Rainbow Days

"Hari-hari penuh warna, seperti pelangi.

Setiap harinya pasti ada kesedihan. Tapi kau tahu artinya? Dibalik kesedihan itu ada kebahagiaan yang menunggu. Dan juga sebaliknya. Sebenarnya sebuah kebahagiaan menyembunyikan kesedihan didalamnya.

Seperti pelangi. Mereka ada setelah datangnya hujan. Takkan ada kebahagiaan jika tak diawali oleh kesedihan.

Didunia tanpa kesedihan, jembatan pelangi tidak akan muncul."

Semua siswa 10-1 turun dari bus. Mereka baru kembali dari perjalanan mereka ke sebuah kuil dikaki gunung. Sebentar lagi memang akan diadakan festival tahunan yang sering diadakan setiap musin semi.

Dan untuk tahun ini, 10-1 akan mengadakan rumah hantu. Oleh karena itu, mereka menyempatkan diri untuk berkunjung ke kuil agar kegiatan mereka berjalan lancar tanpa masalah apapun.

Sebagai wali kelas, tentunya Levi menemani kunjungan mereka ke kuil. Ia memimpin doa disana. Ia juga bertanggung jawab sampai detik ini, sampai mereka turun dari bus dan bergegas pulang ke rumah masing-masing.

Untuk persiapan rumah hantu, akan dimulai esok hari. Mereka akan merombak kelas menjadi sebuah ruangan menyeramkan untuk menakuti orang. Siapa tahu kelas mereka menjadi kelas terbaik tahun ini.

Setelah dipastikan semua siswanya telah lenyap dari pandangannya -kecuali Eren tentunya-, Levi berjalan menuju mobilnya yang terparkir, dengan Eren dibelakangnya.

Mereka masuk kedalam dan mesin mobil pun menyala. Eren duduk disamping kakaknya. Dari tadi bocah itu terdiam tanpa mengoceh seperti biasa. Itu membuat Levi sedikit heran.

"Ada apa denganmu?" tanya Levi setelah melajukan mobil yang dikemudikannya.

"Hm? Aku baik-baik saja. Hanya saja.. punggungku terasa berat.."

"Mungkin kau kelelahan. Istiahatlah setelah ini."

Eren mengangguk mengerti. Tapi beban dipunggungnya terasa semakin bertambah. Sangat berat. Padahal seingatnya, ia sama sekali tidak melakukan hal-hal yang berat tadi. Hanya berjalan ke kuil dan berdoa bersama yang lain. Tidak lebih dari itu. Hanya saja kekebalan tubuhnya sedikit menurun hari ini. Jadi ia lebih banyak diam sedari tadi. Apa itu mempengaruhi punggungnya itu? Siapa yang tahu..

Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Eren langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Beban dipunggungnya masih terasa menindihnya. Itu sangat mengganggu.

Sesekali Eren memijat-mijat bahunya sendiri, berharap dengan tindakannya ini dapat mengurangi rasa berat tersebut.

Setelah mulai terasa sedikit lebih ringan, Eren merasakan sebuah sentuhan ringan ditelapak kakinya. Seperti sebuah usapan. Sontak Eren langsung memeriksa apa yang ia rasakan. Tapi tak ada apapun yang bisa dijadikan alasan tentang apa yang ia rasakan. Tak ada seorangpun disana kecuali dirinya sendiri.

Eren merasa mulai terganggu dengan apa yang ia alami. Namun kondisinya tidak memungkinkan untuk keluar kamar dan mengatakannya pada Levi. Akhirnya ia tetap berbaring disana, mulai merasakan hawa aneh yang tak biasa dikamarnya ini.

"Eren! Bisa tolong berikan kardus ini pada Marco?" kata Armin yang tengah kewalahan memasang kain hitam didinding kelasnya.

Semua siswa memang sedang melakukan persiapan untuk festival besok. Hanya diberi waktu sehari untuk persiapan membuat mereka harus bekerja lebih ekstra. Deadline didepan mata.

Eren membawa kardus besar berisi kostum hantu yang tadi diminta Armin untuk diserahkan pada Marco. Marco memang menjadi penanggung jawab untuk bagian hantu, dia menyukai hal-hal yang mistis.

Tinggal beberapa langkah Eren mendekati Marco yang berada disudut ruangan. Dan tiba-tiba Eren menjatuhkan kardus ditangannya. Dia seolah melihat sesuatu disudut kelas, tepat dibelakang Marco, setelah itu barulah Eren membulatkan mata dan mundur beberapa langkah sampai akhirnya ia seolah dihantam sesuatu. Tubuh Eren tersungkur ke belakang.

Kejadian itu membuat perhatian semua siswa yang ada didalam kelas tertuju pada Eren. Mikasa dan Armin menghampiri Eren yang masih tergeletak dilantai, disusul oleh Marco dan yang lainnya.

"Eren! Eren!" panggil Mikasa yang panik melihat Eren ternyata sudah tak sadarkan diri.

Eren tak bergeming meskipun terlihat keringat dingin keluar dari pelipisnya. Ia terlihat seperti sedang melakukan sesuatu dialam bawah sadarnya.

Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Eren sampai Marco angkat bicara.

"Dia seperti sedang mempertahankan posisinya." ucap Marco.

Mikasa dan Armin menoleh heran pada Marco. Meminta penjelasan lebih darinya.

"Aku pernah melihat ini sebelumnya. Jiwa Eren sedang bertarung dengan roh didalam tubuhnya."

"A-apa?!"

"Kita harus menunggu sampai Eren menang dan roh yang mengganggunya keluar."

Hening. Semuanya menunggu apa yang terjadi pada Eren setelah ini. Dan ternyata beberapa saat kemudian Eren mulai membuka kelopak matanya.

"Eren!"

Eren mendudukkan tubuhnya. Ia memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Matanya tertuju pada teman-teman yang mengerubunginya itu. Pandangannya seperti kosong.

"Daijoubu?"

Eren mengangguk meski pelan. Itu artinya tidak ada hal buruk yang terjadi pada Eren. Marco menepuk-nepuk punggung Eren, memberi semangat.

"Baiklah, semuanya! Ayo lanjutkan tugas kalian! Kita harus menyelesaikannya sebelum petang!" seru Reiner si ketua kelas.

Semuanya membubarkan diri dari sekitar Eren dan mulai melanjutkan pekerjaan masing-masing yang sempat tertunda.

"Nah Eren, kau duduk saja dulu disana. Kau harus istirahat dulu." ucap Armin.

Eren menurut dan berjalan menuju kursi disudut ruangan untuk diduduki. Kini ia hanya memerhatikan teman-temannya yang sibuk mengurus ini-itu.

Tangannya perlahan masuk kedalam saku celananya, mengambil sebuah gantungan ponselnya yang berbentuk pedang. Gantungan itu berukuran sekitar 7 cm. Sebenarnya tidak tajam sama sekali, tapi ujung pedang yang runcing cukup untuk sekedar merobekkan kain. Itulah kenapa Eren hanya menyimpan gantungan itu didalam saku untuk digunakan saat membuka plastik makanan. Gantungan itu tak pernah ia tunjukkan pada siapapun.

Eren memainkan gantungan itu. Melakukan gerakan memutar-mutar sampai benda tersebut terlempar dan menyangkut dilantai kayu buatan yang menjadi salah satu properti untuk festival.

Sebuah seringai terlihat menghiasi wajah Eren. Dan sedetik kemudian..

"Aaaarrghh!"

Kaki Marco tidak sengaja menginjak gantungan pedang yang terjepit itu. Entah mengapa gantungan itu tepat membentuk posisi siap menyakiti orang.

Telapak kaki Marco mengeluarkan darah yang cukup banyak. Ia terus meringis kesakitan. Jean menghampirinya dengan panik, begitu pula yang lain. Akhirnya Marco dibawa ke ruang UKS untuk diobati.

Darah yang berceceran dilantai kayu itu membuat seringai Eren semakin mengembang. Sebenarnya apa yang ia lakukan? Apa ia sengaja melakukan hal yang membahayakan temannya itu? Eren tampak berbeda dari kemarin.

Tengah malam Levi terbangun dari tidurnya karena mendengar suara gaduh didapur. Tadinya ia pikir ada tikus atau kucing yang masuk. Tapi ia langsung menghilangkan dugaannya itu. Tidak mungkin ada tikus dirumahnya maupun kucing yang masuk dari luar. Jadi ia benar-benar harus memeriksanya kedapur.

Cahaya remang-remang terlihat disana. Levi semakin mendekat dan akhirnya mengetahui apa atau lebih tepatnya siapa yang ada di dapur.

Eren tengah duduk dihadapan lemari es yang terbuka, membuat ruangan itu terlihat remang-remang oleh cahaya yang berasal dari sana. Posisi Eren memunggungi Levi. Hal itu membuat Levi tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan adiknya itu.

"Nee, Eren! Kau sedang apa malam-malam begini?"

Tak ada jawaban. Levi melangkah semakin mendekat untuk melihat apa yang dilakukan Eren.

"Nee!"

Tepat saat Levi berada dibelakang Eren dan menyentuh bahunya, sontak ia terkaget melihat apa yang sedang dilakukan Eren saat ini.

Beberapa ekor ikan yang baru masuk lemari es sore tadi kini berserakan dibawah dengan bentuk yang sudah tidak jelas. Pisau pemotong daging berada ditangan Eren. Dan bocah brunette itu tak henti menghantamkan pisau pada ikan dihadapannya. Pandangannya kosong.

Levi menarik bahu Eren kebelakang, mencoba menyadarkan tindakan yang dilakukan Eren saat ini.

Namun Eren tak henti mengayunkan pisau dan akhirnya mengenai tangannya sendiri. Seolah tak merasakan apa-apa, Eren terus melakukan hal yang sama. Darah keluar dengan lancar ditangan kirinya, menetes perlahan menodai lantai dapur.

Levi mencoba menjauhkan pisau dari Eren tapi hanya sia-sia. Eren seolah sedang dirasuki sesuatu dan membuatnya tidak menyadari yang ia lakukan. Levi menahan tangan Eren yang tak henti menggerak-gerakkan pisau itu.

"Yak! Sadarlah! Apa yang membuatmu melakukan hal ini hah?!"

Eren mencengkram pisau itu lebih erat, dengan pandangan tak fokus dan tubuh yang menegang. Ia juga mulai mengeluarkan suara aneh dari mulutnya.

"Hey Eren!"

Brakk!

Eren berhasil membanting Levi yang menghalangi gerakannya. Hal itu juga membuat Levi mendapatkan hiasan berwarna merah dilengan atasnya.

Sambil meringis menahan rasa perih dilengannya, Levi kembali mencoba menghentikan perilaku Eren yang aneh. Setidaknya ia harus menjauhkan pisau dari genggamannya agar tidak menyakiti siapapun lagi.

"Aku tahu ini bukan kau! Tapi berhentilah! Sekarang!"

"Grraaauuu!"

Tangan Eren mencakar-cakar lantai. Matanya terlihat semakin memutih. Tak henti juga ia menggaung dengan liar.

Darah yang keluar dari tangan Levi semakin membuatnya pening. Darahnya keluar banyak.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Levi langsung mengunci pergerakan liar Eren dengan menahan tenguknya. Setelah beberapa guncangan yang ia rasakan, akhirnya Eren melemas dan mungkin tak sadarkan diri.

"Tch, merepotkan saja."

Levi membawa Eren ke ruang tengah untuk mengobati lukanya. Sebenarnya apa yang membuat Eren bertingkah seperti itu? Siapa roh yang merasukinya?

Eren terbangun paginya, dengan tangan kiri yang terbalut perban. Ia juga merasa perih disekitar tangannya.

Ia heran dengan keadaannya itu. Ditambah keberadaannya berada di ruang tengah, bukan dikamarnya.

"Nii-san, apa yang terjadi padaku?" tanyanya langsung saat melihat kakaknya lewat.

Levi berhenti melangkah untuk menjawab pertanyaan Eren. Tapi bukan jawaban yang ia keluarkan, melainkan pertanyaan balik.

"Kau sama sekali tidak ingat?"

Eren menggeleng. Ia semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Levi menghela napas berat. Lalu ia mengangkat tangannya, menunjukkan perban yang juga menghiasi tangannya.

Eren tersentak.

"N-nande?"

"Kau menyerangku."

"Eh?"

"Ternyata kau benar-benar tidak ingat. Sudahlah, lupakan. Kau barus segera bersiap ke sekolah."

Eren tak mengeluarkan protes apapun setelah itu. Ia hanya semakin bingung. Dan perkatakaan kakaknya memang benar, ia harus segera bersiap ke sekolah.

Festival tahunan dimulai hari ini. Setelah upacara pembukaan, seluruh siswa kembali ke kelasnya masing-masing untuk melakukan kegiatan mereka. Selama 3 hari festival ini berlangsung memeriahkan sekolah. Bahkan di hari terakhir siswa sekolah lain bisa datang berkunjung juga.

Kemeriahan terlihat disetiap sudut sekolah. Masing-masing kelas mengambil tema yang berbeda-beda. Ada caffe, bazar, pameran, rumah hantu, karaoke, drama, dan masih banyak lagi. Tidak semua kelas mengikuti pameran. Hanya kelas 10 dan 11. Sedangkan kelas 12 hanya menjadi pengunjung.

Kelas 10-1 telah siap dengan rumah hantu mereka. Para pemeran hantu pun sudah siap diposisi masing-masing untuk menakuti pengunjung.

Annie berdiam di sudut pohon buatan, dengan lampu yang sengaja disorot dari bawah. Wajahnya berlumuran cat berwarna merah. Ceritanya dia hantu yang gentayangan karena dibunuh dengan sadis.

Bertholt dengan kostum prajurit jepang jaman dulu membawa potongan kepala yang sebenarnya boneka manequeen, Mikasa menjadi Sadako, Shasha menjadi aburakago, Connie menjadi akaname, Armin menjadi ame furi kozo, Ymir menjadi ame onna, dan yang lainnya bertugas dibagian lain. Seperti menghembuskan angin pada tenguk setiap pengunjung yang lewat, atau menarik benda-benda yang sudah diikat dengan benang-benang transparan.

Awalnya tugas mereka berjalan lancer sampai.. Eren kembali bertingkah aneh.

Eren yang memang tidak mendapat tugas menjadi hantu ataupun panitia lain tiba-tiba masuk ke kelas, menghampiri Marco yang bertugas dibalik layar. Eren memperlihatkan seringainya sebelum meletakkan kedua tangannya dileher Marco, hendak mencekiknya.

"Errghh! E-Eren! A-apa yang kau lakukan?!"

Eren tak menjawab sama sekali, ia hanya semakin mempererat cekikannya. Marco yang mulai kehabisan nafas terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Eren, namun sepertinya sia-sia.

Untunglah beberapa saat kemudian Levi datang karena permintaan Armin untuk memeriksa keadaan.

Pendengaran Levi yang tajam membuatnya bias mendengar suara Marco. Dia langsung bergegas mencari anak itu.

"Tch.. bocah itu.."

Levi berusaha menjauhkan Eren dari Marco yang mulai lemas. Dan..

Plakk!

"Apa yang kau lakukan hah?! Mau membahayakan temanmu?!"

Eren yang tampaknya masih belum sadar hanya terduduk lemah. Pandangannya masih kosong. Hal yang bisa Levi lihat saat ini adalah Eren yang terduduk itu bukanlah Eren yang ia kenal. Mata emerald milik adiknya tidak lagi menunjukkan warna jamrud tersebut. Yang ada hanyalah warna kehampaan, warna abu.

Levi menghampiri Eren untuk mengetahui keadaannya. Perlahan Levi mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat didalam saku ia menempelkan kertas itu di kening Eren. Saat itulah Eren jatuh terkulai, hilang kesadaran.

"Ano.. Levi-sensei, sebenarnya apa yang terjadi pada Eren?" Tanya Armin setelah memutuskan untuk menutup sementara rumah hantunya.

Mereka kini tengah berada di bagian properti samping kelas. Levi menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Ia tampak serius memikirkan sesuatu. Barulah ia menjawab pertanyaan Armin tadi setelah keadaan sekitarnya hening.

"Dia diikuti roh jahat."

Armin, Mikasa, Marco dan Jean membelalakan mata. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi sekarang ini. dan kenapa harus Eren?

"T-tapi.. Kenapa?"

Levi memosisikan dirinya untuk duduk. Ia harus mulai bercerita tentang apa yang terjadi. Ia harus cepat melakukan tindakan agar Eren bisa selamat.

"Kalian masih ingat kan saat kunjungan ke kuil beberapa hari lalu dia terlihat kurang sehat?"

Semuanya mengangguk sambil mengingat-ingat kembali kejadian kunjungan itu.

"Orang dalam keadaan tidak sehat sangat mudah diikuti oleh hal seperti itu. Dan sepulang dari kuil dia mengeluh merasa berat dipundaknya. Awalnya aku merasa itu karena dia hanya kelelahan tapi ternyata yang ada dia malah berlaku aneh setelah itu. Saat malam aku selalu mendengarnya menggeram. Lalu kemarin, dia melakukan hal yang lebih ekstrim. Kalian bisa lihat kan tangannya diperban? Nah, itu perbuatannya sendiri."

"Dan.. anda juga…"

"Ini?" ucap Levi menunjukkan lengannya yang juga diperban. Armin selaku orang yang bertanya tadi mengangguk.

"Dia juga mengenaiku."

Hening. Semuanya tampak menelan ludah. Sebenarnya roh seperti apa yang merasuki Eren sampai menyakiti dirinya sendiri bahkan orang lain?

"Tadi pagi aku bertanya pada biksu kenalanku tentang apa yang terjadi. Dan dia memberikanku ini, kertas mantra." Levi mengeluarkan beberapa lembar kertas mantra didalam sakunya, kertas yang sama yang ia gunakan untuk menghadapi Eren tadi.

"Jadi, sekarang bagaimana?" Tanya Jean.

Levi tak langsung menjawab. Sebelumnya ia menmemasukkan kembali kertas mantra kedalam saku jasnya. Ia harus menunggu sampai waktunya datang.

"Kita harus menunggu sampai matahari terbenam. Roh yang merasuki Eren akan menggunakan tubuh Eren untuk melakukan apa yang ia mau. Saat itu terjadi, aku akan mencoba mengajaknya mengobrol dan mencari tahu apa yang ia inginkan. Saat aku berhasil mendapatkan titik lemahnya, biksu kenalanku akan melanjutkan sisanya."

"Biarkan aku membantu!" seru Mikasa.

Levi memandang datar gadis sahabat Eren itu. Mungkin gadis itu akan diperlukan nantinya.

"Baiklah."

"Aku juga! Biarkan aku ikut!" tambah Armin.

"Tch. Yasudah, yang tertarik untuk bergabung jangan pulang setelah petang. Tungggu intruksi dariku.

"Baik!"

Matahari sudah pergi dari pandangan mata dan menggunakan selimut gelap yang membuatnya tak terlihat lagi. Bulan sebagai pengganti matahari pun mulai muncul meski beberapa kali tertutupi awan malam. Sekolah sudah tampak sepi diluar maupun didalam. Yang ada hanyalah seorang guru pendek dan 4 orang siswa.

Mereka berkumpul disamping tangga yang menuju lantai paling atas gedung sekolah, dengan senter di tangan masing-masing. Dengan suara sangat pelan Levi mulai menyebutkan rencananya ini.

"Dengar, Eren sudah ada di atap gedung ini. sudah kuduga setelah pingsan tadi dia tidak akan sadar sebelum petang. Sekarang aku akan menghampirinya. Kalian berjaga disini. Jean dan Marco tunggu dibawah, si biksu itu belum datang jadi jika dia sudah datang tunjukkan keberadaanku dan Eren padanya. Mikasa dan Armin tunggu aba-aba dariku disini. Aku akan melempar kaleng jika aku sudah mengetahui kelemahannya sehingga kalian bisa menyuruh si biksu masuk. Tapi jika ada masalah atau aku gagal, aku akan menarik tali yang terhubung dengan kembang api. Paling lama aku akan melakukannya 15 menit. Jika lebih dari itu aku tidak menunjukkan tanda-tanda yang aku sebutkan tadi, kuserahkan pada kalian."

Mikasa, Armin, Jean dan Marco mengangguk mengerti dengan penjelasan Levi tadi. Masalah ini harus segera diselesaikan kalau tidak..

"Jika terjadi apa-apa padaku sebelum aku berhasil melakukan tugasku, kalian harus memastikan si biksu berhasil mengeluarkan roh itu dari tubuh Eren. Jika tidak.. Eren akan terjebak di alam bawah sadarnya dan tak bisa kembali. Jadi.."

Ketegangan tiba-tiba datang membabi-buta. Hal yang mereka lakukan ini berhubungan dengan keselamatan orang lain, ah bukan, sahabat mereka. Levi menaik napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya barusan.

"Jangan melakukan hal yang tidak semestinya."

Levi berdiri, siap dengan rencananya untuk mengeluarkan roh dari tubuh adiknya. Tanpa menunggu apa-apa lagi ia langsung menaiki tangga menuju atap sekolah. Dan sisanya, berdiam diri ditempat yang sudah direncanakan.

Langkah kaki Levi terdengar menggema disetiap sudut. Sekolah di malam hari memang sangat mengerikan. Ditambah beberapa cerita tentang sekolah ini yang semakin menambah aksen mengerikan pada gedung yang sudah berdiri hampir 68 tahun ini.

Levi sudah berada di atap gedung. Ia langsung melihat keberadaan Eren disana, sedang duduk disalah satu papan yang memang sengaja disimpan disana. Perlahan Levi menghampiri Eren. Meski ia tahu Eren saat ini bukanlah Eren yang biasanya, ia tetang berlaku sesantai mungkin agar tidak membuat hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Nee, Eren."

Eren tak menoleh, tentu saja. Dia kan bukan Eren yang asli. Levi akhirnya mendudukkan tubuhnya disamping Eren yang memandang kedepan dengan pandangan hampanya seperti siang tadi.

"Baiklah.. Su-za-ku." Ucap Levi dengan ejaan di kata terakhirnya.

"Kau, Suzaku kan?" tambahnya lagi.

Eren, atau lebih tepatnya 'Suzaku' menoleh kearah Levi. Ternyata roh dialam tubuh Eren memang bernama Suzaku.

"Aku hanya ingin mendengar beberapa alasanmu merasuki adikku. Kau pasti memiliki alasan kan?"

Suzaku kembali mengarahkan pandangannya kedepan, tanpa mengatakan apa-apa. Levi berusaha untuk bersabar, agar rencananya berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan.

"Jika ada yang ingin kau lakukan atau kau ingin menemui seseorang untuk menyampaikan sesuatu, aku akan membantumu. Tapi kau harus keluar dari tubuh adikku. Kau boleh menggunakan tubuhku."

Masih hening. Levi mulai ragu bahwa Suzaku tidak mengerti dengan apa yang ia bicarakan. Tapi melihat dari namanya, pasti Suzaku berasal dari Jepang juga kan? Atau mungkin bahasa roh dan manusia tu berbeda?

"Kau masih tidak mau mengatakan apapun padaku?"

Suzaku menunduk dalam.

"Aku.. ingin balas dendam.."

Akhirnya.. roh ini mengatakan sesuatu. Levi mulai tertarik dengan apa yang akan dikatakan Suzaku selanjutnya.

"Aku belum sempat membuat kuil yang aku jaga banyak dikunjungi orang-orang.. aku dibunuh oleh penjual daging dikaki gunung karena belum bisa membayar hutang ayahku yang sudah meninggal lebih dulu.. aku hanya ingin menjaga satu-satunya warisan ayahku, kuil itu.. tapi aku mati.. apa yang bisa kuperbuat.."

"Lalu, kenapa kau merasuki Eren?"

"Karena ada orang yang mengotori kuilku.. membuang sampah dihalaman kuilku.. memetik bunga langka yang selama ini aku rawat disamping kuilku.."

"Dare –siapa-?"

"Teman anak ini.. orang yang ingin sekali aku cekik.."

Langsunglah Levi teringat pada Marco. Jadi anak itu membuang sampah dikuil dan memetik bunga sesukanya sampai membuat roh ini tidak tenang?

"Jadi.. apa yang ingin kau lakukan?"

"Aku ingin membuat pelajaran pada anak itu… baru aku membunuh si tukang daging brengsek yang berhasil membunuhku dengan pisau dagingnya.."

"Jadi itu sebabnya kenapa kau memainkan pisau daging dirumahku kemarin?"

Suzaku tak menjawab.

"Nah, apa setelah kau memberi pelajaran pada Marco kau akan membunuh tukang daging yang kau maksud dengan tubuh ini?"

Suzaku mengangguk. Tiba-tiba saja Levi merasa kesal sendiri.

"Dan setelah itu kau akan keluar dari tubuh adikku?"

Suzaku mengangguk lagi. Kekesalan Levi semakin bertambah. Jadi roh ini akan membiarkan Eren menanggung perbuatannya membunuh orang lain, begitu?

"Kau tidak boleh seenaknya."

Suzaku menoleh. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Levi.

"Soal Marco, biar aku yang memperingatinya. Tapi soal rencanamu membunuh tukang daging itu aku tidak setuju. Aku rasa kau seumuran dengan Eren. Jadi pasti kau akan mengerti bagaimana rasanya menanggung tanggung jawab yang bahkan tidak kau mengerti. Kau pasti masih memiliki rasa kemanusiaan. Silahkan saja jika kau mau membunuh tukang daging itu tapi jangan menggunakan tubuh adikku. Kau bisa membunuh dengan wujud roh kan? Jangan libatkan orang lain dalam masalahmu."

"Aku tidak membutuhkan nasihatmu."

"Aku tidak memberimu nasihat, aku hanya menyuruhmu untuk tidak melakukan pembunuhan dengan menggunakan tubuh Eren karena itu akan merugikan anak itu."

"Kalau begitu, bagaimana jika aku menggunakan tubuhmu? Tadi kau menawarkan diri untuk membantuku kan?"

Levi membulatkan matanya. Tadi ia memang menawarkan diri soal membantunya melakukan sesuatu tapi itu sebelum ia mengetahui tujuan roh ini memakai tubuh Eren.

Berkali-kali ia berpikir. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jika ia membiarkan Suzaku merasuki tubuhnya berarti Eren terselamatkan dan jika ia menolak, ada kemungkinan Suzaku akan tetap menggunakan tubuh Eren untuk membalaskan dendamnya.

Levi berdiri menghadap Suzaku –atau Eren?-. Mungkin ia harus membiarkan si biksu segera membereskan hal ini.

"Sebelumnya, apa kelemahanmu?"

"Untuk apa kau menanyakan itu?"

"Jawab saja."

"Tidak akan."

"Kalau begitu aku tidak akan membantumu membunuh tukang daging itu."

"Aku sudah berpikir berkali-kali. Sepertinya membunuhmu juga tidak akan mempermudah rencanaku. Kau menghalangiku."

Suzaku berdiri, mengeluarkan gantungan kunci yang menyakiti Marco kemarin. Dia langsung menusukkannya pada Levi tanpa jeda sedikitpun sehingga ia tidak bisa menghindari serangan itu. Darah mulai menghiasi kemeja putih yang ia kenakan. Levi menahan ringisannya.

Diam-diam Levi menyentuh tali transparan yang sudah terhubung dengan kembang api. Ia akan memberikan sisanya pada yang lain.

Armin dan Mikasa tak henti merasa gelisah. Ini sudah lebih satu menit dari waktu yang Levi berikan tadi. Apa merka harus melakukan hal selanjutnya?

Tak lama Jean dan Marco datang membawa pendet yang dimaksud Levi, pendeta dengan kepala pelontos. Baru saja Armin akan mengatakan situasi yang terjadi di atap sana, terdengar sebuah kembang api meluncur dilangit. Itu artinya ada sesuatu yang tak beres diatas sana.

Mereka langsung berlari menuju atap, melihat keadaan sebenarnya yang terjadi. Saat itu, mereka melihat Eren tak sadarkan diri dan Levi berdiri disampingnya. Mereka langsung menghampiri guru mereka itu.

"Levi-sensei, bagaimana?"

Si pendeta memandang Levi dengan kerutan di wajahnya. Ia merasa asing dengan aura Levi saat ini.

"Kau terluka sensei! Apa Eren yang melakukannya?" Tanya Jean.

"Bukan Eren yang melakukannya tapi roh itu!" bela Mikasa, tidak terima Eren disalahkan.

"Tapi.. kenapa anda seolah tidak merasa kesakitan? Apa anda baik-baik saja?" tambah Armin.

Levi mengeluarkan sebuah serinngai dibibirnya dan sedetik kemudian si pendeta berteriak.

"Menjauh darinya! Roh itu kini merasuki Levi!"

Mendengar itu otomatis mereka menjauh dengan cepat. Tapi Levi –atau Suzaku?- berjalan dengan santai menuju Marco, dengan gantungan kunci ditangannya. Ah.. Suzaku ternyata masih marah pada anak itu.

"L-Levi-sensei?" Marco mulai merasa dirinya tidak aman. Pasti roh itu sangat ingin menyakitinya karena selalu dia yang mendapat bencana setelah Eren kerasukan.

Dengan cepat si pendeta berlari membawa kertas mantra dan menempelkannya pad Levi. Tidak hanya satu karena ternyata masih belum mempan. Kekuatan balas dendam Suzaku sangat besar sampai tak cukup hanya dengan kertas mantra.

Si pendeta membaca berbagai macam mantra lainnya sambil menggambar sebuah lingkaran kegelapan disekitar Levi. Levi –atau Suzaku?- berteriak-teriak mendengar mantra itu. Ya meski dikehidupan sebelumnya Suzaku adalah penjaga kuil yang pastinya taat pada agama namun sekarang jenisnya berbeda. Dia hanyalah roh yang penuh dengan amarah balas dendam.

Dengan bersinarnya lingkaran kegelapan itu, berakhirlah teriakan Suzaku. Yang bersisa hanyalah tubuh Levi yang tak sadarkan diri.

Si pendeta menghela napas berat dan memosisikan tangannya seperti semula.

"Dasar.. roh yang keras kepala.." gumannya.

Ia menghampiri Levi dan membaringkan pria itu dengan posisi yang benar.

"Bagaimana Pixis-san?"

"Aku sudah mengirim roh itu ke alam baka yang paling gelap. Siapa suruh dia tidak mau melepaskan dendamnya. Lagipula dendamnya sudah kadaluarsa. Apa dia tidak ingat kalau dia mati di jaman Edo? Tentu saja tukang daging itu sudah mati dimakan usia kan? Tanpa balas dendam pun dia sudah mati. Dasar roh yang bodoh.."

"Lalu bagaimana dengan Eren dan Levi-sensei?"

"Mereka baik-baik saja. Tapi sepertinya Levi harus mendapatkan perawatan atas luka di perutnya. Aku serahkan pada kalian."

Pendeta bernama Pixis itu berdiri dan mulai melangkah.

"Anda mau kemana?"

"Pulang. Lagipula aku sudah dibayar. Ja ne!"

Saat itulah mereka memikirkan hal yang sama. 'Pendeta itu mata duitan'.

Mereka harus membereskan ini semua. Dengan ini semuanya selesai kan? Marco menangis meraung-raung karena sadar akan perbuatannya. Gara-gara perbuatannya, Eren mengalami hal ini. Lain kali ia tidak akan membuang sampah disembarang tempat apalagi di kuil. Ia juga tidak akan memetik bunga sembarangan apalagi di kuil. Ya.. apa saja.. apalagi di kuil.