebenarnya terjadi, nii-san?' ia terus berjalan hingga tak sadar ia telah sampai tujuan. Ia masuk ke dalam sebuah rumah yang terbesar di mansion tersebut. Lalu berjalan ke suatu kamar. Tak memedulikan kawasan sekitarnya yang terbanjiri oleh darah. Ia merebahkan dirinya diatas futon yang masih tergelar. Ia memejamkan matanya sesaat. ' apapun yang terjadi aku akan menjadi kuat dan akan menyeretmu kesini, nii-san.' Pikirnya. Kemud
ian ia terbuai ke alam mimpi.
/\
NARUTO'S POV
Hari ini sama saja seperti yang kemarin. Tatapan itu, gelagat itu, dan cacian itu. tetap tertuju padaku. Aku benci perlakuan ini. Tapi mengapa aku tak punya niat membunuh 'mereka'. Bahkan melukai 'mereka'. Aku tak tahu. Yang jelas sesuatu dalam hatiku menolak untuk melakukannya. Bisa dikatakan aku sedang dilema. Ingin melakukan sesuatu, tapi tak bisa melakukannya. Aku merasa menjadi anak terkutuk. Orang tuaku bahkan membuangku. Tapi aku masih bersyukur, ada orang yang menatapku dengan kasih sayang. Yah…. Walaupun sedikit. Mereka mungkin yang menjadi alasanku untuk tak menghancurkan desa ini. Aku bisa dikatakan jenius. Karena pada usiaku yang ke 9 tahun ini, aku sudah menguasai jutsu level atas. Contohnya, shuriken kagebunshin, jutsu andalan hokage jiji ini kelihatannya sederhana. Namun jika digunakan disaat yang tepat, maka akan menjadi jutsu yang mematikan. Tapi tak ada yang tahu tentang kemampuanku. Ah sudahlah. Cukup sampai disitu saja tentangku. Sekarang ini banyak hal yang tak terduga di desaku. Mulai dari pembantaian klan oleh anggota klan mereka sendiri, dibubarkannya ANBU ROOT yang dianggap terlalu lancing dan sebagainya. Tapi aku tak memikirkannya. Aku lebih memikirkan orang yang selalu mengikutiku dan memberiku makanan di apartemenku . yah….. kupikir tak selamanya aku menderita. Dan hari ini aku akan menerkam orang itu. aku masih berjalan santai. Dan seperti biasanya, aku merasakan hawa keberadaannya. Aku terus berjalan ke sebuah danau. Danau yang indah, namun berada dipinggiran desa. Dan orang tersebut terus mengikutiku. Aku pun mulai menjalankan siasatku. Aku membuat bunshin tanpa sepengetahuannya. Kuperintahkan bunshinku untuk melompat ke kolam. Aku hanya bersembunyi di balik semak-semak terdekat. BYUUURRR
Bunshinku telah melompat ke danau. Aku menunggu reaksi orang itu.
" Naruto-kun!" teriak orang tersebut yang ternyata seorang wanita. Aku membelalakkan mataku ketika ia melompat ke danau itu. sontak saja gadis itu kelabakan. Tanpa pikir panjang aku ikut terjun ke danau itu. aku berenang ke arahnya dan menggapai tangannya. Kutarik ia hingga ke tepian, kubaringkan diatas rumput. Aku memandangnya khawatir. Ia masih belum membuka matanya. Aku menekan-nekan dadanya supaya air di tubuhnya keluar. Aku semakin panik karena ia tak juga menunjukkan reaksi. Aku merutuki kecerobohanku. Tak kusangka ia akan berbuat sejauh ini. Entah apa yang lewat dikepalaku. Aku ragu akan pemikiranku. Tapi ini keadaan genting. Baiklah….. aku harus merelakannya.
Kubuka mulutnya perlahan. Kudekatkan mulutku ke mulutnya. Dan…
CHUUPP
Ku tiupkan nafas buatan ke mulutnya. Perlahan ia mulai tersadar. Syukurlah…. Tanpa sadar aku memeluknya.
" ada apa ini, Naruto-kun?" tanyanya bingung. Aku pun melepaskan pelukanku. Wajahku memerah karena malu. Tapi aku tetap menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
" ano…. Tadi kau tenggelam di danau, jadi aku menolongmu dengan melakukan'itu'. karena kau tak bangun-bangun." Ucapku. Ia memiringkan wajahnya bingung. Hal itu malah menambah kesan manis padanya.
" maksudmu melakukan 'itu' apa, Naruto-kun?" tanyanya balik. Wajahku semakin memerah.
" e..ee..eto… aa…a..aku… mem…berimu nafas buatan." Jawabku gagap. Jujur aku sangat gugup. Wajahku semakin memanas. Tampak ia sedang mencerna apa yang kukatakan. Setelah beberapa lama, wajahnya memerah. Aku bingung, kutanyakan suatu pertanyaan yang menurutku bodoh.
" hei, wajahmu memerah. Apa kau sakit?" tanyaku seraya mengulurkan tanganku pada dahinya. Saat kulitku menyentuh kulitnya, tiba-tiba ia pingsan. Sontak saja aku panik. Aku yang bingun harus kemana, akhirnya memutuskan pergi ke apartemenku. Kugending ia ala pengantin, kemudian aku sunshin ke apartemenku. Sampai disana, aku membaringkannya diatas futon. Kutunggu beberapa menit, kemudian kelopak itu menampakkan lavendernya yang indah. Gadis itu beberapa kali mengedipkan matanya. Kemudian mengarahkan matanya padaku. Wajahnya memerah kembali. Aku mendapat firasat buruk. Aku langsung mencegahnya untuk pingsan.
" jangan pingsan! Aku bukan orang jahat, kok." Ucapku. Ia tak jadi pingsan. Aku menghela nafas lega. Aku pun mengajukan pertanyaan yang terngiang terus dikepalaku.
" ano…. Siapa namamu?" tanyaku. Wajahnya memerah lagi. terbersit satu kata di otakku.' Manis'.
" aa..aku… hinata." Jawabnya tergagap. Aku terkekeh mendengarnya. Wajahnya semakin memerah.
" santailah! Jangan gugup begitu, Hinata-chan." Ucapku. Ia kemudian sedikit tenang.
" ba..baiklah, Naruto-kun." Ucapnya masih gugup. Aku tak memikirkannya. Kami pun mulai berbincang-bincang. Yah…. Walaupun aku yang aktif dalam pembicaraan. Tapi yang jelas. Aku merasa nyaman di dekatnya.
NARUTO'S POV END
Setelah berbincang-bincang cukup lama, Naruto mengantarkan Hinata pulang. Ia hanya mengantarkan Hinata sampai depan gerbang mansion Hyuga. Hari sudah petang, tapi Naruto belum pulang ke apartemennya. Ia sedang asyik memerhatikan seorang gadis manis yang berlatih bersama ayahnya.
" kalau begini terus, kau tak akan menjadi kuat, Hinata." Ucap seorang pria berambut panjang kemudian meninggalkan gadis yang dipanggilnya Hinata. Sedangkan yang dimaksud menunduk. Ia merasa masih lemah. Namun ia belum menyerah. Ia berdiri dan berjalan ke arah sebuah batang pohon. Ia mulai memukul batang tersebut dengan tenaganya yang tinggal sedikit. Naruto yang melihatnya tidak tega. Kemudian ia bertekad.
' aku akan melatihmu besok, Hinata-chan. Dan aku tahu latihan apa yang paling cocok untuk dirimu.'
/\
Keesokan paginya
Naruto sedang menunggu seseorang. Ia menyenderkan punggungnya pada sebuah pohon. Ia sekarang berada di Training Ground #44. Tempat pelatihan yang konon paling berbahaya. Tapi kenyataannya hanya sebuah tempat latihan yang berada di sekitar shi no mori. Akhirnya orang yang ditunggu datang.
" maaf telat, Naruto-kun." Ucap seorang gadis bersurai indigo. Naruto menanggapinya dengan cengiran khasnya.
"tak apa kok, Hinata." Ucapnya.
" ada apa kau memanggilku kesini, Naruto-kun?" tanya Hinata. Jujur, ia sedikit takut dengan suasana tempat yang ia tempati dan Naruto.
" aku hanya ingin melatihmu saja, Hinata-chan." Jawab Naruto dengan cengiran khasnya.
" benarkah?... tapi kenapa disini? Kan banyak binatang buas." ucap Hinata takut.
" tenang saja, aku sudah memasang kekkai pelindung di area ini ketika kau tiba." Ucap Naruto menenangkan. Namun bukannya tenang, hinata malah membelalakkan matanya. Naruto yang bingung bertanya.
" ada apa Hinata?" Hinata hanya menggelengkan kepalanya…
" sejak kapan kau melakukannya, Naruto-kun?" dan menjawab dengan pertanyaan.
" rahasia. Sudahlah…. Ayo kita mulai latihannya." Ucap Naruto yang ditanggapi anggukan kecil Hinata.
" tatap mataku, Hinata!" perintah Naruto. Hinata perlahan menatap mata Naruto. Seketika ia seperti berpindah ke suatu tempat asing yang menurutnya indah.
" pertama-tama, kita latihan mental. Aku akan memperbaiki mentalmu." Ucap Naruto seraya mendekat ke arah Hinata. Melihat Naruto mendekat, Hinata hendak memundurkan tubuhnya. Namun ia tak berhasil. Kakinya tertanam ke dalam tanah. Ia mencoba memberontak, tetapi percuma saja. Ia tak bisa lepas. Akhirnya Naruto berada didepan Hinata. Ia menatap Hinata lekat-lekat. Membuat yang ditatap sedikit rishi.
" ini adalah dunia genjutsuku, disini aku adalah tuhannya. Seminggu disini sama dengan satu detik di dunia nyata. Dan aku akan memperbaiki mentalmu untuk tidak pingsan dengan kehadiranku." Ucap Naruto menjelaskan. Namun setelah mendengarnya, Hinata malah pingsan.
BYUURR
" HAH! Apa yang terjadi?" tanya Hinata gelagapan setelah terguyur air yang entah dari mana.
" dan ketika kau pingsan, secara otomatis air akan mengguyur tubuhmu, Hinata." Ucap Naruto lagi. mendengarnya, nyali Hinata menciut. Ia sangat malu ketika menatap Naruto langsung apalagi ke matanya. Ia lebih memilih pingsan dari pada menatap Naruto. Tapi disini, jika pingsan ia hanya akan terbangun lagi dengan cara yang tidak menyenangkan. Akhirnya ia beranikan diri untuk menatap Naruto. Namun hasilnya ia pingsan lagi dan terguyur air lagi. kejadian tersebut terus berulang ulang hingga seminggu waktu setempat. Namun nyatanya hanya satu detik didunia nyata. Setelah seminggu akhirnya Hinata mampu menatap Naruto bahkan matanya, bahkan memberinya glare. Sungguh mengejutkan.
Setelah itu Naruto mengulurkan tangannya memegang tangan Hinata. Sontak saja wajah Hinata yang tadinya meng-glare Naruto memerah dan akhirnya ia pingsan. Dan sama seperti sebelumnya, ia diguyur oleh air 'otomatis'. Namun anehnya, Naruto tak terkena sedikitpun air yang mengguyur Hinata. Padahal jarak Naruto dengan Hinata bisa terbilang dekat. Dan seperti sebelumnya, kejadian ini berulang-ulang hingga seminggu. Seminggu sudah Hinata mampu tahan dengan perlakuan Naruto. Nartuo pun tersenyum melihantya. Kemudian ia meningkatkan kesulitannya. Ia memeluk Hinata. Dengan background yang indah, sungguh ini adalah pemandangan yang Hinata nantikan. Namun rasa malu mengalahkan Hinata. Dan sontak saja, Hinata langsung pingsan dan terguyur air. Dan anehnya lagi, Naruto tak terkena air setetespun. Hinata yang bingung bertanya pada Naruto.
" kenapa hanya aku saja yang terguyur air?" tanya Hinata yang terdengar seperti keluhan.
" karena ini dunia genjutsuku, Hinata. Jadi aku mengaturnya supaya tak mengenaiku." Jawab Naruto tanpa dosa.
" WHAT! It's not fair!" teriak Hinata. Ia memasang wajah cemberut yang malah mebuat Naruto serasa ingin memakannya. Namun ia masih mampu menahan diri.
" karena yang disini latihan adalah kau, maka kau yang mendapat hukuman jika melanggar aturan, Hinata." Ucap Naruto lagi. kemudian pelukannya yang sempat terlepas ia eratkan lagi. hinata terkaget akan tindakan Naruto. Ia akhirnya pingsan dan terguyur air kembali. Dan kejadian itu berulang ulang hingga satu minggu juga. akhirnya hinata mampu bertahan untuk tidak pingsan ketika dipeluk Naruto. Naruto kembali tersenyum, namun pikiran aneh muncul di otaknya. Kemudian ia menempelkan dahinya pada dahi Hinata. Dan anda pasti sudah tahu apa yang akan terjadi.
Setelah empat minggu waktu setempat dan empat detik waktu dunia nyata, Naruto menyudahi perbaikan mental Hinata.
" nah…. Kita sudahi perbaikan mentalmu. Pelajaran selanjutnya aku akan memperbaiki taijutsumu." Ucap Naruto. Kemudian dunia genjutsu Naruto berputar dan menghilang.
Hinata terduduk lemas. Ia tak pernah merasakan latihan gila semacam tadi. Walaupun didunia nyata cuma beberapa detik, namun nyatanya ia mengalaminya selama beberapa minggu. Tepatnya satu bulan.
" hah….hah…. aku…. Tak pernah…. Latihan gila seperti tadi….hah…..hah….aku lebih….hah….ha…memilih melawan tou-san…..hah….daripada yang tadi….hah….hah….." ucap Hinata ngos-ngosan. Naruto mendengarnya hanya tersenyum.
" setidaknya kau tak akan pingsan jika aku melakukan hal tadi." Balas Naruto sambil menyeringai. Mendengarnya membuat Hinata mengingat kejadian yang dialaminya selama latihan. Wajah Hinata mulai memerah. Ia malu. mengingatnya saja semakin membuat wajahnya memanas. Tapi ia juga berterima kasih karena dengan latihan tadi, ia tidak pingsan ketika diperlakukan seperti oleh Naruto, apalagi orang lain. Namun ia tersadar ketika Naruto mulai berbicara.
" dari karaktermu yang lemah lembut, aku akan mengajarimu taijutsu yang menggunakan hal tersebut dan menjadikannya serangan yang berbahaya. Sekarang serang aku dengan sekuat tenagamu!" perintah Naruto. Tanpa pikir panjang, Hinata menyerang Naruto dengan jyuken. Ia berniat membalas dendam pada Naruto atas perlakuannya. Namun tanpa diduga, Naruto hanya mendorongnya dengan sedikit tenaga, ia malah tersungkur. Hinata syok. Hanya dengan dorongan sedikit saja, ia sudah di jatuhkan oleh Naruto.
" kke…kekuatan…aa..apa..tadi?" tanya Hinata masih syok.
" nanti aku jelaskan. Yang penting, sekarang serang aku dengan serangan yang lemah tapi mematikan!" perintah Naruto. Hinata menurut saja, ia menyerang Naruto dengan jyuken tetapi dengan memperlambat kecepatan dan menguatkan pertahanan. Hinata mengincar perut Naruto. Ia sudah yakin jika pertahanannya tanpa celah. Namun yang terjadi…
Naruto menendang Hinata dengan keras dan membuat Hinata terpental. Hinata kembali syok. ' kekuatan apa tadi?' batinnya.
" taijutsu jenis ini sangatlah cocok dengan tipe petarung Hyuga. Membalas serangan kuat dengan serangan lemah dan sebaliknya. Intinya, pengguna tekhnik ini harus pandai menjadikan kelebihan serangan menjadi kelemahannya. Contohnya serangan kuat pasti mengalahkan serangan lemah. Tapi tadi kau jatuh tersungkur hanya karena kudorong. Tekhnik ini dibutuhkan konsentrasi, koordinasi dan reflek tubuh yang tinggi. Karena jika tidak, maka tekhnik ini dapat menjadi penyebab kematian pengguna." Jelas Naruto. Hinata hanya mengangguk paham.
SKIP TIME
Sudah sebulan ini Naruto dan Hinata berlatih bersama. Kemampuan Hinata berkembang pesat. Bisa dikatakan kemampuan Hinata setingkat high Chuunin, sedangkan Naruto setingkat high Jounin. Padahal usia mereka baru 9 tahun. Sungguh seorang prodigy. Namun tak ada yang mengetahui kemampuan mereka kecuali mereka sendiri.
Hari ini seperti biasanya. Kelas akademi terasa sangat ramai oleh kegiatan gaje penghuninya. Ada yang berkejaran dengan temannya, adda yang bermain dengan anjingnya, ada yang asyik makan kripik,dan ada juga yang tidak menghiraukan suasana kelas yang gaduh. Bahkan ada yang tidur nyenyak diantara suasana gaduh tersebut. Siapa lagi kalau bukan si Jenius Rusa pemalas. Namun dari sekian banyak siswa ada yang sedang merenungkan nasibnya.
' hah~ teman-temanku memang beraneka ragam. Dari rusa pemalas, karung makanan, orang datar sepertiku, pemalu yang mengerikan, pecinta anjing dan yang paling menarik. Actor dan aktris.' Batin seorang bocah raven yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke.
Kelas menjadi hening ketika guru pengajar, Iruka datang membawa beberapa surat.
" baiklah….. duduk di tempat masing-masing. Minggu depan akan ada tes gennin. Akan ada ujian tulis dan ujian praktek." Ucap pengajar tersebut.
SKIP TIME
FLASHBACK
Ruangan Hokage
" ada apa Hokage jiiji memanggilku?" tanya seorang bocah blonde kepada seorang kakek yang mengenakan jubah Hokage. Hokage tersebut hanya tersenyum tulus.
" aku hanya mau melihat keadaan cucu kesanyanganku saja." Jawabnya. Namun Naruto malah menatapnya tajam.
" aku tahu ada hal selain itu, Hokage-sama." Ucap Naruto yang memanggil Hiruzen dengan 'Hokage-sama' menandakan kalau ia sedang serius. Hokage paling lama ini hanya menghela nafas.
" aku akan memberimu misi pertamamu." Ucap Hiruzen.
" misi? Aku belum sah menjadi ninja, kenapa aku mendapatkan misi?" tanya Naruto heran. Hiruzen tersenyum lagi.
" kau tak bisa membohongi kakekmu ini, Naruto. Kau itu sudah setingkat high jounin, bahkan aku tahu jika kau lah yang mencuri gulungan rahasia di kantorku." Balas Hiruzen sengit. Naruto terbelalak kaget. ' ternyata aku selama ini diawasi.' Batin Naruto.
" baiklah…. Apa misinya?" tanya Naruto pasrah.
" mudah saja, kau hanya menggagalkan ujian genninmu kemudian menunggu seseorang menawarkan kelulusan genin dengan syarat mencuri gulungan jutsu." Ucap Hiruzen.
" lalu bagaimana dengan kelulusanku nanti?" tanya Naruto lagi.
" aku akan mengurusnya." Jawab Hiruzen.
" baiklah… aku terima." Ucap Naruto setuju.
" terima kasih mau bekerja sama, Naruto. Hanya kau satu-satunya yang dapat kupercaya. Baiklah…. Aku harus mengerjakan laporan bangsat itu." ucap Hiruzen.
" jika kakek kerepotan, megapa tidak memakai kagebunshin saja? Itu lebih cepat dan efisien." Ucap Naruto memberi saran. Hiruzen yang mendengarnya melongo. Ia lupa akan hal itu. ia yang seorang kage di pecundangi oleh seorang gennin. Bahkan belum resmi. Dan hari itu kantor Hokage dihiasi oleh suara benturan kepala dari Hiruzen ke meja.
FLASHBACK END
Naruto kembali teringat akan perbincangannya dengan Hiruzen. Ia menyesal menyetujuinya. Paslnya ia harus berurusan dengan ANBU yang mengejarnya. Ia akhirnya memilih bersembunyi dan menunggu kedatangan Mizuki. Namun bukannya Mizuki yang datang, melainkan guru akademinya. Iruka.
" Naruto, serahkan gulungan itu! itu gulungan jutsu rahasia." Perintah Iruka.
" Iruka sensei, kata Mizuki sensei, jika aku menunjukkan jutsu yang ada di gulungan ini padamu, maka aku akan lulus." Ucap Naruto menggunakan 'topengnya'. ' Mizuki?' batin Iruka heran.
" jangan dengarkan perkataan Mizuki, dia hanya menyuruhmu mencuri gulungan rahasia itu kemudian ia akan membunuhmu!" teriak Iruka.
" jangan Naruto! Iruka itu sama seperti yang lain."
" jangan dengarkan dia, Naruto! Dia hanya menginginkan gulungan itu." Teriak Iruka lagi.
" biar kuberitahu kenapa semua orang membencimu, Naruto. Peraturan yang dibuat oleh Hokage sendiri dan tidak boleh diketahui olehmu." Ucap Mizuki.
" jangan Mizuki! Dia hanyalah anak-anak." Teriak Iruka.
" peraturan yang mengatakan bahwa kau adalah monster berekor Sembilan. Itulah mengapa semua orang membencimu. Termasuk Iruka. Ia sangat membencimu karena kaulah penyebab orang tuanya." Ucap Mizuki lagi. DEG. Hati Naruto terasa tertusuk seribu senbon beracun tepat di jantungnya. Pikirannya mulai melayang entah kemana. Dan yang tak terduga, Naruto menangis. Hal yang sudah punah darinya.
" matilah kau " teriak Mizuki mulai menyerang Naruto. Sementara Naruto hanya diam saja karena masih syok dengan perkataan Mizuki. Mizuki melempar sebuah fuma shuriken ke arah Naruto. Karena kurang persiapan, Naruto akhirnya pasrah. Ia siap mendapat kesakitan. Namun kesakitan yang ia tunggu tak datang juga. ia membuka matanya ketika terasa setitik air membasahi mukanya. Dan terlihat Iruka yang sedang menahan sakit akibat terkena serangan Mizuki. Iruka juga menitikkan air mata sama seperti Naruto.
" apapun…hiks….yang mereka katakana padamu…..hiks….. kau tetaplah Naruto…. Murid yang sudah kuanggap adikku sendiri." Ucap Iruka terisak. Ucapan Iruka sontak membuat mata Naruto melebar. Ia merasa sejuk ketika Iruka mengatakan hal tersebut.
" keluarga yang bahagia. Sayang sekali karena sebentar lagi kalian akan mengarungi neraka!" teriak Mizuki. Ia bersiap melemparkan fuma shurikennya lagi. namun ketika ia akan melesatkan fuma shurikennya, ia dikagetkan dengan kemunculan Hinata.
" tak kubiarkan kau menghina Naruto-kun sesukamu. Hakke Rokujuyon sho!" seru Hinata. Dan hinata melesatkan 64 pukulan untuk menutup aliran chakra Mizuki. Mizuki pun ambruk terkena serangan Hinata. Ia akhirnya pingsan. Sementara itu Naruto masih menundukkan kepalanya.
" Iruka sensei, apakah kau membenci monster berekor Sembilan?" tanya Naruto parau.
" ya… aku membencinya." Perkataan Iruka membuat Naruto semakin menundukkan kepalanya. ' bahkan Iruka-sensei saja membenciku.' Batin Naruto.
" tapi tidak untuk Naruto. Dia murid kebanggaanku. Tak ada yang diberikannya kepadaku selain rasa bangga. Uzumaki Naruto namanya. Dia adalah penduduk desa Konoha." Lanjut Iruka. Dan perkataan Iruka barusan membuat Naruto tak kuasa menahan tangis. Hinata yang melihatnya ikut menangis. Kemudian Naruto memeluk Iruka erat. Menumpahkan segala kegundahan hatinyan. Setelah beberapa menit, suara Hinata menginterupsi.
" ehm… sebaiknya kita segera membawa Iruka-sensei ke rumah sakit." Kedua orang yang dimaksud pun melepaskan pelukannya. Naruto hendak menggendong Iruka ke punggungnya. Namun Iruka mengucapka sesuatu pada Naruto yang membuatnya batal melakukannya.
" Naruto…. Aku punya hadiah untukmu….. tutup matamu!" perintah Iruka. Setelah beberapa saat akhirnya Iruka menyuruh Naruto membuka matanya.
" buka matamu." Naruto membuka matanya. Dan pertama kali yang ia lihat adalah sosok Iruka yang tidak mengenakan hitai-ate.
" selamat! Kau sekarang menjadi gennin." Ucap Iruka memberi selamat. Kemudian Naruto kembali memeluk Iruka.
/\
Suasana kelas sekarang sedikit tenang. Karena semua murid sudah keluar bersama jounin pembimbing masing-masing kecuali tim 7. Kelas tersebut menggema suara cempreng seorang bocah blonde dan gadis musim semi. Mereka terus mengoceh perihal keterlambatan sensei mereka. Namun ketika senangnya kedua insan beda gender tersebut, sebuah suara menginterupsi.
" tak kusangka aku akan setim dengan sekelompok penipu ulung." Ucap seorang bocah raven berbentuk pantat ayam.
" apa maksudmu, Teme?" tanya seorang bocah blonde aka. Naruto bingung.
" iya, apa maksudmu , Sasuke-kun?" sekarang giliran satu-satunya perempuan di tim tersebut.
" apa kalian tuli? Aku bilang aku setim dengan para penipu ulung." Ucap si raven sarkastik.
" kau kalau bicara dijaga, Teme!" ucap Naruto tak terima.
" bukankah benar? Seorang idiot imitasi, seorang fansgirl gadungan. Bahkan akting kalian mampu meyakinkan semua teman-teman." Balas si Raven sengit. Tiba-tiba suasana menjadi lebih mencekam. Aura kegelapan seperti menyelimuti ruangan.
" tak kusangka kau tahu penyamaranku, Uchiha." Ucap Naruto dingin.
" aku bahkan sudah berlatih selama berhari-hari untuk melakukannya."
TBC
Cuplikan
' coba kulihat, seorang idiot imitasi, pendendam yang tak jelas, dan FG gadungan. Hokage memang benar-benar ingin menyiksaku.'
Segitu ajah. Maaf kelamaan update. Apakah setelah mengetahui jati diri Naruto dan Sakura yang asli tim 7 akan terpecah? Bagaimana kelanjutannya? Apakah mereka akan melakukan survival training degan sungguh-sungguh? Nantikan chapter depan.
Terima kasih. Maaf kalau banyak typo.
Wassalamu'alaikum .
Review please!
