Author Note: Update~ story kali ini agak berdarah-darah, semoga tidak ada yang mual setelah membaca story ini. btw, thank for reviewing last chapter! ^^
Rate M : Warning! If you afraid with blood! Then don't read!
Troublesome Family
Chapter 3
Ketika kami berdua memasuki gedung itu, aku merasa kewaspadaan Yazoo menurun dan aku juga merasa dia menjadi santai. Dia berjalan melewati setiap lorong gedung ini dengan santai seakan-akan tempat ini seperti gedung miliknya sendiri.
Kami melintasi beberapa orang dan mereka tidak terlihat curiga pada kami yang wajahnya tidak terlihat sehingga tidak ada satupun yang dapat mengenali kami. Ada sesuatu yang membuatku sangat heran saat ini, yaitu Yazoo menyapa seseorang yang tidakdia kenal dan herannya lagi, orang yang tidak dia kenal itu malah menyapanya balik! Sulit di percaya…
Setelah beberapa menit berjalan melewati lorong gedung ini, kami menemukan ruangan security. Tanpa kata 'permisi' ataupun mengetok pintu ruangan itu, Yazoo langsung masuk ke dalam. Akupun langsung memasuki ruangan itu tanpa mengecek keadaan sekitar kami.
Di ruangan ini terdapat tiga orang yang sedang menjaga ruangan ini dan mereka juga sambil mengawasi lewat kamera pengawas. Salah seorang dari mereka menyadari kehadiran kami yang masuk tanpa izin…
"Siapa kalian?" Tanya orang yang menyadari kehadiran kami dengan wajah curiga.
"Kami…" kulihat Yazoo mengeluarkan silent gunnya. "…ini bukan siapa-siapa~" katanya yang langsung menembak ketiga orang itu secara bergantian dengan cepat.
Tanpa bunyi dari silent gun, darah ketiga orang itu menciprat mengenai layar monitor yang menayangkan gambar hasil dari rekaman kamera pengawas. Cipratan darah mereka nyaris mengenai kami, untungnya kami berada cukup jauh dari mereka.
Lalu aku merasa ada seseorang yang melihat kami, aku langsung menoleh ke pintu keluar dan melihat seseorang melihat kami membunuh ketiga penjaga di sini. Dia terlihat hendak berteriak dan sebelum dia berhasil berteriak, aku berlari kearahnya dan mendorongnya kearah dinding sambil menutup mulutnya.
Aku mencengkram mulutnya dengan kuat dan dia terlihat kesakitan sambil memegangi tanganku yang mencengkram mulutnya. Expresinya bukan hanya terlihat kesakitan, tetapi juga terliha takut ketika dia melihat wajahku yang menatapnya dengan keinginan membunuh. Aku mencengkramnya semakin erat dan meraih knifeku dari sakuku. Tanpa ragu-ragu aku langsung menyayat lehernya dan darah langsung menciprat ketika aku melukai lehernya. Darah itu menciprat tepat mengenai wajahku dan aku segera menjatuhkannya sesaat setelah darahnya mengenaiku.
Kuseka wajahku dengan lengan jubah yang panjang ini , lalu aku menatap ke bawah. Aku melihat darah orang tadi mengalir dengan derasnya dan mengotori lantai yang saat ini kupijak. Sepatuku langsung kotor oleh darahnya dan aku menginjak mayatnya untuk menyeka darah yang melekat di sepatuku.
Kulihat dia masih hidup meski keadaannya sekarat. Aku lalu menusukkan knifeku tepat ke jantungnya agar dia segera mati. Untuk kedua kali aku harus terkena cipratan darahnya yang menyebalkan itu sekali lagi, kucabut knifeku dari jantungnya dan luka di jantungnya mengeluarkan darah yang lebih deras di bandingkan dengan luka yang ada di lehernya.
'Merepotkan…' pikirku sambil menatap mayat itu. '…Harusnya aku menggunakan itu saja supaya aku tidak terkena cipratan darah lagi…' pikirku sambil menyeka wajahku yang terkena cipratan darah yang kedua kalinya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menjerit histeris melihatku membunuh seseorang, dia lalu berlari sambil menjerit ketakutan…
Aku lalu menghela napas melihat bahwa seseorang melihat aksi kami. Lalu kembali memasuki ruangan security , kulihat dia sedang mengutak-atik system computer di ruangan ini dan menghapus beberapa rekaman gambar yang menangkap gambar kami berdua. Dia juga menghentikan fungsi kamera pengawas agar berhenti merekam semua yang tertangkap oleh kamera. Lalu dia menancapkan sebuah flash disk, sebuah alat untuk mentransfer sebuah data dari sebuah computer ke computer lain kearah hard disk di computer yang sedang dia utak-atik.
Yazoo lalu memindahkan sebuah data ke dalam flash disk miliknya dan begitu selesai, dia mencabut flash disk miliknya dan menghacurkan computer itu hingga rusak berat.
"Mereka berada di dalam ruangan itu!" teriak seseorang dengan keras.
"Now, sekarang kita harus segera pergi dari sini." Kata Yazoo yang tersenyum sinis sambil melempar flash disknya keatas dan menangkapnya lagi.
Aku mengangguk dan mengeluarkan sesuatu dari saku yang tadi kuambil dari ranselku.
"Oh~ ternyata kau membawanya~" Kata Yazoo yang masih tersenyum sinis.
Benda yang Yazoo maksud adalah sebuah benang baja yang saat ini kupegang. "Ya, aku lebih ingin menggunakan ini karena tidak ingin terkena cipratan darah lagi. Benang baja dapat digunakan untuk menyerang dalam jarakyang jauh dan juga menyerang musuh banyak sekaligus." Kataku padanya.
"Heh, mari kita segera keluar. Mereka pasti telah mengepung jalan keluar kita~" kata Yazoo sambil tertawa. "Ini pasti seru~"
Aku hanya mengangguk dan kami berdua berlari keluar. Ketika kami berlari keluar, kami melihat beberapa orang sudah menutup jalan keluar kami sehingga kami akan mengalami kesulitan untuk melewati lorong ini menuju lorong lain agar dapat keluar dari gedung.
"Jangan bergerak atau kami tembak!" Teriak mereka.
Aku lalu menghela napas dan menggunakan sarung tangan khusus agar dapat menggerakkan benang baja ini sesuai keinginanku. Aku lalu mengangkat tanganku keatas seakan-akan kami menyerah, tetapi itu bukan niatku. Ketika aku mengangkat tanganku, aku melemparkan benang baja itu kearah mereka yang berada di depan kami dan ketika kutarik, lima hingga enam tubuh orang-orang itu tiba-tiba terbagi menjadi dua terpotong oleh benang bajaku…
Yazoo lalu menembak kearah orang-orang yang berada di belakang kami dengan menggunakan dua gun. Bunyi tembakkannya yang keras sedikit bergema di lorong gedung ini dan kami langsung berlari meninggalkan lorong itu setelah semua yang mengepung kami itu dibunuh. Terdengar teriakan histeris di mana-mana dan membuat telingku sakit mendengarnya.
Tanpa kata ampun, kami membunuh siapapun yang kami temui meski mereka tidak bersenjata sekalipun. Yazoo selalu menembak mati target kami hanya dengan sekali tembak, sedangkan aku harus menembak sebanyak dua sampai tiga kali untuk membunuhnya. Ketika peluruku habis, aku lalu menggunakan benang baja karena tidak ingin terkena cipratan darah.
Aku memutilasi mereka yang kami temui hingga beberapa bagian, ada orang yang berteriak histeris ketika melihat sebuah kaki dan kepala yang terpisah dari anggota tubuhnya. Orang itu langsung pingsan dan Yazoo terlihat tertawa melihat orang itu pingsan karena melihat orang yang di mutilasi.
Potongan tubuh orang yang kami temui cukuplah rapi, daging dan tulangnya terpotong sama ratanya karena ketajaman benang baja ini yang melebihi pisau yang baru di beli. Hasil cipratan darahnya juga tidak separah knife yang kugunakan, cipratan darahnya hanya terlempar beberapa puluh senti meter saja sehingga aku tidak akan terkena ciptaran darah.
Pengontrolan benang baja tidaklah mudah, aku perlu beberapa tahun untuk dapat menggerakkannya sesuai keinginanku. Berlatih menggunakan benang ini membuatku selalu terkena luka sayat karena ketajaman benang yang melebihi pisau ini. Ayahselalu melatihku menggunakan benang ini dan memberiku tips yang sangat membantuku agar dapat mengontrol benang baja ini dengan baik. Jadi bisa dikatakan aku sangatlah bangga dengan kemampuanku saat ini.
Saking banyaknya korban berjatuhan, lantai di gedung ini bagaikan jalan darah. Sepatuku dan Yazoo menjadi kotor oleh darah itu, sehingga kami meninggalkan jejak lari kami di lantai yang tidak terkena darah.
Karena pintu keluar sudah pasti di penuhi oleh polisi yang akan datang beberapa saat lagi, kami memutuskan untuk keluar melalui sebuah jendela. Jendela yang pertama kali kami temui ditutupi oleh jeruji-jeruji besi sebesar setengah centimeter. Aku menggunakan benang baja untuk memotong jeruji-jeruji besi itu. Aku membutuhkan waktu semenit untuk memotong besi itu sehingga kami dapat memecahkan kaca jendela di balik jeruji-jeruji besi ini.
Yazoo langsung melompat keluar setelah dia memecahkan kaca dengan gunnya, aku langsung menyusulnya. Kami berlari melewati rerumputan di bandingkan jalan beraspal untuk menghilangkan darah di sepatu kami dan setelah mulai menghilang, kami berlari melewati jalan beraspal dan menuju ke gang tikus.
Di gang tikus, kami mencari toilet umum yang sepi dan jarang di gunakan oleh orang. Ketika menemukan toilet umum, Yazoo mengajak penjaga toilet umum itu masuk kedalam dan aku melihat dia membunuh penjaga toilet itu dengan silent gun.
'Dasar…' pikirku sambil menghela napas melihat Yazoo membunuhnya. '…kurasa ini akan menjadi lebih repot, di mana ya aku dapat menyembunyikan mayat penjaga toilet itu ya?' pikirku sambil menatap sekelilingku. 'hum, kurasa aku cukup memasukannya kedalam salah satu toilet di sini dan mengunci toilet itu. Dinding yang terkena cipratan darah juga harus dibersihkan agar tidak membuat orang yang ingin memakai toilet di sini curiga.' Pikirku sambil menatap ketoilet yang kosong.
Maka akupun melakukan sesuai yang kupikirkan tadi. Mayat itu kuseret kedalam toilet dan aku menyiram dinding yang terkena darah dengan air dan melap sisa darah yang masih melengket di dinding dengan kain bekas yang terdapat di sana. Setelah selesai, aku melempar kain itu kedalam toilet yang sama dengan mayat tadi dan menguncinya.
Setelah itu, aku melepas jubah yang terasa lengket di kulitku karena jubah ini sudah terkena banyak cipratan darah. Aku lalu meletakan jubah itu di samping wastafel dan aku membersihkan wajahku dengan air untuk menghilangkan sisa darah yang masih menempel di wajahku.
'Damn, darah ini terasa sangat lengket di wajahku…' Pikirku sambil menyeka wajahku dari air.
Setelah selesai mencuci wajahku, Yazoo yang sedang menungguku di luar langsung mengajakku kesebuah tempat yang tidak berada jauh dari tempat ini. Tempat itu adalah tempat pembakaran sampah. Yazoo mendekati tempat pembakaran sampah itu dan melempar jubah yang tadi dia kenakan kearah tempat pembakaran…
'Man, ini sama saja dengan membakar uang…' pikirku sambil menatap jubahku dan mengeluarkan semua senjata yang ada di saku, lalu membuangnya juga ketempat pembakaran. 'Kira-kira berapa ya harga jubah itu?' pikirku penasaran sambil menatap jubah itu terbakar.
"Ayo kita segara pulang…" ajak Yazoo yang sambil meninggalkan tempat pembakaran.
"Ya…" kataku yang langsung pergi setelah menatap jubah yang terbakar itu sekali lagi.
Kami berdua keluar dari Hollow Bastion tanpa ada masalah sedikitpun dan langsung menuju Twilight Town. Yazoo mengantarku kembali ke Mansion dan dia memarkirkan motornya di depan pintu Mansion.
Aku segera masuk ke dalam dan melihat Kadaj sedang menonton televise, dia sedang menonton sebuah berita…
"…Sebuah perusahaan terkenal yang di miliki pengusaha sukses, Pak Wolfrain di serang oleh orang yang tidak di kenal. Ada kemungkinan yang menyerang perusahaan itu merupakan terorisme. Kejadian di tempat itu berlangsung cepat dan terdapat banyak korban tewas. Korban tewas sekitar tigapuluh orang lebih…"
Aku mendengar siaran televise itu sambil melihat tayangan tempat kejadiannya. 'Cepat sekali masuk berita…' pikirku kagum.
"Kadaj, here…" Kata Yazoo yang memanggilnya dan lalu melemparkan flash disknya kearah Kadaj.
Kadaj langsung menangkapnya. "Thank Yazoo…" katanya padanya sebelum Yazoo pergi lagi.
"Sama-sama…" kata Yazoo hampir keluar.
"Yazoo! Kau tidak ingin ikut makan malam?" tanyaku.
"Tidak, aku masih ada urusan lain…" Jawabnya sambil membuka pintu keluar.
Di saat yang tepat, sosok Riku terlihat di balik pintu yang Yazoo buka…
"Ah, kau pulang di saat yang tepat~" kata Yazoo sambil menatap Riku. "Ikut aku…" Katanya menarik Riku keluar, padahal dia ingin masuk kedalam…
"Hey!" Kata Riku protes sambil diseret oleh Yazoo.
Maka aku tau, bahwa Riku juga tidak akan ikut makan malam karena pergi bersama Yazoo juga. Padahal aku ingin meminta tolong padanya untuk mengajarkanku sebuah pelajaran malam ini karena aku tidak dapat menyimak pelajaran dengan baik, tetapi karena Yazoo mempunyai urusan dengannya, yah aku harus berkata apa lagi?
"Hari ini siapa saja yang akan ikut makan malam, Kadaj?" tanyaku.
"Kurasa hanya aku dan Loz saja. Hari ini ayah tidak pulang." Jawabnya.
"Ya sudah…" kataku yang berjalan kearah dapur untuk menyiapkan makan malam, tetapi langkahku terhenti di meja makan dan aku berjalan kembali kearah ruang tamu. "Kadaj! Mengapa ada cipratan darah di lantai dan dinding!" kataku yang sedikit teriak.
"Tadi seorang klien bermasalah yang datang dan ayah memerintahkan untuk menghabisinya." Jawab Kadaj. "Oh ya, Sky ikut membantuku menyingkirkannya." Katanya memberitauku.
Lalu aku sadar bahwa lantai di rumah ini dipenuhi oleh jejak darah dari kaki anjing. Aku langsung duduk di lantai melihat banyaknya jejak darah itu lalu aku menunduk dan menghela napas. 'Astaga, ini hanya menambah perkerjaanku saja…' keluhku dalam hati.
Maka aku segera bangun dan menuju ke dapur. Akupun memasak makan malam super cepat agar dapat segera membersihkan seluruh rumah ini dari darah yang mengotori rumah ini…
To Be Continued…
Author Note: Lol, hujan darah di mana-mana~ XD
kurasa chapy berikutnya aku mau coba memasukan light Yaoi. So, review please?
