Rainbow Days

-Levi's Story-

Disclaimer : Shingeki no kyoojin milik Isayama Hajime-san. Saya hanya meminjam tokohnya untuk meluapkan pemikiran liar saya.

Happy reading. RnR.

Ini hari pertama dimana ia mengajar di sekolah. Sebagai lulusan tercepat, ia sudah direkrut sekolah itu untuk mengajar disana. 20 tahun, usia yang terbilang sangat muda untuk ukuran guru profesional kan?

Baik, mungkin tidak perlu disebutkan lagi siapa orang yang dimaksud. Ya, Levi. Pria stoic itu kini menjadi seorang guru.

Levi berangkat cukup pagi agar tidak memberi kesan buruk saat pertama kali ia mengajar. Untungnya ia sudah sangat mengenal kepala sekolah di sekolah itu. Atau bisa dikatakan mereka sahabat lama. Irvine Smith, Levi juga tidak menyangka diumur 26 tahun pria tinggi berambut pirang itu sudah jadi kepala sekolah.

Levi membenarkan ikatan cravat dilehernya. Ia memang lebih suka menggunakan cravat daripada dasi. Dengan langkah yang penuh keyakinan ia berjalan menuju ruang guru, tempat dimana ia diam jika tidak mengajar di kelas.

Matanya yang tajam langsung menangkap sebuah meja kosong diujung ruangan itu yang telah diberitahukan bahwa itu menjanya. Tidak mengecewakan, pikirnya. Tapi mungkin ia harus sedikit membereskan meja itu agar nyaman baginya, dan tentunya terbebas dari hal bernama debu.

Akhirnya ia mendudukkan diri disana. Ia sedikit heran karena ada secangkir kopi panas diatas meja yang sudah menjadi wilayah kekuasaannya itu. Bukan rahasia lagi bahwa Levi menyukai sangat menyukai minuman berkafein tersebut. Tapi ia bukan tipe orang yang sembarangan meminum minuman yang tidak ia ketahui asal muasalnya. Jadi ia hanya mendiamkannya, meski aroma dari minuman itu membuatnya ingin mencicipi kopi tersebut. Ia baru ingat bahwa tadi pagi ia belum sempat meminum kopi. Apa mungkin ini saatnya?

Levi melirik kesana kemari, mencari tanda tanda kehidupan di ruangan itu. Ia ingin menanyakan asal kopi dimejanya ini. Ternyata yang ada hanya dirinya sendiri. Dengan bayangannya mungkin.

Helaan napas pun ia keluarkan. Bagaimana bisa belum ada satu guru pun yang datang hari ini. sebenarnya bagaimana cara Irvine memberi arahan pada guru-guru disini? Jangan-jangan Irvine bersikap sangat santai.

Saat itulah datang seseorang kedalam ruangan. Tepatnya seorang gadis. Levi menjatuhkan pandangannya pada gadis itu, memerhatikannya dengan cermat. Gadis itu mungkin hanya berbeda beberapa senti dengan tinggi tubuhhnya, rambutnya berwarna caramel lembut dengan bola mata berwarna senada dengan rambut sepundaknya. Manis. Itu tanggapan pertama Levi untuk gadis itu.

Menyadari keberadaan Levi disana, gadis itu langsung tersenyum lembut padanya dan menghampiri Levi.

"Ohayou gozaimasu Levi-san." Sapanya.

Levi hanya menggangguk sebagai balasan sapaan gadis itu. Ia masih asyik memerhatikan objek dihadapannya ini. jangan katakan bahwa Levi tertarik pada gadis berambut caramel itu.

"Kenapa kau tahu namaku?" tanya Levi sedikit heran.

Gadis berambut caramel yang tadinya tersenyum kini menurunkan sedikit senyumannya, seperti kecewa. Namun dengan cepat gadis itu tersenyum lagi, seperti sebelumnya.

"Saya tahu dari Irvine-san bahwa akan ada guru baru yang mengajar disini."

"Hmm"

"Kenapa kopinya tidak diminum?"

"Ah? Ini? aku tidak tahu ini kopi untuk siapa dan dari siapa. Jadi aku tidak meminumnya."

Sekali lagi gadis itu menurunkan sudut bibirnya.

"Tapi aku rasa, aku sangat familiar dengan aroma kopi ini. tapi entah kenapa aku tidak ingat apapun."

Tampak sebuah pancaran kekecewaan dimata gadi berambut caramel. Apa yang ia kecewakan?

"Itu kopi buatan saya. Dan itu untuk anda, Levi-san."

Levi menaikkan sebelah alisnya. Heran. Mungkin gadis ini memang gadis baik yang ingin menyambut orang baru, tapi kenapa ekspresi gadis itu tampak kecewa saat ia mengatakan bahwa ia tidak ingat tentang hal dibalik aroma kopi yang sangat familiar baginya.

"Ah, terimakasih. Maaf telah merepotkanmu…" balasnya menggantung untuk memberi kode untuk menanyakan nama.

"Petra. Nama saya Petra Rall."

"Petra."

Saat mendengar nama gadis itu, Levi seperti mengingat sesuatu. Suatu hal yang penting namun telah ia lupakan karena sebuah alasan.

"Jika anda membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk memintanya pada saya."

Petra membungkuk sesaat sebelum melangkah namun langkahnya itu terhenti karena Levi menahan tangannya.

Hal itu membuat Petra kembali berbalik menghadap Levi, memberikan tatapan seolah mengatakan 'ada apa'.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Levi langsung pada hal yang membuatnya penasaran.

Petra sedikit terkaget kemudian ia tersenyum miris.

"Mungkin pernah. Atau tidak? Saya tidak ingat."

"Souka.. Tapi aku rasa, kita pernah bertemu, dan mungkin dekat."

"Benarkah? Mungkin ada seseorang yang mirip dengan saya dan dekat dengan anda dulu."

Levi melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Petra. Mungkin yang dikatakan Petra benar. Jika memang ia pernah bertemu dan bahkan dekat dengannya, tidak mungkin Levi tidak ingat sama sekali.

"Mungkin benar."

Petra tersenyum, sendu.

"Jika ada apa-apa katakan saja." Ucapnya sambil berlalu pergi, keluar dari ruangan tersebut.

Hari berlalu. Setelah kejadian penyelamatan Eren dari penculikkan 3 hari lalu (chapter 2), Levi mulai kembali mengajar meski dibantu dengan tongkat, kakinya masih belum pulih sepenuhnya. Rasa sakit juga masih menemani Levi jika pria itu berusaha untuk berjalan tanpa tongkat. Tapi bagaimanapun ia tidak boleh mengambil cuti terlalu lama, pikirnya.

Selama ia berada di rumah sakit, Petra selalu menemaninya. Mengupaskan apel, menyiapkan obat, dan perawatan lainnya. Petra sangat baik. Bahkan terlalu baik.

Seperti saat ini, Levi duduk dimejanya di ruang guru. Saat ini memang sedang jam istirahat jadi semua guru ada disini termasuk Petra. Kebetulan sekali meja Petra berada di samping meja Levi jadi mereka berdua bisa mengobrol satu sama lain.

Bukan karena Levi tidak mau mengobrol denga guru yang lain, namun ia memang selalu memberi kesan 'tidak mudah diajak mengobrol'. Dan sepertinya kesan itu tidak berlaku bagi Petra. Dengan mudah gadis itu melunakkan ekspresi wajah si pria stoic. Dengan mudahnya ia membuat pria itu berbicara mengomentari apa yang ia katakan. Bahkan kadang-kadang ia bisa membuatnya terlihat sedikit manusiawi dengan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.

Petra yang duduk disamping Levi tak henti memandangi pria yang tengah sibuk menatap layar komputernya dengan serius. Tanpa melirik sedikitpun, Levi bisa tahu jika ia sedang diperhatikan. Untuk itu ia sedikit berdehem.

Gadis Rall tersentak dan membenarkan posisi duduknya yang tadi menopang dagunya diatas meja menjadi duduk tegak dengan sedikit canggung.

"Apa ada yang ingin kau katakan sampai melihatku seperti tadi?"

"E-eto.."

"Nee, Petra."

Petra mendongak. Dengan manisnya menatap penuh tanda tanya pada Levi.

"Saat di rumah sakit, aku mengingat sesuatu."

"Apa?"

"Mengingat sesuatu tentangmu dalam hidupku."

Tanpa disadari ada sebuah warna kebahagiaan di mata Petra. Rona merah juga mulai menghiasi kedua pipinya meski kecanggungan semakin merajalela.

"Apa maksudmu, Petra?"

"Apa?"

"Apa maksudmu? Datang lagi padaku setelah mencampakanku?"

Petra terdiam. Bibirnya seakan bisu mendadak. Kembali berputar sebuah rol film lama yang sangat ia takuti, mimpi buruknya selama ini. Otaknya seakan menyuruhnya untuk kembali mengingat hal itu. Dan ia kembali mengingat..

-Flashback-

Suara bel tanda pulang sekolah terdengar nyaring diseantero sekolah Ichiyama Gakuen, menandakan waktunya untuk melepas lelah ke rumah setelang berperang melawan pelajaran.

Diantara banyaknya siswa yang berlalu-lalang akan pulang, ada seorang pria berambut hitam dan bermata biru keabuan tengah berdiri di depan salah satu kelas yang sudah hampir kosong, ia tampak menunggu seseorang.

Levi, nama pria itu. Ya, Levi yang kita kenal. Levi si pria stoic itu tengah menunggu seseorang keluar dari kelas didepannya. Tepatnya seorang gadis.

Memang untuk pertama kalinya Levi begitu serius dalam urusan seperti ini, hanya pada gadis yang ia tunggu sekarang. Nama gadis itu Petra. Petra Rall. Gadis bermata caramel dan rambut yang berwarna senada. Gadis dengan wangi bunga lilac. Gadis perhatian yang menjadi cinta pertama Levi, seperti arti bunga yang tercium pada tubuh gadis itu.

Baiklah, awalnya mereka hanya kenal satu sama lain. Namun nampaknya Levi mulai tertarik pada gadis Rall tersebut. Petra adalah bawahannya di OSIS. Sebagai seorang ketua OSIS, tentu saja Levi harus mengenal bawahannya. Terlebih pada bawahan yang menggerakkan hatinya.

Awalnya hanya seperti itu. Sampai Levi menguping pembicaraan Petra dengan salah satu temannya, tentang Levi. Levi tentunya semakin bersemangat saat tahu ternyata Petra juga menyukainya. Cerita yang inda bukan? Disaat dua orang yang saling menyukai begitu dekat?

Tapi bukan. Ini bukanlah cerita bahagia. Ini bukan kisah cinta romantis seperti Cinderella. Ini menyakitkan, ini tragis.

Tepat saat kemarin, Levi, dengan beraninya menyatakan perasaannya pada Petra. Petra membalasnya dengan senyuman, senyuman maaf. Dengan tegas gadis caramel itu mengatakan,

"Maaf Levi-san, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku sudah memiliki calon tunangan, ayahku yang memilihkannya. Minggu depan aku akan pindah ke Nagoya. Itu berarti aku juga akan pindah dari sekolah ini. Lagipula, aku tidak memiliki perasaan apa-apa padamu, Levi-san. Gomen nasai."

Kata-kata itu sopan. Sangat sopan. Tapi mengapa terdengar sangat perih bagi Levi? Terdengar sangat.. sangat.. ah entahlah. Bahkan tak bisa dideskripsikan dnegan kata-kata saking sakitnya.

Tanpa banyak bicara Levi hanya mengangguk. Dan menyaksikan punggung Petra yang mulai menjauhi dirinya, begitu jauh. Tanpa mendapat aba-aba dari siapapun, tak dikira tangannya kini mengepal sempurna. Ini merupakan awal perasaannya pada seorang gadis,dan langsung berakhir dengan cukup sangat menyakitkan.

Marah? Tentu saja. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Tidak mungkin ia memaksa gadis itu untuk menerima perasaannya kan? Tidak mungkin dia, ah.. mungkin setidaknya Levi harus mencoba untuk membujuk gadis itu untuk tetap tinggal, tidak peindah kemanapun.

Namun seorang Levi sepertinya tak bisa melakukan itu. Perkataan "tidak memiliki perasaan apapun" cukup membuat Levi sangat mengerti. Mengerti untuk mulai menjauhi Petra, menghapus semua perasaan dan kenangan manis bersamanya, menjadikan dirinya seolah hilang ingatan tentang kehadiran gadis itu dihidupnya.

Lalu apa yang dilakukan pria itu sekarang? Berdiri didepan kelas Petra. Menunggu gadis itu kah?

Sudut mata ravennya melirik pada jam tangan miliknya. Mungkin ini memang sudah berakhir, ia memang harus melupakan gadis itu. Memang sudah menjadi kebiasaan Levi pulang bersama Petra. Dan sekarang ia tentunya ingin menghilangkan kebiasaannya tersebut. Ia harus mulai terbiasa meski hari ini kakinya kembali melangkah menuju kelas pujaan hatinya mantan pujaan hatinya.

Levi menghela napas. Ia harus mulai sadar akan kenyataan baru ini. Buktinya Petra daritadi diam didalam kelas, tanpa melirik sedikitpun kearah pintu yang memisahkan ruangan itu dengan koridor, tempat Levi berada.

Akhirnya kaki pria tak jangkung itu melangkah menjauhi kelas dihadapannya. Meninggalkan hal yang akan menjadi kenangan yang hilang dalam otaknya. Sayonara kioku.

Kenangan itu kembali. Setelah Levi berusaha sekuat tenaga melupakannya, kini kembali. Siapa yang menginginkan? Mengingat kembali kenangan buruknya dimasa lalu.

Levi masih menunggu penjelasan dari Petra. Gadis itu kin tampak sangat canggung. Keringat dingin tampak mengucur dengan lancar di pelipis mulusnya.

"E-eto.. Levi-san.."

"Nanda?"

"A-aku tidak bermaksud begitu, tapi…"

"Lalu apa? Kenapa kau datang lagi kedalam hidupku? Merecoki setiap hal yang aku lakukan? Memberikan perhatian lebih dan tersenyum setiap hari padaku? Kau kira aku tidak bisa melihat semburat merah dipipimu saat kau berdekatan denganku? Kau kira aku masih sama seperti dulu? Menunggumu, begitu? Aku bukan pria bodoh yang akan terjerat lagi oleh pesonamu. Kau telah lupa bahwa kau menolakku dulu? Mengatakan padaku bahwa kau tidak memiliki perasaan apa-apa padaku? Ternyata kau tidak seperti yang aku pikirkan. Kau wanita yang jahat, tak seperti sosokmu."

Levi berdiri, melangkahkan kaki berbalut celana hitam untuk menjauh dari sosok bernama Petra.

Entah disadari atau tidak. Mata Petra mengembun. Bukan begitu maksudnya, bukan begitu maksudnya menolak perasaan Levi dulu. Bukan maunya membiarkan pria stoic itu kecawa tingkat akut. Benar-benar bukan maunya.

"Nee, Levi!" seru seorang gadis berkacamata yang dikenal sebagai guru kimia disana.

Levi menoleh, datar.

"Nanda?"

"Ada apa denganmu? Kenapa berdiam diri disini? Aku melihat Petra menangis tadi. Apa kau tahu dia kenapa?"

Mendengar nama Petra, Levi sedikit tersentak. Terlihat dari bahunya yang menegang. Hange, orang yang menyapa Levi itu, menyadari akan hal kecil yang ia lihat. Hange memang merupakan sahabatnya semasa SMA dulu, otomatis dia tahu segala hal yang terjadi pada Levi, apa yang membuat pria itu tertarik, apa yang pria itu benci, apa yang pria itu masalahkan.

"Itu bukan urusanku." balas Levi.

Hange tersenyum. Seperti biasa, sahabatnya ini selalu berkata ketus terhadap apapun yang mereka bicarakan. Hange tahu pasti bahwa ini merupakan masalah Levi. Ya masalah Levi dengan si gadis caramel. Apa lagi yang bisa membuat Petra menangis selain Levi?

"Usooo!" pekik Hange terlihat mengejek.

"Tsk! Urusai! Kalaupun dia menangis olehku, itu bukan urusanmu kan? Pergilah!"

Hange mengerucutkan bibirnya, kesal. Sampai kapan pria ini begitu menjunjung tinggi ego dan harga dirinya? Memalukan.

"Harusnya kau jujur pada perasaanmu.. Berikan kesempatan untuknya. Apa susahnya.."

Hange berlalu pergi. Sedangkan Levi masih duduk di salah satu bangku taman sekolah, ditemani tongkat yang membantunya berjalan.

Helaan napas terdengar berat darisana. Sangat sepi. Para siswa memang sedang belajar dikelasnya masing-masing. Dan Levi tak memiliki jam mengajar sehingga ia memutuskan untuk mencari angin, sendiri.

Yang ia ingat hari ini Petra juga tidak memiliki jam diwaktu yang sama dengan Levi. Biasanya mereka menghabiskan waktu bersama saat jam kosong ini. Tapi itu dulu, sebelum ia berkata kasar padanya tadi.

Ia menengadah. Memerhatikan gerak pelan awan diatas sana. Sangat tenang dan damai. Itu yang ingin ia rasakan dalam hidupnya. Tapi tak ada hidup yang seperti itu. Tidak ada hidup yang tidak dibumbui masalah setiap detiknya. Tidak ada hidup yang benar-benar menyenangkan sampai akhir. Ya karena itu hidup. Intrik masalah selalu ada.

Setelah puas mendapatkan udara segar, Levi memutuskan untuk kembali ke ruang guru, menekan semua ketidakinginannya bertemu dengan Petra.

Hal yang paling ia benci harus ia lakukan sekarang, berjalan dengan tongkat. Dengan tongkat itu ia merasa seperti orang cacat. Setiap ia akan menggunakannya, selalu terdengar decihan kesal.

Levi meraih tongkatnya. Ia pun mencoba berdiri dan..

Brukk

Ia menjatuhkan tongkat itu sebelum sempat menopang tubuhnya. Hal itu berakhir dengan Levi yang terduduk diatas rumput yang ia injak.

"Tch." ia mendecih lagi.

Baiklah. Dia merasa sakit diluka tembaknya mulai terasa lagi. Ini tidak bagus.. Darah terlihat merembes dari luka tembak itu. Kenapa luka ini bisa-bisanya mengeluarkan darah lagi? Pikirnya.

Benar-benar merepotkan. Yang harus ia lakukan pertama kali adalah berdiri dan membenahkan tongkat untuk ia pakai lagi. Sulit memang jika dilakukan sendiri. Namun tiba-tiba seolah ada malaikat penolong yang mengirimkan utusannya untuk menolong Levi.

Petra. Gadis itu meraih lengan Levi dan membantunya untuk duduk di bangku sebelumnya.

Levi tak menolak pertolongan itu. Yang ia lakukan hanya memandang Petra yang kini mengambil tongkatnya yang jatuh. Terlihat mata gadis itu sedikit memerah. Mungkin apa yang dikatakan Hange memang benar, Petra menangis.

Ada hal yang tidak terlihat pada diri Petra saat ini. Senyumannya. Petra sama sekali tidak tersenyum, tidak menunjukkan keramahannya yang biasa. Itu 'sedikit' membuat Levi heran.

"Kenapa kau menolongku?" tanya Levi, langsung pada intinya.

Petra memandang ke arah Levi. Masih tanpa senyumannya.

"Apa salah menolong orang yang kesulitan?" ia balik bertanya.

Levi tak membalas lagi. Ia hanya terdiam menahan sakit dilukanya. Petra melihat sekilas Levi menggigit bibir bawahnya, terlihat seperti menahan sakit.

Petra berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa seolah tidak tahu apa-apa. Ia berusaha untuk tidak khawatir meski dadanya terasa diremas saat melihat Levi mulai menunduk.

"Anda.. Baik-baik saja?"

Akhirnya kata-kata itu keluar, dengan suara gemetar.

"Untuk saat ini saja, aku akan mengatakan kalau aku tidak baik-baik saja."

Petra tampak gemetar. Rasa takutnya pada Levi mulai ia rasakan lagi. Ia takut Levi akan marah lagi, ia takut Levi akan kecewa padanya lagi, ia takut Levi akan semakin membencinya jika ia tidak membantunya sekarang.

"Nee Petra."

Petra tersentak merasa dirinya dipanggil.

"Aku minta maaf."

"Ah? I-iya?"

Levi menghela napas berat.

"Aku minta maaf. Aku sudah berkata kasar padamu tadi."

Samar. Terlihat sebuah kesenangan di wajah Petra. Sebuah kesenangan tersendiri baginya.

Levi mengerutkan dahi. Ia harus mengganti perban lukanya. Dan ia tidak mungkin melakukannya sendiri melihat kondisinya yang berdiri saja tidak bisa.

"Kau mau menolongku?"

"Ah? Ne?"

"Lukaku terbuka lagi."

"Ah! Kita harus mengobatinya segera!"

Pada akhirnya Levi dibantu untuk berjalan menuju ruang guru oleh Petra untuk mendapatkan perawatan dari gadis itu. Tapi bukan berarti masalahnya dengan Petra telah usai.

Bertahun-tahun berlalu. Kenangan semakin bertambah. Masalah akan masa lalu mungkin sudah tersamarkan oleh waktu. Semua itu mungkin juga sudah menjadi sejarah dari sebuah .

8 tahun setelah Levi kembali dipertemukan dengan cinta pertamanya, hubungan mereka semakin baik.

Apa membutuhkan waktu begitu lama sampai Levi memaafkan Petra dengan sungguh-sungguh? Sebenarnya tidak selama itu juga. Salahkan saja Petra yang tidak menceritakan hal yang sebenarnya terjadi pada awalnya. Jika Petra menjelaskannya dengan cepat, mungkin sebuah kesalahpahaman ini tidak akan berumur panjang. Dan mereka tidak akan menjadi sekedar rekan kerja biasa selama ini.

Jadi begini.. Dulu, Petra berbohong soal akan dijodohkan dengan pilihan ayahnya itu. Ia juga berbohong soal tidak memiliki perasaan apapun pada Levi. Padahal kan jantungnya hampir keluar saking senangnya saat Levi menyatakan perasaannya dulu. Lalu apa alasan Petra melakukan itu?

Alasannya begitu manis. Ia tidak mau membuat Levi menunggu ia kembali. Soal kepindahannya itu memang benar terjadi. Jadi Petra ingin memulainya saat ia benar-benar sudah bisa berada disisi pria itu setiap saat. Tapi nyatanya Levi tidak beranggapan seperti bayangan Petra. Jadi ya.. Lama sekali untuk menjelaskan alasannya menolak Levi dulu. Dia terlalu malu dengan segala kepercayaan dirinya bahwa Levi akan tetap sama saat ia kembali menetap di Osaka.

Sesaat setelah Levi mendengar semua cerita Petra, ia tertawa terbahak-bahak. Ha.. Petra sangat tidak menyangka pria itu akan bereaksi dengan tertawa lepas. Apa alasannya begitu kekanakan?

Ini memang bukan kisah manis para putri, yang dulu dibayangkan Petra. Tapi nyatanya memang berbuah manis pada waktunya. Setelah bertahun-tahun menunggu keinginannya, kini, disini, dirumah Petra, ia mendapat sebuah kejutan paling mengejutkan di dunia.

Petra masih terpaku tanpa mengatakan apa-apa. Dia masih mencerna perkataan lawan bicaranya ini. Itulah akibatnya jika menelan bulat-bulat sebuah perkataan, akan lama dicerna.

"A-apa?" pekiknya ragu.

"Tsk. Aku tidak suka mengulangi perkataanku. Aku bilang, kau harus jadi milikku, mulai sekarang dan seterusnya."

Barulah Petra bisa menghidupkan segala kinerja otaknya yang sempat mati tadi setelah ia merasa kedua pipinya memanas.

"Kau pasti tidak akan menolak kan?"

"Mana mungkin aku menolak!"

Petra menubruk tubuh Levi yang berdiri dibadapannya. Mengakibatkan keseimbangan menghilang dan mereka berdua tergeletak dilantai.

Levi meringis merasakan kepalanya membentur lantai. Ditambah beban yang berada diatas tubuhnya sekarang. Namun perlahan ia tersenyum, meraih tangannya untuk mengusap pucuk kepala Petra.

"Maaf membuatmu menunggu lama. Aku hanya ingin mengujimu."

"Heeee?"

"Ya, mengujimu. Menguji seberapa lama kau bisa menungguku. Sekaligus menguji diriku sendiri. Menguji seberapa kuat aku menahan diri untuk tidak mencintaimu."

"Lalu hasilnya?"

"Ini batas maksimalku. Aku tidak bisa lagi berpura-pura tidak mencintaimu. Aishiteru yo, Petra."