.

Two Hours

.

Chanyeol and Baekhyun

.

Chapter 3

.

Three Shot

.

Remake From Melani KyuminElfSha's Fanfiction

.

Romance, Family, Drama, Hurt.

.

M For Language, No Lemon.

.

GS for Baekhyun, OOC, Typo(s), Vulgar Language.

.


Chanyeol membuka pintu mewah di depannya seraya menatap kedalam, ruangan itu sangat gelap sebelum Chanyeol meraba dinding di dekat pintu dan menemukan saklar lampu, pria itu tersenyum sebelum menekan saklar kearah yang berlawanan dan seketika itu pula ruangan menjadi terang.

Chanyeol menatap kebelakang dan tersenyum pada Baekhyun. "Ayo masuk sayang." Ujarnya setengah menggoda seraya menarik koper Baekhyun dan kopernya untuk ia seret ke dalam ruangan.

Baekhyun yang masih mematung akhirnya menghela nafas dan mengekori Chanyeol. "Kau ingat bukan dengan janjimu? Tak ada sikap kurang ajar…"

"Menurutku." Potong Chanyeol. "Jika menurutku apa yang aku lakukan padamu bukan hal kurang ajar maka aku akan terus melakukannya." Sambung Chanyeol seraya berbalik dan menatap Baekhyun yang sudah berdiri di depannya.

"Kau!" Baekhyun mengepalkan tangan dan bersiap memaki Chanyeol namun segera ia urungkan dan memilih mengalah. "Semua yang kau lakukan padaku jelas-jelas tingkat pelecehan namun kau menganggap itu bukan perbuatan kurang ajar? Lebih baik aku mencari hotel lain saja." Dengan cepat Baekhyun merampas gagang kopernya dari tangan Chanyeol dan bersiap membalikkan tubuh.

"Tapi di luar hujan badai. Kau mau mati?" Tanya Chanyeol cepat, ia benar-benar tak menyangka jika Baekhyun memilih pergi.

"Lebih baik aku mati di luar sana daripada harus menerima pelecehanmu." Ujar Baekhyun dingin seraya mulai melangkah.

"Hei, hei, hei." Chanyeol segera mengejar dan menghadang perempuan itu dengan langkah sigap. Baekhyun menghentikan langkah lalu menengadah dan menatap tajam mata Chanyeol. "Baiklah. Tak akan ada pelecehan yang ya~ sebenarnya aku merasa tak pernah melecehkanmu, aku murni menghormatimu namun jika kau memang tak suka dan lebih memilih mati di luar sana lebih baik aku mengalah." Ujar Chanyeol.

Baekhyun masih diam dalam berdiri namun otaknya berpikir, mempertimbangkan ucapan Chanyeol Sebelum berbalik dan menyeret kopernya mendekati sofa di dekat ranjang. "Aku memberimu kesempatan dan kali ini aku tak segan-segan membunuhmu jika kau menyentuhku." Ujar Baekhyun seraya membuka resleting kopernya.

Chanyeol tersenyum mendengar ancaman itu dan dengan perlahan melangkah mendekati Baekhyun yang tengah mengobrak-abrik isi kopernya. "Membunuhku? Oh aku takut sekali." Ujar Chanyeol seraya duduk di samping Baekhyun.

"Ya. Kau memang harus takut." Baekhyun menatap pria itu tajam sebelum kembali sibuk dengan kopernya.

"Tapi…" Chanyeol mencondongkan tubuh dan tanpa peringatan mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Baekhyun, berbisik lirih di sana. "… apa kau berani membunuhku? Kau tega?"

Mendengar pertanyaan itu serta menyadari jarak mereka yang berbahaya membuat Baekhyun mengenggam tepi kopernya kuat.

"Menjauh dariku sebelum aku benar-benar menyerangmu." Ujar Baekhyun memberi peringatan.

"Kau akan menyerangku? Benarkah? Apa yang harus kulakukan? Bersiap di atas ranjang?" Chanyeol menjauhkan wajahnya dari Baekhyun seraya berdiri, mendekati ranjang dan tidur dengan posisi menggoda versinya. "Aku mempersilahkanmu menyerangku." Ujar Chanyeol seraya menahan senyum.

Baekhyun terperangah, menatap pria itu tak percaya sebelum bangkit dari duduk. "Aku semakin gila jika berada di dekat pria ini." Bisiknya seraya melangkah.

"Sayang kau mau kemana? Tak jadi menyerangku." Tanya Chanyeol masih menahan senyum saat melihat punggung Baekhyun menjauh.

"Tutup mulutmu!" Bentak Baekhyun sebelum memutari ruangan. "Di mana kamar mandinya?" Tanya Baekhyun dengan suara kecil yang tampaknya dapat didengar Chanyeol.

"Di balik dinding pembatas itu sayang. Kau pura-pura tak tahu atau ingin kuantar?" Goda Chanyeol yang jelas saja membuat Baekhyun mendengus. Tanpa menjawab pertanyaan itu Baekhyun segera melangkah mendekati dinding pembatas.

"Mau kutemani? Atau kita mandi bersama?" Chanyeol sedikit berteriak saat melihat punggung Baekhyun menghilang di balik dinding.

"Dalam mimpimu!" Masih sempat-sempatnya Baekhyun menjawab ucapan Chanyeol sebelum mengunci dirinya di dalam kamar mandi.

"Oh. Dia si seksi yang galak." Chanyeol tertawa keras sebelum membaringkan lagi tubuhnya di hamparan kasur empuk dan menatap langit-langit kamar. Sesaat kemudian tawa Chanyeol tak lagi terdengar karena tampaknya pria itu tengah memikirkan sesuatu.

Mendadak Chanyeol bangkit dari duduk dan mendekati kopernya untuk mengambil ponsel Baekhyun serta ponselnya sendiri dari saku koper. Pria itu kembali duduk di atas ranjang dan tampak memainkan kedua ponsel itu bergantian, entah melakukan apa namun senyum perlahan mulai terlukis di bibir Chanyeol, tampaknya pria itu sudah mendapatkan mainan baru.

Beberapa puluh menit kemudian Chanyeol terlihat sibuk dengan ponsel Baekhyun dan entah sejak kapan melupakan ponselnya sendiri. Sepertinya aplikasi pada ponsel pintar Baekhyun lebih menarik perhatian Chanyeol hingga membuatnya lupa akan sekitar.

Sadar jika ia terlalu lama menghabiskan waktu dengan ponsel membuat Chanyeol beralih mengambil alat pengisi baterai ponsel dan bersyukur jika ponselnya dan Baekhyun sama, itu memudahkan Chanyeol berbuat sesukanya lagi. Setelah berhasil menyambungkan ponsel dengan kabel pengisi baterai Chanyeol kembali berbaring di atas ranjang dan tak lama pria itu merasa bosan. Chanyeol mengedarkan pandangan dan berhasil menatap jam dinding di kamar itu. Waktu menunjukkan pukul tujuh dan detik itu pula Chanyeol mengerutkan dahi, pria itu sontak terduduk dan menatap arah kamar mandi.

"Sudah berapa lama ia mengurung diri di sana?" Tanya Chanyeol heran seraya kembali beranjak dan melangkah pelan menuju kamar mandi. "Hei." Chanyeol mengetuk pintu kamar mandi. "Kau baik-baik saja?" Chanyeol menekan knop pintu namun tak bisa terbuka, pintu itu terkunci dari dalam. "Hei! Jangan membuatku cemas. Jawab aku atau pintu ini akan ku dobrak!" Ujar Chanyeol seraya terus menekan knop pintu, malah kali ini lebih kasar lagi.

"Aish! Kau berisik. Tinggalkan aku sendiri." Jawab Baekhyun dari dalam.

"Tsk! Kukira terjadi sesuatu padamu. Kau tahu sudah berapa lama kau mengurung diri? Jangan bilang kau tertidur di dalam bak mandi." Ujar Chanyeol seraya menempelkan telinga kanannya di permukaan pintu.

"Aku memang tertidur dan sebelumnya tidak terjadi apa-apa sampai kau menganggu kesendirianku. Jadi sekarang menyingkir dari sana." Perintah Baekhyun dengan nada ketus.

"Baiklah. Cepat keluar sebelum aku mendobrak pintu ini." Ujar Chanyeol seraya mulai berbalik, melangkah menjauhi pintu dan menghampiri lagi ranjangnya.

Sementara itu di dalam kamar mandi Baekhyun kembali mendengus. "Dia menganggu saja." Sungut Baekhyun seraya keluar dari bak mandi.

Beberapa puluh menit kemudian Baekhyun keluar dengan mengenakan jubah mandi berwarna putih yang kebetulan berada di meja dekat wastafel, sepertinya masih baru karena jubah mandi itu masih terbungkus rapi dengan segel.

Baekhyun menggosokkan handuk kecil di kepalanya agar air yang mengendap di sana bisa terbuang dan saat melihat Chanyeol terbaring di ranjang dengan posisi memunggunginya membuat Baekhyun mendengus sebentar. Perempuan itu tak ingin membangunkan Chanyeol dan lebih memilih mendekati meja rias demi mendapatkan alat pengering rambut. Tak perlu waktu lama Baekhyun mendapati alat itu di dalam laci dan segera Baekhyun duduk untuk mengeringkan rambutnya. Di tengah-tengah kegiatan Baekhyun mendengar suara Chanyeol menembus gendang telinganya.

"Kau sudah selesai?" Tanya pria itu dengan suara parau. Baekhyun menatap kaca di depannya yang menangkap bayangan wajah Chanyeol.

"Menurutmu?" Tanya Baekhyun ketus, kembali mengeringkan rambutnya dan mengabaikan Chanyeol.

Chanyeol tersenyum mendengar jawaban itu dan mulai bangkit, terduduk di atas kasur seraya menggosok kedua matanya sebentar, tampaknya pria itu masih mengantuk. "Karena kau terlalu lama aku jadi tak berselera mandi." Ujar Chanyeol setengah menguap.

"Lalu?" Baekhyun memicingkan mata dan kembali menatap bayangan Chanyeol dari cermin.

"Jadi kau mandikan aku." Jawab Chanyeol sekenanya dan kembali tersenyum manis pada Baekhyun.

Baekhyun memutar bola matanya malas mendengar ucapan Chanyeol. "Dalam mimpimu!" Jawab Baekhyun dengan nada tinggi dan kembali sibuk dengan kegiatannya.

"Oh baiklah. Tampaknya kau begitu sulit untuk ditumbangkan. Hatimu sekeras baja." Ujar Chanyeol seraya bangkit dari ranjang, mulai melangkah menuju kamar mandi.

"Bagus jika kau sudah tahu siapa aku." Jawab Baekhyun lagi.

Chanyeol menghentikan langkah mendengar jawaban itu sebelum berbalik. "Tapi itu hanya sebentar nona. Semua keangkuhanmu akan sirna jika aku sudah menjeratmu dengan pesonaku." Ujar Chanyeol.

"Terserah! Lakukan apapun yang membuatmu senang." Jawab Baekhyun dingin.

"Baiklah. Aku menerima tantanganmu." Chanyeol tersenyum sekilas sebelum berbalik, kembali melangkah menuju kamar mandi.

Baekhyun mendengus saat mengetahui pria itu sudah menjauh dan segera melanjutkan aktivitas. Saat tengah mengeringkan rambutnya tak sengaja mata Baekhyun menatap arah balkon yang dibatasi pintu kaca transparan dan saat itu juga ia bisa melihat keadaan di luar ruangan. Baekhyun tertarik untuk memeriksa dan segera mematikan alat pengering rambut sebelum melangkah mendekati pintu transparan itu.

"Sepertinya sudah malam dan badai juga sudah berlalu." Bisik Baekhyun seraya berniat memutar kunci pintu transparan itu sebelum suara dering ponselnya terdengar. Baekhyun gagal memutar kunci pintu dan lebih memilih membalikkan tubuh. "Ponselku." Ujarnya seraya menatap sekeliling dan saat melihat layar ponsel menyala di atas nakas segera saja Baekhyun tersenyum mendekati nakas itu.

Baekhyun menatap layar ponselnya dan kembali tersenyum saat mengetahui siapa yang menghubunginya, dengan cepat ia melepaskan kabel pengisi baterai dan menerima panggilan.

"Iya sayang." Sapa Baekhyun seraya kembali berjalan menuju arah pintu transparan dan kali ini benar-benar memutar kunci pintu. "Maaf membuatmu cemas. Di sini mendadak hujan lebat disertai badai. Penerbangan dibatalkan dan mungkin aku akan ke London besok dengan penerbangan pagi." Ujar Baekhyun saat telah berhasil membuka pintu balkon dan melangkah ke dekat pagar pembatas. Tak sengaja Baekhyun menatap kebawah dan kepalanya pusing seketika. "Tinggi sekali." Ujar Baekhyun seraya memegang pagar pembatas itu dengan sebelah tangannya yang bebas.

"Kenapa?" Suara pria di seberang sana terdengar cukup cemas dan membuat Baekhyun tersenyum.

"Tidak. Hanya tengah berada di tempat tinggi. Malam ini terpaksa menginap di hotel." Jawab Baekhyun.

"Ah iya. Syukurlah jika menemukan hotel yang bagus. Di London juga tengah hujan lebat, tampaknya akan sangat berbahaya jika pergi malam ini juga." Ujar suara di seberang sana.

"Begitu ternyata. Beruntung juga sempat ditunda dua jam tadi." Ujar Baekhyun setengah berbisik.

"Aku hanya ingin menanyakan itu. Tidurlah yang nyenyak." Pesan suara di seberang sana sebagai kalimat perpisahan.

Baekhyun tersenyum. "Iya. Kau juga tidur yang nyenyak ya. Sampai jumpa di sana sayang." Ujar Baekhyun sebelum memutuskan panggilan. Perempuan itu menatap ponselnya sebentar sebelum memilih menatap pemandangan di depannya. Hujan rintik masih menghiasi dan Baekhyun merasa lega saat badai benar-benar sudah berlalu.

"Siapa yang meneleponmu?"

Baekhyun tersentak kaget saat mendengar suara pria itu dan belum lagi perutnya yang di penjara kedua lengan pria itu.

Baekhyun mendengus sebentar saat menyadari Chanyeol berbuat sesukanya lagi. "Aku masih ingat jika apapun urusanku bukan urusanmu, jadi kau tak memiliki hak untuk bertanya." Ujar Baekhyun seraya mulai menyingkir lengan Chanyeol dari perutnya namun tindakan Baekhyun sia-sia belaka, malah pelukan pria itu makin mengerat dan sontak membuatnya sesak.

"Dan aku juga masih ingat jika kau bilang tak membutuhkan pria." Bisik Chanyeol tepat di telinga kanan Baekhyun.

"Cih!" Baekhyun menatap kebelakang dan mengintimidasi Chanyeol dengan tatapan tajamnya. "Aku tak peduli dengan ingatanmu, yang aku pedulikan sekarang kau segera menjauh dari tubuhku." Ujar Baekhyun, kembali perempuan itu menatap perutnya dan berusahan melepaskan diri.

Chanyeol tak mau kalah, pelukannya berubah menjadi pelukan mati dan jelas saja Baekhyun tak akan bisa lolos.

"Kau menyakiti perutku. Ah~" Baekhyun tiba-tiba meringis dan memejamkan matanya, membuat Chanyeol tersentak dan segera melepaskan pelukan.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Chanyeol seraya memutar tubuh Baekhyun agar mereka berhadapan, Chanyeol segera menatap perut perempuan itu saat melihat Baekhyun terus menangkupnya.

"Tak perlu mencemaskan aku." Jawab Baekhyun ketus seraya menepis kedua tangan Chanyeol dari bahunya dan mulai melangkah, segera mendekati ranjang dan terduduk di sana. Dari tempatnya duduk Baekhyun bisa melihat Chanyeol menyusul, sebelum duduk di sampingnya Chanyeol masih menyempatkan diri mengunci pintu balkon dan membenarkan letak tirai itu.

Baekhyun sebenarnya ingin tertawa, perutnya tak benar-benar dan entah kenapa ide sakit itu terlintas di benaknya saat menyadari pelukan Chanyeol tak mau dilepas dan ternyata kata sakit bisa melepaskannya dari penjaraan Chanyeol.

"Sepertinya kau belum makan. Apa tak sebaiknya kita pesan makanan?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun mengendikkan kedua bahunya pertanda tak peduli. "Terserah kau saja." Jawab Baekhyun asal seraya mulai menatap layar ponsel dan tersenyum kala melihat ponsel itu kembali ia dapati.

Chanyeol yang melihat Baekhyun kembali tersenyum ikut tersenyum sebelum bangkit mendekati telepon yang berada di atas nakas. Chanyeol tampak menekan beberapa nomor sebelum melakukan interaksi dengan seseorang di seberang sana dan Baekhyun tak mau terlibat langsung, lebih senang memainkan ponselnya.

Setelah selesai memesan Chanyeol menatap punggung perempuan itu dan tersenyum lagi. Jubah mandi yang Baekhyun kenakan sama dengan jubah mandinya, membuat Chanyeol merasa kini mereka tengah memakai pakaian pasangan walau hanya berbentuk jubah mandi.

"Makanannya sebentar lagi datang." Ujar Chanyeol seraya mendekat kearah Baekhyun.

"Begitu." Respon Baekhyun singkat tanpa mau mengalihkan tatapannya dari layar ponsel dan sadar kini Chanyeol berdiri di depannya membuat Baekhyun merebahkan diri dan tidur memunggungi Chanyeol.

Mendapati tingkah tak bersahabat Baekhyun bukannya membuat Chanyeol murka, pria itu malah dengan sabar duduk di tepi ranjang dan memperhatikan punggung Baekhyun lekat. Dengan memaksa tempat tersisa di belakang perempuan itu Chanyeol ikut berbaring dan segera memeluk Baekhyun dari belakang.

Mengetahui jika Chanyeol berbuat lancang lagi membuat Baekhyun memutar bola matanya malas. "Aku masih ingat untuk membunuhmu jika kau macam-macam." Ujar Baekhyun.

"Dan aku rela kau bunuh." Jawab Chanyeol setengah berbisik di telinga kiri Baekhyun sebelum mengecupnya.

Baekhyun memejamkan mata merasakan bibir Chanyeol menyapa belakang telinganya dan demi apapun Baekhyun paling sensitif di area tersebut.

"Berhenti!" Baekhyun segera berbalik menatap Chanyeol dan beringsung kebelakang demi menjauhinya. "Tetap di situ jika kau ingin tidur di ranjang ini." Ujar Baekhyun tegas. Kembali Baekhyun memunggungi Chanyeol dan sibuk dengan ponselnya, karena ulah Chanyeol tadi permainan yang tengah Baekhyun geluti berakhir seketika. "Tsk!" Baekhyun mendengus dengan suara pelan mendapati kekalahannya.

Melihat punggung Baekhyun yang berjarak hampir satu meter darinya membuat Chanyeol lagi-lagi tersenyum, tanpa canggung pria itu bergerak ke depan dan sekali lagi memeluk Baekhyun dari belakang.

"Ya! Kau tak mengerti bahasa ya?" Baekhyun akhirnya berteriak dan sungguh ingin menendang Chanyeol agar menjauh dari ranjang.

"Bukankah kau yang tak mengerti bahasa? Aku bilang aku rela kau bunuh." Jawab Chanyeol seraya menenggelamkan wajahnya di bahu kiri Baekhyun tanpa permisi.

"Jangan pikir aku tak berani membunuhmu." Geram Baekhyun dan tanpa sengaja ponsel yang ada digenggamannya terjatuh ke lantai, beruntung lantai itu di lapisi permadani lembut. "Tsk! Lihat apa yang kau lakukan, ponselku bisa rusak." Ujar Baekhyun lagi dan bersiap untuk mengambilnya namun pelukan Chanyeol membuat pergerakan Baekhyun terhenti.

"YA!" Baekhyun kali ini benar-benar berteriak, sungguh kesal dengan tingkah semena-mena Chanyeol.

"Berapa kali harus kukatakan, aku merindukan istriku." Bisik Chanyeol tepat di bahu Baekhyun dan ucapan itu membuat Baekhyun terdiam seketika, hanya seketika karena setelah itu ia tersadar.

"Bukan urusanku kau tengah merindukan istrimu atau tidak. Aku tak peduli dan cepat menyingkir dariku." Bentak Baekhyun.

Chanyeol terdiam tanpa berniat melepaskan pelukan, entah kenapa mata Chanyeol berubah sendu mendengar bentakan Baekhyun padahal ini bukan pertama kalinya ia dibentak Baekhyun sejak pertemuan pertama tadi di bandara.

"Sekarang kau berubah kasar. Hatiku terluka." Bisik Chanyeol seraya menyandarkan pipi kanannya di bahu kiri Baekhyun.

Mendengar ucapan lirih itu terang saja membuat Baekhyun terdiam, namun detik berikutnya perempuan itu mencoba menjawab angkuh. "Dan aku tak peduli. Sudah kutegaskan di awal jika kau tak boleh semena-mena padaku." Ujar Baekhyun.

"Walau kau tak menyukaiku namun setidaknya kau menghormatiku. Aku sejak tadi memaklumi semua sikap kasarmu namun tak harus kau bertingkah seperti ini. Aku tersinggung." Ujar Chanyeol lagi.

"Terserahlah. Aku tak ikut campur masalah tersinggungnya kau." Sungut Baekhyun seraya menatap bantal di sampingnya.

Hening sebentar dan di antara mereka hanya terdengar hembusan nafas kecil.

"Kau tahu? Aku pria yang sangat setia." Chanyeol membuka suaranya untuk mengusir keheningan. "Yang kuinginkan hanya istriku saja namun tampaknya dia terlalu salah paham, membuatku merasa tak bisa dimaafkan lagi." Sambung Chanyeol seraya mengeratkan pelukan dan memejamkan matanya, masih bersandar nyaman di bahu Baekhyun.

Baekhyun merasa kalimat yang Chanyeol ucapkan sama dengan kalimat putus asa dan jelas saja Baekhyun merasa luluh, untuk menutupi itu ia memilih diam tanpa ingin menanggapi ucapan Chanyeol.

"Sepertinya ia butuh waktu dan membuatku sadar untuk tak ingin menganggunya dulu." Terang Chanyeol lagi. Mendengar itu membuat Baekhyun mengerutkan dahi, apa maksud ucapan Chanyeol? Baekhyun tak mengerti. "Sepertinya aku akan membatalkan penerbangan ke Jepang besok dan kuharap istriku bisa berpikir lebih dewasa mengenai hubungan kami. Dia butuh waktu dan tampaknya aku juga." Ujar Chanyeol seraya melepaskan pelukan.

Baekhyun menatap arah perutnya dan sedikit kecewa kala melihat pelukan Chanyeol tak seerat tadi namun rasa kecewa itu sirna saat Chanyeol menggapai tangan kirinya, mempertemukan ruas jari-jari mereka untuk ia genggam hangat. Chanyeol membimbing tangan Baekhyun melingkari perutnya sendiri sebelum kembali memenjara tubuh perempuan itu.

"Terima kasih untuk beberapa jam terakhir. Aku senang penerbanganku ditunda dua jam tadi dan aku bersyukur untuk kebersamaan kita karena dua jam itu." Bisik Chanyeol lagi sebelum kembali menutup matanya. Setelah itu Baekhyun tak mendengar suara Chanyeol di balik bahunya, yang Baekhyun dengar hanya deru nafas teratur pria itu.

Baekhyun mempertahankan posisi tidur dan belum ingin bergerak hingga beberapa puluh menit kemudian. Saat benar-benar yakin Chanyeol terlelap Baekhyun memberanikan diri menatap kearah bahu kirinya dan wajah pulas Chanyeol terlihat. Baekhyun menatap sendu wajah pucat Chanyeol sebelum tangan kanannya terulur untuk mengusap rambut Chanyeol sekilas dan beberapa detik kemudian Baekhyun memejamkan mata seraya mendekatkan bibirnya kearah bibir Chanyeol. Ciuman itu hanya terjadi beberapa detik sebelum Baekhyun kembali menatap wajah pucat Chanyeol.

"Aku sudah memaafkanmu. Maafkan aku." Bisik Baekhyun dan entah kenapa air mata mendadak lolos dari sudut matanya. Baekhyun segera ke posisi awal dan mengusap air matanya dengan tangan kanan dan bersiap tidur mengikuti Chanyeol.


Baekhyun mengerutkan dahi dan tampak membuka paksa matanya saat mendengar suara alaram ponsel. Dengan berat hati Baekhyun menyingkap selimut dan beringsut mencari arah suara, dan beberapa detik kemudian Baekhyun menemukan ponselnya tergeletak pasrah di atas permadani. Baekhyun segera mengulurkan tangan dan mendapatkan ponsel itu mengingat jarak mereka sangat dekat dan dengan handal jemari Baekhyun menghentikan alaram itu.

Baekhyun kembali berbaring dan tak sadar jika matahari dari balik pintu transparan balkon sudah menampakkan wujud, bahkan berada hampir di titik teratas. Merasa ada yang ganjil Baekhyun kembali membuka mata dan menatap sekitar namun tak menemukan apapun, di ruangan itu hanya ia sendiri.

Baekhyun sontak duduk di atas ranjang dan rasa kantuknya hilang seketika. Baekhyun terus mengedarkan pandangan sebelum beranjak menuju kamar mandi, di sana Baekhyun juga tak menemukan sosok lain selain dirinya.

"Oh tidak." Baekhyun tanpa sadar berbalik dan segera berlari menuju pintu utama dan tanpa melihat dandanannya sekarang Baekhyun nekad keluar demi mencari Chanyeol. Di dalam lift Baekhyun terus saja gelisah hingga pintu lift terbuka dan membawanya menuju lantai dasar, tanpa buang waktu Baekhyun segera berlari melewati meja resepsionis.

"Selamat pagi nyona." Baekhyun berhenti melangkah kala mendengar suara perempuan itu dan memilih menemuinya.

"Apa anda melihat pria yang kemarin bersamaku?" Tanya Baekhyun cepat saat sudah berada di dekat meja.

"Ah~ suami anda itu? Ia baru saja keluar dan kulihat ia menuju arah bandara." Beritahu perempuan itu.

"Apa ia membawa koper?" Tanya Baekhyun lagi.

"Tidak. Ia keluar dengan pakaian rapi namun tak membawa apapun." Ujar perempuan itu.

"Terima kasih." Baekhyun segera berbalik dan melangkah pergi.

"Pakaian yang bagus nona" Ujar perempuan itu saat melihat jubah mandi yang dikenakan Baekhyun. Baekhyun tak menyahut, terus saja berlari menyusuri lantai dengan kaki yang tak beralaskan apapun. Tampaknya Baekhyun belum sadar akan bagaimana dandanannya pagi ini. Sangat kacau.

Saat sudah berada di dalam bandara Baekhyun segera menatap sekitar dan berharap Chanyeol masih ada di sana, terus mencari dan beberapa puluh menit kemudian Baekhyun menangkap sosok pria itu tengah duduk di salah satu kursi tunggu dengan posisi tengah memungguninya. Walau hanya punggung namun Baekhyun sudah sangat hafal bagaimana postur pria itu.

Baekhyun tersenyum lega dan ingin mendekat namun segera urung saat melihat Chanyeol menatap kesamping, tepat pada sosok gadis di sebelahnya. Baekhyun membeku seketika saat melihat telapak tangan wanita itu kini sudah menangkup hangat pipi kiri Chanyeol.


"Maaf membuatmu susah beberapa hari terakhir." Ujar Chanyeol saat selesai menendatangani berkas yang Victoria bawa.

"Tak masalah." Gadis itu tersenyum seraya menerima berkas yang Chanyeol ulurkan. "Lalu bagaimana? Baekhyun-ssi sudah memaafkanmu?" Tanya Victoria seraya menatap Chanyeol lekat.

Mendengar pertanyaan itu membuat Chanyeol menghela nafas lalu membenarkan posisi duduknya. "Belum. Ia masih berlagak seolah tak mengenalku dan tampaknya ini yang paling lama, dua minggu lebih. Biasanya jika marah dia berlagak tak mengenaliku hanya beberapa jam saja selebihnya seperti biasa." Ujar Chanyeol.

"Maaf. Ini kesalahanku. Maaf." Ujar Victoria seraya menunduk. Mendengar ucapan menyalahkan diri itu membuat Chanyeol tersenyum sekilas.

"Bukan. Ini murni kesalahanku yang tak bisa meyakinkannya." Ujar Chanyeol seraya menyandarkan punggung. Tak ada perbincangan beberapa detik sebelum Chanyeol membuka mulut. "Aku rindu sekali padanya namun ia masih keras kepala." Ujar Chanyeol frustasi. "Aku terus membuatnya kesal dengan ucapan vulgarku dan saat melihat ia merona menahan malu membuatku tertawa dalam hati." Ujar Chanyeol menahan senyum, membuat Victoria di sebelahnya ikut tersenyum. "Dia manis sekali jika tengah malu begitu." Ujar Chanyeol dengan nada pelan.

"Tak seharusnya kau menjahili Baekhyun-ssi begitu." Tegur Victoria.

"Mau bagaimana lagi? Saat menemukannya di bandara hatiku bersorak senang, selalu ingin mengajaknya bicara namun ia mengabaikanku." Jawab Chanyeol. "Rindu sekali~" Bisik Chanyeol seraya menengadahkan kepalanya. "Dan kau tahu? Aku menciumnya saat di toilet kemarin dan hampir melakukan hal lebih jika ia tak melayangkan tamparannya tepat di pipiku. Ah sakit sekali." Ujar Chanyeol seraya meringis.

"Kau ditampar?" Victoria membulatkan matanya, kaget mendengar ucapan Chanyeol.

"Ya. Memang wajar aku ditampar namun mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tak bisa menahan kerinduanku, belum lagi aku juga merindukan anakku. Jika tidak memikirkan keselamatan bayiku yang baru berumur beberapa minggu dikandungannya aku akan menculik Baekhyun secara paksa, namun aku masih punya hati." Ujar Chanyeol lagi.

"Tapi tetap saja. Kau menciumnya di toilet? Benar-benar tindakan berani." Ujar Victoria seraya menggelengkan kepala.

"Apa yang salah? Dia istriku dan aku berhak menciumnya dimanapun. Tapi sungguh tamparannya sakit sekali. Lihat. Pipiku masih merah bukan?" Chanyeol menatap Victoria dan menunjuk pipi kirinya.

"Benar." Victoria menatap takjub pipi kiri Chanyeol seraya menyentuhnya. "Baekhyun-ssi benar-benar melakukan hal yang tepat." Sambung Victoria.

"Kau ini." Chanyeol mendengus dan kembali duduk ke posisi awal. Victoria tertawa melihat ulah Chanyeol dan tak sengaja gadis itu menangkap sosok Baekhyun yang berdiri di antara lalu lalang pengunjung bandara. Sontak tawaan Victoria teredam kala matanya dan mata Baekhyun bertemu tatap. "Chan. Tampaknya istrimu salah paham lagi." Ujar Victoria tanpa mau mengalihkan tatapannya dari Baekhyun.

"Apa?" Chanyeol menatap Victoria namun segera mengerutkan dahi kala melihat gadis itu lurus menatap kedepan. Chanyeol heran lalu mengikuti arah pandang Victoria dan betapa kagetnya Chanyeol saat melihat Baekhyun berdiri tak jauh dari mereka sebelum perempuan berbalik dan berlari dari sana.

"Pakaian yang bagus." Ujar Victoria saat melihat jubah mandi yang dikenakan Baekhyun.

"Celaka. Bisa-bisa dia sungguh tak mengenalku lagi setelah ini. Aku akan mengurus istriku dan kantor kuserahkan padamu, hanya sebentar." Ujar Chanyeol seraya berdiri dan berlari mengejar langkah Baekhyun. Victoria hanya mengangguk dan tersenyum saat melihat punggung Chanyeol mulai menjauh.


"Baek." Chanyeol segera mengenggam lengan Baekhyun saat berhasil mengejarnya.

"Aku berniat memaafkanmu tapi kau malah begini. Kau benar-benar pria brengsek." Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata basahnya dan Chanyeol mengutuk diri sendiri karena membuat Baekhyun menangis.

Baekhyun menepis tangan Chanyeol kasar dan kembali melangkah saat tak mendengar jawaban Chanyeol.

"Kau salah paham lagi." Chanyeol berteriak di belakang Baekhyun dan tentu saja membuat perempuan itu menghentikan langkah. Chanyeol mengamati Baekhyun sebelum melangkah dan dengan cepat memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Kau salah paham dan kenapa tak ingin mendengar penjelasanku? Kau membunuhku pelan-pelan jika begini, lebih baik kau bunuh saja aku sekalian agar aku tak merasa sakit terlalu lama." Ujar Chanyeol penuh penekanan.

Baekhyun tak menjawab, malah terdengar isakan dari mulutnya yang membuat Chanyeol semakin menyalahkan diri.

"Aku dan Victoria tak ada hubungan apapun selain sahabat, kau sudah mengetahui ini dari lama namun kenapa terus mempermasalahkannya?" Tanya Chanyeol lagi.

"Karena aku tak suka melihatmu dengan perempuan itu, aku tak suka. Mau dia Victoria, Dara atau siapapun perempuan yang kau bilang hanya sahabatmu." Jawab Baekhyun di antara isakannya.

Chanyeol terdiam mendapati jawaban itu namun selanjutnya mulai tersenyum sebelum melepaskan pelukan dan membimbing Baekhyun agar menghadap kearahnya. "Dengar. Yang kucintai hanya Baekhyun, istri dan juga calon ibu untuk anak-anakku jadi kau tak perlu mencemaskan hal yang tak penting sayang." Ujar Chanyeol seraya mengusap air mata di kedua pipi Baekhyun. "Kita sudahi sandiwara ini ya? Aku minta maaf dan akan menjaga sikapku dengan perempuan manapun asal kau tak begini lagi, hm?" Ujar Chanyeol terdengar bagai bujukan.

Baekhyun menegadah dan menatap pria itu dengan mata basahnya. "Kau janji?" Tanya Baekhyun persis seperti anak kecil yang membuat Chanyeol tersenyum melihatnya.

"Iya." Jawab Chanyeol seraya mengecup dahi Baekhyun sekilas. "Ayo kita ke kamar. Sepertinya aku akan benar-benar mengurungmu." Chanyeol mengenggam tangan Baekhyun dan menariknya menuju lift dan sejak tadi mereka tak menyadari jika resepsionis perempuan itu menyaksikan adegan drama mereka.

"Tapi aku harus ke London menemui Sehun, aku tak mau mengingkari janji walau dengan adikku sendiri." Ujar Baekhyun.

Chanyeol tersenyum. "Tak perlu, aku sudah menghubungi Sehun dan dia malah setuju jika kau menjadi sanderaanku mulai sekarang." Jawab Chanyeol seraya menekan tombol lift dan tak lama pintu kotak besi itu terbuka.

Chanyeol kembali menarik Baekhyun agar masuk.

"Tapi tetap saja aku…"

"Ssttt." Chanyeol meletakkan telunjuk kanannya di atas bibir Baekhyun seraya tersenyum. "Dua minggu kau menjauhiku dan sekarang saatnya aku yang menghukummu." Ujar Chanyeol.

Mata Baekhyun membulat. "A-apa?"

Chanyeol tersenyum dan tanpa canggung mencium Baekhyun tepat di bibir dan saat itu pula pintu lift tertutup.

Pegawai resepsionis yang sejak tadi menyaksikan hanya bisa terdiam sebelum menatap layar komputernya. "Tampaknya tuan Chanyeol ingin menambah masa sewa kamar hotel." Ujar perempuan itu.


.

~oOo~

.

The End


Special thanks:

Lili, kriswu393, Park Oh InFa Faro, PrincePink, 3log5, minha, DeeMacmillan , kkamjongyehet, AriaSweden88, indaaaaaahhh, Prince Changsa, vitCB9, orange squishy, wangzy, Dobi Hano Beef, 90Rahmayani, onkey shipper04, baekyeolxx, fitry. sukma . 39, parkchanbyunbaek, KaiHunnieEXO, ShinJiWoo920202, baekkam, yongin, bellasung21, srhksr, aprilbambi, chanbaek line, Baby Kim, Johan Kim, 407bubleblue, Gigi onta, Su Hoo, purnama, Babby Byunie, dreamers girl, indi1004, silkyes, NajikaAlamanda, Liliana Spica, Byun - Dogii, Nami, JodohYiFan and Guests.