Author Note: Weew, kurasa aku sedikit melupakan cerita ini… (sweat drop) I hope you guys enjoy the story~ and don't FORGET to review~
Troublesome Family
Chapter 2
Ini merupakan yang kesepuluh kalinya aku menguap karena aku merasa mengantuk sekali hari ini. Pelajaran yang di ajarkan oleh guruku sama sekali tidak masuk kedalam otakku, hanya masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri, itu karena aku tidak bisa konsentrasi dengan apa yang sedang dia ajarkan. Untungnya aku tidak perlu khawatir jika ada pelajaran yang tidak kumengerti, karena aku bisa meminta bantuan Riku untuk mengajarkanku…
Bicara soal Riku, kemarin malam dia pulang sekitar jam satu dini hari dan aku terus menunggunya hingga dia pulang. Ketika dia masuk dan melihatku masih bangun, dia terlihat sangat terkejut sampai-sampai menjatuhkan barang bawaannya dan langsung menyuruhku untuk segera tidur. Tadinya aku tidak langsung menuruti perintahnya, soalnya aku masih ingin memastikan apakah pintu belakang, depan, dan pagar Old Mansion ini sudah terkunci supaya tidak ada pencuri yang memasuki tempat ini. Aku baru segera memasuki kamar setelah dimarahi oleh Riku karena dia khawatir bahwa aku tidak akan bisa menyimak pelajaran besok pagi karena kurang tidur dan dugaannya tepat, saat ini aku tidak dapat menyimak pelajaran sama sekali.
Sebenarnya tidak ada yang perlu di khawatirkan jika memang ada yang tercuri, karena semua yang tinggal di mansion ini tidak terlalu mempermasalahkannya. Tetapi aku tetap saja harus mengecek keamanan rumah ini bukan karena mengkhawatirkan nasib barang-barang di sini, melainkan aku megkhawatirkan nasib maling yang akan mencoba mencuri di sini. Kalian pasti heran mengapa aku harus repot-repot mengkhawatirkan nasib maling itu, itu karena aku yang akan merasa paling repot jika ada maling yang sampai masuk ke sini.
Seluruh keluarga ini pasti tidak memberikan kata 'ampun' pada maling itu. Tanpa ragu-ragu mereka siap menembak mati maling itu dan itu yang kukhawatirkan. Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan nasib maling itu apakah dia selamat ataukan tidak, tapi aku mengkhawatirkan cipratan darahnya ketika dia terbunuh di dalam mansion ini. Bayangkan, ketika darahnya sampai menciprat, barang-barang dan dinding mansion ini pasti yang menjadi korbannya. Nah. Yang jadi korban bukan hanya barang-barang dan dinding mansion ini, tapi aku juga. Aku harus membersihkan cipratan darah itu dari barang-barang yang terkena cipratan itu dan aku juga harus mengecat ulang dinding mansion ini jika ada dinding yang terkena cipratan darah. Merepotkan bukan?
Dulu, ketika aku belum ada, Riku bilang jika ada barang yang terkena cipratan darah sedikit saja, pasti akan segera di buang. Dinding rumah ini dulu berwarna merah gelap, kata Riku warna merah gelap ini sesungguhnya bukan berasal dari cat, melainkan darah…
Jadi, sejak aku tinggal di sini, aku tidak pernah mengizinkan mereka untuk membuang barang yang terkena cipratan darah, karena aku tau bahwa barang yang selalu mereka hendak buang berharga jutaan! Jadi membuang barang itu sama saja dengan membuang uang dan aku tidak ingin mereka membuang barang itu, lebih baik di jual daripada di buang, tetapi siapa yang mau membeli barang yang terkena cipratan darah? Hidup ini sulit, tanpa uang, kita tidaklah berdaya sama sekali. Makanya, meski kehidupanku sudah lebih dari cukup saat ini, tapi aku masih suka berhemat…
"…ra…Sora!" Teriak seseorang tepat di kupingku dan membuatku sangat kaget karena aku sedang melamun sambil menatap kearah jendela.
"…Roxas, kau membuatku jantungan…" kataku memberitaukanya.
"Itu karena kau melamun terus!" kata Roxas, teman sekelasku sambil menghela napas yang dalam. "Apakah kau tau bahwa aku sudah memanggilmu lebih dari sepuluh kali dan baru kali ini kau sahut?" tanyanya.
"Tidak…" jawabku.
"Dasar kau ini…" katanya menghela napas sekali lagi. "Kau ini sedang tidur dengan mata yang terbuka ya? Lingkaran matamu terlihat hitam seperti panda saja…" katanya memberitaukanku.
"Oh , itu karena semalam aku begadang sampai dini hari karena keasikan nonton televise…" Kataku sambil tersenyum.
"Oh… hari ini kau ingin main denganku tidak di lapangan? Nanti sore ada pertandingan skate board dan aku perlu teman untuk latihan…" katanya mengajakku.
"Well, maaf Roxas, hari ini aku tidak bisa, aku mempunyai urusan…" kataku menolak dengan wajah sedih.
"Begitu ya…" katanya dengan sedih juga. "… ya sudah, aku pulang dulu. Kapan-kapan kita main ya." Katanya sambil mengambil ranselnya dan hendak berjalan keluar.
"Huh? Sejak kapan kelas ini kosong?" tanyaku heran karena baru menyadari kelas ini sudah kosong.
"Dari limabelas menit yang lalu…" katanya memberitau. "…kau ini memang tidur dengan mata yang terbuka ya? Masa tidak sadar bahwa semua orang sudah pada bubar?" tanyanya dengan heran dan bingung.
"Hum, kurasa iya!" kataku sambil tertawa.
Roxas lalu ikut tertawa mendengar jawabanku. "Aku pergi dulu ya." Katanya sambil berjalan meninggalkan kelas.
"Ya." Kataku senyum sambil menatapnya pergi.
Aku lalu menghela napas dan mengambil ranselku. Aku berjalan keluar dan menuju kamar ganti cowok, aku lalu mengganti seragamku dengan baju biasa yang kusimpan di dalam ranselku. Setelah selesai mengganti baju, aku berjalan keluar dari sekolah dan melihat seorang pemuda berambut silver yang berada di gerbang sekolah sedang duduk di motornya sambil memainkan hand phonenya. Aku berjalan mendekatinya dan dia langsung menatapku dengan wajah kesal ketika aku berada di dekatnya.
"Lama sekali…"katanya dengan nada kesal. "…aku baru saja hendak meneleponmu untuk bertanya apakah kau jadi ikut denganku atau tidak." Katanya memberitau.
"Maaf, Yazoo…" kataku meminta maaf. "…tadi aku melamun sehingga tidak menyadari bahwa kelas telah bubar…"
"…Naik." Perintahnya.
Maka aku segera naik ke motornya. Dia lalu memberikanku sebuah helm dan segera kukenakan. Beberapa detik setelah aku mengenakan helm, dia mendadak melajukan motornya dengan cepat dan membuatku sangat kaget. Angin yang kencang behembus di kulitku dan terasa dingin, benda-benda yang ada disekelilingku tidak dapat terlihat dengan jelas saking cepatnya motor ini melaju. Jantungku berdebar-debar dengan kencang karena tegang dan tanganku terasa basah karena keringat. Aku memegang tubuh Yazoo dengan seerat-erat mungkin agar tidak terjatuh. Rasa yang menegangkan ini terasa sangatlah asik dan menyenangkan karena sudah lama aku tidak merasakannya.
Ketika terdapat belokan yang cukup tajam, motor ini angsung miring sekitar empat puluhlima derajat. Dengan reflex, aku memegang Yazoo lebih erat karena khawatir akan jatuh. Laju motor ini semakin lama semakin cepat sekali, beberapa menit kemudian tanpa terasa perjalanan ini telah berakhir dan kita telah sampai di kota tujuan…
Begitu turun dari motor, kakiku terasa lemas, sehingga aku langsung berpegangan pada motor itu.
'Tadi sangatlah seram dan juga menegangkan!' pikirku sambil tersenyum dan juga gemetaran.
Lalu aku mencoba melepaskan genggamanku, kakiku masih sedikit lemas, tetapi sudah sanggup untuk menyokong berat badanku. Yazoo yang telah turun lalu melepaskan helmnya dan meletakkannya di motor, akupun iku melepaskannya.
"Hollow Bastion…" Kataku menyebut nama kota ini sambil melihat kota ini.
Kota ini sedikit gelap karena cuaca yang sedang mendung. Kota ini selalu mendung dan jarang sekali cuaca di kota ini cerah.
"Here…" Kata Yazoo yang memberikan sesuatu padaku.
"Jubah?" kataku heran sambil mengambil jubah yang dia berikan ini berwarna hitam dan panjang jubah ini hingga mendekati ujung kakiku. Terdapat sebuah kerudung juga untuk menutupi wajah. "Untuk apa?" tanyaku.
"Kita akan menyelinap ke tempat kerja di mana target kita berada untuk mengambil informasi tempat dia tinggal dan juga informasi tentang keluarganya." Jawab Yazoo dengan senyum sinis.
"…" awalnya aku masih belum menangkap arti yang dia maksud karena meski tubuhku di sini, tetapi jiwaku terasa tertinggal di sekolahan saking cepatnya motor yang dia bawa melaju. "Bisa diulangi?" tanyaku.
"Menyelinap." Katanya memberi jawaban yang mudah dicerna oleh otakku dengan senyum sinis.
"Oh! Jadi maksudmu jubah ini dipakai untuk menutupi wajah kita supaya tidak dikenali?" Tanyaku yang sudah mengerti maksudnya.
"Tepat~" katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari tas yang dia bawa. Dia mengeluarkan beberapa buah knife dan silent gun. Aku di beri lima knife dan sebuah silent gun dengan sepuluh peluru cadangan. "Ini hanya untuk berjaga-jaga jika seandai kita ketahuan, show no merci, kid." Katanya padaku sambil mengenakan jubah.
Aku lalu mengangguk pelan dan mengenakan jubah yang dia berikan tadi, lalu aku menyimpan knife dan silent gun ini di dalam saku di balik jubah ini, lalu aku mengeluarkan sesuatu yang selalu berada di ranselku dan kumasukan juga kedalam saku jubah ini. Kami berdua berjalan meninggalkan parkiran di mana motor yang kami gunakan tadi di parkir. Kami berjalan menuju sebuah gedung berlantai lebih dari sepuluh yang tidak terlalu jauh dari tempat kami memarkir motor. Yazoo lalu berjalan ke pintu belakang gedung ini dan aku hanya mengikutinya saja dari belakang tanpa bertanya apa yang dia rencanakan.
Di pintu belakang gedung ini, terlihat tiga orang yang sedang berjaga di sana dan ini lebih sedikit di bandingkan dengan pintu depan. Yazoo mendekati mereka tanpa memberiku petunjuk apa yang hendak dia lakukan, akupun meningkatkan kewaspadaanku karena merasa kita akan berkelahi dengan penjaga itu sebentar lagi. Yazoo terus berjalan mendekati para penjaga itu hingga para penjada itu curiga pada kami.
"Siapa kalian?" Tanya salah seorang penjaga dengan waspada karena mereka tidak dapat melihat wajah kami.
"No one~" Jawab Yazoo yang sudah berada di dekat para penjaga itu.
"A…apa maumu?" Tanya penjaga tadi dan meningkatkan kewaspadaannya.
Dua orang penjaga lain bersiap-siap memukul kami dengan tongkat pemukul jika kami melakukan hal yang mencurigakan. Yazoo lalu mengeluarkan silent gunnya dengan cepat dan menembak penjaga yang bertanya padanya tadi.
Penjaga itu tewas sebelum dapat berteriak…
"!" kedua penjaga yang tersisa terkejut.
Mereka berdua hendak memukul Yazoo dengan pemukul yang mereka pegang. Akupun mengambil dua buah knife dengan cepat dan melemparkannya ke kedua penjaga itu. Satu knife terkena tepat di otak salah satu penjaga itu dan penjaga itu langsung tewas, satu lagi knife lagi terkena penjaga lain, knife itu mengenai tepat di lengan yang memegang pemukul itu.
"Aaaaaaarg!" teriak penjaga yang tersisa itu dengan kesakitan.
Yazoo lalu menembak penjaga yang tersisa itu dengan silent gun, dia menembak tepat di otaknya dan penjaga itupun tewas dalam sekejap. Aku mendekati para penjaga yang tewas itu untuk mengambil kembali knife yang kulempar, ketika aku menarik knife yang menancap di anggota tubuh mereka, darah mereka menciprat dan mengenai jubahku.
'Damn…' pikirku sambil menendak mayat mereka. 'Untungnya jubah ini berwarna hitam, sehingga noda darah mereka tidak kelihatan sama sekali…' pikirku sambil menatap jubahku yang terciprat darah.
Yazoo lalu memberi instruksi untuk memasuki gedung ini, maka kami berdua masuk ke dalam…
To Be Continued…
Author Note: Wow! Sebentar lagi ada adegan bunuh membunuh! XD review?
