Author Note: yey~ update… -so sleepy- Z.Z
enjoy the story? –yawn-

Troublesome Famlily
Chapter 8

"Roxas..." Kataku tanpa sadar saat melihat wajahnya dengan sangat jelas.

Roxas langsung menatapiku ketika aku menyebut namanya. Dahinya mengkerut, kurasa dia heran mengapa aku bisa mengetahui namanya...

"Sora!" Teriak Kadaj, dari nadanya itu seperti sebuah peringatan.

Ketika aku menoleh, aku melihat seseorang hendak menembakku dan aku langsung berlari untuk menghindarinya. Ketika berlari menghindari tembakkan yang tertuju padaku terus-menerus, kulihat Kadaj memberiku instruksi untuk menahan napas dan aku segera melakukannya.

Kadaj terlihat melempar bom berisi gas tidur ke arah salah seorang pembunuh bayaran itu. Asap putih langsung menutupi pandanganku ketika bom itu meledak. Aku langsung menggunakan masker yang diberikan oleh Kadaj dengan cepat agar aku tidak mengantuk menghirup gas tidur itu.

Di saat seperti ini, aku sama sekali tidak dapat mengandalkan penglihatanku untuk melihat musuh. Lalu aku mendengar bunyi, seperti bunyi benda jatuh. Kurasa salah seorang pembunuh itu pingsan akibat gas tidur ini. Karena bunyi benda jatuh itu cukup dekat denganku, aku dapat menduga-duga bahwa Roxas lah yang pingsan, kurasa...

Berarti sisa dua pembunuh bayaran yang tidak pingsan terkena gas tidur ini. Terdengar suara tembakkan yang bukan berasal dari silent gun, karena tembakkan itu menimbulkan bunyi. Tembakkan itu terdengar dua kali dan asalnya berasal dari kamar target kami. Bersamaan dengan bunyi tembak tadi, terdapat suara kaca pecah juga...

"Jangan-jangan...' Pikirku sambil berlari menuju kamar target kami yang tidak terlalu jauh. Target kami terlihat tewas tertembak...

Dari kaca yang pecah itu, aku segera melihat ke bawah dengan hati-hati agar tidak terkena pecahan kaca. Kulihat Kadaj telah berada di bawah, dia menatap ke atas, ke arahku...

'Bagaimana caranya turun!' Pikirku terheran-heran.

Lalu kulihat dia menunjukkan benang baja yang berada di tangan kanannya, lalu menunjuk kearahku. Ternyata setelah kuperhatikan baik-baik, yang dia tunjuk bukanlah diriku, melainkan pisau yang tertancap tepat di jendela kusen ini.
Sebenarnya benang baja bisa di gunakan seperti tali biasa dan perlu kehati-hatian yang sangat tinggi agar benang ini tidak melukai dirimu sendiri.

Kuikat benang bajaku pada pisau yang tertancap kuat di kusen jendela itu. Aku melompat turun dengan hati-hati agar benang baja ini tidak memotong pisau yang menjadi penyanggaku ini. Aku turun secara perlahan-lahan tapi pasti. Sayangnya, ternyata ada seorang pembunuh yang menyadari bahwa kami hendak lari. Dia mengarakan silent gunnya ke arahku dan menembakkannya. Aku melompat kesamping untuk menghindarinya.

Bersamaan ketika aku melompat ke samping, tanpa sengaja aku menarik benang baja terlalu kuat dan memotong pisau yang menjadi penyanggaku ini...

Keringat dingin langsung bermunculan di dahiku. Tubuhku terjatuh dengan cepat menuju ke bawah dan akan menabrak tanah yang keras beberapa detik lagi. Aku langsung memejamkan mata, siap merasakan tanah yang sangat keras di bawah...

Bukannya rasa tanah yang keras dan dingin yang kurasakan ketika aku sampai di bawah, tetapi yang kurasakan adalah tempat yang tidak terlalu keras dan hangat...

"Hampir saja..." Kata Kadaj sambil menghela napas panjang.

Ketika membuka mataku secara perlahan, aku melihat tangannya mendekapku dengan erat dan dia terduduk di tanah. Sepertinya dia menangkapku ketika aku terjatuh...

Mukaku memerah ketika menyadari dia memelukku dengan erat. Tentu saja dia tidak tahu mukaku memerah, karena mukaku berada di dadanya...

Kulihat pembunuh bayaran itu tidak menembaki kami dari atas. Dia terlihat lemas, kurasa efek dari gas tidur tadi. Kurasa dia melepaskan kami dengan berat hati karena kondisinya yang tidak memungkinkan dirinya untuk menyerang.

Aku tidak melihat satu pun penjaga di bawah sini, kurasa tujuan Kadaj menggunakan gun biasa untuk memancing seluruh penjaga di bawah untuk menuju ke atas, ke lantai tiga di mana majikan mereka berada. Sehingga tidak terdapat satu pun penjaga yang berjaga di bawah sini...

Kadaj lalu melepaskan dekapannya yang erat. "Ayo kita pergi..." Ajaknya sambil berdiri.

"Yeah..." Kataku sambil berdiri juga. 'Kuharap Roxas baik-baik saja..." Pikirku.

Kami kembali ke Twilight Town secepatnya. Dengan tubuh yang lelah, aku berjalan memasuki Mansion bersama Kadaj. Kulihat, ada seorang pencuri yang berhasil memasuki mansion ini, dia terlihat mencoba mencuri sesuatu...

Kadaj langsung mengarahkan silent gunnya pada pencuri itu.

"Jangan!" teriakku sambil menggenggam tangannya yang memegang silent gun.
Peluru yang ditembakkan oleh Kadaj meleset dan itu membuatku lega, bukan karena pencuri itu selamat, melainkan dinding Mansion ini yang selamat dari cipratan darah, meski tembok itu sedikit retak terkena peluru tadi...

Pencuri itu gemetaran melihat peluru itu berhenti tepat di samping kepalanya. Saking takutnya, pencuri itu langsung pingsan...

"Hari yang melelahkan..." Keluhku sambil berjalan mendekati pencuri yang pingsan itu. "...aku tidak menyangka bahwa salah satu pembunuh itu adalah Roxas, teman satu sekolahku..." Kataku sambil mengikat tangan pencuri itu dengan erat.

"Well, that normal, Sora..." Katanya sambil berjalan mendekatiku yang sedang mengikat tangan pencuri itu. "...jika kau bertemu salah satu teman sekolahmu dalam misimu yang lain, kau tidak perlu heran."

"Kenapa?" Tanyaku sambil menatapnya dengan heran.

"Karena hampir seluruh murid yang bersekolah di sekolahmu merupakan pembunuh dan juga calon pembunuh bayaran." Jelasnya dengan senyum sinis dan aku menatapnya dengan mata melotot. "Kelapa sekolah di sekolahmu itu merupakan mantan pembunuh bayaran. Sekolah itu di dirikan khusus untuk memberi pendidikan bagi para pembunuh bayaran yang ingin bersekolah. Tidakkah kau tahu bahwa hampir setiap bulannya ada murid yang menghilang dan tidak pernah masuk sekolah lagi?"

"Um, tidak..." Jawabku pelan.

"Karena hampir setiap bulannya terdapat murid sekolah yang tewas dalam misi mereka." Jelasnya sambil menatapku. Lalu dia mengangkat pencuri yang kuikat itu dengan satu tangan saja.

"Mau kau apakan?" Tanyaku ketika dia mengangkat pencuri itu.

"Akan kujadikan dia mainan dan makanan Sky." Jawabnya sambil tersenyum sinis. Dia lalu menciumku sedetik dan mukaku langsung memerah. "Good night." Katanya sambil berjalan keluar, kehalaman belakang.

"Ni...night..." Kataku dengan muka memerah.

Sebenarnya, Sky bukanlah sembarangan anjing. Dia adalah anjing pembunuh yang sangat terlatih, tidak terlihat bukan? Tetapi, sesungguhnya dia sangat berbahaya, ketika diperintahkan untuk menyerang, anjing manis itu langsung berubah menjadi sangat menyeramkan. Dia mengigit dengan sangat kuat, bahkan mencabit-cabit daging siapa pun yang dia gigit dan memakannya! Setelah memakan mangsanya, dia akan menguburnya di halaman belakang dengan sangat rapi, sehingga kami tidak perlu repot-repot membersihkan mayat itu...

Yang paling merepotkan adalah membersihkan bulunya yang putih bersih dari darah. Biasanya, karena tidak bisa hilang, aku terpaksa mencukur seluruh bulunya hingga tidak tersisa...

Aku menguap dengan mulut yang terbuka sangat lebar, rasanya tubuh ini sudah mau shut down karena kehabisan baterai. Aku harus segera tidur dan mengisi energiku untuk hari esok yang pastinya sama melelahkannya seperti saat ini...

~ the next morning ~

Ketika pagi tiba, aku terbangun oleh bunyi alarm yang aku set di hpku. Dengan perasaan kesal, aku mematikan alarm itu karena badan dan mataku masih terasa berat. Tidur hanya beberapa jam saja membuatku sangat mengantuk sekali. Aku berjalan ke kamar mandi secara perlahan, dengan mata tertutup sambil meraba-raba dinding agar tidak menabrak. Mataku terasa sangat sulit untuk dibuka dan harus kubuka paksa jika aku menabrak sesuatu, seperti menabrak kaki meja, tetapi setelah itu tertutup kembali.

Berjalan sekitar limabelas menit sambil meraba dinding, aku berhasil menemukan pintu kamar mandi dengan mata tertutup. Aku tahu itu pintu kamar mandi karena bentuk kunci kamar mandi yang berbeda dengan kunci pintu biasa. Tadi aku sempat salah masuk, karena pintu ruang cuci memiliki kunci yang sama, aku sempat mengira itu adalah kamar mandi sampai menabrak keranjang pakaian kotor...

Aku membuka pintu kamar mandi dan meraba-raba kedepan agar tidak menabrak. Tidak kusangka aku menabrak sesuatu yang terlewati oleh tanganku yang meraba-raba di depan.

"Ow..." Kataku sambil memegangi wajahku yang sakit karena membentur sesuatu.

Kubuka mataku perlahan dan melihat punggung Riku yang tidak tertutupi sehelai pakaian pun. Oh my god! Dia sedang half naked! Ternyata dia baru saja hendak mandi!

"Ma...maaf..." Kataku sambil melangkah mundur dengan muka memerah.

"Tidur sambil berjalan itu sungguh tidak baik, Sora. Terutama pantless... " Katanya memberitahu dengan senyum sinis.

Aku menatap ke bawah dan mukaku memerah padam. Astaga, aku hanya mengenakan celana dalam! Aku langsung menurunkan bajuku yang cukup panjang untuk menutupi kakiku ini.

"So, want to took a bath with me?" Katanya menawarkan dengan senyum sinis.

"I... I think I pass!" Teriakku sambil berlari keluar dari kamar mandi.

Aku berlari secepat mungkin sebelum diserang oleh Riku, karena kamar mandi termasuk tempat berbahaya, bagiku. Terkadang aku diserang oleh Riku saat aku mengantuk, dan untungnya, hingga saat ini aku berhasil lolos dari serangannya...

"Aku akan menggunakan kamar mandi yang lain!" Teriakku ketika di luar. Aku menarik napas yang panjang, berharap rasa deg-degan ini pergi secepatnya. 'Wow, nyaris saja...' Pikirku lega. 'Sebaiknya aku menyiapkan makanan dulu setelah memakai celana.' Pikirku sambil menuju kamarku.

Setelah mengenakan celana, aku segera menyiapkan sarapan pagi. Tiba-tiba aku teringat Roxas, apakah dia pergi sekolah hari ini? Tapi dia terluka, terkena tembakan Kadaj. Kurasa dia tidak akan masuk...

Selesai menyiapkan sarapan, mandi dan makan pagi bersama Riku, aku langsung berangkat ke sekolah dan yang menyenangkannya, aku diantar oleh Riku sehingga aku tiba lebih awal dari biasanya. Karena lebih awal dari biasanya, maka tempat ini masih sepi, tidak terlalu banyak murid yang berlalu-lalang...

Aku segera ke kelasku yang hanya terdapat satu atau dua murid yang biasanya datang pagi sekali. Karena masih pagi, aku memutuskan tidur di kelas sejenak hingga kelas ini mulai terasa ramai...

~ A few minutes later ~

Aku menguap setelah puas tertidur sejenak. Aku masih merasa mengantuk meski sudah tidur beberapa menit...

"Morning Sora." Kata seorang pemuda blond dengan tersenyum.

Aku terkejut bukan main ketika melihatnya, dan karena terkejut, aku nyaris terjatuh dari kursiku. "Roxas!" Kataku tidak percaya dengan apa yang kulihat.

TBC...

Author Note: -yawn- ngantuk banget Z.Z
any review?

Sora: hey! Benar tidak sih itu Roxas di chapter sebelumnya! –melihat chapter 7-
Me: let me sleep… -sleepy-
Sora: hey! Tell me! Don't make any excuse anymore!
Me: -snoring-
Sora: aw man! She already fell in sleep! Geez, I hope the next chapter will answering my question! –deep sigh- hey! Nanti kau masuk angin jika tidur di sini!
Me: -snoring-
Sora: geez, troublesome…