Rainbow Days
-New challenge-
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujumaki
Cross over untuk pertama kalinya
Shingeki no kyojin x Kuroko no basket
Selama ini author tidak pernah mengatakan apa-apa pada readers. Tapi sebenarnya banyak sekali yang mau dikatakan. Saking banyaknya jadi bingung mau bilang darimana. Jadi pada akhirnya gak jadi deh bilangnya..
Tapi pastinya author sangat berterimakasih karena mau membaca fict santai ini. Bagi yang udah baca dan suka, ajakin temennya yang lain buat baca fict ini gih. Biar author tambah seneng ^^
Terus jika ada silent readers yang nyangkut disini, silahkan saja jadi silent readers sampai kapanpun. Author gak marah kok ^^ tapi, syaratnya minimal kasi jejak kalo kalian pernah baca fict ini ya. Apapun itu. Mau pake jejak kaki ke, mau pake spidol ke, mau pake anak panah, anak orang, anak titan, apapun boleh kok.
Onegai~
Author ngehargain kalian semua readers..
Gak terasa ini sudah masuk chapter yang ke... Berapa ya? Segitu deh.
Ok happy reading
RnR
Enjoy
The story begin..
"Apa?!" pekik Eren nyaring. Membuat seisi ruang guru menatapnya penuh tanda tanya.
"Kecilkan suaramu baka."
"D-demo! Kenapa harus kami?"
Levi menyilangkan kedua tangannya. Menatap satu persatu 4 orang yang berdiri didepannya ini, termasuk adiknya. Mereka terdiri dari Eren, Jean, Reiner dan Berlthod.
"Dengar. Kalian tahu sendiri kan kalau sekolah ini sama sekali tidak memiliki klub basket. Dan kalian tahu sendiri kepala sekolah kita sangat gila akan perlombaan nasional. Jadi jangan heran jika tiba-tiba kalian dipanggil untuk mewakili sekolah dalam turnamen basket minggu depan."
"Tapi sensei, kenapa harus kami yang terpilih? Kami baru kelas satu.." ucap Berlthod.
"Mana aku tahu. Aku hanya disuruh kepala sekolah. Jadi dia yang memilih kalian. Tapi yang aku dengar, kalian cukup pandai bermain basket saat olahraga. Itu alasan yang cukup."
Terdiamlah mereka berempat. Tidak ada kesempatan untuk menolak.
"Aku anggap kalian mau. Karena kalian harus mau."
Levi membalikkan kursinya lagi menghadap meja kerjanya. Itu artinya tugasnya sudah selesai.
"Ano.. Sensei, bukankah tim basket itu 5 orang? Kami baru berempat."
Levi menoleh lagi.
"Aa, aku ingat. Kalian disuruh mencari 1 orang lagi. Kepala sekolah memberi klu bahwa dia berada di kelas 1-C. Dan keberadaannya seperti hantu."
Drrrdt
Tiba-tiba mereka berempat merinding seketika.
Keberadaannya seperti hantu? Jangan-jangan yang dimaksud kepala sekolah mereka itu memang hantu yang selalu menjadi misteri di sekolah ini. Hantu pemain basket yang mati diruang olahraga.
"Daripada bengong seperti itu lebih baik kalian mulai mencari orang yang harus kalian cari."
"H-hai!"
Dan pencarianpun dimulai.
.
Eren, Jean, Reiner dan Berlthod nyatanya malah menuju atap sekolah. Dengan roti isi dan jus ditangan masing-masing, menikmati istirahat yang sempat tertunda beberapa menit karena panggilan Levi tadi. Tampaknya mereka belum tahu siapa yang dimaksud Levi. Kelas 1-C dan keberadaannya seperti hantu. Maksudnya apa? Baiklah. Klu yang pertama bisa dimengerti. Tapi yang kedua? Klu macam apa itu?
"Nee, menurutmu siapa orang yang dimaksud sensei?" tanya Jean.
"Mana aku tahu.."
"Masalahnya sekarang bagaimana caranya kita bisa melawan klub basket yang benar-benar klub basket?" timpal Berlthod.
"Aa, benar. Padahal kita benar-benar tidak tahu cara bermain basket yang sesungguhnya."
Sisanya mengangguk menyetujui. Hal itu memang benar. Mereka bermain basket karena suka saja. Juga untuk memenuhi nilai olahraga. Tidak lebih dari itu. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika orang awam tentang basket melawan orang yang memang ahlinya. Merepotkan sekali.
"Aku masih heran kenapa di sekolah ini tidak ada klub basket.. Aneh sekali. Padahal jika memang mengincar pertandingan seperti ini harus mengandalkan klub. Kan jadi repot kalau tidak ada." Eren memasukkan suapan roti terakhirnya.
Merasa mengetahui sesuatu, Berlthod langsung menoleh pada Eren. Ia siap untuk mengatakan apa yang ia ketahui.
"Setahuku dulu memang ada klub basket disini. Sekitar 10 tahun yang lalu kalau tidak salah.."
"He? Benarkah? Lalu kenapa sekarang tidak ada?"
"Itu.. Menurut rumor yang beredar, salah satu dari 9 anggota klub basket itu ada yang mati dibunuh, di ruang olahraga, saat dia sedang latihan sendiri untuk turnamen."
Hening. Keadaan sekitar mendadak sunyi dan tegang. Dikuasai oleh rasa takut dan penasaran.
"Kenapa.. dibunuh?"
"Sampai sekarang tidak ada yang tahu alasan dia dibunuh. Polisi juga tidak berusaha memecahkan masalah ini. Tak pernah ada yang peduli."
"Lalu kenapa klub basketnya sampai dibubarkan?"
Berlthod menarik napasnya. Sedikit memberi jeda.
"Anggota basket yang lainnya satu per satu mengalami hal ganjil saat latihan. Seperti ada yang melempar bola basket dari belakang, lantai menjadi basah, keranjang bola yang terbalik, seseorang yang terkunci diruang klub, sampai meninggalnya salah satu dari mereka. Sejak saat itu, sisa anggota basket memutuskan membubarkan klub dan melupakan turnamen itu. Mereka mencari aman. Mereka percaya akan adanya kutukan jika klub terus dipertahankan."
Angin bertiup lebih kencang daripada sebelumnya. Membuat suasana hening semakin terasa memcekam. Dan sebenarnya itu terlalu berlebihan.
"Apa.. jika kita bermain basket, tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada kita?"
"Semoga saja tidak ada. Lagipula.. sudah lama aku tidak mendengar ada yang melihat sosok hantu pemain basket itu lagi. Mungkin kutukannya sudah berakhir."
Jean menenggak ludah. Sedangkan Reiner bangkit berdiri, tampak sangat siap dengan apa yang akan ia lakukan setelahnya.
"Sebaiknya kita segera mencari orang tambahan itu. Waktu kita tidak banyak untuk mempersiapkan ini semua." ujarnya.
Semua pasang mata menatapnya. Merasa sedikit heran dengan kesiapan Reiner yang tiba-tiba.
"Apa tidak apa-apa?"
"Kepala sekolah sudah mempercayai kita untuk melakukan ini. Jangan mengecewakan kepercayaannya. Minimal kita harus berjuang sebisa mungkin."
Reiner mulai melangkah menuju pintu tangga. Disusul dengan berdirinya Berlthod.
"Reiner benar. Dan jika sempat mungkin kita bisa menghidupkan klub basket sekolah lagi."
Tekad mulai terkumpul pada diri masing-masing. Baiklah. Ini baru dimulai.
"S-sumimasen.. Aku ingin mencari orang di kelas ini." ucap Eren sedikit sungkan pada orang dihadapannya. Mungkin karena postur tubuh orang itu jauh lebih besar darinya.
"Siapa?"
Eren langsung memandang Jean disampingnya. Meminta pendapat.
"Sayangnya kami tidak tahu nama orang yang kami cari."
Alis pria besar itu berkerut. Merasa dirinya dipermainkan.
"Jadi?"
Eren memandang Jean lagi. Dan yang dipandang tampak acuh.
"Jadi.. aku harap kau bisa membantu kami menemukan orang yang kami cari.."
"Souka."
"Ano.. Menurut yang kami tahu, orang yang kami cari itu keberadaannya seperti hantu."
Orang didepan Eren semakin mengerutkan alisnya. Tidak mengerti dengan satu-satunya klu yang dimiliki Eren. Miskin klu.
"Sepertinya aku tidak bisa membantu." ucap orang itu pada akhirnya.
"D-demo! Orang itu sudah pasti berada di kelas ini! Kepala sekolah yang mengatakannya!"
"Lalu kenapa tidak bertanya pada kepala sekolah saja? Atau bertanya pada kakakmu itu. Kau adik Levi-sensei itu kan?"
"Eto.. Ano.. justru itu, kami disuruh mencari sendiri.."
Orang itu tampak berpikir sejenak. Ia merasa mengingat sesuatu. Dan bingo! Sepertinya ia menyadari klu tadi itu.
"Aku ingat! Ada satu orang yang mungkin sesuai dengan ciri-ciri yang kau maksud."
Harapan tak lagi menghilang.
"Namanya Kuroko Tetsuya. Aku sendiri kadang tidak menyadari kalau dia ada di belakangku atau bahkan didepanku. Dan sekarang aku juga tidak tahu dia dimana."
"Aku disini."
"Wuaaaaa!?" Jean berteriak, merasa ada suara disampingnya.
Dan ternyata memang benar. Ada seorang anak laki-laki berambut biru muda dengan bola mata yang juga berwarna seperti itu dan tinggi sekitar 168 cm. Berdiri dengan tampang datarnya.
"Apa kataku. Dia selalu datang tiba-tiba seperti itu. Nah, karena kalian sudah menemukannya, aku masuk dulu ya."
Orang itu berlalu. Tinggalah Eren dan Jean bersama orang bernama Kuroko yang mereka cari. Masih terhening dalam pikiran masing-masing.
"Jika tidak ada yang mau dikatakan padaku, aku juga akan masuk."
"Eh eh eh! Matte yo!"
Kuroko berhenti melangkah. Menatap Jean dan Eren untuk menunggu apa yang akan dikatakan mereka.
"Kepala sekolah meminta kita untuk mengikuti turnamen basket!" pekik Jean setelah berhasil mengatur napas karena kaget tadi.
"Kenapa ada aku?"
"Semua alasannya hanya kepala sekolah yang tahu."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Sepertinya kepala sekolah tidak menerima penolakan."
Kuroko terdiam sebentar sebelum mengatakan hal selanjutnya.
"Akan kupikirkan."
"Tapi! Pertandingannya minggu depan!"
Nihil. Kuroko sudah masuk ke kelasnya.
Orang sudah ditemukan. Tapi masih belum ada kepastian dari orang itu. Apa yang harus mereka lakukan setelah ini? Semuanya masig tampak ambigu.
Sepulang sekolah 4 orang pilihan itu berkumpul di ruang olahraga. Dengan kaos dan celana pendek, siap untuk latihan. Niatnya memang seperti itu tapi nyatanya mereka daritadi masih duduk-duduk sambil memainkan bola tidak jelas. Tanpa berbicara pula. Sepertinya Eren dan Jean sudah mengatakan tentang Kuroko yang akan menjadi partner mereka itu.
Sebenarnya mereka sendiri juga masih bingung akan hal ini. Mereka diminta mengikuti turnamen tapi pihak sekolah bertindak seolah tidak peduli, tidak pernah peduli. Bahkan guru pembimbingpun tidak ada untuk sekedar memberi tahu mereka bagaimana cara bermain yang benar dan bagaimana strategi agar banyak mencetak angka. Apa sekolah benar-benar akan mengirim bahan mentah seperti mereka dalam turnamen tingkat nasional? Baiklah ini masih babak penyisihan tapi ini masalah serius kawan. Ini bukan bermain-main dengan keberuntungan tapi bermain dengan pemain basket asli, yang sudah jelas bisa mencetak angka dengan mudah dan tahu teknik-teknik yang benar. Matilah jika niat kepala sekolah ini memang akan dilakukan, tanpa bantuan dari siapapun.
"Bagaimana kalau Kuroko benar-benar tidak akan datang?" tanya Berlthod mulai putus asa.
"Mana aku tahu. Paling juga dibatalkan." balas Reiner.
"Sebenarnya si Kuroko itu ada dimana sekarang? Dia mau ikut bertanding atau tidak?"
"Aku disini."
"Wuaaaaa!"
Krik krik
"Aku akan ikut bertanding."
1 menit
.
2 menit
.
3 menit
.
"Kuroko?!" seru mereka serempak. Tampak sangat senang dengan keberadaan si pendatang baru itu.
Kuroko masih tampak datar memegang bola basket ditangannya. Sama sekali tidak tertarik untuk sekedar melempar senyum atau bertegur sapa pada orang-orang yang sudah dikagetkan olehnya itu.
"Tapi sepertinya aku tidak akan bisa membantu banyak." ucap Kuroko.
Reiner menghampiri Kuroko dan langsung menepuk-nepuk bahu anak itu tidak jelas sambil tersenyum ramah tapi malah menyeramkan bagi orang yang melihatnya.
"Jangan merendah seperti itu Kuroko-chan! Kepala sekolah memilihmu berarti kau memiliki bakat tersendiri!"
.
Ya.. seperti yang dikatakan Reiner. Bakat tersendiri. Dan seperti yang dikatakan Kuroko, tidak akan bisa membantu banyak. Semuanya hanya bisa menghela napas pasrah saat latihan dimulai. Kuroko memang memiliki bakat tersendiri. Mengoper bola. Itu bakat, satu-satunya bakat, yang dimiliki Kuroko. Tanpa dribble, tanpa memasukan bola. Tanpa hal apapun lagi. Hanya itu saja. Menyedihkan? Sebenarnya iya. Tapi apa boleh buat. Kepala sekolah yang memilih. Pasti ada maksudnya.
Latihan berjalan seperti itu dari awal. Dan mereka mulai menyadari apa keistimewaan operan bola dari Kuroko. Mungkin dengan operan bola itu bisa membuat tim mereka sedikit memiliki peluang. Bertanding dengan sedikit bubuk harapan.
Setelah 30 menit, tampaknya cara bermain mereka mulai terlihat kompak. Mereka bisa berkomunikasi hanya dengan tatapan mata dan bisa menerima operan bola dari Kuroko tanpa gagal seperti saat awal latihan.
Ditengah-tengah latihan, tiba-tiba seseorang datang memasuki ruang olahraga dan otomatis menghentikan latihan mereka. Semua mata tertuju pada sosok yang kini tengah berdiri itu.
"Ternyata kalian benar-benar latihan ya?" itu suara Irvine.
"Eh? Bukankah kami memang harus latihan kan?"
Mereka menghampiri Irvine. Dan pria dewasa itu menyambut mereka dengan senyuman misterius.
Tak lama Irvine menyodorkan selembar kertas pada mereka berlima. Menunjukkan apa yang tertera jelas diatas kertas putih tersebut.
"Apa ini pak?" tanya Reiner, merasa kurang mengerti dengan maksud kepala sekolahnya ini.
"Ini urutan kalian bertanding. Pertandingan pertama kalian melawan sekolah Ouran. Setahuku klub basket disana cukup handal."
Kelimanya menenggak ludah. Lawan pertama sudah mendapat yang berat seperti ini. Apalagi nanti, jika berhasil melewati rintangan pertama.
"Tapi aku yakin kalian pasti bisa menang melawan Ouran. Yang harus kalian takutkan adalah babak selanjutnya."
Mendengar hal itu, mereka langsung memastikan sendiri lawan berikutnya yang dimaksud Irvine pada kertas yang disodorkan pada mereka. Satu dari mereka langsung menegang ditempatnya berdiri. Dan sayangnya tidak ada yang menyadari ketegangan seseorang itu sampai Irvine membuka kembali pembicaraannya.
"Berjuanglah untuk minggu depan. Walaupun sulit bagi kalian, tapi cobalah. Mendapat satu poin saja saat melawan pemain profesional sudah sangat baik. Tidak apa-apa kalau kalian tidak masuk final nanti. Teiko memang sulit dikalahkan."
Tanpa bertanya banyak, mereka langsung mengangguk mengerti kecuali satu orang, Kuroko. Anak itu masih terlihat kalut sendiri. Gelisah terhadap apa yang dihadapinya saat ini.
"Nah, selamat berjuang. Kalian bisa meminta Ian-sensei untuk membimbing kalian jika mau."
Irvine berlalu pergi.
"Ayo latihan lagi." ucap Jean.
"Tidak akan menghubungi Ian-sensei?"
"Besok saja. Kita latihan sendiri saja dulu. Ini sudah sore."
"Aa, ryokai."
Latihan dimulai lagi. Tanpa Kuroko yang masih berdiri mematung ditempatnya tadi.
"Naa! Kuroko! Ayo latihan!" seru Eren yang merasa heran akan keanehan bocah hantu itu.
Kuroko menoleh datar. Kemudian menurut pada perkataan teman barunya. Yang harus ia lakukan memang berlatih, jika tidak, mati.
Eren melangkah malas menuju kamarnya, tanpa menyadari kehadiran Levi yang tengah duduk dengan secangkir kopi ditangan kanannya.
"Bagaimana latihannya?"
Eren tersentak dan langsung menoleh pada asal suara.
"He? Kenapa nii-san ada disini?"
Levi menghembuskan napas perlahan. Itu artinya ia tidak mau menjawab pertanyaan bodoh adiknya. Bukan Eren namanya jika tidak mengerti arti hembusan napas itu. Jadi ia langsung mengalihkan pembicaraan mereka, pada apa yang seharusnya ia jawab diawal tadi.
"Aa.. eto.. latihannya sangat melelahkan. Aku sempat berpikir untuk mengundurkan diri."
"Lalu kenapa masih melanjutkan?"
"Itu.. aku ingin membangkitkan klub basket lagi."
Levi meletakan cangkir yang ia genggam diatas meja. Melirik penasaran pada tekad dadakan Eren tentang hal ini. Padahal sebelumnya anak itu selalu tampak acuh pada setiap hal. Apalagi hal yang berhubungan dengan sekolah.
"Kan sayang jika di sekolah tidak ada klub basket. Padahal sebenarnya sangat dibutuhkan disaat-saat seperti ini. Nanti hanya akan merepotkan orang lain sepertiku yang tidak tahu apa-apa tentang basket."
Anggukan malas ditunjukkan Levi. Sedangkan Eren berlalu melangkah menuju dapur. Bermaksud untuk mengambil minuman dingin didalam lemari es. Tak lama iapun kembali, duduk di kursi sofa tunggal dihadapan Levi. Ia merasa Levi akan membicarakan sesuatu jika sampai kakaknya itu datang kemari. Selain memeriksa keadaan rumah tentunya.
"Souka. Lakukan apa yang kau mau dan jangan lupa mempertanggungjawabkannya."
Tiba-tiba Levi bangkit berdiri, melangkah menuju pintu keluar. Tanpa mengatakan apa-apa pada Eren yang tampak bingung.
"Kemana?"
"Aku harus mengantar Petra ke rumah sakit."
Dan menghilanglah sosok itu dari pandangan, pergi menuju dunia luar ruangan ini. Eren kembali sendiri. Muncullah pertanyaan dalam dirinya "untuk apa datang kalau pergi lagi?". Haih.. Kompleks sekali.
Mungkin ia akan istirahat saja. Setelah membersihkan diri dan makan tentunya. Masalah tugas untuk esok hari, melihat pada Mikasa sepertinya ide bagus. Pasti gadis itu tidak akan menolak. Itulah gunanya 'teman' bukan?
Hari-hari berganti. Tak terasa pergantian hari itu sudah memasuki zona berbahaya. Hari senin, hari pertandingan pertama turnamen nasional dimulai. Bukan bukan. Maksudnya, hari pertama tim dari Chousa mengikuti pertandingan penyisihan. Sudah tak terbayang lagi bagaimana degup jantung para pemain berdetak. Tidak lagi seirama seperti biasa. Mungkin sekarang lebih ke irama musik rock. Cepat dan keras.
Kegelisahan terus menyertai mereka tatkala Irvine masuk ke ruang tunggu tim mereka. Dengan santainya pria blonde itu tersenyum misterius sambil menunjukkan seragam basket yang harus mereka pakai. Seragam itu tidak tampak jauh berbeda dengan baju basket lainnya, hanya saja polanya yang berbeda. Seragam itu bertuliskan 'Chousa' dibagian depan, nomor pemain dibelakang, dan lambang sekolah diatas nomor tadi. Cukup keren juga.
Serempak mereka memakai seragam itu. Ini berarti satu hal. Mereka tidak bisa mundur lagi sekarang. Tidak mungkin mengecewakan kepala sekolah absurd ini kan? Mereka tidak setega itu.
"Pertandingan selanjutkan sekolah Ouran melawan sekolah Chousa. Kedua tim diharap memasuki arena pertandingan."
Terdengar sebuah pengumuman yang berhasil memfinali rasa gugup mereka. Saatnya berjuang kawan.
"Semoga berhasil anak-anak. Kami semua mendukung kalian."
"Hai!" balas anak-anak muda itu.
"Tunggu, anda tadi mengatakan 'kami'. Setahuku hanya anda yang mengantar kami kesini." ucap Jean.
"Tidak mungkin aku kemari sendirian. Guru-guru yang lain juga datang. Ada Levi-sensei, Petra-sensei, Hange-sensei, Mike-sensei, Ian-sensei juga ada. Lalu ada beberapa teman sekelas kalian yang datang. Mereka semua sudah duduk di bangku penonton."
Kata-kata Irvine tampaknya sedikit mengompori semangat mereka untuk melakukan yang terbaik. Tanggung jawab ada pada tangan mereka. Digenggam erat dan jangan sampai terlepas begitu saja. Mereka tidak boleh menjadi seorang pengecut dungu yang mempermainkan kepercayaan orang lain, menghianati tanggung jawab yang sudah diemban. Berat memang. Tapi semua orang didunia ini pasti akan mengalami fase ini. Fase dimana serasa dunia tertuju padamu, bergantung pada keputusan yang kau ambil.
Setelah saling bertatapan satu sama lain, mereka melangkah menuju tempat yang akan menentukan nasib mereka hari ini. Diiringi Irvine yang menyertai langkah penuh keyakinan milik mereka. Siap bertempur!
"Kedua tim silahkan saling bersalaman." ucap wasit pertandingan.
Para pemain mulai saling mengulurkan tangan, tersenyum ramah sekaligus menantang, dan tim Chousa merasa sedikit... ragu. Orang-orang didepan mereka ini tampak tinggi besar. Jauh dengan mereka, ya kecuali Reiner, Berlthod juga -meski hanya dapat tingginya saja-. Semuanya saling berpandangan mulai gelisah lagi. Kecuali Kuroko yang sedari tadi tampak santai seperti tidak mengkhawatirkan apapun. Dasar anak itu.. terlampau datar atau memang tidak memiliki ekspresi lain? Tidak ada yang tahu.
Tak lama suara peluit tanda pertandingan dimulai terdengar. Disertai dengan dilemparnya bola basket oleh wasit.
Suara decitan sepatu diatas lantai terdengar meriuh tak terhentikan. Para penonton yang masing-masing mendukung salah satu tim yang tengah bermain itu juga ikut riuh. Bersorak memberi semangat atau melakukan atraksi lain.
Poin pertama didapatkan Ouran. Mati.
Satu poin saja sudah membuat napas tim Chousa terengah tak beraturan. Peluh sudah hampir menutupi setiap permukaan kulit mereka. Melelahkan. Ouran tidak bisa diremehkan begitu saja. Ini pertandingan yang sesungguhnya.
Bola kembali dilempar. Dan kini salah satu pemain Ouran yang mengiringi Eren berusaha untuk merebut bola. Dengan sedikit guncangan batin.
"Kudengar kalian ini tim dadakan ya?" ucap pemain itu.
Eren menoleh sambil terus membanting-banting bola ke atas lantai.
"Sudahlah, tidak usah berjuang terlalu keras. Toh kalian akan kalah hari ini."
Lalu..
Brrukk!
Pemain nekad itu menubruk tubuh Eren agar bisa mengambil alih bola. Dan akibat perbuatannya itu, permainan dihentikan. Itu pelanggaran.
"Daijoubu ka." tanya Reiner seraya mengulurkan tangan pada Eren.
Eren menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri. Kemudian mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Reiner.
"Aku ingin menang dalam pertandingan ini!" pekik Eren pelan namun yakin.
Reiner sedikit heran akan tekad berlebih yang tiba-tiba Eren tunjukkan. Tapi setelahnya Reiner tersenyum penuh arti.
"Aa aku tahu. Kita memang harus menang!"
Pertandingan kembali dimulai. Satu poin lagi untuk Ouran. Chousa belum mendapat poin satupun. Tapi seiring dengan itu, Ouran kembali melakukan pelanggaran.
Waktu berlalu sedikit demi sedikit. Saat itu Kuroko mendapatkan bola ditangannya. Dengan cepat bocah berambut terang itu langsung mengoper bola pada Jean yang dirasa paling dekat dengan ring.
Poin pertama untuk Chousa. Sorakan terdengar. Para pemain Chousa menyerukan yel-yel mereka sebagai semangat tambahan.
"Ike, Chousa!"
Singkatnya, saat detik-detik terakhir pertandingan tim Ouran kembali melakukan pelanggaran untuk kesekian kalinya. Dan poin kedua tim seri. Tapi karena banyaknya pelanggaran yang dilakukan Ouran, maka tim Chousa yang menang. Otomatis mereka maju ke babak selanjutnya. Ke babak yang tidak lagi dikatakan 'cukup sulit' tapi 'sangat sulit'. SMA Teiko, kami datang..
Ternyata pertandingan hari ini langsung 2 babak. Ini pertanda buruk.
Lihat saja keadaan Kuroko sekarang. Dia diam dipojokan ruangan tim. Menunduk dalam tak mengatakan apa-apa. Melihat kondisi itu, Eren dan yang lain merasa khawatir. Bagaimana tidak? Kondisi Kuroko sebelum tahu beberapa menit lagi babak kedua dimulai tidak seperti ini. Ia bahkan tidak minum atau makan sedikitpun.
Hal ini menunjukkan bahwa lawan yang akan mereka hadapi dibabak kedua ini sangat berpengaruh untuk kondisi batin Kuroko. Haduh... Ada-ada saja.
Reiner selaku orang yang diangkat menjadi ketua tim mencoba menghampiri Kuroko, ingin menanyakan apa yang sebenarnya membuat Kuroko jadi seperti ini.
"Kau kenapa?"
Kuroko sama sekali tidak bergeming. Ia tetap berada dalam posisi merenungnya.
"Kau tidak mau mengatakannya?"
"Katakan saja, kami kan temanmu."
Tampak sedikit gerakan darinya. Mungkin kata 'teman' membuatnya berekasi.
"Aku.. tidak yakin untuk melawan Teiko." ucap Kuroko akhirnya.
"He? Kenapa?"
Kuroko menghela napas panjang sebelum memulai pembicaraan seriusnya.
"Mereka.. sangat kuat. Generasi keajaiban. Tak terkalahkan dari dulu, pemenang turnamen nasional tingkat SMP 3 tahun berturut-turut."
Deg!
Hening sesaat.
"Kita pasti bisa melewatinya jika saling mengandalkan."
"Jika hanya karena itu tidak mungkin kau tampak seperti ini kan, Kuroko?"
Selalu saja Jean yang tidak terima dengan berbagai alasan orang lain. Selalu saja dia yang merasa janggal dengan alasan yang ia dengar.
"Mereka, teman-temanku saat SMP. Hanya aku yang tidak masuk ke SMA yg sama."
"Kalau begitu bagus. Kau bisa menyapa mereka lagi."
Kuroko menengadahkan kepalanya. Tampaj berpikir.
"Inginnya memang seperti itu. Tapi.. sekarang kami tidak berada dalam satu tim. Mereka lawanku."
"He? Tunggu. Berarti kau satu tim dengan generasi keajaiban saat SMP?" Berlthod ikut berkoar.
Tak lama Kuroko mengangguk.
"Apa kau juga salah satu dari generasi keajaiban itu?"
Tiba-tiba Irvine kembali masuk ke ruangan, duduk disalah satu kursi panjang yang masih menyisakan tempat untuk ia duduki.
"Kuroko adalah generasi keajaiban ke enam. Si bayangan. Masa kalian tidak tahu." ucap Irvine santai.
"Bayangan?"
"Ya. Dia akan sangat kuat jika cayahanya kuat. Jadi apa yang dilakukan Kuroko tergantung pada kekuatan kalian juga."
Semuanya tampak berpikir, minus Irvine dan Kuroko tentunya.
"Tapi kurasa bukan hanya itu yang membuat Kuroko gelisah." guman Jean masih penasaran.
Merasa setuju dengan perkataan Jean, Kuroko langsung mendapat tatapan ingin tahu dari tim barunya ini. Mau tidak mau ia harus mengatakan apa yang menjadi masalahnya. Mungkin dengan begitu ia akan merasa lebih baik.
"Dulu.. aku adalah bayangan salah satu generasi keajaiban. Namanya Aomine. Aku sudah sangat terbiasa bermain basket dengannya. Aku takut, aku salah mengoper bola padanya. Jika itu terjadi.. aku hanya akan menghalangi langkah kalian untuk menang."
Satu per satu mereka tersenyum memaklumi apa yang dijelaskan oleh Kuroko. Ini memang tidak bisa disebut masalah sepele juga. Tapi bagaimanapun tetap harus dihadapi kan.
"Kita belum mencoba. Lagipula, sudah cukup lama kau tidak bermain basket dengan mereka kan, Kuroko?"
Ia mengangguk. Mungkin sekarang ia bisa sedikit berharap pada tim barunya ini. Walaupun tidak menang, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa menjadi bayangan orang lain selain Aomine. Melepaskan kebiasaan untuk bergantung pada pria itu.
Suara peluit tanda pertandingan dimulai berseru memekakan telinga. Suara hentakan kaki diatas lapangan yang tadi sempat terhenti sekarang kembali terdengar.
Saat pertama kali kedua tim berjajar untuk saling bersalaman sebelum pertandingan dimulai, suasana sudah berubah menjadi tidak enak. Hawanya sangat berbeda. 5 orang yang menjadi lawan tim Chousa ini seperti terus mengawasi gerak-gerik Kuroko, teman lama mereka.
Dan lalu, ketika Kuroko berhasil mendapatkan bola, ia dihentikan oleh suara yang sangat familiar baginya.
"Wah wah, Kurokochi! Sudah lama kita tidak bertemu ya! Aku sangat merindukanmu, tapi sanyang sekarang kita menjadi lawan.."
Kuroko hanya mengangguk sebagai balasan dari sapaan pria berambut pirang yang memiliki banyak fans dibangku penonton ini. Kuroko langsung mengoper bola digenggamannya. Dan nampaknya, yang berhasil menerima bola itu bukanlah tim Chousa. Melainkan tim lawan.
Serempak pemikiran Eren, Jean, Berlthod dan Reiner sama. 'Inikah yang bernama Aomine? Cahaya Kuroko?"'.
Pria berambut biru tua dengan kulit gelap yang diduga sebagai Aomine itu langsung melakukan shoot dan satu poin didapatnya.
Kuroko tampak syok dengan apa yang terjadi beberapa detik lalu. Dan kini Aomine berjalan menghampirinya, menepuk bahu Kuroko yang lebih pendek darinya itu.
"Aku cahayamu, Kuroko."
Aomine berlalu pergi.
Tak lama pertandingan kembali dimulai. Tak jauh berbeda saat diawal. Saat Kuroko mencoba mengoper bola, Aomine akan menghadang bola itu dan angka didapatkan Teiko. 16-0. Selain itu pemain Teiko yang lain juga turut ikut andil dalam mencetak angka. Tim ini benar-benar sebuah keajaiban.
Tim Chousa hampir putus asa. Ditambah kondisi Kuroko yang tampak lebih menyedihkan daripada yang lain membuat mereka semakin terpuruk. Yang paling parah, mereka tidak punya pemain cadangan. Namanya juga tim dadakan. Menemukan 5 orang saja patut disyukuri.
Teiko terus memimpin. Pemain Chousa sudah berada jauh dari kata lelah. Dan perolehan yang mereka dapat masih menunjukkan telur yang belum menetas. Sedangkan waktu terus berjalan.
Saat waktu pertandingan tinggal 5 menit lagi, tujuan tim Chousa sudah berubah. Bukan lagi mencari kemenangan, tapi mendapat poin walau hanya satu. Mereka ingin menunjukkan bahwa tim dadakan seperti mereka bisa mendapat poin saat melawan generasi keajaiban yang benar-benar ajaib ini.
Yel-yel mereka kembali terdengar, dengan sisa semangat yang menggebu.
"Ike, Chousa!"
"Kami adalah cahayamu sekarang, Kuroko." ujar Reiner, memberi keyakinan pada Kuroko.
Pertandingan dimulai. Dengan perolehan sebelumnya 32-0.
Suara pantulan bola terdengar menggebu dari sebelumnya. Reiner berusaha mempertahankan bola ditangannya, mencari celah untuk mengoper bola pada Kuroko agar bocah itu bisa mengopernya pada Eren yang berdiri paling dekat dengan ring.
Bingo! Kuroko berhasil menerima bola dari Reiner. Tinggal rencana selanjutnya yang bergantung pada Kuroko.
Mata Eren menatap Kuroko untuk meyakinkan bahwa ia bisa melempar bola itu padanya. Kuroko siap melempar, Aomine datang, Eren meloncat, Kuroko menuking ke belakang dan melempar bola dengan sedikit kecohan untuk Aomine, Eren berhasil menangkap bola operan Kuroko dan hup!
Poin pertama dan terakhir untuk Chousa.
Pertandingan berakhir. Poin yang didapat Chousa tidak akan mengubah kenyataan bahwa Teiko menang.
Tapi nampaknya Aomine sedikit terkejut karena Kuroko bisa mengoper bola selain padanya, bahwa dirinya tidak bisa menerima operan dari Kuroko untuk pertama kalinya.
Mengingat kejadian itu Aomine hanya bisa tersenyum bangga. Ternyata Kuroko yang ia kenal sudah berkembang.
Para pemain dari kedua tim kembali berbaris untuk saling bersalaman. Kuroko berdiri tepat didepan Aomine.
"Kau menemukan cahaya barumu."
"Gomennasai."
"Haha! Tidak apa-apa! Itu lebih baik. Kau harus lebih berkembang lagi!"
Aomine mengusap pucuk kepala Kuroko. Dan hal itu juga dilakukan oleh pemain Teiko yang lain. Mereka tampak merindukan Kuroko juga.
"Lain kali kita bermain basket bersama lagi ya, Kurokochi!"
"Nasibmu besok akan lebih baik dari hari ini, asal kau membawa payung berwarna biru."
"Hmm.."
"Kau tidak tumbuh lebih tinggi dariku ya? Bagus bagus."
"Sampai jumpa dilain waktu, Kuroko! Ajak juga cahaya barumu ini nanti!"
"Arigatou gozaimasu."
"Ja ne!"
"Kerja yang bagus anak-anak."
Kembali kepala sekolah aneh mereka datang tak diundang. Disaat mereka ingin beristirahat dengan alakadarnya didepan tempat turnamen, datang lagi penceramah membosankan ini. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menghela napas pasrah.
"Sudah kuduga kalian akan terhenti dibabak ini." ucapnya lagi.
"Jika anda tahu kenapa tidak usah mengirim kami saja?" Jean memekik.
"Bukankah kalian ingin menghidupkan kembali klub basket sekolah kita? Dengan ikutnya kalian diturnamen ini, bisa membantu untuk mencari anggota dan mendapat persetujuan dariku."
"Kenapa anda tahu?"
"Levi-sensei yang bilang."
Serempak semua tatapan jatuh pada Eren. Siapa lagi yang bisa disalahkan tentang masalah bocornya rencana mereka ini kecuali Eren, satu-satunya orang yang sangat mungkin melakukan percakapan diluar jam pelajaran bersama Levi.
"Jadi apa kami boleh menghidupkannya kembali?" Reiner bertanya mantap.
Irvine tersenyum seperti biasa, sebelum akhirnya mengiyakan pertanyaan Reiner. Ia menyetujui dibentuknya klub basket Chousa yang sesungguhnya, bukan lagi klub dadakan.
"Tidak ada alasan untuk menolak. Dan tidak ada salahnya juga memiliki klub basket di sekolah."
Kelima bocah itu bersorak mendengar persetujuan dari sang kepala sekolah. Meskipun tidak menang turnamen, namun mereka mendapat hadiah berdirinya klub basket lagi. Ini akan menjadi awal pertempuran yang sesungguhnya nanti. Turnamen nasional selanjutnya, tunggu kami!
Apa ceritanya aneh? Apa ceritanya maksa?
Emang susah kalo nulis sesuatu yang harusnya dilihat secara langsung. Tapi readers bisa ngebayangin pake imajinasi yang keluar dari jidat kaya spongebob itu kan? Iya kan?
Semoga imajinasi liarnya bisa membantu dalam membaca fict ini.
Chapter-chapter selanjutnya mungkin akan ada beberapa yang flashback ke masa lalu (ya iya lah flashback tuh ke masa lalu)
Jadi jangan pada bingung ya ^^
Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca fict author. Apalagi sampai ngasih review.
Tetep baca kelanjutannya ya~ fict yang entah tamatnya kapan ini~
See you next chapter ^^
Ja ne!
-Author Shigeyuki-
