Author Note: lol, maaf jika masih ada misstypo, aku mengeditnya setengah2 :D

Troublesome Family

Chapter 11

Jika memikirkan tentang lukaku yang masih belum sembuh ini, gerakanku tidak akan selincah normalnya akibat rasa sakit yang menganggu ini. Tapi misi ini gagal karena aku...

Seseorang lalu menyentuh kepalaku saat aku sedang berpikir, ketika kuangkat wajahku yang sedang menunduk ini, tangan Kadaj yang lembut menepuk kepalaku dengan lembut.

"Just take some rest...," katanya sambil berjalan keluar bersama Riku.

"Ah! Wait!" Kataku hendak mengejar mereka, tetapi Dad memegang bahuku dan membuatku membatalkan niatku mengejar mereka. Aku lalu menatapi Dad. "I'm sorry," kataku sambil menunduk.

Dad hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Don't push yourself."
Kulihat Dad berjalan keluar, kurasa dia mempunyai pekerjaan diluar sana...

"Now kiddo..." Yazoo mengacak-acak rambutku hingga berantakkan. "...banyak-banyaklah istirahat agar cepat sembuh dan dapat menerima misi lagi. Ingat, jangan gagal lagi," katanya dengan senyum sinis, setelah itu dia menggendongku.

"Wah!" Teriakku kaget ketika digendong olehnya. Rasanya malu sekali karena pose dia menggondongku bagaikan pose menggendong pengantin saja. "A-aku bisa jalan sendiri, Yazoo...," kataku dengan muka yang amat merah.

Dia hanya tersenyum sinis tanpa menurunkanku. Dia membawaku ke kamarku dan menurunkanku di atas kasurku dengan perlahan. Setelah menurunkanku, dia menciumku secara mendadak dan membuatku kaget.

"Have a nice sleep~," katanya setelah menciumku, wajahnya sangat dekat sekali dan aku dapat merasakan napasnya mengenaiku.
Aku hanya bisa terdiam dengan muka memerah hingga Yazoo pergi meninggalkan kamarku.

Sesungguhnya aku tidak biasa tidur siang, karena biasanya pada jam segini, aku mengurus cucian, merapikan mansion, memasak, menjemur, dan lain-lainnya. Aw man, kujamin pekerjaanku menumpuk besok! Well, tapi pasti selesai jika diselesaikan satu per satu...

Aku menghela napas, mencoba merelexkan tubuhku dan mencoba tidur. Meski jarang tidur siang, aku adalah orang yang mudah sekali tertidur meski tidak terlalu mengantuk. Mungkin karena aku masih dalam masa pertumbuhan, maka dari itu aku butuh istirahat yang cukup. Man, baru saja merelexkan tubuh beberapa puluh detik, sekarang mataku sudah terasa berat dan mengantuk sekali...

Ketika mata terbuka, aku segera melihat kearah jam dinding. Ternyata sudah sore dan aku tertidur sekitar tiga jam lebih...

Aku segera turun dari kasur dengan semangat karena merasa energiku full dan aku merasa dapat mengerjakan apa pun dengan cepat. Sayangnya, begitu bangun aku justru merintih kesakitan sambil meringkuk di lantai. Aku lupa bahwa lukaku masih belum sembuh total dan akan selalu terasa sakit jika bergerak secara mendadak...

Setelah rasa sakit itu berkurang, aku pun bangun perlahan dan berjalan keluar dari kamar. Di luar, ruang tamu, dapur, mau pun tempat lainnya terasa sunyi. Di ruang makan, kutemukan sebuah note yang tertuju padaku...

To Sora

Aku dan Loz pergi keluar karena diberi misi dadakan. Di lemari es, terdapat makanan dan tentu saja itu junk food, kau tahu bahwa aku mau pun Loz tidak bisa masak, bukan? Panaskan saja sebelum kau makan.
From Yazoo

PS: aku tidak sempat memberi makan Sky.

Aku meletakan note itu setelah selesai membacanya dan menuju lemari es. Kubuka pintu lemari es dan dapat kurasakan hawa dingin yang keluar, sungguh terasa nyaman. Dibagian bawah rak lemari es, terdapat sayuran dan daging yang sudah tidak terlalu segar. Di rak tengah, terdapat beberapa jenis junk food. Aku mengambil salah satu junk food yang ada, burger, salah satu makanan kesukaanku. Kututup lemari es dan memasukkan junk food itu kedalam microwave untuk menghangatkannya...

Bunyi 'ting', khas dari bunyi microwave yang menandakan bahwa telah selesai menghangatkan. Kukeluarkan dengan hati-hati karena masih sangat panas, setelah meletakan di meja, aku mengambil gelas kosong dan kuisi dengan the dingin yang selalu tersedia di lemari es.
Rasanya sepi sekali jika sendirian di mansion...

Aku meninggalkan makananku yang belum kusentuh di atas. Aku berjalan keluar ke halaman belakang mansion dan menuju kandang Sky. Anjing putih berbulu tebal itu langsung menggong-gong dengan keras, seperti memintaku untuk segera mengeluarkannya dari kandang, kurasa?

"Woah! Easy boy," kataku tertawa ketika membukakan pintu kandangnya.

Sky langsung berlari ke sana kemari setelah keluar dari kandangnya. Sepertinya dia merindukan kebebasan di luar kandangnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah anjing putih yang sangat semangat itu.

"Sky! Ayo kita makan sama-sama!" Panggilku sambil berjalan memasuki mansion.

Sky yang tidak sabaran langsung mendahuluiku memasuki mansion. Dia terlihat duduk manis di dalam dapur –tepat di samping mangkoknya yang bertuliskan namanya— sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Dia menjulurkan lidahnya, seakan-akan tidak sabaran untuk makan. Dia langsung menggong-gong kearahku ketika aku mengeluarkan makanan kaleng berisi makanan khusus anjing...

"Sabar," kataku sambil mengelus kepala anjing itu.

Kubuka dan kutuangkan kedalam mangkoknya, dia langsung melahap makanannya sesaat setelah kutuang...

"Woah! Easy boy, nanti kau tersedak jika makan terburu-buru," kataku sambil tertawa.

Setelah mencuci tanganku, aku segera memakan makananku yang telah mendingin. Selesai makan, aku hanya menatapi Sky yang masih menjilati mangkoknya yang kosong, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, hari ini aku disuruh istirahat saja dan jangan bekerja dulu...

Aku menatap kearah ruang tamu, biasanya Kadaj atau Riku selalu menonton televisi jika mereka sedang senggang, rasanya sepi sekali tanpa mereka...

Sebenarnya ini bukanlah yang pertama aku sendirian di dalam mansion. Dulu, aku selalu sendirian di mansion, karena masih pemula, dulu aku menghabiskan waktuku untuk berlatih menembak dan mempelajari beberapa bela diri...

Ketika langit telah menjadi gelap sepenuhnya, tidak seorang pun yang pulang juga. Aku berbaring di sofa—dengan Sky yang tidur di atas perutku sebagai penghangat—sambil menonton televisi. Sesekali aku membelai tubuh Sky, dia tertidur—atau pura-pura tertidur?—dengan tenang sekali...

Sesekali lukaku terasa sakit ketika aku mencoba menggerakkan tubuhku dan berusaha untuk tidak membangunkan Sky. Jika perkiraanku benar, seharusnya lukaku akan sembuh dua hari kedepan, dan sembuh sempurna seminggu kedepan.

Sekitar jam 10 malam, aku mendengar suara motor memasuki mansion ini dan membangunkan Sky. Sky langsung melompat turun dari tubuhku dan berlari ke depan pintu mansion. Begitu pintu mansion terbuka, Sky langsung melompat kearahnya, ternyata Riku yang pulang...

Kulihat Riku membelai Sky, wajahnya terlihat terluka...

"Riku!" Aku reflex bangun ketika melihat wajahnya terluka. "Ouch..." Aku merintih kesakitan ketika bangun mendadak sambil memegang perutku, lukaku terasa sakit sekali.

"Geez, apa yang kau cemaskan?" Kata Riku dengan heran, aku melihat sosok Kadaj di belakangnya. "Aku baik-baik saja, hanya terkena luka gores di wajah saja. Temanmu cukup gesit juga," katanya sambil menyeka darah yang mengalir di wajahnya.

Mulutku ternganga saat mendengarnya. "Dia melukaimu!" Kataku tidak percaya.

"Yeah, setelah aku melukainya cukup parah," kata Riku dengan senyum yang –entah mengapa—membuatku takut, senyumnya terasa mengerikan...

"O-oh..." Aku kehilangan kata-kata.

Kadaj terlihat menuju kamarnya, kurasa dia ingin segera tidur...

"By the way, Sora..." Riku terlihat duduk di sampingku. "...pernahkah kau berniat untuk mencari kakakmu?" Tanyanya, wajahnya sangat dekat denganku.

"Um, no," kataku sambil menjauhkan wajahku darinya. "Why you asked?" Tanyaku heran.

"Well, sebenarnya baru-baru ini Dad bertemu dengan kakakmu setelah sekian lama tidak bertemu. Dulu kakakmu pernah bekerja dengan kami, kira-kira sepuluh tahun dalam bimbingan Dad," jelasnya sambil menatapku.

"Huh! Benarkah!" Kataku tidak percaya bahwa kakak kandungku –yang tidak pernah kuingat—pernah bekerja dengan keluarga ini.

Kakak kandungku dijual oleh kedua orang tua kami saat aku berumur tiga tahun, maka dari itu aku tidak mengingat wajah mau pun namanya.

"Yeah, saat ini dia bekerja lagi di bawah bimbingan Dad," jawab Riku dengan senyum, kali ini senyumannya tidak seseram tadi. "Kau mau menemuinya?"

"Um, kalau pun aku menemuinya, aku tidak tahu harus berkata apa padanya...," kataku dengan sedih. "Kami tidak pernah bertemu, kurasa, sehingga tidak ada gunanya juga aku menemuinya," jelasku.

"Tapi, dialah yang meminta kami mengadopsimu. Aku juga baru tahu bahwa kalian adalah saudara ketika Dad memberitahukannya tadi pagi," jelasnya.

"Huh? Benarkah?" Kataku terkejut.

"Yeah, Dad mengadopsimu karena kau masih ada hubungan darah dengannya, Dad tidak pernah mengadopsi sembarangan orang jika dia tidak memiliki bakat membunuh. Lagipula dia juga yang meminta Dad mengadopsimu," jelasnya.

"Siapa...nama kakakku?" Tanyaku sambil menatap Riku.

To Be Continued...

Author Note: lol, siapa ya kakak Sora? Yg pasti bukan Vanitas :P

Review! XD