Author Note: man, ada kalanya aku merasa cerita ini seperti menggambarkan situasiku, tapi tidak seluruhnya sih ==" meski sudah bisa dibilang mendekati… -sigh-

To a reviewer name SoraVanRoxasVan: lol, aku mengerti kau kecewa karena cinta Sora buka untuk Roxas. XD Tapi, siapa tahu Sora berubah pikiran? I don't know, karena aku belum merencanakanya :D hehehehehe…

Troublesome Family

Chapter 10

Sejak hari itu, aku dan Roxas selalu bersikap seperti biasanya di sekolah, seakan-akan kami ini berteman layaknya anak-anak sekolah lainnya. Ketika bertemu dengannya di sebuah misi, dia benar-benar berubah total, menjadi orang yang sangat dingin dan menyerang musuhnya tanpa keraguan sedikit pun, termasuk ketika menyerangku...

Parahnya, aku merasa ragu-ragu untuk menyerangnya, padahal dia sendiri sudah bilang, bahwa ketika kami bertemu di sebuah misi mau pun tugas, kata 'persahabatan' kami sama sekali tidak berlaku, karena kami adalah musuh...

Riku –yang menjadi partnerku hari ini—sampai memarahiku berkali-kali karena aku terlihat ragu-ragu untuk menyerang. Misi ini pun berakhir dengan kegagalan gara-gara aku dan Riku terlihat super kesal atas gagalnya misi ini. Bukan hanya misi yang gagal, aku pun terluka cukup parah sehingga harus merepotkan Riku ketika kami melarikan diri...

"Geez...," keluh Riku untuk kesekian kalinya sambil memapahku yang terluka.

"Sorry..." Kataku meminta maaf untuk yang kesekian kalinya juga.

Saat ini kami berada di Traverse Town, kota yang selalu terlihat gelap meski hari siang, tentu saja kami melakukan misi di malam hari, karena aku sempatnya cuma malam hari –karena pagi aku sekolah. Kami berdua pergi kesebuah apartemen yang cukup mewah. Well, apartemen itu milik keluarga ini, sayangnya, apartemen itu hanya digunakan ketika liburan saja...

Riku langsung mendudukkanku di sebuah sofa, aku merasa risih ketika melihat sofa yang mahal itu terkena darahku. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Luka tusuk yang berada di perut kiriku terus mengeluarkan darah segar, aku menggerang kesakitan ketika mencoba menggerakan tubuhku, meski hanya sedikit saja. lukaku yang lain - lengan kananku terkena sabetan pisau dan di pipi kiriku terkena luka gores- juga terasa sangat sakit sekali...

Riku terlihat kembali setelah berhasil menemukan kotak obat di suatu tempat. Dia mengeluarkan perban dari kotak obat lalu menatapku dengan wajah dingin dan kesal.

"Lepaskan bajumu," perintahnya dengan nada kesal.

Kubuka bajuku perlahan-lahan sambil merintih kesakitan karena menggerakkan tubuhku. Riku lalu memerban tubuhku yang terluka. Sungguh mengejutkan, dia memerban tubuhku dengan rapi setelah di bersihkan, dan sepertinya dia berpengalaman...

"Jika kau bertanya mengapa aku terlihat mahir membalut luka, itu karena aku sudah sering membalut luka Kadaj, Yazoo, mau pun Loz," kata Riku yang menjawab rasa penasaranku tanpa kutanya, apakah wajahku selalu menunjukkan apa yang kupikirkan?

Riku lalu membalut luka di lenganku setelah membersihkan lukaku. Aku terus merintih kesakitan...

"Ow,ow,ow! Sakit!" Keluhku ketika Riku membersihkan luka di pipiku dengan anti septik.

"Geez, bisa tidak kau berhenti mengeluh?" Kata Riku dengan sangat kesal.

"Sorry..." Kataku dengan wajah sedih.

"Arg! Dan bisa tidak kau berhenti mengatakan 'sorry' terus-menerus!" Tanya Riku dengan wajah kesal sambil mencubit pipiku yang tidak tidak terluka dengan kuat.

"Iya~" jawabku dengan pipi yang masih dicubitnya.

Riku lalu melepas cubitannya dan aku segera memegangi pipiku yang memerah dan juga terasa sakit. Riku lalu mendekatkan wajahnya dan menciumku dengan kasar, dia pun mendorongku berbaring di sofa dan aku merintih kesakitan karena luka di perutku terasa sakit ketika bergerak.

"Ah!" Rintihku ketika terbaring di sofa.

Riku lalu menciumku dan mengambil kesempatan untuk menjelajahi mulut ketika mulutku terbuka akibat merintih.

"Hm..." Desahku di tengah ciuman kami.

Riku lalu menggigit bibirku...

"Ow! It hurt..." Kataku dengan mata yang terdapat air mata.

"Berisik..." Katanya sambil memasukkan lidahnya kedalam mulutku.

"Hm..." Desahku ketika dia mulai menciumku lagi.

Entah mengapa rasa sakit di perutku jadi terlupakan dan berganti dengan sensasi aneh yang menggelitik perutku. Riku sibuk menjelajahi mulutku atau pun bermain dengan lidahku, aku pun hanyut dalam ciuman...

Mulut Riku terasa manis dan serasa memabukkan, sayangnya berciuman kami terhenti ketika kami berdua kehabisan oksigen...

Mukaku memerah ketika Riku menjilati luka di pipiku sambil menyentuh dadaku.

"Kau tahu..." Katanya sambil berbisik di telingaku dan itu rasanya menggeliti telingaku. Dapat kurasakan desahannya di leherku. "...beberapa orang suka menjilati luka di tubuhnya, tetapi sesungguhnya air liur itu tidak baik untuk luka karena mengandung bakteri,"katanya sambil mendesah di telingaku dan membuatku merinding.

"La...lalu... me... mengapa kau menjilati lukaku?" Tanyaku dengan muka memerah. Suaraku terdengar tidak karuan.

"Karena ekspresimu manis..." Katanya sambil menggigit telingaku dengan pelan.

Mukaku langsung merah padam mendengarnya, entah mengapa Riku selalu membuatku tersipu dengan mudah jika dia berada di sampingku. Jantungku berdebar-debar dengan tidak karuan, ini sungguh tidak baik untuk jantungku...

Riku lalu menempelkan plaster pada luka di pipiku. "Sora, mengapa hari ini kau tidak terlihat seperti biasanya?" Tanyanya sambil menyentuh pipiku yang telah diplester.

"Uh, Riku, kuharap kau tidak marah setelah mendengar jawabanku..." Aku memandang Riku dengan takut-takut, sesekali aku menunduk sebelum menjawab. "... actually, salah satu musuh kita itu adalah teman sekolahku, sehingga aku ragu-ragu untuk menyerangnya," jawabku dengan nada yang semakin lama semakin mengecil.

"..." Riku terdiam setelah mendengar jawabanku.

Suasana hening membuatku menjadi tegang. Wajah Riku terlihat gelap dan dia juga terlihat serius. Apakah dia marah? Tetapi, meski expresinya serius, tidak terasa aura kemarahan darinya...

Riku mendadak menghela napas setelah beberapa menit terdiam. "Kukira kau sedang sakit dan memaksakan dirimu untuk tetap melakukan misi," katanya sambil menyentuh pipiku.

Tatapan Riku terlihat sangat lembut, perasaan kesalnya tadi telah menghilang. Sepertinya tadi dia bukan kesal padaku, tapi kesal pada dirinya sendiri karena membiarkanku terluka...

"Terima kasih sudah mencemaskanku, Riku," kataku dengan senyum.

Dia lalu menghela napas lagi. "Baguslah kalau kau sadar bahwa aku mencemaskanmu."

Mungkin bagiku, Roxas adalah teman dekatku yang sangat kusayangi. Tetapi, jika kami bertemu di malam hari, rasa sayang itu tidak dapat mengalahkan rasa permusuhan kami. Seharusnya aku tahu itu, tetapi keraguanku yang menutupi kenyataan itu. Mulai sekarang aku tidak boleh ragu untuk menyerangnya, karena bagaimana pun juga, misi ini lebih penting dari tali persahabatanku dan Roxas, karena dari misi inilah, aku dan seluruh keluargaku bertahan hidup...

The next day...

Di sekolah, aku dan Roxas masih bersikap seperti biasanya, seakan-akan kejadian semalam, dimana dia melukaiku tidak pernah terjadi. Malam ini, aku dan Riku akan mengulang lagi misi kami yang gagal akibat kecerobohanku dan pastinya, aku akan bertemu dengan Roxas juga nanti...

"See ya tomorrow, Roxas!" Kataku dengan senyum, mencoba menyembunyikan rasa sakit di perutku yang terasa setiap kali bergerak.

"Yeah!" Balasnya dengan senyum. "Semoga kita masih dapat bertemu lagi...," katanya dengan nada kecil. Terlihat sebuah kesedihan di wajahnya sebelum dia berbalik pergi...

'Apa maksudnya?' Pikirku heran.

Aku segera pulang ke mansion dan melihat seluruh anggota keluarga –termasuk Loz yang jarang pulang—berkumpul di ruang tamu. Tatapan mereka semua langsung tertuju padaku ketika aku pulang dan langsung membuatku canggung. Sungguh hal yang langka melihat semuanya berkumpul di satu tempat...

"A... ada apa?" Tanyaku sambil menutup pintu.

"Bagaimana lukamu, Sora?" Tanya Riku yang sedang menyilangkan tangannya.

"Um, sedikit membaik, kurasa..." Jawabku dengan canggung karena ditatapi oleh mereka, bahkan Dad juga menatapku.

"Kau yakin dapat melakukan misi malam ini tanpa kegagal?" Tanya Dad dengan expresi datar.

'Apakah mereka semua berkumpul karena membicarakan kegagalanku yang pertama kali!' Pikirku dengan pucat pasi. "I...iya..." Jawabku dengan keringat dingin.

"Jika kau tidak yakin, maka kau akan digantikan oleh yang lain, Sora. Lagipula musuh kita akan sama dengan yang kemarin, kau akan melawan temanmu," kata Riku memberitahu.

'Aku digantikan!' Pikirku dengan wajah terkejut. "A...aku masih sanggup melakukan misi! Dan aku berjanji, kali ini tidak akan gagal lagi! Kumohon, jangan gantikan aku!" Kataku memohon.

Sesungguhnya, aku selalu takut jika misi yang diberikan padaku mendadak diberikan pada orang lain. Itu menandakan bahwa aku telah gagal dan ada kemungkinan, aku sudah tidak dibutuhkan lagi...

Suasana hening membuat luka di perutku terasa sangat sakit akibat tegang, udara terasa hampa dan membuat napasku memburu tidak karuan. Keringat dingin mulai kurasakan disekujur tubuhku, rasanya kepalaku mulai pusing dan aku merasa mual. Aku tidak ingin dibuang. Aku tidak tahu kemana aku harus pergi jika aku dibuang. Aku sayang pada mereka, sebagai keluargaku...

'Apakah mereka akan membuangku!' Pikirku pucat pasi. 'Tidak! Aku tidak mau itu terjadi...,' pikirku sambil memejamkan mataku, mengepalkan tanganku dengan kuat dan berusaha untuk tidak gemetaran.

"Sora...," Dad memanggilku dan ketika kubuka mataku, dia sudah berada di dekatku.

"Ye...yeah?" Jawabku sambil menatapnya dengan ragu-ragu.

"Jangan paksakan dirimu jika kondisimu tidak baik..." Kata Dad sambil menatapku dengan ekspresi datar. "...misi tidak akan berjalan dengan baik jika kondisi tubuh sedang tidak baik. Tubuhmu sedang terluka, lebih baik kau istirahat dan serahkan misimu pada yang lain..." Kata Dad. Tiba-tiba tangannya menyentuh daguku. "...kau bahkan terlihat pucat. Apakah kau sungguh yakin dapat melakukan misi malam ini?" Tanyanya dengan nada cemas meski ekspresinya datar.

Aku terkejut ketika mendengarnya, ternyata dugaanku salah. Mereka ternyata sedang mencemaskanku, bukan berniat menyingkirkanku karena kegagalanku. Ternyata aku terlalu berpikir negative...

"Pikirkan ini baik-baik, Sora. Kami tidak ingin kau tewas terbunuh," kata Dad memberitahu. "Kau punya bakat yang masih terpendam dan bakatmu akan sangat berguna bagi kami."

"A...aku..." Kataku dengan wajah bingung, memang benar kondisiku tidak baik melaksanakan misi, tapi, ini adalah misiku...

To Be Continued...

Author Note: … -sigh- I wonder if worried too much was bad or not.