Rainbow Days

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

RnR

'Hari paling tidak masuk akal yang pernah terjadi.'

Hange membuat ramuan aneh lagi. Tadinya itu adalah ramuan untuk menggandakan tanaman. Tapi karena sebuah kecelekaan kecil dari kecerobohannya yang tidak mengunci laboratorium saat ia pergi, Irvine masuk dan dengan tidak sengaja melukai tangannya oleh ujung meja. Darahnya menetes cukup deras. Dan lalu, satu tetes masuk kedalam tabung reaksi berisikan ramuan Hange. Saat itu Irvine bisa melihat bagaimana ramuan itu berubah warna dari hijau bening menjadi merah. Dengan sedikit kepulan asal transparan berwarna senada. Dia terkesan tanpa tahu arti dari perubahan itu. Kemudian pergi tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kepala sekolah macam apa itu?

Beberapa saat kemudian, Hange kembali ke laboratorium. Memandang heran pada ramuannya yang sudah berubah warna. Tapi tak terlalu khawatir. Ia langsung menguji ramuan itu pada tanaman yang ia bawa. Meneteskannya sedikit pada tanaman itu.

Cukup lama Hange menunggu penggandaan terjadi. Tapi yang ada tidak terjadi apapun disana. Tanaman itu tetap berdiri kokoh sendiri. Saat itulah Hange menyadari bahwa ramuannya.. gagal. Ya dia menganggap kalau ramuan itu gagal.

Dengan lesu, Hange membawa tabung reaksi berisi ramuan itu keluar, bermaksud untuk membuang ramuannya.

Eren berjalan beriringan dengan Levi. Mereka memang berangkat bersama pagi ini. Jadi tidak heran jika sekarang mereka menuju kelas bersama.

Saat itu mereka berpapasan dengan Hange yang tampak murung dan membawa botol reaksi berisi cairan mencurigakan. Sebenarnya Levi tidak ingin berurusan dengan Hange, namum Eren terlanjur menyapanya. Jadi gadis itu berhenti melangkah tepat dihadapannya.

"Ohayou gozaimasu, Hange-sensei."

"Mm.. Ohayou.."

Lesu sekali kelihatannya.

"Wajahmu kenapa huh? Kusut sekali." tanya Levi basa-basi. Sebenarnya enggan juga menanyakan tentang ini. Toh jawabannya sudah pasti diketahui oleh Levi.

"Eksperimenku gagal.. Padahal aku sudah mengerjakan ini dari kemarin.. Aku tidak tahu dimana kesalahanku.."

Melihat ekspresi kalut seorang Hange, Eren dan Levi hanya bisa diam. Memangnya apa lagi yang bisa mereka lakukan? Tidak ada yang tahu hal apa yang bisa mengobati kekalutan seorang gadis aneh seperti Hange.

"Baiklah, aku pergi dulu. Aku harus membuang benda i-"

Brukk

Ada seorang siswa yang jatuh menubruk Hange. Kehilangan keseimbangan, Hange juga terjatuh dan botol reaksi ditangannya terlepas. Cairan didalamnya melayang seolah diperlambat sebelum berhasil menumpahi pakaian Eren dan Levi yang masih berdiri disana.

Hange menatap takut. Bukan pada Eren melainkan pada Levi. Matilah dia karena sudah mengotori pakaiannya. Sebelum amukan terjadi, Hange bergegas berdiri dan pergi entah kemana. Dan coba lihat bagaimana aura seorang Levi saat ini. Hawanya mematikan.

"Dasar mata empat gila!"

"E-eto.. Nii-san, sebaiknya kita bersihkan ini dulu."

"Kita ke kelas sekarang. Sebentar lagi masuk. Bisa dibersihkan di kelas kan."

Dengan perasan masih kesal Levi melangkah menuju kelas. Diikuti oleh Eren yang sibuk mengelap bajunya yang terkena noda.

Ternyata Levi benar. Tepat saat mereka masuk ke kelas, bel tanda masuk berbunyi. Tepat waktu.

Eren duduk dibangkunya. Dan Levi menuju meja guru. Sesekali Levi melirik kemeja putihnya yang ternodai. Ia tidak yakin hanya dengan air bisa menghilangkan noda itu. Tadi cairan aneh Hange ini sempat membasahi tangannya juga. Rasanya seperti ditumpahi cairan panas namun terasa dingin. Semoga saja tidak memiliki efek samping apapun.

"Keluarkan buku tugas kalian!"

Mendengar instruksi itu, para murid langsung menurut. Mengeluarkan buku tugas dan segala alat tulis yang akan mereka butuhkan.

Eren yang berada di bangku kedua terus mengusap tangannya yang tertumpahi cairan tadi. Ia merasa tidak nyaman. Dan hal itu juga dirasakan oleh Levi. Jangan-jangan ramuan itu tidak gagal. Melainkan berubah fungsi dari yang semestinya.

Tangan Levi mulai menuliskan beberapa angka dipapan tulis. Tapi detik berikutnya pandangan menjadi kabur. Keseimbangan tubuhnya serasa semakin menurun secara tidak wajar. Dan ia merasa.. terjatuh saat itu. Setelahnya ia tidak ingat. Yang ia rasakan hanya kepalanya membentur lantai juga sayup-sayup suara kaget para muridnya.

Eren yang melihat bagaimana kakaknya tumbang langsung bangkit. Tapi ternyata hal yang sama terjadi juga pada Eren. Dia tumbang. Apa yang terjadi sebenarnya?

Mata biru kelabu itu terbuka perlahan. Sang mata mencari jam di dinding untuk melihat pukul berapa sekarang. Kepalanya masih terasa berat. Si pemilik mata bangkit duduk di ranjang ruang kesehatan itu. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya. Merasa tidak nyaman dengan tangannya, melihat seseorang tumbang, lalu pingsan. Itu yang terekam jelas dipikirannya.

Sekarang ia merasa aneh dengan tubuhnya sendiri. Entah kenapa. Dan beberapa detik setelahnya, ia terkaget bukan main melihat ranjang sebelahnya berisi tubuh seorang lagi yang belum sadar. Bukan, bukan karena kaget akan kehadiran orang itu, tapi kaget karena..

"Kenapa aku ada disana?!" pekiknya histeris.

Yang ia lihat disana adalah sosok tubuh tertutup selimut sebatas dada, berambut brunette dan ia yakini bermata hijau. Mendengar pekikan keras itu, si lelaki brunette terbangun sambil menggerutu.

"Ish! Urusai!"

Tapi seketika sosok brunette itu melebarkan bola matanya dan memastikan suara yang didengarnya adalah suara... miliknya.

"Kenapa aku disana?" tanya si lelaki brunette.

Speechless. Keduanya larut dalam pemikiran sendiri. Penalaran sendiri. Dan hipotesa sendiri. Ternyata hasik akhirnya sama.

"Jangan-jangan.." ucap si lelaki brunette.

"Nyawa kita bertukar!" sambung si mata raven sambil mengacak rambutnya frustasi.

Baiklah, bagi yang belum mengerti. Eren yang sebenarnya ada di tubuh Levi. Dan Levi yang asli ada di tubuh Eren. Mereka berdua bertukar tubuh, bertukar nyawa. Entahlah kata apa yang pantas mewakili kebingungan ini.

"Jangan berteriak dengan tubuhku." ucap Levi yang ada di tubuh Eren.

"Nii-san... Bagaimana ini..." balas Eren dalam tubuh Levi dengan horror.

Levi -dengan tubuh Eren- mendengus. Ternyata begitu dirinya jika sedang panik? Tapi ia rasa belum pernah sepanik itu sampai terlihat sangat mengkhawatirkan. Ah.. Ia takut adiknya akan melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Imagenya akan hancur berantakan. Sosok Levi yang kalem dan kejam tidak akan terlihat lagi.

Dalam waktu yang bersamaan, Eren -dengan tubuh Levi- sibuk memikirkan segala hal yang akan terjadi dalam kondisi ini. Baiklah, ia akan merasa diuntungkan karena rumah akan selalu bersih, sosoknya juga akan menjadi pintar matematika. Tapi.. Tapi.. Sosok Eren yang baik hati dan selalu tersenyum akan menghilang ditelan bumi. Yang ada hanyalah sosok Eren yan ketus dan miskin ekspresi. Apa kata teman-temannya nanti..?

"Aku tidak mau seperti ini, nii-san.."

"Jangan merengek menggunakan tubuhku. Itu terlihat ganjil."

Eren (tubuh Levi) menatap merajuk. Kenapa semua ini terjadi?

"Yang harus kita lakukan sekarang adalah kembali ke kelas. Ini baru jam 8. Bertindaklah seperti biasanya. Kau jadi aku dan aku jadi kau. Jangan katakan apapun pada yang lain sebelum kita tahu penyebab dan cara mengembalikannya."

"Tapi.. Bagaimana bisa aku mengajar.."

Levi melihat dirinya sendiri merajuk. Sangat OOC sekali. Membuatnya mual.

"Berikan saja tugas untuk dikerjakan. Kau cukup memperhatikan mereka didepan."

"Ta-tapi.."

"Sudah lakukan saja. Jika ada apa-apa kirim pesan saja."

Eren -menggunakan tubuh Levi tentunya- mengangguk pasrah. Levi yang sebenarnya hanya bisa berharap hal ini tidak akan bertahan lama. Tidak boleh ada yang tahu tentang bertukarnya raga mereka. Dan semoga saja tidak ada yang curiga dengan perubahan sikap masing-masing nanti. Bagaimanapun mereka memang sangat bertolak belakang kan? Seperti dua kutub magnet.

Levi yang berada di dalam tubuh Eren terus menerus mengetuk-ngetuk bolpoinnya diatas meja dengan gelisah. Kerutan samar terlihat dikeningnya. Penyebabnya adalah Eren. Baru beberapa detik mereka berdua tiba lagi di kelas, Eren dalam wujud Levi sudah terlihat gugup dari awal memasuki kelas. Levi hanya bisa merutuki diri sendiri akan hal ini.

"Baiklah, teman te-.. Ups. Maksudku, anak-anak, kerjakan soal di halaman 104."

Hening. Beberapa murid merasa heran sendiri dengan cara bicara guru mereka didepan sana. Apa ini pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi?

Levi -di tubuh Eren- menghela napas berat. Sudah ia duga tidak akan semudah ini. Ia memutuskan untuk mengerjakan soal yang sudah direncankan di ruang kesehatan tadi. Bersikap seperti seorang siswa. Dan Eren didepan sana hanya terdiam gugup sambil memandangi seisi kelas. Seperti yang diinstruksikan Levi sebelumnya. Tiba-tiba..

"Nee Eren!"

Suara bisikan terdengar memanggil Eren. Levi yang belum terbiasa tidak menghiraukan suara panggilan itu. Ia terus mengerjakan soal dengan tekun.

"Eren!"

Untuk kedua kalinya panggilan itu terdengar. Merasa terusik karena berisik, Levi menoleh bermaksud untuk meminta orang itu diam. Tanpa menyadari bahwa yang dipanggil adalah pemilik tubuh yang ditumpanginya. Sebelum bisa menyampaikan protes, asal suara panggilan tadi langsung menyerbunya dengan sebuah pertanyaan.

"Kakakmu kenapa? Dia tampak aneh. Apa dia masih sakit?" itu suara Armin.

Akhirnya Levi mengerti bahwa harusnya ia menoleh tadi. Sosok yang ia jelma saat ini membuatnya tidak nyaman.

"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin dia baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja."

Levi alias Eren dimata Armin, mengatakan itu sambil melirik tajam pada Eren dengan tubuh Levi didepan sana. Seolah memberi perintah 'lakukan tugasmu dengan baik'. Dan Eren hanya bisa menunduk mengerti atau lebih tepatnya mencoba untuk mengerti.

"Levi-sensei!" terdengar suara panggilan seseorang lagi. Kali ini pada Levi. Dengan refleks Levi yang masih memakai tubuh Eren menoleh pada asal suara karena merasa dirinya dipanggil. Dan Eren menghiraukan panggilan itu.

Levi sadar saat ini bukan dirinyalah yang dipanggil, tapi Eren. Jadi Levi mulai mengambil alih panggilan karena Eren tetap tak menanggapinya.

"Levi-sensei!" panggil Levi dengan sedikit penekanan.

Eren yang mendengar suaranya sendiri langsung menoleh pada tubuhnya. Dan mendapati tubuhnya memberi kode bahwa ada yang memanggilnya atau bisa disebut juga memanggil sosok yang dipakai Eren.

"Soal no 4 bagaimana, sensei? Aku belum paham." ucap Reiner, orang yang memanggil Levi tadi.

Eren -dalam sosok Levi- terhening sendiri. Bagaimana mungkin ia tahu cara mengerjakannya. Dia kan musuh besar matematika. Dengan sedikit canggung dan gelisah, Eren memandang sosok dirinya untuk meminta pendapat.

"Ah.. Err.. Barangkali ada yang mau menjelaskan soal ini?" siasat Eren.

Levi tahu kode ini. Ia harus turun tangan menjelaskan pengerjaan soal itu. Berterimakasihlah Eren, namamu akan terbersihkan dari julukan 'musuh matematika'.

"Saya, sensei."

Tubuh Eren mengacungkan tangan. Dan sosok Levi mempersilahkan Eren untuk maju. Beberapa teman Eren merasa tidak yakin akan keberaniannya mengerjakan soal itu. Beberapa lagi kagum dan menganggap Eren sudah mengalami perkembangan pesat dalam bidang ini.

"Hoo... Dia mencobanya!"celetuk Jean.

Levi -dengan tubuh Eren- mendelik pada Jean. Pantas saja adiknya selalu berkelahi dengan anak ini. Ternyata sekesal ini rasanya.

Dengan cepat tangan Eren yang dikendalikan Levi menulis jawaban dari pertanyaan yang ditanyakan Reiner tadi. Sangat piawai. Ya tentu sajaa. Dia kan gurunya.

Teman-teman Eren takjub bukan main sesaat setelah kapur ditangan Eren berhenti menari diatas papan tulis. Mereka bersorak.

Eren yang asli hanya bisa tertegun. Mungkin dirumah nanti ia harus benar-benar berterimakasih atas pembersihan imagenya.

Hari terasa lebih berat dari biasanya. Ini karena sebuah hal tak masuk akal terjadi. Hal yang entah bagaimana cara mengatasinya.

Levi -masih dengan tubuh Eren- sudah menyuruh adiknya untuk pergi ke ruang guru saat bel istirahat berbunyi. Dan dirinya sendiri akan tetap berada di kelas. Seperti halnya siswa lain. Ia mulai merasa bosan sampai Armin, Mikasa dan Jean menghampiri bangkunya.

"Nee Eren, aku kagum padamu!" ucap Armin senang sembari mendudukkan tubuhnya diatas kursi didepan bangku Eren.

Levi memandang tajam dengan mata emerald adiknya. Padahal sekarang ia tidak mau diganggu. Apalagi oleh bocah-bocah ingusan seperti mereka.

"Aku kira kau tidak akan pernah berhasil dalam matematika!" timpal si muka kuda.

"Jaga bicaramu, Kristhein."

Jean merasa tidak nyaman dengan tatapan menusuk Eren. Auranya berbeda dari biasanya. Aura untuk tidak dilawan. Jean mundur. Ia memutuskan memusahkan diri dari gerombolan itu menuju tempat lain. Saat alarm bahaya berbunyi, bukankah lebih baik menghindar dari ancaman mengencangnya suara alarm itu? Itulah yang dilakukan Jean. Untuk saat ini saja ia berpikir realistis.

"Eren, bagaimana caramu jadi seperti tadi?"

"Aku tidak sebodoh yang kau kira. Jaga ucapanmu. Mungkin kau memang lebih baik dariku dalam bidang akademik, tapi kau harus tahu. Aku jauh lebih baik dari siapapun."

Armin terdiam. Dalam hati berkata "eh?". Sangat mengherankan jika tiba-tiba Eren berkata seketus dan sesombong itu.

Tapi kalian harus tahu sendiri. Bahwa yang mengatakan semua itu tadi Levi, tentu saja ia akan menganggap Eren lebih baik dari siapapun kan? Tapi jika dikatakan dalam tubuh yang satu ini.. masalahnya jadi berbeda.

Diruang guru. Mata Levi yang sekarang dikendalikan Eren, meninjau sekitar tempatnya duduk. Memperhatikan beberapa guru disana. Ada yang sibuk mengobrol, ada yang mengetik sesuatu, ada yang tengah melahap makan siangnya, dan masih banyak lagi.

Sekarang Eren tidak tahu harus melakukan apa. Kakaknya bilang hanya diam di ruang guru. Itu berarti tidak melakukan apa-apa? Parahnya ia tidak pernah tahu apa yang dilakukan Levi saat jam istirahat. Tidak menanyakannya pula. Tapi kalau bertanya pun untuk apa? Ya tentu untuk dipakai disaat-saat seperti sekarang ini. Hal yang sangat aneh yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Saat sibuk memikirkan apa yang harus ia perbuat di meja kakaknya ini, tiba-tiba Petra menghampiri dengan sebuah cangkir ditangannya. Eren -dengan mata Levi- menoleh.

"Aku membuat kopi untukmu."

"A-aa.. Iya. Terimakasih."

Petra sedikit menaikkan alisnya keatas. Baru pertama kalinya ia mendengar suara Levi yang canggung. Canggung karena apa juga?

Eren mencengkram cangkir yang disuguhkan Petra dengan hati-hati. Takut kecerobohannya keluar dan membuat cangkir itu jatuh terkulai tak berdaya, teronggok diatas lantai. Baiklah itu hanya bayangan Eren. Terlalu dramatis untuk urusan memegang cangkir.

Diseruputnya kopi itu perlahan. Sambil melihat Petra yang sekarang duduk disebelahnya, melihat bagaimana Levi -yang sebenarnya sekarang Eren- meminum kopi buatannya. Saat itulah Petra melihat bagaimana ekspresi Eren saat cairan hitam itu berhasil ia teguk sedikit. Ekspresi tertahan ingin memuntahkan sesuatu. Eren baru ingat bahwa Levi suka kopi pahit. Dan ternyata ini memang benar-benar pahit.

"Apa ada yang salah? Apa kopiku tidak seperti biasanya?" tanya Petra menyelidik.

"Ah? Ti-tidak. Ini tidak salah. Eto.. Aku ingin ke toilet dulu. Maaf ya."

Petra memandang tubuh Levi yang berjalan cepat dengan sangat OOC, menghilang di balik daun pintu toilet.

Tak lama setelah itu, Levi -dalam tubuh Eren- datang ke ruang guru. Menghampiri mejanya sendiri yang bersebelahan dengan Petra. Tapi ia tidak menemukan sosoknya disana. Yang ia tangkap dari indra penglihatannya hanya Petra. Ya, hanya tertuju pada Petra. Baru saja tidak melihatnya beberapa jam membuat Levi merindukannya. Syndrom pengantin baru.

Levi tersenyum ramah pada Petra. Dengan tubuh Eren tentunya. Ternyata menggunakan tubuh ini membuatnya leluasa tersenyum bagaimanapun. Tanpa ditertawakan Petra tentunya. Petra membalas senyuman itu. Taoi sedikit heran karena senyuman Eren -atau Levi?- terlihat seperti senyuman penuh kasih sayang. Apa-apaan ini? Ia jadi takut sendiri.

"Sensei, dimana nii-san?"

"Mm? Dia di toilet."

Levi berguman mengerti sambil menjatuhkan tubuhnya diatas kursi kerjanya. Ia belum sempat duduk disana hari ini. Saat yang bersamaan, ia melihat secangkir kopi disana. Tanpa pikir panjang ia langsung meminumnya dalam getakan lambat. Petra semakin bingung pada Eren. Sejak kapan bocah itu jadi tidak sopan dengan duduk di kursi guru dan meminum minuman yang bukan miliknya. Jangan-jangan Levi yang mengajarkan? Pikirnya. Namun dengan cepat Petra menghilangkan anggapan liarnya itu. Tidak mungkin juga Levi mengajarkan hal yang tidak baik pada Eren. Kecuali Levi yang ia kenal sudah berubah menjadi berandal yakuza.

"Bagaimana harimu?" tanya Levi.

Petra tertegun sesaat sebelum membalasnya. Pertanyaan ini serasa ia kenali. Pertanyaan yang selalu ia dengar dirumah. Ditambah lagi ia merasa ketidaksopanan Eren semakin menjadi. Ya walaupun Petra bukanlah orang yang gila kesopanan seperti suaminya, tapi tetap saja Eren tidak berhak menyebut Petra kamu. Umur mereka terbilang cukup jauh.

"Baik-baik saja. Apa kau salah makan sesuatu?"

Levi tersenyum dengan bibir Eren. Terlihat seperti menyeringai.

"Aku tidak salah makan. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang belum dikatakan hari ini."

"Apa itu?"

"Aku mencintaimu."

Bertambahlah segala kebingungan Petra sejak tadi. Apa maksudnya ini?

Saat itu tubuh Levi datang. Sedikit kaget dengan keberadaan tubuh Eren disana.

"Nii-, err.. Eren, ada apa?"

Tubuh Eren berdiri dari duduknya. Langsung menarik tangan Levi agar mengikuti langkahnya yang besar-besar, meninggalkan Petra yang masih kebingungan. Dengan suara pelan wanita itu berkata pada dirinya sendiri.

"Semoga ini hanya mimpi. Kuatkan dirimu, Petra. Yang kau lihat hanya halusinasi. Tenang, tenang.."

Dilain tempat ternyata Levi dan Eren menemui Hange. Dengan tangan yang menyilang didepan dada dengan kokoh, Eren a.k.a Levi menatap horror pada wanita didepannya. Penuh intimidasi yang membuat Hange merasa tidak aman sekaligus bingun dengan tatapan marah Eren padanya. Kenapa seorang bocah berani-beraninya berpose searogan dan menatap setajam itu pada gurunya?

"Heh kuso megane!" pekik Eren yang sebenarnya adalah Levi kesal.

Hange berkali-kali mengedipkan mata heran. Eren yang selama ini ia kenal sudah berubah berkat ajaran kakaknya yang nista.

"Ramuan bodohmu itu bukan gagal, tapi berubah fungsi dari tujuanmu sebelumnya. Kau harus bertanggung jawab!" ucap Levi menggunakan suara Eren.

Perkataan dengan suara Eren itu terus berputar diotaknya. Sedikit demi sedikit ia mencerna dan mengolah informasi yang baru ia dapat menggunakan otaknya yang mendadak terasa kaku untuk berpikir. Seperti mati rasa, begitulah.

"Maksudnya?" tanya Hange akhirnya.

Kening Eren semakin berkerut dalam. Dan Levi haya bisa menunduk pasrah.

"Hange-sensei.." pekik Levi lemas, (read: itu Eren)

Setelah sepersekian detik, barulah Hange membulatkan matanya sempurna. Tentunya dengan rona kebahagiaan diwajahnya. Mendapat kenyataan bahwa cairan ciptaannya 'tidak jadi' gagal berhasik membuatnya melupakan masalah yang sebenarnya ia hadapi. Akhirnya ia mengerti. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi, namun bisa terjadi juga karena ilmu pengetahuan.

"Kalian bertukar tubuh!" seru wanita berkacamata itu senang.

"Itu kau mengerti, baka. Sekarang kau harus memberitahuku bagaimana caranya bisa kembali." tak perlu ditanya siapa yang mengatakan serentetan kalimat tadi. Dengan nada sinis seperti itu pastilah Levi pelakunya. Walaupun sekarang suara Eren yang terdengar.

Hange terdiam lagi dengan wajah tanpa dosa. Tampak seperti seseorang yang belum pernah melakukan kesalahan dan tidak mengerti akan dunia yang kejam ini. Barulah ia menghela napas dan memasang wajah serius namun malas. Ekspresi yang sangat mengecewakan. Penghancuran harapan yang sangat efektif.

"Mana aku tahu apa yang membuat ramuanku berubah fungsi jadi penukar roh. Jika aku tidak tahu asal-usul bahan yang mungkin tidak sengaja tertambahkan, mana mungkin aku bisa membuat penawarnya. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk kalian berdua."

Kata-kata itu benar-benar menyakitkan. Putuslah sudah harapan untuk kembali ke kehidupan mereka yang biasa, ditubuh masing-masing. Semuanya pupus begitu saja hanya karena sebuah perkataan santai tanpa pemikiran dari seorang Hange Zoe.

"Benar-benar tidak ada yang bisa dilakukan?" Levi kembali memastikan.

Hange tampak berpikir. Meletakkan telunjuknya dikening.

"Aku akan berusaha. Mungkin membutuhkan waktu yang lama."

"Ini salahmu kuso! Kau tetap harus membuat penawarnya apapun yang terjadi!"

"Iya iya. Aku mengerti.. Akan kucoba."

Balasan acuh dari Hange semakin membuat harapan mereka berdua mencair. Nada Hange sangat tidak meyakinkan.

Levi dan Eren pulang ke apartemen. Lalu terhenti didepan pintu rumah Eren. Tatapan Levi yang dipakai Eren menunjukkan ekspresi merajuk. Bingung akan pulang kemana.

"Apa?" tanya Eren alias Levi.

"E-eto.. Aku harus pulang kemana?"

"Tentu saja ke rumahku."

"T-tapi!"

"Jika ada apa-apa hubungi saja aku."

Levi dalam tubuh Eren langsung masuk kerumah dan menutup pintu, seolah tidak membiarkan tubuh Levi untuk masuk. Eren terpatung disana. Masih merasa ragu untuk masuk ke rumah sebelahnya itu. Beberapa minggu lalu kakaknya memang memutuskan untuk pindah ke sebelah. Dengan alasan agar tetap berada dalam tugasnya mengawasi Eren. Dan untuk pertama kalinya, Eren merasa kepindahan kakaknya disini sedikit menguntungkan.

Dengan lunglai Eren menggerakkan kaki Levi untuk berjalan masuk ke lingkungannya malam ini dan mungkin malam-malam berikutnya jika saja Hange belum menemukan penawar itu. Eren merasa heran sendiri, kenapa ia dibiarkan tinggal bersama Petra? Meski statusnya sekarang adalah adik iparnya, tapi tetap saja kan. Petra adalah wanita yang tidak sedarah dengannya. Ia takut terjadi apa-apa yang bisa membuatnya mati ditangan kakaknya. Salah tindak, bisa-bisa hal menyeramkan terjadi.

Dirinya sampai di ruang tengah. Ini memang bukan kali pertama dirinya masuk ke rumah ini. Tapi tetap saja ia merasa asing dengan tempat yang ia pijak sekarang.

"Kau sudah pulang?" terdengar suara Petra dari belakangnya.

Eren menoleh kemudian mengangguk sungkan.

"Aku sudah menyiapkan makanan. Makanlah."

Saat itulah Eren berpikir pertukaran nyawa ini cukup menguntungkan. Ya.. menguntungkan bagi Eren. Karena disisi lain..

Levi menyerutkan alisnya semakin dalam. Tas yang ia bawa langsung jatuh terkulai tak bernyawa setelah berhasil memasuki rumah.

"Apa-apaan ini..."

Coba tebak apa yang dilihat Levi disana menggunakan mata Eren? Yang jelas hal itu tidak lebih dari kondisi rumah.

Ekm, jika dijelaskan kurang lebih kondisi itu sangat... berantakan. Bantal sofa tidak berada ditempat yang seharusnya. Beberapa plastik makanan dan botol minuman bertumpuk disatu titik karena tempat sampah disudut ruangan sudah penuh. Bahkan isinya hampir jatuh berceceran.

Pengharum aroma jeruk tidak lagi tercium seperti biasa. Itu bisa disebabkan beberapa hal. Pertama pengharum itu sudah habis. Kedua alatnya sudah tidak berfungsi. Dan ketiga si pemilik rumah memang tidak menginginkan aroma itu beterbangan disekitar ruangan.

Levi menggunakan tangan Eren untuk merasakan berapa senti debu yang bertumpuk dimeja dan lemari. Dan setelah itu ia mendecih sebal.

Ini jauh lebih kotor dari toiletnya. Sepertinya ia harus membereskan ini semua sebelum beristirahat. Ia tidak akan bisa tidur jika para debu itu masih sibuk menempelkan diri disetiap perabotnya. Musuh menyerang, harus siap kapanpun.

Langit senja tergantikan oleh gelapnya malam. Matahari sudah menggunakan selimut hitam berpola bintang. Tugasnya menerangi dunia sudah cukup untuk hari ini. Kini bagian rekannya -bulan- untuk bekerja menemani para pejalan kaki yang sendirian berjalan dimalam hari. Dan mungkin di alam lain, si raja malam ini menjadi sumber kekuatan magis atau jurus mematikan. Tapi ini bukan canon kawan..

Jam 8. Waktu untuk mengerjakan PR bagi para siswa, waktu untuk bersantai untuk para guru. Menyenangkan sekali. Perbedaan yang sangat nampak. Tapi ayo kita lihat bagaimana dan apa yang dilakukan guru dan murid yang bertukar tubuh ini.

Eren -yang sekarang harus bertindak sebagai guru, juga suami seorang guru- tiba-tiba berlari dengan sangat OOC menuju pintu sebelah. Mengetuknya dengan kencang. Memecahkan keheningan dan kesantaian malam yang tadi sudah dijelaskan dengan susah payah. Kenapa dia tidak berusaha menyesuaikan sikap dengan tubuh yang ia tumpangi. Ah.. Harga diri.. Bagaimana jika ada yang melihat dan kaget dengan 'keanehan' yang tubuh ini alami.

Beberapa detik kemudian pintu yang ia ketuk dengan tidak sabaran akhirnya terbuka. Menampilkan tubuh yang ia miliki sesunggungnya.

"Apa?"

"N-nee-san.."

"Ada apa dengannya?"

"Dia.. hamil!"

Hening... Terlalu hening.

.

.

.

.

Satu hentakkan penuh. Entah bagaimana caranya, Levi sudah berada dirunahnya. Dengan napas terengah. Langsung menhadap Petra. Dan yang dihadapi memandangnya heran.

"Ada apa, Eren?"

Mata emerald yang digunakan Levi terus terpaku pada Petra.

"Bagaimaba bisa?"

"Eh?"

"Bagaimana bisa kau hamil saat aku tidak ada dirumah? Apa.. apa Eren yang melakukannya?"

"Eh?"

Tubuh Levi datang. Dengan sejuta kebingungan yang melanda ketiganya.

"Sungguh! Aku tidak melakukan apa-apa!" pekik Eren dengan suara Levi.

Kepala Eren menoleh padanya. Menyeramkan. Sedangkan Petra bangkit dari duduknya dan menatap sosok Levi dengan marah.

"Apa maksudmu tidak melakukan apa-apa hah? Memangnya siapa lagi yang melakukannya selain kau?"

Mata Eren menatap Petra lagi.

"Tapi kenapa baru sekarang?" tanyanya.

"Kau diam saja Eren!" Petra membentak. Tanpa tahu suaminya yang asli ada ditubuh adik iparnya.

Dan saat Petra semakin mendekati tubuh Levi dengan sorot mata mematikan, ada saja yang datang bertamu. Memperkeruh keadaan.

"Nee Levi aku datang!" teriak Hange yang baru saja membuka pintu rumah, bersama Irvine sebagai orang yang terlibat dalam masalah sebelumnya.

Semua mata langsung tertuju pada 2 sosok yang baru datang itu. Henung sesaat.

"Ada apa ini? Apa aku mengganggu?"

"I-ini.. Pertengkaran rumah tangga, Hange-sensei." Eren membalas, tentunya dengan suara Levi. Dan Petra langsung mendelik.

"Kenapa kau memanggilnya sensei segala?"

Hening lagi. Dan sepertinya Hange mulai mengerti tentang situasi yang terjadi saat ini.

"Ha... Ternyata kalian berdua tidak mengatakannya pada Petra? Menyedihkan sekali. Biarkan aku masuk dan meluruskan ini semua. Juga mengakhiri situasi yang terjadi pada kalian berdua, Levi, Eren."

.

"Jadi begitu? Kenapa tidak katakan dari awal? Pantas saja Eren mengatakan hal yang ada tadi.."

Singkat cerita, Hange berhasil menceritakan semua yang terjadi. Lengkap dari awal sampai akhir. Tanpa ada kurang sedikitpun.

"Salahkan saja mereka berdua." Hange menunjuk Levi dan Eren bersamaan. Tampak sangat menyalahkan.

Eren dengan bibir Levi tersenyum getir. Sedangkan bibir miliknya sendiri menunjukkan sebuah garis horizontal.

Hange kemudian menunjuk Irvine yang duduk disebelahnya.

"Dan salahkan juga dia." pekiknya santai.

"Maafkan aku." ucap Irvine akhirnya.

"Semua ini terjadi gara-gara kepala sekolah kita yang ceroboh."

"Jadi begini.."

Hange bercerita lagi. Dan berakhir dengan gumanan kesal dari mulut Eren juga helaan napas pasrah dari mulut Levi.

Setelahnya Hange menunjukkan sebuah botol reaksi yang sedari tadi mendekam didalam tasnya. Benda itu berisi cairan yang hampir sama bahkan tidak ada bedanya dengan darah. Cairan itu berwarna merah pekat. Dan sepertinya kental juga.

"Ini panawarnya!" tambah Hange.

"Itu kelihatan seperti.."

"Darah. Ini memang darah."

Serentak Levi, Eren, Petra membelalakkan mata. Nekad sekali wanita dihadapan mereka ini.

"Ini darah Irvine." jelas Hange.

"Ta-tapi.."

"Tenang saja. Aku tidak menyakitinya sama sekali. Aku hanya mengambil darahnya melalui suntikkan. Itu resiko untuknya."

Semua mata langsung tertuju pada Irvine, menyelidik.

"Aku sama sekali tidak keberatan. Tenang saja. Itu tidak sakit." jelas Irvine terlampau ramah.

"Ja-jadi.. Bagaimana kita menggunakan darah itu?"

Mendengar itu Petra langsung melirik tubuh Levi. Sepertinya ia belum terbiasa dengan situasi sekarang ini.

"Dengan menumpahkannya pada kalian. Sama seperti saat cairan itu mengenai kalian berdua."

"Menjijikkan."

"Tapi, bagaimana bisa anda tahu kalau penawarnya adalah darah?"

"Mudah saja. Ramuanku berubah karena tertambahkan hal itu. Berarti penawarnya tak jauh dari sana."

"Bagaimana jika tidak berhasil?"

"Akan berhasil. Percayalah padaku."

Dan tiba-tiba Hange langsung menyiramkan darah yang ia bawa pada Levi dan Eren. Tanpa informasi sebelumnya. Pasti sudah tahu bagaimana reaksi si pria miskin ekspresi.

"Sial kau kuso megane!"

Yang terdengar saat ini adalah suara Levi. Benar-benar suara Levi yang mengatakan makian tadi. Itu berarti satu hal.

"Yattaaaaa! Ini berhasil! Aku hebat aku hebat aku hebat!"

Keadaan jadi tak terkendali. Ya meski masalah utama sudah terselesaikan, tapi nyatanya masalah baru muncul. Masalah tentang bagaimana caranya menghentikan sorakan Hange yang sudah pasti bisa mengganggu penghuni apartemen lain. Berisik sekali..

~_~Owari~_~

Tambahan..

"Jadi, apa yang nii-san katakan dengan tubuhku?"

"Mm? Dia mengatakan 'aku mencintaimu'. Tapi aku langsung merasa ada yang aneh dengan cara bicaramu. Dan ternyata ini yang terjadi."

Eren speechless. Ia telah melupakan tentang kebiasaan kakaknya pada Petra. Untunglah semua ini sudah berakhir. Benar-benar berakhir.

Dan sekarang..

~Owari (lagi)~

Part ini akan berhubungan dengan part selanjutnya (mungkin)

See you next chapter~