Rainbow Days
Chapter 7
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Author hanya meminjam tokoh dan karakternya untuk kepentingan fict. Tidak ada keuntungan materil bentuk apapun kecuali keuntungan berupa kepuasan tersendiri. Buahaha #tawanista
Maaf atas segala bentuk typo yang bertebaran ataupun kesalahan penulisan gelar [?].
Maaf juga jika ceritanya biasa saja. Namanya juga fict kehidupan biasa, jadi yaa.. Ceritanya juga biasa. Ditambah author juga biasa-biasa. Semakin biasa-lah fict ini.. Demo.. Author harap reader suka #aamin
Have enjoy it.
Happy reading
Seperti biasa,
Salam sayang dari author
RnR
Mata Eren tak henti menatap kemeriahan acara pernikahan kakaknya. Mata emeraldnya itu menampakkan sinar kebahagiaan juga selain pada mata sepasang pengantin didepan altar itu.
Ia merasa baru saja Levi menjalin hubungan dengan Petra. Tapi setelah semua kebimbangan kakaknya akan pernikahan, akhirnya Levi melamarnya beberapa hari lalu. Dan hal yang dipikirkan Eren setelah melihat bagaimana Levi melamar Petra, dia merasa kakaknya sangatlah... pemberani atau mungkin bisa dikatakan juga.. nekad?
Mengingat hal itu Eren menjadi tersenyum sendiri. Ia mencoba memutar kembali apa yang ia lihat beberapa hari lalu itu.
Guru sastra berambut caramel yang terkenal baik itu kini tengah mengajar di kelas Eren. Ia menerangkan tentang sastra lama jepang.
Segelintir siswa memerhatikannya dengan cermat, segelintir lagi hanya memerhatikan kecantikan gurunya itu.
Belum lama Petra menjelaskan materinya, seseorang masuk kedalam kelas tanpa mengetuk atau sekedar permisi.
Semua mata menatap kearah datangnya seseorang yang ternyata wali kelasnya itu. Ya, Levi. Guru yang terkenal sangat taat peraturan dan gila sopan santun (pada orang diatasnya) ini sekarang malah memberi contoh yang buruk dengan masuk ke kelas tanpa permisi.
Petra menatap heran rekan sekaligus kekasihnya ini. Pasti ada yang ingin dikatakannya jika Levi sampai terlihat gelisah seperti sekarang. Yah, Petra memang sudah tahu bagaimana wajah Levi jika saat gelisah, menahan marah, atau ekspresi lainnya yang biasanya tidak ditunjukkan dengan gamblang pada orang lain.
"Ada apa?" tanya Petra heran.
Levi seolah tidak mempedulikan kehadiran murid-muridnya itu. Ia hanya berfokus pada Petra. Matanya menatap luruh kearah gadis itu.
"Aku tidak bisa lagi bersabar menunggumu selesai mengajar. Itu hanya akan membuat keadaanku semakin buruk. Dengar, Petra."
Terdapat sebuah jeda dalam perkataan Levi. Membuat Petra termasuk para murid sangat penasaran dengan apa yang menjadikan seorang Levi kehabisan kesabarannya sampai memperburuk keadaannya.
Levi merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil. Sebenarnya ia sendiri tidak percaya bahwa dirinya akan senekad ini untuk Petra. Bahkan ia tidak mempedulikan lagi gengsinya yang setinggi langit itu dihancurkan oleh gadis bernama Petra. Ia tidak peduli dengan anggapan para muridnya yang bisa dengan jelas melihat apa yang kini tengah ia lakukan dan apa yang ia pegang. Dan dia juga seolah melupakan keberadaan Eren disalah satu bangku disana yang pastinya akan mengoceh tentang kejadian ini dirumah nanti.
Mungkin ini memang gila. Tapi kenapa harus takut gila untuk seseorang yang dicintai begitu lama?
Para murid, apalagi Petra terkejut bukan main saat melihat seorang Levi, orang yang terkenal dengan kata-katanya yang tajam, orang dengan tempramen yang mudah berubah, orang yang gila akan hukuman dan kebersihan, orang yang belum pernah dipergoki menggandeng seorang wanita, kini menekukkan tubuhnya dihadapan Petra, menunjukkan benda apa yang ada didalam kotak ditangannya itu.
Cincin. Petra tidak salah lihat. Benda itu adalah cincin. Cincin perak bermata berlian kecil yang tampak elegan dengan kesederhaan modelnya.
Petra menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya masih membelalak kaget. Apalagi ditambah dengan hal yang dikatakan pria dihadapannya ini.
"Sebenarnya aku tidak mau melakukannya disini, tapi apa boleh buat. Kau tahu sendiri kan kesabaranku sangat minim. Jadi, sekarang aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Tidak dengan seikat bunga ataupun suasana yang romantis, itu bukan gayaku."
Terdapat jeda lagi. Sepertinya pria ini masih mengumpulkan serangkaian kata yang pas untuknya, agar ia diterima dan tidak dipermalukan.
"Petra Rall, aku mencintaimu, segalanya darimu. Aku tidak peduli lagi dengan masa lalu, yang aku pedulikan adalah masa depan. Maukah kau, dengan keinginanmu sendiri tanpa paksaan orang lain, menjadi istriku dan melahirkan anak-anakku? Menjadi wanita pertama dan terakhir yang akan ada disampingku selamanya?"
Terlihat sebuah tekad kuat dimata Levi. Meski matanya itu lebih sering menampakkan aura menakutkan, namun kini yang terlihat hanyalah aura keyakinan akan apa yang ia katakan tadi.
Keadaan masih hening. Keterkejutan masih menyelimuti para murid sehingga yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah diam seribu kata dengan mata yang menatap tak percaya.
Perlahan setetes air jatuh dari pelupuk mata Petra. Manik caramel madu itu terhalangi oleh air dimatanya. Semburat merah jelas terlihat dikedua pipi manisnya. Dia benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi mengingat masa lalunya dengan Levi yang cukup membuat pria itu kecewa, meski sebenarnya hanya kesalahpahaman.
Levi masih menunggu dalam posisinya itu. Tapi ia sedikit merasa khawatir karena menurutnya, Petra terlalu banyak mengeluarkan air mata. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Meski dulu ia sering menenangkan Eren yang sedang menangis, namun ini berbeda cerita. Menenangkan adik itu berbeda dengan menenangkan seorang wanita. Dan lagi bisa dikatakan ia sangat payah dalam hal pengertian terhadap wanita. Jadi ia sama sekali tidak mengerti tangisan macam apa yang dilakukan Petra sekarang.
Levi berdiri dari posisinya, mendekati Petra yang masih sibuk mengelap air matanya dengan punggung tangan.
"Kenapa?" tanya Levi sedikit ragu.
Manik Petra menatap Levi. Dengan pandangan yang sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Levi.
"Sumimasen, Levi-san.. Aku.. aku.."
Levi mengerutkan alis samar. Jangan katakan kalau ini jawaban paling buruk yang perbah ia dapat.
"Aku tidak mungkin dengan mudah mengatakan tidak. Aku bukan orang yang pandai menjaili."
Speachless.
Baiklah kini keadaannya serba salah. Sebenarnya apa mau si pria stoic ini?
"Aku bersedia jadi istrimu, Levi-san."
Sesaat sesudah itu, keadaan kelas menjadi ricuh oleh sorakan gembira. Namun ada beberapa yang tidak rela. Connie misalnya. Dia terlihat menangis pasrah.
"Nee, Eren!"
"Ah? Iya? Ada apa Mikasa?"
"Aku memanggilmu daritadi. Apa yang kau lamunkan?"
"Eto.. Bukan apa-apa."
Mikasa yang terlihat anggun dengan gaun putih selututnya hanya memandang heran pada Eren. Mana mungkin Eren mengatakan kalau ia mengingat lagi kejadian lamaran itu kan? Yang ada mungkin malah dia disangka iri pada kakaknya dan ingin segera menikah.
"Kalau kakakmu sudah menikah, berarti dia tinggal dengan Petra-sensei kan? Kau tinggal sendiri?" tanga Mikasa.
Sekejap Eren menyadari akan hal itu. Mikasa benar. Tidak mungkin kakaknya tetap tibggal bersamanya jika sudah memiliki keluarga sendiri. Pasti dia tinggal dengan Petra, di rumah baru. Lalu Eren? Tetap tinggal di apartemen. Tapi hanya sendiri.
Harusnya ia senang kan? Dengan begitu pengawasan kakaknya terhadap Eren akan berkurang. Pengawasannya hanya akan terbatas di sekolah saja. Dan lagi dia bisa melakukan apapun sesukanya sendiri. Tidak perlu mendengar nasehat dan ocehan kakaknya setiap hari.
"Ya. Aku akan tinggal sendiri." balas Eren mantap.
Mikasa melirik Eren disampingnya.
"Hati-hatilah. Kau tidak biasa tinggal sendiri."
Deg!
Mendengar hal itu, Eren jadi sedikit risih. Atau mungkin kesal? Dia seperti tidak dipercaya untuk bisa tinggal sendiri. Bagaimanapun ia tidak bisa bergantung pada Levi selamanya. Levi juga tidak mungkin mengurusnya terus. Itu yang dipikirkan Eren.
"Tenang saja. Aku pasti bisa tinggal sendiri."
Eren membuka pintu apartemennya. Kemudian masuk dengan lunglai.
"Tadaima.."
Hening.
Ah.. Dia baru ingat kalau sekarang ia tinggal sendiri. Ya meski baru hari ini. Baru tadi ia pulang dari pesta pernikahan kakaknya, beberapa detik lalu, diantarkan oleh kakaknya itu.
Ia masih merasa aneh. Berkali-kali ia menolak untuk diantar pulang. Tapi Levi tetap saja mengantarkannya dengan alasan di malam hari tidak ada bus. Padahal Levi harusnya lebih mementingkan istri barunya itu.
Eren berjalan gontai menuju sofa. Sepi sekali. Ia melonggarkan ikatan dasi dilehernya agar udara dengan leluasa ia hirup.
Matanya menatap ke atap. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Yang pasti ia merasa lelah. Apa mungkin karena ia terlalu senang di pesta tadi?
Waktu menunjukkan pukul 21.44. Sudah cukup malam ternyata.
"Haa..."
Dengan malas ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan melangkah menuju dapur, mencari sesuatu untuk dimakan.
Eren membuka lemari es disana. Alisnya berkerut dalam mendapati ada berkotak-kotak susu dan beberapa pisang disana. Bukan hanya itu, ada sebuah memo kecil disana.
Eren mengambilnya, membaca apa yang tertulis disana.
'Sebenarnya aku tidak suka kau meminum ini, tapi.. Makanlah dengan baik. Kau harus memenuhi kebutuhan nutrisimu.'
Terlihat sebuah senyuman kecil diwajah Eren. Ia tak menyangka Levi sempat-sempatnya melakukan hal ini. Padahal dulu ia sangat tidak diperbolehkan meminum susu. Padahal kan masalah ia yang lebih tinggi itu sudah takdir.
Ia menghela napas lagi. Apa mungkin ia mulai merindukan kakaknya? Yang benar saja. Baru beberapa menit lalu ia diantarkan olehnya.
Akhirnya Eren membawa satu kotak susu dan sebuah pisang ditangannya. Ia menutup lagi lemari es itu dan berjalan menuju ruang tengah.
Eren terhenti disana. Menatap pintu kamar kakaknya yang tertutup. Miris. Entah dorongan darimana, kakinya melangkah menuju kamar itu, masih dengan kotak susu dan pisang ditangannya.
Yang ia tangkap oleh indra penglihatannya saat ini adalah suasana kamar Levi yang hampa tanpa sang pemilik. Posisi kasur masih ditempat yang sama. Begitu juga lemari, meja kerja, sofa dan benda-benda lainnya. Yang berbeda hanyalah kehampaan itu.
Meja kerja tanpa buku-buku dan berbagai macam laporan, lemari tanpa pakaian, dan lagi tak ada satu set komputer yang selalu menemani Levi bekerja.
Perlahan ia mendekati meja kerja yang hampa itu, lalu duduk disana. Sebuah lampu kerja tampak menerangi ruangan itu. Baru saja Levi pergi tadi pagi tapi ia merasa ruangan ini kosong begitu lama.
Eren menghentikan pandangan liarnya pada satu sudut di meja kerja itu. Sudut yang biasanya dipakai untuk menyimpan buku-buku tebal sang kakak.
Bukan tanpa alasan matanya berhenti disana. Itu karena masih ada sebuah buku yang tersimpan disudut itu. Sebuah buku dengan sampul merah.
Eren yang penasaran langsung mengambil buku itu untuk diketahui isinya. Saat itulah ia menyadari bahwa itu bukanlah sebuah buku namun sebuah album foto.
Lembar demi lembar ia buka. Ia tidak ingat bahwa foto-foto itu pernah dicetak dan yang paling penting ia tidak tahu kakaknya memiliki benda seperti ini.
Foto-foto disana beragam. Mulai dari foto Eren saat masih kecil, saat dia mulai remaja, foto kakaknya juga ada, dan yang paling membuat Eren terpaku adalah foto ayah.. dan juga ibunya.
Tangan Eren mulai bergerak kecil menjadi sebuah getaran. Matanya mengembun sempurna. Ia sangat tidak yakin dengan apa yag tengah ia lakukan sekarang. Ia menangis?
Siapa yang tidak sedih? Disaat seseorang melihat lagi foto orang tuanya yang sudah lama meninggal, siapa yang tidak sedih? Ditambah hal yang harus ia sadari saat ini adalah kesendiriannya.
Isakannya semakin terdengar jelas dan memilukan. Sesekali ia berguman sendiri memanggil orang tuanya.
"Oto-san... Oka-san..."
Air mata itu terus menetes membasahi album foto yang masih ada digenggamannya. Mata zamrud itu seolah tidak mau berhenti mengeluarkan air darisana. Terus mengalir.
"Nii-san..."
Mungkin ini kali kedua ia merasa sangat sedih. Saat ayahnya meninggal itu yang pertama. Ya siapa yang tahu bayi menangis saat lahir itu menangis untuk apa. Menangis karena senang bisa melihat dunia luar, atau menangis karena tak lama lagi ia akan berpisah dengan ibunya, untuk selamanya.
Lalu sekarang, ia sedih karena merasa kehilangan semuanya. Ia hanya sendiri. Hanya sendirian.
Bel berbunyi menandakan waktunya masuk kelas setelah istirahat. Semua murid bergegas memasuki kelasnya masing-masing. Begitu juga Eren.
Ia masuk dengan wajah berseri-seri senang. Untuk pertama kalinya ia masuk kelas dengan bahagia seperti itu. Apalagi pelajaran saat ini adalah pelajaran matematika, pelajaran kakaknya. Mungkin Eren sudah mendapat pencerahan dari bakat matematikanya yang pas-pasan itu. Jika tidak, apa yang ia senangkan saat pelajaran ini?
Eren duduk dibangkunya. Tampak siap untuk belajar.
"Nee, Eren! Kenapa wajahmu senang begitu? Kau merasa bisa mengerjakan soal-soal Levi-sensei hari ini huh?" Jean berkoar.
"Diam kau muka kuda. Untuk hari ini saja jangan mengganggu kesenanganku."
"Tsk!"
Tapi setelah itu, saat ada seseorang yang masuk ke kelas, senyuman Eren menurun.
"Maaf anak-anak, Levi-sensei mengambil cuti. Kalian tahu sendiri kan kalau kemarin dia baru menikah. Jadi, dia hanya memberi tugas untuk mengerjakan soal. Saya yang akan mengawasi kalian." ucap seseorang yang mereka tahu adalah Erd-sensei, guru bahasa inggris.
Para murid bersorak gembira meski ada beberapa yang mengeluh karena diberi soal dari Levi.
Disaat semua teman-temannya ricuh, Eren hanya terdiam. Ia tampak tidak sesenang tadi. Malah kini ia tampak kecewa. Ah.. Ternyata hal yang membuat Eren terlihat senang tadi itu karena akan bertemu kakaknya, namun kini, yang ia inginkan tidak terjadi. Naif memang jika berpikir bahwa pengantin baru akan kembali langsung bekerja.
Eren sangat cemberut sekarang. Sambil menopang dagunya, ia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
'Nii-san, kenapa tidak masuk?'
Ia kembali menyimpan ponselnya setelah berhasil mengirim pesan itu pada Levi. Tampak sangat jelas kalau ia sangat kesal sekarang. Menyadari perubahan itu, Jean lagi-lagi berkoar.
"Hoy Eren! Kau tampak kesal sekarang! Karena kau tidak bisa mengerjakan soal Levi-sensei? Hahah! Sudah kuduga tidak akan semudah itu!"
Eren berdiri dan langsung menarik kerah baju Jean dengan paksa. Menatap penuh intimidasi pada pria itu.
"Kau sudah cukup membuatku kesal hari ini! Bisakaah kau mendiamkan mulut kudamu itu?"
Keadaan menjadi ricuh setelah Jean membalas perkataan Eren. Bukan Jean namanya jika ia kalau bicara dengan seseorang.
Keberadaan Erd disana seperti dihiraukan, tidak disadari sama sekali meski ia sudah berkali-kali menyuruh Eren dan Jean untuk tenang dan kembali duduk.
"Apa kau bilang? Sebenarnya apa masalahmu hah?"
"Apa masalahku? Kau bilang apa masalahku? Masalahku adalah aku sedang kesal sekarang dan sangat membutuhkan orang untuk kupukul!"
"Hah? Jadi kau ingin menggunakanku? Payah sekali kau hanya berani padaku!"
"Kubilang diam kau!"
"Hey sudah-sudah.."
"Ha, sepertinya kau jadi liar setelah ditinggal kakakmu!"
Buggh!
Jean terpelanting jatuh kebelakang. Ternyata Eren benar-benar melakukannya, menghajar seseorang.
Darah disudut bibir Jean menandakan bahwa pukulan itu tidaklah pelan. Kelas semakin gaduh. Mikasa dan Armin mencoba untuk menenangkan Eren yang siap meluncurkan pukulan keduanya.
Sampai, Erd yang sesungguhnya bangkit.
"Sudah kukatakan kalian untuk kembali duduk dan jangan membuat keributan! Sepulang sekolah nanti menghadapku!"
Perkataan Erd berhasil membuat semuanya kaku. Selama ini mereka hanya mengenal sisi baik seorang Erd. Tanpa tahu bahwa ada sisi menakutkan juga pada diri pria berambut pirang itu. Dari kejadian hari ini mereka mendapat hal baru.
Eren masuk ke kamarnya dengan wajah yang masih kesal. Ia mendapati ponselnya tidak menerima pesan dari siapapun. Itu artinya Levi tidak membalas pesannya.
Ah baiklah. Eren menyerah untuk menunggu pesan dari Levi. Mungkin memang mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau Eren kini hanya sendirian. Mungkin juga Levi terlalu sibuk dengan istri barunya itu sampai tidak bisa membalas pesan dari Eren walaupun hanya beberapa kata.
Padahal dulu, sebelum Levi menjadikan pernikahan itu, ia pernah berkata bahwa dirinya tidak akan melupakan Eren, ia akan tetap mengawasinya. Tapi Eren sadar. Manusia bisa berubah dengan begitu cepat. Mana mungkin seseorang bisa mengawasi orang lain disaat ia juga harus mengawasi orang disampingnya.
Eren meletakan ponselnya didalam laci. Hari ini ia akan mencoba membuat makanan sendiri. Ya meski sebenarnya kemampuan memasaknya bisa dikatakan dibawah cukup, itu bahasa yang lebih halus dari 'payah'.
Ia memasuki kawasan dapur, tempat yang dulu merupakan kerajaan kakaknya. Ia siap melakukan eksperimen dengan bahan-bahan yang ada di lemari es.
Detik berganti menit. Menit berganti jam.
Tadinya Eren ingin membuat sebuah omelet, yang menurutnya pasti mudah dilakukan. Tapi hasilnya benar-benar mengecewakan. Bahkan sesuatu diatas piring itu lebih terlihat seperti gundukan tanah sehabis hujan. Tidak ada bagus-bagusnya.
Eren menghela napas. Akhirnya yang benar-benar bisa ia makan hari ini hanyalah ramen instan. Dengan begitu ia tidak akan keracunan karena memakan masakannya sendiri dan yang penting ia bisa mengganjal perut laparnya.
Sesudah kenyang, yang dilakukan Eren hanya duduk di kursi meja makan dengan kepala yang ia simpan diatas meja itu. Tampak sangat bosan.
Melihat kondisi dapur yang sangat berbeda dengan kondisi sebelum ia memasukinya, Eren mengeluh dengan mengeluarkan deru napas kemalasan. Ia pasti akan dimarahi jika tidak membereskan ulahnya sendiri. Tapi ia sangat tidak biasa untuk bersih-bersih. Ditambah matanya terasa berat untuk terus berjaga. Mungkin ia akan tidur dulu sebentar disini sebelum membereskannya.
Ya awalnya berniat hanya tidur sebentar, tapi nyatanya ia bangun dipagi hari. Beberapa menit sebelum ia benar-benar terlambat di sekolah.
Eren langsung bergegas berbenah tanpa mempedulikan sarapannya. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah mengayuh sepedanya dengan cepat menuju sekolah sebelum gerbang akan ditutup.
"Tungguuuu!" teriak Eren pada petugas gerbang yang hendak menutupnya.
Si penjaga itu berhenti dan membiarkan Eren masuk meski dengan ocehan-ocehannya yang sebenarnya tidak didengar oleh Eren sama sekali.
Dengan napas yang terengah-engah ia meletakan sepedanya bersama sepeda-sepeda yang lain. Kemudian setengah berlari menuju kelasnya. Kalau tidak salah, pelajaran pertama adalah pelajaran Hange. Matilah dia jika terlambat masuk. Ia pasti akan dijadikan bahan percobaan.
Setelah sampai didepan kelasnya, dengan takut-takut ia membuka pintu. Dan, ah.. Hange sudah ada disana. Guru yang satu itu memang selalu bersemangat jika mengajar jadi tidak mungkin ia akan terlambat.
Semua mata tertuju pada Eren yang baru datang.
"Su-sumimasen sensei.. Aku terlambat."
Hange mengedipkan matanya kemudian tersenyum. Sepertinya Hange memang sangat ahli dalam membaca apa yang terjadi pada seseorang hanya dengan melihat wajahnya.
"Daijoubu. Aku juga baru datang. Duduklah." ucapnya.
Eren membungkuk sebagai tanda hormat sebelum menuju bangkunya. Ia juga sempat melihat Jean yang memandangnya dengan kesal. Mungkin ia belum memaafkan Eren atas insiden kemarin.
Bukannya memulai pelajaran, Hange malah melakukan sesuatu dengan ponselnya. Tampak seperti mengetik.
Semuanya tampak heran melihat kelakuan guru mereka yang satu ini.
"Sst, Eren! Kenapa kau terlambat?" tanya Armin.
Eren menoleh pada Armin.
"Aku terlambat bangun."
"Bukannya kau selalu diba-.. Ah, maksudku kenapa tidak membunyikan alarm?"
"Hn? Ah! Aku lupa menyimpan ponselku didalam laci! Ah... Aku ceroboh sekali.."
Armin hanya tersenyum maklum mendengar tutur kata Eren. Hampir ia kelepasan mengatakan hal yang mungkin akan membuat Eren murung lagi seperti kemarin.
"Baiklah anak-anak! Hari ini kita akan membuat larutan yang bisa bereaksi dengan katak!"
"Heeee?"
Lagi-lagi, Hange memberi sebuah materi aneh yang sebenarnya tidak ada di kurikulum. Tapi apa boleh buat. Mereka hanya bisa menurut dan mengikuti pelajarannya. Jika tidak, Hange yang mengeramkan akan keluar. Guru-guru disini benar-benar tidak masuk akal..
Besok adalah hari libur nasional. Semua orang pasti sangat senang dengan adanya esok hari. Dengan begitu mereka bisa bermalas-malasan dirumah atau bermain sepuasnya.
Hari ini Eren pulang agak larut karena berkunjung ke rumah Armin dulu, bermain game. Tadinya ia mau menginap tapi mengingat dapurnya belum dibereskan karena perbuatannya yang kemarin, ia mengurungkan niatnya. Bisa-bisa ia akan dihukum habis-habisan jika kotoran-kotoran yang menempel di dapur itu tidak dienyahkan secepatnya.
Tapi sebelum ia membereskannya, ia akan mencoba lagi membuat sesuatu. Mencoba boleh kan?
Kali ini ia akan bereksperimen dengan daging san bumbu kare. Yang ia pikirkan adalah membuat kare dengan bumbu instan ini. Semoga berhasil.
45 menit berlalu dengan cepat. Eren menatap aneh pada semangkuk kare yang ia buat. Bagaimana bisa masakannya selalu tampak seperti gundukan lumpur? Mungkin dia memang tidak memiliki bakat dalam hal memasak. Padahal ia sudah melihat resep berkali-kali dan memastikan dirinya tidak salah baca.
Ia menyerah. Ternyata hari ini ia harus memakan ramen instan lagi. Mungkin lain kali ia harus membeli ramen instan lebih banyak untuk persediaan, bisa-bisa ia terus gagal dalam memasak. Lalu jika dirasa ia bosan dengan ramen instan, pilihan terakhirnya jatuh pada makanan rumahan di supermarket. Ternyata hidup sendiri tidak mudah.
"Itadakimasu.."
Eren memakan ramennya dengan menyedihkan. Ia ingin makanan yang lebih bermutu dan sehat. Ha.. Harus ia akui jika ia merindukan masakan kakaknya yang dulu malah ia tolak mentah-mentah.
Eren duduk lagi di tempatnya yang sama seperti kemarin. Dengan posisi yang sama pula. Meletakkan kepalanya diatas meja.
Matanya sesekali berkedip memerhatikan jarum jam yang terus bergerak memainkan waktu. Ia mengantuk lagi. Sama seperti kemarin. Dan disaat ia belum membereskan dapur sama sekali, seperti kemarin. Mungkin yang akan berbeda, ia tidak akan terlambat sekolah besok. Kan libur.
Baiklah, saatnya menutup mata dan istirahat. Ia nyaman dengan posisinya saat ini, tidak mau pindah ke kamar.
Sayup-sayup suara Eren dengar. Entah suara apa. Ia juga mencium bau yang sangat berpengaruh besar pada perutnya. Akhirnya ia membuka matanya perlahan.
Ternyata posisinya masih sama seperti kemarin ia sadar sebelum tidur. Namun bedanga, kondisi dapur sekarang sangat berbeda jauh dengan kemarin, sangat bersih. Ditambah beberapa piring berisi makanan sudah siap dimeja makan. Eren speechless.
Matanya terus ia kedipkan untuk menyadarkan apakah ini nyata atau ternyata dirinya masih berada di alam mimpi. Ia menepuk-nepuk pipinya untuk mengumpulkan semua kesadarannya yang mungkin belum terkumpul semua.
"Hantu apa yang melakukan semua ini.." gumannya aneh.
"Aku bukan hantu, baka."
Eren menoleh pada asal datangnya suara. Dan ia langsung membelalakan matanya.
"Nii-san?"
Eren tidak salah panggil apalagi salah lihat. Orang dihadapannya ini memang Levi.
"T-tapi kenapa bisa?"
Levi duduk disalah satu kursi meja makan. Memosisikan dirinya senyaman mungkin.
"Kau lupa kalau aku memiliki kunci rumah ini juga?"
"Ah.. Eto.. Iya juga. Tapi, harusnya kan nii-san bersama Petra-sensei kan?"
"Panggil dia nee-san jika bukan di sekolah, itu pesannya."
"H-hai.."
Levi memerhatikan sekelilingnya sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Eren.
"Aku berkali-kali meneleponmu tapi kau tidak mengangkatnya."
Eren mulai tersadar bahwa ponselnya masih berada didalam laci dari kemarin. Ia benar-benar akan keberadaan benda itu dihidupnya.
"Eto.. Aku menyimpannya di dalam laci. Jadi aku tidak tau kalau nii-san menghubungiku."
"Souka. Dan lagi. Kau makan ramen instan 2 hari berturut-turut."
"Ah.. Itu.."
Eren menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana kakaknya tahu kalau ia makan ramen instan 2 hari ini.
"Aku tahu karena kondisi dapur yang hampir hancur dan makanan tak berbentuk yang kau buat. Ditambah kau sama sekali tidak mencuci alat makanmu setelah itu."
Hebat sekali dia bisa mengatakan hal yang sebelumnya Eren pertanyakan dalam pikirannya.
"Gomen nasai.. Tapi, kenapa nii-san datang kesini?"
"Kau kira aku akan tenang setelah panggilanku tidak diangkat berkali-kali? Kau membuatku khawatir dengan semua yang kau lakukan disekolah."
Tampak wajah penuh tanda tanya pada Eren. Yang ia ingat 2 hari kemarin Levi sama sekali tidak menunjukkan sosoknya di sekolah. Tapi bagaimana bisa kakaknya itu tahu apa yang ia lakukan disekolah?
"Hari senin kau berkelahi di kelas dengan Jean hanya karena dia menyindirmu yang berubah jadi liar setelah tinggal sendiri."
"E-eto.."
"Kau tidak menghormati Erd yang ada disana. Kenapa kau sampai sekesal itu? Pasti bukan hanya karena ejekannya kan?"
Dalam hati Eren mengatakan bahwa hal itu terjadi karena Levi tidak datang mengajar. Alasan yang sangat kekanakan.
"Aku tidak tahu.."
Levi menghela napas melihat kelakuan adiknya yang untuk saat ini tidak bisa ia baca melalui raut wajahnya. Yang ia tahu, Eren menyembunyikan alasan yang sebenarnya.
"Hari selasa kau terlambat datang ke sekolah."
Eren terkejut lagi. Ternyata Levi tahu juga soal hak itu.
"Aku terlambat bangun.." jawabnya pelan.
"Karena tidak terbiasa bangun sendiri?"
Eren terdiam. Ia tidak tahu apakah yang dikatakan Levi itu benar atau tidak.
"Gomen nasai, nii-san.. Saat aku bilang aku akan baik-baik saja saat kau tidak ada dirumah, sebenarnya aku tidak yakin. Aku tidak bisa melakukan segalanya dengan baik. Aku tidak sepiawai nii-san dalam melakukan pekerjaan rumah. Aku tidak bisa memasak selain menyeduh ramen instan. Aku tidak bisa bangun lebih awal untuk beres-beres. Aku tidak bisa melakukan semua itu dengan benar. Selama ini aku terlalu bergantung padamu dan tidak melakukan apapun selain bersantai. Dengan perginya nii-san darisini aku merasa semuanya terlihat sangat berubah. Dan lagi.. Nii-san tidak menemuiku setelah pernikahan itu.."
Levi menyeruput kopi ditangannya. Menikmati cairan hitam itu melewati kerongkongannya.
"Harusnya aku yang minta maaf kan?"
"Nande?"
"Membuatmu menanggung pekerjaan rumah itu tidak mudah."
Eren menunduk. Jadi apa yang mengatasi masalahya ini? Levi sudah memiliki keluarga. Tidak mungkin masih mengurus Eren.
"Aku belum sempat mengatakan ini saat aku pergi."
"Apa?"
"Jika ada apa-apa, jika kau mendapat masalah yang tidak bisa diselesaikan sendiri di rumah, jika kau butuh makanan yang kau inginkan, jika kau merasa bosan dan membutuhkan seseorang untuk mendengarkanmu, katakan saja. Hubungi aku."
"Ah? H-hai.. Tapi.. Nantinya aku malah merepotkan.. Nii-san kan sudah berkeluarga, pasti sibuk mengurus ini-itu.."
Tawa kecil terdengar.
"Memangnya kau bukan keluargaku? Sudahlah, aku tahu kau pasti kesulitan. Lakukan saja apa yang aku katakan tadi."
Eren mengaangguk. Levi ada benarnya juga. Ia memang merasa kesulitan tinggal sendiri. Tapi sebisa mungkin ia ingin melakukannya dulu sendiri. Ia tidak mau terus menerus bergantung pada kakaknya, ia bukan benalu.
"Dan aku akan mengingatkanmu, jangan memakan makanan instan berturut-turut. Tidak baik untuk tubuhmu."
"Wakatta. Mm, mana Petra nee-san?"
"Hn? Dia ada diruang tengah."
"Heee? Dia juga disini? Kenapa membiarkan dia sendiri?"
"Karena aku harus bicara dulu denganmu."
"Ah.. Eto.. Aku lupa menanyakan satu hal. Sejak kapan nii-san ada disini?"
"Dari tadi malam."
"S-souka.."
12 panggilan tidak terjawab. Pesan bertebaran.
Itu yang didapat Eren saat mencoba mengecek ponselnya.
'Eren kau baik-baik saja kan?'
'Eren, kenapa kau tidak mengangkat teleponnya?'
'Nee Eren, berhentilah membuatku khawatir.'
'Setidaknya katakan sesuatu!'
'Kau tidak melakukan hal berbahaya yang bisa membuatmu tidak sadar kan?'
'Nee Eren. Apa susahnya memberi kabar?'
'Kau marah padaku karena tidak membalas pesanmu kemarin?'
'Kau.. Apa yang kau lakukan disana sampai menghiraukan ponselmu hah?'
'Tsk. Nee Eren! Jika kau masih tidak mau mengatakan apapun, aku akan memeriksanya sendiri! Aku akan kesana sekarang juga!'
Kurang lebih itu isi pesan Levi. Yang bisa Eren lakukan hanya tertawa aneh. Ia harus mulai terbiasa dengan keadaan barunya. Keadaan yang entah akan membuatnya nyaman atau tidak. Lihat saja nanti.
