Author Note: man, tanpa terasa aku ternyata merindukan yaoi setelah sekian lama menulis fic yang minim unsur yaoi, hanya sho-ai...
Tanpa terasa aku pun jadi rindu pada fic ini! ^^" dan untuk fic kali ini, I just want to be myself.
Do whatever you want, go wherever you want, and live the way you want.
Live free as a cat -Neku-.
Man, I'm so jealouse to Neku! Bisa seenaknya saja di dunianya sendiri! Aku mau banget jadi kayak dia! XD
Sayangnya tidak bisa... TT_TT
So, enjoy this story with some sugar? -slap!-
Troublesome family
Chapter 13
"Someone you like?" Tanya Leon sebelum aku menjawab, aku sungguh bingung bagaimana caranya mengatakan padanya.
"..." Aku terdiam sejenak. Seseorang yang kusukai? Siapa? Riku? Kadaj? Yazoo? Loz? Termasuk Dad juga?
Hum, aku bingung. Jika ditanya siapa yang paling membuat jantungmu berdebar-debar tidak karuan, jawabannya ya mereka semua. Sebenarnya aku benci mengakui ini, tapi aku menyukai sentuhan mereka...
"Sora?" Leon memanggilku.
"..." Aku terus diam, mengacuhkannya karena sedang memikirkan jawabannya.
Kusadari dia menyentuh kedua pipiku dengan lembut dan mengangkat wajahku yang sedari tadi menunduk.
"You have a problem with the person you like, Sora?" Tanyanya sambil menatap kedua mataku.
Entah mengapa, aku merasa detak jantungku menjadi tidak karuan saat menatap matanya. "N-no," kataku sambil mengalihkan tatapanku darinya. "Aku...aku hanya tidak tahu...bagaimana caranya mengatakannya padamu," jelasku.
"Apa itu?" Tanya Leon dengan lembut.
Aku kembali menatapi matanya yang biru lembut bagaikan air laut. Kupejamkan mataku perlahan dan mendekatkan wajahku padanya. Menyentuh bibirnya yang lembut dan hangat. Ciuman itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja...
Mukaku langsung memerah padam setelah menciumnya. Ekspresi Leon terlihat datar, tidak terlihat terkejut -mungkin tepatnya stunning.
"I...love being kissed by them," jelasku dengan suara kecil dan hampir menghilang.
"..." Leon terus terdiam dan membuatku cemas.
Apakah dia marah? Atau mungkin sekarang dia membenciku? Expresinya terlihat begitu datar sehingga membuatku tidak nyaman.
Aku sangat gelisah melihatnya terus terdiam, bahkan tidak bergerak! Aw man! What should I do...
"Um, Le-Leon?" Kataku menegurnya yang terus stunning setelah mengumpulkan sedikit keberanian.
Dia lalu menghela napas dalam, itu merupakan reaksinya yang pertama. "I never tough... you will kissed me again," katanya dengan senyum lembut.
Mukaku langsung memerah saat mendengarnya, aku pun sedikit terkejut mendengarnya. Aku pernah menciumnya, dulu?
"Benarkah?"
Leon lalu duduk di sampingku, aku semakin berdebar-debar merasakan tubuhnya yang hangat. Lengannya yang hangat menyentuh lenganku, rasanya nyaman sekali...
Entah mengapa, jika aku terlalu berdekatan dengan seseorang, bawaanku deg-degan melulu dan tubuhku terasa memanas, seperti terbakar.
Man, aku tidak bisa membayangkan semerah apa mukaku saat ini! Leon terlihat bergerak sedikit akibat posisi duduknya yang kurang nyaman dan detak jantungku justru semakin tidak karuan...
Oh man, what's wrong with me! I need to calm down, calm down...
"Sora," kata Leon secara mendadak setelah kami membisu beberapa saat.
"Ye-yeah?" Jawabku tanpa menatapnya.
"I think I'm changed my mind, maukah kau tinggal bersamaku saja, Sora?" Tanyanya.
"Huh!" Aku menatapnya dengan terkejut hingga mataku terbuka sangat lebar.
"To tell you the truth, I always love you since we still young," jelasnya sambil menatap mataku, dia menyentuh bahuku.
Aku menatapi tangannya yang memegang bahuku dengan wajah bingung. Leon...menyukaiku? Sejak kecil? Aku menatap matanya, dia mendekatkan wajahnya padaku sambil mendekatkan tubuhku...
Kubiarkan dia menciumku tanpa perlawanan sedikit pun. Sentuhan bibirnya yang hangat sungguh nyaman, aku memegang tubuhnya yang hangat sambil menikmati sentuhannya.
Aku mendesah pelan di tengah ciuman karena sentuhannya yang membuatku merinding, seperti disengat listrik. Leon menciumku berkali-kali, seakan sekali saja tidak cukup...
Ciuman ini terhenti saat dering telepon genggam milikku berbunyi. Leon terlihat meraih telepon genggamku yang berada di sakuku...
Setelah melihat siapa yang meneleponku, dia menyerahkan telepon itu padaku. Dilayar telepon, tertulis Riku memanggil...
"Ya?" Jawabku ketika menerima panggilan itu.
"Hey, Sora, hari ini aku pulang cepat, kau ingin kubelikan sesuatu? Di Traverse Town banyak sekali penjual makanan," kata Riku.
Sepertinya tugasnya di Traverse Town sudah selesai...
"Um, apa saja, Riku," jawabku.
"Apa saja?" Tanya Riku, dia terdengar heran dan juga bingung. "Bagaimana kalau sekotak shusi?"
"Boleh," jawabku dengan senyum. "See ya at home, Riku."
"Yeah," balasnya sambil mengakhiri panggilan.
"Ada apa?" Tanya Leon.
"Tidak apa-apa," jawabku sambil menggelengkan kepalaku dengan pelan. "Dia hanya menanyakan oleh-oleh dan biasanya makanan," jelasku.
"Oh..."
"Um, Leon, about...staying with you...," kataku sambil menatapnya. "Kurasa, aku tidak bisa tinggal bersamamu," jawabku dengan pelan. "Karena jika aku pergi, maka tidak ada yang mengurus mereka," kataku dengan senyum.
"Mengurus?" Tanya Leon dengan nada heran, tapi expresinya tetap datar.
"Yeah," kataku sambil mengangguk. "Setiap hari, mansion pasti penuh dengan sampah junk food! Sudah itu pakaian kotor pasti menumpuk hingga segunung di mesin cuci mau pun di kamar mereka! Ugh, pokoknya isi mansion itu pasti kacau jika tidak ada aku!" Keluhku soal capeknya mengurus mereka. "Sudah itu mereka jarang sekali memandikan Sky! Maksudku, anjing ke sayangan Riku. Dan bayangkan! Jika ada pencuri masuk ke dalam mansion, mereka langsung menembak mati pencuri itu dan mengotori dinding mansion! Aku pun terpaksa mengecat ulang dinding mansion yang terkena darah..."
Aku mengoceh selama satu jam lebih dan Leon hanya diam mendengarku berbicara terus menerus. Aku baru menyadari bahwa dia tersenyum setelah selesai mengoceh...
"Sepertinya kau sangat senang tinggal di sana," kata Leon dengan senyum.
"Um, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku senang tinggal di sana..." Dahiku mengkerut mendengarnya. "Kurasa tepanya... aku senang diriku berguna bagi mereka," kataku dengan senyum.
Leon masih tersenyum mendengarnya. "Okay then, you win. Kau boleh tetap tinggal disana. Tapi Sora, maukah kau tinggal di sini kapan-kapan?" Tanyanya sambil menyentuh kepalaku.
"Yeah!" Jawabku dengan senyum lebar. "Aku harus pulang sekarang, mungkin salah satu dari mereka sudah pulang dan aku harus memasak makan malam sebelum mereka memesan junk food," jelasku.
"Bukankah orang yang meneleponmu mengatakan akan membawakan makanan?" Tanya Leon.
"Iya, tapi biasanya dia pulang agak malam. Jadi aku tetap harus memasak. Dulu, mereka sering sekali memakan junk food, padahal terlalu sering memakan junk food sangat tidak baik," kataku sambil menghela napas.
"Sepertinya kau sangat memperhatikan kesehatan mereka."
"Yeah! Karena mereka juga memperhatikanku dengan baik, maka dari itu mereka sudah seperti keluargaku sendiri!" Balasku dengan senyum, Leon. Juga tersenyum. "Okay, see ya tomorrow, Leon! Aku akan menginap disini besok," kataku mengingatkannya lagi.
"Yeah," katanya sambil mengantarku keluar dari apartmentnya dan menemaniku hingga aku berada di lantai bawah.
Aku sampai di mansion ketika hari telah gelap. Ketika hendak membuka pintu mansion yang terkunci-karena pagi tadi hanya ada aku dan Riku saja. Saat memasukkan kunci kedalam lubang kunci, kusadari bahwa pintu tidak terkunci. Mungkin sudah ada yang pulang...
"Aku pulang," kataku ketika masuk.
"Welcome," jawab Dad dari arah dapur.
Maka aku bergegas menuju dapur untuk memasak makan malam. Dad terlihat sedang minum kopi, tidak seperti biasanya, karena biasanya dia selalu berada di ruangannya. Jika dia berada di luar ruang kerjanya, berarti dia sedang istirahat selama beberapa jam...
"Um, mau kue, Dad?" Tanyaku sambil mengeluarkan sekotak kue dari lemari es.
Dad hanya mengangguk pelan sambil meminum kopinya yang terlihat masih hangat, berarti dia baru saja istirahat. Aku pun memutuskan untuk mengobrol dengan Dad sebentar...
Sudah lama sekali kami tidak berbicara santai seperti ini. Dad mengatakan, bahwa bulan ini tidak terlalu banyak misi yang diterima, sehingga kami dapat istirahat sejenak. Terkadang Dad menanyai beberapa hal padaku. Mulai dari kemampuanku menembak, lukaku, misi yang kuterima, sekolah, dan lain-lainnya.
Aku sangat menikmati pembicaraan kami yang jarang terjadi, aku sampai lupa waktu saking asiknya mengobrol dengan Dad. Aku baru ingat bahwa aku lupa memasak saat Riku pulang membawakan makanan, dan tentu saja itu akan menjadi makan malam kami. Untungnya Riku membeli makanan cukup banyak...
"Welcome home!" Sambutku dengan senyum ketika melihat Riku pulang.
"I'm back," balas Riku dengan senyum.
Beberapa menit setelah Riku pulang, kami segera makan malam karena Yazoo dan Loz tidak bisa pulang hari ini, begitu kata Riku...
To Be Continued...
Author Note: aww man :3 still long way to go too finishing this story! X3
Hehehehehe... Since I haven't decide Sora pairing, so I open a polling!
Jika ingin melihat pollingnya, kunjungi profileku, dibagian atas ada polling, di sana ada beberapa pilihan character, tolong dipilih ya? :D
***time to chat with Sora***
Sora: you know, my heart is beating so fast every time they were close to me. And I don't know why... -blushing-
Me: aww! That's because you love them! XD
Sora: Really? But...all of them? Isn't that's...not normal?
Me: lol! Of course, YES! But you're belonging to every one! LOL!
Sora: (sweat drop) man, you're nut(read: crazy)?
Me: OF COURSE I'M NUT! -Laugh evil-
Sora: (sweat drop again) oh, just ignore that crazy author. Any review for me, guys? (Smile)
Me: HEY! Not you! But MY STORIES! Geez... -sighed-
