RAINBOW DAYS
"Hari-hari penuh warna, seperti pelangi.
Setiap harinya pasti ada kesedihan. Tapi kau tahu artinya? Dibalik kesedihan itu ada kebahagiaan yang menunggu. Dan juga sebaliknya. Sebenarnya sebuah kebahagiaan menyembunyikan kesedihan didalamnya.
Seperti pelangi. Mereka ada setelah datangnya hujan. Takkan ada kebahagiaan jika tak diawali oleh kesedihan.
Didunia tanpa kesedihan, jembatan pelangi tidak akan muncul."
Chapter 3
Tahun-tahun berlalu. Tak terasa kini Eren kecil sudah menginjak 10 tahun. Tapi sayangnya dia semakin menunjukka sikap membangkang pada kakaknya, Levi. Tapi tentu saja bukan Levi namanya jika ia menyerah menghadapi Eren.
Levi sudah menjadi guru tetap ditempatnya mengajar. Kini ia terkenal dengan sebutan guru killer menawan. Tak salah lagi, yang memberi julukkan itu adalah para gadis-gadis yang ia ajar. Merepotkan sekali.
Hari minggu yang cerah ini, Levi mengajak Eren pergi ke pantai. Berawal dari sebuah perbincangan kecil tentang liburan, tercetuslah ide itu.
Kini keduanya tengah berjalan menuju pantai dengan membawa beberapa barang bawaan mereka. Setelah mendapat tempat yang cukup nyaman untuk duduk, mereka meletakkan barang-barang tersebut.
"Nii-chan! Aku boleh pergi duluan ya?" seru Eren kegirangan.
"Hm, jangan bermain sampai ke tengah laut."
"Wakarimashita!"
Eren langsung berlari menuju laut, meninggalkan Levi yang masih membereskan barangnya. Sesaat setelah ia mendudukkan diri diatas kursi pantai, seseorang menghampirinya.
"Levi-san?"
Levi mendongak. Dan ia menemukan seorang gadis berambut caramel dihadapannya, dengan celana pendek dan baju musim panas berwarna cerah.
"Petra? Kau juga disini?"
"Iya. Aku sengaja datang sendiri untuk menjernihkan pikiran."
"Bergabunglah dengan kami."
Gadis bernama Petra itu merasa terkejut mendengar ajakan seniornya di sekolah ini. Ya, Petra juga seorang guru yang mengajar di tempat yang sama dengan Levi. Sebenarnya Petra lebih dulu berada di sekolah itu tapi ia tetap menganggap Levi sebagai seniornya.
Dengan pipi yang sedikit merona merah, Petra mendudukkan diri disamping Levi, menerima ajakan pria itu untuk bergabung.
Beberapa menit mereka terlarut dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mungkin terdapat rasa canggung disana. Sejak mereka berdua digosipkan berpacaran, Petra selalu blushing tiba-tiba jika bertemu pandang dengan Levi. Ah, mungkin gadis itu memang menyukai si pria stoic.
"A-ano.. Kau datang bersama adikmu?" tanya Petra berusaha membuka perbincangan.
"Hmm."
Singkat sekali. Petra ingin sekali menangis dalam hati jika saja lawan bicaranya ini berbicara panjang lebar.
"Bagaimana Eren-chan di rumah?"
Levi melirik wajah gadis bermarga Rall itu sesaat.
"Dia tambah menyebalkan."
"S-sou desu ne.."
Mereka terdiam lagi. Perbincangan yang sangat singkat. Dalam keheningan itu, Levi diam-diam tengah sibuk memerhatikan waja gadis disampingnya. Sedangkan yang dipandangi sepertinya tidak menyadari tatapan itu, ia malah memandang jauh ke laut.
"Pet-!"
"Levi-san!"
Baru saja Levi ingin mengatakan sesuatu, ucapannya sudah terpotong oleh pekikkan Petra yang terdengar sedikit gemetar.
"Bukankah.. Eren-chan berambut coklat?"
"Iya. Kenapa?"
Levi mengikuti arah pandangan Petra ke tengah laut. Dan disana ia melihat seseorang tengah kesulitan untuk berenang. Itu..
"Eren?!"
Levi terbelalak melihat adiknya hampir tenggelam. Ia langsung berlari ke laut dan berenang menyusul Eren.
"Nii-chan! Kakiku kram!" teriak Eren sambil meraih-raih udara kosong dengan tangannya.
Mendengar itu Levi berenang semakin cepat menuju adiknya. Setelah ia berhasil meraih tubuh Eren, langsung saja Levi membawanya ke tepi pantai.
"Petra! Tolong bawakan handuk!"
Selama Petra membawa handuk, Levi menepuk-nepuk punggung Eren agar air laut yang sempat terminum bisa keluar lagi.
Eren tiba-tiba mendongak, menatap kakaknya lalu tersenyum cengengesan.
"Aktingku bagus kan? Nii-chan?"
Saat itulah kekesalan menjalar disetiap sendi yang dimiliki Levi. Bocah ini mengerjainya. Ia malas untuk memarahi atau sekedar memberi tanggapan pada bocah brunette itu. Ia hanya menampakkan wajah datarnya lengkap dengan kerutan didahinya, tanda marah.
Levi bangkit berdiri, meninggalkan Eren. Ia kembali duduk di kursinya menghiraukan keheranan Petra yang baru akan memberikan handuk untuk Eren.
"Eh? Nii-chan!"
Eren menghampiri kakaknya. Berusaha mencairkan suasana yang tidak enak ini.
"Nii-chan, doushite?"
Tak ada jawaban. Levi masih memasang wajah kesalnya. Ia hanya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Aah... Nii-chan..." bujuk Eren.
Tapi tetap saja si topeng stoic itu tak bergeming. Malah tatapan sinis yang Eren dapat.
"Levi-san.." Petra angkat bicara, membantu Eren.
Merasa kesal karena tak ada respon dari sang kakak, Eren memutuskan untuk pergi menuju mobil yang terparkir tak jauh darisana.
"Eren-chan!" panggil Petra.
"Dia kan anak kecil, Levi-san."
Yang diajak bicara tak mengatakan apa-apa selain tatapan ketidakpeduliannya.
"Aku akan menyusulnya!"
Petra berlari menyusul Eren ke tempat parkir, menghiraukan reaksi apapun dari Levi yang mendecih sebal.
Eren duduk memeluk kedua kakinya yang terlipat disamping mobilnya. Dia ingat bahwa mobilnya dikunci dan kuncinya ada pada kakaknya itu. Tidak mungkin ia kembali ke tempat kakaknya dan meminra kunci mobil disaat seperti ini kan? Itu hanya akan mempermainkan harga dirinya. Bocah itu kini mengenal tentang harga diri rupanya.
Tak lama Petra menghampirinya, ikut berjongkok disamping mobil.
"Kenapa kau disini Eren-chan?"
Eren terdiam, merajuk.
"Berbicaralah dengan kakakmu. Mungkin itu akan memperbaiki situasi ini."
Eren masih terdiam memeluk kakinya.
"Kau harus melihat bagaimana ekspresi kakakmu saat melihatmu hampir tenggelam tadi."
Baiklah, Eren mulai menyadari sesuatu. Ia telah mempermainkan kekhawatiran sang kakak.
"Apa nii-chan masih marah?"
Petra memandang kearah keberadaan Levi. Dari tempat ini memang terlihat posisinya.
"Entahlah. Tapi aku yakin dia tidak bermaksud marah padamu."
Eren menunduk. Tampak sedang memikirkan sesuatu. Sampai akhirnya ia kembali mendongak kearah Petra.
"Apa nee-chan membawa mobil?"
"Ah? Iya. Naze?"
"Tolong antarkan aku pulang!"
"Ta-tapi kakakmu.."
"Kalau nee-chan tidak mau aku akan pulang sendiri!"
Petra menghela napas ragu. Mungkin ia hanya harus mengabulkan permintaan anak ini.
"Baiklah.."
Petra bangkit berdiri disusul Eren. Diam-diam Petra mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada Levi selama mereka berjalan menuju mobilnya.
'Levi-san, aku mengantar Eren pulang.
Tolong jangan menunjukkan reaksi apapun
Petra'
"Apa yang sedang nee-chan lakukan dengan ponsel itu?" Eren tampak curiga.
"Ah ini? Bukan apa-apa. Tidak usah dipikirkan. Nah, masuklah."
Tatapan curiga masih menghiasi mata emerald itu seraya ia masuk kedalam mobil.
Mesin mobil menyala dan mereka berangkat, menuju tempat tujuan.
"Kenapa kau melakukan hal tadi Eren-chan?"
Eren tersenyum malu. Mungkin alasannya ini kekanakkan, tapi memang dia masih anak-anak kan? Jadi wajar saja.
"Kurasa nii-chan menghiraukanku tadi. Jadi aku melakukan itu agar menarik perhatiannya."
"Ah, sou desu ne.. Kalau kakakmu tahu pasti dia tidak akan kesal padamu."
"Tapi nee-chan.."
"Hm?"
"Tolong jangan katakan ini pada nii-chan."
"Baiklah, tidak masalah."
Eren tersenyum senang. Wanita disampingnya ini memang baik. Pantas saja kakaknya tak jarang membawa wanita itu kerumah untuk sekedar minum teh.
"Nee, Eren-chan!"
Eren menoleh. Cukup penasaran dengan apa yang akan dikatakan Petra.
"Bagaimana kakakmu dirumah?"
"Nii-chan? Hmm, dia sering sekali membersihkan rumah sampai tidak ada debu sedikitpun disana, dia juga sering memasak untukku dan membuatkan bento. Tapi hal yang paling sering ia lakukan dirumah adalah menanyai aktivitasku. Kurasa nii-chan agak aneh dengan semua kebiasaannya itu, bagaimana menurut nee-chan?"
"Justru itulah yang menjadikannya menarik kan? Dia tampak seperti pria yang bertanggung jawab dan perhatian."
Eren memerhatikan perubahan ekspresi Petra. Terlihat melembut dan entah mengapa ada warna kemerahan dipipinya. Dengan nada polosnya Eren menanyakan hal yang berhasil membuat Petra terkejut setengah mati.
"Apa nee-chan menyukai nii-chan?"
Rona merah semakin jelas terlihat tatkala Petra dengan gugup mengomentari pertanyaan Eren.
"A-apa yang kau katakan, Eren-chan? A-ahaha.."
Dengan sendirinya Eren langsung menarik kesimpulan bahwa Petra memang menyukai Levi.
"K-kita sudah sampai, Eren-chan."
Eren tersenyum-senyum aneh melihat gelagat Petra. Ia turun dari mobil diiringi Petra.
"Apa kau mau ditemani?"
"Tidak usah nee-chan. Arigatou!"
"Kalau ada apa-apa hubungi saja aku." ucapnya sambil memberikan kartu nama yang terdapat nomor ponsel disana.
"Ja, mata ne!"
Petra berlalu dengan mobilnya. Meski wajah wanita itu sudah terlihat tenang lagi, namun rona merah diwajahnya masih bisa dilihat Eren. Apa ini kabar baik ataukah kabar buruk baginya? Entahlah.
Jam 3 sore Levi baru pulang dari pantai. Ia sedang malas berbicara pada adiknya. Ia tahu bahwa dirinya memang bersikap kekanakkan atau bahkan egois. Tapi salah siapa telah mempermainkan kekhawatiran yang sempat melandanya saat melihat Eren hampir tenggelam bahkan hanyut. Kenapa bocah itu melakukan hal berbahaya hanya untuk menjaili kakaknya? Nekad sekali.
Levi tak banyak bicara sesampainya dirumah. Ia tahu pasti Eren mengurung diri di jamar seperti biasa. Jadi Levi tidak usah mencari-cari keberadaannya apalagi sampai berteriak-teriak.
Levi lebih memutuskan untuk langsung membersihkan dirinya, menyiapkan makan dan berakhir dengan mengistirahatkan diri didepan tv.
Tak ada acara menarik disana. Tapi apa boleh buat? Tak ada yang harus ia lakukan saat ini. Ditambah lagi kepalanya sedikit pening. Sebelum pergi ke pantai, ia memang sempat bersin-bersin dan pusing. Dan hasilnya? Ia sangat berat untuk sekedar diangkat. Tapi ia tidak boleh terus seperti ini, Eren harus makan.
"Eren! Makanlah dulu!" ujarnya setengah berteriak.
"Baik!"
Saat Eren keluar dari kamarnya dan pergi makan, Levi memutuskan untuk istirahat di kamarnya. Disamping itu, ia memang masih kesal pada Eren.
Melihat kakaknya langsung pergi ke kamar saat ia keluar, Eren semakin merasa bersalah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Makanan yang masuk ke kerongkongannya bagaikan hambar tanpa rasa.
Hanya separuh dari makanannya yang Eren makan. Eren menghampiri kamar Levi. Ia sedikit ragu untuk berbicara dengannya. Tapi jika kondisinya dibiarkan seperti ini lama kelamaan akan semakin memburuk.
Dengan ragu Eren mengetuk pintu dihadapannya.
"Nii-chan?"
Tak ada balasan dari dalam. Meski Levi mendengar suara Eren yang memanggilnya tapi ia tetap berbaring diranjang. Paling-paling anak itu hanya akan mengerjainya lagi.
"Nii-chan, keluarlah."
Baiklah ia menyerah. Dengan kepala yang masih berat, Levi bangun dan membuka pintu kamarnya. Menatap Eren dengan tatapan 'ada-apa'.
"Gomen nasai nii-chan.."
Levi mengangkat sebelah alisnya, heran. Ternyata bocah ini akan meminta maaf.
"Apa?"
"Soal tadi.. di pantai.. Aku sadar kalau itu keterlaluan."
"Bagus kalau kau sadar."
Ternyata benar bahwa sang kakak kesal karena hal itu. Eren menundukkan kepalanya. Perlahan mata zamrudnya dipenuhi air yang siap jauh.
Levi mengembuskan napas berat. Kenapa bocah ini sampai menangis? Membuat gemas saja.
"Kau laki-laki, jangan mudah menangis seperti itu!"
"G-gomen nasai.. Hiks.."
"Aku tidak perlu memelukmu untuk membuatmu tenang kan?"
Pertanyaan bodoh Levi malah membuatnya mendapat serangan pelukan dari adiknya itu. Ia menghembuskan napas lagi sebelum menepuk-nepuk pucuk kepala Eren.
Eren yang masih terisak mulai merasakan suhu panas yang menjalar ditubuh kakaknya.
"Nii-chan, tubuhmu panas!" ucapnya.
"Hm."
"Nii-chan harus istirahat!"
"Saat kau mengetuk pintu, aku sedang istirahat bodoh."
Eren tersenyum cengengesan. Ia kemudian menarik kakaknya untuk berbaring lagi. Tindakan yang manis.
"Semoga cepat sembuh nii-chan!"
Pagi hari Eren dibangunkan oleh suara alarm dikamarnya. Dengan mata yang masih terlihat mengantuk, Eren berjalan keluar kamar. Tapi suasana yang ia dapatkan tidak seperti biasanya.
Pemandangan pertama yang selalu ia dapatkan setiap pagi tak lain adalah punggung kakaknya yang tengah menyiapkan sarapan. Tapi kini ia tak melihat pemandangan itu.
Kaki kecil itu akhirnya berhenti didepan kamar Levi. Mungkin ada di dalam, pikirnya dalam hati. Eren membuka pintu perlahan. Dan yang ia dapati di dalam tak lain dari seorang Levi masih berbaring diranjangnya, lengkap dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya sebatas dada.
"Nii-chan? Kenapa belum bangun?"
Mendengar suara Eren didekatnya, perlahan Levi membuka kedua manik matanya. Berbicara dengan sangat lemah.
"Ah, Eren. Aku tidak kuat untuk bangun. Bisakah kau membuat sarapan sendiri?"
"Ha? Hm, baiklah."
Eren sempat menyentuh kening sang kakak dengan punggung tangannya, meniru apa yang selalu kakaknya lakukan jika dirinya sakit. Memang panas, itu yang Eren rasakan.
"Eren bisakah kau menghubungi Petra bahwa aku tidak bisa pergi mengajar hari ini. Kau bisa melakukannya kan, Eren?"
"Hm tentu!"
Tanpa menunggu apapun lagi Eren langsung pergi menelepon Petra seperti yang diminta sang kakak, baru setelah itu ia menuju dapur. Sekedar untuk membuat roti panggang dengan selai kacang menuangkan susu kedalam gelas.
Pagi ini sangat berbeda baginya. Biasanya ia sarapan ditemani Levi. Untuk pertama kalinya pria dengan status sebagai kakaknya itu jatuh sakit sampai tidak bisa bangun dari kasurnya. Tapi lambat laun Eren memang harus terbiasa sarapan sendiri. Tidak selamanya ia akan diawasi dan tinggal dengan kakaknya. Bagaimana jika suatu saat Levi menikah? Itu berarti Eren harus siap tinggal sendiri. Lagipula umur 10 tahun sudah cukup untuk berpikir hal-hal yang logis. Tapi entah itu berlaku untuk Eren atau tidak. Bocah itu masih terlihat lugu atau mungkin.. ingusan.
Siang harinya Eren pulang ke rumah. Saat pertama memasuki rumahnya, ia tidak merasakan tanda-tanda perubahan sejak tadi pagi ia meninggalkan rumah untuk sekolah. Itu artinya Levi masih berada dikamarnya, tertidur.
Eren tak banyak memikirkan hal lain selain ia harus cepat-cepat menuju kamarnya. Bisa dilihat dengan jelas bahwa ada sedikit luka lebam dipipi Eren. Kalau boleh jujur, tadi sepulang sekolah Eren berkelahi (lagi) dengan Jean. Salah satu teman atau mungkin musuh bebuyutan Eren yang sering dijuluki 'muka kuda' itu mengejek Eren yang tidak sengaja jatuh dihadapannya. Padahak itu hal yang sepele tapi mereka berdua malah berakhir dengan berkelahi. Memang sejak dulu kedua bocah itu tak bisa bersatu atau sekedar saling melempar senyuman ramah sebagai tanda pertemanan.
Eren tidak berani menghadap Levi. Tak lain dan tak bukan karena ia takut kakaknya itu memarahinya atau mungkin mencerahaminya panjang lebar tentang hal ini. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk meremang. Dan hukuman paling parah yang bisa didapatkan Eren sudah sangat jelas, membersihkan seluruh ruangan di rumah ini yang tidak bisa disebut kecil.
Disamping masalah Eren yang ketakutan dikamarnya, Levi membuka matanya untuk melihat jam yang bertengger dimeja nakas samping tempat tidurnya. Ini sudah waktunya Eren pulang.
Dengan kepala yang masih terasa pening, Levi memaksakan diri untuk bangun dan keluar kamarnya mencari Eren.
"Eren? Kau sudah pulang?" tanyanya sambil berusaha terus menyeimbangkan tubuhnya yang lemah.
"I-iya! Aku sudah pulang!" balas Eren dari dalam kamarnya.
Tanpa menunggu banyak waktu lagi Levi langsung membuka kamar Eren. Perbuatannya ini membuat Eren membeku ditempat, seperti seorang gadis yang ketahuan berselingkuh dalam drama opera sabun. Jika ia mau bahkan ia juga bisa berteriak terkejut seperti nona-nona yang diintip saat berganti pakaian.
Levi mengernyitkan dahi. Luka lebam yang ia lihat diwajah Eren membuatnya ingin sekali mengeluarkan emosi sebanyak-banyaknya agar anak itu tidak melakukan hal yang serupa lagi. Tanpa ditanyapun ia sudah tahu apa atau lebih tepatnya siapa yang telah membuat tanda hijau keunguan itu diwajah Eren.
"Apa-apaan wajahmu itu?" tanya Levi seolah telah melupakan sedikit rasa peningnya tadi.
"E-eto... Ini.."
Tanpa mau menunggu jawaban amburadul dari Eren, Levi langsung menarik tangan bocah itu ke ruang tengah. Kemudia ia mendudukkannya diatas sofa.
"Kau harus diobati!" ucapnya tegas, yang artinya tidak menerima penolakan.
"Aku tidak mau diobati!"
Bodohnya Eren, ia menolak mentah-mentah perintah mutlak kakaknya. Dia ini.. seolah baru tinggal bersamanya beberapa minggu sampai tidak mengetahui akibat apa yang akan ia dapatkan jika ia menolak. Levi tak membalas apa-apa. Ia hanya menatap Eren dingin, penuh intimidasi. Jika sebuah tatapan bisa membunuh seseorang, mungkin dari dulu Levi telah menjadi pembunuh bayaran untuk membunuh seseorang dengan tatapannya yang seperti ini.
Eren meneggak ludah. Keadaan kakaknya yang sakit ternyata tidak mengurangi rasa intimidasi dari mata kelamnya itu.
Sesudah memastikan Eren tidak akan menolak untuk diobati seperti tadi, Levi membawa beberapa benda untuk memulai mengobati anak itu seperti baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil.
"Ini tidak akan sakit."
"Tapi!"
"Kenapa kau berkelahi dengan Jean?"
Eren terdiam. Sedikit memalingkan wajahnya kearah lain. Ia tidak berani mengatakan alasan sepele itu padanya.
"Aku tidak akan mengatakannya.."
"Keras kepala."
Levi mulai menempelkan handuk yang sudah ia masukkan kedalam air hangat dan diperas pada luka lebam diwajah Eren. Eren tampak sedikit meringis karenanya.
"Ini tidak sakit kan? Aku berani bertaruh. Jika memang sakit pukul saja aku."
Levi meneruskan kegiatan menempelkan handuk hangat itu. Sampai tiba-tiba Eren meringis kesakitan sambil memukul pundak Levi bahkan sampai menjambaknya. Levi hanya bisa mendecih kesal. Ia tahu dengan jelas hal yang dilakukannya pada Eren takkan sampai sesakit itu jika memang sakit. Bocah ini seperti sengaja untuk memukulnya selagi ada kesempatan.
"Kau berlebihan Eren!"
"Ini memang sakit kok!"
"Tidak akan sesakit itu! Dan kau harus ingat bahwa yang membuat luka ini adalah karena perbuatanmu jadi kau tidak usah protes!"
"Bukan aku yang membuatnya! Itu Jean!"
"Dia tidak akan tiba-tiba memukulmu jika kau tidak melakukan hak yang sama padanya!"
Eren hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Ia salah telah mendebat pria stoic ini.
Levi selesai dengan kegiatannya. Ia lalu berdiri dan menatap Eren.
"Bisakah kau menjadi anak baik untuk sehari saja?"
"Nii-chan! Aku memang anak yang baim setiap harinya!"
"Anak baik tidak akan berkelahi."
Mati kutu lagi. Lagi-lagi ia kalah bicara.
"Nii-chan sendiri, bisakah tidak menceramahiku sehari saja?" Eren bertanya balik. Atau mungkin menantang kakaknya?
"Apa kau bilang?"
"Bisakah nii-chan tidak menceramahiku sehari saja?" ulangnya lagi penuh penekanan.
Tak ada balasan sedikitpun dari Levi. Yang ada hanya tatapan datar pria itu pada Eren. Sangat datar sampai Eren sendiri bingung dengan apa yang sedang dipikirkan pria dihadapannya ini. Tak disangka, hal yang paling mustahil Eren lihat dari seorang Levi kini ia lihat. Pria itu ambruk. Tepat dihadapannya. Eren masih cengo, mencoba mencerna apa yang ia lihat dengan otaknya yang seolah tidak berfungsi untuk beberapa saat.
"Eh? Nii-chan?"
Hening. Orang yang ia panggil masih tergeletak tak sadar diatas karpet yang ia injak. Eren mencoba mengguncang-guncang tubuh terkulai itu sambul sesekali memanggilnya.
"Hey nii-chan?! Kau kenapa?"
Ia menyerah. Levi memang benar-benar pingsan. Ia sempat menduga kakaknya ini menjailinya agar Eren melupakan ucapannya sendiri. Tapi ternyata tubuh Levi memang panas karena demam.
"Ah nii-chan.. Kenapa tidak pingsan dikamar saja? Aku tidak bisa mengangkatmu.. Atau jangan-jangan nii-chan ingin aku menghubungi Petra nee-chan agar merawatmu?"
Sia-sia. Sungguh sia-sia mengajak berbicara pada orang yang pingsan bukan? Tapi Eren hanya ingin memastikan sekali apakah Levi benar-benar pingsan atau hanya bercanda.
Eren mencoba menyentuh tangan kakaknya yang terkulai lemas itu. Dan rasa yang ia dapatkan cukup membuatnya panik. Disaat seluruh tubuhnya panas kenapa tangannya dingin sekali? Padahal tadi juga tangannya masuk ke air hangat kan? Jadi harusnya tangan itu tidak sedingin ini.
Bocah emerald bernama Eren itu mulai panik. Ia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan pada orang lain. Tapi siapa orang lain itu? Yang terlintas dibenaknya hanya sosok Petra. Dia juga ingat bahwa gadis rekan kerja kakaknya itu sempat memberinya kartu nama. Jadi yang ia lakukan saat ini adalah menghubungi si gadis Rall.
"Moshi-moshi!" ucap suara diseberang sana.
"Petra nee-chan! Bisakah datang ke rumah sekarang juga?"
"Eh? Ada apa Eren-chan?"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada nii-chan, jadi tolong datanglah kemari!"
"Baiklah, aku akan kesana sekarang!"
Sambungan telepon terputus. Eren yang tidak tahu harus melakukan apa hanya duduk disamping Levi yang belum sadar dengan raut panik, menunggu Petra datang.
"A-apa yang terjadi?"
Baru saja Petra menginjakkan kaki diruang tengah kediaman Levi dan Eren, ia langsung sama paniknya dengan Eren tadi. Gadis itu langsung meraih tubuh lemas itu agar posisinya benar. Sebenarnya Eren salah meminta bantuan. Meski meminta Petra tetap saja kan seorang gadis tidak akan bisa mengangkat tubuh seorang pria yang tak sadarkan diri. Tapi setidaknya Petra tahu bagaimana caranya merawat orang yang sakit.
"Nii-chan pingsan setelah aku mengatakan 'bisakah dia tidak menceramahiku sehari saja'." jelas Eren dengan mata yang tertuju pada tangan Perta yabg begitu cekatan memposisikan kakaknya diatas karpet.
"Bukankah dia sedang sakit? Kenapa dia keluar kamar?"
"I-itu.. Nii-chan mengobatiku dulu tadi.."
Petra menoleh pada Eren, memerharikan wajah Eren yang memang terdapat lebam disana. Ia juga melihat baskom kecil berisi air serta handuk kecil diatas meja disamping sofa.
Perlahan Petra tersenyum lembut. Menyadari pria yang terbaring ini memiliki sikap sangat berbeda dengan auranya.
"Kakakmu memang sangat baik kan?" ucapnya lembut dan berhasil membuat Eren berpikir sejenak.
"Eren-chan, bisakah kau bawakan bantal dan selimut?"
"Ha? Ah.. Eh.. Baik."
Eren pergi ke kamar Levi, membawa sebuah bantal empuk dan selimut tebal kakaknya kemudian diberikannya pada Petra. Ia masih tampak berpikir dengan ucapan Petra tadi. Kata-kata itu seolah susah untuk menghilang dari otaknya. Benar juga, bukankah kakaknya itu sangat baik? Kenapa Eren malah meminta kakaknya berhenti menceramahinya? Bukankah kakaknya menceramahi Eren bukan sekedar untuk bualan saja? Bukankah itu semua untuk kebaikkan Eren? Eren terus berpikir. Mungkin kakaknya sakitpun gara-garanya. Karena dia merengek ingin pergi ke pantai, karena dia berpura-pura tenggelam dan membuat kakaknya itu harus masuk kedalam air, menyelamatkannya.
"Eren-chan, dimana aku bisa mendapat handuk kecil dan air es?"
"Ah? Iya?" Eren masih setengah sadar dari pemikirannya tadi. Hal itu membuatnya kehilangan konsentrasi sehingga Petra harus mengulangi pertanyaannya.
"Dimana aku bisa mendapatkan handuk kecil dan air es?"
"Oh, biar aku yang ambilkan."
Selagi Eren membawa apa yang diminta Petra, gadis itu sibuk memeriksa denyut nadi dan hembusan napas Levi.
"Ini nee-chan!"
"Arigatou."
Sesudah handuk kecil yang dibawa Eren direndam dalam air es dan diperas, Petra dengan lembut menyimpannya diatas kening Levi.
"Apa dia sudah makan dan minum obat?"
Eren tampak berpikir, mengingat-ingat apa yang terjadi tadi pagi.
"Ah, kurasa.. Nii-chan tidak keluar kamar selama aku pergu sekolah tadi. Dia juga tidak makan apa-apa sejak aku bangun."
"Pantas saja dia sampai pingsan.." guman Petra nyaris berbisik.
"Mengatakan sesuatu nee-chan?"
"Mm, dimana dapurnya?"
"Sebelah sana." tunjuk Eren dengan jarinya.
"Nah Eren-chan, jagalah kakakmu. Aku akan memasakkan sesuatu."
"Baik."
Petra berjalan menuju dapur. Ia sempat berpikir makanan apa yang biasa dimakan orang sakit. Dan akhirnya yang menjadi pilihan gadis itu untuk dimasak adalah bubur. Makanan itu lembut jadi tidak akan membutuhkan banyak energi memakannya. Ya seperti mengunyah dan mencerna, itu memerlukan energi kan?
Petra mencari bahan yang ua butuhkan selain beras didalam kulkas. Ia memutuskan untuk menambahkan potongan wortel dan daun seledri dalam masakannya. Dan dimulailah acara memasaknya.
Beberapa saat kemudian, mungkin sekitar 25 menit, Petra datang dengan semangkuk bubur ditangannya.
"Kalau kau mau, buburnya masih ada didapur."
Eren mengangguk. Ia tampak bosan sekarang. Toh ia tidak berbakat mengurus orang yang sakit. Ia ingin pergi keluar, menemui teman-temannya.
"Ano.. Petra nee-chan, boleh aku pergi main?"
"Hm? Tapi kau harus kembali sebelum jam 5 sore. Mengerti?"
"Yosh!" senyum Eren mengembang.
Bocah emerald itu langsung pamit pergi, meninggalkan Petra dan Levi dirumah.
Petra menjadi sedikit tidak nyaman karena hanya berdua dengan pria yang belum sadar itu. Semburat-semburat merah terlihat samar dikedua pipinya. Ia masih menunggu Levi terbangun. Tapi, apa ia harus menunggu? Tidak membangunkan?
Selama berpikir, ternyata Levi mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Matanya perlahan terbuka dan hak yang ia lihat pertama kali adalah wajah Petra disampingnya.
"Petra?" suaranya terdengar serak.
"Levi-san, akhirnya kau bangun!"
Levi mencoba untuk duduk dan bersandar di sofa yang dibelakangnya. Keadaannya sama sekali tidak membaik dari sebelumnya. Handuk yang sempat tersimpan dikeningnya ia benarkan. Sebenarnya Levi sedikut heran kenapa Petra ada disini.
"Kau yang melakukan ini?"
"Iya, Eren juga membantu."
"Souka.. Kemana anak itu?"
"Dia pergi bermain setelah jenuh menunggumu sadar."
Levi mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya. Pelipisnya ia pijat perlahan. Rasa pusing masih menemaninya.
"Sebenarnya.. apa yag terjadi padaku?"
"Kau pingsan, harusnya kau makan sesuatu dan minum obat jika merasa tidak enak badan!"
Levi menjawab dengan gumanan tidak jelas. Ia merasa tidak berada dalam keadaan baik untuk berhadapan dengan gadis disampingnya. Rambut berantakan, wajah pucat, baju kusut, hal itu tidak layak untuk ditunjukkan pada seorang gadis.
"Levi-san makanlah dulu. Aku sudah membuat bubur."
Levi membuka matanya yang ia tutup selama memijat kedua pelipisnya. Apa ia tidak salah dengar? Apa katanya tadi? Bubur? Mimpi buruk baginya.
"A-apa?"
"Aku membuatkan bubur." Petra menyodorkan semangkuk bubur yang ia bawa tadi.
Levi tampak syok meliht makanan putih dan lembek itu. Mungkin memang tidak ada yang tahu bahwa ia tidak menyukai bubur.
"Tidak usah repot-repot. Aku.. tidak akan makan."
Petra mengerutkan alis. Merasa makanannya ditolak, ia sedikit kesal.
"Kau harus makan, Levi-san!"
"Tapi.."
"Kau mau pingsan lagi karena tidak makan apapun saat sakit seperti ini?"
Mata Levi tertuju pada wajah Petra lalu pada semangkuk bubur yang ada ditangan gadis itu. Sesaat setelahnya Levi menghembuskan napas berat, ia harus menerima tantangan paling mengerikannya ini.
"Aku tidak suka bubur."
Petra membulatkan matanya. Tak ia sangka bahwa Levi tidak menyukai makanan seperti bubur. Padahal hampir semua orang menyukainya.
"Eh? So-sou desu ne.. Maaf karena aku tidak tahu.." wajahnya memerah karena malu.
Mangkuk bubur ditangannya ia simpan lagi. Ia merasa sangat malu karena sempat memaksa Levi memakan makanan yang tidak disukainya. Memalukan sekali, batinnya.
Melihat tampang kecewa dan bersalah pada wajah Petra membuat Levi merasa iba. Setidaknya ia harus menghargai apa yang gadis itu lakukan untuknya. Memasak bubur itu tidak semudah membuat omelet.
Akhirnya Levi memutuskan untuk mengambil mangkuk bubur itu, menyendokkan sedikit bubur dan dimasukkan kedalam mulutnya. Saat makanan kental tersebut melewati kerongkongannya, rasa mual langsung menjalar namun ia tahan. Tidak mungkin ia memuntahkan makanan didepan orang yang membuatnya kan?
Petra terkejut dengan apa yang dilakukan Levi. Padahal tidak apa-apa jika Levi memang tidak suka bubur.
"Levi-san?!"
"Tak apa. Anggap saja sebagai tanda terimakasih karena merawatku."
Ingin sekali Petra menangis detik itu juga. Baru kali ini Petra melihat pengorbanan seorang Levi untuknya. Wajahnya mungkin sudah sangat memerah saat ini. Sepertinya ia memang telah benar-benar jatuh cinta pada si pria stoic, Levi.
"Arigatou.. Levi-san.."
Levi mendongak, melihat wajah memerah Petra. Ia menyimpan sendok yang ia pegang kemudian menggunakan tangan itu untuk mengelus kepala Petra.
Otomatis gadis itu tersentak dan warna merah diwajahnya semakin jelas terlihat. Namun mulutnya tak bisa ia gunakan untuk berkomentar. Seolah pita suaranya putus dan membuatnya jadi bisu, atau otaknya macet sehingga kehilangan kata untuk protes. Ia hanya menikmatinya. Menikmati sentuhan ringan yang Levi berikan. Mungkin hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa sentuhan sederhana seperti itu sangat berpengaruh terhadap kinerja otak dan tubuhnya.
"Harusnya aku yang berterimakasih, Petra."
Petra tersenyum, sangat lembut. Ia ingin menunjukkan kesenangannya berada disisi pria itu, saat ini.
Esoknya Levi sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Mungkin karena Petra menjaganya dengan baik. Ya meski pada malam harinya ia harus pulang. Sebagai gantinya, Eren yang menjaganya.
Pagi ini Levi membuat sarapan untuk Eren, seperti biasa. Ia melirik sebuah panci yang masih berada diatas kompor. Dengan rasa penasaran ia membuka tutup pancinya.
"Bubur?"
Ya, bubur. Levi tidak salah lihat. Panci itu berisi bubur buatan Petra. Meski harus diakui rasanya memang enak, namun Levi bersumpah untuk tidak lagi memakan makanan lembek itu. Meski baunya wangi, tetap saja baginya tidak enak dicium. Pria yang aneh. Diam-diam, Levi tersenyum saat mengingat lagi wajah Petra yang terkejut saat ia memakan buburnya.
Baiklah, mulai membuat sarapan. Levi menutup lagi panci itu dan membuat roti isi.
"Eren! Ayo sarapan!" panggilnya dari dapur.
Tak ada yang menyahut sehingga Levi memutuskan untuk pergi ke kamar Eren.
"Eren? Kau masih tidur?"
Eren terbangun. Namun ia tetap tidak bergerak darisana.
"Eren?"
Levi menghampirinya. Menyentuh kening adiknya itu. Dan, ergh.. Sepertinya sekarang Eren yang sakit.
"Aku tidak enak badan, nii-chan.."
Levi menghela napas, panjang. Baru saja ia sembuh dan kini harus merawat orang sakit. Mungkin demam yang kemarin ia alami menular pada Eren. Tapi jangan sampai akan menular lagi padanya. Yang ada, orang sakit di rumah ini tidak akan hilang.
