Author Note: akhirnya update setelah berhari-hari konsentrasiku pecah karena keasikan chat di facebook dan kemarin yang seharusnya publish ga jadi publish gara2 netku ga mau bekerja ==". Well, enjoy~
Troublesome Family
Chapter 5
Pagi hari yang sejuk menyapaku ketika aku terbangun. Kicauan burung yang merdu juga menyambut pagi yang cerah ini. Aku lalu merenggangkan tubuhku dalam posisi duduk di kasur, setelah itu aku menatap ke arah jam digital di meja yang berada di samping kasurku. Waktu menunjukkan pukul 07:15 AM...
"Aaaaaarg!" teriakku kaget bukan main setelah melihat jam digital. "Aku terlambaaaaaaaaaaaaat!" teriakku sambil melompat turun dari kasur dan dengan cepat menuju ke kamar mandi.
Mandi kilat hanya memakan waktu lima menit saja dan aku segera keluar dari kamar mandi dan berjalan kembali ke kamarku hanya dengan menggunakan selembar handuk saja yang menutupi bagian bawahku saja. Kubongkar lemari pakaian hingga berantakan ketika aku memasuki kamarku hingga kutemukan seragam sekolah yang kucari-cari di dalam lemari pakaian yang selalu tersusun rapi ini.
Aku memakainya secepat mungkin dan tidak perduli apakah seragam ini akan kusut atau tidak setelah kupakai terburu-buru. Aku bergegas berlari menuju dapur dan segera membuat breakfast yang mudah dan tidak membutuhkan proses yang berbelit-belit sehingga menyita waktuku yang berharga ini. Sandwich dengan sayur mentah yang masih segar dengan daging ham yang kupanaskan di oven agar segera hangat siap dalam beberapa menit saja.
Kuletakan sandwich itu di meja makan dan aku segera berlari menuju kamarku. Kusambar tas sekolah yang berada di dekat meja belajarku dan aku berlari kembali kearah dapur. Kali ini aku menyambar sandwich yang tadi kubuat dan aku memakannya sambil berlari keluar dari mansion, menuju sekolah.
Jarak antara mansion dan sekolahku cukuplah jauh, butuh tigapuluh menit jika berjalan santai, tapi jika berlari, hanya memakan waktu sepuluh menit saja karena aku sudah terbiasa lari dengan kecepatan yang melebihi anak normal seusiaku karena...
Well, ini di perlukan jika terjadi kegagalan dalam misi yang sedang dilaksanakan. Di sekolah, belum ada seorangpun yang dapat mengalahkan kecepatan lariku dan aku merasa cukup bangga akan itu karena itu satu-satunya hal yang menonjol dariku, yaitu olahraga.
Di tengah perjalananku menuju sekolah, aku berpapasan dengan Roxas di tikungan, dia terlihat tergesa-gesa, sama seperti diriku...
"Pagi Roxas..." Sapaku sambil memperlambat lariku agar kecepatan lari kami sama.
"Pagi..." Balasnya sambil menatapku. "…Kau tahu, gara-gara mengajarkanmu lewat telepon hingga larut malam, aku jadi terlambat bangun dan tidak sempat mandi sama sekali..." katanya memberitahukanku sambil menghela napas.
"Oh, maaf..." kataku sambil tertawa pelan.
Gerbang masuk sekolah terlihat telah tertutup dari kejauhan karena pelajaran telah mulai dari pukul tujuh pagi dan kurasa kami berdua ini sudah terlambat sekitar tigapuluh menit lebih...
"Yah, jadi ikut pelajaran kedua deh..." kataku sambil tertawa pelan. "...kurasa pelajaran pertama pasti telah selesai."
"Ya..." kata Roxas setuju dengan perkataanku, dia mengatakannya sambil tertawa juga. "Ayo Sora, kau lompat ke atas pagar tembok ini dan ulurkan tanganmu setelah kau naik agar aku dapat memanjat tembok pagar yang tinggi ini." katanya sambil merapatkan jari-jarinya dan dia memasang kuda-kuda supaya dapat melemparku setelah aku menginjak jemarinya agar dapat melompati pagar setinggi dua setengah meter itu.
Aku berlari ke arah Roxas dan menginjak jemarinya sebelum aku melompat. Ketika hendak melompat, aku bertumpu pada salah satu kakiku yang sedang menginjak jemari Roxas. Bersamaan ketika aku hendak melompat, Roxas melemparku dan membuat lompatanku menjadi lebih tinggi bagaikan sedang terbang di langit biru ini.
Tubuhku terasa sangat ringan di udara dan ketika kakiku menyentuh tembok atas, tubuhku tidak kehilangan keseimbangan ketika menginjakkan kaki di lebar tembok yang hanya sepuluh senti. Kurasa karena keseringan dilatih memanjat tembok oleh ayah, aku jadi tidak punya masalah berdiri di tembok ini...
Lalu kuulurkan tanganku kebawah dan menarik Roxas yang berada di bawah setelah dia melompat sekali untuk meraih tanganku.
"man, kau tahu Sora? Aku ini selalu heran padamu..." katanya sambil memanjat tembok ini ketika kutarik dia keatas. "...kau mempunyai tenaga sebesar apa sih? Berat badanku dan berat badanmu itu hampir sama, tetapi kau tidak terlihat kesulitan sedikitpun dalam menarikku. Padahal kau ini kurus dan lebih terlihat seperti tulang tanpa daging sedikitpun dan hanya dilapisi oleh kulit." katanya heran, tetapi sekaligus bercanda.
"heh..." kataku sambil tertawa. "...biarpun terlihat kurus seperti yang kau katakan tadi, Roxas, tetapi begini-begini aku cukup kuat karena berhasil mengalahkan Axel, sang ketua karate di sekolah ini yang juga selalu menang di berbagai pertandingan yang pernah dia ikuti itu." kataku agak menyombongkan diri.
"yah, aku tahu sih..." katanya sambil tersenyum. "...tapi Sora, mengapa selama ini kau tidak ikut klub manapun? Padalah kau sangat ahli di bidang olahraga meski nilai mata pelajaranmu sangat payah." katanya heran.
Aku lalu tersenyum mendengar pertanyaannya. sebenarnya sih aku mau ikut sebuah klub, tetapi jika memikirkan pekerjaanku yang suka datang tidak menentu, ikut sebuah klub hanya akan merepotkanku saja. "well, kau tahu bukan bahwa aku ini anak angkat?" tanyaku dan Roxas mengangguk. "karena aku anak angkat, maka aku harus mengerjakan semua tugas rumah tangga..." jelasku sambil mencari-cari alasan mengapa aku tidak ikut klub manapun, tapi alasanku itu bukanlah kebohongan, karena membersihkan rumah memang tugasku sih. "ah, tapi bukan berarti aku dipaksa oleh keluargaku. Kau tau, semua keluargaku yang ada hanyalah cowok. Betapa kotornya rumah itu karena tidak satupun saudaraku yang ingin membersihkannya! Kalau bukan aku yang melakukannya! Siapa lagi?" tanyaku. "lagipula jika tidak ikut klub aku jadi punya waktu luang dan aku lebih senang menghabiskan waktu luang itu untuk bermain skate board bersamamu saja,Roxas!" jelasku sambil tersenyum.
"Begitu ya..." katanya sambil tersenyum.
Kami berdua melompat turun dari tembok pagar dan berlari menuju kearah sekolah. Beberapa kelas yang kami lewati terlihat ribut karena jam pelajaran pertama telah berakhir...
"hey Roxas! Nanti sepulang sekolah kita pergi main skate board, ya? Hari ini aku ada waktu untuk bermain karena semua urusan rumah sudah sebagiannya selesai kukerjakan kemarin." ajakku dengan semangat.
"sure!" jawab Roxas sambil tersenyum.
Maka kami berdua menuju kelas kami masing-masing karena pelajaran kami hari ini berbeda. Pelajaran keduaku bahasa ingris dan pelajaran kedua Roxas bahasa jepang...
Ketika jam makan siang tiba, aku berjalan menuju kantin. Aku duduk di meja dimana Roxas dan ketiga kawannya yang sekaligus kawanku, Heyner, Pance, dan Olette berada.
"hey guys!" sapaku dengan senyum ketika duduk di meja mereka.
"hey Sora!" Jawab keempat temanku itu bersamaan.
"So, topic apakah yang sedang kalian bicarakan? Kalian terlihat heboh sekali…" kataku sambil duduk di kursi dekat Roxas.
"Kami sedang membicarakan tentang teroris yang menyerang perusahaan di Hollow Bastion! Kami sungguh penasaran, kira-kira apa yang mereka incar di perusahaan itu ya?" Tanya satu-satunya perempuan yang duduk di sekitar meja kami, Ollete dengan heran.
"hum, kurasa mereka sedang mencari sesuatu yang penting! Menurut saksi mata, teroris itu masuk dari pintu belakang dan langsung menuju ruang keamanan…" kata pemuda berambut blond seperti Roxas, dia adalah Heyner.
"Itu sungguh aneh, bukan? Mereka sudah susah payah masuk, tapi mereka malahan langsung menuju ruang keamanan, apa yang mereka inginkan di sana?" Tanya Ollete yang bertambah bingung.
"Kurasa niat awal mereka adalah merusak semua kamera pengawas yang ada di ruang keamanan supaya aksi mereka tidak ketahuan karena kamera pengawasnya rusak. Tapi sayangnya, ketika mereka menyerang ruang keamanan untuk menghilangkan jejak mereka, keberadaan mereka di ketehui oleh seseorang sehingga mereka terpaksa membatalkan rencana mereka sebelum melaksanakan rencana mereka…" Jelas pemuda berambut hitam di samping Heyner yang bernama Pance.
'Hampir tepat, Pance, tapi dugaanmu salah karena kami memang ada urusan di ruang keamanan…' pikirku sambil tersenyum. "Kurasa mereka tidak akan menyerang lagi karena saat ini penjagaan perusahaan itu pasti sangatlah ketat sejak kejadian itu!" kataku berpura-pura menduga-duga, padahal aku tau bahwa kami tidak akan menyerang ke sana lagi.
"Ya, perkataan Sora benar. Karena gagal, kurasa mereka tidak ada niat menyerang dan sedang merencanakan ulang strategi mereka. Tetapi yang sangat aku herankan, apakah yang mereka incar dari tempat itu? Apakah uang ataukah dendam?" Tanya Roxas dengan heran.
"Well, kurasa pertanyaan tentang teroris itu tidak akan terjawab hingga polisi memberitaukannya pada media masa…" kataku sambil menatap Roxas.
"ya…" kata Roxas sambil menatapku.
Jam makanpun berakhir dan itu juga yang membuat discusi kami yang singkat itu berhenti. Kami menuju kelas kami masing-masing. Kebetulan pelajaran aku, Roxas dan Heyner setelah makan siang ini sama, sehingga kami pergi bersama-sama.
Ketika jam sekolah telah berakhir, seluruh murid yang berada di kelasku langsung menuju keluar dengan cepat, hanya aku saja yang keluar paling terakhir setelah semuanya keluar karena aku melamun dan tidak menyadari bahwa kelas telah bubar karena pelajaran yang di jelaskan oleh guru sangat membosankan dan membuatku mengantuk. Di pintu keluar kelasku ini, aku melihat Roxas sedang menyandar di pintu keluar karena menungguku yang sedang melamun ini. Dia menungguku karena kita telah berjanji akan main skate board di taman…
"Ayo!" kata Roxas dengan semangat ketika aku berjalan mendekati pintu keluar, dimana dia sedang menyandar.
"Yeah!" kataku dengan semangat.
Kami berdua bergegas ke loker kami. Aku membuka lokerku yang terkunci untuk menyimpan beberapa buku dan mengambil skate board yang selalu tersimpan di loker. Sebenarnya skate board itu bukan milikku, melainkan milik Roxas. Dia meminjamkannya padaku karena dia memiliki tiga buah skate board…
Setelah mengunci kembali lokerku, kulihat Roxas mengeluarkan skate boardnya dari lokernya dan mengunci lokernya.
"Hey Roxas, mengapa hari ini kau tidak pergi ke sekolah menggunakan skate boardmu yang satu lagi yang selalu kau pakai kemanapun itu? Biasanya kau selalu menggunakannya setiap hari…" Tanyaku heran.
Biasanya Roxas selalu berangkat sekolah menggunakan skate board. Well, dia senang sekali bermain dengan skate boardnya dan biasanya kemanapun dia pergi, pasti skate boardnya selalu ada dan selalu dia pakai untuk berjalan-jalan…
"Well, skate board tersayangku itu patah…" jelasnya sambil menghela napas yang dalam. "…gara-gara memenangkan pertandingan skate board di taman kemarin, lawan tandingku marah dan langsung mematahkan skate boardku." Katanya dengan sedih.
"Jahat sekali…" Kataku dengan nada marah.
"Yeah…" Katanya setuju. "…sebenarnya aku ingin membeli skate board lagi, tapi uangku yang biasanya kutabung habis karena aku membeli PSP yang harganya sangat mahal." Keluhnya.
"Hey, bagaimana jika aku saja yang membelikannya untukmu setelah kita main?" Tanyaku dengan senyum.
"Huh? Tidak apa-apa nih? Aku jadi tidak enak…" Katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali itu.
"Yeah!" Jawabku sambil tersenyum. "…lagipula kau selalu meminjamkan skate boardmu ini padaku! Jadi sebagai balasan karena selama ini kau selalu meminjamkannya padaku, aku ingin membelikan sesuatu padamu…" Jelasku sambil menatapnya.
"Thanks a lot…" Kata Roxas dengan senyum.
"You are welcome…" kataku sambil tersenyum juga.
Maka kami berdua menuju ke taman bermain setelah keluar dari sekolah. Di taman, banyak pemuda-pemudi seumuran dan beberapa tahun lebih muda maupun tua dari kami bermain di sana. Ada yang bermain skate board, ada pula yang berkencan, ada pula yang berjalan-jalan di sekitar taman yang hijau ini, ada pula yang sedang bersantai di kursi taman sambil membaca buku, dan masih banyak lagi kegiatan yang mereka lakukan di taman ini.
Aku dan Roxas bergabung dengan pemuda yang bermain skate board di taman ini. Terkadang aku dan Roxas menantang mereka dan kadang pula juga kami mempelajari gerakan baru dari mereka. Sebenarnya sih aku tidak semahir Roxas bermain skate board, yah tapi aku bisa melakukan beberapa gerakan sulit karena Roxas telah mengajariku dan memberitaukan triknya agar dapat kukuasai dengan cepat.
Setelah kami berdua puas main skate board di taman, kami berdua menuju ke sebuah took yang menjual skate board. Di sana banyak model skate board dan parahnya, Roxas bingung hendak memilih model skate board yang mana karena dia suka semua model skate board di sini sehingga aku di suruh membantunya memilih skate board hingga dua jam lebih.
Setelah memilih hingga dua jam lebih, kami masih harus berdiskusi dengan pemilik toko ini agar kami di berikan discount. Karena pemiliknya keras kepala tidak mau memberikan discount, kami berdua jadi ikut-ikutan keras kepala dan ngotot mau diberikan discount. Satu jam berlalu dalam diskusi kami mendapatkan discount, karena pemilik toko itu lelah berdebat dengan kami selama sejam, akhirnya dia mau memberikan kami discount dan tentu saja kami berdua gembira atas kemenangan kami.
"Yeah! Terima kasih banyak, paman!" kataku dengan senyum sambil membayar skate board yang telah di discount itu.
"Ya…" kata paman itu dengan kesal karena kalah berdebat dengan kami.
Aku dan Roxas keluar dari toko itu dengan senyum kemenangan dan tentu saja wajah paman pemilik toko tadi masih terlihat kesal…
"Ini Roxas!" kataku sambil menyerahkan skate board yang kubeli ini.
"Thanks a lot, Sora! Aku pasti akan menjaga dan merawat skate board ini sebaik-baiknya karena ini adalah pemberianmu!" katanya tersenyum sambil menerimanya.
"Hm!" kataku sambil tersenyum. "Ah, aku harus pulang…" kataku baru sadar bahwa hari sudah sedikit gelap karena waktu kami lebih banyak terbuang ketika di dalam toko tadi. "…sampai jumpa besok, Roxas!" kataku sambil berlari menjauh darinya.
"Yeah!" katanya sambil melambaikan tangannya padaku. "See ya tomorrow, Sora!" katanya dengan senyum bahagia.
To Be Continued…
Author Note: well, singkat dan tidak menarik ya? Well, soalnya aku ingin mengenalkan hubungan Sora dengan Roxas dulu, karena nanti peran Roxas di cerita ini cukup menarik –bagiku saja kurasa karena akukan authornya! *Plak!*-. So, review?
