Author note: update! Update! XD
Capek banget ngetik di hp! XD tapi jadi enak ngedit di kompie~ ga boros waktu~ hehehehe~ enjoy the story guys~

Troublesome family

Chapter 7

Ketika masuk ke dalam dapur itu yang berhubungan dengan pintu keluar, nasib sial menimpa kami. Kami melihat seseorang di dalam saat kami masuk, kurasa dia salah seorang penjaga yg sedang berjaga di luar dan saat ini sedang menyedu kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya...

Dengan cepat, Kadaj segera menyerang penjaga itu selagi focusnya tertuju pada kopi yang sedang dia sedu. Dia memukul penjaga itu dan penjaga itu pingsan hanya dengan satu pukulan dari Kadaj. Kadaj lalu menahan tubuh lelaki itu sebelum tubuhnya terjatuh kelantai dan menimbulkan bunyi yang akan menarik perhatian penjaga lain.

"That was close one..." Kataku sambil menyeka keringat dingin di dahiku yang muncul karena kukira misi kami akan gagal secepat ini, padahal kami baru saja memulainya...

"Lebih baik kita sembunyikan orang ini..." Kata Kadaj sambil mencari tempat untuk menyembunyikan penjaga yang bertubuh besar ini. "... Sora, ikat dia dulu..." Katanya sambil memeriksa tempat yang cocok untuk menyembunyikan penjaga itu.

"Yeah..." Kataku sambil mendekati penjaga yang pingsan itu dan kuikat dia sekuat-kuat mungkin.

Kubekap mulutnya juga agar tidak dapat berteriak dan meminta tolong ketika dia sadar...

"Sembunyikan dia di sini, Sora." Perintah Kadaj setelah aku selesai mengikat penjaga itu. Kadaj terlihat membuka sebuah lemari yang cukup besar. "Tubuhnya yang besar akan muat di dalam lemari ini, walaupun akan sangat sulit memasukannya..." Katanya sambil menatap luas lemari itu.

Maka aku menyeret tubuh lelaki yang lebih besar dariku, aku tidak mengalami masalah ketika menyeretnya karena sudah terlatih untuk membawa sesuatu yang berat dan pastinya beberapa kali lipat lebih berat dari tubuhku. Kadaj membantuku menekukkan tubuh lelaki itu dan kami masukan dia kedalam lemari. Kadaj mengunci lemari itu dan melempar kunci lemari itu kesuatu tempat...

"Ayo, kita harus bergegas menuju target kita..." Kata Kadaj sambil beranjak dari lemari tempat kami menyekap penjaga itu.

Aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Tangga menuju lantai dua cukup dekat seperti penjelasan Kadaj, kami menaiki tangga itu untuk menuju lantai dua. Rasanya aku sedikit tegang saat menaiki tangga, seperti yang Kadaj jelaskan sebelumnya, bahwa terdapat penjaga yang berjaga di setiap lantai, jadi kami sangat berhati-hati ketika menaiki tangga. Meski berhasil menaiki tangga menuju lantai dua dan sekarang kami sedang menaiki tangga menuju lantai tiga dengan aman, aku merasa bahwa ada yang mengawasi kami...

Kurasa ini hanya perasaanku saja, karena jika memang ada yang mengawasi, maka Kadaj pasti akan memperingatiku karena aku adalah tipe yang ceroboh...

Lantai tiga, tempat target kami berada. Kewaspadaanku kutingkatkan semaximal mungkin supaya aku tidak bertindak ceroboh. Terdapat lima penjaga yang berjaga di sekitar tangga, tiga berjalan ke sana kemari dan dua berada tidak terlalu jauh dari tangga ini...

Kadaj memberiku isyarat agar bergerak cepat dalam menghadapi mereka. Dia lalu mengeluarkan silent gun, dia berlari keatas dengan cepat dan aku menyusulnya di belakang. Bersamaan setelah kami menginjakkan kaki di lantai tiga, bersamaan dengan itu, pelatuk gun kami tekan. Tembakkan Kadaj sangat cepat dan jitu, dia dapat menembak tiga penjaga sekaligus dalam lima detik, dan aku hanya dapat menembak dua penjaga dengan satu tembakkan meleset...

Kecepatan menembak Kadaj merupakan yang tercepat dalam urutan kedua di keluarga ini. Yazoo-lah yang mendapatkan urutan kesatu karena kecepatan tembak dan ketepatan yang nyaris seratus persen, sehingga hampir seluruh tembakkannya tidak pernah meleset. Sedangkan aku, aku adalah penembak yang paling lambat dan payah di keluarga ini...

Ternyata masih ada penjaga lain yang terdengar berlari ke arah sini setelah mendengar teriakan penjaga yang terkena tembakkan kami, meski teriakkannya tidak kuat. Kadaj terlihat memasang ancang-ancang untuk menembak kearah suara lari yang terdengar. Dari suara lari penjaga itu, aku dapat mengira-ngira bahwa yang berlari kearah kami ada dua orang karena langkah lari mereka tidak teratur, suara lari itu searah dengan tempat target kami berada.

Aku-pun memasang ancang-ancang untuk menembak juga. Kututup mataku dan mendengarkan arah pastinya mereka berlari di tengah kegelapan dan ketika sosok mereka masih belum terlihat...

Kugeser sedikit gunku ke kanan, sepertinya Kadaj tidak akan menembak sebelum aku menembak, kurasa dia ingin melihat apakan kemampuanku semakin baik atau sama saja. Kepekaan telingaku sangat bagus jika aku berkonsentrasi, herannya, aku dapat mendengar detak jantung Kadaj dan kedua penjaga yang berlari kearah kami dengan baik jika aku berkonsentrasi dengan mata tertutup.

Setelah hatiku mengatakan posisi gunku berada tepat di jantung salah satu penjaga itu, maka aku menarik pelatuk gun. Terdengar teriakan setelah beberapa saat, lalu aku menggeser silent gun-ku kearah kanan sedikit dan segera menarik pelatuk gun itu. Terdengar teriakan kecil lagi beberapa saat setelah aku menarik pelatuk...

"Tembakkan terakhir tidak mengenai vital..." Kata Kadaj memberitahu.

Memang benar apa yang dia katakan, aku masih dapat mendengar erangan dan detak jantung yang lemah dari arah penjaga itu terkapar setelah terkena tembakanku...

Kadaj lalu menembak dengan mengira-ngira posisi penjaga itu dari arahku menembak. Hebatnya, tembakkannya tepat mengenai vital, yaitu jantung penjaga itu dan erangan kesakitan dari penjaga itu tidak terdengar kembali...

Kami mendekati mayat penjaga itu dan memastikan sepenuhnya bahwa dia telah tewas. Tidak jauh dari situ, aku dapat melihat pintu kamar menuju target kami, jaraknya hanya beberapa meter saja saat ini. Tanpa rasa waspada sedikitpun, Kadaj langsung mendobrak pintu itu, tempat target kami. Yang mengejutkan, target kami sepertinya sudah tahu kehadiran kami karena dia langsung menatap kearah Kadaj ketika dia mendobrak pintu kamarnya. Expresi wajah target kami tidak terlihat ketakutan, sebaliknya, dia terlihat sangat tenang sekali...

"Sudah kuduga akan ada pembunuh bayaran yang datang malam ini..." Kata target kami dengan tenang.

"Dan sepertinya kau juga menyiapkan pembunuh bayaran juga untuk membunuh kami, bukan?" Tanya Kadaj padanya.

'Pembunuh bayaran?' Pikirku heran.

Tiba-tiba Kadaj mendorongku hingga aku terjatuh. Bersamaan ketika aku terjatuh, sebuah peluru melintas dan mengenai rambutku sedikit. Kurasa, jika tadi Kadaj tidak mendorongku, kurasa peluru itu sudah masuk dalam kepalaku...

Aku dan Kadaj sama-sama menoleh ke arah peluru itu ditembakkan. Terlihat tiga orang lelaki dengan jubah berkerudung, sama seperti jubah kami karena jubah ini sangat mudah di pesan, mengarahkan gun kearah kami. Wajah mereka tidak dapat kulihat karena tertutup kerudung mereka,dan yang pastinya mereka juga tidak dapat melihat wajah kami juga, tetapi aku dapat melihat sedikit rambut mereka yang terjulur keluar dari kerudung mereka...

Salah satu dari pembunuh bayaran itu terlihat seumuran denganku, menurutku saja karena tinggi badannya hampir sama denganku. Herannya, aku merasa bahwa aku mengenalnya, kurasa hanya perasaanku saja, tidak mungkin aku mengenalnya...

Salah seorang dari mereka lalu menembakku yang masih belum sempat berdiri, aku langsung berguling kesamping untuk menghindari peluru itu dan langsung berdiri. Kakiku terkena sedikit timah panas itu dan menimbulkan luka lecet di kakiku, meski sakit, aku tetap dapat bergerak dengan normal. Kedua pembunuh bayaran tadipun ikut menembakki kami dengan silent gun milik mereka.

Kadaj tidak mau kalah dari mereka, dia membalas tembakkan mereka sambil berlari menghindar. Sedangkan aku, aku hanya dapat berlari dan menghindari peluru itu hingga aku dapat tempat persembunyian aman dari peluru-peluru itu. Aku-pun hanya menembak setelah bersembunyi dari satu tempat lain ke tempat lain...

Pembunuh bayaran ini sepertinya profesional, sama seperti kami. Mereka dapat menghindari tembakkanku dan tembakkan Kadaj yang akurat. Terkadang aku harus menggunakan meja untuk melindungiku dari peluru, kubuat meja itu terbaring di lantai agar menjadi pelindung sementara untukku. Kalau Kadaj tidak memerlukan benda lain untuk melindunginya, dia menggunakan gunnya sendiri untuk menghalau timah panas itu mengenainya, itu merupakan technical tingkat tinggi, hingga sekarang aku masih ragu meniru caranya meski aku sudah dilatih agar dapat melakukannya...

Sekali mereka berhenti menembak untuk mengisi peluru mereka yang habis, aku menggunakan kesempatan itu untuk menyerang balik.

Setiap kali aku menembak, tembakkanku pasti di hindari mereka. Selagi menembak, aku menyadari bahwa salah seorang dari ketiga pembunuh itu, yang kukira seumuran denganku, tidak terlihat dimanapun meski aku mencarinya selagi berkonsentrasi menembak...

"Sora! Menunduk sekarang!" Perintah Kadaj yang terlihat mengarahkan gunnya padaku.

Sesaat aku menunduk, aku dapat merasakan angin kencang melewati atas kepalaku, dan jika dugaanku tepat, itu adalah peluru yang di tembakkan oleh Kadaj...

"Arg!" Teriak seseorang tepat di belakangku.

Ketika aku menoleh kebelakang, kulihat salah seorang pembunuh yang kukira seumuran denganku itu terlihat berjalan menjauh dariku sambil memegangi bahunya yang terkena luka tembak. Kulihat kerudung yang menutupi wajahnya terbuka, dia terlihat menyandar di tembok dengan expresi kesakitan...

Mataku membesar dan aku tidak percaya dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku sangat mengenal wajah pembunuh itu, bukan hanya sekedar pernah melihatnya di sekolah, tetapi dia adalah sahabatku yang paling dekat dan sangat akrab denganku ketika di dalam sekolah maupun di luar sekolah...

Dia memiliki rambut blond dengan mata biru, sama seperti teman di sekolahku itu. Gaya rambutnya juga sama persis dengan temanku itu. Aku sangatlah yakin, dia dan teman sekolahku adalah orang yang sama, dia adalah temanku, Roxas...

To Be Continued...

Author note:Uoh! Is that Roxas! O.O?

Sora: are you sure it was Roxas, Ven!
Me: yep! It was him! -smirk-
Sora: you're not lying to me right? -wondered-
Me: then, let's ask Roxas! XD -pulling Roxas-
Roxas: what up? -wondered-
Me: it was you, right? -menunjuk kearah cerita-
Roxas: dunno, you're the one that make this story, why you're asking me?
Me: aww! Because you're the one that play!
Roxas: well, it true...
Sora: so, it was you or not?
Roxas: -smirk- it was a secret.
Sora: aww! Unfair! Tell me!
Roxas: ask it to Ven~ -go away-
Me: bye Sora~ -running away-
Sora: hey! Geez, no one want to tell me! See ya at the next story guys... -leaving with deep sighed-