Rainbow Days

Chapter 8

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

Hange Zoe. Siapa tak kenal wanita nyentrik itu? Guru mata pelajaran kimia yang selalu membuat ramuan aneh ini tak pernah lepas dari cairan-cairan kimia.

Jika diminta menjelaskan bagaimana wanita itu.. Pasti banyak yang berpendapat bahwa dia.. aneh, gila, tak manusiawi. Tapi janganlah menilai dari sana saja. Hange wanita yang baik. Teramat baik malah. Dia selalu siap menampung keluh kesah sahabatnya. Kemudian memberi solusi. Kita ambil contoh, Levi dan Irvine. Bukan rahasia lagi bahwa mereka bertiga, adalah sahabat lama. Ya meski Irvine adalah senior mereka bertiga saat SMA, tapi apa salahnya kan?

Orang yang membuat mereka bertiga berteman baik atau bisa disebut juga sahabat, tak lain adalah Hange. Tepatnya saat Irvine kelas 3 dan mereka kelas 1.

Irvine yang merupakan ketua kedisiplinan dalam 2 periode bermusuhan berat dengan Levi. Padahal hanya berawal dari cibiran kecil Irvine saat rapat kepengurusan dengan OSIS. Tanpa berpikir, Irvine yang terkenal baik hati itu mengatakan 'Jika sibuk mengurusi adik, jangan mencalonkan diri jadi ketua OSIS"

Levi tidak terima dengan perkataan Irvine. Dia, dengan sangat tidak sopannya, langsung menarik kerah baju seniornya itu dan melayangkan pukulan mematikan. Perkelahian terjadi.

Semua orang tercengang. Bagaimana mungkin seorang ketua kedisiplinan siswa berurusan dengan hal yang selama ini menjadi musuh kata 'kedisiplinan'.

Saat itulah, Hange yang memang sudah menjadi teman Levi dari SMP, mencoba meluruskan masalah kecil yang malah sangat kusut itu.

Entah jurus apa yang digunakannya, entah ramuan apa yang membantunya, Hange berhasil membuat mereka berbaikan. Ajaib? Memang. Itulah keajaiban seorang Hange, seperti ibu peri saja.

Saat ini umurnya genap 28 tahun, sama dengan Levi. Bedanya, sampai sekarang Hange tidak memiliki pria yang digunakannya untuk bersandar, atau bisa disebut juga 'kekasih'. Tapi sepertinya dia tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia bahkan tak merasa iri setelah melihat pernikahan Irvine setahun lalu, juga pernikahan Petra beberapa minggu kemarin. Dia tampak nyaman dengan keadaannya sekarang.

Baiklah, jika boleh jujur, Hange memiliki cinta pertama tentu saja. Dan pasti orang yang mendengarnya akan sangat tercengang saat mengetahui ini. Jadi siapa pria malang yang menjadi cinta pertama Hange? Ekm. Levi. Ya Levi. Si pria brutal dimasanya.

Oh ayolah.. Siapa yang tidak akan jatuh cinta terhadap seorang pria yang memiliki daya tarik seperti itu? Jangan dilihat dulu kedinginan, kekejaman, ketajaman atau apapun segala kenistaan yang ia miliki. Hange menyadari itu saat pertama kali melihat Levi sangat perhatian pada adiknya. Ia telah melihat sisi lain dari seorang Levi yang selama ini ia kenal. Hal itu terjadi sekitaran kelas 3 SMP.

Waktu berlalu. Hange menyadari hal yang keliru. Ternyata rasa cinta yang ada untuk Levi itu adalah cinta kepada sahabat, kepada orang yang ia kagumi. Kenapa? Karena ia sama sekali tidak speechless jika berada didekat Levi, ia juga biasa saja jika tidak sengaja bersentuhan dengannya. Cinta seorang sahabat. Yah begitulah. Buktinya ia sama sekali tidak sakit hati dalam membantu hubungan Levi dan Petra, bahkan sampai menyaksikan mereka menikah.

Jika ada cinta pertama (meski keliru), tentu saja ada cinta kedua. Itu terjadi saat kelas 1 SMA. Pada Irvine. Lucu sekali bukan. Ha.. Hange memang aneh. Hange jatuh cinta pada Irvine karena pria itu selalu tersenyum meski ia sedang kesal, julukannya 'si topeng besi tersenyum'. Tapi Hange menyadari hal yang sama seperti pada Levi. Cintanya itu cinta seorang sahabat. Dan setelah semua itu berlalu, Hange belum merasakan lagi cinta (keculi pada hasil temuannya).

Lupakan masalah cinta. Hange saat ini tengah sibuk melamun. Ah, melamun itu bukan suatu kesibukan ya? Baik, Hange sedang asyik melamun. Itu lebih baik.

Ia duduk dibangku taman sekolah sore ini. Sebenarnya bukan sore juga karena masih menunjukkan pukul 3. Itu waktu pertengahan antara siang dan sore.

Ia bersandar pada punggung kursi. Rambutnya yang coklat sesekali berbaur dengan angin. Tangan kanannya menanggung beban kepala. Sebagai guru kimia, ia masih menggunakan jas lab berwarna putih dan sarung tangan karet. Bisa ditebak bahwa sebelum ini ia melakukan percobaan. Entah ramuan apa lagi.

Banyak murid yang menyukai cara mengajar Hange yang unik, tapi juga banyak yang tidak suka. Itulah kehidupan. Disaat ada yang menyukaimu, berarti ada juga yang tidak menyukaimu. Hange tampak sedang putus asa. Apa ramuannya kali ini gagal? Tak ada yang tahu karena tak ada yang menanyakan. Tapi sepertinya raut itu bukan raut putus asa, author keliru. Itu lebih pada raut.. kesepian.

Ha.. Ternyata manusia seheboh Hange bisa merasakan kesepian. Jika dipikirkan, saat ini sekolah memang sudah bubar. Levi sudah pulang bersama Petra karena harus membeli kebutuhan rumah yang mulai habis. Irvine juga pulang karena harus menemani istrinya menemui orang tuanya. Asistennya, Mike, juga sudah pulang dari tadi. Apalagi para siswa. Mereka langsung raib setelah bunyi bel bergema. Kecuali yang memiliki kegiatan klub mereka masing-masing.

"Ini lebih sepi dari yang kubayangkan.." gumannya sendiri.

Ia sudah bosan berkutat dengan cairan-cairan kimia berbahaya di ruang lab. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah teman mengobrol. Itu saja. Cairan-cairan kimia tidak akan bisa ia ajak bicara. Tiba-tiba seseorang menghampirinya.

"Hange-sensei? Anda belum pulang?"

Hange mengangkat dagunya dan matanya mulai berbinar senang.

"Eren-chan?! Kau masih disini ternyata!"

"Ah? Iya. Aku baru saja selesai piket. Tapi aku mengerjakannya sendiri karena kalah bermain game.."

Hange berseri-seri ala fangirl.

"Setelah ini kau tidak ada acara kan?"

"Mm? Kurasa tidak ada."

"Kalau begitu duduklah! Temani aku!"

"A-ah?"

"Ayo!" ucap Hange sambil menepuk-nepuk ruang kosong disamping kirinya.

Eren tampak sedikit ragu. Namun ia menyerah. Ia pun duduk disana, disamping Hange. Jujur saja ia memang sedikit takut pada guru nyentrik itu. Sebuah trauma masa kecil.

"Apa ada yang ingin anda bicarakan?" tanya Eren masih canggung.

"Hm? Sebenarnya tidak ada. Ambil saja topik apapun. Aku sedang kesepian."

Eren terdiam. Ternyata bukan hanya dirinya yang merasa kesepian di dunia ini.

"Kenapa orang-orang jadi lebih sibuk dan tak ada waktu untuk menemani orang lain.." gurau Hange.

Eren tahu itu bukan sebuah pertanyaan namun sebuah pernyataan. Orang-orang memang sepertinya telah berubah. Pindah ke dunia baru mereka. Seperti halnya gelembung sabun. Saat ia pecah, akan muncul lagi yang baru, gelembung yang belum tentu sama seperti gelembung sebelumnya.

"Mungkin manusia memang akan seperti itu, berubah disaat-saat tertentu. Seperti sebuah takdir yang tak bisa ditentang." balas Eren.

"Hm.. Berarti suatu saat aku juga akan menjadi lebih sibuk dari hari ini ya.. Lalu membuat orang lain kesepian.."

Eren membalas dengan sebuah senyuman. Masih tampak canggung. Mungkin tidak terbiasa mengobrol berdua dengan salah satu gurunya ini.

"Nee Eren! Apa kau masih takut padaku?"

"Eh?"

"Ahaha! Tidak apa-apa, tidak usah bereaksi seperti itu. Aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu! Kalau tidak salah, waktu itu kau masih 2 tahun."

Hange tertawa lepas mengingat hal itu. Sedangkan Eren hanya terlihat kebingungan, tidak ingat dengan kejadian itu. Jadi begini..

Hange memaksa Levi untuk mengajaknya ke rumah. Hange bersikeras ingin bertemu dengan Eren. Levi tak bisa berbuat banyak kecuali mengalah. Dia akhirnya membawa Hange ke rumah.

"Tadaima!" seru Levi.

"Okaeri Levi-kun!" balas ayah Levi dari dapur.

"To-san, aku membawa Hange bersamaku!"

Menyembullah kelapa sang ayah, melihat putranya bersama seseorang. Dia tersenyum senang, jarang sekali Levi membawa temannya ke rumah.

"Selamat datang Hange-chan! Sudah lama tidak bertemu!" sapa ayah Levi.

"Iya paman!"

"Bersenang-senanglah disini!" ayah Levi kembali ke dapur.

Levi dan Hange masuk ke ruang tengah. Dan ternyata ada Eren disana, sibuk dengan mainan ditangannya.

Hange langsung berlutut, penyakit fangirl-nya mulai kambuh.

"Kawaiiiiiii!"

Levi menggendong adiknya, ingin menjauhkan Eren dari makhluk seperti Hange. Tapi Eren tampaknya tidak peduli dengan kehadiran Hange disana.

"Oh iya! Nee Eren-chan! Eren-chan! Aku punya hadiah untukmu!"

Eren menoleh tampak sedikit tertarik. Hange mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah toples kaca kecil yang didalamnya ada.. Erg.. kepala kodok.

Awalnya ekspresi Eren biasa saja, namun lama kelamaan matanya berembun. Ia pun menangis dengan heboh, memeluk-meluk Levi sambil mengguncangkan kakinya.

"Tch! Nee kuso megane! Apa yang kau lakukan hah! Kau pikir anak kecil akan suka diberi hal seperti itu?!"

Hange tampak biasa saja melihat reaksi Eren yang ternyata diluar dugaannya. Dari keributan itu, ayah Levi datang, heran dengan tangisan Eren yang terlalu kencang.

"Ada apa ini?" tanyanya.

"Dia menakuti Eren!"

Ayah Levi hanya tersenyum maklum. Tak ada salahnya ia membiarkan hal ini.

"Ha.. Aku lelah tertawa. Jangan-jangan kau tidak ingat tentang yang itu? Seingatku kau menangis karenaku bukan hanya saat itu. Saat kau 7 tahun juga.."

Hange baru saja pulang dari sekolah. Ia pulang malam karena sudah bereksperimen di lab. Buktinya ia masih mengenakan jas labnya.

Diperjalanan pulang, ia berpapasan dengan Levi yang ternyata membawa Eren bersamanya.

"Kau baru pulang?" tanya Levi dengan alis berkerut.

"Iya. Aku baru menyelesaikan ramuan baru!"

"Tch."

Menyadari Eren menatapnya dengan puppy eyes, fangirl Hange keluar lagi. Dia berjongkok agar sejajar dengan tubuh Eren.

"Nee Eren! Hora!"

Dengan wajah berseri-seri ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, menunjukkannya pada Eren. Itu adalah toples kaca kecil yang berisi.. kepala tikus.

"H-Huaaaaaa! Nii-chan! Singkirkan itu!"

Eren menangis dan menarik-narik mantel kakaknya.

"Tch.. Seharusnya kau tidak memperlihatkan hal seperti itu lagi pada Eren. Kau tahu sendiri dia selalu menangis melihatnya."

"Heee?"

Hange memasukkan toples itu kedalam tasnya lagi. Meminimalisir tangisan Eren.

"Lagipula kenapa kau selalu membawa benda-benda seperti itu.."

Kali ini Eren ikut tertawa. Ia ingat kejadian itu. Mereka tertawa sampai lelah.

"Haha.. Dan setelah kejadian itu kau selalu bersembunyi dibelakang kakakmu karena takut aku membawa benda itu lagi."

"Iya.. Sudah lama sekali ya. Tapi sekarang anda menjadi guruku dan aku mulai terbiasa."

Hange tampak tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Eren.

"Terbiasa?"

"Ya. Aku takut berarti aku belum terbiasa kan? Setelah berkali-kali melihat anda membawa benda-benda aneh dan menyeramkan, aku jadi tidak takut lagi. Tidak mungkin kan aku terus menangis dan bersembunyi dibalik punggung nii-san."

"Jadi begitu? Apa murid lain yang takut padaku juga akan mulai terbiasa?"

"Mm.. Kurasa iya. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya aku masih merasa takut pada Hange-sensei, meski hanya sedikit."

"Nande?"

"Entahlah.. Mungkin karena anda selalu melakukan hal-hal yang mengejutkan."

Hange tampak menimbang-nimbang. Dia memang sering melakukan hal yang tidak dipikirkan orang lain. Sesuatu yang menjadi ciri khasnya.

"Oh iya, Hange-sensei!"

"Mm?"

"Anda tinggal dengan siapa?"

"Sendirian. Aku anak tunggal jadi sering sekali merasa kesepian. Haha.. Menyedihkan sekali ya."

Hening. Hanya terdengar deru angin yang menggerakan pepohonan dan rambut mereka. Bergerak cepat kemudian melambat seirama.

"Tapi aku bersyukur karena memiliki orang-orang yang aku sayangi."

Eren menunjukkan antusiasnya tentang orang-orang yang disayangi Hange. Membuat Hange mengatakannya lebih lanjut.

"Aku senang pernah mengenal kakakmu. Dia sahabat yang baik. Ya.. Meski perkataannya sangat dingin seperti wajahnya, dia mau berada disisiku sebagai sahabat selama ini. Tidak banyak hubungan persahabatan yang bertahan lama seperti kami. Silahkan saja hitung dari kami masih kelas 1 SMP. Itu cukup lama. Dia sahabat terbaik."

Tak pernah Eren bayangkan sebelumnya bahwa kakaknya sangat berarti bagi seseorang seperti Hange. Persahabatan yang keren, menurutnya.

"Aku juga tidak akan melupakan Irvine. Dia sahabat yang baik, seperti halnya Levi. Walaupun pertenuanku dengannya tidak selama dengan Levi, tapi kami bisa saling memiliki. Lucu sekali jika mengingat masa-masa itu."

Hange mengubah cara duduknya. Ia mengangkat kaki kanan dan menyimpannya diatas paha kiri. Memberi kesan dewasa.

"Selain mereka berdua, aku juga beruntung telah mengenal Petra, Mike, Erd, Gunter, Auro, Pixis, dan para muridku termasuk kau Eren."

"Anda mengenal paman Pixis?"

"Tentu saja! Dulu dia guru kimiaku saat SMP.. Tapi sekarang mengurus apartemen."

Eren mengangguk-ngangguk mengerti. Dia tahu Pixis dulunya adalah seorang guru, tapi ia tidak tahu kalau ternyata Pixis sempat mengajar kakaknya dan Hange.

"Ano.. Hange-sensei, kalau anda mau, anda bisa bergabung makan malam dirumah. Nii-san akan menginap malam ini. Kupikir, dia tidak akan keberatan jika anda ikut bergabung."

"Hontou ni?" Hange berseru kegirangan dengan mata berbinar senang.

"Ya. Lagipula, bukankah anda sedang kesepian hari ini? Menurutku, kesepian itu tidak akan datang jika kita mengibur diri sendiri, menyakini bahwa kita tidak pernah sendiri di dunia ini."

Hange menghambur memeluk Eren. Berkali-kali mengatakan hal yang tidak bisa didengar Eren karena ia mulai merasa sesak.

"A-ano.. Hange-sensei.. Aku kehabisan napas.."

Levi mengerutkan alis sangat dalam. Wajahnya tampak kesal saat ini, menghadapi orang dihadapannya, orang yang tadi ia bukakan pintu.

" . .disini?"

"Hey Levi!" sapa Hange senang.

"Haha.. Aku dipaksa ikut.." kata Irvine.

"Jika suamiku ikut, aku juga harus ikut." tambah Carroline, istri Irvine.

Levi menyilangkan tangannya didepan dada menghadapi mereka. Sampai Eren dan Petra menyembul keluar melihat siapa yang datang.

"Ah! Kita ada tamu!" seru Petra senang.

"Hange-sensei, terimakasih sudah datang! Dan.. Anda juga datang Irvine-san." kata Eren.

Perlahan Levi berbalik, menghadap Eren dan Petra.

"Jadi kau yang mengundang mereka?" tanyanya ketus.

"E-eto.. Iya. Sebenarnya hanya Hange-sensei. Aku tidak tahu kalau Hange-sensei akan mengajak 2 orang lagi.."

Yang bisa Levi lakukan hanya mendecih. Pekerjaannya akan bertambah malam ini.

"Jangan berwajah seperti itu Levi! Aku tahu kau pasti senang kami datang!" goda Hange sambil membuka sepatu dan memakai sandal rumah, diikuti Irvine dan istrinya.

"Tch. Terserah."

Levi berlalu, berjalan lebih dulu. Tapi ya.. Apa salahnya kali-kali mengundang mereka untuk makan malam? Sudah lama juga mereka tak berkumpul bersama seperti ini. Bedanya, kali ini Levi dan Irvine menggandeng istri masing-masing. Tapi Hange tak menggandeng siapapun malam ini. Ya.. Dia bisa berpura-pura menggandeng Eren. Hm pura-pura.

"Nee Eren! Kau harus pura-pura jadi suamiku malam ini!" teriak Hange.

"Heee?"

"Jika kau berani melakukannya, kubunuh kau!" tampik Levi.

"Kau tidak akan tega melakukan itu karena kau mencintaiku, sahabatku~"

"E-eh? Apa benar begitu, Levi?"

"Jangan dengarkan wanita gila itu Petra."

"D-demo.."

"Jangan percayai perkataannya."

"Pertengkaran rumah tangga~"

"Urusai!"

"Sudah sudah Levi. Kau tidak harus mempermasalahkan ini kan?"

"Kau sama saja. Dasar tua."

"Aku tidak akan kesal untuk kali ini karena aku akan menumpang makan disini."

"Aku juga tidak akan kesal karena aku akan menumpang makan disini~"

"Aku yang kesal, baka."

"Janganlah kesal padaku wahai sahabatku~"

"Tch.."

"Aku tahu kau tidak akan setega itu~"

"Urusai.."

"Karena kau mencintaiku~"

"Levi.."

"Jangan dengarkan dia Petra."

"Karena kau mencintaiku~"

"A-ano.. Hanji-sensei.."

Kurang lebih begitulah suasana rumah itu saat kedatangan tamu. Mungkin akan mengganggu para tetangga. Kegaduhan itu tidak akan bisa dihentikan.. Sampai mereka lelah untuk bicara.