Author Note: man, cadang story ini menipis, tinggal dua chapy lagi ==" mana lagi tamatnya masih jauh! DX

Enjoy the story~ =w=

Troublesome Family

Chapter 12

"His name was Leon," jawab Riku.

"Leon..." Aku mengulang nama yang disebutkan oleh Riku tadi. "Apakah dia tinggal di Twilight Town?" Tanyaku yang semakin tertarik akan kakak yang tidak pernah kuingat.

"Well, dia terkadang tinggal di Twilight Town dan terkadang berada di Hollow Bastion, tergantung misi yang dia kerjakan," jelas Riku.

"Oh, kurasa dia sibuk," kataku sambil menatap ke bawah.

"Well, who knows? Coba saja kau mengunjunginya? Kau dibebas tugaskan selama beberapa hari hingga kau sembuh total, manfaatkan waktu liburnya sebaik mungkin," kata Riku sambil menyentuh kepalaku dan membelaiku.

"Aku dibebas tugaskan!" Tanyaku tidak percaya. Astaga! Berarti aku tidak bisa melakukan misi sementara waktu!

"Yeah," jawab Riku dengan senyum. "Ini..." Dia menyerahkan sesuatu padaku, sebuah kertas kecil yang bertulisan sebuah alamat. "...itu adalah alamat tempat tinggal Leon di Twilight Town dan juga di Hollow Bastion." Riku terlihat bangkit berdiri sambil merenggangkan badannya. "Pergi tidur sekarang, Sora, atau kuserang," katanya memperingatiku dengan senyum sinis.

Tiba-tiba dia memegang belakang sandaran sofa dengan kedua tangannya, aku tidak dapat bergerak karena terhalang oleh kedua tangannya itu. Dia mendekatkan wajahnya dan menciumku dengan lembut. "Now go," katanya mengizinkanku pergi. "Or you wanna stay with me?" Tanyanya ketika wajahnya masih begitu dekat denganku.

Sesungguhnya badanku ingin tetap berada di sini, tetapi otakku sudah memberikan WARNING berkali-kali. Sehingga aku segera menyingkir dari sisi Riku sebelum aku diserang lagi olehnya.

Mukaku langsung memerah padam ketika aku tiba di kamarku. Astaga, apa yang kupikirkan tadi? Bagaimana mungkin otak dan tubuhku berselisih! Aku memegangi daguku, man, rasanya kepalaku ini amat panas, dan jantungku terasa berdebar-debar, otakku masih mengenang adegan Riku menciumku...

Ugh, lupakan, lupakan, aku tidak boleh memikirkannya. Aku harus tidur...

~the next day~

Di sekolah, aku tidak menemukan Roxas dimana pun. Kurasa Riku benar-benar melukainya hingga dia terpaksa meliburkan diri dari sekolah. Tapi apakah lukanya parah? Atau jangan bilang dia meninggal akibat lukanya yang parah! Damn, aku tidak tahu harus lega atau khawatir mengetahuinya. Sebagai teman tentu aku sedih jika dia meninggal, tetapi sebagai musuh tentunya aku merasa lega. Jadi, haruskah aku lega atau sedih?

Kurasa sedih, karena aku kehilangan teman. Tanpa kehadiran Roxas, rasanya sekolah terasa membosankan. Kami berdua selalu saling menyapa saat masuk sekolah, makan siang bersama, bermain-main dalam kelas jika kami mendapatkan pelajaran di kelas yang sama, dan membuat janji bermain di luar jam sekolah jika kami sempat...

Ah, bahkan aku tidak pernah tahu dimana Roxas tinggal. Jika kupikir-pikir, selama ini aku mau pun Roxas tidak pernah mengundang main ke rumah masing-masing. Aku tidak mengundangnya karena aku tidak ingin kehidupanku diketahui olehnya, mungkin begitu pula sebaliknya.

Jadi serba salah...

Ketika jam sekolah berakhir, aku masih menyempatkan diriku mencari Roxas, berharap dia ada dan tadi pagi kebetulan saja tidak bertemu. Tetapi dia memang tidak masuk hari ini.

Aku memutuskan untuk tidak segera pulang karena hari ini mansion kosong dan aku pasti merasa kesepian di sana. Aku memutuskan untuk mengunjungi tempat kakakku berada, tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari sekolah, cukup naik bus selama limabelas menit saja. Menurut catatan yang diberikan oleh Riku, dia tinggal di sebuah apartment yang cukup elite. Gedung apartment itu berlantai duapuluh, kata Riku. Kudengar-dengar, apartment itu memiliki roof garden, alias kebun di puncak gedung.

"Woah...!" Kataku dengan mulut menganga melihat apartment tempat tinggal kakakku.

Meski tinggi, aku dapat melihat roof garden dari kejauhan. Wow! Terlihat dengan jelas pohon hijau yang amat terawat di atas sana. Bahkan sekeliling gedung itu dihiasi oleh tanaman hijau yang amat indah, terdapat air mancur pula...

"Ini sih bukan cukup elite, tapi super elite!" Kataku membenarkan penjelasan Riku yang mengatakan 'tempat ini cukup elite'.

Aku lebih terkejut lagi melihat kedalam apartment ini, tepatnya tercengang hingga tidak bisa berkata apa-apa. Tempat ini sangat bersih dan tertata dengan indah! Selain itu, terdapat banyak lukisan indah terpajang di dinding-dinding. Satu lagi yang membuatku kagum, terdapat tanaman hijau dalam pot, banyak lagi! Di letakkan di sudut-sudut atau di samping sofa, benar-benar green apartment...

Aku lalu mengeluarkan catatan dari Riku lagi. "Hum, dia tinggal di lantai... duapuluh!" Aku terkejut membacanya. "Tinggi sekali," keluhku sambil berjalan mendekati lift.

Ketika menunggu pintu lift terbuka, kulihat seseorang dengan bekas luka diantara kedua matanya datang dan menunggu di sampingku, kurasa dia ingin menaiki lift juga...

Entah mengapa, jika kuperhatikan wajahnya baik-baik, aku merasa wajahnya mirip denganku, kurasa ini perasaanku saja. Ups, karena terlalu lama menatapinya, dia menyadari bahwa aku menatapinya...

"Maaf," kataku dengan muka memerah karena terpegok menatapinya.

"...Sora?" Kata pemuda brunette itu.

Aku terkejut ketika menyebutkan namaku. "Kau...siapa?"

"Sepertinya mereka memberitahukan tempat tinggalku padamu," katanya sambil menatapku. Lalu pintu lift terbuka sesaat setelah dia mengatakannya. "Come, lebih baik kita bicara di tempatku saja," ajaknya sambil mengulurkan tangannya padaku.

Entah mengapa, aku tiba-tiba teringat sesuatu ketika dia mengulurkan tangannya, rasanya dulu, seseorang pernah menggenggam tanganku. Saat kuraih tangannya, rasanya sentuhan tangannya terasa tidak asing bagiku, rasanya seperti pernah digenggam olehnya, dulu...

Kami berdua memasuki lift, aku terus menatapi genggamannya dan mencoba mengingat-ingat mengapa sentuhannya seperti pernah kurasakan sebelumnya? Sekeras apa pun aku mencoba mengingatnya, aku tetap tidak mengingat apa-apa...

"Um, Leon, right?" Tanyaku ragu-ragu dan dia mengangguk pelan. "Um, mengapa kau meminta Dad –maksudku, Sephiroth—untuk mengasuhku?"

Dia menatap mataku, genggamannya terlepas dan dia menyentuh kepalaku. "Cause I was failed to protect you," jelasnya dengan wajah datar.

"Gagal...melindungiku?" Tanyaku dengan heran.

Dia mengangguk pelan, lalu membelai kepalaku. "Aku tahu kau sangat menderita ketika aku pergi."

Aku terdiam sambil menatapnya, terdapat rasa bersalah dari nada bicaranya dan juga kesedihan meski expresinya datar. Kami berdua terus terdiam hingga pintu lift terbuka. Leon mendorongku dengan pelan keluar dari lift dan membawaku menuju tempat tinggalnya. Luas tempat tinggalnya sekitar 10 meter persegi, termasuk besar untuk ukuran aparment. Ruangan ini tertata sangat rapi, sayangnya ruang tamu dan kamar tidur menjadi satu, terdapat dapur kecil di sudut ruangan ini dan hanya diberi sekat saja.

"Duduklah," katanya setelah menutup pintu. Dia terlihat berjalan menuju kearah dapurnya.

Ketika aku duduk, sofa miliknya sangat empuk, mirip sekali yang di mansion. Beberapa menit kemudian, dia membawakan segelas susu dan sekaleng kopi instan, susu itu untukku.

"Thanks," kataku ketika menerimanya.

Leon hanya mengangguk dan duduk di sofa sambil membuka kaleng kopinya, dia duduk berhadapan denganku. Aku meminum susuku yang terasa dingin, sepertinya ini susu kemasan yang disimpannya dilemari es.

Setelah berdiam diri beberapa menit sambil meminum susuku, aku bingung hendak berkata apa. Sesekali aku menatapinya dengan wajah bingung, dia terlihat sangat santai sambil menatapiku. Aku merasa canggung ditatapi olehnya...

"Um," aku mencoba memecahkan kesunyian, tapi bingung ingin mengatakan apa. "Kau... Um, bahagia dengan kehidupanmu?" Tanyaku asal, entah mengapa aku merasa itu adalah pertanyaan paling bodoh di dunia ini. Sudah jelas dia bahagia dengan kemewahan yang dimilikinya!

"Yeah. Aku bahagia karena masih dapat menemuimu, Sora," jawabnya dengan senyum.

Aku terkejut mendengar jawabannya. "Um, Leon, mengapa selama ini kau tidak pernah menemuiku?" Tanyaku heran.

"Selama ini aku sering menemuimu, tetapi tidak menyapamu," jawabnya.

"O-oh," aku tercengang mendengar jawabannya. Aku sama sekali tidak mengira bahwa dia pernah menemuiku, tapi aku tidak menyadari kehadirannya...

"Sora, are you happy with your life?" Gilirannya bertanya padaku.

"Aku...sangat bahagia," jawabku dengan senyum. "Aku sangat menyayangi mereka semua meski mereka semua –kecuali Dad—menyebalkan dan merepotkan. Meski begitu, mereka sangat menyayangiku dan memperhatikanku. Mereka adalah keluarga yang baik!" Jelasku dengan senyum lebar.

"Kurasa...kau tidak ingin tinggal bersamaku lagi, ya," katanya dengan senyum sedih.

Aku heran mendengarnya. "Um, bukannya aku tidak ingin tinggal denganmu, Leon. Jika kau ingin aku tinggal bersamamu –sebagai kakak-adik—tentu aku mau," kataku dengan senyum.

Leon lalu tersenyum."Kau tidak perlu memaksakan diri. Aku tahu kau masih tidak nyaman denganku."

"That's true," kataku jujur. "That because I don't remember you at all," kataku memberitahu.

"I know, back then, kau masih sangat kecil, umurmu baru tiga tahun dan aku sepuluh tahun. Jadi wajar saja kau tidak ingat apa pun tentangku," katanya dengan senyum.

"Oh, hey, bagaimana kalau aku menginap di sini selama empat hari? Aku tidak akan mendapatkan misi selama beberapa hari, soalnya lukaku masih belum sembuh total," jelasku.

"Kau terluka?" Tanya Leon dengan wajah serius.

"Um, yeah, akibat kecerobohanku," jelasku dengan malu.

"I see...," katanya sambil menatapku.

Setelah diam beberapa menit, Leon lalu menatapku. "Sora, do you ever have a sex?" Tanyanya dengan wajah serius.

"What! No! Of course not!" Kataku terkejut bukan main dengan pertanyaanya, mukaku super merah saat mengatakannya. "Tapi...,aku pernah ciuman." Suaraku memelan.

Wajah Leon bertambah serius. "With who?"

"Um..." Aku sangat bingung bagaimana hendak mengatakannya, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku dicium lebih dari satu orang. Bagaimana aku menjawabnya…

To Be Continued...

Author Note: man, lagi writer block buat cerita yang satu ini, tapi akan kuusahakan tamat. =="

Mungkin tamatnya di sekitar chapter 20-25? Well,I dunt know~ :P